• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penghormatan, Pengakuan, dan Penegakan Atas H ukum dan

e la k sa n a a n R P JM N 2 0 0 4 -2 0 0 9

BAB 3.4.

Penghormatan, Pengakuan, dan

Penegakan Atas H ukum dan

H ak Asasi Manusia

3.4.1. Pengant ar

Hak asasi merupakan hak yang bersifat dasar dan pokok. Pemenuhan hak asasi manusia (HAM) merupakan suatu keharusan agar warga negara dapat hidup sesuai dengan kemanusiaannya. HAM melingkupi antara lain hak atas kebebasan berpendapat, hak atas kecukupan pangan, hak atas rasa aman, hak atas penghidupan dan pe-kerjaan, hak atas hidup yang sehat serta hak-hak lainnya sebagaimana tercantum dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia pada 1948.

Penghormatan terhadap hukum dan HAM meru-pakan suatu keharusan dan tidak perlu ada tekan-an dari pihak mtekan-anapun untuk melakstekan-anaktekan-annya. Pembangunan bangsa dan negara pada dasarnya juga ditujukan untuk memenuhi hak-hak asasi warga negara. Hak asasi tidak sebatas pada ke-bebasan berpendapat ataupun berorganisasi, tetapi juga menyangkut pemenuhan hak atas keyakinan, hak atas pangan, pekerjaan, pendi-dikan, kesehatan, rasa aman, penghidupan yang layak, dan lain-lain. Beberapa aspek dari HAM bukan hanya kewajiban Pemerintah, akan tetapi juga seluruh warga negara untuk memastikan terpenuhinya hak tersebut secara konsisten dan berkesinambungan.

3.4.2. Kondisi A wal dan Sasaran yang I ngin D icapai

Pemerintah secara terus menerus berupaya untuk meningkatkan penghormatan, pengakuan, dan penegakan atas hukum dan HAM dengan proses yang lebih transparan dan melibatkan tidak saja instansi/lembaga Pemerintah, tetapi juga ber-bagai organisasi non-Pemerintah dan organisasi lainnya.

Pada awal-awal tahun pelaksanaan RPJMN 2004-2009 masih banyak ditemui berbagai permasalah-an terkait dengpermasalah-an penghormatpermasalah-an, pengakupermasalah-an, dpermasalah-an penegakan atas hukum dan HAM, antara lain: 1. Masih banyaknya pelanggaran hukum dan

HAM;

2. Banyaknya pelanggar HAM yang tidak dapat bertanggung-jawab dan tidak dapat dihukum (impunitas);

3. Tidak berfungsinya institusi-institusi nega-ra yang berwenang dan wajib menegakkan HAM;

4. Penegakan hukum dan kepastian hukum be-lum dinikmati oleh masyarakat Indonesia; 5. Penegakan hukum yang tidak adil, tidak

108 P E N C A P A IA N S E B U A H P E R U B A H A N

6. Selama 2001-2004, penanganan perkara ko-rupsi oleh Kejaksaan Agung masih belum optimal terinformasikan secara luas kepada masyarakat;

7. Besarnya harapan masyarakat dan tuntutan terhadap kinerja Komisi Pemberantasan Ko-rupsi (KPK) dan pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) untuk menegakkan hukum dan kepastian hukum;

8. Tindakan hukum terhadap pelaku tindak pidana korupsi seringkali tidak tuntas.

Untuk mendukung upaya penghormatan, pe-ngakuan, dan penegakan atas hukum dan HAM, sasaran yang ingin dicapai dalam RPJMN 2004-2009 adalah terlaksananya berbagai langkah-langkah rencana aksi yang terkait dengan peng-hormatan, pemenuhan dan penegakan terhadap hukum dan HAM, antara lain:

1. Rencana Aksi Hak Asasi Manusia 2004-2009; 2. Rencana Aksi Nasional Pemberantasan

Ko-rupsi (RAN-PK) 2004-2009;

3. Rencana Aksi Nasional Penghapusan Eksploi-tasi Seksual Komersial Anak ;

4. Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak ; 5. Program Nasional Bagi Anak Indonesia

(PN-BAI) 2015.

