e la k sa n a a n R P JM N 2 0 0 4 -2 0 0 9
BAB 2.8
Pemantapan Politik Luar N egeri dan
Peningkatan Kerjasama Internasional
2.8.1. Pengant ar
Indonesia menganut politik luar negeri bebas-ak-tif. Strategi ini dilandaskan Pancasila dan UUD 1945, utamanya amanat Pembukaan UUD 1945 yang menegaskan bahwa hubungan luar negeri In-donesia diarahkan untuk ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Bebas ak-tif juga berarti Indonesia menolak segala bentuk penjajahan, penindasan atau pun ketidakadilan melalui pembangunan bangsa-bangsa, pembi-naan persahabatan dan kerjasama internasional di berbagal forum, baik bilateral, regional mau-pun multilateral, tanpa membedakan sistem poli-tik atau sistem ekonomi masing-masing negara. Dalam penjabarannya, politik luar negeri yang bebas aktif tidak dimaknai sebagai politik yang menjadikan Indonesia netral terhadap suatu per-masalahan. Akan tetapi, bebas aktif berarti Indo-nesia bebas menentukan sikap dan kebijaksanaan terhadap permasalahan internasional serta tidak mengikatkan diri hanya pada satu kekuatan du-nia. Politik luar negeri bebas aktif juga menuntut Indonesia untuk ikut memberikan sumbangan, baik dalam bentuk pemikiran maupun keikutser-taan secara aktif dalam menyelesaikan berbagai konflik, sengketa dan permasalahan dunia lain-nya.
Sebagai negara yang besar, Indonesia memiliki po-tensi untuk mempengaruhi dan membentuk opi-ni internasional dalam rangka memperjuangkan kepentingan nasional. Konstelasi politik
inter-nasional yang terus mengalami perubahan-per-ubahan yang sangat cepat menuntut Indonesia berperan dalam politik luar negeri dan kerjasama baik di tingkat regional maupun internasional. 2.8.2. Kondisi A wal dan Sasaran yang
I ngin D icapai
Pada awal pelaksanaan RPJMN 2004-2009, hubungan internasional banyak diwarnai berba-gai isu politik, keamanan, dan ekonomi global. Satu hal yang diperkirakan akan terus berlanjut saat ini dan juga yang akan datang. Berbagai per-masalahan yang terjadi disebabkan oleh kecen-derungan meningkatnya unilateralisme dalam hubungan internasional, ketidakseimbangan hubungan antara negara-negara berkembang dan negara-negara maju akibat globalisasi, belum optimalnya peran Indonesia pada tingkat subre-gional Asia Tenggara, belum tuntasnya masalah perbatasan, serta banyaknya persoalan yang di-hadapi oleh warga negara Indonesia (WNI) di luar negeri.
Untuk mewujudkan Indonesia yang berperan penting dalam dunia internasional, diperlukan kesinambungan dan konsistensi pemantapan peranan politik luar negeri dan kerjasama nasional. Politik luar negeri dan kerjasama inter-nasional harus menekankan pada pemberdayaan posisi Indonesia sebagai negara yang memiliki in-tegritas dan kapasitas.
Dengan kondisi awal tersebut, sasaran yang hen-dak dicapai dalam Pemantapan Politik Luar
Ne-76 P E N C A P A IA N S E B U A H P E R U B A H A N
geri dan Peningkatan Kerjasama Internasional adalah:
1. Semakin meningkatnya peranan Indonesia dalam hubungan internasional;
2. Ikut serta dalam menciptakan perdamaian dunia;
3. Memulihkan citra Indonesia;
4. Meningkatkan kepercayaan masyarakat in-ternasional;
5. Mendorong terciptanya tatanan dan kerjasa-ma ekonomi regional dan internasional yang lebih baik dalam mendukung pembangunan nasional.
