Ideologi militerisme diwakili oleh tokoh komandan dan tentara sementara ideologi humanisme diwakili oleh Guru Alfonso sementara ideologi nasionalisme diwakili oleh tokoh Sebastian. Ideologi humanisme mendapat porsi yang lebih banyak dalam cerpen ―Pelajaran Sejarah‖ melaluinya kemudian ideologi militerisme ditentang dan sekaligus dinegatifisasi.
Kemunculan ideologi humanisme merupakan refleksi terhadap sejarah insiden Santa Cruz. Hal itu dapat dilihat dari pengakuan saksi mata dalam majalah
Jakarta Jakarta yang kemudian disisipkan pada cerpen ―Pelajaran Sejarah‖.
Berikut ini kutipan dari majalah Jakarta Jakarta yang dimuat dengan judul
Pandangan Mata Saksi Tragedi.
―Saat penembakan mereka dibagi dalam dua barisan. Barisan pertama di depan dan barisan kedua berada di belakang. Komandannya tembak sekali ke atas, sambil berteriak ―Depan tidur, belakang tembak!‖ Pada saat
204
yang belakang menembak, yang depan merangsek masuk ke demonstran dan menusukkan sangkurnya, ke arah semua orang. Dan saya hanya bisa berlari-lari tidak tentu arah, karena di sekitar saya, orang-orang berjatuhan begitu saja kerena tembak, seperti di film‖ (Ajidarma, 2005: 193).
Sementara kutipan dalam teks cerpen berbunyi.
―Guru Alfonso belum lupa peristiwa itu. Bagaimana bisa lupa? Saat penembakan, mereka dibagi dalam dua barisan. Barisan pertama di depan dan barisan kedua di belakang. Komandannya menembak sekali ke atas, sambil berteriak ―Depan tidur, belakang tembak!‖ Setelah yang belakang menembak, yang depan merengsek dan menusukkan sangkurnya ke arah semua orang. Guru Alfonso belum lupa, ia hanya bisa berlari-lari tidak tentu arah karena orang-orang berjatuhan begitu saja, bergelimpangan‖ (Ajidarma, 2016: 69).
Kedua catatan tersebut tampaknya merupakan reaksi Ajidarma terhadap catatan sejarah pembunuhan pada insiden Santa Cruz sehingga alur cerpen pada narasi ―Pelajaran Sejarah‖ ialah semacam kaleidoskop genre fiksi kriminal yang menampilkan catatan-catatan pembunuhan, penembakan, darah, peluru dan kematian yang dikonstruk sebagai citra kriminal untuk merepresentasikan mobilisasi koersif militerisme dalam realitas soial politik saat itu. Realitas politik oleh Ajidarma ditampilkan dengan teknik realisme untuk menyuguhkan fakta dan wacana tentang insiden Santa Cruz. Teknik realisme ―Pelajaran Sejarah‖ menawarkan akurasi dan objektivitas dengan referensi ―peristiwa penembakan komandan‖. Sebagaimana ditampilkan oleh perbandingan antara teks Jakarta
Jakarta dan teks ―Pelajaran Sejarah‖ dapat dilihat bahwa terjadi perubahan tekstur
dalam narasi genre berita ke cerita fiksi dengan cara penyisipan semesta tokoh-tokoh yang menjadi penggerak alur fundamental untuk menjadi penanda realitas politik saat itu.
205
Realitas politik pun berlanjut dalam bentuk estetika melalui imajinasi yang terfragmentasi pada fitur-fitur estetika teks fiksi cerpen. Melalui itu, realitas dalam ―Pelajaran Sejarah‖ berlangsung dalam politik ruang kelas antara Guru Alfonso dengan murid-murinya, akibatnya dalam cerpen ―Pelajaran Sejarah‖, kedudukan sejarah itu menjadi objek yang pasif, tokoh-tokoh misalnya seperti komandan dan penembak yang mewakili ideologi militerisme hanya memiliki kehendak automatik sebagai ―mesin penembak‖ yang beroperasi untuk membunuh. Sementara sebalikanya, orang-orang yang ditembak menjadi subjek yang aktif, seolah menyajikan fakta keterasingan sebagai peristiwa otonom. Melaluinya, narasi realitas politik sebagaimana yang telah disebutkan nyatanya mengacu pada fenomena puitis seperti penggunaan metafora atau representasi terputus-putus dalam penggambaran kekejaman dan penderitaan.