1. Meningkatkan upaya pemajuan, perlindung-an, upaya penghormatperlindung-an, pengakuperlindung-an, dan penegakan hukum dan HAM;

2. Menegakkan hukum secara adil, konsekuen, tidak diskriminatif, dan memihak pada rak-yat kecil;

3. Menggunakan nilai-nilai budaya daerah se-bagai salah satu sarana untuk mewujudkan terciptanya kesadaran hukum masyarakat; 4. Meningkatkan kerjasama yang harmonis

anta-ra kelompok atau golongan dalam masyaanta-rakat, agar mampu saling memahami dan menghor-mati keyakinan dan pendapat masing-masing; 5. Memperkuat dan melakukan konsolidasi

de-mokrasi.

Pencapaian sasaran Penghormatan, Pengakuan dan Penegakan Atas Hukum dan Hak Asasi Ma-nusia dilaksanakan melalui Program Penegakan Hukum dan Hak Asasi Manusia.

3.4.3. Pencapaian 2005- 2008

3.4.3.1. Posisi Capaian hingga 2008

Selama empat tahun pelaksanaan RPJMN 2004-2009, pencapaian penanganan korupsi di Indo-nesia telah memperlihatkan hasil yang cukup menggembirakan. Indek Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia mengalami peningkatan dari 1,9 pada 2004 menjadi 2,6 pada 2008.

Pencapaian tersebut tidak terlepas dari kerja keras Pemerintah untuk terus menanggulangi pena-nganan korupsi. Pemerintah melakukan beberapa upaya pemberantasan korupsi yang bersifat pre-ventif melalui beberapa kegiatan, antara lain: 1. Konsultasi dan Kampanye Publik Rencana

Aksi Nasional Pemberantasan Korupsi (RAN PK) yang terdiri dari strategi pencegahan, penindakan, pencegahan dan penindakan korupsi dalam rehabilitasi dan rekonstruksi, serta monitoring dan evaluasi. Sampai Okto-“Salah satu faktor penting yang

mendukung keberhasilan proses pemeriksaan kasus korupsi, adalah dengan dikeluarkannya U ndang-U ndang (U U ) N omor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban”

Upaya penghormatan, pengakuan, dan penegakan atas hukum dan HAM diarahkan untuk mening-katkan pemahaman, menciptakan penegakan dan kepastian hukum yang konsisten terhadap HAM serta perlakuan yang adil dan tidak diskriminatif dengan langkah-langkah:

Dok: Tempo, Ayu Ambong 109 E v a lu a si 4 T a h u n P e la k sa n a a n R P JM N 2 0 0 4 -2 0 0 9

ber 2008 kegiatan tersebut telah dilakukan hampir di seluruh provinsi, beberapa kabu-paten/kota, dan kementerian/lembaga; 2. Sosialisasi dan penyuluhan gratifikasi

diberi-kan kepada instansi Pemerintah maupun swasta;

3. Pendidikan Anti Korupsi untuk Pelajar dan Mahasiswa melalui training of trainer (TOT) di 37 Universitas;

4. Penandatanganan nota kesepahaman antara KPK dengan 67 perguruan tinggi negeri dan swasta di seluruh Indonesia;

5. Kegiatan pendidikan anti-korupsi untuk SMP dan SMA.

Langkah represif juga dilakukan oleh instansi/ lembaga penegak hukum terhadap tindak pidana korupsi. Selama 2007, instansi kejaksaan telah menyelesaikan penyidikan perkara tindak pidana korupsi sebanyak 388 perkara dari 1.649 perkara, selanjutnya telah masuk ke tahap penuntutan ke pengadilan negeri sebanyak 661 perkara dan telah diselesaikan sejumlah 625 perkara. Sementara, KPK telah melakukan penyelidikan sebanyak 68

kasus, penyidikan 29 kasus yang terdiri dari 8 ka-sus merupakan sisa dari 2006 dan 28 kaka-sus dari 2007. Sedangkan pada tahap penuntutan telah diselesaikan sebanyak 24 perkara yang terdiri dari 10 perkara sisa tahun 2006 dan 14 perkara dari 2007. Selain itu telah dihasilkan sebanyak 21 perkara yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap (putusan Inkracht).

