Tekhnologi lahir karena adanya kebutuhan manusia pada masa terdahulu. Meskipun secara sederhana mereka dapat membuat alat-alat yang hasilnya dapat mereka gunakan untuk memudahkan pekerjaan mereka atau meningkatkan hasil kerja mereka. Hal ini berarti mereka telah melakukan kegiatan atau proses yang menghasilkan produk yakni alat-alat dan dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi pelaksanaan kegiatan. Sedangkan sains atau ilmu pengetahuan berawal dari sifat ingin tahu manusia. Observasi yang sistematis terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar manusia serta pemikiran atau perenungan tentang sebab-sebab terjadinya beberapa peristiwa di lingkungan manusia ini telah melahirkan “suatu kesimpulan sementara” yang pada zamannya telah dianut oleh sebagian besar masyarakat. Pada awalnya, persitiwa-peristiwa di lingkungan manusia yang menjadi obyek perhatian adalah peristiwa-peristiwa yang bersangkutan dengan alam, misalnya, pergerakan matahari di siang hari, yang muncul dari arah timur dan hilang menuju ke arah barat bahkan terjadi setiap hari. Begitu juga dengan bintang di malam hari yang tampak bergerak mengelilingi bumi.
Di lihat dari awal lahirnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi memang tidak terdapat keterkaitannya sama sekali, namun dalam perkembangannya, ilmu pengetahuan dan tekhnologi memiliki kaitan yang sangat erat. Hal ini dapat diambil contoh misalnya penggunaan mikroskop elektron dalam bidang geologi pada pertengahan abad ke-20 telah membawa kemajuan dalam penelitian terhadap fosil-fosil. Disamping itu, penggunaan mikroskop ini dalam bidang metalurgi amat berguna dalam penelitian tentang struktur suatu logam. Dari beberapa contoh tersebut dapat dikatakan bahwa, konsep ilmu pengetahuan, teori serta hukum yang dikemukakan oleh para ilmuwan membawa dampak pada penemuan tekhnologixli.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi sendiri dapat membawa dampak positif maupun dampak negatif. Dapat diambil contoh yaitu dalam bidang telekomunikasi dan tekhnologi informasi. Segi positif dari adanya peralatan telekomunikasi dan peralatan tekhnologi informasi yang makin canggih atau modern, maka beberapa kelompok masyarakat dari beberapa negara dapat berinteraksi dengan mudah. Bahkan Indar Siswarinixlii mengatakan bahwa perkembangan tekhnologi informasi dan komunikasi membuat dunia menjadi sempit. Ruang dan waktu menjadi sangat relatif dan dalam banyak hal batas-batas negara sering menjadi kabur bahkan mulai tidak relevan. Bahkan budaya suatu negara akan lebih mudah diketahui dan bahkan di tiru oleh bangsa atau negara lain.
Hal ini tentu akan berakibat pada adanya perubahan nilai budaya pada masyarakat tertentu. Sebagai contoh misalnya, banyak orang yang melihat dari tayangan televisi (yang merupakan kemajuan produk tekhnologi elektronika) melihat tayangan-tayangan kekerasan, yang berakibat pada terpengaruhnya orang-orang tertentu terhadap tayangan tadi yang kemudian melakukan tindakan-tindakan kekerasan seperti yang ia lihat di tayangan tersebut. Contoh lainnya adalah budaya sebagian masyarakat Amerika dengan kebebasannya, seksualitas maupun gaya hidup hedonisme mereka, bisa saja ditiru dan dapat dijadikan pedoman dalam berkehidupan oleh sebagian masyarakat Indonesia, terutama generasi mudanya.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang semakin cepat dewasa ini, telah menumbuhkan cakrawala pandangan manusia. Teknologi yang sebenarnya merupakan alat bantu atau ekstensi kemampuan diri manusia, saat ini telah menjadi sebuah kekuatan yang justru (baik disadari ataupun tidak) telah “membelenggu” perilaku dan gaya hidup kita sendiri. Dengan daya pengaruhnya yang sangat besar, karena ditopang pula oleh sistem-sistem sosial yang kuat, dan dalam kecepatan yang makin tinggi, teknologi telah menjadi pengarah hidup
manusia. Masyarakat yang rendah kemampuan teknologinya cenderung tergantung dan hanya mampu bereaksi terhadap dampak yang ditimbulkan oleh kecanggihan teknologi.
