• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sang Pewaris – Bab Enam Belas

Dalam dokumen Pendekar Elang Salju (Halaman 82-86)

Air terjun ...

Air mengalir dari ketinggian, kemudian air jatuh ke bawah menghasilkan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Akan tetapi dibalik suara yang keras menggelegar itu, tersimpan suatu keindahan yang tiada duanya. Dedaunan yang terkena percikan air bergoyang-goyang memunculkan irama kehidupan. Burung walet pun beterbangan sambil sesekali menyambar ke atas air,

berkelebatan membelah angin.

Beberapa ekor kadal berwarna kelabu kehijauan nampak bertengger di atas bebatuan sambil menikmati sentuhan sang surya di kulitnya yang licin mengkilat. Beberapa diantara nampak berloncatan dari atas tebing dan meluncur dengan cepat mengikuti arus air terjun, kemudian menyelam untuk beberapa saat dan akhirnya muncul dari cerukan air yang cukup dalam dan akhirnya berenang ke tepian. Adapula yang hilir mudik berenang di telaga yang jernih itu. Pada umumnya kadal memiliki ukuran sebesar ujung jari manusia, tapi berbeda dengan kadal yang menghuni sekitar air terjun ini. Ukurannya jauh lebih kecil dari kadal pada umumnya, tapi sedikit lebih besar dari cecak dengan bentuk kepala yang gepeng menyerupai ular sanca. Namun yang luar biasa adalah panjang badannya yang seperti ular, sekitar satu tombak serta dihiasi dengan sisik-sisik mirip ular yang berkilauan saat tertimpa sinar matahari. Di saat melayang di udara, perutnya mengempis dengan sedemikian rupa hingga menyerupai bilah bambu yang dibelah tipis dengan delapan kaki

yang saling merapat ke badan.

Itulah binatang istimewa yang bernama Kadal Ular Berbisa Mata Tiga. Jangan ditanya bagaimana kehebatan racunnya, sekali tergigit kadal ular jika dalam sepeminuman teh tidak mendapatkan penawarnya bisa mengakibatkan kematian. Kumpulan binatang unik itu memang bukan satwa liar pada umumnya, tapi peliharaan seorang tokoh kosen yang menghuni goa di balik air terjun, seorang tokoh yang kemana-mana selalu membawa kitab kumal dan bertongkat bambu berwarna hitam kebiruan. Siapa lagi tokoh dengan ciri khas unik seperti itu jika bukan si Kutu Buku Berbambu Ungu, yang beberapa tahun belakangan ini lebih banyak mengasingkan diri dari pada berkeliaran di rimba persilatan.

Si Kutu Buku Berbambu Ungu sebenarnya tidak memiliki tempat tinggal yang tetap, dia bisa tinggal dimana saja dengan beralas bumi dan beratap langit sudah cukup baginya. Namun pada akhirnya, karena usia yang sudah semakin menaik, mendekati usia senja membuat dirinya memutuskan untuk menetap di suatu tempat tertentu. Pada akhirnya dia memutuskan untuk menetap di goa di balik air terjun itu setelah sebelumnya menghadiri pengangkatan ketua baru Perguruan Gerbang Bumi. Meski bukan termasuk dari Lima Perguruan dan Partai terkenal rimba persilatan, tapi ketua lama Perguruan Gerbang Bumi adalah sahabat karibnya ketika masih kecil, bisa dikatakan seperti saudara sendiri. Kaum persilatan menjulukinya Si Harimau Buas yang kondang dengan ‘Tenaga Sakti Gerbang Inti Bumi’-nya.

