Kriminalitas Tinggi (Studi di Wilayah Lembak Kabupaten Rejang Lebong)
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
3. Strategi Guru dalam Membentuk Karakter Peserta Didik
Karakter terbentuk dari pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari dari semua orang yang ada di lingkungannya. Kebiasaan kita saat peserta didik biasanya bertahan sampai masa remaja. Untuk menuju peserta didik yang berkarakter tentunya kita harus menyiapkan pendidikan karakter sebaik mungkin untuk mereka. Menurut pendapat Raharjo (2010:16) Pendidikan karakter adalah suatu proses Pendidikan yang holistic yang menghubungkan dimensi moral dengan ranah social dalam kehidupan peserta didik sebagai fondasi bagi terbentuknya generasi yang berkualitas yang mampu hidup mandiri dan memiliki prinsip suatu kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sedangkan menurut pendapat Prasetyo dan Rivashinta (2013:30) pendidikan karakter sebagai suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada peserta didik yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran, atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut,baik terhadap Tuhan yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia. Berdasarkan dua pendapat ahli di atas penulis mendefinisikan bahwa pendidikan karakter adalah sebuah
65 proses pembelajaran nilai-nilai moral kehidupan yang dimulai dari diri sendiri sebagai fondasi bagi seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya.
Strategi yang dilakukan oleh seorang guru sangat penting sekali untuk membentuk karakter peserta didik yang baik sejak usia kelas rendah. Sekolah merupakan tempat yang strategis apalagi jika disertai dengan pembelajaran yang menyenangkan menerapkan nilai-nilai keislaman, kreatif, dan berkarakter. Karakter yang terbentuk di lingkungan sekolahakan terbawa ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Jadi, sikap dan perilaku yang ditanamkan seorang guru pada peserta didik dapat mempengaruhi karakter peserta didik di posisi manapun ia berada.
Karakter yang ada pada peserta didik merupakan kualitas moral dan mental yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan dimana salah satunya adalah lingkungan sekolah. Potensi karakter yang baik dimiliki peserta didik sebelum dilahirkan, tetapi potensi-potensi tersebut harus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini.
Pembentukan karakter peserta didik dapat ditanamkan melaluipengkombinasian pembelajaran dengan kehidupan sosial peserta didik. Pendidikan karakter yang ditanamkan tersebut adalah kejujuran, disiplin, mandiri, bertanggung-jawab, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Perilaku jujur yaitu perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam setiap perkataan atau ucapan, tindakan dan pekerjaan, baik terhadap dirinya sendiri ataupun orang lain. Selanjutnya seorang peserta didik memiliki jiwa disiplin yang merupakan tindakan perilaku yang patuh, taat dan tertib dalam setiap tindakan di dalam suatu lingkungan. Selanjutnya peserta didik ditanamkan memiliki sikap yang bertanggungjawab. Sikap peserta didik untuk melaksanakan tugas dan kewajiban yang harus dilakukan terhadap diri sendiri, sosial, alam dan sang pencipta. Untuk menerapkan hal tersebut, seorang peserta didik diharapkan jiwa mandiri dimana perilaku yang tidak mudah bergantung kepada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugasnya atau permasalahan yang dihadapinya.
Pendidikan karakter tidak hanya ditanamkan melalui kegiatan belajar mengajar di kelas, tetapi juga dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan pembudayaan di sekolah (school culture).Sikap dan perilaku keseharian guru di sekolah dapat membentuk karakter peserta didik. Sebagai contoh dalam keseharian kita membiasakan berdoa sebelum dan sesudah belajar. Semua kegiatan melibatkan panca indera yang kita miliki. Tentunya apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan akan selalu tersimpan di memori otak kita. Peserta didik akan merekam bahwa perilaku yang baik yaitu berdoa sebelum melakukan ataupun sesudah melakukan kegiatan apapun.
Strategi berikutnya guru melaksanakan chrosscheck sholat di setiap akan memulai pelajaran. Peserta didik akan merekam bahwa sholat merupakan hal yang wajib dilakukan, apalagi jika sudah baligh atau dewasa. Disini guru perlu melibatkan peserta didik dalam menemukan nilai-nilai karakter yang muncul pada kegiatan tersebut, dan menekankan manfaat kegiatan tersebut bagi diri sendiri dan hubungan kepada sang penciptanya.
Selanjutnya pembiasaan sikap religius lainnya seperti pembiasaan sholawat nabi, membaca surat pendek, penanaman kisah-kisah teladan nabi dan rosul, mengaji, baca tulis alquran serta sholat dhuha berjamaah yang dilakukan setiap jumat. Segala perilaku baik dan buruk dapat terekam. Kegiatan seperti ini akan memperdalam makna nilai karakter baik hubungan sosial dan spiritual peserta didik. Secara tidak langsung mereka
66 belajar tentang kebiasaan di lingkungan sekolah untuk membentuk karakter mereka sehari-hari. Perilaku dan kebiasaan yang mereka temui tak selamanya baik, atau tak selamanya tidak baik. Tanpa mereka sadari perilaku yang baik atau tidak ituakan menjadi pembiasaan mereka sehari-hari, pada akhirnya akan membudaya.
