• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRAKTIK RITUAL BUDAYA AGAMA A. Budaya Agama

Dalam dokumen Keragaman perilaku beragama (Halaman 197-200)

BAB VII

PRAKTIK RITUAL BUDAYA AGAMA

A. Budaya Agama

DALAM mengkaji dan mengkritisi ritual budaya agama, perlu diketahui terlebih dahulu defenisi dari ritual budaya agama itu sendiri. Hal ini dimaksudkan agar mengetahui gambaran umum maksud dari ritual budaya agama dan memudahkan alur pembahasannya. Ritual merupakan agama dalam bentuk tindakan. Ritual adalah pola-pola pikiran yang dihubungkan dengan gejala yang mempunyai ciri-ciri mistis. Budaya menurut Koentjaraningrat adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan, dan hasil kerja manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang

dijadikan milik manusia dengan belajar.1 Agama berasal dari bahasa

sansekerta yang akar katanya adalah “a” dan “gama”. “A” artinya tidak dan “gama” artinya kacau. Jadi, arti kata agama adalah tidak kacau atau teratur. Menurut Harun Nasution, agama adalah suatu sistem kepercayaan dan tingkah laku yang berasal dari suatu kekuatan yang ghaib.

Menurut Al-Syahrastani, agama adalah kekuatan dan kepatuhan yang terkadang biasa diartikan sebagai pembalasan dan perhitungan (amal perbuatan di akhirat). Émile Durkheim mengatakan bahwa agama adalah suatu sistem yang terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal yang suci. Dari ketiga defenisi di atas, maka dapat ditarik sebuah defenisi bahwa yang dimaksud dengan ritual budaya agama adalah tindakan dan pola-pola pikiran yang dihubungkan dengan agama (Realitas Mutlak/hal-hal yang suci) dan budaya tertentu. Sebagai sebuah kenyatan sejarah, agama dan kebudayaan

dapat saling mempengaruhi karena keduanya terdapat nilai dan simbol. Agama adalah simbol yang melambangkan nilai ketaatan kepada Tuhan. Kebudayaan juga mengandung nilai dan simbol supaya manusia bisa hidup di dalamnya. Agama memerlukan sistem simbol, dengan kata lain agama memerlukan kebudayaan agama. Tetapi keduanya perlu dibedakan. Agama adalah sesuatu yang final, universal, abadi (perennial) dan tidak mengenal perubahan (absolut). Sedangkan kebudayaan bersifat partikular, relatif dan temporer. Agama tanpa kebudayaan memang dapat bekembang sebagai agama pribadi, tetapi tanpa kebudayaan agama sebagai kolektivitas

tidak akan mendapat tempat.2

Interaksi antara agama dan kebudayaan itu dapat terjadi dengan,

pertama agama mempengaruhi kebudayaan dalam pembentukannya,

nilainya adalah agama, tetapi simbolnya adalah kebudayaan. Contohnya adalah bagaimana shalat mempengaruhi bangunan. Kedua, agama dapat mempengaruhi simbol agama. Dalam hal ini kebudayaan Indonesia mempengaruhi Islam dengan pesantren dan kiai yang berasal dari padepokan dan hajar. Dan ketiga, kebudayaan dapat menggantikan sistem

nilai dan simbol agama.3 Baik agama maupun kebudayaan, sama-sama

memberikan wawasan dan cara pandang dalam menyikapi kehidupan agar sesuai dengan kehendak Tuhan dan kemanusiaannya. Misalnya dalam agama Islam, dalam menyambut anak yang baru lahir, bila agama memberikan wawasan untuk melaksanakan aqiqah untuk penebusan (rahinah) anak tersebut, sementara kebudayaan yang dikemas dalam

marhabaan dan bacaan barjanji memberikan wawasan dan cara pandang

lain, tetapi memiliki tujuan yang sama, yaitu mendo’akan kesalehan anak yang baru lahir agar sesuai dengan harapan ketuhanan dan kemanusiaan. Demikian juga dalam upacara tahlilan, baik agama maupun budaya lokal dalam tahlilan sama-sama saling memberikan wawasan dan cara

pandang dalam menyikapi orang yang meninggal.4 Antara agama dan

kebudayaan terjadi sebuah dialektika. Agama memberikan warna (spirit)

2 Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, Essai-Essai Agama, Budaya, dan Politik

dalam Bingkai Strukturalisme Transendental (Bandung : Mizan, 2001), 196.

3 Ibid., 195.

4 Hendar Riyadi, “Respon Muhammadiyah dalam Dialektika Agama”, Pikiran

pada kebudayaan, sedangkan kebudayaan memberi kekayaan terhadap agama. Namum terkadang dialektika antara agama dan seni tradisi atau budaya lokal ini berubah menjadi ketegangan. Karena seni tradisi, budaya lokal, atau adat istiadat sering dianggap tidak sejalan dengan agama sebagai ajaran Ilahiyat yang bersifat absolut. Kritik-kritik terkadang sering bermunculan terkait budaya agama yang diwujudkan dalam bentuk ritual. Di bawah ini akan dipaparkan beberapa contoh ritual budaya agama dalam beberapa agama disertai kritik atas kegiatan ritual tersebut.