Oleh Si Harimau Buas, si Kutu Buku Berbambu Ungu disarankan agar menempati tempat mereka bermain-main waktu kecil dahulu, tepatnya pada goa di balik air terjun yang masih berada di wilayah Perguruan Gerbang Bumi. Selain bisa bertemu kapan saja juga sekalian merawat tempat yang begitu indah rupawan agar tidak rusak. Bahkan beberapa ekor Kadal Ular Berbisa Mata Tiga ikut berpindah ke tempat itu sebagai hewan peliharaannya. Kakek bertongkat bambu menyetujui saja, dan begitulah sejak saat itu terdapat penghuni baru lengkap dengan hewan peliharaannya. Dua tahun kemudian, si Kutu Buku Berbambu Ungu menemukan tubuh pingsan gadis remaja akibat terkena gigitan kadal peliharaannya. Akhirnya, gadis berusia dua belasan tahun bernama Rintani itu diambil menjadi anak angkat sekaligus sebagai murid penutup untuk mewarisi ilmu silat dan jurus tongkat ciptaannya yang bernama ‘Ilmu Tongkat Daun Bambu Melayang‘ agar tidak musnah dibawa mati. Sejak saat itu bertambah satu lagi penghuni baru di tempat itu. Begitulah, sepuluh tahun pun berjalan tanpa terasa. Kadal Ular Berbisa Mata Tiga yang pada mulanya berjumlah beberapa ekor itu kini menjadi ratusan ekor jumlahnya. Jika bulan purnama penuh, telaga itu akan berubah menjadi tempat pesta pora dari kawanan kadal badan panjang itu. Semua tumpah ruah menjadi satu. Tak peduli besar kecil dan tua muda, bahkan kadal betina yang sedang mengerami telurnya pun akan menyempatkan diri untuk menikmati indahnya sinar bulan. Rintani pun tumbuh menjadi gadis cantik berkulit sawo matang dengan postur tubuh padat berisi. Meski wajah cantiknya biasa saja seperti gadis kebanyakan, dengan tubuh tinggi semampai serta potongan tubuh yang cukup sempurna. Mata bulat dengan dihiasi hidung mancung serta sepasang alis cukup tebal dan gigi putihnya berbaris rapi. Bibirnya yang tipis merah merekah tanpa pemerah bibir ditingkahi dengan sebentuk tahi lalat kecil di pipi kiri menambah kemanisannya. Rambut hitam kelam yang adakalanya diikat ekor kuda sehingga memperlihatkan leher jenjangnya. Ibarat bunga yang sedang mekar-mekarnya, sehingga nampak sedap dipandang mata. Kesukaannya memakai pakaian serba coklat sehingga nampak serasi dengan kulitnya yang sawo matang. Berbeda dengan kakek bertongkat bambu berwarna hitam kebiruan, usianya juga sudah semakin tua, ibarat lentera sudah kehabisan minyak semakin hari semakin payah saja. Meski begitu, semangatnya masih kuat. Saat usianya mendekati delapan puluh tahun, kakek itu tanpa sengaja menemukan khasiat lain dari hewan peliharaannya. Tubuh yang semula sering sakit-sakitan, kadang sering pingsan tanpa sebab berubah menjadi sehat setelah tanpa sengaja memakan sebutir telur kadal! Waktu itu tubuhnya kadang panas kadang dingin selama tiga hari berturut-turut, bahkan dia pernah berpikir mungkin seperti itulah rasanya jika orang mau mati. Pada hari keempat dia pingsan setengah harian, hingga membuat Rintani kelabakan, bahkan si Harimau Buas yang pada saat itu sedang berkunjung ke tempat itu karena mendengar sahabatnya menderita sakit panas dingin, sudah

menduga kalau temannya pasti menelan telur kadal ular.

Bekas ketua Perguruan Gerbang Bumi tahu betul apa akibat menelan telur kadal ular itu, sedangkan dirinya saja akan berpikir ribuan kali jika disuruh menelan telurnya apalagi sampai memakan daging

Kadal Ular Berbisa Mata Tiga.

Rintani dan si Harimau Buas menunggui tubuh pingsan si Kutu Buku Berbambu Ungu setengah harian lamanya. Tubuh kakek tua yang semula terbujur lemas, mendadak bangun seperti orang kaget karena tersengat lebah. Tentu saja yang paling kaget adalah Rintani dan si Harimau Buas.

“Ayah!!” seru Rintani dengan kaget.

“Dasar kutu busuk, buat apa pakai acara pingsan-pingsanan, seperti gadis perawan saja kau! Bangun pun bikin orang jantungan!” bentak Si Harimau Buas sambil mengurut-urut dadanya yang berdebar

kencang. Dia memang terbiasa menyebut teman karibnya itu dengan sebutan ‘kutu busuk’. “Hei, macan tengik! Siapa yang main pingsan-pingsanan? Aku tadi sedang berjuang antara hidup dan mati.” sahut kakek itu sambil bangun dari tidurnya, “ ... enak saja kalau ngomong! Kau tidak senang kalau aku masih hidup, hah!?” semprot Kutu Buku Berbambu Ungu. “Ha-ha-ha-ha! Rupanya kau sudah benar-benar sehat sekarang! Buktinya, mulut nyinyirmu itu sudah

kumat lagi.”

“Uhh, dasar sial kau!”

Akhirnya dua teman karib itu saling berpelukan erat.

