(STUDI PADA PERGURUAN TINGGI DI KOTA
MEDAN)
Meutia Nauly dan Moyang Kasih Dewimerdeka
Universitas Sumatera Utara [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi faktor prediktor universal-diverse orientation (UDO) pada mahasiswa kota Medan. UDO adalah suatu kesadaran dan penerimaan bahwa setiap manusia memiliki persamaan sekaligus perbedaan yang penting sebagai kompetensi multikultural. Self contsrual dan kontak diprediksi berkontribusi pada UDO. Pendekatan penelitian kuantitatif dilakukan dengan partisipan 197 mahasiswa yang direkrut secara insidental. Analisis terhadap hasil penelitian mendukung hipotesis bahwa interdependent self construal dan kontak menjadi prediktor yang signifikan dari UDO. Program intervensi atau kurikulum pendidikan yang mampu meningkatkan UDO pada mahasiswa perlu dirancang sebagai upaya merawat keharmonisan dalam keberagaman Indonesia.
Kata-kata kunci: Multikultural, keberagaman, self-construal, kontak, universal-diverse orientation
Aliansi Sumut Bersatu pada 2011 mengeluarkan laporan berjudul Potret Kehidupan Beragam/Berkeyakinan di Sumatera Utara. Laporan tersebut memuat data kasus-kasus kekerasan yang terjadi sepanjang 2011 di Sumatera Utara, khususnya kota Medan. Tercatat ada 63 kasus kekerasan dengan perincian 24 kasus (38%) adalah tuntutan/seruan diskriminatif dari organisasi masyarakat atau ormas, 13 kasus (21%) terkait kebijakan pemerintah daerah yang diskriminatif, 11 kasus (17%) sweeping, 4 kasus (6%) pernyataan diskriminatif, 3 kasus (5%) penistaan/pelecehan terhadap agama, masing-masing 3 kasus (5%) izin pendirian rumah ibadah dan tindakan yang diskriminatif, serta 2 kasus (2%) permasalahan simbol keagamaan dan penolakan rumah ibadah.
Potensi konflik antaretnis pun tidak dapat dipungkiri ada di kota Medan.
Stereotype negatif dan prasangka masih melekat pada kelompok etnis tertentu. Kelompok Tamil di Medan masih dijuluki orang Keling dan suka menipu. Kelompok Tamil menghadapi diskriminasi dalam kesempatan kerja dan tidak bisa duduk di parlemen daerah (Kholil, 2011). Begitu pula dengan kelompok Tionghoa. Etnis Tionghoa di kota Medan belum dianggap sebagai suku asli dan ada julukan
‗cina eksklusif‘ dari etnis pribumi terhadap mereka (Achmad, 2011).
Sikap dan perilaku mengabaikan adanya konflik maupun potensi konflik di tengah keberagaman Indonesia hanya akan menjadi bom waktu untuk terjadinya perpecahan dan ketidaksetaraan antara kelompok-kelompok yang ada. Pada kondisi ini, yang diperlukan adalah sebuah kompetensi yang mampu menjadikan individu arif dalam menerima keberagaman dan mampu memaknai keberagaman sebagai hal yang memperkaya diri.
Prosiding Seminar Nasional: Hidup Harmoni dalam Kebhinnekaan
Universal-diverse orientation, selanjutnya akan disebut dengan UDO, yang dikemukakan Miville, Romans, Johnson, dan Lone (1999) dapat menjadi jawaban atas kebutuhan ini. Miville dkk (1999) mendefinisikan UDOsebagai berikut:
“Universal-diverse orientationis thus defined as an attitude toward all other persons that is inclusive yet differentiating in that similarities and differences are both recognized and accepted; the shared experience of being human results in a sense of connectedness with people and is associated with a plurality or diversity of interactions with others.”
