Kriminalitas Tinggi (Studi di Wilayah Lembak Kabupaten Rejang Lebong)
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
3. Metode Diskusi Kelompok
Kegiatan pembelajaran tidak akan pernah lepas dari metode yang digunakan oleh guru dalam melaksanakan interaksi kepada peserta didik. Peran metode pembelajaran sebagai alat yang digunakan untuk membantu efisiensi dalam proses belajar mengajar harus direncanakan terlebih dahulu sebelum melaksanakan pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus menyiapkan metode pembelajaran yang merupakan elemen penting dalam melaksanakan pembelajaran.
Menurut Hamdani (2011:80) metode merupakan cara yang digunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Sedangkan Ngalimun (2014:14) mengemukakan metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Berdasarkan pedapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode merupakan cara yang digunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran
Dalam pendidikan yang diselenggarakan di sekolah khususnya dalam pembelajaran tentunya terdapat metode-metode pembelajaran yang digunakan oleh guru. Metode-metode pembelajaran yang digunakan oleh guru bertujuan untuk meningkatkan kualitas belajar melalui iklim belajar di dalam kelas. Salah satunya dengan menggunakan metode diskusi kelompok dalam pembelajaran untuk meningkatkan keaktifan, kerjasama, dan toleransi peserta didik di dalam kelompok.
Menurut Hamdayana Jumanta (2015:131) beberapa kelebihan menggunakan metode diskusi kelompok yaitu menyadarkan peserta didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai jalan dan bukan satu jalan, menyadarkan siswa bahwa dengan berdiskusi mereka saling mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga dapat diperoleh keputusan yang terbaik, membiasakan siswa untuk mendengarkan pendapat orang lain sekali pun berbeda dengan pendapatnya sendiri dan membiasakan
59 bersikap toleran, serta membiasakan peserta didik untuk berpikir kritis dan mau mengungkap ide kritis-kritisnya.
Berdasarkan kelebihan-kelebihan di atas dapat terlihat bahwa dalam pelaksanaan diskusi kelompok dapat membentuk karakter kerja sama antar sesama peserta didik dalam memecahkan suatu topik atau permasalahan. Selain itu, dengan diskusi kelompok dapat membentuk sikap toleransi peserta didik dalam mendengarkan pendapat orang lain, baik yang sama pendapat maupun yang berbeda pendapat. Dengan membiasakan peserta didik untuk berpikir kritis dan mau mengungkap ide kritis-kritisnya dapat membentuk karakter yang bertanggung jawab dan mandiri.
Karakter kerja sama penting dimiliki oleh setiap peserta didik karena dapat melatih siswa dalam memahami, merasakan, dan melaksanakan aktivitas kerja sama guna mencapai tujuan bersama (Rukiyati, dkk.2014). Selain itu, kemampuan kerja sama dalam diskusi kelompok mampu meningkatkan berinteraksi, serta melatih siswa untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Hal ini perlu dilakukan untuk mencapai perkembangannya melalui pembentukan, penanaman, dan pembiasaan karakter kerja sama peserta didik.
Peran guru sebagai pendidik juga menjadi elemen penting dalam pembentukan karakter kerja sama peserta didik. Guru dituntut mampu membentuk karakter peserta didik yang terintergrasi dalam pembelajaran di kelas secara sistematis berdasarkan prosedur pembelajaran yang dikembangkan. Oleh karena itu, salah satu kemampuan yang harus dimiliki guru adalah mampu memahami dan melaksanakan prosedur pembelajaran agar dapat memunculkan pembelajaran yang dapat membentuk karakter peserta didik. Salah satu cara untuk membentuk karakter peserta didik dalam pembelajaran adalah dengan menentukan metode pembelajaran yang tepat dan sesuai untuk membentuk karakteristik peserta didiknya. Metode diskusi kelompok adalah upaya guru untuk membentuk karakter peserta didik.