Jika orang lain yang mendengar percakapan mereka, tentu akan berpikiran bahwa mereka berdua sedang bermusuhan satu sama lain, tapi begitulah si Harimau Buas dan si Kutu Buku Berbambu Ungu. Meski saling ejek dan saling maki, mereka tetap akrab, tak ada dendam atau pun kebencian apalagi perselisihan justru mereka makin akrab dengan saling mengejek seperti itu. Begitulah, sakit yang diderita oleh si Kutu Buku Berbambu Ungu hilang lenyap tak berbekas dan bagi si Harimau Buas merupakan penemuan yang menakjubkan sekaligus mendatangkan ide cemerlang di otaknya yang karatan itu, yaitu membuat ramuan obat-obatan dengan bahan utama telur kadal ular! Rintani pun juga kecipratan rejeki tak terduga. Selain ilmu pengobatannya bertambah juga mendapat tambahan ilmu jurus tendangan dari si Harimau Buas yang bernama ‘Belalang Salto Menerjang Batu’. Jurus ini harus dilakukan dalam posisi bersalto kemudian melakukan tiga kali serangan kaki ke arah bagian kepala, terutama di ubun-ubun dengan posisi kepala tetap dibawah saat melakukan jurus ini. Pada mulanya Rintani agak kesulitan melakukan gerakan dari jurus ‘Belalang Salto Menerjang Batu’. Kalau hanya gerakan jungkir balik atau salto saja bisa dia lakukan, tapi jika harus salto sambil melakukan tendangan beruntun dengan posisi kepala tetap berada dibawah, merupakan kesulitan tersendiri baginya. Pada hari kelima, barulah ia berhasil menguasai jurus itu, meski pun masih banyak

celah-celah yang bisa ditembus oleh lawan.

“Jurus ini mengutamakan kecepatan dan ketepatan dalam serangan. Aliran tenaga dalam pun juga harus sesuai, tidak kurang dan tidak lebih. Jika aliran tenaga dalammu tidak stabil akan mengakibatkan dirimu terpelanting seperti kejadian tempo hari.” ujar si Harimau Buas pada Rintani, “Jadi, usahakan kau harus bisa memusatkan tenaga dan konsentrasimu dengan baik. Ingat, kawan masih bisa mengampunimu, tapi tidak untuk lawan. Camkan itu!”

“Baik, paman!”

“Lebih kau istirahat saja, hari pun sudah menjelang sore. Aku mau menemui guru di dalam goa.” “Saya masih ingin menjajal jurus ini lagi, paman.” kata Rintani dengan tegas.

“Bagus, tapi ingat pesanku tadi.”

“I ya, paman!”

Rintani pun kembali berlatih lagi. Mula-mula ia melatih kembali ‘Ilmu Tongkat Daun Bambu Melayang‘ ajaran guru sekaligus ayah angkatnya. Tubuhnya berkelebatan cepat diiringi suara kesiuran tongkat panjang yang menderu-deru. Tenaga dalam pun dinaikkan setingkat demi setingkat. Gerakan tongkat bambu panjang pada intinya hanya mengait, menangkis, menusuk, memutar, menempel dan menebas saja, namun yang luar biasa adalah pergeseran jurus tongkat yang tak terduga. Saat Rintani sedang mengait ke atas, baru setengah jalan sudah berganti dengan tebasan cepat bertenaga. Wuuung!

Tak pelak lagi, dedaunan yang terkena sambaran angin yang diakibatkan oleh jurus tongkat bambu itu berhamburan kesana kemari mengikuti arah gerak tongkat, hingga nampak daun-daun kering itu melayang-layang di udara seoalh ada tangan-tangan yang sedang bermain.

Di depan goa ...

“Lugita, bagaimana menurutmu kepandaian muridku itu?” kata si Kutu Buku Berbambu Ungu

menyebut nama asli si Harimau Buas.

“Hemm, jurus tongkat muridmu itu makin lama makin bagus saja, Bargawa,” kata si Lugita alias si Harimau Buas, “ ... aku iri padamu yang memiliki murid secerdas itu. Kulihat hawa tenaga dalamnya

juga semakin matang.”

“Ha-ha-ha! Kau terlalu memuji kawan. Bagaimana dengan anakmu si Seto Kumolo itu? Apa ‘Tenaga Sakti Gerbang Inti Bumi’-nya sudah mencapai tingkat terakhir?” tanya si Kutu Buku Berbambu Ungu

yang ternyata bernama asli Bargawa itu.

“Huh, anak itu makin hari makin dogol saja! Sampai sekarang baru mencapai tingkat sebelas.