Untuk itu kebijakan dari upaya pemantapan poli-tik luar negeri dan peningkatan kerjasama inter-nasional diarahkan pada:
1. Meningkatkan kualitas diplomasi Indonesia dalam rangka memperjuangkan kepentingan nasional, termasuk dalam penyelesaian ma-salah-masalah perbatasan dan dalam
melin-dungi kepentingan masyarakat Indonesia di luar negeri;
2. Melanjutkan komitmen Indonesia terhadap pembentukan identitas dan pemantapan in-tegrasi regional, khususnya di ASEAN; 3. Menegaskan pentingnya memelihara
keber-samaan melalui kerjasama internasional, bilateral, multilateral maupun kerjasama re-gional lainnya;
4. Memelihara saling pengertian dan perda-maian dalam politik dan hubungan internasi-onal;
5. Meningkatkan dukungan dan peran masyara-kat internasional demi tercapainya tujuan pembangunan nasional;
6. Meningkatkan koordinasi dalam penyeleng-garaan hubungan luar negeri sesuai dengan UU.
Dalam upaya pencapaian sasaran-saran di atas, kegiatan dilaksanakan melalui berbagai program yaitu: (1) Program Pemulihan Pasca Konflik; (2) Dok : Bappenas
77 E v a lu a si 4 T a h u n P e la k sa n a a n R P JM N 2 0 0 4 -2 0 0 9
Program Penigkatan Komitmen Persatuan dan Ke-satuan Nasional; (3) Program Penataan Hubungan Negara dan Masyarakat; (4) dan (5) Program Pe-ningkatan Kualitas Pelayanan Informasi Publik.
2.8.3. Pencapaian 2005- 2008
2.8.3.1. Posisi Capaian hingga 2008
Sampai dengan 2008, pelaksanaan diplomasi politik luar negeri telah memberikan kontribusi positif bagi pencapaian tujuan nasional, yakni Indonesia yang lebih damai, adil, demokratis dan sejahtera. Keberhasilan diplomasi tersebut dapat terlihat dengan berbagai peningkatan kerjasama, baik di tingkat bilateral, regional, maupun multi-lateral, serta penciptaan perdamaian dunia. 1. Kerjasama di Tingkat Bilateral
Dalam penyelesaian persoalan masa lalu Indone-sia-Timor Leste, Indonesia memilih penyelesaian bersama dengan membentuk Komisi Kebenaran dan Persahabatan. Penyelesaian bersama ini di-yakini akan lebih menjamin tumbuhnya pema-haman bersama dan menghasilkan kesepakatan yang baik bagi kedua belah pihak.
Hasil akhir Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) melambangkan penyelesaian berbagai per-masalahan antara Indonesia dan Timur Leste. Hasil akhir tidak mengarah kepada jalur hukum, namun lebih mengedepankan pendekatan secara damai. Hasil KKP tersebut akan menghilangkan beban sejarah dan sekaligus menjadi halaman baru bagi kedua negara untuk meningkatkan kerjasama di masa yang akan datang. Tindak lanjut hasil ak-hir tersebut tercermin dalam Joint Statement yang disepakati oleh kedua Kepala Negara pada saat pe-nyerahan hasil akhir KKP di Bali, 15 Juli 2008. Saat ini, kedua negara tengah meneruskan hasil akhir KKP tersebut kepada parlemen masing-masing negara. Pada saat yang sama ke-dua Pemerintahan juga melibatkan civil society untuk menelaah hasil akhir KKP. Untuk mengimplementasikan
reko-mendasi yang dituangkan dalam laporan tersebut, akan disusun rencana kerja atau plan of action.
Pada 2008 hubungan Indonesia dengan Malaysia juga semakin erat melalui pembentukan Eminent Persons Group (EPG) Indonesia-Malaysia (2008), yang bertujuan mengatasi permasalahan yang bersifat people-to-people contact yang memang po-tensial terjadi. Kelompok terpelajar dari Indone-sia dan MalayIndone-sia ini akan memberikan masukan bagaimana masyarakat saling erat, bersahabat dan saling meningkatkan rasa persaudaraannya. Sementara, kerjasama bilateral Indonesian de-ngan sejumlah negara besar memasuki tahapan baru dengan ditandatanganinya perjanjian kemi-traan strategis komprehensif. Kemikemi-traan strate-gis yang penting yang dibangun sepanjang 2005-2008 antara lain dengan: (1) Australia, melalui
Joint Declaration on Comprehensive Partnership
(2005); (2) China, melalui Deklarasi Kemitraan Strategis RI-RRC (2005) ; (3) Jepang, melalui In-donesia-Jepang Economic Partnership Agreement
(IJEPA) ( 2008).
