• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN PRODUKSI TERNAK

A. Pengawasan Peredaran Mutu Bibit DOC

Pengawasan Mutu Bibit Ayam Ras telah dilakukan di beberapa hatchery/Unit Penetasan perusahaan pembibitan ayam ras di Kab. Subang (2 GP/4 PS), Kota Bandung (2 GP/1 PS), Cianjur (1 GP/5 PS), Purwakarta (2 PS), Bogor (3 PS), Sukabumi (2 GP/1 PS), Kota Sukabumi (1 PS).

Pemeriksaan meliputi :

a. Pemeriksaan Individu DOC

Jumlah DOC FS per kemasan rata-rata 102 ekor, telah sesuai dengan SNI yakni 100 ekor dan jaminan kematian 2 ekor (Kota Bandung, Kota Sukabumi, Subang, Cianjur, Purwakarta, Sukabumi dan Bogor); DOC PS Female Line per kemasan 82 ekor dan Male Line 70 ekor per kemasan (17%). Berat DOC FS Broiler/Pedaging bervariasi antara 40 – 50 gram dengan rata-rata berat per ekor 46 gram yaitu terdiri dari strain Lohmann berat rata-rata per ekor 46 gram, strain Cobb 47 gram dan strain Ross 45 gram, sedangkan menurut SNI Nomor 01-4868.1-2005 (DOC FS Pedaging) 37 gram per ekor. Berat DOC FS Layer/Petelur strain Hy Line sebesar 38 gram per ekor dan PS Petelur strain Hy Line berat DOC 41 gram per ekor telah sesuai SNI 01-4868.2-2005 (DOC FS Petelur) yakni 33 gram per ekor.

Kondisi Fisik dan Bulu sesuai standar (SNI), yaitu :

- Kondisi fisik sehat, kaki normal dan dapat berdiri tegak, tampak segar dan aktif, tidak dehidrasi, tidak ada kelainan bentuk dan tidak cacat fisik, sekitar pusar dan dubur kering.

- Warna bulu seragam sesuai dengan warna galur (strain) dan kondisi bulu kering dan berkembang.

- Jaminan kematian 2%

Laporan Tahunan 2012 Bidang Produksi 10 b. Pemeriksaan Kemasan Kosong

Berat kemasan kosong rata-rata 0,8 kg telah sesuai dengan SNI.

Berat kemasan isi untuk ayam ras pedaging 5,39 kg dan berat kemasan isi untuk ayam ras petelur 4,78 kg. Bahan dasar dari kertas karton tahan terhadap tekanan yang merusak. Bentuk trapesium bagian dalam ada sekat pemisah, bagian atas ada tonjolan, ventilasi cukup.

Frekuensi pemakaian satu kali.

Ukuran panjang bagian bawah minimal 64 cm dan atas minimal 60 cm; lebar bagian bawah minimal 48 cm dan atas minimal 44 cm;

tinggi kotak kemasan minimal 15 cm; tinggi tonjolan minimal 3 cm.

c. Pemeriksaan Label

Pada umumnya seluruh box DOC sudah berlabel, hanya ada beberapa perusahaan pembibit yang warna dasar label masih tidak sesuai dengan ketentuan SNI, dan ada pula yang tidak memakai Merk Dagang karena dipakai untuk kalangan sendiri dan tidak diperdagangkan seperti Nuyan Farm di Cianjur. Untuk DOC yang diperdagangkan telah berisi keterangan sebagai berikut :

- Tanggal dan jam keluar dari mesin tetas - Galur/Strain

- Nama dagang - Tipe ayam bibit - Jumlah isi kemasan

- Nama dan alamat perusahaan peternakan ayam bibit - Tanggal vaksinasi marek (untuk ayam ras petelur)

Pengawasan mutu DOC Ayam ras petelur dan pedaging serta pemeriksaan kemasan dan label dengan hasil pemeriksaan sesuai ketentuan SNI Nomor : 01-4868.1-2005, tipe pedaging dan SNI Nomor : 01-4868.2-2005 tipe petelur. Untuk lebih rinci dapat dilihat pada lampiran 1.