Salah satu faktor penting yang mendukung ke-berhasilan proses pemeriksaan kasus korupsi, adalah dengan dikeluarkannya Undang-Undang (UU) Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindung-an Saksi dPerlindung-an KorbPerlindung-an. Terbitnya UU tersebut di-harapkan dapat memacu masyarakat untuk me-laporkan adanya dugaan korupsi.

Di bidang perlindungan HAM, Komnas HAM sepanjang 2005 sampai dengan Juni 2006 Peme-rintah telah melakukan kegiatan pemantauan terhadap beberapa kasus yang mempunyai indi-kasi adanya pelanggaran HAM. Berbagai kasus ini antara lain: peristiwa Talangsari; peristiwa Ahmadiyah, dan permasalahan yang terkait de-ngan pemberian suaka oleh Pemerintah Australia

110 P E N C A P A IA N S E B U A H P E R U B A H A N

kepada 43 orang yang berasal dari Provinsi Papua. Dalam kaitannya dengan fungsi Komnas HAM se-bagai lembaga penyelidik pada pelanggaran HAM berat sebagaimana diatur dalam UU No. 26 Tahun 2000, pada Maret 2002 Komnas HAM telah me-nyerahkan hasil penyelidikan kepada Kejaksaan Agung sebagai lembaga penyidik menyangkut peristiwa Trisakti, Semanggi I, dan Semanggi II. Terkait dengan penegakan dan perlindungan HAM, sampai saat ini juga terus dilakukan ke-giatan-kegiatan di berbagai bidang seperti yang tercantum dalam Rencana Aksi Nasional HAM (RAN-HAM). Rencana aksi ini tertuang dalam Keppres Nomor 40 Tahun 2004 tentang RAN-HAM 2004-2009 disertai dengan kegiatan moni-toring dan evaluasi pelaksanaan. Pada 2007, telah diselesaikan seluruh pembentukan dan penguat-an institusi pelakspenguat-ana RAN-HAM di daerah dpenguat-an telah dilaksanakan sosialisasi dalam penyusun-an program terhadap keppenyusun-anitiapenyusun-an dari institusi pelaksana ke 46 daerah kabupaten di luar Jawa. Di bidang perlindungan anak, Pemerintah telah memperkuat kebijakan nasional dan kerangka perundang-undangan untuk melindungi hak-hak anak untuk menghapuskan bentuk-bentuk terburuk pekerja anak, penghapusan eksploitasi seksual komersial terhadap anak, perdagangan anak, status kewarganegaraan, dan perlindungan dari tindak kekerasan, yang tercantum dalam be-berapa peraturan perundang-undangan, yaitu : 1. Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003

ten-tang Ketenagakerjaan, yang mengamanatkan bahwa pengusaha dilarang mempekerjakan anak dan melibatkan anak pada pekerjaan-pekerjaan terburuk.

2. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, meng-amanatkan bahwa setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas ta-hun wajib mengikuti pendidikan dasar.

3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 ten-tang penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

4. Undang-undang Nomor 11 Tahun 2005 ten-tang pengesahan International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (Konvensi Internasional mengenai Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya), mengamanatkan hak atas perlindungan dan bantuan yang seluas mungkin bagi keluarga, ibu, anak, dan orang muda.

5. Undang-undang Nomor 12 Tahun 2006 ten-tang Kewarganegaraan Republik Indonesia, mengamanatkan bahwa status Kewarganega-raan Republik Indonesia terhadap anak. 6. Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007

ten-tang Pemberantasan Tindak Pidana Perda-gangan Orang.