Definisi ini merefleksikan interrelasi antara komponen kognitif, perilaku dan afektif dari UDO. Lebih jauh, definisi ini dapat dimaknai bahwa individu yang menempatkan dirinya pada suatu lingkungan yang beragam berperilaku demikian karena didorong oleh penghargaan mereka atas persamaan dan perbedaan yang ada antara manusia. Oleh karena itu, individu tersebut akan merasa terhubung dengan individu lainnya secara emosional sehingga meningkatkan penerimaan mereka atas keberagaman. Faktor-faktor ini berdampak pada kemampuan individu untuk berinteraksi secara efektif di dalam kelompok maupun antar kelompok (Strauss & Connerley, 2003).
UDO tidak hanya sekedar bicara tentang menghindari prasangka atau konflik pada masyarakat multikultural dengan cara menghargai perbedaan. Sesuai namanya, UDO menyeimbangkan antara nilai universal sekaligus nilai keberagaman yang ada pada manusia. Menurut Miville (2001) kesadaran akan adanya persamaan dan perbedaan di antara manusia dapat membuat individu memiliki ikatan dengan orang lain yang memiliki kesamaan namun juga secara bersamaan mampu menerima, mengapresiasi, dan memahami orang lain yang memiliki perbedaan.
Sejumlah penelitian membuktikan, UDO bermanfaat dalam mengembangkan kesadaran berbudaya pada seorang individu. Brummet, Wade, Ponterotto, dan Lewis (2007) menemukan bahwa nilai positif pada UDO berkorelasi dengan kesejahteraan psikososial seorang individu. UDO juga menjadi prediktor kepribadian sehat yang dimiliki individu. Meski demikian, kebanyakan riset masih berfokus pada manfaat UDO bagi individu, kelompok, maupun level organisasi sedangkan apa-apa saja faktor prediktor munculnya UDO masih belum terlalu luas diteliti (Miville, 2002).
Penelitian ini mencoba untuk mengeksplorasi faktor-faktor apa saja yang dapat menjadi prediktor melemah atau menguatnya UDO pada individu. Melakukan penelitian yang dapat mengungkap tentang UDO di kota Medan diharapkan dapat menghasilkan sebuah temuan yang kaya mengingat kondisi kota Medan yang sangat multikultural. Terlebih lagi, penelitian ini dilakukan pada perguruan tinggi dengan mahasiswa sebagai partisipan yang diharapkan memiliki kompetensi multikultural sebagai kaum terdidik yang nantinya akan terjun ke masyarakat dan membuat perubahan (Hammer, 2011).
Perguruan tinggi merupakan salah satu tempat membangun dan mengembangkan karakter mahasiswa. Mahasiswa hendaknya dipersiapkan untuk menjadi agen-agen dengan kompetensi dan karakater yang baik sehingga mampu
membuat perubahan positif dalam masyarakat. (Asyanti, 2012). Kompetensi multikulturalisme seperti UDO merupakan salah satu hal yang hendaknya diajarkan dan didorong untuk tumbuh dalam diri mahasiswa, terutama dengan beragamnya latar belakang kelompok-kelompok mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi. Menemukan variabel apa yang dapat memprediksi UDO pada mahasiswa dan bagaimana meningkatkannya dapat menjadi masukan bagi perguruan tinggi dalam mengembangkan kurikulum pendidikan atau program intervensi untuk meningkatkan kompetensi multikultural mahasiswa.
Sejumlah variabel telah diajukan sebagai variabel yang berhubungan dengan UDO. Faktor demografis menjadi isu utama. Ras, etnis, dan gender ditemukan berkorelasi dengan UDO (Singley, 2009). Dalam penelitian Singley (2009) tersebut ditemukan bahwa wanita menunjukkan nilai UDO yang lebih tinggi dibanding responden pria. Selanjutnya, ras berwarna juga memiliki UDO lebih tinggi dibanding ras kulit putih di Amerika Serikat.