Dampak Globalisasi Bagi Peradaban Manusia
Saat ini dunia sedang menghadapi arus perubahan besar, yang nantinya akan (bahkan telah) membuat konsep-konsep lama mengenai tata hubungan antar bangsa menjadi usang, di samping akan berkembangnya pandangan-pandangan baru. Arus ini didorong oleh kemajuan tekhnologi yang berkembang dengan cepat dalam abad ke-21 ini. Bahkan beberapa ahli mengatakan bahwa era tekhnologi industri yang berkembang sejak abad ke-18 akan digantikan oleh sebuah era baru yaitu era tekhnologi informasi, atau dengan kata lain proses perubahan yang sekarang berlangsung merupakan proses perubahan dari masyarakat industri menjadi masyarakat informasi. Jadi dapat dikatakan pula bahwa revolusi di bidang informasi dan komunikasi (yang menggeser bidang industri), terutama terjadi dalam awal abad ke-21, yang akan mempengaruhi kecenderungan perubahan mendasar dalam kehidupan manusia yang salah satu aspek diantaranya ialah kecenderungan globalisasi.
Azyumardi Azra menyatakan bahwa disorientasi, dislokasi atau krisis sosial-budaya umumnya dikalangan masyarakat kita (masyarakat Indonesia) semakin bertambah dengan kian meningkatnya penetrasi dan ekspansi dari budaya Barat (khususnya Amerika) sebagai akibat proses globalisasi yang hampir tidak terbendungxliii. Berbagai ekspresi sosial-budaya yang sebenarnya asing, yang tidak memiliki basis dan presiden kulturalnya dalam masyarakat kita semakin menyebar pula dalam masyarakat kita, sehingga memunculkan kecenderungan-kecenderungan “gaya hidup” baru yang tidak selalu positif dan kondusif bagi kehidupan sosial budaya masyarakat dan bangsa.
Arus informasi dan komunikasi telah membuat makin globalnya berbagai nilai budaya. Bahkan secara mendalam telah terjadi interaksi budaya yang sangat intensif yang menjurus ke arah terciptanya nilai budaya universal. Jadi, dapat dikatakan bahwa saat ini sedang tercipta sistem-sistem nilai global yang berlaku dimana-mana.
Akibat lain dari globalisasi yaitu masyarakat mengalami anomi atau tidak punya norma atau heteronomy atau banyak norma, sehingga terjadi kompromisme sosial terhadap hal-hal yang sebelumnya dianggap melanggar norma tunggal masyarakat. Selain itu juga terjadinya disorientasi atau alienasi, keterasingan pada diri sendiri atau pada perilaku sendiri, akibat
pertemuan budaya-budaya yang tidak sepenuhnya terintegrasi dalam kepribadian kita.
Masyarakat Indonesia saat ini sedang mengalami dilematis karena globalisasi, dimana masyarakat Indonesia (secara langsung maupun tidak langsung) dituntut untuk terbuka terhadap globalisasi, namun di sisi lain masyarakat Indonesia mengalami “ketakutan” dengan dampak negatif dari globalisasi yang dapat merusak nilai-nilai (sosial-budaya) yang telah ada. Tetapi, jika masyarakat Indonesia ingin maju maka mengisolasi diri dari globalisasi dianggap sebagai kesalahan karena menolak peluang dan kesempatan untuk maju. Dan jika masyarakat Indonesia memutuskan untuk maju dan dengan sadar menerima globalisasi, maka untuk menghindari dampak negatif dari globalisasi salah satunya solusi alternatifnya adalah dengan penguatan nilai-nilai keagamaan.
Benturan Peradaban (The Clash of Civilization).
Selama Perang Dingin berlangung, keadaan dunia terbagi-terbagi menjadi beberapa bagian yang bertujuan untuk membedakan-bedakan dunia menurut kemampuan sosial-ekonomi serta pertumbuhan ekonomi (bahkan ideologi) suatu negara. Ada tiga bagian di dunia selama Perang Dingin yaitu Dunia Pertama, yang merepresentasikan dunia-dunia maju secara sosial dan ekonominya seperti Amerika dan aliansi Eropa-nya. Dunia Kedua, merupakan representasi dari negara-negara maju tetapi secara sosial-ekonomi “baru” maju karena bantuan-bantuan yang diberikan oleh Barat seperti Jepang, Korsel, Australia dan lain-lainnya. Dan Dunia Ketiga, yang mewakili dunia-dunia yang beru berkembang atau kemampuan sosial-ekonomi serta pertumbuhan ekonominya masih tertatih-tatih untuk maju, seperti Indonesia.
