"Gila! Dua senopati telah tewas!" pikir Kucing Iblis Sembilan Nyawa sambil berjumpalitan menghindari serangan tombak di tangan Nawala. "Aku harus pergi dari tempat ini!" "Kucing garong! Lebih baik kau menyerah saja!" kata Nawala sambil memutar tombak panjang setengah lingkaran untuk menepis serangan pedang dari perempuan berbaju ketat hitam-hitam itu. Syutt!
Bagai ular yang menempel di pohon, ujung tombak tahu-tahu telah mematuk tangan kanan yang
menggenggam pedang.
Crepp!
Ujung mata tombak menusuk dalam hingga tembus ke pergelangan tangan dan tanpa bisa di cegah, pedang di tangan kanan si Kucing Iblis Sembilan Nyawa jatuh diikuti dengan suara kerontangan. Klangg!
Nawara yang saat itu masih melesat ke atas, tidak menyia-nyiakan kesempatan emas yang diciptakan saudara kembarnya. Wanita cantik berbaju putih-putih dengan sulaman rajawali langsung menukik ke bawah dalam gerak jurus 'Rajawali Emas Mengincar Kelinci' digabung dengan jurus 'Pedang Menari
Diantara Kumpulan Rajawali'!
Syutt! Sratt!
Hawa pedang segera mengepung ruang gerak Kucing Iblis Sembilan Nyawa yang masih terpana
dengan tusukan tombak Nawala.
Cras! Crass!!
Tanpa sempat menghindar, tubuh wanita sesat itu segera tercacah rapi menjadi puluhan bahkan mungkin ratusan potong. Sampai-sampai potongan tangan kanan masih tertusuk di ujung tombak Nawala. Waktu saat tertusuknya tangan kanan dengan serangan mematikan Nawara hanya
sekedipan mata saja.
Crepp! Crepp!
antara potongan-potongan tubuh Kucing Iblis Sembilan Nyawa yang hampir meluruk jatuh ke tanah.
Blukk! Bluuk!
Seperti yang sudah diduga sebelumnya, potongan tubuh Kucing Iblis Sembilan Nyawa bergetar keras, kemudian secara aneh dan sulit diterima dengan akal sehat, potongan tubuh kembali menyatu, utuh seperti sediakala. Itulah salah satu ilmu andalan yang dimiliki oleh murid Ratu Siluman Kucing yang
bernama Ilmu 'Rawa Rontek'!
"Hi-hi-hik, dasar cah gemblung! Ribuan kali kau cacah tubuhku, maka ribuan kali pula tubuhku akan kembali seperti sediakala!" ucap Kucing Iblis Sembilan Nyawa sambil terkekeh-kekeh. "He-he-he! Nawara, rupanya otak kucing kecil ini sudah karatan! Mau mampus saja masih pentang
bacot!" timpal Nawala.
Nawara langsung mendekati Nawala yang masih berdiri dengan tombak tegak di tangan kanan, sambil berbisik pelan, "Nawala, bagaimana ini? Kalau begini terus kita pasti kelelahan menghadapi
dia? Sudah delapan kali kita ... "
"Tenang saja! Kali ini kucing jelek itu pasti mampus!" kata Nawala dengan suara agak keras. Hal ini memang disengaja agar terdengar oleh lawan yang saat itu masih tertawa terbahak-bahak, bahkan tawanya semakin keras mendengar perkataan pemuda yang paling dibencinya.
"Kenapa kau begitu yakin?" tanya Nawara pelan.
"He-he-he, lihat saja di ujung Tombak Ekor Nagaku!" kata Nawala sedikit keras. Nawara dengan sedikit terheran-heran mendongak ke atas, bahkan Kucing Iblis Sembilan Nyawa merasakan sesuatu getaran aneh pada tubuhnya pun ikut-ikutan memandang ujung tombak yang di
pegang Nawala.
