• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sang Pewaris - Bab Dua Belas

Dalam dokumen Pendekar Elang Salju (Halaman 63-69)

Matahari bersinar cerah pagi itu.

Sinarnya mengintip malu-malu di balik Gunung Tambak Petir. Angin pun berhembus dengan

lambat-lambat, seolah takut kehilangan pagi yang menyejukkan itu.

Sedang nun jauh disana, di kaki gunung paling ujung, di suatu tempat yang bernama Ladang Pembantaian terlihat begitu menghijau kebiru-biruan. Rumput yang menari-nari terkena tiupan angin, bagai lambaian tangan seorang gadis perawan. Meski terlihat indah menghijau, namun didalamnya menyimpan sejuta kengerian yang bisa merenggut nyawa siapa pun yang berani lewat tempat

tersebut.

Selewat dari Ladang Pembantaian, terdapatlah sebuah lembah yang merupakan tempat lebih mengerikan dari pada Ladang Pembantaian. Suatu lembah yang kelihatannya aman-aman saja, bahkan amat indah jika dilihat dari kejauhan, akan tetapi menyimpan laksaan kengerian. Tempat yang kadangkala melontarkan kilatan petir dan gemuruh halilintar yang terjadi setiap saat, meski tidak pada musim penghujan, bahkan pula diselingi dengan hempasan salju dan tiupan angin menggila yang datangnya tidak terduga. Sampai-sampai pendekar-pendekar dunia persilatan yang merasa dirinya sakti, dugdeng, digjaya akan berpikir seribu kali jika ingin mencoba-coba menginjakkan kakinya di lembah tersebut. Bisa jadi orang lolos dari Ladang Pembantaian, tapi belum tentu bisa lolos dari

lembah maut itu. Lembah itulah yang bernama ...

Lembah Badai!

Di perbatasan antara Ladang Pembantaian dan Lembah Badai, terdapat suatu tanah datar yang cukup luas, dimana tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan tumbuh dengan suburnya, segala macam binatang hidup dengan tenang, bahkan orang pun bisa tidur dengan nyaman. Salah satunya adalah seorang bocah bertubuh bongsor yang di punggungnya selalu membawa tempurung kura-kura besar. Bocah yang juga murid tunggal tokoh sakti dari Istana Elang yang bergelar Kura-kura Dewa dari Selatan.

Siapa lagi jika bukan Joko Keling atau dengan nama kerennya, Arjuna Sasrabahu! Selain tinggal disitu, secara tidak langsung bocah itu juga bertugas sebagai mata-mata jika ada orang yang bisa melintasi Ladang Pembantaian dengan selamat. Namun selama ini, hanya empat orang yang berhasil lolos dari ladang maut tersebut, lolos dengan tubuh utuh dan nyawa melekat di badan, sebab kebanyakan yang bisa menerobos tempat tersebut kadangkala bisa sampai tanah datar tersebut, namun dalam keadaan yang sudah terluka parah, tubuh berwarna biru kehijauan karena keracunan, atau orang yang anggota tubuhnya sudah tidak lengkap karena terperosok dalam lumpur maut, dan kebanyakan tewas di tempat tersebut. Sehingga di ujung sebelah utara terdapat puluhan kuburan bagi mereka-mereka yang bisa sampai di tempat itu akan tetapi nyawanya tidak tertolong

karena luka yang teramat parah.

Empat orang yang bisa lolos dengan selamat, selain Paksi Jaladara dan Tabib Sakti Berjari Sebelas yang memang sudah hafal dengan liku-liku Ladang Pembantaian adalah Pemburu Naga dari Pulau Kosong dan Ular Iblis dari Utara. Mereka berdua adalah orang-orang yang memiliki ilmu kanuragan cukup tinggi di jajaran Serikat Serigala Iblis, pula keduanya berani menerobos ke Ladang Pembantaian pun atas perintah Ratu Sesat Tanpa Bayangan, yang bertujuan untuk mencari Istana Elang yang mana kabar santer di rimba persilatan, bahwa tempat itu berada di sekitar ladang maut tersebut. Meski bisa melewati Ladang Pembantaian dengan selamat, tapi akhirnya tewas juga saat

bertarung setengah harian dengan Kura-kura Dewa dari Selatan.

