Filia Dina Anggaraeni dan Fasti Rola
Universitas Sumatera Utara [email protected]
ABSTRAK
Salah satu fenomena yang menarik untuk dicermati adalah negara Indonesia yang memiliki pendudukan beraneka ragam budaya memiliki landasan yang menjadi slogan ―Bhinneka Tunggal Ika‖. Beberapa lembaga pendidikan memiliki komitmen menjunjung keberagaman individu sebagai
kekuatan dalam membangun karakter bangsa dengan menetapkan istilah berbasis pendidikan multikultural. Salah satu sekolah yang menerapkan pendidikan multikultural, yaitu Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) yang barada di kota Medan provinsi Sumatera Utara. Keberhasilan YPSIM sebagai salah satu wadah pendidikan multikultural yang telah mencapai rentang waktu 25 tahun tentunya sangat didukung oleh sikap para guru yang menjalankan pembelajaran bermuatan multikultral. Sikap guru yang merupakan salah satu manifestasi dari perilaku individu maka peluang objek sikap dalam keberhasilan menjalankan pembelajaran bermuatan multikultural dapat diukur melalui standar The Center for Research on Education,
Diversity, and Excellence (CREDE) dari University of Califormia, Berkeley. Ada 5 standar yang menjadi tolak ukur dalam mengkritisi pembelajaran yang diterapkan pada siswa (Gollnick dkk, 2013) yaitu : 1. Aktivitas yang merupakan hasil produktivitas bersama (joint productive activity). 2. Pengembangan bahasa (language development). 3. Kontekstualisasi (contextualization). 4. Peluang aktivitas (challenging activites) dan 5. Pembahasan instruksional (Instructional conversation). Penelitian ini merupakan penelitian populasi yang melibatkan seluruh guru dari berbagai program pendidikan yang berada di YPSIM (TK, SD, SMP, SMA dan SMK). Berdasarkan hasil penelitian terhadap 56 guru pada Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) berkaitan dengan sikap guru terhadap pembelajaran bermuatan pendidikan multikultural maka secara umum menggambarkan sikap positif baik untuk komponen kognitif, komponen afektif dan komponen perilaku.
Kata-kata kunci: Sikap, pendidikan multikultural
Pendidikan adalah hal mendasar dalam hakikat kehidupan manusia. Manusia yang diciptakan Tuhan dengan segala keberadaannya memiliki variasi yang beragam. Oleh sebab itu, keberagaman manusia sebagai individu sesungguhnya tidaklah menjadi alasan sebagai pembeda dalam mendapatkan pendidikan. Hak mendapatkan pendidikan ini salah satunya dapat dilihat dari proses interaksi yang terjadi dalam ruang lingkup pendidikan. Salah satu ruang lingkup pendidikan tersebut adalah pada proses pembelajarannya. Bahwa individu-individu yang terlibat dalam suatu proses pembelajaran akan melakukan interaksi yang membawa sikap dari individu masing-masing.
Sikap merupakan salah satu manifestasi dari perilaku manusia. Struktur sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang yaitu komponen kognitif (cognitive), komponen afektif (affective) dan komponen konatif (conative). Komponen kognitif, berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi setiap objek; komponen afektif, menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap; komponen konatif,
menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya (Azwar, 1995). Sikap amatlah melekat pada setiap manusia dan individu. Sehingga varian individu menjadikan diperolehnya pula gambaran sikap yang bervariasi pada suatu komunitas.
Salah satu fenomena yang menarik untuk dicermati adalah negara Indonesia yang memiliki pendudukan beraneka ragam budaya memiliki landasan yang
menjadi slogan ―Bhinneka Tunggal Ika‖ yang artinya adalah ‗berbeda-beda tetapi
tetap satu‘. Sesungguhnya bahwa keberagamana individu apakah berdasarkan suku
bangsa, agama, warna kulit, dan lain sebagainya telah diyakini dapat hidup berdampingan dengan damai. Termasuk dalam mendapatkan hak pendidikan. Beberapa lembaga pendidikan memiliki komitmen menjunjung keberagaman individu sebagai kekuatan dalam membangun karakter bangsa dengan. Salah satu komitmen itu dikukuhkan dengan menetapkan istilah berbasis pendidikan multikultural. Satu diantara lembaga yang menjalankan ini adalah Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda Medan. Sekolah ini memiliki jenjang pendidikan TK, SD, SMP, SMA/SMK dan telah berlangsung selama 25 tahun.
