“Pulanggeni, bagaimana keadaanmu?” tanya Galang Seta, dengan khawatir. Tangannya segera menyangga kepala Pulanggeni, lalu jari-jari tangannya dengan lincah menotok beberapa jalan darah di dada dan beberapa bagian tubuh Pulanggeni. Beberapa saat kemudian,
Pulanggeni membuka mata, lalu berkedip-kedip.
Galang Seta hanya tertawa melihat tingkah sahabat karibnya.
“Aku tidak apa-apa, sobat! Cuma sedikit terluka,” gurau Pulanggeni, untuk menenangkan hati Galang Seta.
“Tidak apa-apa kepalamu soak! Terkapar begini dibilang tidak apa-apa ... ” maki Galang Seta. Sementara itu, keadaan lawan pun lebih parah dari mereka berdua, karena darah terus saja mengalir
seperti anak sungai.
“Kurang ajar! Kalian berdua telah mempermalukan si Tangan Kilat Kaki Bayangan! Rasakan
pembalasanku!” pikir si cecak kering.
Sebuah pikiran licik melintas di benaknya, cara yang biasa dimiliki orang-orang golongan sesat saat dalam keadaan terdesak. Tangan Kilat Kaki Bayangan meraba pinggang, dimana terselip dua bilah pisau terbang yang sengaja disembunyikan jika dalam keadaan terdesak oleh lawan. Matanya yang cekung memandang lawan dengan beringas, untuk melihat kelengahan lawan. Perbuatan curang Tangan Kilat Kaki Bayangan yang ingin membokong, tidak lepas dari penglihatan Gineng. Mata pemuda remaja berbaju buntung itu melihat gerak-gerik orang ketiga dari Gerombolan Serigala Iblis yang mencurigakan. Matanya bergantian memandang tokoh sesat itu dengan dua murid
utama Padepokan Singa Lodaya.
“Pasti dia mau melakukan sesuatu yang licik. Lebih baik, aku awasi saja dia!” pikir Gineng. Ketika tangan kanan yang memegang dua bilah pisau terbang itu terangkat ke atas siap disambitkan ke arah Galang Seta dan Pulanggeni, Gineng pun melakukan gerakan yang sama. Pemuda remaja itu juga menyambitkan pisau panjangnya, dengan jurus ‘Pisau Lepas Dari Tangan’ ke arah Tangan Kilat
Kaki Bayangan, diiringi bentakan keras, “Dasar manusia licik!”
Wuttt!! Syutt!
Pisau panjang itu melesat membelah udara, mengeluarkan desingan keras yang membuncah karena
dilandasi dengan kekuatan tenaga dalam pemuda remaja itu.
Terlambat!
Bersamaan dengan itu, pisau terbang di tangan orang ketiga dari Gerombolan Serigala Iblis itu juga telah melesat, ke arah Galang Seta dan Pulanggeni dengan kecepatan kilat!
Wushh! Weessh!!
Crapp! Trakk! Trakk ... !
“Ugh!”
Terdengar lenguhan pendek, bukan dari mulut Galang Seta atau Pulanggeni, tapi dari mulut si Tangan
Kilat Kaki Bayangan!
Di bagian leher laki-laki kurus itu, tertancap pisau panjang yang dilemparkan Gineng, hingga amblas sampai ke gagangnya. Bahkan saking kerasnya tenaga sambitan jurus ‘Pisau Lepas Dari Tangan’, membuat tubuh Tangan Kilat Kaki Bayangan ikut terseret beberapa tombak, lalu menancap di balok
kayu tempat dimana biasanya mengikatkan kuda.
“Khu ... khu ... eghhh ... ”
Tangan kurus itu berusaha mencabut pisau panjang yang menembus leher, hingga terdengar seperti suara orang mengorok keras. Beberapa saat kemudian, diam tanpa bergerak sedikit pun dengan mata
melotot liar!
Si Tangan Kilat Kaki Bayangan rupanya melupakan salah satu kelebihan murid-murid Padepokan Singa Lodaya, yaitu ilmu kebal ajian ‘Kulit Singa’, yang juga dikuasai oleh Galang Seta dan Pulanggeni. Ajian ‘Kulit Singa’ adalah ilmu kebal dari segala macam senjata tajam mau pun tumpul, juga bisa memantulkan hawa tenaga dalam lawan. Selama lawan memiliki tenaga dalam lebih rendah dari pemilik ajian ‘Kulit Singa’ atau setidaknya setara dengan lawan, ajian ‘Kulit Singa’ akan tetap
berfungsi dan selama lawan tidak menggunakan senjata pusaka, maka ajian ‘Kulit Singa’ akan bisa
melindungi sang pemilik.