Dalam upaya pencapaian sasaran tersebut telah dilakukan langkah-langkah strategis perlindung-an terhadap perlindung-anak, bekerjasama dengperlindung-an seluruh instansi yang terkait dengan perlindungan anak, di tingkat pusat dan daerah, selain itu pemerin-tah juga bekerjasama dengan badan-badan inter-nasional, seperti UNICEF, UNESCO dan ILO. Pada fase pertama program penghapusan pekerja anak RAN di Indonesia tahun 2004-2007, tercatat 13.922 anak telah ditarik dari pekerjaannya, dan 29.863 anak lagi berhasil dicegah masuk ke em-pat sektor pekerjaan terburuk.

Rencana Aksi Nasional tahap kedua, yang dimulai tahun 2008 hingga empat tahun ke depan, me-makai dua strategi dasar, yaitu (1) mendorong perbaikan kebijakan-kebijakan dan tumbuhnya lingkungan kebijakan yang mendukung pengha-pusan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak dan (2) intervensi langsung di empat sektor pekerjaan terburuk buat anak, tujuan intervensi ini adalah mencegah dan menarik anak yang bekerja di sektor terburuk agar tidak lagi bekerja lagi di sana.

111 E v a lu a si 4 T a h u n P e la k sa n a a n R P JM N 2 0 0 4 -2 0 0 9

3.4.3.2. Per m asalahan Pencapaian Sa-saran

Penegakan hukum di Indonesia memang masih belum optimal. Hal itu antara lain, ditunjukkan oleh masih rendahnya kinerja lembaga peradilan. Belum adanya penyelesaian beberapa kasus ko-rupsi besar menyebabkan rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap kesungguhan Pemerintah untuk memberantas korupsi.

Begitu juga, belum membaiknya kondisi kehidup-an ekonomi sebagikehidup-an rakyat menyebabkkehidup-an mere-ka tidak menikmati hak-hak dasarnya. Hak dasar ini seperti hak atas pekerjaan yang layak, hak atas upah yang adil sesuai dengan prestasi dan yang dapat menjamin kelangsungan kehidupan ke-luarga mereka. Tidak terpenuhinya hak dasar ini juga yang menyebabkan masih besarnya masyara-kat yang hidup dalam kemiskinan. Di samping itu, pemenuhan hak atas pendidikan juga belum sepenuhnya dinikmati oleh anggota masyarakat, khususnya yang lemah kondisi ekonominya. Dengan adanya globalisasi, intensitas hubungan masyarakat antara satu negara dan negara lain menjadi makin tinggi. Dengan demikian, kecen-derungan munculnya kejahatan yang sifatnya transnasional menjadi makin sering terjadi. Ke-jahatan-kejahatan tersebut, antara lain, terkait dengan masalah narkotika, pencucian uang ( mo-ney laundering), dan terorisme. Salah satu perma-salahan yang sering timbul adalah adanya peredar-an dokumen keimigrasiperedar-an palsu.

Permasalahan lain yang terkait dengan penghor-matan dan penegakan HAM adalah masih marak-nya praktik diskriminasi dan ketidakadilan, ra-sialisme, dan konflik-konflik yang sarat dengan nuansa kekerasan. Adanya pemberian impunitas pada pelaku kasus-kasus pelanggaran HAM me-nimbulkan kesan belum tuntasnya penyelesaian kasus-kasus tersebut. Begitupula lambatnya pe-laksanaan RAN-HAM 2004-2009 juga menjadi faktor belum maksimalnya penegakan HAM di Indonesia.

Dalam rangka penanganan kasus korupsi dan pelanggaran HAM di Indonesia, beberapa perma-salahan yang sampai saat ini masih dihadapi oleh instansi penegak hukum dan lembaga indepen-den seperti KPK dan Komnas HAM, antara lain: 1. Belum sempurnanya peraturan

perundang-undangan yang mengatur hukum mate-riil maupun formil, serta masih terbatasnya pemahaman baik dari aparat penegak hukum maupun masyarakat umum terhadap hukum yang ada;

2. Masih adanya kelemahan pada UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah de-ngan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pem-berantasan Tindak Pidana Korupsi. Demikian juga, masih ada kelemahan pada UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberan-tasan Korupsi (KPK). Dua hal ini menyebab-kan masalah adanya permasalahan dalam penanganan kasus korupsi;

