• Tidak ada hasil yang ditemukan

13 sitem dagang,

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.2 Paradigma Penelitian

Menurut Ritzer (1980) paradigma adalah pandangan yang mendasar dari ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang mestinya dipelajari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan. Paradigma dapat diartikan sebagai, a) a set of assumption,

dan b) beliefs concerning yaitu asumsi yang “dianggap” benar. Karenanya paradigma membawa implikasi pada pilihan metodologi dan teori yang akan diambil dalam sebuah penelitian. Di dalam penelitian sosiologi dikenal lima jenis aliran paradigma, yaitu positivisme, post-positivisme, teori kritis, konstruktivis dan partisipatoris (Denzin and Lincoln, 2000). Secara paradigmatik penelitian ini akan menggunakan paradigma konstruktivisme, mengingat adanya konstruksi sosial yang perlu dipahami dari persepsi dan perspektif etika/ moral dari komunitas lokal. Meskipun keberlakuannya tidak bersifat mutlak, sehingga membuka kesempatan bagi paradigma lain yang bersesuaian untuk digunakan secara selektif dalam penelitian ini, khususnya paradigma teori kritis.

Ontologi, paradigma konstruktivis bersifat relatifis, artinya realitas yang dipahami bersifat plural (multiple realitas). Realitas tidak dapat dinyatakan secara jelas dan pasti

(intangible), konstruksi mental didasarkan atas pengalaman bersifat sosial-budaya, lokal dan spesifik, sehingga konstruksi ilmu pengetahuan tidak bersifat obyektif-universal. Sedangkan secara epistimologi, paradigma konstruktivis bersifat transaksional dan subyektif, dimana antara peneliti dengan tineliti saling terkait dan interaktif. Sementara dari segi metodologi, paradigma konstruktivis, muncul dengan metodologi hermeneutik dan dialektis.

Dengan menggunakan paradigma konstruktivis peneliti dapat memotret realitas sosial, tidak hanya realitas objektif yang berada di luar diri orang yang diteliti (tineliti), tetapi juga realitas subjektif yang berada di dalam diri orang yang diteliti (tineliti) yang menyangkut kehendak dan kesadarannya (Hardiman, 2003). Karena diantara kedua realitas ini memiliki hubungan timbal-balik yang saling mempengaruhi. Selanjutnya realitas yang ditemukan dalam bentuk objektif, berupa data-data, harus dicari

penjelasannya, kaitan sebab akibatnya, sehingga ada harapan peneliti dapat menembus gejala dan menemukan realitas subjektif.

Untuk mencapai tahapan tersebut peneliti harus; Pertama, berjumpa dengan pribadi tineliti, bertanya dan mendapatkan jawaban. Kedua, dengan sungguh-sungguh mau memahami (verstehen) realitas tersebut. Bagi Weber verstehen (interpretative

understanding) adalah upaya atau pendekatan untuk memahami makna perilaku sosial

(social behavior), tidak hanya sekedar mencari hubungan sebab-akibat semata dari sebuah realitas sosial (Turner, 1998). Jika kedua langkah tersebut dilakukan, barulah seorang peneliti dinamakan “mempersoalkan realitas” atau mempersoalkan kewajaran.

Dengan demikian untuk melihat realitas, peneliti meneropongnya dari „luar‟ dan dari „dalam‟ (peneliti perlu mengambil bagian di dalam realitas tersebut). Artinya disini peneliti ikut berbagi harapan, perasaan, perjuangan, cita-cita, kekecewaan dan seterusnya. Meneropong dari „luar‟ merupakan sebuah refleksi tahap awal, untuk mendapatkan perbandingan, mencari kaitan/sebab-akibat, menelusuri sejarahnya dan sebagainya. Dengan demikian peneliti akan menemukan struktur yang membuat individu atau masyarakat seperti itu. Dari sini akan didapat sebuah analisis empiris tentang realitas. Barulah kemudian dilakukan upaya meneropong dari „dalam‟ untuk menemukan kompleksitas perasaan, keinginan, pikiran-pikiran yang berkaitan dengan persoalan yang kita sorot. Inilah yang dinamakan memahami dari „dalam‟, menyelami realitas bathin. Peneliti akan menemukan bahwa suatu masalah bukan hanya soal material yang objektif, melainkan juga menembus penghayatan bathin dan kesadaran individu yang bersangkutan.