―Guru Alfonso belum lupa peristiwa itu. Bagaimana bisa lupa? Saat penembakan, mereka dibagi dalam dua barisan. Barisan pertama di depan dan barisan kedua di belakang. Komandannya menembak sekali ke atas, sambil berteriak ―Depan tidur, belakang tembak!‖ setelah yang belakang menembak, yang depan merengsek dan menusukkan sangkurnya ke arah semua orang‖ (hlm. 69).
―Daun-daun berguguran selalu mengingatkan Guru Alfonso tentang peristiwa itu, ketika semua orang yang tertinggal dan tidak sempat lari, disuruh membuka baju dan dipukuli dengan kayu
―Sekarang kamu semua berdoa, waktunya sudah tiba, kamu akan mati semua.‖
Guru Alfoso tengkurap pura-pura mati. Ia melihat teman di sebalahnya yang masih hidup, kepalanya ditusuk pisau‖ (hlm. 70).
―‘Hapuskan semua!‖
Ia dengar teriakan itu meski tidak didengarnya tembakan. Ia hanya tahu tubuhnya dilemparkan ke dalam truk. Antra sadar dan tidak, ia merasakan bertumpuk-tumpuk tubuh, entah sudah mati, entah setengah mati‖ (Ajidarma, 2016: 69, 70, 72).
206
Peristiwa-peristiwa pada data tersebut merupakan pengembangan estetik yang bertitik tolak pada peristiwa penembakan di halaman 69, selanjutnya peristiwa itu kemudian mengalami pengembangan tahap lanjut yaitu pada perisitiwa halaman 70 dan peristiwa halaman 72, hal ini menunjukkan bahwa realitas insiden Santa Cruz mengalami penyajian pada tingkatan naratif sehingga menghasilkan super realitas estetik yang melebihi realitas objektif, oleh sebab itu cerpen ―Pelajaran Sejarah‖ bukan hanya menyajikan fakta tentang penembakan oleh seorang komandan melainkan juga menampilkan penderitaan manusia sebagai subjek yang termarginalisasi sebagaimana yang dialami oleh Guru Alfonso sebagai korban yang selamat dari peristiwa pembunuhan.
Fenomena kemanusiaan tersebut merupakan materi dasar utama bagi Guru Alfonso untuk menstimulasi pandangan dunia murid-muridnya melalui ideologi humanisme. Ideologi humanisme Guru Alfonso mengubah pandangan dunia murid-murid yang semulanya sebagai objek pasif menjadi subjek yang aktif yaitu dengan cara mempersuasi ideologi humanisme melalui pelajaran sejarah tentang kekejaman militer.
―Sejarah itu bukan hanya catatan tanggal dan nama-nama, Florencio, sejarah itu sering juga masih tersisa di rerumputan, terpendam dalam angin, menghempas dari balik ombak. Sejarah itu, Florenco, merayap di luar kelas, kini kalian harus mempelajarinya‖ (Ajidarma, 2016: 71).
Pernyataan dari Guru Alfonso ialah titik tolak sikap kontra terhadap politik ruang kelas yang diterapkan oleh penguasa dominan yaitu suatu kekuasaan yang didefinisikan sebagai kekuatan yang mengekang subjek melalui ruang-ruang kelas. Oleh sebab itu Guru Alfonso menentang hegemoni politik ruang kelas
207
tersebut dengan cara melakukan pembelajaran sejarah di luar ruang kelas dengan tujuan untuk mengetahui sejarah yang sebenarnya. Ada kecenderungan pada diri Guru Alfonso untuk mempertimbangkan bahwa pelajaran sejarah paling produktif jika dilakukan di luar kelas, sehingga bentuk pembelajaran yang ditawarkan oleh Guru Alfonso lebih siap untuk berpikir kritis tentang sifat pengetahuan sejarah sebagai sifat pengetahuan yang konstruktivis dan reseptif untuk merekonstruksi catatan sejarah sebagai penyimpanan pengetahuan independen tentang peristiwa kemanusiaan di masa lalu misalnya seperti peristiwa pembantaian.