Tujuan pendidikan karakter akan tercapai apabila guru bertindak sebagai pembentuk karakter siswa di lingkungan sekolah mampu menciptakan pembelajaran yang efektif. Yang dimaksud dengan efektif adalah apabila pembelajaran tersebut mengintegrasikan pendidikan karakter dalam proses belajar mengajar agar dapat mencapai tujuan pembelajaran pada kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan secara komprehensif. Selain itu, dalam membentuk, menanamkan, dan mengembangkan karakter peserta didik harus dilakukan dengan pembiasaan dan berulang-ulang serta bermanfaat. Hal ini dilakukan agar peserta didik merasa terbiasa sehingga dapat mengimplementasi karakter tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut penulis, dengan menggunakan metode diskusi kelompok guru dapat membentuk karakter kerja sama peserta didik sesuai dengan aturan sosial.Metode ini tidak hanya memiliki kekuatan dalam pengetahuan, tetapi juga memiliki kekuatan nilai-nilai moral atau karakter sesuai dengan perkembangan peserta didik. Dalam membentuk karakter kerja sama peserta didik perlu diajarkan untuk memahami keterampilan sosial terlebih dahulu. Keterampilan sosial ini memiliki nilai-nilai kerja sama yang akan terimplementasi dalam diri peserta didik melalui pembiasaan dalam pembelajaran di kelas.
Tujuan metode pembelajaran diskusi adalah memotivasi atau memberikan stimulus kepada peserta didik agar berpikir kritis, mengeluarkan pendapatnya serta menyumbangkan pikiran-pikirannya dan mengambil suatu jawaban aktual atau satu rangkaian jawaban yang didasarkan atas pertimbangan seksama. Metode ini sering
60 digunakan dalam pembelajaran kelompok atau kerja kelompok yang didalamnya melibatkan beberapa orang peserta didik untuk menyelesaikan pekerjaan, tugas, atau permasalahan. Metode mengajar diskusi merupakan cara mengajar yang dalam pembahasan dan penyajian materinya melalui suatu problema atau pernyataan yang harus diselesaikan berdasarkan pendapat atau keputusan bersama (Anita Sri, dkk:2012).
Dengan tercapainya tujuan metode pembelajaran diskusi kelompok dapat mengiring dalam pembentukan karakter kerja sama peserta didik. Akan tetapi, hal ini perlu dilakukan pembiasaan dan berulang sehingga peserta didik merasa terbiasa sehingga dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu, diperlukan juga peran guru sebagai pengarah dan penunjuk jalan dalam melaksanakan diskusi kelompok. Apabila semua hal itu tercapai, maka dapat terlihat karakter kerja sama yang termasuk dalam Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).
Dengan kelebihan-kelebihan metode diskusi kelompok terdapat juga kelemahannya, menurut Hamdayana Jumanta (2015:131) kelemahan diskusi kelompok yaitu tidak dapat dipakai dalam kelompok besar, peserta diskusi mendapatkan informasi yang terbatas, apabila siswa tidak memahami konsep dasar permasalahan, maka diskusi tidak efektif, hanya dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara, biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal, serta alokasi waktu yang sulit karena banyak memakan waktu.
Pada dasarnya pembentukan karakter kerja sama merupakan kegiatan yang sengaja diciptakan dalam pembelajaran untuk membentuk, menanamkan, melatih, dan mengembangkan karakter kerja sama antar peserta didik. Dengan harapan dapat mencetak peserta didik yang memiliki karakter kerja sama yang positif dalam mencapai kesuksesan dan tidak hanya mengandalkan kemampuan kognitif melalui metode diskusi kelompok. Kerja sama positif berarti interaksi yang dilakukan dua orang atau lebih yang saling menguntungkan untuk mencapai tujuan bersama dan tanpa ada pihak yang dirugikan.
