Peningkatan Kemampuan Per tahanan N egara
10. Program Penelitian dan Pengembangan Pertahanan
e la k sa n a a n R P JM N 2 0 0 4 -2 0 0 9
9. Program Kerjasama Militer Internasi-onal
Program ini ditujukan untuk meningkatkan ker-jasama militer dengan negara-negara sahabat dalam rangka menciptakan kondisi keamanan kawasan, regional, dan internasional serta untuk meningkatkan hubungan antar negara.
10. Program Penelitian dan Pengembangan Pertahanan
Program ini ditujukan untuk melakukan pene-litian dan pengembangan terhadap strategi dan sistem pertahanan, sumber daya manusia, ke-mampuan dan pendayagunaan industri nasional serta penguasaan dan penerapan ilmu pengeta-huan dan teknologi untuk kepentingan perta-hanan negara.
2.7.3. Pencapaian 2005- 2008
2.7.3.1. Posisi Capaian hingga 2008
Hingga 2008, terdapat beberapa dokumen pen-ting guna meningkatkan kemampuan perta-hanan. Pertama, Rencana Strategi Pertahanan 2005–2009 disusun dalam rangka penyiapan ce-tak biru pertahanan dan sebagai kebijakan umum serta kebijakan penyelenggaraan pertahanan.
Kedua, Strategic Defence Review disusun sebagai acuan dalam rangka pembinaan kemampuan dan pembangunan kekuatan pertahanan negara. Ke-tiga, Sesuai dengan amanat Pasal 30 UUD telah disusun naskah akademik Rancangan Undang-Undang Pertahanan dan Keamanan Negara 1945 dalam rangka meningkatkan sinergi upaya per-tahanan dan keamanan negara. Keempat, Peme-rintah telah menyusun dan menyosialisasikan Naskah Akademik RUU Komponen Cadangan, dalam rangka menyiapkan payung hukum untuk mengatur pelibatan dan peran serta masyarakat dalam bidang pertahanan negara.
Sebagai tindak lanjut dalam rangka mengemban amanat UU No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara
Nasional Indonesia, khususnya menyangkut penghapusan bisnis TNI, telah dilakukan restruk-turisasi bisnis TNI yang dimulai dengan tahapan inventarisasi secara cermat, berhati-hati, dan bertanggung jawab, melalui koordinasi dengan departemen dan lembaga Pemerintah terkait, serta Mabes TNI dan Angkatan.
“Sesuai dengan amanat Pasal 30 U U D telah disusun naskah akademik Rancang-an U ndRancang-ang-U ndRancang-ang Per tahRancang-anRancang-an dRancang-an Keamanan N egara 1945 dalam rangka meningkatkan sinergi upaya per tahanan dan keamanan negara”
Dalam rangka meningkatkan kesiapan alutsista TNI, meskipun masih sangat terbatas, telah ber-hasil dialokasikan tambahan anggaran untuk ke-pentingan pertahanan, yang akan ditingkatkan bertahap. Di samping itu, pembangunan kemam-puan pertahanan negara secara umum ditujukan tidak untuk memperbesar kekuatan yang sudah ada. Akan tetapi, untuk mempertahankan ke-mampuan dan kekuatan yang sudah dimiliki, an-tara lain melalui repowering, retrofitting, pemeli-haran, dan pengadaan alutsista secara terbatas. Meskipun tidak mudah membangun kemandirian industri pertahanan dalam perekonomian saat ini, dengan meningkatkan kapabilitas dan pem-benahan manajemen yang baik, industri strategis yang telah ada seperti PT Dirgantara Indonesia, PT PAL, PT Pindad, dan industri pertahanan lain-nya, memiliki potensi untuk dikembangkan. Selanjutnya, keterbatasan dukungan anggaran menjadi faktor pertimbangan dalam penyusun-an rencpenyusun-ana kebutuhpenyusun-an dalam pembpenyusun-angunpenyusun-an pertahanan. Hal ini meyebabkan pemenuhan kebutuhan pertahanan belum sampai pada taraf pembentukan kekuatan pokok minimum (
mini-68 P E N C A P A IA N S E B U A H P E R U B A H A N
mum essential force) TNI. Selama ini dukungan anggaran untuk pembangunan kekuatan perta-hanan negara hanya mampu memenuhi 44 per-sen kebutuhan TNI. Demikian pula, keterbatasan pemenuhan anggaran untuk pembelian suku ca-dang sangat berpengaruh terhadap kesiapan alut-sista TNI yang berumur relatif tua, serta belum terpenuhinya minimum stock level bagi munisi ka-liber kecil (MKK) dan munisi kaka-liber besar (MKB). Ini berpengaruh terhadap efektivitas kegiatan pendidikan, pelatihan, dan operasi yang dilaksa-nakan TNI. Untuk meningkatkan efektivitas danUntuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran telah diterapkan kebijakan pengadaan satu pintu agar kebocoran dapat dikurangi.