B. Kegiatan Ritual Budaya Islam

Sejak kehadiran Islam di Indonesia, para ulama telah mencoba mengadopsi kebudayaan lokal secara selektif, sistem sosial, kesenian, dan pemerintahan yang pas tidak diubah, termasuk adat istiadat, banyak yang dikembangkan dalam perspektif Islam. Hal itu yang memungkinkan budaya Indonesia tetap beragama, walaupun Islam telah menyatukan wilayah itu secara agama. Kalangan ulama Indonesia memang telah berhasil mengintegrasikan antara keIslaman dan keindonesiaan, sehingga apa yang ada di daerah ini telah dianggap sesuai dengan nilai Islam, karena Islam menyangkut nilai-nilai dan norma, bukan selera atau ideologi apalagi adat. Karena itu, jika nilai Islam dianggap sesuai dengan adat setempat, tidak perlu diubah sesuai dengan selera, adat, atau ideologi Arab, sebab jika itu dilakukan akan menimbulkan kegoncangan budaya, sementara mengisi nilai Islam ke dalam struktur budaya yang ada jauh lebih efektif ketimbang mengganti kebudayaan itu sendiri.

Islam yang hadir di Indonesia juga tidak bisa dilepaskan dengan tradisi atau budaya Indonesia. Sama seperti Islam di Arab saudi, Arabisme dan Islamisme bergumul sedemikian rupa di kawasan Timur Tengah sehingga kadang-kadang orang sulit membedakan mana yang nilai Islam dan mana yang simbol budaya Arab. Nabi Muhammad saw, tentu saja dengan bimbingan Allah (wamaa yanthiqu ‘anil hawa, in huwa illa wahyu

yuha), dengan cukup cerdik (fathanah) mengetahui sosiologi masyarakat

Arab pada saat itu. Sehingga beliau dengan serta merta menggunakan tradisi-tradisi Arab untuk mengembangkan Islam. Sebagai salah satu contoh misalnya, ketika Nabi Saw hijrah ke Madinah, masyarakat Madinah di sana menyambut dengan iringan gendang dan tetabuhan

sambil menyanyikan thala’al-badru alayna dan seterusnya.5 Islam masuk

ke Indonesia dengan cara yang begitu elastis. Baik itu yang berhubungan dengan pengenalan simbol-simbol Islami (misalnya bentuk bangunan peribadatan) atau ritus-ritus keagamaan (untuk memahami nilai-nilai Islam). Terkait dengan ritus-ritus keagamaan, ada beberapa contoh ritual budaya yang di dalamnya terkandung nilai-nilai keislaman, yaitu:

a. Grebeg Sekaten

Sekaten sebagai khazanah budaya lokal yang berkembang di keraton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan bentuk perayaan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sekaten biasanya akan ditutup dengan perayaan grebeg maulud. Simbolisasi grebeg

maulud dilaksanakan dengan cara mengeluarkan bermacam gunungan

grebeg misalnya gunungan kakung (gunungan laki-laki), gunungan

putri (gunungan perempuan), gunungan drajad, gunungan pawuhan

dan gunungan gepak. Gunungan tersebut, tidak hanya dikeluarkan saat pe rayaan sekaten (grebeg maulud), namun juga dalam perayaan grebeg

syawal atau grebeg besar.6

Menurut Denys Lombard, kata “grebeg” berasal dari kata “gumrebeg” artinya riuh, ribut dan ramai. Istilah grebeg awalnya berarti “gerak bersama”, kemudian menjadi “jalan maja”, “iring-iringan”. Upacara grebeg merupakan upacara terpenting karena mengungkapkan gawai pada

tingkat tertinggi, yaitu tindakan raja yang menggerakkan dunia.7 Secara

subtansial, grebeg memiliki peran penting dalam ranah kebudayaan dan lokalitas Jawa. Sekaten bekerja sebagai suatu sistem integratif antara akulturisme budaya Jawa dengan nilai-nilai keislaman. Integrasi nilai kejawen dengan nilai ajaran Islam menghasilkan suatu sistem kepercayaan yang membumi dan mudah diterima masyarakat (Jawa). Ada tiga arti penting dari grebeg; pertama, sebuah representasi relegius,

5 Anjar Nugroho, “Dakwah Kultural : Pergulatan Kreatif Islam dan Budaya Lokal”, dalam Jurnal Ilmiah Inovasi, No.4 Th.XI/2002.

6 Juma Darmapoetra, “Aktualisasi Nilai Historis Grebeg di Yogyakarta”, dalam http://sosbud.kompasiana.com/2013/02/02/aktualisasi-nilai-historis-grebeg-di-yogyakarta-530816.html (30 April 2013).

7 Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000), 127.

Dalam dokumen Keragaman perilaku beragama (Halaman 197-200)