Bisnis Indonesia, 6 Juni 2005
Persoalan seputar peranan perempuan dalam arena politik selalu saja menjadi perbincangan menarik dalam pentas politik nasional sejak beberapa tahun belakangan ini. Selama 2001-2004, perdebatan itu bahkan turut mendominasi agenda politik nasional, baik di kalangan anggota DPR, eksekutif, akademisi maupun LSM. Salah satu perdebatan penting saat itu adalah kuota 30% perempuan di parlemen. Pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) kembali memunculkan perdebatan mengenai keberadaan perempuan dalam wilayah politik.
Minimnya calon perempuan dalam pemilihan kepala daerah ditingkat provinsi, kota dan kabupaten setidaknya menjadi penyebab munculnya perdebatan tersebut. Berbicara tentang peranan perempuan dalam ranah politik di Indonesia memang relatif baru. Meski demikian, dalam sejarah kebangsaan banyak sekali tokoh perempuan yang
182 ikut terlibat dalam merebut kemerdekaan. Peranan perempuan dalam wilayah politik semakin hangat mencuat pada pemilu legislatif 2004 lalu.
Dimana waktu itu, keterwakilan perempuan di lembaga legislatif mencapai 11 % dari 30% yang disyaratkan. Jumlah ini meningkat jika kita bandingkan dengan pemilu tahun 1999 yang hanya mencapai 8,8 % dari 57% kursi yang di peruntukkan. Di tingkat Provinsi dan kabupaten dan kota yang menjalani otonomi daerah, menunjukkan angka yang lebih memprihatinkan lagi, yaitu di bawah 5% dan bahkan 0% di tingkat kabupaten dan kota. Gambaran tentang rendahnya keterwakilan perempuan tersebut semakin menegaskan bahwa sistem politik di Indonesia telah mengenyamping keberadaan perempuan. Lalu mengapa keterwakilan perempuan dalam wilayah politik selalu saja dikucilkan dan tidak dianggap begitu penting?
Padahal banyak pihak terutama kaum perempuan yang menghendaki peranan perempuan lebih dikedepankan. Harapan ini tentu sah-sah saja, sebab sebagaimana kita ketahui bahwa selama ini banyak sekali kasus-kasus yang menimpa perempuan yang tidak pernah terselesaikan oleh kaum laki-laki sebagai pengambil kebijakan dan keputusan. Misalnya, kekerasan terhadap perempuan (baik fisik, mental, seksual dan perdangangan perempuan dan kesehatan reproduksi). Kasus-kasus tersebut kelihatannya belum menjadi bagian penting untuk diperhatikan oleh pembuat kebijakan dan keputusan. Berbagai kebijakan yang diskrimintif terhadap perempuan tentu saja bisa dihilangkan apabila partisipasi keberadaan perempuan dalam ranah politik sama dengan kaum laki-laki.
Selama lembaga pembuat kebijakan masih didominasi laki-laki, perjuangan untuk mengubah kebijakan yang belum mengakomodasi kepentingan perempuan akan sangat sulit diharapkan. Dengan memberikan kesempatan kepada perempuan seluas-luasnya untuk bermain dan masuk dalam wilayah politik terutama di jajaran eksekutif, maka mudah-mudahan berbagai kepentingan yang terkait dengan akses peningkatan kualitas hidup perempuan akan bisa diupayakan.
Untuk itu, melalui pilkada, tampilnya perempuan menjadi gubernur, bupati dan walikota diharapkan kebutuhan untuk meningkatkan kuantitas, kualitas dan kepentingan perempuan mudah-mudahan akan terlaksana di masa mendatang.
183 Pendeknya, meningkatnya keberadaan perempuan dalam arena politik melalui pilkada akan semakin menunjukkan kepada kita adanya kesetaraan kaum perempuan dan laki-laki dalam wilayah politik. Ini sesuai dengan apa yang ditegaskan dalam GBHN 1999-2004 yang mencakup TAP MPR No. IV/ MPR/1999 yang secara tegas menjamin keterwakilan perempuan dalam upaya mewujudkan pembangunan yang berwawasan keadilan. Di antara arah kebijakan dalam GBHN tersebut adalah pertama, meningkatkan kedudukan dan peranan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara melalui kebijakan nasional. Kedua, mengembangkan sistem politik nasional yang berkedaulatan rakyat dan menerapkan prinsip persamaan dan antidiskriminasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Konvensi PBB
Apa yang ditegaskan dalam GBHN dan TAP MPR tersebut juga ditegaskan dalam Konvensi PBB Tahun 1979 tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (The UN Convention on the Elimination of all Forms of Discrimination against Women -CEDAW). Konvensi PBB tersebut seharusnya dapat dijadikan dasar untuk mewujudkan kesetaraan perempuan dan laki-laki dengan membuka akses dan peluang yang sama di arena politik dan kehidupan publik, termasuk hak memberi suara dan mencalonkan diri. Agar keterwakilan perempuan dalam arena politik dapat terlaksana, maka masyarakat sebagai pemilih harus mengetahui siapa-siapa calon kepala daerah perempuan yang pantas untuk didukung. Siapa perempuan-perempuan Indonesia yang layak diperhitungkan. Semua informasi mengenai perempuan yang memiliki potensi untuk duduk sebagai kandidat kepala daerah harus digali sebanyak mungkin oleh masyarakat di daerah.
Memberikan dorongan kepada perempuan yang ingin atau layak menjadi pemimpin di daerah harus diutamakan, karena bagaimanapun untuk membangun kesadaran politik bagi kaum perempuan harus didukung oleh
184
semua stakeholders yang ada termasuk Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Pemberdayaan perempuan dalam ranah politik harus diberdaya gunakan untuk membangun kesadaran politik secara maksimal terhadap perempuan. Sehingga peran politik perempuan mendapatkan tempat yang baik dalam kehidupan politik.
Tak kalah penting, partai politik sebagai alat untuk mengartikulasikan kepentingan masyarakat khususnya kaum perempuan juga dituntut memainkan peranan dan fungsinya semaksimal mungkin. Bagaimanapun, kehidupan politik akan menjadi lebih baik bila perempuan ambil bagian dalam arena politik. Tingginya peran perempuan dalam proses pengambilan keputusan baik pada tingkat eksekutif, legislatif dan yudikatif akan memudahkan terakomodasinya aspirasi perempuan dalam berbagai kesempatan. Sebab kaum perempuan akan lebih mementingkan isu-isu kesejahteraan sosial, pendidikan, dan tentunya kekerasan terhadap perempuan.
Sekali lagi, semangat menyuarakan aspirasi perempuan melalui pilkada jelas tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sekaranglah saatnya perjuangan untuk menegakkan hak-hak politik kaum perempuan dilaksanakan. Jangan lagi pemberdayaan perempuan melalui arena politik hanya sebatas retrorika, wacana dan diskusi saja. Jika itu terus terjadi, tidak mustahil berbagai kebijakan dan keputusan yang dihasilkan akan terus mengabaikan suara perempuan. Kita semua tentu tidak menginginkan hal itu bukan?
185