Laporan Tahunan 2012 Bidang Produksi 11 B. Pengawasan Mutu Semen

Pemeriksaan Mutu Semen Sapi Potong, Sapi Perah dan Domba dilaksanakan di 17 Lokasi kabupaten/kota dan depo Provinsi Jawa Barat serta Koperasi Persusuan. Rekapitulasi hasil pemeriksaan mutu semen di Jawa Barat tahun 2012 dapat dilihat pada lampiran 8.

Dari hasil pemeriksaan semen sapi potong di 15 kabupaten/kota yaitu Cianjur, Garut, Kuningan, Majalengka, Sumedang, Purwakarta, Karawang, Subang, Cirebon, Indramayu, Tasikmalaya, Bogor, Ciamis, Kota Banjar, Depo Provinsi dan Sukabumi Jenis semen sapi potong yang diperiksa, yaitu Brahman, Limousine, Simmental dan Ongole, Dari hasil pemeriksaan secara mikroskopis, maka semen beku yang beredar di kabupaten/kota dan provinsi tersebut rata-rata mempunyai motilitas dan persentase sperma yang cukup baik dan masih layak untuk digunakan IB, namun Brahman dari Depo Provinsi kondisi kurang layak IB (hasil 2/20) yang artinya gerakan individu sperma sedang dan persentase hidup/gerak maju spermatozoa hanya 20%.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa untuk semen beku yang kurang layak perlu dikaji ulang dengan pemeriksaan mikroskopis kemungkinan terjadi salah penanganan N2 cair. Kondisi N2 Cair didalam Container harus selalu penuh atau minimal 2/3 container terisi N2 Cair karena tingkat penguapannya yang cukup tinggi. Untuk itu setiap dua hari sekali dikontrol/diisi N2 Cair.

Pemeriksaan semen sapi perah dilaksanakan di 7 kabupaten yaitu Cianjur, Garut (KUD Mandiri Cisurupan dan KPGS Cikajang), Kuningan, Sumedang (KSU Tandangsari), Tasikmalaya, Bandung (KPBS Pangalengan) dan Bandung Barat (KPSBU Lembang) dengan jenis semen yang diperiksa yaitu FH Filmore, Felish, Felicia, Creton, Holstein Sparta, Maloya Laser, Markwell Elitist, Mayerlane Vista, Frime, Fervent, Justin, Forsa, Yacosy, Starlight, Rodgar. Dari hasil pemeriksaan mutu semen sapi perah tersebut secara mikroskopis (test after thawing) rata-rata gerak individu spermatozoa cepat (3) dan gerak maju spermatozoa bagus (43%), maka semen beku tersebut masih layak digunakan Inseminasi Buatan.

Pemeriksaan semen domba dilaksanakan di 3 kabupaten yaitu Cianjur, Kuningan, Indramayu dan Depo Provinsi, jenis Batara, Indrajit dan Garut dengan hasil test after thawing 3/40 layak untuk IB.

Laporan Tahunan 2012 Bidang Produksi 12 Pemeriksaan semen Kambing dilaksanakan di Depo Provinsi, dengan jenis semen Kambing Boer dan Etano dengan hasil test after thawing 3/40 layak untuk IB (lampiran 2.)

6. Pemasukan dan Pengeluaran Bibit

Pada tahun 2012 tercatat rencana pemasukan bibit ternak ke Jawa Barat sebagai berikut :

A. Pemasukan/import ternak DOC Ayam Ras GPS (Grand Parent Stock) Broiler/Pedaging ke Jawa Barat sebanyak 833.356 ekor (jantan 239.148 ekor dan betina 594.208 ekor) dimana negara asal impor dari Amerika Serikat, Inggris dan Australia dengan perusahaan/pengimpor ternak adalah CV. Missouri, PT. Hybro Indonesia, PT. CJ-PIA, PT. Central Avian Pertiwi, PT. Bibit Indonesia, PT. Multibreeder AI, Tbk, PT. Cibadak Indah Sari Farm, PT. Galur Prima Cobbindo, PT. Sarana Veterinaria Jaya Abadi, PT. Taat Indah Bersinar dan PT. Cipendawa Agriindustri.