Mengetahui hanya faktor demografis yang menjadi prediktor UDO pada mahasiswa tentu tak cukup. Tinggi rendahnya kesadaran seorang mahasiswa dalam menyikapi keberagaman yang ada di sekitarnya akan berdampak pada individu, organisasi, dan masyarakat tempat mahasiswa tersebut nantinya akan mengamalkan ilmunya. Tsui dan Gutek (1999) menyebutkan bahwa mahasiswa kurang dipersiapkan untuk menaklukkan tantangan keberagaman demografis di masyarakat. Untuk itu, perlu digali variabel-variabel lain yang dapat menjadi prediktor UDO sehingga dapat diketahui langkah apa yang perlu dilakukan agar mahasiswa memiliki level UDO yang baik.
Penelitian ini akan mencoba mengeksplorasi faktor individual dan situasional yang akan mempengaruhi sikap dan perilaku mahasiswa kota Medan terhadap keberagaman di kota multikultur ini. Faktor individual yang akan dikaitkan dengan UDO dalam penelitian ini adalah self construal. Selanjutnya, kontak akan menjadi faktor situasional yang berkaitan dengan tinggi rendahnya UDO pada mahasiswa kota Medan.
Self construal merupakan orientasi kultural individu yang dibedakan menjadi independent dan interdependent (Markus & Kitayama, 1998; Singelis, 1994; Yeh & Hwang, 2000). Perbedaan self construal pada individu mempengaruhi perkembangan hubungannya dengan orang lain (Cross, 2000). Oleh karena itu, self construal diprediksikan akan menjadi variabel yang menghubungkan antara keragaman budaya dan perilaku (Markus & Kitayama, 1998).
Faktor situasional yang diprediksi akan menjadi prediktor UDO adalah kontak. Tinggi rendahnya keterlibatan seorang individu, atau dengan kata lain melakukan kontak, dalam masyarakat dengan anggota kelompok yang beragam akan berdampak pada sikap yang lebih positif terhadap kelompok-kelompok tersebut (Allport, 1954; Amir, 1969). Lebih jauh lagi, Liebkind, Haaramo, dan Jasinskaja-Lahti (2000) menyatakan bahwa cara terbaik untuk mengurangi prasangka negatif antara anggota kelompok yang berbeda adalah dengan membuat mereka saling berinteraksi satu sama lain. Oleh karena itu, diperkirakan tinggi rendahnya kontak
Prosiding Seminar Nasional: Hidup Harmoni dalam Kebhinnekaan
mahasiswa dengan kelompok-kelompok yang berbeda di lingkungan perguruan tinggi akan berkaitan dengan tinggi rendahnya level UDO yang ia miliki.
Perbedaan kontak ini akan dilihat pada dua perguruan tinggi di kota Medan yang memiliki perbedaan dalam hal komposisi kelompok mahasiswa. Selanjutnya, penelitian ini akan mencoba mengeksplorasi faktor individual dan situasional tersebut dan kaitannya dengan level UDO pada mahasiswa kedua perguruan tinggi tersebut.
Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah: Self construal merupakan prediktor dari UDO, Kontak merupakan prediktor dari UDO dan Self construal bersama-sama dengan kontak merupakan prediktor dari UDO.
METODE
Partisipan
Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 197 orang dengan rincian 100 partisipan dari PTU dan 97 partisipan dari PTA. Pemilihan partisipan dalam penelitian ini menggunakan teknik nonprobability sampling secara
incidental.