3. Ketentuan UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia mensyaratkan adanya persetujuan DPR dalam pembentukan Pengadilan Ad Hoc HAM. Hal ini menyebab-kan beberapa kasus pelanggaran HAM berat seperti kasus Tanjung Priok 1984, Kerusuhan Mei 1998, Trisakti 1998, Semanggi I dan Se-manggi II, Timor Timur 1999, Abepura 2000, peristiwa Wasior 2001-2002, dan Peristiwa Wamena 2003 belum dapat ditindaklanjuti oleh kejaksaan. Namun, penyelidikan kasus-kasus tersebut telah dilakukan dan diserahkan oleh Komnas HAM kepada Kejaksaan Agung; 4. Terkait upaya pencegahan korupsi melalui

Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 ten-tang RAN PK, kegiatan itu belum menunjuk-an hasil ymenunjuk-ang optimal karena masih bmenunjuk-anyak instansi/lembaga baik di pusat maupun di daerah yang belum mengimplementasikan-nya.

Berbagai kendala dihadapi dalam melaksanakan perlindungan terhadap anak, yaitu :

112 P E N C A P A IA N S E B U A H P E R U B A H A N

1. Budaya sebagian masyarakat bahwa anak bekerja merupakan bagian dari proses pen-didikan sebagai bekal untuk memasuki usia dewasa dan bekerja juga merupakan sarana untuk berbakti kepada orang tua.

2. Koordinasi antar sektor terkait dan antara pusat dan daerah belum berjalan sesuai de-ngan yang diharapkan.

3. Belum berfungsinya sistem pengawasan ter-hadap kebijakan tersebut.

3.4.4. T indak Lanjut

3.4.4.1. U paya yang A kan D ilakukan unt uk M encapai Sasaran

Dalam kurun waktu setahun kedepan, penegakan hukum dan HAM menjadi tumpuan penegakan hukum dan HAM dalam rangka merebut kembali kepercayaan masyarakat terhadap hukum. Un-tuk itu, tiga agenda penegakan hukum dan HAM akan diprioritaskan pada: pemberantasan korup-si; anti-terorisme; serta pembasmian penyalahgu-naan narkotika dan obat berbahaya.

Ketiga prioritas ini akan diupayakan melalui tin-dakan preventif dan represif. Beberapa kegiatan pokok yang akan dilakukan antara lain:

1. Penanganan perkara pidana khusus/umum, perdata tata usaha negara, pelanggaran HAM;

2. Pembinaan kepribadian dan keterampilan narapidana;

3. Peningkatan penyelenggaraan kerjasama in-ternasional dalam rangka penegakan hukum; 4. Kerjasama antar-instansi Pemerintah; 5. Koordinasi kerjasama penerapan dan

peme-nuhan HAM;

6. Penyelenggaraan pemantauan pelaksanaan perlindungan pemajuan dan penegakan HAM;

7. Pelaksanaan intelijen dalam rangka pena-nganan/penyelidikan kasus;

8. Penindakan hukum terhadap tindak pidana korupsi;

9. Penyelenggaraan penyelidikan pelanggaran kasus HAM.

Begitu juga, upaya penegakan hukum di luar pe-nanganan kasus korupsi terus dilanjutkan. Ber-bagai pembenahan juga akan terus menerus di-lakukan melalui memperbaiki sistem, mekanisme serta prosedur yang dapat mempermudah serta memperlancar pelaksanaan program penegakan hukum yang selama ini berjalan. Memang, ber-bagai upaya-upaya yang telah dilakukan tersebut belum dapat memenuhi harapan dan keinginan dari masyarakat. Sebab diperlukan waktu yang panjang untuk mencapai keberhasilan dari pro-ses pelaksanaan program penegakan hukum dan HAM yang telah berjalan.