Sedangkan Kaki Hantu Kipas Terbang bisa menerobos ke tempat tersebut karena mengandalkan ilmu ringan tubuh ‘Kaki Hantu’-nya dan juga kipas raksasa, senjata andalannya. Dengan menggunakan ilmu ‘Kaki Hantu’ itu, dia naik ke atas kipas, dan melayang melntasi Ladang Pembantaian, sehingga dengan leluasa bisa menghindari jebakan-jebakan maut yang ada di tempat itu. Hal ini berbeda dengan Pemburu Naga dari Pulau Kosong dan Ular Iblis dari Utara yang harus berjuang mati-matian

untuk ‘menaklukkan’ tempat.

Namun, Kaki Hantu Kipas Terbang harus tewas juga saat berusaha menerobos ke Lembah Badai. Saat itu, Joko Keling sudah memperingatkan adanya bahaya sambaran petir dan badai salju, namun sebagai seorang tokoh muda yang sedang naik daun, si Kaki Hantu Kipas Terbang merasa tertantang. Dalam pandangannya, Lembah Badai sama saja dengan Ladang Pembantaian, tentu bisa ditaklukkan juga dengan menggunakan kesaktian ilmunya dan kehebatan Kipas Terbangnya. Benar juga, baru berjalan beberapa langkah menginjak lembah badai, si Kaki Hantu Kipas Terbang sudah disambut desiran angin dingin membeku. Dengan cepat, ia mengerahkan tenaga DALAM berunsur panas, namun baru saja dikerahkan tujuh bagian, mendadak sambaran kilat menyambar

dengan cepat.

Srakkk!! Dharr!!

Satu sambaran petir bisa dihindari dengan menggunakan ilmu ‘Kaki Hantu’-nya, namun sambaran kedua yang lebih menggila lagi, ia berusaha menangkis dengan Kipas raksasanya yang dilintangkan di depan tubuhnya, sedang kekuatan tenaga dalam sudah dihamburkan keluar untuk menahan

lajunya desiran angin yang juga mulai mengganas.

Srakkk!! Dharr!! Dharr!!

Tubuhnya kontan terpental hingga keluar dari Lembah Badai dengan tubuh hancur berantakan hingga membentuk serpihan-serpihan daging hangus terbakar. Kipas Terbangnya pun hancur luluh saat terkena benturan petir lagi. Bagaimana pun juga, kekuatan alam tidak bisa disejajarkan dengan kekuatan manusia, namun karena keangkuhan dan kesombongan merasa memiliki ilmu tinggi, si Kaki

Hantu Kipas Terbang melupakan falsafah itu, akibatnya, tubuhnya hancur berantakan karena

kesombongannya sendiri.

Andaikata saat itu ia mendengarkan apa kata Joko Keling, mungkin nasibnya tidak akan seburuk itu. Akan halnya Pelukis Buta datang dengan tidak suatu kesengajaan. Saat itu dia sedang dalam pengejaran tokoh hitam dari Partai Raga Bumi karena suatu masalah yang ia sendiri tidak mengetahui apa sebabnya. Pelukis Buta bukanlah seorang tokoh berilmu silat rendah, dengan sekuat tenaga berusaha melawan, namun kekuatan dan jumlah lawan jauh diatasnya, karena rata-rata orang-orang Partai Raga Bumi memiliki ilmu yang cukup tinggi. Dengan sangat terpaksa, kakek tua bermata buta itu harus melarikan diri dari kancah pertarungan. Tanpa sengaja, justru arahnya malah ke jurang yang lebarnya puluhan tombak jauhnya, dan tanpa ampun lagi langsung terjatuh ke jurang tersebut. Untunglah bahwa pada saat itu, dibawah jurang yang dalam itu terdapat kolam alam raksasa yang

bersuhu sedingin es.

Byurr!!

Pelukis Buta terselamatkan dengan terjatuhnya ke dalam kolam raksasa. Mata lahirnya memang buta, tapi mata hatinya setajam pedang. Sesaat kemudian, dia sudah muncul di permukaan air, dan meraih sesuatu benda yang berada di samping kanan. Benda yang dipegangnya terasa kasar, berlendir dan

sedikit licin.

“Jangan-jangan, yang kupegang ini batang tubuh ular raksasa. Mati aku!” gumamnya.

Benda yang dipegangnya itu mendadak mengibas ke samping.