2.7.3.2. Per m asalahan dalam
Penca-paian Sasaran
Permasalahan yang selalu dihadapi dalam me-ningkatkan profesionalisme TNI adalah ma-sih kurang memadainya kuantitas dan kualitas alat utama sistem persenjataan TNI, sarana dan prasana, serta rendahnya tingkat kesejahteraan personel TNI. Kesiapan alutsista rata-rata baru mencapai 45 persen dari yang dimiliki, sehingga belum dapat memberikan efek penangkal ( deter-rence).
Selain itu, keterbatasan dukungan anggaran menjadi faktor pertimbangan dalam penyusunan usulan kebutuhan pertahanan, yang menyebab-kan pemenuhan kebutuhan pertahanan masih diupayakan untuk mencapai minimum essential
force TNI. Dukungan anggaran untuk
pemba-ngunan kekuatan pertahanan negara baru mam-pu memenuhi 44 persen kebutuhan TNI. Masih belum optimalnya upaya menyinergikan in-dustri pertahanan nasional, dan belum optimalnya kegiatan penelitian dan pengembangan industri pertahanan yang terpadu, serta tingginya keter-gantungan pada teknologi dan industri militer luar negeri merupakan permasalahan yang saat ini
di-hadapi dalam mewujudkan kemandirian industri pertahanan dalam negeri.
Begitu juga, rendahnya tingkat kesejahteraan pra-jurit TNI yang meliputi gaji pokok, upah lauk pauk (ULP), tunjangan, dan fasilitas bagi prajurit TNI, merupakan salah satu faktor penting yang dapat berpengaruh negatif terhadap profesionalisme TNI. Di samping itu, jaminan sosial dan asuransi bagi prajurit TNI yang sedang melaksanakan tu-gas-tugas operasi maupun prajurit yang akan pur-natugas juga belum memadai.
“Kesiapan alutsista rata-rata baru men-capai 45 persen dari yang dimiliki, se-hingga belum dapat memberikan efek penangkal (deterrence)”
2.7.4. T indak Lanjut
2.7.4.1. U paya yang A kan D ilakukan
unt uk M encapai Sasaran
Berdasarkan pencapaian sasaran pembangunan sampai dengan 2008, maka dalam rangka mening-katkan hasil-hasil yang telah dicapai serta menga-tasi permasalahan yang dihadapi, langkah tindak lanjut yang diperlukan adalah:
1. Penajaman dan sinkronisasi kebijakan strate-gi pertahanan dan keamanan (hankam) serta penguatan koordinasi dan kerjasama di an-tara kelembagaan hankam;
2. Peningkatan kemampuan dan profesiona-lisme TNI yang meliputi dimensi alutsista, sistem, material, personel serta prasarana dan sarana;
3. Peningkatan penggunaan alutsista produksi dalam negeri dan kemampuan industri da-lam negeri dada-lam penyediaan kebutuhan dan perawatan alutsista;