Selain itu, penanaman pendidikan karakter juga dapat dilakukan melalui kegiatan pembiasaan seperti berjabat tangan dengan guru, senyum, sapa, salam, sopan, santun, silaturrahmi dan sayang (7S). Pembiasaan baik tersebut tidak kalah penting dalam penanaman budaya karakter peserta didik. Peserta didik akan terbiasa jika bertemu dengan orang yang lebih tua akan melakukan jabat tangan yang memunculkan karakter 7S tersebut. Peserta didik akan memahami bahwa nilai karakter yang muncul dalam kegiatan berjabat tangan akan menjadi sebuah kebiasaan baik dalam dirinya.
Pendidikan karakter harus dilakukan melalui pembiasaan-pembiasaan di dalam kehidupan sehari-hari yang salah satu diantaranya di dalam sekolah atau kelas. Oleh karena itu guru disini memiliki peranan yang sangat penting di dalam penanaman pendidikan karakter kepada peserta didik.
Sebagai guru kita patut bersyukur jika peserta didik terbiasa bersikap dan menunjukkan perilaku baik. Karena itu yang kita harapkan, namun bagaimana jika justru dalam keseharian mereka, mereka justru menunjukkan perilaku yang menyimpang. Hal ini akan menjadi masalah yang besar. Apapun perilaku guru dapat berdampak pada perkembangan karakter peserta didik. Dengan begitu, sebagai guru penting bagi kita untuk menanamkan dan membiasakan pendidikan karakter di lingkungan sekolah sejak usia kelas rendah.
Perlunya peranan guru untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik di sekolah. Peran sebagai guru adalah membentuk peserta didik yang religius, mandiri, nasionalis, mampu bergotong royong, dan memiliki integritas. Keberhasilan sekolah dalam menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik mereka tergantung pembiasaan yang mereka terapkan. Sehingga, perlunya upaya yang maksimal dari para guru.
Guru bertanggung jawab mengenalkan konsep ketuhanan dan pelaksanaan ibadah keagamaan kepada peserta didiknya di sekolah. Guru yang taat beragama kemungkinan besar akan membentuk karakter peserta didiknya juga taat beragama. Misalnya membiasakan mengajak peserta didik mereka sholat, mengaji, bekerja sama membersihkan lingkungan sekolah, menghormati, menghargai, berperilaku sopan, toleransi, tertib, dan disiplin. Dengan demikian guru wajib membimbing mereka untuk lebih religius.
Guru juga wajib memberikancontoh atau teladan yang baik kepada peserta didiknya. Sebagai peserta didik, mereka akan melakukan apa dikatakan atau dilakukan oleh gurunya. Sedikitatau banyak, mereka akan meniru ketika gurunya berkata kasar, tidak sopan, tidak mau menghargai, dan bersikap egois. Jika hal ini tidak diperbaiki maka akan menjadi boomerang bagi kita selaku guru.Teladan yang baik akan membentuk karakter baik,punsebaliknya jika guru menunjukkan teladan yang tidak baik, maka karakter tidak baikpun akan terbentuk dalam diri mereka.
Nilai-nilai karakter yang dapat ditanamkan dalam pendidikan karakter di sekolah meliputi keimanan dan ketaqwaan, kejujuran, disiplin, percaya diri, tanggung jawab, rasa keadilan, sopan santun,pemaaf, sabar, dan peduli. Nilai-nilai karakter ini dikembangkan dari ajaran agama, filsafat bangsa, serta nilai kearifan lokal suatu masyarakat. Dengan demikian, iman dan taqwa adalah sebagai pondasi karakter
67 seseorang. Betapa pentingnya peran guru mengajarkan ilmu agama di dalam lingkungan sekolah.
Pendidikan karakter merupakan salah satu upaya yang disiapkan diteladankan oleh guru secara sistematis untuk membantu membentuk karakter peserta didik yang mampu memahami nilai- nilai perilaku manusia terhadap penciptanya, dirinya sendiri, dan lingkungan dan sekitarnya. Pendidikan karakter yang ditanamkan kepada peserta didik di lingkungan sekolah secara sistematis dapat membentuk dan menularkan karakter positif di lingkungannya.
Karakter positif semua peserta didik dan warga sekolahlainnya dapat berdampakbaik untuk terbentuknya karakter positif lingkungan sekitarnya. Kunci keberhasilannya adalah keteladanan positif guru di dalam lingkungan sekolah. Diharapkan guru mampu membentuk karakter positif seorang peserta didik, baik dalam bertutur kata, bergaul, bersikap, dan bertindak.Percayalah bahwa pembentukan karakter peserta didik sedini mungkin di kelas rendah akan berdampak jangka panjang dalam pembentukan karakter peserta didik.