Setelah Perang Dingin usai, pembagian dan pengelompokan dunia dalam bidang sosial-ekonomi sudah tidak relevan lagi. Konstelasi politik dunia internasional yang terjadi pasca perang dingin tidak lagi menjadikan isu-isu sosial-ekonomi serta pertumbuhan ekonomi (bahkan ideologi) sebagai tolok ukur dalam membagi dunia. Pembagian dunia saat ini mengarah kepada hal lain yaitu atas dasar budaya dan peradaban.
Peradaban adalah suatu entitas budaya. Desa-desa, kawasan-kawasan, kelompok-kelompok etnis, nasionalitas, kelompok-kelompok keagamaan, semuanya memiliki budaya yang berbeda-beda pada tingkat keragaman budaya yang berbeda-beda pulaxliv. Dapat diambil contoh yaitu di Indonesia, budaya orang-orang di daerah-daerah di Indonesia berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Budaya Jawa berbeda dengan budaya Sunda, budaya Sumatra atau Batak berbeda dengan dengan budaya Kalimantan atau Dayak, dan lain-lainnnya. Tetapi
kesemuanya sama-sama berbudaya Indonesia, sehingga membedakan dengan mereka yang dari Malaysia atau yang dari Brunei Darussalam. Budaya yang berbeda-beda antara Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam dan sekitarnya di wilayah Asia, mempunyai satu budaya yang sama yaitu Budaya Asia.
Begitu pula dengan budaya-budaya yang ada di Eropa. Perbedaan budaya antara Inggris, Italia, Prancis, Jerman dan lain-lainnya tidak bisa menghapus identitas budaya mereka yaitu Budaya Barat (hal yang sama juga berlaku untuk Amerika). Pada masyarakat Arab juga memiliki identitas budaya yaitu Budaya Arab yang membedakan mereka dari masyarakat Cina dengan Budaya Cina. Tetapi satu hal yang pasti yaitu Barat (Eropa dan Amerika), Arab dan Cina, bukanlah menjadi bagian dari entitas budaya yang lebih luas. Mereka semua merupakan peradaban-peradaban. Karena itu suatu peradaban adalah pengelompokan tertinggi dari orang-orang dan tingkat identitas budaya yang paling luas yang dimiliki orang sehingga membedakan dari spesies lainnya. Ia dibantu oleh unsur-unsur obyektif yang sama: seperti bahasa, sejarah, agama, adat-istiadat, institusi, dan juga dibatasi oleh unsur-unsur subyektif, identifikasi diri dari orang-orang ituxlv. Jadi dapat dikatakan bahwa peradaban adalah tingkat identifikasi yang luas yang dimiliki orang, dan dengan peradaban ia memberi identifikasi dirinya secara intens. Orang-orang atau bangsa-bangsa bisa dan melakukan redefinisi identitas mereka. Tetapi, dengan adanya redefinisi ini, komposisi dan batas-batas peradaban berubah.
Suatu peradaban meskipun dapat mencakup sebagian besar orang atau masyarakat, namun juga bisa mencakup tentang sejarah sebuah negara bangsa, seperti misalnya yaitu peradaban Barat, Eropa, Amerika, Arab, dan Asia serta lain-lainnya. Di sini dapat dilihat bahwa peradaban bisa juga bercampur aduk dan tumpang tindih, tetapi yang pasti, ada juga peradaban yang mencakup beberapa peradaban atau sub-sub peradaban. Peradaban Barat misalnya, memiliki dua sub peradaban yaitu peradaban Eropa dan Amerika Utara atau Peradaban Islam yang memiliki tiga sub peradaban yaitu Arab, Turki, dan Melayu. Peradaban merupakan entitas yang jelas, dan kalaupun garis-garis pemisah antara peradaban-peradaban itu biasanya tidak tajam, tapi nyata.