69 E v a lu a si 4 T a h u n P e la k sa n a a n R P JM N 2 0 0 4 -2 0 0 9
4. Peningkatan peran aktif masyarakat dan pro-fesionalisme institusi terkait dengan perta-hanan negara;
5. Pemasyarakatan dan pendidikan bela negara secara formal dan informal;
6. Percepatan pembentukan kelembagaan De-wan Keamanan Nasional; serta
7. Peningkatan sistem jaminan asuransi prajurit dalam rangka meningkatkan kesejahteraan anggota TNI.
Langkah tindak lanjut tersebut diharapkan dapat mendukung upaya pengembangan kekuatan per-tahanan negara yang ditandai oleh:
1. Tersusunnya rancangan pertahanan yang menggambarkan minimum essential force TNI; 2. Meningkatnya jumlah dan kondisi siap
alut-sista TNI sesuai dengan norma kekuatan po-kok minimal;
3. Meningkatnya penggunaan alutsista produksi dalam negeri;
4. Meningkatnya profesionalisme TNI dalam operasi militer perang dan operasi militer se-lain perang; serta
5. Terdayagunakannya potensi pertahanan dan meningkatnya peran aktif masyarakat (civil society) dalam pembangunan pertahanan ser-ta meningkatnya pemenuhan kesejahteraan prajurit sesuai kebutuhan hidup dasar. Selain itu, diupayakan pula pemberdayaan in-dustri pertahanan nasional untuk mendorong penggunaan produk industri dalam negeri dalam pengadaan alutsista/material TNI seperti panser APS, KAL-36, KAL-40, pesawat angkut ringan, semua jenis senjata ringan beserta amunisinya, truk angkut pasukan, sarana angkut laut dan su-ngai dari jenis inflatable boat dan jenis hovercraft, serta payung udara orang (PUO). Di samping itu, perlu dilakukannya rekayasa engineering bidang sistem kontrol yang merupakan bagian yang sa-ngat penting dalam sistem senjata teknologi yang digunakan TNI.
70 P E N C A P A IA N S E B U A H P E R U B A H A N 2.7.5. Penut up
Pertahanan negara merupakan upaya pokok dalam menegakkan kedaulatan negara dan me-lindungi keselamatan segenap bangsa. Oleh karena itu, pembangunan kekuatan pertahanan negara diselenggarakan secara terpadu dan ber-tahap serta diarahkan untuk mewujudkan perta-hanan yang profesional dan modern yang mampu menanggulangi setiap ancaman dan gangguan. Namun, untuk mewujudkan fungsinya yang ideal tersebut, bangsa Indonesia masih mengalami ber-bagai keterbatasan sehingga kemampuan perta-hanan negara belum dapat dibangun secara sem-purna. Padahal, Indonesia mempunyai potensi ancaman yang tidak ringan baik dari dalam mau-pun luar negeri.
Untuk itu, dalam rangka mencapai pembangunan bidang pertahananan yang optimal disusun suatu sasaran dan arah kebijakan dalam RPJMN 2004-2009. Melalui rangkaian upaya yang dilakukan hingga 2008, dicapai beberapa kemajuan bidang pertahanan. Di antaranya terkait dengan sistem perundangan, peningkatan profesionalisme per-sonel dan kesejahteraan prajurit, serta
restruk-turisasi bisnis TNI. Di samping itu, upaya untuk mencapai sasaran yang diinginkan juga masih menemui kendala sehingga pencapaian belum optimal. Permasalahan yang dihadapi utamanya berkaitan dengan faktor keterbatasan anggaran serta kurang memadainya kuantitas dan kualitas alutsista serta sarana dan prasana penunjang per-tahanan lainnya.
Untuk itu, ke depannya pencapaian sasaran akan dilakukan melalui upaya tindak lanjut peningkat-an kemampupeningkat-an TNI ypeningkat-ang meliputi dimensi alut-sista, sistem, material, personel, serta prasarana dan sarana. Selain itu, diupayakan pula pember-dayaan industri pertahanan nasional untuk men-dorong penggunaan produk industri dalam negeri dalam pengadaan alutsista/material TNI.
Maka, berdasarkan tingkat pencapaian saat ini dan upaya yang akan dilakukan ke depan, sasar-an akhir RPJMN bidsasar-ang pembsasar-angunsasar-an nsasar-anti- nanti-nya diperkirakan tidak akan tercapai seluruhnanti-nya.tidak akan tercapai seluruhnya. Ketidakberhasilan pencapaian sasaran ini terutama terkait ketersediaan anggaran. Beberapa sasaran-sasaran pada RPJMN ini diperkirakan baru bisa tercapai pada periode RPJMN selanjutnya.