Bess ... !!

Tubuh Pelukis Buta kontan terpelanting, di saat tubuhnya sedang mengapung di udara, kakek itu mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi tubuhnya dari serangan susulan yang disadarinya

berasal dari kolam itu.

Bluk!

Tubuhnya terbanting ke tanah dengan keras!

“Tenaganya besar sekali, makhluk apa itu?” kata Pelukis Buta lirih, karena menahan sakit akibat

dibanting oleh makhluk dari kolam raksasa tadi.

“Kamandanu, yang sopan sedikit terhadap tamu!”

Sebuah suara terdengar oleh Pelukis Buta, suara yang bisa menggetarkan dada dan jantungnya. Suara itu meski pelan, namun dilambari dengan kekuatan tenaga dalam yang cukup besar. Pelukis Buta menyadari adanya tokoh sakti yang berada di tempat itu, sebab dirinya tidak mengetahui ada orang di sekitarnya, bisa diartikan bahwa orang yang berada di tempat itu adalah tokoh kosen yang mungkin sedang mengasingkan diri. Begitulah, Pelukis Buta akhirnya mengetahui bahwa tokoh itu adalah Si Kura-kura Dewa dari Selatan, yang merupakan salah satu Pengawal Gerbang Selatan dari Istana Elang, sedang yang disebut ’kamandanu’ ternyata seekor kura-kura raksasa yang memiliki sepasang sayap di atas tempurung tubuhnya, yang bernama Tirta Kamandanu. Tirta Kamandanu merupakan salah satu satwa langka yang ada di dunia ini, hewan air langka ini mendiami kolam raksasa itu sudah ratusan tahun lamanya. Pada mulanya ada sepasang kura-kura raksasa di kolam raksasa itu, saat Kura-kura Dewa dari Selatan tanpa sengaja menemukan tempat itu, itu pun tanpa suatu kesengajaan, karena mendengar raungan yang menggetarkan lereng sebelah selatan dari Gunung Tambak Petir. Kemudian dicarinya sumber suara dan menemukan kolam alam yang luar biasa luasnya, di dalamnya terdapat sepasang kura-kura raksasa, namun kura-kura betina sedang sekarat. Rupanya kura betina itu berusaha mengeluarkan telur-telurnya, sedang kura-kura jantan gelisah menunggu di sampingnya. Melihat kedatangan manusia yang ia tahu dari nalurinya bahwa orang itu memiliki budi pekerti yang tinggi, kura-kura jantan memperlihatkan wajah

memelas, seolah memohon pertolongan.

Kura-kura Dewa dari Selatan mahfum dengan hal itu, dengan kesaktiannya ia berhasil mengeluarkan dua butir telur yang ukurannya cukup besar, tingginya mencapai lehernya. Namun nyawa kura-kura betina tidak tertolong, akhirnya tewas setelah mengeluarkan telurnya yang kedua.

Kura-kura jantan meraung keras meratapi kepergian pasangannya.

Grooakkkhh! Grooakkkhh! Groakkkh ... !

Tempat itu serasa dilanda gempa bumi dahsyat, Kura-kura Dewa dari Selatan sampai mengkhawatirkan keselamatan telur-telur itu, takutnya pecah sebelum menetas, dengan sigap bertindak, segera saja ilmu ‘Jubah Kura-kura Sakti’ dikerahkan untuk melindungi diri dan telur

kura-kura raksasa dari reruntuhan gua alam yang ada diatasnya.

Grakk! Dharr! Pyarrr ... !!

Runtuhan itu terpental balik saat membentur ilmu ‘Jubah Kura-kura Sakti’. Bersamaan dengan itu, jasad kura-kura betina memancarkan cahaya warna-warni yang berkilauan. Laki-laki itu sampai memicingkan mata saking silaunya. Menyusul surutnya cahaya kemilau itu, tampak di atas kolam itu

Tempurung kura-kura berwarna hijau lumut! Satu tempurung berbentuk kecil dan satunya berukuran besar, sedang melayang-layang diudara.