Karena Tangan Kilat Kaki Bayangan tidak menggunakan senjata pusaka, meski hawa tenaga dalam yang dmilikinya setara dengan yang dimiliki dua lawannya, namun lemparan pisau terbang itu terpental, seperti membentur tembok tebal saat mengenai punggung dan pinggang dua pemuda lawannya. Apalagi sudah dalam keadaan terluka dalam yang parah, membuat tenaga lemparan pisau
terbangnya tidak sekuat kalau dalam keadaan sehat.
“Terima kasih, kawan!”
“Sama-sama!” sahut Gineng dari kejauhan.
Pemuda remaja itu melentingkan tubuh berjumpalitan di udara beberapa kali mendekati mayat si
Tangan Kilat Kaki Bayangan.
Jleg!
“Heh, orang jahat sepertimu sudah sepantasnya di kirim ke neraka!” ucap Gineng. Tangan kanannya terulur menangkap gagang pisaunya, lalu ditarik dengan satu sentakan cepat.
Sett! Brugh!
Saat pisau panjang itu tercabut dari leher, bersamaan itu pula tubuh Tangan Kilat Kaki Bayangan terperosot jatuh ke tanah. Mata orang ke tiga dari Gerombolan Serigala Iblis itu melotot besar, seakan
tidak terima dengan kematian yang dihadapi.
Kemudian Gineng membersihkan pisau panjangnya dan menyelipkan di pinggang kiri sambil melangkah menghampiri Galang Seta dan Pulanggeni. Galang Seta dan Gineng lalu memapah Pulanggeni ke tepi kancah pertarungan, dimana Ki Ageng Singaranu sedang mengobati Singa Jantan Bertangan Lihai yang juga terluka parah akibat bertempur dengan Serigala Hitam Bermata Tunggal. Praktis, hanya pertarungan Ki Ragil Kuniran dengan si Cakar Iblis Taring Serigala yang tersisa. Kedua orang itu masih ingkel-ingkelan dengan alot. Tendangan dan pukulan datang silih berganti. Cakar Iblis Taring Serigala menerjang cepat dengan senjata Cakar Serigala diiringi dengan teriakan keras
memekakkan telinga.
“Hyaaa ... heyyyaa ... !”
Trang! Tring! Crangg!
Terdengar dentingan besi beradu saat sepasang pisau panjang di tangan lurah desa Watu Belah itu menahan serangan kilat lawan. Kaki kiri Ki Ragil Kuniran berputar ke depan dan ... Buuukk!
Sebuah tendangan berputar tepat mengenai pelipis kanan Cakar Iblis Taring Serigala, yang langsung terjajar ke samping. Di saat tubuhnya terpelanting, Cakar Iblis Taring Serigala masih sempat mengibaskan senjata Cakar Serigala di tangan kanannya ke arah lengan lawan. Cratt!
Darah kental kehitaman mengucur dari bekas sambaran senjata berbentuk cakar itu. Laki-laki itu mengernyitkan alis, menahan rasa ngilu yang tiba-tiba menjalar lewat jalan darah di bekas luka
cakaran, terus menjalar naik sampai bagian bahu.
“Racun ganas ... ” gumamnya. “ ... cepat sekali menjalarnya ... ” Ki Ragil Kuniran segera meloncat mundur, lalu menotok jalan darah di lengan dan bahunya untuk
menghentikan jalannya racun menuju jantung.
Cakar Iblis Taring Serigala sempat melirik ke arah samping. Pandang matanya melihat Serigala Hitam Bermata Tunggal tergeletak diam entah hidup entah mati dan Tangan Kilat Kaki Bayangan yang
terbujur kaku dengan jejak luka berdarah di bagian leher.
“Kurang ajar! Dua saudaraku telah tewas, sedangkan anak buahku pun kocar kacir tak karuan! Keadaan ini tidak menguntungkan bagiku. Kalau aku tetap di sini, kemungkinan tewas lebih besar. Lebih baik aku mundur dulu. Padepokan Singa Lodaya benar-benar kuat. Kalian harus membayar penghinaan ini suatu saat nanti!” bathin laki-laki kurus bermuka tikus itu. “Guru yang katanya akan ikut membantu, sampai sekarang tidak kelihatan batang hidungnya. Brengsek! Lebih baik aku lari saja dari
sini. Persetan dengan mereka semua!”
