Sukma Noor Akbar
Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin [email protected]
ABSTRAK
Sungai oleh masyarakat Banjar dipandang sebagai sumber daya alam yang sangat penting, masyarakat dapat memanfaatkan sungai-sungai yang banyak terdapat di Pulau Kalimantan untuk berbagai keperluan kehidupan. Salah satu budaya sungai yang masih bertahan di daerah sekitar Banjarmasin adalah kegiatan perdagangan di atas sungai yang seringkali disebut dengan pasar terapung dan kegiatan perdagangan komunitas rumah lanting. Adanya kehidupan masyarakat Banjar yang mempertahankan kehidupan di sungai di tengah kemudahan hidup di darat memiliki fenomena tersendiri sehingga pedagang merasa bahagia atau mengalami kepuasan sendiri dalam menjalani aktivitas di sungai. Diener mengatakan kepuasan hidup adalah penilaian keseluruhan dari kehidupan seseorang secara pribadi. Selain itu kepuasan hidup atau life satification adalah keseluruhan penilaian dari perasaan dan sikap tentang kehidupan dalam satu waktu mulai dari negatif ke positif. Alasan memilih profesi pedagang di pinggiran sungai adalah pekerjaan tersebut sebagai pekerjaan yang dianggap paling cocok bagi mereka dan dapat diandalkan untuk mencari nafkah, dapat menghidupi diri sendiri dan keluarga, memiliki kemudahan dalam menjalankan ibadah serta menyekolahkan anak-anak subjek. Mata pencaharian berdagang yang turun temurun dilakukan di tepian sungai membuat subjek terbiasa dengan keseharian di sungai sehingga tetap merasa bahagia dengan kegiatan berdagang sebagai pekerjaan dan bertempat tinggal di pinggiran sungai. Makalah ini merupakan hasil analisis dari beberapa temuan yang dilakukan penulis berkaitan dengan psikologi lingkungan dan dalam upaya untuk mempertahankan kehidupan sungai yang merupakan ciri khas budaya masyarakat Banjar.
Kata-kata kunci: Kepuasan hidup, pedagang pasar terapung, pedagang rumah lanting.
Penelitian ahli mengatakan bahwa penduduk asli pulau Kalimantan terdiri dari 2 (dua) kelompok, yaitu kelompok masyarakat Dayak yang tinggal di daerah pedalaman dan kelompok masyarakat Melayu yang pada umumnya tinggal di daerah pesisir pantai, yang sering disebut dengan masyarakat Banjar. Masyarakat Banjar ini merupakan campuran suku bangsa, seperti sebelumnya disebutkan terutama adalah orang-orang Melayu yang menetap di daerah pesisir pantai Pulau Kalimantan. Pulau Kalimantan terdiri dari empat provinsi salah satunya adalah Kalimantan Selatan dengan ibukota propinsi Banjarmasin.
Sungai oleh masyarakat Banjar dipandang sebagai sumber daya alam yang sangat penting, masyarakat dapat memanfaatkan sungai-sungai yang banyak terdapat di pulau Kalimantan untuk berbagai keperluan kehidupan. Keberadaan sungai, danau dan rawa-rawa di sekitar lingkungan masyarakat Banjar merupakan salah satu tepat yang menyediakan sumber makanan yang cukup digemari. Selain untuk keperluan sehari-hari seperti mandi, cuci dan memasak makanan serta minuman masyarakat Banjar juga sering memanfaatkan sungai sebagai jalur
perhubungan dan komunikasi antar desa atau kampung serta berdagang. Belum adanya infrastruktur jalan darat yang bagus yang menghubungkan antar kampung, membuat sungai merupakan jalur perhubungan yang sangat vital bagi kehidupan masyarakat Banjar (Sugiyanto, 2004).
Ditambahkan oleh Sugiyanto, dari kehidupan di pinggir atau di sepanjang bantaran sungai-sungai inilah masyarakat Banjar membangun peradabannya dengan menyelaraskan kehidupan dan mempergunakan kebudayaannya untuk hidup berdampingan serta mengelola dan memanfaatkan lingkungan alam sekitarnya sehingga masyarakat Banjar terkenal dengan budaya sungainya yang sangat kental.