Empat pasang mata melotot sesuatu yang tertancap ujung Tombak Ekor Naga, ternyata selain potongan tangan kanan sebatas pergelangan, terdapat pula sebuah benda warna merah hati dan merah tua yang masih berlumuran darah tertusuk seperti sate.
Yaitu ... hati dan jantung!
Tawa Kucing Iblis Sembilan Nyawa berubah menjadi jeri kengerian! "Kapan ... Bocah keparat itu menusuk jantung dan hatiku? Celaka dua belas!" pikir Kucing Iblis Sembilan Nyawa kebat-kebit, "Dalam dua puluh kali tarikan napas, aku harus bisa mendapatkan
bagian jantung dan hati itu kembali!"
"Kucing garong! Sekarang apa yang bisa kau lakukan tanpa jantungmu?" Sambil menghela napas panjang, "Bocah tampan, kau menang! Kembalikan jantung dan hatiku, cepat!"
"Eee ... yang memberi perintah seharusnya itu aku, bukan kau! Atau apa kau mau benda busuk ini aku berikan pada anjing liar, hah!" gertak Nawala sambil memutar-mutar tombak di tangan kanan. Tubuh wanita pemuja kucing tampak mengkerut menahan sakit, di tambah ancaman pemuda
bertombak panjang itu semakin membuat tubuhnya menggigil.
"Ja ... jangan ... aku ... mohon ... " terbata-bata wanita sesat itu saat berkata. "Berikan ... Cepat
berikan padaku!" Lanjutnya sambil duduk demprok ditanah.
Ini adalah untuk pertama kali dalam hidupnya, ia meratap-ratap minta ampun selain itu sisa waktu yang dimilikinya semakin sedikit, kurang lebih tinggal sepuluh sebelas tarikan napas lagi. Jika lebih
dari itu, bisa dipastikan ia akan abadi di alam kematian!
Tiba-tiba, dari arah kegelapan malam, melesat cepat sesosok bayangan putih, dimana bayangan putih itu langsung melompat tinggi ke atas melewati ujung mata Tombak Ekor Naga yang berada di
genggaman tangan Nawala.
Pemuda itu kaget bukan main!
Namun sebagai pemuda yang telah terlatih olah kanuragan tentu memiliki daya refleks yang tidak perlu diragukan lagi. Dengan kecepatan sulit diikuti mata, Nawala segera menarik tombak memutar ke samping.
Swesshh!
Tetap saja sosok bayangan putih berhasil melompati ujung tombak dan kini berada sepuluh langkah dari belakang Nawala. Pemuda itu segera membalikan badan setelah sebelumnya melihat pada ujung tombaknya tidak terdapat lagi jantung dan hati milik Kucing Iblis Sembilan Nyawa, yang tersisa
hanyalah potongan tangan kanan.
Ternyata sosok bayangan yang melompati ujung Tombak Ekor Naga adalah seekor harimau besar
berbulu putih!
Mulutnya terlihat mengunyah-ngunyah sesuatu yang bisa dipastikan adalah jantung dan hati manusia. Bagaimana pun juga binatang tetaplah binatang, tidak bisa melewatkan begitu saja daging mentah
yang terendus oleh hidungnya.
"Harimau putih ... ?" gumam Nawala kaget.
bisa menyembunyikan kebuasan yang terpancar dari mata si raja hutan. "Ini ... harimau liar atau ada orang yang memeliharanya?" kata Nawara dalam bentuk tanya. "Entahlah ... " sahut Nawala, lalu sambil menoleh pada lawannya yang masih duduk berlutut, ia berkata, "Kucing sial! Tampaknya umurmu habis pada malam ini saja. Maaf aku tidak bisa membantumu."
Dengan terengah-engah, Kucing Iblis Sembilan Nyawa berusaha berkata, "Heh ... hh ... jik .. ka bukan
... karen ... na perbu ... atanmu ... akhu ... "
Sampai disini saja, sepasang mata Kucing Iblis Sembilan Nyawa melotot liar, lidahnya menjulur-julur keluar seolah sedang berusaha mempertahankan sesuatu, namun akhirnya dengan sentakan keras, tubuh wanita sesat itu luruh ke tanah, sambil berkelojotan seperti ayam habis disembelih. Sebentar
kemudian, ia diam.