Identitas peradaban dianggap suatu hal yang sangat penting di masa yang akan datang, dan interaksi dunia akan dibentuk oleh peradaban-peradaban besar yang beberapa diantaranya adalah peradaban Barat, Asia, Amerika Latin, Islam dan lain-lainnya. Namun, konflik yang mungkin akan terjadi di masa mendatang akan terjadi sepanjang garis pemisah budaya yaitu identitas peradaban itu sendiri, yang
saling memisahkan peradaban-peradaban tersebut.
Menurut Huntingtonxlvi, hal ini bisa terjadi karena disebabkan oleh beberapa faktor yaitu Pertama, perbedaan antara peradaban tidak hanya riil, tapi juga mendasar. Peradaban terdiferensiasi oleh sejarah, bahasa, budaya, tradisi, dan yang lebih penting lagi adalah agama. Perbedaan peradaban melahirkan perbedaan dalam memandang hubungan manusia dengan Tuhan, individu dengan kelompok, warga dengan negara, orang tua dengan anak, suami dengan istri, hak dengan kewajiban, kebebasan dengan kekuasaan, dan kesejajaran atau kesamaan dengan hirarki. Perbedaan ini hasil proses berabad-abad. Mereka tidak mudah hilang, jauh lebih mendasar daripada ideologi atau rezim politik. Perbedaan tidak mesti melahirkan konflik, dan konflik tidak dengan sendirinya melahirkan kekerasan. Tapi selama berabad-abad, perbedaan antara peradaban telah menimbulkan konflik yang paling keras dan yang paling lama.
Kedua, dunia sekarang semakin menyempit. Interaksi antara orang yang berbeda peradaban semakin meningkat. Interaksi yang meningkat ini mempertajam kesadaran dan rasa perbedaan peradaban antara orang-orang atau masyarakat yang berbeda peradaban tapi juga mempertajam kesadaran akan kesamaan--kesamaan yang terdapat dalam peradaban-peradaban itu. Imigrasi dari Afrika Utara ke Perancis melahirkan kebencian di antara orang-orang Perancis terhadap para imigran dari Afrika Utara tersebut, tapi bersamaan dengan itu terjadi peningkatan penerimaan imigran Polandia, Katolik Eropa “yang taat”. Orang-orang Amerika bereaksi lebih negatif terhadap penanaman modal dari Jepang daripada penanaman modal dari Canada dan negara-negara Eropa. Demikian juga halnya dengan, apa yang diungkapkan Donald Horowitz, “Seorang Ibo mungkin... seorang Ibo Owerri atau seorang Ibo Onitsha di daerah Timur Nigeria. Di Lagos, ia hanya seorang Ibo. Di Inggris, ia adalah seorang Nigeria. Di New York, ia adalah seorang Afrika.” Interaksi antara orang-orang atau bangsa-bangsa yang berbeda peradaban meningkatkan kesadaran peradaban mereka sehingga pada gilirannya memperkuat perbedaan dan kebencian yang merentang atau dipandang merentang jauh ke belakang dalam sejarah.
Ketiga, proses modernisasi ekonomi dan perubahan sosial dunia membuat orang atau masyarakat tercerabut dari identitas lokal mereka yang sudah berakar dalam, di samping memper-lemah negara-bangsa sebagai sumber identitas mereka. Banyak agama dunia yang telah dapat mengisi gap (jurang pemisah) ini, sering dalam bentuk gerakan yang dicap “fundamentalis”. Gerakan-gerakan, ini ditemukan pada agama Kristen Barat,
Judaisme, Buddhisme, Hinduisme, dan juga Islam. Di kebanyakan negeri dan agama, orang yang aktif dalam gerakan fundamentalis adalah orang-orang muda, berpendidikan universitas, kalangan profesional, teknisi kelas menengah dan pengusaha. “Unsekularisasi dunia,” kata George Weigel, “adalah salah satu fakta kehidupan sosial dominan di penghujung abad 20 ini”. Kebangkitan agama, atau apa yang disebut Gilles Kepel “la revanche de Dieu”, memberikan suatu basis identitas dan komitmen yang mentransendensikan batas-batas bangsa dan menyatukan peradaban-peradaban.