“U paya perlindungan bagi anak Indonesia yang terdiri dari upaya perlindungan bidang pendidikan,

kesehatan serta sosial diharapkan dapat segera dilaksanakan sesuai dengan

komitmen yang telah disepakati bersama dalam RAN -PN BAI”

Demikian pula dalam pelaksanaan RAN-HAM, sampai saat ini telah dilakukan langkah-langkah pembentukan serta penguatan institusi pelak-sana di daerah. Begitu juga, telah dilakpelak-sanakan sosialisasi dalam penyusunan program dari in-situsi pelaksana di beberapa daerah kabupaten. Diharapkan, proses penyusunan program dapat diterapkan di daerah-daerah tersebut. Demikian pula, bisa diaplikasikan rencana-rencana kegiatan yang telah disusun sehingga sasaran dari diben-tuknya RAN HAM dapat segera tercapai.

113 E v a lu a si 4 T a h u n P e la k sa n a a n R P JM N 2 0 0 4 -2 0 0 9

Untuk meningkatkan pemenuhan hak perlin-dungan anak, pemerintah dalam kebijakan kede-pan memprioritaskan kegiatan pada: (1) Percepat-an pelaksPercepat-anaPercepat-an RencPercepat-ana Aksi Nasional, (2) Mengadvokasi pemerintah daerah, masyarakat, dan organisasi non pemerintah tentang peme-nuhan hak dan perlindungan anak, (3) Mening-katkan pengetahuan orang tua dan masyarakat tentang pemenuhan hak dan perlindungan anak, (4) Meningkatkan sumberdaya bagi perlindungan anak, dan (5) Meningkatkan koordinasi kerjasa-ma antar lembaga dalam upaya pemenuhan hak dan perlindungan anak.

Pelaksanaan RAN-PNBAI juga terus menerus di-lakukan. Sampai saat ini, telah berhasil disusun rencana aksi bidang perlindungan anak, terutama dari segi perlindungan hukum bagi anak Indone-sia. Rencana aksi yang dilakukan ini merupakan komitmen dan tanggung-jawab dari Pemerintah Indonesia untuk melakukan upaya perlindung-an secara maksimal bagi perlindung-anak Indonesia. Upaya perlindungan bagi anak Indonesia yang terdiri

dari upaya perlindungan bidang pendidikan, ke-sehatan serta sosial diharapkan dapat segera di-laksanakan sesuai dengan komitmen yang telah disepakati bersama dalam RAN-PNBAI oleh ma-sing-masing instansi pelaksana terkait.

3.4.4.2. Perkiraan Pencapaian Sasaran RPJM N 2004- 2009

Berdasarkan capaian-capaian yang diperoleh hing-ga akhir 2008, maka sampai akhir pelaksanaan RPJMN 2004-2009 diperkirakan:

1. Hadirnya sejumlah layanan konsultasi publik tentang RAN-PK di pusat dan daerah sebagai kelanjutan dari pelaksanaan konsultasi pu-blik yang telah dilakukan tahun-tahun sebe-lumnya di daerah;

2. Adanya pembentukan Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAD-PK). Pemben-tukan RAD-PK ini merupakan bagian dari upaya dan komitmen penyelenggaraan pem-berantasan korupsi di tingkat daerah. Se-Dok: Tempo, Usman Iskandar

114 P E N C A P A IA N S E B U A H P E R U B A H A N Tabel 3.4.1.

Sasaran Program dan Pencapaian Bidang Penghormatan, Pengakuan, dan Penegakan atas Hukum dan Hak Asasi Manusia

No. Sasaran/Program Indikator (Satuan)

Kondisi Awal 2004

2005 2006 2007 2008

Penghormatan, Pengakuan dan Penegakan Atas Hukum dan HAM

1. Terlaksananya berbagai lang-kah-langkah Rencana Aksi yang terkait dengan peng-hormatan, pemenuhan dan penegakan terhadap hukum dan hak asasi manusia

Permasalahan HAM Kasus 3.140 3.291 1.351 448 Kekerasan Terhadap Perempuan Kasus 14.020 20.391 22.512 25.552