-o0o-Saat ini, para pendekar golongan hitam mulai melakukan gerakan persatuan antar sesama golongan. Beberapa tokoh hitam mulai menyebarkan undangan yang isinya mengundang sesama tokoh-tokoh aliran hitam untuk berkumpul di suatu tempat yang bernama Benteng Tebing Hitam. Roda Sakti Tujuh Putaran-lah yang menjadikan Benteng Tebing Hitam sebagai tempat berkumpulnya para tokoh hitam yang diundang tersebut. Sebagai majikan benteng yang berilmu tinggi, serta telah diakui di seantero jagat hitam maupun putih, membuat Roda Sakti Tujuh Putaran menganggap dirinya sebagai tokoh

hitam pilih tanding, tokoh nomor satu di kolong langit.

Tentu saja pengakuan ini mendapat tentangan keras dari sesama tokoh persilatan aliran hitam. Mereka satu persatu datang ke Benteng Tebing Hitam dan mengadakan perang tanding ilmu kesaktian, namun pada akhirnya harus terjungkal juga dibawah ‘Ilmu Silat Tujuh Putaran Atas Bumi’ majikan Benteng Tebing Hitam. Dan pada akhirnya, kekuatan Benteng Tebing Hitam semakin lama semakin membesar seiring dengan semakin banyaknya tokoh persilatan yang takluk dan bergabung

dengan Benteng Tebing Hitam.

Si Roda Sakti Tujuh Putaran menyadari, bahwa orang-orang taklukan yang mendekam di dalam bentengnya, bagaikan memelihara harimau liar yang setiap saat bisa memangsa tuannya. Mereka masih menyimpan dendam sedalam lautan dan mungkin suatu saat bersatu padu untuk menjatuhkan dirinya dari dalam. Maka setiap pendekar golongan hitam yang telah kalah dan takluk, mau tidak mau dan suka tidak suka harus menelan racun ’Sekerat Daging Seonggok Darah’ yang akan kumat setiap tiga purnama. Racun ini akan menggerogoti tubuh dari dalam dimulai dari kaki kiri dan kanan, kemudian naik terus ke atas hingga akhirnya tubuh akan luluh lantak meninggalkan seonggok darah yang kental. Sedang penawar racunnya, hanya Roda Sakti Tujuh Putaran saja yang memiliki.

Bagi yang tidak mau, hanya kematian yang bisa diterima!

Sementara itu, tokoh-tokoh aliran putih yang melihat gerakan Benteng Tebing Hitam mulai bersiap-siap diri. Beberapa tokoh persilatan kenamaan mulai menghubungi kerabat dan kenalan sesama pendekar, dan kemudian berunding menetapkan tempat perkumpulan aliran putih, diputuskan berpusat di Benteng Dua Belas Rajawali, suatu tempat berkumpulnya para pendekar setelah aliran

Istana Elang menghilang dari kancah rimba persilatan.

Benteng Dua Belas Rajawali diketuai seorang tokoh yang berjuluk Rajawali Alis Merah, seorang tokoh yang begitu disegani oleh kalangan rimba hijau. Belum lagi dengan saudara seperguruannya yang bergelar Naga Sakti Berkait, yang sudah malang melintang di delapan penjuru angin. Bahkan konon katanya pernah berguru kepada seorang tokoh sakti di kepulauan Borneo dan mendapatkan senjata pusaka Mandau Kait Sembilan dari tokoh sakti yang kini telah mangkat. Ketua perguruan silat, padepokan, serikat pendekar dan pendekar-pendekar sealiran menerima undangan dari Benteng Dua Belas Rajawali dan menyatakan kesanggupannya untuk bergabung dalam satu wadah pendekar. Begitulah, dua bentuk kekuatan besar di rimba persilatan sedang menghimpun diri untuk memperkuat posisi masing-masing. Disatu posisi untuk mencari siapa yang terkuat dan bisa menguasai rimba persilatan, sedang di posisi satunya untuk mencegah kekuatan hitam yang berkuasa dan merajalela. Dua kekuatan besar itu tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan itu tidak ubahnya sedang mengumpankan diri ke dalam mulut harimau, karena tanpa sepengetahuan mereka terdapat suatu kekuatan bawah tanah yang bisa mengancam kekuatan besar itu.

Kekuatan iblis!

Kekuatan ini akan memangsa siapa saja, tidak peduli dari golongan hitam mau pun dari golongan putih, bahkan jika dari rakyat jelata sekalipun, akan dilibas tak tersisa. Kekuatan yang kadang diluar jangkauan akal sehat manusia pada umumnya, kekuatan iblis yang sudah menitis pada orang-orang tertentu, dimana orang-orang yang memiliki kekuatan itu ditandai dengan adanya rajah berwarna hitam berbentuk kepala setan bertanduk. Itulah yang dinamakan ...