Terkait dengan masalah perbatasan, dalam rang-ka mempertahanrang-kan keutuhan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), pada 2006, Indonesia secara konsisten melak-sanakan border diplomacy melalui serangkaian perundingan dengan negara-negara tetangga, seperti: perundingan delineasi dan demarkasi ba-tas darat dengan Timor Leste, perundingan baba-tas maritim dengan Malaysia dan perundingan batas laut wilayah dengan Singapura. Pada 2007, proses penuntasan penentuan batas laut wilayah, zona ekonomi eksklusif, dan landas kontinen dengan negara-negara tetangga terus dilanjutkan de-ngan kemajuan yang lebih positif. Hal ini sebagai refleksi upaya menuntaskan masalah perbatasan dengan negara-negara tetangga melalui perun-dingan bilateral dan penetapan kesepakatan se-cara tertulis.
Sepanjang 2007, Pemerintah secara intensif melakukan border diplomacy dengan Filipina,
78 P E N C A P A IA N S E B U A H P E R U B A H A N
Papua New Guinea (PNG), Malaysia, Singapura, dan Timor Leste. Secara khusus dengan Timor Leste, kedua pemimpin negara sepakat untuk membangun soft border regime dan good border
management dalam rangka memelihara
sua-sana perlintasan perbatasan damai, terutama para pelintas batas tradisional, dan keamanan sepanjang wilayah perbatasan.
Terkait dengan penanganan masalah WNI/Badan Hukum Indonesia (BHI) di luar negeri, pada 2006, telah banyak kasus-kasus di luar negeri ditangani dengan seksama oleh perwakilan-perwakilan RI di berbagai negara. Pemerintah Indonesia telah mengadakan perjanjian bilateral mengenai tenaga kerja dengan Malaysia, Jordan, dan Korea Selatan. Di samping pembuatan nota kesepahaman dengan negara-negara tujuan tenaga kerja Indonesia (TKI), telah dijajaki pembuatan perjanjian yang lebih rinci dengan negara-negara sahabat dalam bentuk
mandatory access on consular notification (MCN). Dalam perjanjian MCN akan diatur masalah pe-mindahan/transfer jenazah, korban kekerasan, dan lain-lain. Hingga saat ini telah dilakukan pem-bicaraan mengenai MCN dengan beberapa negara, yaitu: Australia, Malaysia, Amerika Serikat (AS), Belanda, Yunani, dan Jepang. Selain itu, Kuwait juga telah mengindikasikan kesediaannya untuk membuat perjanjian MCN dengan Indonesia. 2. Kerjasama di Tingkat Regional
Dalam konteks ASEAN, pada 2006 ditandai de-ngan semakin intensifnya upaya-upaya integrasi. Sejak KTT ASEAN di Bali 2003, Indonesia terus mendorong peningkatan kerjasama dari suatu asosiasi menjadi komunitas. Indonesia berbesar hati bahwa para pemimpin ASEAN berkomitmen untuk mempercepat pembentukan Komunitas ASEAN dari tahun 2020 menjadi 2015. Komit-men percepatan tersebut didukung oleh proses penyusunan Piagam ASEAN (ASEAN Charter) dan dibentuknya High Level Task Force for ASEAN
Charter. Penyusunan ASEAN Charter yang ram-pung pada 2007, tidak hanya merupakan produk guliran proses kerjasama selama ini, tetapi juga
karena dorongan faktor-faktor di luar ASEAN. Selain itu, berkaitan dengan upaya untuk mena-ngani kejahatan lintas negara dan memerangi te-rorisme, Indonesia telah memimpin proses pem-bentukan ASEAN Convention on Counter Terrorism
yang dibahas dalam Joint Experts Working Group on the ASEAN Convention on Counter Terrorism di Bali, 13-15 November 2006.
Kepemimpinan Indonesia di lingkungan ASEAN, sebagai bagian dari strategi memperkuat ling-karan pertama kebijakan politik luar negeri, juga tercermin secara baik pada keberhasilan menu-angkan gagasan untuk membentuk komunitas ASEAN yang dirumuskan dalam 3 rencana aksi bersama ASEAN, yaitu: komunitas keamanan, ko-munitas ekonomi, dan koko-munitas sosial budaya.
“C itra Indonesia sebagai negara de-mokrasi perlu dibuktikan melalui kepe-mimpinan di ASEAN dengan