Pengetahuan sejarah sebagai media persuasi ideologi humanisme Guru Alfonso terhadap murid-murinya bersifat kompleks. Kompleksitas perkembangan pengetahuan sejarah telah ditandai oleh gagasan temporalitas yang saling bersaing sebagaimana diidentifikasi oleh Kratochwil (2006: 15) sebagai ―Genre kesadaran sejarah‖ bahwa gagasan kesadaran dibentuk oleh dan melalui negosiasi antara subjek murid dan pengalaman Guru Alfonso, hal tersebut merupakan dasar bagi pemahaman historis karena sebagaimana dijelaskan oleh Kratochwil; sejarah adalah perjumpaan dengan diri yaitu perjumpaan antara pengalaman masa lalu (peristiwa penembakan) dengan masa kini (pembelajaran sejarah) pada suatu proses pemahaman tokoh murid untuk memahami sejarah dan kemudian menempatkan dirinya sebagai bagian dari sejarah tersebut.
Perjumpaan diri gilirannya memunculkan fenomena yang diklasifikasikan sebagai kesadaran sejarah kesadaran sejarah dan pemahaman akan temporalitas pengalaman sejarah yang diinternalisasi pada diri tokoh murid-murid sebagai kesadaran yang diakui akan hidup dalam sejarah. Oleh karena itu kesadaran
208
sejarah dasarnya subjektivis, berdasar pada definisi sifat hubungan antara masa lalu, sekarang dan masa depan yang mempengaruhi produksi pengetahuan sejarah pada tokoh murid-murid misalnya seperti pada tokoh Florencio.
Jika mengutip konsep Glencross (2015: 6) maka cerpen ―Pelajaran Sejarah‖ mengembangkan taksonomi tiga genre kesadaran sejarah yaitu sejarah sebagai guru, sejarah sebagai narasi, dan sejarah sebagai representasi. Sejarah sebagai guru, artinya genre ―Pelajaran Sejarah‖ menempatkan pengetahuan sejarah dalam hal penggunaan pedagogis, moral dan praktisnya untuk saat ini dan masa depan. Bentuk kesadaran historis pada genre melihat masa lalu sebagai sumber inspirasi yang perlu ditransmisikan ke generasi berikutnya dengan harapan peningkatan pengetahuan diri.
―Guru Alfonso sudah lama mempelajari, belasan tahun lamanya, bahwa harapan mereka terletak di pundak anak-anak itu, tapi Guru Alfonso menyadari betapa harapan itu hanya bisa menjadi kenyataan jika anak-anak itu mampu memahami sejarah. Guru Alfono juga sangat memaklumi, hanya dengan suatu cara berbahasa yang saling bisa dimengerti, sejarah mereka bisa dihayati‖ (Ajidarma, 2016: 71).
Artinya, Guru Alfonso mengharapkan adanya proses regenerasi kepemimpinan, regenerasi itu hanya tercipta melalui proses pemahaman akan sejarah masa lalu yaitu melalui pelajaran sejarah; suatu sejarah yang dibangun oleh materi pengalaman kehidupan individu-individu yang menjadi sumber inspirasi (mengandung pelajaran moral dan politik tentang kepemimpinan) untuk kehidupan para murid-murid Guru Alfonso, hal itu sebagaimana interpretasi teleologis yang dideklarasi oleh Marx dan Engels (1998: 34) bahwa ―Sejarah semua masyarakat yang sampai sekarang ada adalah sejarah perjuangan kelas‖.
209
Sejarah perjuangan kelas itu dimaknai sebagai sejarah tentang insiden kemanusiaan, kekerasan, pembunuhan dan pembantaian terhadap orang-orang yang diidentifikasi sebagai bagian dari identitas bangsa marginal seperti pada tokoh Guru Alfonso, sementara individu-individu yang sekiranya menjadi sumber inspirasi dirujuk pada tokoh Sebastian yang mewakili ideologi nasionalisme sebagai tokoh yang dianggap mencintai kemerdekaan lebih dari dirinya sendiri.
Lain halnya dengan sejarah sebagai narasi, tujuan sejarah sebagai genre naratif pada prinsipnya adalah untuk merestrukturasi jarak dan pemisahan antara masa lalu dan masa kini serta menghindari bentuk-bentuk penilaian moral atau politik. Konsep sejarah sebagai narasi mencoba untuk membuat masa lalu dapat diakses dengan cara menceritakan peristiwa-peristiwa secara detail dan jelas. Hasilnya adalah suatu bentuk kesadaran historis yang dihasilkan dari keterampilan menceritakan kembali dengan bentuk naratif misalnya Guru Alfonso menceritakan tentang peristiwa pembantaian di masa lalu dengan konsep narasi yang terfragmentasi, mula-mula dari peristiwa penembakan, kemudian penusukan kepala, kemudian peluru yang beterbangan, pelemparan tubuh ke dalam truk dan penghormatan pada kematian Sebastian.