Berdasarkan hal tersebut maka dapat diketahui bahwa tujuan pembentukan karakter peserta didikyaitu mendorong terbentuknyapeserta didik yang berkarakter baik, memiliki keimanan dan ketaqwaan, kejujuran, disiplin, percaya diri, tanggung jawab, rasa keadilan, sopan santun,pemaaf, sabar, dan peduli,serta melakukan segalanya dengan benar dan memiliki tujuan hidup. Dalam hal ini juga diperlukan masyarakat berperan dalam pembentukan karakter peserta didik melalui orangtua dan lingkungan masyarakat sekitarnya.
Sebagaimana dikemukakan Rahardjo (2010:16) bahwa pendidikan karakter adalah suatu proses pendidikan yang holistik yang menghubungkan dimensi moral dengan ranah sosial dalam kehidupan peserta didik sebagai fondasi bagi terbentuknya generasi yang berkualitas yang mampu hidup mandiri dan memiliki prinsip suatu kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Dari penjelasan tersebut jelas terlihat bahwa pendidikan karakter tersebut menanamkan perilakupada diri seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajiban yang harus dilakukan terhadap diri sendiri, sosial, alam dan sang pencipta secara jujur, disiplin, percaya diri, tanggung jawab, sopan santun,pemaaf, sabar, dan peduli,serta melakukan segalanya dengan benar dan memiliki tujuan hidup.
Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam pembentukan karakter peserta didik, maka diperlukan pihak-pihak yang ikut terlibat didalamnya yaitu guru sebagai pendidik di sekolah, orangtua sebagai pendidik di rumah dan negara sebagai pendidik negara. 4. Simpulan
Dari pembahasaan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter hendaknya ditanamkan dari usia dini atau usia kelas rendah pada lingkungan sekolah. Sekolah sebagai wadah yang tepat untuk mencerdaskan dan membentuk watak manusia agar lebih baik untuk mengatasi dan mencegah krisis karakter bangsa. Oleh karenanya diperlukan strategi seorang guru dalam membentuk karakter peserta didik, sehingga peserta didik siap menuju generasi emas 2045. Penanaman pendidikan karakter oleh guru kepada peserta didik dapat dilakukan melalui beberapa strategi. Strategi yang dilaksanakan guru harus disertai dengan pembelajaran yang menyenangkan, sehingga peserta didik lebih mudah dalam mencerna atau merekam pembiasaan-pembiasaan karakter positif yang diberikan.Pendidikan karakter sangat diperlukan untuk mempersiapkan generasi yang berkualitas dimana bukan hanya untuk kepentingan individu warga negara, akan tetapi
68 juga untuk masyarakat secara keseluruhan. Oleh sebab itu nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan karakter seperti religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas dapat membentuk karakter baik seseorang di dalam kehidupan. Peserta didik yang memiliki karakter yang baik akan menghasilkan generasi yang baik pula dan berprestasi.
DAFTAR PUSTAKA
Agus Prasetyo dan Emusti Rivasintha. (2013). Konsep Urgensi dan implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Dikutip dari http://www.kompasiana.com/agus prasetyo/ 5500d253a3311537351205d/konsep-urgensi-dan-implementasi-pendidikan-karakter-di-sekolah. Diakses di Bengkulu pada pada hari minggu 26 Agustus 2018.
Hindami, Faqih.(2013). Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Budaya Lokal. Dikutip dari: https://www.kompasiana.com/ faqih_hindami/pendidikan-karakter-berbasis- kearifan-budaya-lokal_552fe6bd6ea83422628b45bb. Diakses di Bengkulu pada hari hari Minggu tanggal 26 Agustus 2018
Kamisa. (1997). Karakter Berkualitas. Dikutip dari
http://karaktersejati.blogspot.com/2014/08/definisi-karakter-menurut-ahli.html?m=1. Diakses di Bengkulu pada hari Minggu tanggal 26 Agustus 2018 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, (2016). Konsep Dan Pedoman Penguatan
Pendidikan Karakter Tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Jakarta : TIM PPK Kemendikbud.
Koesoema, Doni A., (2012). Pendidikan Karakter Utuh dan Menyeluruh. Jogjakarta: Kanisius.
Lickona, Thomas. (2012). Character Matters. Jakarta: Bumi Aksara.
Raharjo. (2010). Pendidikan Karakter Sebagai Upaya Menciptakan Akhlak Mulia. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang Kementerian Pendidikan Nasional, vol.16 No.3, Mei 2010).
Zakky. (2018). Pengertian Strategi Pembelajaran Secara Umum dan Menurut Para Ahli. Dikutip dari http://zonareferensi.com/pengertian-strategi-pembelajaran/. Diakses pada hari Sabtu tanggal 15 September 2018
69