Pembelajaran multikultural adalah perangkat kurikulum yang telah diintegrasikan dengan dinamika kelas seperti yang tercakup dalam pembahasan pendidikan multikultural. Berkaitan dengan pembelajaran multikultural, The Center for Research on Education, Diversity, and Excellence (CREDE)dari the University of Califormia, Berkeley mengidentifikasikan 5 standart yang menjadi tolak ukur dalam mengkritisi pembelajaran yang diterapkan pada siswa (Gollnick dkk, 2013), yaitu aktivitas yang merupakan hasil produktivitas bersama (joint productive activity), pengembangan bahasa (language development), kontekstualisasi (contextualization), peluang aktivitas (challenging activites), serta pembahasan instruksional (Instructional conversation).
Lembaga pendidikan yang berkomitmen pada pendidikan multikultural tentunya memerlukan pendidik (guru) yang handal dalam menjalankan instruksional. Hanya dengan pendidik (guru) yang memiliki komitmen pula lah yang dapat membentuk dan menanamkan pada siswa-siswanya karakter kokoh yang berlandaskan ke-‗Bhinneka Tunggal Ika‘-an. Hasil pelitian yang dilakukan oleh Jahya ( 2012) terhadap beberapa sekolah menengah atas di Jakarta menunjukkan bahwa pembelajaran multikultural tidak terlepas dari peran guru. Guru harus bertindak sebagai asimilator dan akomodator dalam proses pembelajaran. Sebagai asimilator menunjukkan bahwa mereka harus merasa sebagai orang Indonsia dan sebagai akomodator artinya mampu memfasilitasi pembelajaran diluar arus utama yang ada pada siswa. Guru berkomitmen untuk mengembangkan siswanya dan fungsinya tidak menjadi ―penjaga budaya‖, tapi
pendidik, teman yang melakukan perjalanan lewat pengembangan diri dan realisasi diri (Jahya, 2012).
Berdasarkan uraian-uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk melihat gambaran sikap guru terhadap pembelajaran bermuatan multikultural konselor
Prosiding Seminar Nasional: Hidup Harmoni dalam Kebhinnekaan
METODE
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang bersifat dekriptif yang dimaksud untuk melihat bagaimana gambaran gambaran sikap guru terhadap pembelajaran bermuatan multikultural konselor sekolah pada Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda Medan.
Definisi operasional
Adapun definisi operasional sikap terhadap pembelajaran bermuatan multikultural adalah:
a. Pengetahuan subjek terhadap aktivitas pengajaran yang melibatkan guru dan siswa secara bersama-sama
b.Perasaan subjek terhadap aktivitas pengajaran yang melibatkan guru dan siswa secara bersama-sama
c. Perilaku subjek terhadap aktivitas pengajaran yang melibatkan guru dan siswa secara bersama-sama
d.Pengetahuan subjek terhadap pengembangan kurikulum yang mengakomodasi perkembangan bahasa
e. Perasaan subjek terhadap pengembangan kurikulum yang mengakomodasi perkembangan bahasa
f. Perilaku subjek terhadap pengembangan kurikulum yang mengakomodasi perkembangan bahasa
g. Pengetahuan subjek terhadap pengembangan kurikulum yang aplikatif terhadap pengalaman siswa
h.Perasaan subjek terhadap pengembangan kurikulum yang aplikatif terhadap pengalaman siswa
i. Perilaku subjek terhadap pengembangan kurikulum yang aplikatif terhadap pengalaman siswa
j. Pengetahuan subjek berkaitan dengan aktivitas yang dilakukan untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa
k.Perasaan subjek berkaitan dengan aktivitas yang dilakukan untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa
l. Perilaku subjek berkaitan dengan aktivitas yang dilakukan untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa
m.Pengetahuan subjek untuk melakukan pembahasan instruksional pembelajaran yang dapat diterapkan diantara guru dan siswa
n.Perasaan subjek untuk melakukan pembahasan instruksional pembelajaran yang dapat diterapkan diantara guru dan siswa
o.Perilaku guru untuk melakukan pembahasan instruksional pembelajaran yang dapat diterapkan diantara guru dan siswa.