Prosedur dan alat ukur
Prosedur pelaksanaan dalam penelitian ini terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama yaitu tahap persiapan. Pada tahapan ini kami mempersiapkan dan menyusun alat ukur berupa skala yang akan digunakan untuk mengukur UDO menggunakan skala yang mengacu pada Miville-Guzman Universality-Diversity Scale (M-GUDS) yang dikemukakan Miville (1999). Skala self-construal
mengukur dua dimensi yakni independent self construal dan interdependent self construal. Pembuatan skala ini mengacu pada teori self construal yang dikemukakan Singelis (1994) yang berisi 12 aitem yang mengukur aspek
interdependent dan 12 aitem lainnya untuk mengukur aspek independent. Penyusunan skala UDO dan self construal dibuat dalam bentuk self rating scale. Untuk masing-masing aitem, pilihan jawaban bergerak dari 1 (sangat tidak setuju) sampai 5 (sangat setuju). Pada aspek interdependent, semakin tinggi skor partisipan maka semakin tinggi kecenderungannya sebagai individu dengan interdependent self construal. Semakin rendah skornya, semakin rendah pula kecenderungannya memiliki interdependent self construal. Demikian juga halnya dengan aspek
independent self construal. Reliabilitas skala Universal-Diverse Orientation
ditemukan sebesar 0,871. Adapun reliabilitas untuk skala interdependent self construal sebesar 0,743 dan untuk skala independent self construal sebesar 0,754. Selain menggunakan skala, partisipan juga diminta untuk menjawab sejumlah pertanyaan yang akan memberikan informasi demografis seperti usia, jenis kelamin, tahun masuk universitas, suku, dan agama. Lebih jauh lagi, partisipan juga diminta memberi informasi tentang kegiatan ekstrakurikuler dan keterlibatan di organisasi selama perkuliahan.
Tahap kedua yaitu tahap pelaksanaan. Penyebaran alat ukur dilakukan dengan menjumpai langsung subjek penelitian dan dengan menyebarkan kuesioner versi
online melalui media sosial. Pengambilan data dilakukan pada tanggal 24 September-28 September 2013.
Tahap ketiga berupa analisis data. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis kovarian (ANCOVA) untuk melihat hubungan variabel bebas dan variabel terikat serta bagaimana interaksi antara variabel bebas dapat memprediksi perubahan variabel terikat.
HASIL
Setelah dilakukan analisis kovarians pada data penelitian maka ditemukan untuk variabel interdependent self construal pada F (1,193) = 7.675 nilai p = 0.006. Nilai siginifikansi < 0.05 ini berarti H0 ditolak. Artinya, pada tingkat kepercayaan 95%, ada hubungan linear antara interdependent self construal dan UDO dengan menghilangkan pengaruh dari variabel kontak terlebih dahulu. Kemudian pada variabel independent self construal ditemukan nilai F(1, 193) = 1.084 pada p = 0.299. Nilai signifikasi > 0.05 menunjukkan bahwa independent self construal tidak berpengaruh secara signifikan pada UDO ketika variabel kontak dikontrol.
Selanjutnya dilakukan pengujian untuk mengetahui pengaruh perbedaan kontak terhadap nilai UDO. Pengujian ini dilakukan dengan menghilangkan pengaruh variabel self construal dari model. Dari hasil pengolahan data terlihat bahwa pada F (1, 193) = 47.662 nilai p = 0.000. Nilai signifikansi ini jauh di bawah 0.05 sehingga Ho ditolak dan dapat disimpulkan bahwa tanpa pengaruh variabel
self construal, ada pengaruh perbedaan kontak terhadap nilai UDO dengan tingkat kepercayaan 95%.
Untuk mengetahui pengaruh self construal dan kontak terhadap nilai UDO secara simultan dapat dilihat dari angka signifikansi pada bagian Corrected Model. Nilai signifikansi pada Corrected Model adalah sebesar 0.000 < 0.05 sehingga pada tingkat kepercayaan 95% dapat disimpulkan bahwa secara simultan self construal
dan kontak berpengaruh terhadap nilai UDO.
Hasil ini membuktikan hipotesis penelitian bahwa self construal dan kontak dapat menjadi prediktor bagi UDO. Lebih jauh lagi, tipe self construal yang berperan secara signifikan sebagai prediktor UDO adalah tipe interdependent self construal.