4. Simpulan
Pendidikan karakter sangat diperlukan di era abad 21. Pendididikan karakter dapat dijadikan wadah membentuk pribadi seseorang agar menjadi lebih baik. Salah satu upaya pembentukan dan pengembangan karakter dalam ruang lingkupdunia pendidikan yaitu sekolah. Pendidikan karakter di sekolah dilaksanakan dengan mengintergrasikannya dalam proses pembelajaran. Sebuah pembelajaran yang disertai penanaman nilai karakter akan menghasilkan pengalaman yang berbeda. Oleh karena itu, pendidikan karakter di dalam kelas harus menyertakan kesadaran, kemauan, perencanaan, dan pembiasaan agar pendidikan karakter tertanam pada peserta didik
Salah satu cara yang dilakukan untuk membentuk dan mengembangkan karakter dalam pembelajaran dengan mengunakan metode diskusi kelompok. Metode diskusi kelompok dapat meningkatkan keaktifan, kerjasama, dan toleransi peserta didik. Dalam melaksanakan diskusi kelompok akan terlihat karakter kerja sama yang termasuk dalam Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yaitu nilai religius, nasionalisme, mandiri, gotong royong (kerja sama) dan integritas. Selain itu, penanaman dan pembentukan karakter dalam diskusi kelompok kepada peserta didik sejak dini dapat meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Pembentukan karakter kerja sama dalam diskusi kelompok juga memiliki dampak positif terhadap hubungan sosial siswa dengan masyarakat dan
61 lingkungan sekitar. Disamping itu, pembentukan karakter kerja sama dapat meningkatkan kemampuan percaya diri, toleransi diantara sesama siswa, dan siswa mampu beradaptasi dengan lingkungannya.
Pelaksanaan pendidikan karakter kerja sama bukan tanpa hambatan, masih terdapat kendala yang terjadi. Peran guru dituntut untuk selalu mengarahkan agar diskusi kelompok tetap berjalan dengan efektif dan tidak keluar dari batasan atau ruang lingkup yang sudah ditetapkan. Selain itu, masih ada peserta didik yang mendominasi dalam diskusi kelompok. Yang perlu ditekankan dalam membentuk, menanamkan, dan mengembangkan karakter peserta didik tidak hanya sebatas sekali tetapi harus dilakukan dengan pembiasaan dan berulang-ulang. Hal ini dilakukan agar peserta didik merasa terbiasa dan merasakan manfaatnya sehingga akan terbawa dalam kehidupan sehari-hari.
Esensi tujuan pembentukan karakter peserta didik dalam pendidikan diharapkan dapat membentuk individu yang menjadi pelaku perubahan dalam diri sendiri dan masyarakat sekitarnya. Penguatan Pendidikan Karakter ini hadir sebagai ruh bersama kemampuan intelektual dalam pembentukan generasi muda yang terampil, cerdas, dan berkarakter serta dalam rangka menyongsong generasi emas 2045.
Daftar Pustaka
Adisusilo, J.R..Sutarjo.2014. Pembelajaran Nilai-Karakter: Konstruktivisme dan VCT sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif. Jakarta: PT Raja Grafindo Pustaka
Aqib, Zainal dan Sujak.2011. Panduan dan Aplikasi Pendidikan Karakter.Jakarta:Gaung Persada Press
Gunawan, Heri. 2012. Pendidikan Karakter Strategi Mendidik Anak di Zaman Global.Jakarta:Grafindo
Hamdani.2011.Stategi Belajar Mengajar.Bandung:CV Pustaka Setia
Jumanta Hamdayama.2015. Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dna Berkarakter.Bogor:Ghalia Indonesia
Kemendiknas.2010. Desain Induk Pendidikan Karakter.Jakarta
Ngalimun.2014. Strategi dan Model Pembelajaran.Yogyakarta.Aswaja Pressindo Pemerintah Republik Indonesia.2010. Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter
Bangsa tahun 2010-2025. Jakarta:Pusat Kurikulum Balitbang Kemdiknas
Prayitno dan Manullang.2011. Pendidikan Karakter Dalam Pembangunan Bangsa.Jakarta:Grasindo
Rukiyati, Nani Sutarini dan Priyoyuwono.2014. Penanaman Nilai Tanggung jawab dan Kerja Sama Terintegrasi dalam Perkuliahan Ilmu Pendidikan.Jurnal Pendidikan, IV (2) (Online), (www.journal.uny.ac.id) diakses 14 September 2018
62
Strategi Guru dalam Membentuk Peserta Didik Berkarakter
Hermi Susanti
SD Negeri 08 Seberang Musi, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu Email : [email protected]
ABSTRAK