7
1 Evaluasi 4 Tahun Pelaksanaan RPJM N 2004-2009
B
a
g
ia
n
2
1 Tersusunnya rancang-an postur pertahrancang-anrancang-an Indonesia berdasarkan Strategic Defense Review (SDR) dan Strategi Raya pertahanan dalam periode 2005-2006 yang disusun sebagai hasil kerjasama masyarakat sipil (cipil society) dan militerIndonesia belum memiliki rancangan postur pertahanan Indo-nesia berdasarkan Strategic Defense Review (SDR) 2 Meningkatnya profesio-nalisme anggota TNI baik dalam operasi militer untuk perang maupun selain perang; Terselengga-ranya latihan OM dan OMSP secara memadai yang didukung material dan fasilitas yang memadai Terlaksananya pengembangan Personil TNI Terselenggaranya latihan matra, gabungan, dan kerjasama militer dengan negara-nega-ra tetangga maupun internasional yang lainnya dalam OMP dan OMSP Terselenggaranya latihan matra, gabungan, dan kerjasama militer dengan negara-negara tetangga maupun inter-nasional yang lainnya dalam OMP dan OMSP
Terselenggaranya latihan matra, gabungan, dan ker-jasama militer de-ngan negara-negara tetangga maupun internasional yang lainnya dalam OMP dan OMSP
3 Meningkatnya kese-jahteraan prajurit TNI terutama kecukupan perumahan, pendidikan dasar keluarga prajurit, jaminan kesejahteraan akhir tugas; Tercukupinya kesejahteraan prajurit dengan indikasi salah satunya ULP mencapai 4500 kalori Terwujudnya pengembangan fasilitas TNI. Peningkatan kese-jahteraan prajurit melalui kenaikan ULP rutin pra-jurit menjadi Rp 30.000
Peningkatan kese-jahteraan prajurit melalui kenaikan ULP rutin prajurit menjadi Rp 35.000
4 Meningkatnya jumlah dan kondisi peralatan pertahanan ke arah modernisasi alat utama sistem persenjataan dan kesiapan operasional; Tercukupinya alutsista per-tahanan dalam skala minimum essential force Terlaksananya pengembangan Alutsista TNI Kesiapan alutsista menjadi 40 persen dari kekuatan yang ada
Kesiapan alutsista menjadi 45 per-sen dari kekuatan yang ada
Kesiapan alutsista menjadi 50 persen dari kekuatan yang ada
7
2 PEN C A PA IA N SEBU A H PERU BA H A N
No Sasaran / Program Indikator (Satuan) Kondisi Awal 2004/2005 2006 2007 2008 persen 5 Meningkatnya penggu-naan alutsista produksi dalam negeri dan dapat ditanganinya pemeli-haraan alutsista oleh industri dalam negeri
Semakin berpe-rannya industri pertahanan nasional dalam pemenuhan alutsista TNI Terlaksananya pemberdayaan industri nasional dalam mencip-takan kemandi-rian, sekaligus memperkecil ketergantungan di Alutsista per-tahanan kepada negara lain Tersusunnya kebi-jakan pemenuhan alutsista TNI 2005-2009 sebesar USD 3,7 milyar dengan potensi pemanfaat-an hasil industri pertahanan nasional sebesar USD 654 juta (skenario dasar)
Termanfaatkan-nya secara lebih intensif hasil pengembang in-dustri pertahan-an dalam negeri seperti roket 70 mm dan 80 mm, UAV, APS, panser APS, senjata SS-2.
Termanfaatkannya secara lebih inten-sif hasil produksi industri pertahan-an dalam negeri te-rutama kendaraan panser dan angkut personil; terman-faatkanya fasilitas harkan yang dimili-ki industri strategis nasional untuk har-kan alutsista; serta terciptanya disain Korvet Nasional, 6 Teroptimasinya
anggar-an pertahanggar-ananggar-an serta tercukupinya anggaran minimal secara simultan dengan selesainya reposi-si bisnis TNI
Menurunnya tingkat pembo-rosan anggaran yang tidak sesuai peruntukan Teroptimali-sasinya alokasi anggaran bidang pertahanan negara 70 persen Alokasi anggaran digunakan untuk kegiatan rutin, sementara 30 persen-nya digunakan untuk pembangunan pertahanan yang hanya mencukupi 45 persen dari kebutuhan 70 persen Alokasi anggaran digunakan untuk kegiatan rutin, sementara 30 per-sennya digunakan untuk pembangu-nan pertahapembangu-nan yang hanya mencu-kupi 50 persen dari kebutuhan
7
3 Evaluasi 4 Tahun Pelaksanaan RPJM N 2004-2009
potensi masyarakat dalam bela negara sebagai salah satu komponen utama pertahanan negara aturan perun-dangan yang mengatur peran serta masyarakat dalam usaha pertahanan negara kekuatan tiga komponen per-tahanan negara (Sumberdaya Manusia Nasional, Sumberdaya Alam, dan Sum-berdaya Buatan)
syarakat dalam pembangunan pertahanan belum dapat terarah den-gan baik mengingat belum tersedianya peraturan perun-dang-undangan yang mengatur partisipasi masyarakat dalam pembangunan per-tahanan sosialisasi kesa-daran bela negara dalam rangka menumbuhkan nasionalisme dan terumuskannya RUU Komponen Cadangan sialisasi kesadaran bela negara dalam rangka menumbuh-kan nasionalisme secara lebih luas dan ditetapkannya RUU Komponen Cadangan sebagai undang-undang untuk mewadahi peran serta masya-rakat dalam bela negara
75 E v a lu a si 4 T a h u n