DISKUSI
Hasil uji hipotesis dengan ANCOVA menunjukkan bahwa interdependent self construal memberikan pengaruh yang signifikan pada UDO ketika variabel kontak dikontrol. Hal ini dapat dipahami bila kita melihat karakteristik interdependent self construal yang sejalan dengan karakteristik UDO. Mahasiswa yang memiliki skor tinggi pada interdependent self construal menunjukkan kesadaran dan penerimaan yang signifikan akan persamaan dan perbedaan yang dimilikinya dengan orang lain.
Prosiding Seminar Nasional: Hidup Harmoni dalam Kebhinnekaan
hubungan yang harmonis dengan orang lain. Hubungan sosial dan tujuan bersama dinilai sangat penting oleh inidividu dengan interdependentself construal (Singelis, 1994). Individu dengan karakteristik seperti ini diprediksi akan melakukan usaha untuk menjaga harmoni kelompok dan menghargai orang lain.
Karakteristik seperti ini menjadi prediktor dari UDO karena individu yang bertujuan untuk menjaga harmoni dalam hubungan sosial akan cenderung menghargai perbedaan dan persamaan yang ada pada setiap orang. Keberagaman yang ada pada masyarakat bukan merupakan masalah bagi diri yang interdependent
karena ia akan selalu mementingkan relasi positif dengan siapa saja.
Penemuan ini didukung oleh penelitian sebelumnya dari Constantine dan Yeh (2001) yang mengungkapkan bahwa interdependent self construal dapat memprediksi peningkatan kompetensi multikultural pada konselor perempuan di sekolah.
Sementara itu, independent self construal tidak menunjukkan kontribusi yang signifikan pada UDO ketika variabel kontak dikontrol. Hal ini wajar terjadi bila kita membandingkan karakteristik individu dengan independent self construal dan variabel UDO. Sebagaimana diutarakan Markus dan Kitayama (1998), independent self construal dicirikan dengan menganggap diri terpisah dari yang lain dan setiap pribadi wajib menjadi tidak tergantung dari orang lain. Ciri ini tidak sejalan dengan UDO yang bertujuan untuk menciptakan keharmonisan di antara masyarakat multikultur. Dalam UDO, individu diharapkan mampu mengambil peran aktif dalam berinteraksi dengan kelompok-kelompok yang berbeda (Miville, 1999) sementara independentself construal justru melekat pada otonomi diri. Oleh karena itu, wajarlah bila hasil penelitian ini menunjukkan interdependent self construal
yang lebih berkontribusi secara signifikan pada UDO.
Selanjutnya, pengaruh variabel kontak terhadap UDO dilihat dengan mengendalikan variabel self construal. Hasil analisis menunjukkan adanya pengaruh signifikan variabel kontak terhadap UDO pada tingkat kepercayaan 95%. Sebagaimana dikemukakan oleh Allport (1994), kontak akan memprediksi berkurangnya prasangka antar kelompok. Temuan ini tidak hanya menguatkan teori bahwa kontak dapat berperan dalam mengurangi munculnya prasangka antar kelompok namun lebih jauh lagi juga dapat menjadikan individu berperan aktif dalam berinteraksi dan bekerjasama dengan kelompok-kelompok yang beragam sebagaimana dicirikan dengan UDO yang tinggi.
Brickson (2000) menyatakan bahwa banyak literatur yang telah menunjukkan dampak positif dari kontak pada setting sekolah. Salah satu alasannya adalah setting sekolah memenuhi prekondisi kontak positif seperti kesetaraan status, adanya kerjasama dan tujuan bersama. Hal ini didukung oleh Chang (1999) yang menemukan bahwa meningkatkan keberagaman kelompok mahasiswa di lingkungan kampus dapat mendorong terjadinya sosialisasi antar kelompok dan tumbuhnya diskusi-diskusi mengenai isu keberagaman.
Temuan penelitian ini didukung penelitian Strauss dan Connerley (2003) pada dua perguruan tinggi di Amerika Serikat yang memiliki perbedaan tingkat keberagaman mahasiswa di lingkungan kampus dilihat dari kelompok ras yang ada.