Dua bola mata laki-laki itu bergerak lincah persis mata pencuri yang tertangkap basah. Lirik sana lirik sini, berusaha mencari celah yang bisa diterobos keluar. Belum sempat murid ke dua si Ratu Sesat Tanpa Bayangan beranjak dari tempatnya, tiba-tiba terdengar suara keras menggelegar laksana petir
di siang hari yang memecah kesunyian.
“Singaranu! Berani sekali kau mengusik murid-muridku! Siapa pun yang berani mengusik tiga murid kesayanganku, harus berhadapan dengan Ratu Sesat Tanpa Bayangan!” Entah dari mana datangnya, sesosok perempuan tua bertubuh bongkok berbaju batik kembang-kembang sudah berdiri di atas genting. Rambut putih riap-riapan berkibar-kibar tertiup angin. Di tangan kiri tergenggam tongkat hitam melengkung dari bangkai ular kobra, yang panjangnya sama tinggi dengan tubuh nenek bongkok itu. Tubuhnya kurus kering, seakan hanya tulang terbalut kulit
saja, sedang daging yang ada hanya ala kadarnya saja. Matanya bersinar-sinar menyorotkan kekejaman tiada tara. Nenek bongkok bertongkat ular itu dulunya seorang perempuan jelita meskipun umurnya sudah tidak muda lagi, juga merupakan salah datuk hitam berilmu tinggi dari Pulau Nusa Kambangan. Kehebatan ilmunya bisa disejajarkan dengan Ki Ki Dirgatama, seorang tokoh golongan
putih yang juga sekaligus guru dari Ki Ageng Singaranu.
Pada masa itu, wanita yang bergelar Ratu Sesat Tanpa Bayangan merupakan momok menakutkan bagi dunia persilatan. Hanya dengan menyebut namanya saja, sama artinya dengan mengantar nyawa. Belum lagi dengan Serikat Ular Iblisnya, yang sering berbuat kejahatan dimana-mana, bahkan kejahatan dan kekejiannya sampai terdengar menyeberang ke Pulau Andalas mau pun ke Pulau Borneo yang letaknya di seberang lautan. Membunuh, merampok, bahkan melakukan hal-hal biadab sudah merupakan kebiasaan yang menyenangkan bagi Serikat Ular Iblis dan juga Ratu Sesat Tanpa Bayangan.
Selain terkenal dengan kekejamannya, nenek itu juga memiliki ilmu awet muda sehingga tubuhnya tetap singset dan menggiurkan bagi setiap laki-laki yang memandangnya. Jika ditanya, dukun teluh terhebat di rimba persilatan, maka akan menunjuk tokoh ini sebagai ahlinya. Dengan ilmu ‘Teluh Ireng’ yang sangat diandalkannya, jarang ada tokoh persilatan yang bisa hidup jika sudah terserang ilmu teluh itu, belum lagi dengan ilmu ‘Tongkat Selaksa Maut Selaksa Siksa’ dan ‘Tinju Serigala Meraung Tanpa Bayangan’ juga merupakan salah satu ilmu sakti di rimba persilatan, dimana setiap kibasan mau pun sambaran anginnya yang mengeluarkan racun maut bisa mendatangkan maut bagi siapa saja, apalagi kalau terkena telak, pasti nyawa akan merat saat itu juga. ‘Tinju Serigala Meraung Tanpa Bayangan’ dilatih dengan merendam diri dalam gentong besi yang didalamnya penuh berisi ribuan racun tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan berbisa. Tak jarang pula beberapa binatang langka yang berbisa digunakan untuk berlatih ilmu ini. Bisa dikatakan bahwa ilmu ‘Tinju Serigala Meraung Tanpa
Bayangan’ adalah rajanya pukulan beracun.
Apalagi ditambah hawa ‘Tenaga Sakti Serigala Iblis’ yang dimilikinya juga sudah mencapai tataran tak tertandingi oleh siapa pun di dunia persilatan saat itu. Itulah yang menjadikannya menggelari diri sebagai Ratu Sesat Tanpa Bayangan. Sehingga kepongahan dan kesombongan semakin menjadi-jadi.