Semakin tinggi skor nilai dari skala maka menunjukkan sikap yang semakin positif terhadap pembelajaran yang bermuatan multikultural.
Populasi dan sampel penelitian
Populasi penelitian adalah seluruh guru yang berada di lingkungan YPSIM Medan semula direncanakan berjumlah 90 orang (TK, SD, SMP, SMA dan SMK), disebut menjadi penelitian populasi. Namun kenyataan di lapangan sejumlah guru ternyata mengajar lintas jenjang (misal, mengajar di SMA dan SMK) maka jumlah kuesioner yang kembali berjumlah 80. Dari jumlah tersebut, terdapat beberapa kuesioner yang tidak lengkap diisi, maka perhitungan hasil penelitian ini menggunakan data yang baik (kuesioner yang diisi lengkap) berjumlah 56. Maka populasi sebagai responden dalam penelitian ini berjumlah 56 orang.
Alat ukur penelitian
Alat ukur penelitian yang digunakan adalah kuesioner dengan konstruksi skala sikap model Likert 5 kategori jawaban yaitu Sangat Tidak Setuju (STS), Tidak Setuju (TS), Netral (N), Setuju (S), Sangat Setuju (SS). Jumah item pada kuesioner ini berjumlah 30 item. Penelitian ini menggunakan uji coba terpakai. Reliabilitas alat ukur berdasarkan alpha cronbach adalah 0,754.
Metode analisa data
Data yang diperoleh dari alat ukur akan diolah dengan metode statistik deskriptif. Untuk memperoleh gambaran sikap guru terhadap pembelajaran multikultural digunakan statistik deskriptif. Data yang akan diolah yaitu skor minimun, skor maksimun, mean, dan standar deviasi.
HASIL
Berdasarkan hasil utama yang diperoleh dari hasil penelitian ini yang terdiri dari 56 subjek penelitian maka diperoleh gambaran:
Komponen kognitif
a. Berdasarkan jumlah responden yang berjumlah 56 orang , sebanyak 1,8 % responden ber pikir netral bahwa hasil kerja kelompok akan lebih efektif jika siswa dikelompokkan dengan etnis yang sama, sebanyak 66,1 % responden berpikir tidak setuju dan sebanyak 32,1 % responden menganggap sangat tidak setuju
b.Berdasarkan jumlah responden yang berjumlah 56 orang, responden berpikir sebanyak 7,1% responden sangat setuju bahwa etnis tertentu memiliki kelebihan yang tidak memiliki etnis lain, sebanyak 7,1 % yang berpikir setuju, 16,1 % yangberpikir netral, 41,1 % yang berpikir tidak setuju dan 28,6 % yang berpikir sangat tidak setuju
c. Berdasarkan responden sebanyak 56 orang, sebanyak 8,9% responden berpikir tidak setuju bahwa kurikulum di sekolah berusaha mengontrol siswa untuk menggunakan bahasa nasional dengan baik, sebanyak 3,6 % berpikir netral dan 60,7 % berpikir sangat setuju dan sebanyak 26,8 % berpikir sangat setuju.