2. Rencana Aksi Nasional Pemberantasan Korupsi

Indeks Per-sepsi Korupsi

IPK 1.9 2.0 2.2 2.4 2.6

3. Rencana Aksi Nasional Peng-hapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak

Eksploitasi seksual anak

Kasus 221 327

Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak

Pekerja anak persen 5.98per-sen 5.52per-sen 4.56per-sen 3.75per-sen

Program Nasional Bagi Anak Indonesia (PNBAI) 2015. Kekerasan pada Anak Anak Kasus 2.801 441 2.789 736 1.394 600 455 Malnutrisi persen 9.3 8.8 HIV/AIDS pada Anak Anak 199 127

dangkan komitmen untuk pemberantasan korupsi di tingkat pusat, selain RAN-PK, juga pelaksanaan Rencana Aksi Instansi (RAI); 3. Dituntaskannya sejumlah kasus korupsi yang

menyita perhatian masyarakat dan menim-bulkan banyak kerugian negara.

4. Bidang perlindungan anak diperkirakan pada akhir tahun, pencapaian sasaran dengan di-tetapkannya perubahan Undang-Undang Per-adilan Anak No. 3 Tahun 1997 yang didukung oleh pelaksanaan strategi nasional akses ter-hadap keadilan.

5. Ditetapkannya Undang-Undang tentang Pe-ngadilan tipikor sebagaimana pelaksanaan putusan Mahkamah Konstitusi.

6) Meningkatnya kesejahteraan aparat penegak hukum melalui referensi birokrasi.

3.4.5. Penut up

Secara umum, upaya-upaya yang dilakukan un-tuk menciptakan penghormatan, pengakuan, dan penegakan hukum dan HAM semakin memperli-hatkan perkembangan yang positif, baik di ling-kungan penyelenggara negara, dunia usaha, mau-pun masyarakat.

Terkait dengan upaya pemberantasan korupsi, banyaknya praktik korupsi yang terjadi hampir pada semua bidang menyebabkan

penanganan-115 E v a lu a si 4 T a h u n P e la k sa n a a n R P JM N 2 0 0 4 -2 0 0 9

nya membutuhkan kerja keras dari aparat pe-negak hukum, baik yang berada di KPK maupun Kejaksaan. Mengingat terbatasnya sumberdaya, maka penanganan kasus korupsi harus dilakukan melalui penentuan skala prioritas, transparan, dan akuntabel, khususnya terhadap kasus-kasus korupsi yang menarik perhatian masyarakat. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kesan te-bang pilih dalam hal penanganan kasus korupsi yang ada pada saat ini. Meskipun masih banyak kritikan terhadap penanganan kasus korupsi yang ada saat ini, namun di sisi lain upaya yang telah dilakukan oleh aparat penegak hukum tersebut sudah mulai memberikan dampak iklim rasa ta-kut untuk melakukan korupsi.

Sebagai bagian dalam upaya penanganan kasus korupsi, salah satu permasalahan yang dihadapi adalah isu yang menyangkut pengembalian aset negara yang dikorupsi. Belum adanya peraturan pelaksanaan yang mengatur mengenai mekanis-me yang transparan dalam pengembalian aset negara yang dikorupsi serta lembaga yang

mena-nganinya. Untuk mengatasi permasalahan terse-but perlu adanya ketentuan yang mengatur mengenai mekanisme yang transparan dalam pengembalian aset negara yang dikorupsi serta lembaga yang menanganinya.

Secara keseluruhan, diperlukan waktu yang pan-jang untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan program penghormatan, pengakuan, dan pene-gakan hukum dan HAM yang telah berjalan. Komitmen dan koordinasi yang sinkron dan solid dari berbagai instansi terkait bidang penegakan hukum yang bermuara serta mengarah kepada upaya perbaikan program penegakan hukum di masa mendatang merupakan langkah yang perlu terus dilakukan. Sehingga, walaupun sasaran dari RPJMN 2004-2009 belum sepenuhnya terpenuhi, namun langkah-langkah dan upaya menuju arah perbaikan yang telah dilakukan tersebut meru-pakan langkah nyata untuk memperkecil kesen-jangan dalam pencapaian sasaran penegakan hu-kum dan HAM.

117 E v a lu a si 4 T a h u n