Namun, setinggi-tingginya ilmu seseorang, masih ada yang bisa melebihinya. Seperti kata pepatah ‘diatas langit masih ada langit’, Ratu Sesat Tanpa Bayangan akhirnya kena batunya juga. Saat dia berjumpa dengan tokoh sakti yang berjuluk si Elang Berjubah Perak yang waktu itu sedang berjalan bersama sahabatnya Ki Dirgatama yang menyandang gelar Singa Putih Berhati Iblis, berada di sebelah utara pulau Nusa Kambangan, setelah mengunjungi salah satu tokoh golongan putih dari
pulau Nusa Laut.
Merasa dirinya hebat dan tanpa tanding di kolong langit, wanita iblis itu menantang dua tokoh golongan putih itu dan akhirnya terjadi perkelahian yang berlangsung ratusan jurus dan berakhir dengan kekalahan Ratu Sesat Tanpa Bayangan di tangan si Elang Berjubah Perak. Seluruh ilmu silat, ilmu sihir dan juga hawa ‘Tenaga Sakti Serigala Iblis’-nya dikeluarkan sampai tahap terakhir, tetap
tidak bisa menggoyahkan posisi lawan.
Bahkan Singa Putih Berhati Iblis dengan berani mendatangi seorang diri sarang Serikat Ular Iblis di Nusa Kambangan saat terjadi duel antara si Elang Berjubah Perak dan Ratu Sesat Tanpa Bayangan, akhirnya perserikatan pembawa bencana itu tumpas tapis tanpa sisa di tangan Singa Putih Berhati Iblis yang saat itu masih senang-senangnya menambah pengalaman pertarungan dan tentu saja karena masih berjiwa muda. Setengah harian dia membantai orang-orang Serikat Ular Iblis, saat dia kembali ke pertarungan si Elang Berjubah Perak dan Ratu Sesat Tanpa Bayangan, nampak olehnya
tokoh sesat itu mengiba-iba minta dibiarkan hidup!
Oleh si Elang Berjubah Perak, Ratu Sesat Tanpa Bayangan diampuni asal mau bertobat dan tidak mau mengulangi perbuatan jahatnya lagi. Namun, hal itu ditentang oleh Ki Dirgatama yang selalu berpedoman bahwa mencabut rumput harus sampai ke akar-akarnya. Pemuda itu berkeyakinan, bahwa setiap tokoh hitam pasti lain di mulut lain pula di hatinya. Setelah berpikir sejenak, si Elang Berjubah Perak berketetapan bahwa dia tetap ingin mengampuni Ratu Sesat Tanpa Bayangan, namun seluruh ilmu yang dimilikinya harus dimusnahkan agar tidak
disalahgunakan lagi.
Mendengar hal itu, Ratu Sesat kaget bukan alang kepalang! Mati dalam pertarungan bagi seorang pendekar bukan suatu masalah, tapi terlunta-lunta di dunia persilatan tanpa ilmu yang disandangnya, merupakan aib dan momok menakutkan bagi para pendekar. Wanita cantik itu melolong-lolong minta
dibunuh daripada jadi orang cacat tanpa ilmu.
Namun apa yang diucapkan Elang Berjubah Perak pantang ditarik kembali. Seluruh ilmu Ratu Sesat itu akhirnya dimusnahkan semua dan berubahlah ia menjadi orang biasa tanpa ilmu. Namun itu tidak memuaskan Ki Dirgatama, masih ditambahi dengan dipotongnya daun telinga kiri dan ruas tulang
leher bagian belakang Ratu Sesat ditarik satu jengkal ke atas sehingga tubuhnya menjadi bongkok, sehingga mirip orang lanjut usia. Kecantikan yang dibangga-banggakan, luntur seiring dengan berjalannya waktu. Hinaan dan cercaan setiap orang diterimanya dengan hati penuh dendam. Hingga sampai di tempat tinggalnya, di pulau Nusa Kambangan. Ia melihat seluruh anak buahnya mati bergelimpangan di dalam sarangnya, tak satu pun yang masih bernapas sama sekali. Hatinya makin pedih dan membuatnya berteriak-teriak seperti orang gila, dendamnya pun semakin menjulang tinggi,
kalau perlu sampai tembus ke langit!