Prosiding Seminar Nasional: Hidup Harmoni dalam Kebhinnekaan
d.Berdasarkan responden sebanyak 56 orang, sebanyak 12,1% responden berpikir sangat setuju bahwa bahasa bukan merupakan hal yang mendasar dalam peningkatan kemampuan kritis siswa, sebanyak 23,2% berpikir setuju, sebanyak 16,1% berpikir netral, sebanyak 42,9 % berpikir tidak setuju dan 5,4 % berpikir sangat tidak setuju.
e. Berdasarkan responden sebanyak 56 orang, menunjukkan bahwa sebanyak 1,8% responden sangat setuju bahwa konten instruksional adalah hal yang terpenting untuk dijelaskan dalam materi pembelajaran, tanpa harus dikaitkan dengan pengalaman kehidupan mereka masing-masing, 12,5 % berpikir setuju, 23,2% berpikir netral, 53,6 % berpikir tidak setuju dan 8,9 % berpikir sangat tidak setuju.
f. Berdasarkan jumlah responden sebanyak 56 orang, menunjukkan bahwa 32,1% berpikir setuju bahwa hasil observasi guru, siswa belum bisa mengaitkan antara materi pelajaran dengan pengalaman kehidupannya sehari-hari, 16,1 % berpikir netral, 41,1 % berpikir tidak setuju dan 10,7 % berpikir sangat tidak setuju.
g. Dengan jumlah responden sebanyak 56 orang, 62,5% responden setuju berpikir bahwa siswa harus selalu diberi stimulus untuk dapat mengeksplorasi keterampilan-keterampilan yang mendukung keberhasilannya berprestasi di sekolah dan sebanyak 37,5 % responden sangat setuju
h.Dengan jumlah responden sebanyak 56 orang, 1,8 % responden berpikir bahwa sangat tidak setuju dengan tingkat kreativitas siswa harus diberi ruang untuk diekspresikan, 3,6 % tidak setuju, 64,3 % berpikir sangat setuju, dan 30,4 % berpikir sangat setuju.
i. Dengan jumlah responden sebanyak 56 orang, sebanyak 16,1% responden berpikir netral bahwa mengemas instruksional pembelajaran di kelas berdasarkan topik materi dikaitkan dengan kebutuhan siswa adalah hal sangat bermanfaat bagi siswa, sebanyak 73,2 % berpikir setuju dan 10,7 % berpikir sangat setuju.
j. Dengan jumlah responden sebanyak 56 orang, sebanyak 7,1% responden berpikir setuju bahwa menyusun instruksional jika dikaitkan dengan hal-hal yang dipikirkan siswa hanyalah membuang energi saja, 3,6% berpikir netral, 75% berpikir tidak setuju dan 14,3 % berpikir sangat tidak setuju.
Komponen afektif
a. Berdasarkan responden sebanyak 56 orang diperoleh hasil bahwa sebanyak 19,6% responden setuju merasa bahwa guru dengan siswa yang memiliki kesamaan latar belakang budaya akan lebih mudah berinteraksi, 14,3 % merasa netral, 55,4% merasa tidak setuju dan 10,7 % merasa sangat tidak setuju.
b.Berdasarkan responden sebanyak 56 orang diperoleh hasil bahwa sebanyak 7,1 % responden merasa netral bahwa perbedaan suku diantara siswa tidak
mempengaruhi siswa dalam berinteraksi untuk menyelesaikan tugas-tugas kelompok, 51,8 % berpikir setuju dan 41 % berpikir sangat setuju
c. Berdasarkan jumlah responden sebanyak 56 orang diperoleh hasil bahwa sebanyak 1,8% responden merasa sangat setuju bahwa beberapa siswa dari etnis tertentu jika sedang berkumpul, lebih sering menggunakan bahasa etnis mereka. 32,1% merasa setuju, 25 % merasa netral, 39,3 % tidak setuju dan 1,8 % sangat tidak setuju
d.Berdasarkan jumlah responden sebanyak 56 orang, 1,8% responden bersikap netral terhadap guru berkewajiban untuk membantu siswa untuk tetap menggunakan bahasa nasional dengan baik, 62,5 % responden merasa setuju dan 35,7 % merasa sangat setuju.
e. Dengan jumlah responden sebanyak 56 orang, maka 3,6 % responden sangat setuju bahwa sulit untuk menerapkan contoh dari beragam nilai budaya masing-masing siswa ke dalam topik pembelajaran, 35,7 % merasa setuju, 5,4 % merasa netral, 46,4 % merasa tidak setuju dan 8,9 % merasa sangat tidak setuju.