Rajah Penerus Iblis!

Setiap orang yang memiliki Rajah Penerus Iblis, akan memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Andaikata seorang bocah biasa jika memiliki tanda Rajah Penerus Iblis di salah satu anggota tubuhnya, bisa dipastikan akan memiliki kekuatan iblis yang luar biasa, bahkan dikeroyok oleh beberapa tokoh sakti berilmu tinggi sekalipun belum tentu bisa mengalahkannya. Rajah Penerus Iblis itu ternyata dimiliki oleh seorang pemuda gagah dan tampan, berusia kurang lebih sembilan belas tahun dengan postur tubuh tinggi tegap. Dan saat ini pemuda itu sedang digembleng oleh suatu kekuatan sesat yang bermukim di dasar perut bumi. Kekuatan siluman, setan, iblis dan segala macam makhluk gaib menggemblengnya dengan sedemikian rupa. Bahkan raja diraja mereka

Kini, anak muda itu sedang mempelajari ajaran sesat dari kitab kuno yang bernama ‘Kitab Hitam

Bhirawa Tantra’ dari suatu istana alam gaib, tepatnya ...

Istana Iblis Dasar Langit!

Karena anak muda itu sebenarnya merupakan buah perkawinan antara manusia dengan iblis yang menguasai Istana Iblis Dasar Langit, yaitu Raja Diraja Iblis Dasar Langit! Pemuda titisan iblis itu memiliki Rajah Penerus Iblis di telapak tangan kirinya, tanda itu berbentuk kepala setan bertanduk bermata merah darah, sebagai pertanda dia adalah putra dari Raja Diraja Iblis Dasar Langit. Tak pelak lagi, dialah sesungguhnya ancaman maut di atas bumi ini. Akan halnya pemuda itu terlahir dari buah Laknat Hitam yang dimakan secara tidak sengaja oleh seorang gadis murid Perguruan Rimba Putih yang bernama Danayi, buah itulah yang mengubah sejarah hidup gadis

itu. Yang merupakan aib bagi seorang gadis ...

Hamil tanpa suami!

Sebenarnya kehamilan itu terjadi karena campur tangan iblis penjaga buah Laknat Hitam itu. Setelah makan buah itu, Danayi langsung tertidur pulas, dan di alam mimpi, dia digauli oleh sembilan orang laki-laki yang gagah dan tampan, karena sebenarnya buah itu adalah buah simbol perkawinan iblis, siapa pun yang memakannya, secara tidak langsung sudah bersekutu dengan iblis. Ketika terbangun dari tidurnya, Danayi mengalami kekagetan yang luar biasa. Dalam tubuhnya seolah terjadi pergolakan hebat, perutnya seolah-olah diaduk-aduk, ususnya seakan dipelintir oleh tangan-tangan yang tidak kelihatan. Karena tidak tahan dengan penderitaan itu, gadis murid Perguruan Rimba Putih

akhirnya jatuh pingsan.

Entah berapa lama, Danayi siuman dari pingsannya. Ketika pandangan matanya terbuka, dilihatnya suatu pemandangan yang terasa asing baginya. Dirinya sudah berada diatas kasur yang empuk, di sekelilingnya duduk bersimpuh belasan perempuan yang mengenakan pakaian-pakaian aneh, berumbai-rumbai kuning kehitaman hanya sebatas dada saja. Sedang lebih aneh, lagi, tubuh mereka berwarna hitam kelam seperti tersiram tinta, walau berwajah rata-rata cantik manis, namun saat berbicara atau tersenyum, tersembul sepasang taring di dalam mulutnya. Danayi sedikit ngeri, namun gadis itu ternyata tabah juga. Saat akan bangkit berdiri, gadis itu

kagetnya bukan alang kepalang.

“Ahh ... !”