Nilai UDO pada kampus yang cenderung homogen (mayoritas ras kulit putih) dan kampus yang cenderung heterogen kelompok mahasiswanya (beragam ras ditemukan dalam komposisi seimbang) ditemukan berbeda secara signifikan.
Kontak langsung dengan orang-orang dari beragam latar belakang suku, budaya, agama, dan daerah akan meningkatkan interaksi dan kerjasama antara kelompok-kelompok tersebut. Dengan adanya kontak, individu dapat melihat langsung bagaimana individu lain berbeda sekaligus memiliki kesamaan dengan dirinya. Hal ini akan menjadikan individu lebih mengapresiasi keberagaman yang ada di sekitarnya.
Lebih jauh lagi, secara bersama-sama, self construal dan kontak memberikan pengaruh yang signifikan pada UDO. Self construal sebagai suatu cara individu memandang relasinya dengan orang lain (Markus & Kitayama, 1991) tentu tak terlepas dari kondisi lingkungan tempat ia melakukan kontak. Individu dengan
interdependent self construal yang selalu menghargai keharmonisan dalam kelompok (Singelis, 1994) ketika ditempatkan dalam sebuah lingkungan kontak yang beragam akan selalu berupaya untuk menyesuaikan dirinya dengan kelompok-kelompok yang berbeda di sekitarnya. Tipe interdependent self construal yang didukung dengan keberagaman lingkungan sosial akan memberikan kontribusi yang semakin bermakna dalam peningkatan UDO.
Hasil penelitian ini mendukung asumsi bahwa UDO dapat ditingkatkan dengan melakukan perubahan pada variabel-variabel yang menjadi prediktornya. UDO penting untuk dimiliki, terutama bagi mahasiswa yang akan menjadi bagian vital dari masyarakat majemuk Indonesia. Oleh karena itu, upaya-upaya untuk mendorong mahasiswa memiliki interdependent self construal dan berinteraksi pada lingkungan kontak yang beragam perlu ditingkatkan agar mahasiswa dapat memiliki UDO yang baik dan siap untuk terjun ke tengah masyarakat yang beragam.
REFERENSI
Allport, G. (1954). The nature of prejudice. MA: Addison Wesley.
Amir, Y. (1969). Contact hypothesis in ethnic relations. Psychological Bulletin, 71, 319-342.
Asyanti, S. (2012). Pendidikan karakter di perguruan tinggi: sudah terlambatkah?
Seminar Psikologi Islami, (hal. 284-291). Surakarta.
B. R. Brummet, J. W. (2007). Psychological well-being and a multicultural personality disposition. Journal of Counseling and Development, 85, 73.
Bersatu, A. S. (2011). Potret kehidupan beragama/berkeyakinan di Sumatera Utara. Medan: Aliansi Sumut Bersatu.
Brickson, S. (2000). The impact of identity orientation on individual and organizational outcomes in demographically diverse settings. The Academy of Management Review, 25, 82-101.
Prosiding Seminar Nasional: Hidup Harmoni dalam Kebhinnekaan
C.J. Yeh, &. M. (2000). Interdependence in ethnic identity and self: Implications for theory and practice. Journal of Counseling and Development, 78, 420-429. C.J. Yeh, A. A. (2003). Multicultural training and interdependent and independent
self-construal as predictors of universal-diverse among school counselors.
Journal of Counseling and Development, 81, 78.
D.B. Singley, W. S. (2009). Differences in universal-diverse orientation by race-ethnicity and gender. Journal of Counseling and Development, 87, 404.
Fantini, A. (2009). Assessing intercultural competence: Issues and tools. Dalam D. K. Deardorff, The SAGE handbook of intercultural competence. Thousand Oaks, California: Sage.
H. Betancourt, &. S. (1993). The study of culture, ethnicity, and race in American psychology. American Psychologist, 48, 629-637.