B. Pemasukan/impor ternak DOC Ayam Ras GPS (Grand Parent Stock) Layer ke Jawa Barat sebanyak 515.631 ekor (jantan 72.522 ekor dan Betina 443.109 ekor) dengan pengusaha/ pengimpor CV. Missouri, PT. Isa Indonesia dan PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. dari Negara Amerika Serikat, Belanda, dan Jerman.

C. Pemasukan/impor ternak DOC Ayam Ras PS (Parent Stock) Layer ke Jawa Barat sebanyak 7.447 ekor (Jantan 1.063 ekor dan Betina 6.384 ekor) dengan pengimpor PT. Isa Indonesia dengan negara asal impor Belanda.

D. Pemasukan/impor Telur Tetas (Hatching Egg) Ayam Ras Parent Stock Layer sebanyak 1.029.280 butir (128.880 butir jantan dan 900.400 butir betina) yang berasal dari negara Belanda dengan pengimpor PT. ISA Indonesia.

E. Pemasukan/impor DOD Itik PS (Parent Stock) sebanyak 12.799 ekor (jantan 2.281 ekor dan betina 10.518 ekor) dari Negara Jerman dan Malaysia dengan perusahaan pengimpor PT. Central Avian Pertiwi dan PT. Quality Indonesia.

F. Pemasukan/impor semen beku (straw) sapi potong dan sapi perah sebanyak 11.813 dosis yang berasal dari negara Amerika Serikat, dan Australia dengan pengimpor KPBS Pangalengan dan PT. Lunar Chemplast.

Laporan Tahunan 2012 Bidang Produksi 13 G. Pemasukan/impor bibit sapi perah dan sapi potong sebanyak 450 ekor (betina 450 ekor) yaitu dari Negara Australia dengan perusahaan pengimpor PT. Usaha Tani Lestari.

Pada tahun 2012 rencana pengeluaran bibit ternak dari provinsi Jawa Barat tidak tercatat, karena semenjak terbitnya Peraturan Gubernur No. 49 tahun 2011 perihal petunjuk pelaksanaan peraturan daerah Provinsi Jawa Barat nomor 7 tahun 2010 tentang penyelenggaraan pelayanan perizinan terpadu (berita daerah Provinsi Jawa Barat tahun 2011 nomor 48 seri E) maka pemasukan/pengeluaran benih/bibit ternak antar pulau atau antar provinsi tidak melalui mekanisme penerbitan rekomendasi teknis dari OPD teknis atau Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat, melainkan langsung diterbitkan rekomedasinya oleh Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan Pergub 49, 2011 tersebut rekomendasi pemasukan/pengeluaran benih/bibit antar pulau atau antar provinsi masuk dalam kategori izin insidentil dengan durasi pelayanan selama 1 (satu) hari.

Pengawasan lalu lintas ternak khususnya pemasukan/ pengeluaran bibit dari Jawa Barat ke luar provinsi atau pulau lain banyak mengalami kendala, salah satunya adalah klausul dalam Pergub 49, 2011 tersebut. Selain itu belum adanya kesepakatan bersama antar satu provinsi dengan provinsi lainnya mengenai persyaratan pemasukan atau pengeluaran bibit ternak. Sehingga banyak pemasukan maupun pengeluaran benih/bibit ternak tanpa penerbitan rekomendasi dari Dinas Peternakan Provinsi yang berakibat benih/bibit yang masuk/keluar tidak terpantau dan tercatat.

Berdasarkan hasil rekapitulasi surat rekomendasi Pemasukan dan Pengeluaran Bibit Ternak tahun 2012 telah diterbitkan sebanyak 56 buah surat pertimbangan teknis pemasukan benih/bibit ternak oleh Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat dengan rincian untuk pemasukan bibit ternak 56 buah surat dan penundaan pemasukan bibit ternak sebanyak 1 buah surat.

7. Identifikasi Sapi Lokal Jawa Barat

Pada tahun 2012 telah dilaksanakan pengkajian identifikasi sapi lokal Jawa Barat dilaksanakan bekerja sama dengan para pakar dan tenaga ahli dari perguruan tinggi Universitas Padjadjaran (UNPAD).

Laporan Tahunan 2012 Bidang Produksi 14 Hasil yang diperoleh dari kegiatan tersebut adalah sebagai berikut :

A. Eksistensi dan Agroekosistem Populasi Sapi Rancah atau Sapi Lokal