Di pinggiran sungai juga terdapat rumah lanting, lanting sendiri adalah bentuk rumah pada umumnya rumah panggung dengan tiang, lantai, dinding dan atap terbuat dari kayu ulin. Rumah-rumah itu terdiri dari berbagai tipe atau bentuk yang dibedakan berdasarkan bentuk atapnya seperti bubungan tinggi, balai laki, palimbangan, dan sebagainya. Pada permukiman di tepian sungai, antara rumah satu dengan yang lain dihubungkan dengan titian, dan setiap rumah (keluarga batih) memiliki batang, yaitu sejenis rakit yang ditempatkan di sungai depan rumah yang berfungsi sebagai tempat mandi, cuci, dan jamban (MCK), serta sekaligus tempat menambatkan jukung. Setiap kampung biasanya memiliki surau atau langgar, pada kampung yang lebih besar terdapat masjid Jami untuk sholat Jumat. Selain itu, setiap perkampungan juga mempunyai pasar yang terletak pada persimpangan atau bertemunya dua sungai (Sunarningsih 2007). Namun dengan perkembangan jaman rumah lanting sudah semakin berkurang, bahkan yang peneliti temukan rumah lanting hanya terdapat di daerah sungai Mantuil yang rata-rata berprofesi sebagai pendagang.
Di samping itu, salah satu budaya sungai lain yang masih bertahan pada masyarakat Banjar adalah kegiatan perdagangan di atas sungai yang seringkali disebut dengan pasar terapung. Pasar terapung merupakan kegiatan jual beli yang dilakukan oleh pedagang di atas perahu. Perahu ini biasanya dalam istilah Banjar disebut dengan jukung. Pasar terapung di Kalimantan Selatan ada dua, yaitu pasar terapung muara kuin yang terletak di Kelurahan Alalak Selatan Banjarmasin Utara dan pasar terapung lokbaintan di Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar (Maseri, 2006).
Pasar dalam persepektif antropologi budaya, khususnya dalam antropologi ekonomi selain tempat untuk mencari nafkah demi pemenuhan kehidupan ekonomi
keluarga, pasar memberi kesempatan untuk menciptakan ―dunia baru‖ (Maseri,
2006).
Makna positif yang dirasakan pedagang pasar terapung dan pedagang di pedagang rumah lanting merupakan makna hidup yang memberikan makna dalam setiap situasi, bahkan dalam penderitaan dan kepedihan sekalipun. Makna adalah sesuatu yang dirasakan penting, benar, berharga, dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang dan layak dijadikan tujuan hidup. Setiap manusia selalu mendambakan hidupnya bermakna, dan selalu berusaha mencari dan menemukannya. Makna hidup apabila berhasil ditemukan dan dipenuhi akan
Prosiding Seminar Nasional: Hidup Harmoni dalam Kebhinnekaan
mengembangkannya akan merasakan kebahagiaan sebagai ganjarannya sekaligus terhindar dari keputusasaan (Bastaman, 2007).
Pavot, Diener, dan Fujita menyatakan bahwa pada dasarnya individu dilaporkan merasakan bahagia pada saat bersama dengan orang lain (dikutip oleh Myers, 2000). Penelitian lainnya juga melaporkan bahwa terdapat hubungan antara dukungan sosial dan well-being (Abbey & Andrews; Perlman & Rook dikutip oleh Myers, 2000). Menurut M. Idwar Saleh (1986) terbentuknya konsentrasi penduduk dengan pola permukiman berbanjar di sepanjang pinggiran sungai mampu memenuhi kebutuhan dan mempertahankan hidup mereka, baik dari aspek transportasi dan mobilitas, ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Dari konsentrasi penduduk dan interaksinya mereka membentuk suatu kelompok di pinggiran sungai sehingga memiliki komunitas tersendiri. Masyarakat rumah lanting tampak bersemangat dengan aktivitas hari-harinya sebagai pedagang dan perilaku bertempat tinggal di rumah lanting merupakan kehidupan yang turun temurun sehingga mereka tampak menikmatinya.
Berdasarkan yang telah disebutkan sebelumnya, peneliti akan menganalisis tentang kepuasan hidup para pedagang pasar terapung dan pedagang komunitas rumah lanting beradasarkan hasil temuan peneliti dari beberapa penelitian yang telah peneliti lakukan.