Perutnya telah membesar, menggelembung, seolah-olah ada sesuatu yang ada didalam perutnya. “Apa yang terjadi? Dimanakah ini? Apakah aku sudah mati?” suara terdengar bergetar. Suasana di tempat itu betuk-betul aneh. Seluruh ruangan juga berbentuk ganjil, ada meja berkaki dua, kursi berkaki lima, ada pula sebentuk buah pepaya, tapi bukan pepaya berwarna biru pucat. Banyak sekali hal-hal aneh yang tidak bisa dijangkau oleh akal pikirnya.

Ini adalah kamar teraneh yang pernah dikenalnya!

Dan lebih aneh lagi, dirinya merasa akrab dengan tempat itu, tempat yang tidak ketahui letak dan namanya, dikelilingi oleh wanita-wanita berkulit hitam dengan sepasang taring menghiasi mulutnya. Seorang dari kumpulan aneh itu, menyembah dan berkata, “Nyai Ratu, sebaiknya Nyai Ratu jangan banyak bergerak dulu. Lebih baik beristirahat saja di ranjang, agar kehamilan Nyai Ratu tidak terganggu.”

“Apa kau bilang ... Nyai Ratu ... ? Ratu apa? Dan ... dan apakah ... aku hamil? Aku khan belum bersuami!?” seru Danayi kaget, “ ... dan siapa kalian ini ... ?” “Nyai Ratu tidak perlu bingung, biarlah hamba yang menceritakan semuanya ... “ Kemudian perempuan bertaring itu mengenalkan dirinya sebagai Nyi Tembini, seorang kepala dayang dari Istana Iblis Dasar Langit, menceritakan secara terperinci semua kejadian yang dialami Danayi. Dari permulaan hingga gadis itu bisa hamil tanpa suami dan kini sedang tergolek atas kasur yang empuk.

Mendengar hal itu, Danayi tersentak kaget!

Dirinya memang secara tidak sengaja memakan buah berwarna hitam pekat yang terdapat di hutan sebelah timur dari Perguruan Rimba Putih, buah yang rasanya manis dan berbau harum itu sangat menarik perhatiannya. Namun sungguh tidak disangka bahwa buah tersebut adalah buah perkawinan bagi para penghuni gaib dari Istana Iblis Dasar Langit, dimana setiap biji dari buah itu mewakili satu penghuni gaib istana tersebut. Kebetulan yang dimakan oleh gadis itu adalah satu biji yang terbesar berwarna hitam kemerahan serta terletak paling atas dan delapan biji yang sudah matang di bawahnya, namun ukurannya agak kecil. Itu artinya Danayi telah bersuamikan dengan raja tertinggi

dan delapan raja kecil dari istana alam gaib.

Seorang gadis dari alam manusia bersuamikan sembilan mahkluk penghuni alam gaib! Alam gaib berbeda dengan alam manusia, dimana satu hari di alam gaib itu sama artinya dengan satu bulan di alam manusia. Begitulah, sembilan hari kemudian, Danayi melahirkan seorang bayi mungil laki-laki dan oleh Raja Diraja Iblis Dasar Langit diberi nama Nawa Prabancana.

-o0o-Sepuluh tahun pun berlalu tanpa terasa ...

Suasana di Lembah Badai masih tetap sama seperti dulu, penuh dengan kilatan petir dan kadangkala disertai tiupan angin di tambah dengan sergapan badai salju yang menggila. Meski pun di pulau Jawadwipa hanya mengenal dua musim saja, nampaknya hal itu merupakan pengecualian pada Lembah Badai, lembah yang merupakan pintu gerbang menuju Gunung Tambak Petir. Sesosok bayangan putih tampak berkelebatan kian kemari menghindari sambaran petir dan tiupan angin yang cukup ganas. Tubuh pemuda itu melayang-layang di angkasa, seperti terbangnya seekor burung yang sedang mengangkasa, kadangkala menukik tajam, saling susul menyusul dengan terjangan petir-petir dari langit, seolah berlomba untuk saling dahulu mendahului.

Dharr! Jdhar ... !!

Petir itu menyambar bumi dengan memperdengarkan suara yang gelegar memekakkan telinga. Tak pelak lagi, bumi bagai diguncang gempa yang dahsyat, salju yang membeku berhamburan ke udara membentuk tiang-tiang es yang menjulang beberapa tombak, kemudian luruh kembali memperdengarkan suara gemuruh yang keras. Lembah itu seakan diaduk oleh tangan-tangan tak

Dalam dokumen Pendekar Elang Salju (Halaman 63-69)