Mati!
Sepasang Naga Dan Rajawali saling pandang. Tidak pernah disangkanya bahwa wanita sesat pemuja Siluman Kucing itu harus mati merana tanpa memiliki jantung dan hati. Sambil menghela napas panjang, Nawala meraih potongan tangan yang masih tertancap di ujung tombak dan melepasnya dengan gerak pelan. Lalu beranjak mendekati sosok kaku si wanita berbaju hitam ketat. Setelah berada dekat, ia meletakkan potongan tangan sambil berjongkok, lalu berkata, "Ini tanganmu aku kembalikan. Andai dewata menakdirkan dirimu menitis kembali, jadilah wanita biasa saja. Jangan
jadi kucing!"
Sedangkan Nawara mendekati pedang yang tadi digunakan oleh Kucing Iblis Sembilan Nyawa. "Hemm, ini pedang pusaka. Entah darimana ia mendapatkan pedang sebagus ini. Heh, sayangnya sudah dilumuri dengan racun," keluh Nawara sambil mengamat-amati pedang bergagang kepala rajawali bertolak belakang yang kini berada di genggaman tangannya.
Lalu ia merogoh ke dalam saku baju sebelah kiri.
"Semoga dengan bubuk penawar racun ini bisa menetralkan racun yang ada di bilah pedang." Bilah pedang diletakkan di atas tanah, lalu ditaburi dengan bubuk berwarna kuning gading berbau harum bunga. Terdengar suara desisan nyaring saat bubuk penawar racun menyentuh bilah pedang, lalu diikuti keluarnya asap berwarna abu-abu pekat berbau busuk.
Bwushh ... !
Sampai pada lima helaan napas, asap abu-abu semakin memudar, bau busuk makin menipis dan lima helaan napas berikutnya hilang sirna, yang tersisa hanyalah kepulan asap warna kuning temaram disertai bau harum bunga. Warna pedang yang semula hitam abu-abu berubah menjadi hijau kekuning-kuningan, bahkan terlihat jelas aura pedang yang menyelimuti bilah pedang.
Menyala terang di malam hari!
"Bagus!" seru Nawara dengan gembira.
Pedang bergagang kepala rajawali segera dimasukan ke dalam sarung pedang, setelah sebelumnya sarung pedang dilepaskan dari punggung mayat Kucing Iblis Sembilan Nyawa.
"Nawara, lebih baik pedang itu kau yang simpan saja!"
"Aku juga berpikiran begitu ... Tapi bagai dengan pedangku sendiri?" "Gampang! Pedangmu kan hanya terbuat dari baja, meski baja pilihan tapi bukan pedang pusaka seperti yang kau pedang sekarang ini. Suatu saat bisa saja pedangmu itu patah." "Benar juga katamu! Baiklah kalau begitu!" ksata Nawara pada akhirnya setelah termenung beberapa lama.
Mata naga Nawala mengedar ke sekitar, dan akhirnya terpaku pada pertarungan antara Bidadari Berhati Kejam yang bersenjatakan Pedang Pusaka Besi Kuning yang dibantu oleh Wanengpati yang saat ini telah menggunakan Keris Kiai Wisa Geni di tangan kanan sedang tangan kiri melancarkan jurus '108 Cakar Perpooh Sukma' untuk menghadapi Ratu Siluman Kucing yang telah menjelma
menjadi seekor kucing raksasa.
Beberapa bagian tubuh dua tokoh sakti itu terlihat mengeluarkan darah segar akibat cakaran lawan. Meski dikeroyok dua orang pendekar, akan tetapi kucing jejadian itu masih terlihat tangguh, bahkan terdesak pun tidak. Beberapa kali Bidadari Berhati Kejam harus mengumpat sambil jungkir balik
menghindari sabetan ekor kucing raksasa itu.