Namun demikian, mempersoalkan realitas bukanlah sebuah persoalan yang gampang dan gamblang, karena ada kaitannya dengan realitas yang sangat partikular ke bagian yang paling total atau holistik dan menuju kesadaran yang paling subjektif sampai ideologi yang paling objektif (Hardiman, 2003). Sehingga harus dipahami bahwa realitas tidak selalu mirip dengan potret sebelumnya karena sifatnya yang dinamis, bergerak, mengalir dalam proses „menjadi‟ menurut penafsiran ilmu pengetahuan yang diyakini. Karenanya dinamika permasalahan yang ditemui dilapangan pun tidak mungkin diprediksi hanya berdasarkan asumsi teoritik yang ketat.

Atas dasar perkembangan hasil temuan di lapangan yang ternyata sarat dengan berbagai permasalahan struktural, paradigma konstruktivis dianggap peneliti belum cukup untuk menjawab pertanyaan penelitian. Artinya, meskipun telah berupaya memperoleh pemahaman intersubyektive terhadap subyek penelitian, paradigma konstruktivis ternyata tidak mampu menjawab pertanyaan penelitian yang berdimensi strukturalis, karena hanya berada dalam tataran memahami subyek penelitian tanpa upaya untuk melakukan perubahan. Upaya untuk mencapai tujuan tersebut tampaknya

75

bisa dilakukan secara kritis dengan melakukan “negosiasi” atau “kesepakatan” dengan mencapai suatu kebenaran obyektif melalui peningkatan posisi tawar tineliti (lapisan terbawah).

Diharapkan jenis ilmu critical social yang termasuk ke dalam paradigma teori kritis yang digunakan secara bergantian dengan paradigma konstruktivis, akan dapat menghasilkan analisa yang membebaskan (mengemansipasi) kesadaran manusia dari kungkungan kekuasaan atau struktural. Kepentingan dalam jenis ilmu seperti ini adalah merevolusi kesadaran yang sudah malas (non-reflektif), yang kondusif bagi munculnya hubungan-hubungan ketergantungan, melalui cara refleksi diri (self reflection). Tidak berbeda dengan konstruktivis, teori kritis pun secara epistemologi menerima intersubyektivitas sebagai jalan menuju suatu “kesepakatan” yang kemudian disebut sebagai “kebenaran”. Setidaknya metodologi paradigma konstruktivisme pun memiliki kesamaan dengan teori kritis, bersifat hermeneutical dan dialektical, dimana teori muncul berdasarkan data yang ada dan difokuskan pada konstruksi, rekonstruksi dan elaborasi suatu proses sosial (Salim, 2001). Teori kritis dan konstruktivis, menempatkan nilai, etika dan pilihan moral dalam posisi yang sama, dimana peneliti berperan sebagai passiorate participant, fasilitator yang menjembatani subjektivitas pelaku sosial, karenanya faham ini memiliki tujuan penelitian untuk merekonstruksi realitas sosial secara dialektik antara peneliti dengan tineliti.

Sebelumnya, perlu ditegaskan disini bahwa pilihan untuk menggunakan pendekatan konstruktivis dan teori kritis sekaligus dalam penelitian ini bersifat situasional, didasarkan pada perkembangan hasil temuan di lapangan. Penelitian kolaboratif seperti ini merujuk pada prinsip-prinsip triangulasi, baik berupa triangulasi teori maupun metode. Dan yang lebih penting menurut Agusta (2006) adalah triangulasi antara peneliti dan tineliti, ketika istilah responden atau informan sudah melebur bersama peneliti, hingga secara keseluruhan berperan sebagai co-peneliti. Triangulasi yang muncul kemudian, merupakan proses kolaborasi antar peneliti dan tineliti. Di sini konsep paradigma Kuhn (2002), tidak sekedar digunakan dalam arti perkembangan revolusioner ilmu-ilmu sosial, melainkan juga dalam arti perbedaan cara pandang terhadap suatu realitas sosial. Meskipun menurut Agusta (2005), hal tersebut akan berimplikasi kepada penerimaan paradigma holistik dalam metode (meta-metode), sehingga meta-analisis menjadi tidak bermakna, karena tidak ada lagi perbedaan paradigma teori (meta-teori) yang tidak-bisa-saling-ukur (incommensurebility), begitu pula meta-metode tidak lagi bermakna. Namun demikian, menurut pemahaman peneliti, pilihan kolaboratif dengan alasan metodologis seperti ini masih termasuk ke dalam paradigma berbasis subyektifis dan mikro, seperti digagas Agusta.