Keempat, tumbuhnya kesadaran peradaban dimungkinkan karena peran ganda Barat. Di satu sisi, Barat berada di puncak kekuatan. Dan di sisi lain, dan ini mungkin akibat posisi Barat tersebut, kembalinya ke fenomena asal sedang berlangsung di antara peradaban-peradaban non-Barat. Orang semakin banyak mendengar meningkatnya kecenderungan-kecenderungan untuk “kembali ke dalam” dan “Asianisasi” di Jepang. Berakhirnya warisan Nehru dan berlangsungnya “Hinduisme” India, kegagalan ide-ide Sosialisme dan Nasionalisme Barat dan kemudian “re-Islamisasi” Timur Tengah, dan sekarang perdebatan tentang Westernisasi lawan Rusianisasi di negeri Boris Yeltsin. Barat yang berada di puncak kekuatannya berhadapan dengan non-Barat yang semakin berkeinginan untuk membentuk dunia dengan cara-cara mereka, dan menjadikan peradaban mereka sebagai sumber bagi pembentukan dunia tersebut.
Kelima, karakteristik dan perbedaan budaya kurang bisa menyatu dan karena itu kurang bisa kompromi dibanding karakteristik dan perbedaan politik dan ekonomi. Di negara-negara bekas Uni Soviet, orang-orang komunis bisa menjadi demokrat, yang kaya bisa menjadi miskin, dan sebaliknya yang miskin menjadi kaya. Tapi orang-orang Rusia tidak bisa menjadi orang Estonia dan orang Azeris tidak bisa menjadi orang-orang Armenia. Dalam konflik kelas dan ideologi, masalah kuncinya adalah “Anda berada di pihak mana?” dan orang dapat memilih mau berada di pihak mana, dan kemudian dapat berpindah ke pihak yang lain. Dalam konflik antara peradaban, masalahnya adalah “Anda ini apa?”. Ini merupakan ketentuan yang tak bisa berubah. Sebagaimana kita ketahui, dari Bosnia, Kaukasus, sampai ke Sudan, jawaban yang salah terhadap pertanyaan itu bisa berarti anda akan (bahkan dipastikan) kehilangan kepala. Bahkan lebih dari etnisitas, agama mendiskriminasi secara tajam dan ekslusif sesama manusia. Orang bisa menjadi separuh Perancis dan separuh Arab, dan dapat berwarga-negara ganda. Tapi sulit untuk menjadi setengah Katolik dan setengah Muslim.
Proporsi perdagangan seluruhnya yang dulu bersifat intra-re-gional bangkit antara tahun 1980-1989. Pentingnya blok-blok ekonomi regional tampaknya terus meningkat pada masa yang akan datang. Di satu sisi, regionalisme ekonomi yang berhasil akan memperkuat kesadaran peradaban. Di pihak lain, regionalisme ekonomi hanya bisa berhasil jika ia berakar dalam budaya yang sama. Masyarakat Eropa bersandar pada landasan budaya Eropa yang sama dan agama Kristen Barat. Keberhasilan Wilayah Perdaganagan Bebas Amerika Utara tergantung pada konvergensi budaya Meksiko, Canada, dan Amerika. Sebaliknya Jepang, menghadapi kesulitan dalam menciptakan entitas ekonomi yang sebanding di Asia Timur karena masyarakat dan peradaban Jepang unik, berdiri sendiri. Bagaimanapun kuatnya perdaganagan dan hubungan-hubungan investasi yang mungkin dapat dikembangkan Jepang dengan negara-negara Asia Timur lainnya, perbedaan budaya Jepang dengan negara-negara tersebut menghambat dan mungkin menghalangi integrasi ekonomi regional yang terus meningkat seperti yang dialami Eropa dan Amerika Utara.
Berakhirnya negara-negara yang berbasis ideologi di Eropa Timur dan bekas Uni Soviet memungkinkan identitas dan kebencian etnik tradisional mencuat ke permukaan. Perbedaan budaya dan agama menciptakan perbedaan-perbedaan dalam masalah-masalah kebijakan, mulai dari hak asasi manusia sampai imigrasi, perdagangan, dan lingkungan. Yang paling penting, upaya-upaya Barat untuk mendukung nilai-nilai demokrasi dan liberalisme sebagai nilai-nilai universal, untuk mempertahankan kekuatan militernya dan untuk memajukan kepentingan ekonominya, melahirkan respon balik dari peradaban-peradaban lain. Semakin pemerintah tidak mampu memobilisasi dukungan dan membentuk koalisi atas dasar ideologi, hal ini mengakibatkan pemerintah dan kelompok-kelompoknya akan semakin berusaha memobilisasi dukungan dengan daya tarik agama yang sama dan identitas peradaban.