Benar-benar payah dia.” jawab Harimau Buas dengan bersungut-sungut.

Bargawa hanya manggut-manggut saja sambil mengelus jenggot putihnya, batinnya, “Seto Kumolo sudah sampai tingkat ke sebelas dari dua belas tingkat yang ada, padahal usianya lebih tua dua tahun dari Rintani. Setahuku si macan tengik ini mencapai tingkat sebelas menjelang usianya empat puluh

tahun. Edan, masak seperti itu dibilang dogol?”

Harimau Buas. “Ehmm.”

Pada saat itu Rintani mulai melakukan gerakan dua kali salto, lalu sepasang kakinya bergantian melakukan gerakan menendang dengan cepat ke arah tiga jurusan yang berbeda dengan posisi kepala tetap berada di bawah. Ketepatan dan kecepatan dalam hal ini sebagai kunci penentu berhasil

tidaknya melakukan jurus ‘Belalang Salto Menerjang Batu’!

Wutt! Debt! Debb! Debb!

Setelah melakukan tendangan tiga secara beruntun, Rintani langsung melakukan liukan tajam ke bawah sambil melakukan ayunan tongkat bambu dengan cepat melalui jurus ‘Daun Berguguran Jatuh Ke Bumi’ dimana tongkat panjangnya melakukan gerakan sapuan-sapuan pendek diikuti dengan

hempasan tenaga dalam yang tinggi.

Wutt! Wushh!!

Daun-daun kering pecah beterbangan menjadi serpihan saat terlibas hempasan yang terangkum rapi

dengan tenaga dalam tinggi milik Rintani.

“Hebat! Muridmu benar-benar hebat, Bargawa!”

“Sudahlah! Ayo masuk ke dalam, aku punya sesuai untukmu,” kata si Kutu Buku Berbambu Ungu. “Apa?”

“He-he-he, pepes telur kadal! Mau nggak?” katanya lagi sambil menjungkit-jungkitkan alisnya. “Nggak!”

Akhirnya dua orang itu tertawa terbahak-bahak sambil berangkulan masuk lebih ke dalam goa, karena goa di balik air terjun itu memiliki empat ruangan yang cukup lebar dan lega. Sementara itu, gadis murid si Kutu Buku Berbambu Ungu pun telah selesai melatih jurus-jurus silatnya. Saat ini sedang melakukan pernafasan untuk menata kembali aliran tenaga dalam yang baru saja digunakan. Beberapa saat kemudian, nafasnya sudah normal kembali seperti sediakala. Ia pun menyeka peluh yang menetes dari dahinya. Seluruh tubuh gadis itu nampak berkeringat menimbulkan aroma khas seorang dara muda. Keringat yang membasahi tubuh sintal itu nampak mencetak ketat lekukan-lekukan indah terutama di bagian dada yang membusung kencang, seolah tidak bisa di sembunyikan lagi dari balik pakaian coklat yang dikenakannya. “Wah tubuhku berkeringat begini, lebih baik aku mandi sekalian saja di dalam telaga.” gumamnya, “... ayah kalau sudah ketemu paman Lugita, pasti akan ngobrol terus hingga tengah malam. Lebih baik aku mandi dulu, lalu berburu di hutan sebelah sana. Hemm, siapa tahu dapat ayam hutan lagi seperti kemarin.”

Air terjun itu jarang sekali diinjak oleh manusia, selain disekitar tempat itu banyak terdapat binatang-binatang berbisa, juga merupakan daerah larangan bagi murid Perguruan Gerbang Bumi untuk mendekati tempat itu apalagi sampai memasukinya. Siapa saja yang melanggar larangan tersebut akan mendapat hukuman yang cukup berat. Hanya ketua Perguruan Gerbang Bumi dan orang-orang tertentu saja yang boleh memasuki tempat larangan itu. Seto Kumolo dan Ki Lugita saja yang tahu kalau tempat terlarang itu dihuni oleh si Kutu Buku Berbambu Ungu dan muridnya. Gadis itu nampak berkelebat cepat ke sisi kanan air terjun menembus lebat rerimbunan dedaunan dan beberapa saat kemudian nampak keluar lagi sambil tangan kirinya membawa seperangkat pakaian ganti. Pakaian ganti warna coklat itu diletakkan di sebuah batu hitam berbentuk datar yang ada di situ. Lalu dengan tenang Rintani melolos sabuk kain yang melilit pinggang rampingnya diikuti melepas kancing baju dan pakaian yang dikenakan oleh gadis itu. Terlihat sebentuk tubuh dara muda yang masih terbalut baju dalam tipis coklat muda yang menutupi sepasang payudara bulat penuh yang membusung kencang, sehingga semakin merangsang daya khayal laki-laki yang melihatnya. Beberapa saat kemudian dia telah melepas baju dalam tipis coklat muda diikuti dengan celana coklat

setinggi lutut pun terlepas dari kakinya.