Pada saat jungkir balik itulah, harimau berbulu putih masuk ke kancah pertarungan, bukan menyerang nenek pemarah atau pun Wanengpati si dalang muda, tetapi justru menyerang kucing hitam raksasa
dengan terkaman tinggi.
Graauwh!!
Ratu Siluman Kucing kaget mendapati serangan yang tidak diduganya, bahkan untuk menghindar pun sudah sulit sekali. Tubuh harimau berbulu putih memiliki tinggi dan besar yang hampir sama dengan sosok kucing hitam raksasa, tentu saja bobot puluhan kati langsung menghantamnya dengan suara keras.
Bukk!
Terlihat gigi harimau yang besar dan kuat menancap dalam-dalam di leher Ratu Siluman Kucing, yang berusaha keras melepaskan diri dari gigitan harimau berbulu putih. Dua makhluk beda jenis dan beda bentuk saling berguling-guling di tanah diikuti dengan suara gerengan kucing dan auman harimau.
Miaauww, miaauww ... !! Graauwh!!
Pesona pertarungan telah berubah dan tersisa dua arena saja. Di sisi barat terlihat berkutat seru antara Setan Nakal yang mengandalkan Ilmu 'Api Neraka Biru' yang sekarang telah digunakan hingga tingkat sembilan dengan lawan tanding gadis cantik dari Jurang Tlatah Api yang mengandalkan Kipas Naga Sutera Merah disertai dengan hawa tenaga berbentuk naga merah yang berasal dari
pengerahan 'Tenaga Sakti Naga Langit Timur'.
Sedang di sisi tenggara terjadi pertarungan hidup mati antara Ratu Siluman Kucing yang telah menjelma menjadi kucing hitam raksasa dengan seekor harimau berbulu putih yang entah darimana datangnya, langsung terjun ke dalam kancah pertarungan menggantikan pertarungan yang sebelumnya diawali oleh Bidadari Berhati Kejam yang kemudian dibantu oleh Wanengpati. Meski dikeroyok dua orang, tetap saja mereka keteter. Tusukan Keris Kiai Wisa Geni dan Pedang Pusaka Besi Kuning bagai menyentuh tembok baja saat berhasil menyentuh bagian tubuh dari lawan. Bidadari Berhati Kejam langsung menyeret tubuhnya, sambil menotok beberapa kali untuk menghentikan pendarahan, demikian halnya dengan Wanengpati. Tubuh pemuda berbaju dalang terlihat cakaran panjang di bagian dada dan punggung, meski tidak terlalu parah, namun saja pedih
sangat mengganggu saat ia mengerahkan jurus-jurus silat.
"Biarkan saja dua kucing itu saling cakar-cakaran sendiri. Syukur-syukur dua-duanya mampus," gerutu Bidadari Berhati Kejam sambil menyarungkan Pedang Pusaka Besi Kuning. "Jangan begitu, Nini! Harimau putih itu telah menolong kita dari maut. Setidaknya kita wajib berterima
kasih padanya." sela Wanengpati.
"Huh, tanpa dibantu olehmu dan harimau sialan itu, aku pasti bisa membereskan kucing tengik itu!"
kata Bidadari Berhati Kejam tidak mau terima kalah.
"Sampai kapan? Sampai kau berubah jadi daging cincang, begitu!?" tukas Raja Pemalas yang sudah
siuman dari pingsannya.
"Kau ... !?"
"Apa ... !? Mau mengajak berantem? Ayo!" bentak Seru Raja Pemalas sambil berusaha bangkit berdiri.
"Sudahlah! Kalian ini dari dulu tidak pernah akur satu sama lain. Lalu apa bedanya kalian dengan kucing dan harimau yang saling cakar itu?" cela Raja Penidur sambil bersandar di sebatang pohon. Bidadari Berhati Kejam hanya mendengus saja.