Dampak globalisasi pada abad 21 ini sangat jelas terlihat. Salah satunya perkembangan pesat teknologi digital yang membuat peserta didik terlena dalam belajar. Bukan hanya itu, perkembangan teknologi juga menjadi salah satu penyebabkerusakanmoral peserta didik.Hal ini terkait dengan karakter peserta didik. Akhir-akhir ini, Indonesiasedang mengalami krisis moral. Begitu maraknya kenakalan yang dilakukan oleh peserta didik seperti tidak tertib, tidak disiplin, sering berkata kotor, kurang sopan, membolos, tawuran,dan berbagai perilaku menyimpang lainnya.Tentunya hal ini dapat menghambat masa depan mereka. Dengan demikian, begitu pentingnya penanaman penguatanpendidikankarakter dalam diri peserta didik. Kompetensi dan keterampilan tidak lengkap jika tidak diimbangi dengan karakter yang baik. Pendidikan karakter perlu diajarkan dan ditanamkan sejak usia kelas rendah terhadap peserta didik di dalam lingkungan sekolah secara berkelanjutan. Adapun nilai yang terkandung pada pendidikan karakter adalah, religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas. Sekolah sebagai wadah yang tepat untuk mencerdaskan dan membentuk watak manusia agar lebih baik untuk mengatasi dan mencegah krisis karakter bangsa. Oleh karenanya diperlukan strategi seorang guru dalam membentuk karakter peserta didik, sehingga peserta didik siap menuju generasi emas 2045. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui penerapan nilai-nilai pendidikan karakter peserta didik dengan berbagai strategi.
Kata Kunci : strategi, pendidikan karakter, kemajuan pendidikan
1. Pendahuluan
Suatu bangsa akan menjadi bangsa yang besar jika memiliki karakter kuat disertai dengan kompetensi yang tinggi, yang tumbuh dan berkembang dari pendidikan secara berkelanjutan serta lingkungan yang menerapkan nilai-nilai karakter yang baik dalam seluruh bagian kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh peserta didik. Bagian-bagian tersebut tidak dapat terpisahkan agar dapat membangun karakter peserta didik.
Pembangunan karakter merupakan upaya perwujudan amanat Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Seperti yang termaktub dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat (3) yaitu pemerintah mengusahakan dan menyelenggaraan pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak yang mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur undang-undang. Penanaman karakter yang kuat dan kompetensi yang tinggi pada peserta didik mampu membentuk jati diri bangsa menjadi kokoh, kolaborasi dan daya saing bangsa meningkat sehingga mampu menjawab berbagai tantangan era abad 21.
63 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) telah merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Pasal 3 UU tersebut menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Pasal tersebut merupakan dasar bagi pengembangan pendidikan karakter untuk pembentukan karakter manusia khususnya generasi muda.
Presiden Joko Widodo melalui Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) mencanangkan salah satu butir Nawacita yaitu penguatan karakter bangsa. Kegiatan ini ditindaklanjuti dengan arahan Presiden kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk menanamkan dan membudayakan pendidikan karakter di dalam dunia pendidikan. Atas dasar ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) secara bertahap mulai tahun 2016 (Kemendikbud, 2016).
Sebuah pembelajaran yang disertai penanaman nilai karakter akan menghasilkan pengalaman yang berbeda. Strategi seorang guru sangat diperlukan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, pendidikan karakter di dalam kelas harus menyertakan kesadaran dan perencanaan matang agar pendidikan karakter tertanam dalam proses pembelajaran. Menyadari dan merencanakan bahwa setiap proses kegiatan belajar mengajar di dalam kelas memiliki potensi bagi pembentukan karakter peserta didik. Pendidikan karakter perlu ditanamkan sejak usia kelas rendah terhadap peserta didik di dalam lingkungan sekolah secara berkelanjutan.