Praktis, terpampanglah sebentuk keindahan yang menggiurkan para perjaka! Kemudian gadis cantik bertubuh mulus itu langsung terjun ke dalam telaga. Byurr!!

Air semburat saat gadis itu menceburkan diri ke dalam telaga. Sergapan hawa sejuk menggantikan rasa panas menyelimuti tubuhnya. Gadis itu berenang kesana kemari dengan gembira. Tubuh mulus gadis tampak semakin jelas karena jernihnya air telaga tersebut. Beberapa ekor kadal ular nampak berebutan mendekati tubuh sintal gadis, seperti tangan-tangan perjaka yang ingin menjamah setiap bagian tubuh indah Rintani. Bahkan seekor Kadal Ular Berbisa Mata Tiga dengan berani melingkari leher gadis itu lalu kepalanya yang gepeng meluncur cepat ke arah kiri dan sasarannya adalah ...

Ujung bukit kembar si gadis!

Meski sambil berenang, Rintani tetap tidak hilang kewaspadaannya, dengan cepat menangkap tangan kanan bergerak cepat menangkap kepala makhluk panjang tersebut. Tepp!

“Hi-hi-hi, jangan nakal ya?” katanya sembari menarik lepas Kadal Ular Berbisa Mata Tiga yang nakal

dan melepaskan kembali.

Begitulah, sambil membersihkan diri, gadis murid Kutu Buku Berbambu Ungu bermain-main dengan binatang berbisa itu. Dan itu dilakukan hampir setiap hari. Adakalanya ia mandi di tengah telaga, tak jarang pula ia bersemadi sambil bertelanjang bulat di bawah derasnya air terjun sekaligus berlatih

tenaga dalam.

Setelah puas bermain-main dan membersihkan diri, gadis itu berenang ke tepian, ke arah batu datar dimana ia meletakkan pakaian gantinya. Saat berenang itulah, tampak di pundak sebelah kiri terdapat sebentuk lukisan kecil berwarna biru terang dengan garis tepi kuning keemasan berbentuk bintang segi lima sejumlah tiga. Lukisan bintang segi lima itu nampaknya bukan sembarang lukisan tapi memiliki arti tertentu, karena sebenarnya lambing itu adalah salah satu dari lambang Delapan Bintang

Penakluk Iblis!

Sedangkan yang tertera di pundak gadis itu bintang ke tiga dari Delapan Bintang Penakluk Iblis yang ada di dunia. Bahkan Paksi Jaladara dan Tabib Sakti Berjari Sebelas pun tidak mengetahui perihal adanya Delapan Bintang Penakluk Iblis, meski di tubuh pemuda hasil didikan Lembah Badai tertera lambang bintang itu, karena bintang itu letaknya tersembunyi di tengkuk agak ke atas.

Bintang ke satu!

Jadi selain memiliki Rajah Elang Putih, pemuda sakti murid si Elang Berjubah Perak itu juga memiliki salah satu lambang dari Delapan Bintang Penakluk Iblis tersebut. Rintani akhirnya selesai berpakaian lengkap dengan tubuh segar bugar setelah mandi di dalam telaga yang berair sejuk itu. Wajah tampak berseri-seri sambil bibirnya menyunggingkan senyuman tipis nan menawan, mematut-matut diri sebentar sambil mengikat rambut hitam panjangnya menjadi ekor kuda. Meski sudah mengenakan pakaian lengkap, tetap tidak bisa menyembunyikan tubuh padat berisi itu. Kemudian gadis itu berkelebat cepat ke arah hutan mengerahkan segenap ilmu peringan tubuh sambil tak lupa menyambar tongkat bambu hitamnya yang diletakkan atas batu datar. Tubuh itu berloncatan dengan cepat di antara dahan-dahan pohon bagai kera yang lincah.

Tepp! Wwess!!

Pijakan kakinya terlihat ringan saat kakinya menutul daun-daun yang diinjak ujung kaki gadis itu, dimana daun-daun itu hanya bergoyang-goyang sedikit saja.

Dalam dokumen Pendekar Elang Salju (Halaman 82-86)