f. Dengan jumlah responden sebanyak 56 orang diperoleh hasil bahwa, sebanyak 1,8% responden sangat tidak setuju bahwa guru menggunakan pengalaman siswa yang beragam sebagai contoh kasus untuk menjelaskan topik pembahasan pembelajaran, 17,9 % merasa netral, 67,9 % merasa setuju dan 12,5 % merasa sangat setuju
g. Dengan jumlah responden sebanyak 56 orang, sebanyak 8,9 % responden merasa sangat setuju bahwa guru merasa bahwa siswa dengan keberagaman latar belakang budaya telah memiliki masalah masing-masing, 51,8 % merasa setuju, 12,5 % netral, dan 26,8 % tidak setuju
h. Berdasarkan jumlah responden sebanyak 56 orang, 1,8 % responden tidak setuju bahwa guru memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk berusaha mengoptimalkan potensi akademisnya tanpa membedakan latar belakang budaya, 44,6 % responden setuju dan 53,6 % responden sangat setuju.
i. Berdasarkan jumlah responden sebanyak 56 orang, sebanyak 5,4 % responden tidak setuju bahwa guru bertanggungjawab untuk membangun dialog dengan siswa di luar kelas berkaitan dengan materi pelajaran , 33,9 % merasa netral, 39,3 % merasa setuju dan 21,4 % merasa sangat setuju. j. Berdasarkan jumlah responden sebanyak 56 orang, sebanyak 1,8%
responden merasa sangat setuju bahwa sesuatu yang memalukan jika guru berdialog tentang materi perlajaran dengan siswa di luar kelas, 81% tidak setuju, 3,6% merasa netral, 50 % merasa setuju dan 42,9 % merasa sangat setuju.
Komponen perilaku
a. Berdasarkan jumlah responden sebanyak 56 orang, bahwa 1,8 % responden setuju bahwa Guru melibatkan siswa secara aktif hanya berdasarkan siswa
Prosiding Seminar Nasional: Hidup Harmoni dalam Kebhinnekaan
yang memiliki kesamaan agama, 37,5 % tidak setuju dan 60,7 % sangat tidak setuju .
b.Berdasarkan jumlah responden sebayak 56 orang, 1,8% responden tidak setuju bahwa guru berusaha mengacak posisi tempat duduk siswa, 5,4% netral, 64,3% setuju dan 28,6 % sangat setuju.
c. Berdasarkan jumlah responden sebanyak 56 orang, 1,8% responden sangat setuju bahwa di sekolah, guru membiarkan siswa yang menggunakan bahasa daerah 3,6% merasa setuju, 12,5 % netral, 62,5 % merasa tidak setuju dan 19,6 % merasa sangat tidak setuju.
d.Berdasarkan jumlah responden sebanyak 56 orang, sebanyak 7,1 % responden tidak setuju bahwa guru berusaha melatih siswa untuk menggunakan bahasa nasional dengan baik, 57,1 % setuju dan 35,7 % sangat setuju
e. Berdasarkan jumlah responden sebanyak 56 orang, 1,8% responden sangat tidak setuju bahwa saat menjelaskan pelajaran, guru berusaha mengakitkannya dengan pengalaman-pengalaman siswa, 3,6% tidak setuju, 1,8 % netral, 75% setuju dan 17.9 % sangat setuju
f. Berdasarkan jumlah responden sebanyak 56 orang maka, 5,4% responden tidak setuju bahwa guru mengapresiasi siswa yang bisa mengkaitkan antara pengalaman dirinya dengan materi pembelajaran, 14,3% netral, 55,4 % setuju dan 25 % sangat setuju
g. Berdasarkan jumlah responden sebanyak 56 orang maka, 5,4 % responden netral bahwa dalam pembelajaran di kelas, siswa selalu diberi kesempatan untuk mengutarakan pendapat saat pembelajaran berlangsung, 44,6 % setuju dan 50 % sangat setuju
h.Berdasarkan jumlah responden sebanyak 56 orang, maka sebanyak 5,4% responden sangat tidak setuju bahwa setiap siswa diberi kesempatan duduk berhadapan untuk saling mengkritisi perilaku mereka saat proses pembelajaran , 10,7 % tidak setuju, 10,7 % netral, 62,5 % bersikap setuju, dan 10,7 % sangat setuju.