Ratu Sesat Tanpa Bayangan yang kini telah cacat dan berubah menjadi nenek tua renta, dendam setengah mati pada Elang Berjubah Perak dan terutama sekali pada Ki Dirgatama yang telah membuatnya cacat seumur hidup, menjadi manusia bongkok untuk selamanya. Dia bersumpah akan membalas sakit hatinya suatu saat nanti. Dendamnya sedalam lautan setinggi gunung dan memuncak sampai ke ubun-ubun. Nenek bongkok itu pun kembali menggembleng diri, meski dengan susah payah karena setiap melatih ilmunya yang sudah musnah, tulang punggungnya terasa nyeri sekali. Tanpa terasa, empat puluh tahun telah berlalu tanpa terasa. Ilmu sakti yang dulu musnah, kini dimilikinya kembali meski hanya separo saja. Namun itu sudah cukup menggegerkan dunia persilatan karena seluruh sepak terjangnya yang ngedap-edapi dilandasi dengan dendam membara. Dan ia kembali membentuk perkumpulan baru yang lebih jahat dari Serikat Ular Iblis, disebutnya sebagai
Gerombolan Serigala Iblis.
Kini, tokoh hitam pada masa puluhan tahun silam itu hadir di Padepokan Singa Lodaya. Pesona maut menebar kemana-mana, siap mengantar siapa saja menuju ke neraka. Matanya jelalatan mencari-cari sesuatu. Pandang mata liar itu bersirobok dengan dua orang yang tergeletak agak berjauhan letaknya.
“Guru!” seru Cakar Iblis Taring Serigala, saat melihat perempuan tua itu adanya. “Murid goblok! Menghadapi singa ompong saja sudah keok! Cepat urus kedua saudaramu!”
“Baik, Guru!”
Cakar Iblis Taring Serigala segera beringsut ke arah Tangan Kilat Kaki Bayangan dan mengangkat lalu meletakkan di pundak kiri, seperti meletakkan seonggok karung beras. Setelah itu berjalan ke arah Serigala Hitam Bermata Tunggal dan dengan cara yang sama, tapi diletakkan ke pundak kanan. Kemudian laki-laki itu berjalan keluar, diikuti para anak buah yang kini tinggal beberapa puluh orang saja.
“Ratu Sesat Tanpa Bayangan,” gumam Ki Ageng Singaranu, saat mengetahui siapa adanya nenek
rambut putih riap-riapan itu.
Orang pertama dari Padepokan Singa Lodaya itu beringsut maju ke depan, sedangkan Salindri dan Srinilam dibantu beberapa orang murid, menggotong tubuh Jalu Lampang atau yang berjuluk Singa Jantan Bertangan Lihai menyingkir dari situ. Meski sudah lolos dari maut, namun tenaga sakti laki-laki kekar itu sudah terkuras habis saat bertarung dengan Serigala Hitam Bermata Tunggal. Ki Ragil Kuniran yang sebelumnya terkena racun, kini sudah mempersiapkan diri di belakang Ki Ageng Singaranu. Kepala Desa Watu Belah itu berjaga-jaga jika Ratu Sesat Tanpa Bayangan tidak hanya datang sendirian, tapi membawa bala bantuan yang mungkin saat ini bersembunyi entah dimana.
Matanya tajam mengitari sekitarnya.
“Ratu Sesat ... aku tidak mengusik muridmu, tapi merekalah yang memulai terlebih dahulu. Aku dan
murid-muridku hanya membela diri ... ”
“Aaaahh ... sama saja! Siapa yang memulai, aku tidak peduli! Tua bangka macam kau ini memang harus dihajar agar tahu adat, bicara dengan orang yang lebih tua harus lebih sopan!” potong nenek
berambut putih riap-riapan dengan cepat itu.
“Nenek rambut putih, yang tidak sopan itu siapa? Kau atau ayahku? Berbicara dengan orang harus duduk sama rendah berdiri sama tinggi! Tidak seperti kau! Petantang-petenteng seperti orang gila!”
bentak Ki Ragil Kuniran.
“Bangsat kudisan! Siapa kau, hah ... ? Berani sekali menasehati aku!?! Memangnya aku ini siapamu? Aku ini apamu!?” balas bentak Ratu Sesat Tanpa Bayangan. Sambil berkata, tangan kanannya
bergerak pelan melambai ke depan.
Dalam pada itu, serangkum angin tanpa wujud melesat cepat ke arah Ki Ragil Kuniran. Ketajaman rasa Ki Ageng Singaranu merasakan datangnya desiran angin tajam yang mendekat cepat, lalu
segera mengibaskan telapak tangan ke depan dengan cepat.
Deb! Deb! Bluuub!