Hasilnya, sejarah dipandang sebagai representasi yang memiliki kecenderungan mengartikan sejarah sebagai tanda-tanda, simbol, dan bahasa yang memungkinkan Florenco (dan juga pembaca) memahami masa lalu untuk mewakili atau merepresentasikan versi masa lalu sebagai tindakan politik yang tidak terhindarkan yang silsilahnya perlu diungkap. Oleh sebab itu tokoh-tokoh
210
murid misalnya seperti Florenco menganggap bahwa peran bahasa itu sangat penting untuk memahami dan memaknai sejarah.
―Anak-anak itu terdiam. Mereka sudah banyak belajar. Selama enam tahun mereka telah belajar membaca, menulis, berhitung, dan menghubungkan sebab-akibat. Mereka telah mempelajari bagaimana berbahasa, bagaimana mempergunakan bahasa, dan bagaimana memanfaatkan bahasa. Selama enam tahun, ya, selama enam tahun, guru-guru mereka yang rahangnya kukuh dan tajam matanya, dan beberapa di antaranya tidak bertelinga, telah mendidik mereka dengan suatu cara agar mereka mampu menguasai bahasa karena dengan bahasa itulah mereka bisa memahami banyak hal, termasuk sejarah‖ (Ajidarma, 2016: 71).
Dibandingkan dengan sejarah sebagai guru dan sejarah sebagai narasi, sejarah sebagai representasi berdasarkan kutipan data tersebut secara mendasar mempersoalkan kemampuan masa kini untuk memahami masa lalu melalui perspektif bahasa agar mampu mendapatkan makna melalui penggunaan dan penguasaan bahasa, konsep dan simbol. Akibatnya, ambisi genre kesadaran sejarah cerpen ―Pelajaran Sejarah‖ tidak seperti sejarah sebagai guru tidak untuk membentuk atau bahkan mengendalikan kepemimpinan politik di masa depan, melainkan sejarah dimaknai sebagai proses studi yang kritis tentang peristiwa kemanusiaan di masa lalu yaitu pada peristiwa pembantaian di kuburan Santa Cruz, 12 November 1991.
Berdasarkan tiga genre konsep kesadaran sejarah Glencross, dapat memberikan pemahaman pentingnya pelajaran sejarah sebagai transmisi ideologi humanisme bahwa ideologi humanisme ternyata berfungsi untuk menghubungkan subjek dengan dunianya (Althusser via Sharpe, 2006: 96). Keterhubungan subjek murid dengan dunia Guru Alfonso membuat subjek mempelajari sejarah kelasnya
211
sendiri, dan inilah yang menjadi materi fundamental sebagai transmisi ideologi humanisme Ajidarma terhadap pembaca; bahwa melalui teks ―Pelajaran Sejarah‖ kemungkinan Ajidarma ingin menyatakan sikap perlawanannya terhadap militerisme kemudian bersimpati terhadap korban kekerasan yang diakibatkan oleh militerisasi itu.
―Angin berhembus kembali, membawa bau amis darah. Suara angin sering kali mengingatkan Guru Alfonso pada sebuah prosesi pada malam hari. Sebuah iring-iringan yang panjang mengeringkan sebuah peti mati, dengan seribu lilin yang menyala. Betapa kesedihan bisa menjadi luka yang memanjang.
―Kami hanya berduka, untuk kematian Sebastian,‖ ia ingat kata-kata itu, ―kami hanya berduka, dan menaburkan bunga.‖
Ada yang berduka, ada yang lebih dari sekedar berduka, dan mengibarkan bendera, dan membawa poster-poster. Mestikah o Ventura, mestikah o Clementino, seseorang mencintai kemerdekaan lebih dari kehidupan, lebih dari kenyataan?‖ (Ajidarma, 2016: 72-73).
Pernyataan ―kami hanya berduka pada kematian Sebastian‖ ialah tanda simpati Ajidarma terhadap korban peristiwa november di Timor Timur, namun secara problematis Ajidarma tidak mendukung penuh pada sikap perlawanan yang dilakukan oleh pejuang kemerdekaan, dengan demikian pada dasarnya Ajidarma hanya menempatkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai posisi sentral dalam teks ―Pelajaran Sejarah‖ untuk mengkritik kekerasan yang dilakukan oleh militer Indonesia di Timor Timur.