i. Berdasarkan jumlah responden sebanyak 56 orang, diperoleh hasil bahwa sebanyak 1,8% responden sangat tidak setuju bahwa guru sering duduk berdialog dengan siswa di luar kelas secara informal untuk mendiskusikan materi pelajaran, 5,4 % tidak setuju, 33,9 % netral, 53,9% setuju dan 5,4 % sangat setuju.
j. Berdasarkan jumlah responden sebanyak 56 orang, bahwa sebanyak 7,1 % responden setuju bahwa siswa tidak pernah memanfaatkan kesempatan yang diberikan guru untuk berdialog secara informal, 19,6 % netral, 67,9% tidak setuju dan 5,4 % sangat tidak setuju.
DISKUSI
Berdasarkan analisa data yang diperoleh, secara umum menunjukkan bahwa secara umum guru di sekolah Sultan Iskadar Muda memiliki sikap yang positif
terhadap pendidikan multikultural. Pembahasan berdasarkan komponen adalah sebagai berikut:
a. Secara kognitif, para guru di sekolah Sultan Iskandar Muda telah terbentuk suatu kepercayaan mengenai apa yang berlaku dan apa yang benar pada pendidikan multikultural. Guru telah memiliki pengetahuan mengenai hal-hal yang berlaku pada pendidkan multikultural, yaitu melibatkan guru dan siswa secara bersama-sama tanpa membedakan apa pun, guru telah memiliki pengetahuan terhadap pengembangan kurikulum yang mengakomodasi perkembangan bahasa, pengetahuan guru terhadap pengembangan kurikulum yang aplikatif dalam pengajaran, pengetahuan yang berkaitan dengan aktivitas yang dilakukan untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa seperti kemampuan berpikir kreatif, serta pengetahuan guru untuk melakukan pembahasan instruksional pembelajaran yang dapat diterapkan diantara guru dan siswa.
b.Secara afektif, para guru di Sultan Iskandar Muda memiliki suatu perasaan bahwa pendidikan multikultural telah dipercayai sebagai sesuatu yang positif. Guru menunjukkan perasaan yang positif mengenai hal-hal yang berlaku pada pendidikan multikultural, yaitu melibatkan guru dan siswa secara bersama-sama tanpa membedakan apa pun, pengembangan kurikulum yang mengakomodasi perkembangan bahasa, pengembangan kurikulum yang aplikatif dalam pengajaran, aktivitas yang dilakukan untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa seperti kemampuan berpikir kreatif, serta melakukan pembahasan instruksional pembelajaran yang dapat diterapkan diantara guru dan siswa.
c. Secara perilaku, para guru di Sultan Iskandar Muda telah menunjukkan perilaku yang mendukung pendidikan multikultural. Guru menunjukkan perilaku yang mendukung pendidikan multikultural, yaitu melibatkan guru dan siswa secara bersama-sama tanpa membedakan apa pun, perilaku yang mengarah pada pengembangan kurikulum yang mengakomodasi perkembangan bahasa, pengembangan kurikulum yang aplikatif dalam pengajaran, aktivitas yang dilakukan untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa seperti kemampuan berpikir kreatif, serta melakukan pembahasan instruksional pembelajaran yang dapat diterapkan diantara guru dan siswa.
Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh, maka saran yang bisa diberikan adalah dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai gambaran sikap dari orangtua dan alumni terhadap pendidikan bermuatan multikultural.
REFERENSI
Azwar, S. (1995). Sikap manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Gollnick, D. M., & Chinn, P. C. (2013). Multicultural education in a pluralistic society. Canada: Pearson.
Prosiding Seminar Nasional: Hidup Harmoni dalam Kebhinnekaan
Jahya, R. S. (2012). Model pendidikan multikultural dalam mendukung integrasi nasional: Studi sikap siswa terhadap isu multikultural. Jurnal Komunitas , 6 (2).