Ringkasan
Banyak perbedaan pendapat dari para ahli tentang perbedaan antara peradaban dan kebudayaan yang berlangsung sejak lama. Namun dari perbedaan tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan tentang peradaban yaitu peradaban merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menyebutkan bagian-bagian atau unsur kebudayaan yang dianggap halus, indah dan maju. Misalnya perkembangan kesenian, IPTEK, kepandaian manusia dan sebagainya di mana tiap bangsa di dunia memiliki karakter kebudayaan yang khas.
Konsep peradaban sendiri tak lain adalah perkembangan kebudayaan yang telah mencapai tingkat tertentu yang tercermin dalam tingkat intelektual, keindahan, tekhnologi, spiritual yang terlihat dalam masyarakatnya. Dengan demikian, peradaban adalah merupakan tahapan tertentu dari kebudayaan masyarakat tertentu pula yang telah mencapai kemajuan tertentu yang dicirikan oleh tingkat ilmu pengetahuan, tekhnologi dan seni yang telah maju.
Suatu masyarakat yang telah mencapai tahapan peradaban tertentu, berarti telah mengalami evolusi kebudayaan yang lama dan bermakna sampai pada tahap tertentu yang diakui tingkat iptek dan unsur-unsur budaya lainnya. Dengan demikian, masyarakat tersebut dapat dikatakan telah mengalami proses perubahan sosial yang berarti, sehingga taraf kehidupannya semakin kompleks. Atau dengan kata lain telah memasuki tahapan atau tingakatan peradaban tertentu.
Wujud peradaban sendiri terdiri dari empat hal yaitu Moral, Norma, Etika dan Estetika. Keempat wujud peradaban ini juga dapat dijadikan acuan bagi perkembangan peradaban, hal ini karena peradaban tiap-tiap bangsa atau negara mempunyai standar dan parameter tersendiri untuk dapat dikatakan sebagai sebuah bangsa atau negara yang beradab. Dan jika ada nilai-nilai peradaban sebuah bangsa atau negara yang cenderung dipaksakan agar diterima oleh bangsa atau negara lain maka yang terjadi adalah benturan terhadap nilai-nilai tersebut atau seperti yang dikatakan oleh Samuel P. Huntington yaitu terjadinya Clash of Civilization (benturan peradaban).
Peradaban yang merupakan perkembangan dari kebudayaan memiliki tahapan peradaban yang disebut dengan evolusi budaya yang terdiri dari tiga gelombang yaitu pertama, yang terjadi pada masa-masa tradisional, dimana tekhnologi masih belum ditemukan; kedua, tahap peradaban industri; dan yang ketiga, tahapan evolusi budaya yang lebih modern dan serba canggih atau dapat juga disebut sebagai tahap peradaban informasi.
Salah satu bentuk peradaban adalah modernisasi. Modernisasi pertama kali muncul di Inggris pada abad ke 18 yang ditandai dengan adanya perubahan dalam secara besar-besaran dalam sector industri yang kemudian dikenal dengan sebutan revolusi industri. Modernisasi dianggap sebagai suatu hal yang baru dan sesuai dengan perkembangan jaman yang semakin maju, sehingga masyarakat dunia sering dibagi menjadi dua kategori negara yaitu negara maju dan negara yang sedang bekembang. Negara maju dianggap sebagai negara yang telah menerapkan modernisasi dalam setiap aspek bidang kehidupannya, sedang negara yang sedang berkembang
dianggap sebagai negara yang mengadakan modernisasi. Bentuk lainnya dari peradaban dapat juga dilihat dari konsep Masyarakat Madani yang ingin diterapkan di Indonesia atau dalam kancah dunia internasional disebut dengan Civil Society (Masyarakat Sipil).
Dari sedikit pemaparan diatas dapat di ambil sebuah kesimpulkan yaitu ketenangan, kenyamanan, ketentraman, dan kedamaian sebagai makna hakiki manusia beradab. Konsep masyarakat adab dalam pengertian lain adalah suatu kombinasi yang ideal antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum yang memperjuangkan penguatan posisi masyarakat terhadap negara. Manusia adalah ukuran bagi segala, manusia mempunyai kemampuan untuk menyempurnakan hidupnya sendiri, dengan syarat bertitik tolak dari rasio, intelektualitas, dan pengalamannya.