H. Markus, S. K. (1998). The cultural matrix of social psychology. Dalam S. F. D. Gilbert, The handbook of social psychology (4th Ed). Boston: McGraw Hill. H.R. Markus, &. S. (1991). Culture and self: Implications for cognition, emotion,
and motivation. Psychological Review, 98, 224-253.
H.R. Markus, &. S. (1998). The cultural psychology of personality. Journal of cross-cultural psychology, 29, 63-87.
H.R. Markus, P. M. (1997). Selfways: Diversity in modes of cultural participation. Dalam U. N. (Eds.), The conceptual self in context; Culture, experience, and self-understanding. Cambridge, England: Cambridge University Press.
Hadiluwih. (2008). Konflik etnik di Indonesia: Satu kajian kes di Bandaraya Medan. Medan: USU Press.
J.G. Ponterotto, S. U. (2006). Preventing prejudice: A guide for counselors, educators, adn parents (2nd ed). Thousand Oaks, CA: Sage.
J.N. Fuertes, M. M. (2000). Factor structure and short form of the miville-guzman universality diversity scale. Measurement and evaluation in counseling and development, 33, 157-169.
J.N. Fuertes, W. S. (2000). Correlates of universal-diverse orientation among first-year university students. Journal of First Year Experience and Students in Transition, 12, 45-59.
J.P Strauss, &. M. (2003). Demographics, personality, contact, and universal-diverse orientation: An exploratory examination. Human Resource Management, 42, 159.
K. Liebkind, &. A. (1999). Extended contact through peer modelling to promote tolerance in Finland. European Journal of Social Psychology, 29, 765-780. K. S. Bordens, &. B. (2005). Research design and methods: A process approach
Kerlinger, F. N. (1986). Asas- asas penelitian behavioral (L. R. Simatupang, Trans.). Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Kholil. (2011, Juli 7). Diskriminasi orang tamil di Medan. Dipetik Juli 23, 2013, dari Radio Nederland Wereldomroep Indonesia: http://archief.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/diskriminasi-orang-tamil-di-medan
M. Devine, &. M. (2007). The mixed bag of inclusion: An examination of an inclusive camp using contact theory. Therapeutic Reaction Journal, 41, 201. M. Ramirez, I. (1999). Multicultural psychotheraphy: An approach to individual
and cultural differences. New York: Pergamon Press.
M.L. Miville, C. G. (1999). Appreciating similarities and valuing differences: The miville-guzman universality-diversity scale. Journal of Counselling Psychology,
46, 291-307.
M.R. Islam, &. M. (1993). Dimensions of contact as predictors of intergroup anxiety, perceived out-group variability, and out-group attitude: An inegrative model. Personality and Social Psychology Bulletin, 19, 700-710.
Riordan, C. (1978). Equal-status interracial contact: a review and revision of the concept. International Journals of Intercultural Relations, 2:161.85.
Roper, P. (1990). Changing Perceptions through contact. Disability, Handicap and Society. 5.3 , 243-55.
S. Anne Tsui, &. A. (1999). Demographic differences in organizations: Current research and future directions. Lexington Books.
S.E Cross, P. B. (2000). The relation-independent self-construal and relationship.
Journal of Personality and Social Psychology, 70, 143-150.
Salisbury, M. H. (2011). The effect of study abroad on intercultural competence among undergraduate college students. Diambil kembali dari Doctoral dissertation: http://ir.uiowa.edu/etd/1073
Singelis, T. (1994). The measurement of independent and interdependent self construals. Personality and Social Psychology Bulletin, 20, 580-591.
Sudarmanto, G. (2013). Statistik terapan berbasis komputer. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Triandis, H. C. (1994). Culture and social behavior. New York: McGraw-Hill. Vargas, R. (2010). A poke into the diversity of human. European Journal of Social
Psychology,37, 911-923.
Vontress, C. (1988). A personal retrospective on cross-cultural counseling. Journal of Multicultural Counseling and Development, 24, 156-166.
Vontress, C. E. (1988). A personal retrospective on cross-cultural counseling.