Terdengar suara letupan saat dua serangan tanpa wujud bertemu di udara. Meski letupan itu tidak begitu keras, namun telinga semua yang ada di situ terasa seperti ditusuk-tusuk jarum, bahkan beberapa orang sampai berdiri tergontai-gontai menjaga keseimbangan tubuhnya. Ketua Padepokan Singa Lodaya hanya bergeser setengah tindak dari tempatnya berdiri.
“Hi-hi-hi-hik ... tua bangka! Ternyata kau masih kedot juga. Coba terima seranganku berikut ini ... ” Selesai berkata, nenek itu memutar-mutar tongkat ular kobra di atas kepala, sehingga menimbulkan suara dengungan yang semakin lama semakin keras. Putaran tongkat itu mengakibatkan udara di sekitar tempat menjadi mampat dan terasa semakin panas, seperti adanya himpitan kekuatan raksasa. Beberapa saat kemudian, secara perlahan namun pasti, udara seolah-olah semakin menipis, membuat orang-orang yang sejarak delapan tombak dari tempat Ratu Sesat Tanpa Bayangan berdiri, kesulitan bernapas. Andai ilmu yang dimiliki nenek sakti itu setara empat puluh tahun silam, kemungkinan jarak jangkauan udara mampat dan panas bisa mencapai puluhan tombak jauhnya dan
hawa panas yang ditebarkan bisa puluhan kali lebih panas.
“Nilam, singkirkan suamimu dari sini! Salindri, suruh anak-anak mundur sejauh mungkin ... ” Ki Ageng Singaranu segera mempersiapkan diri mengetahui lawan langsung mengerahkan ilmu kesaktian tingkat tinggi. Ke dua belah tangannya terentang lurus ke kanan kiri tubuhnya. Kemudian diputar bersilangan satu sama lain, hingga membentuk semacam gerakan memutar bola di depan dada. Kedua belah tangan itu saling berkutatan seakan-akan sedang memutar-mutar sesuatu. hawa tenaga dalam bernuansa dingin membeku tercipta bersamaan dengan munculnya cahaya putih kebiru-biruan membentuk gumpalan bola padat yang semakin lama semakin membesar. hawa panas
pun saling tindih dengan hawa dingin.
Gumpalan bola itu ditarik ke samping ke kanan, lalu dengan diiringi hentakan kaki kiri serta teriakan membahana, si Dewa Singa Tangan Maut melontarkan gumpalan bola putih kebiru-biruan itu ke arah
nenek yang sedang memutar-mutar tongkat ular kobra.
Weeeshh! Weeeshh ... !
“Jurus ‘Salju Menggulung Badai’!” seru nenek iblis itu.
Nenek sakti yang berjuluk Ratu Sesat Tanpa Bayangan sangat mengenali jurus yang dikeluarkan oleh lawan. Karena jurus ‘Salju Menggulung Badai’ adalah salah satu jurus andalan Ki Dirgatama, musuh besarnya. Dengan ilmu itu pulalah, seluruh anggota Serikat Ular Iblis tewas mengenaskan dengan tubuh beku terbungkus serbuk-serbuk putih akibat lontaran jurus ‘Salju Menggulung Badai’-nya Singa Putih Berhati Iblis. Kini, jurus itu kembali digelar di hadapannya, kali ini oleh salah satu murid si Singa
Putih Berhati Iblis.
Ratu Sesat Tanpa Bayangan semakin gencar meningkatkan tenaga dalamnya. Saat gumpalan putih kebiru-biruan itu semakin mendekat, tongkat ular kobra itu segera memutar dengan cepat, mengerahkan jurus ‘Ular Kobra Menyergap Mangsa’, salah satu bagian dari ‘Tongkat Selaksa Maut
Selaksa Siksa’!
Crett!! Cratt!!
Dari kepala tongkat, keluar cahaya merah berkelok-kelok seperti ular merayap memapaki serangan Ki
Ageng Singaranu.
Breesshh! Bushh ... !
Terdengar suara letupan seperti bertemunya air dan api. Masing-masing pihak merasakan betapa dahsyatnya serangan lawan. Sengatan hawa panas dan dingin saling menerpa satu sama lain. Ki Ageng Singaranu merasakan hawa panas menyengat di sekujur tubuh hingga dari luar tampak merah membara, sedangkan Ratu Sesat Tanpa Bayangan dikungkung hawa sedingin salju hingga di sekujur