• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sang Pewaris - Bab Empat Puluh Enam

Dalam dokumen Pendekar Elang Salju (Halaman 195-198)

Gadis Naga Biru, putri tunggal Majikan Wisma Samudera sendirian menghadapi lawan yang tidak ringan. Seorang laki-laki berkepala serigala coklat bermata merah darah berdiri tegak dihadapannya, sedang tepat dibelakangnya berdiri tiga siluman serigala dengan bentuk dan rupa sejenis dengan sang pimpinan. Seluruh tubuh penuh bulu-bulu coklat kehitaman yang terlihat samar-samar. Dialah Senopati Segawon Alas, senopati berdarah campuran antara manusia murni dengan siluman serigala tulen. Begitu melihat lawan dihadapannya adalah seorang gadis cantik jelita, air liur Senopati

Segawon Alas menetes terus tiada henti.

"Hehehe, dia masih perawan," katanya sambil mendengus-dengus, "Pasti darah dan dagingnya

terasa nikmat di lidah. Betul begitu, kawan-kawan?"

"Auuung ... auuung ... "

Suara lolongan serigala menggema bersahut-sahutan, langsung membuat bulu kuduk Gadis Naga Biru meremang berdiri saat telinganya menangkap raungan serigala haus darah. Tanpa sadar,

kakinya mundur setindak.

Akan halnya Ayu Parameswari dan Nawara berhadapan dengan siluman bermuka kuda dengan

rumbai hitam di belakang kepala.

Senopati Jaran Panoleh!

Seluruh Pasukan Kuda Iblis yang terdiri dari lima belas orang siluman kuda berkepala manusia berbaris rapi di belakangnya. Seketika napas Senopati Jaran Panoleh mendengus-dengus liar mengetahui dua gadis muda cantik jelita berdiri menantang dihadapannya. Hasrat membara di dalam dirinya bagai disulut dengan api, berkobar-kobar menginginkan pelampiasan. "Tidak bisa menikmati tubuh Taksaka Sunti, justru digantikan dua gadis cantik dari alam manusia ... hemm ... tidak ada jeleknya," pikirnya memelototi tubuh indah Ayu Parameswari dan Nawara saling

bergantian. "Betul-betul sempurna!" katanya diiringi dengan ringkikan kuda.

Hiieeeghh ... !

Tentu saja dua dara cantik itu merasa diri mereka ditelanjangi oleh tatapan liar lawan!

"Dasar siluman keparat!" desis lirih Nawara.

Sepasang pedang dilolos dari balik punggung secara perlahan.

Srrang! Sriing!

Dua pedang yang sama-sama bergagang kepala rajawali bertolak belakang telah keluar dari sarungnya, dan siap menghirup darah lawan. Pedang putih keperakan di tangan kiri, sedang tangan kanan memegang sebilah pedang bersinar hijau kekuning-kuningan. Pada mulanya pedang ini berada di tangan Kucing Iblis Sembilan Nyawa yang telah tewas tanpa memiliki jantung dan hati. Melihat pedang bersinar hijau kekuning-kuningan berada di tangan Nawara, Senopati Jaran Panoleh tersentak. "Bagaimana mungkin Pedang Giok Hijau Rajawali Gaib milik si Dewa Rajawali Sakti kenapa bisa berada di tangan gadis itu? Celaka ... celaka .... ! Kenapa aku harus berhadapan dengan

pedang pusaka yang paling aku takuti itu?"

Tentu saja wajah pias Senopati Jaran Panoleh yang cuma sekejap itu tidak luput dari tatap pandang

Ayu Parameswari.

"Nawara, tampaknya siluman kuda itu gentar dengan pedang di tangan kananmu," bisik Ayu Parameswari sambil mengembangkan kipas merahnya, pikirnya, "Dengan begini tidak perlu aku

menggunakan Ilmu ‘Susup Sukma Gaib’ warisan guru."

"Aku tahu! Meski sekilas, aku bisa melihat rasa takut di matanya." desis Nawara. "Kalau begitu ...

akan kucongkel mata mesumnya dengan pedang ini!"

Kepungan segala jenis mahkluk itu hanya tidak melakukan apa-apa, selain hanya mengepung orang-orang persilatan itu saja. Mereka terlihat sedang menunggu sesuatu yang akan terjadi di tempat itu. Meski terdengar desah dan aneka suara menggema di tempat itu, tapi penghuni alam gaib dari

Kerajaan Iblis Dasar Langit tetap dalam posisi sebelumnya.

Tidak menyerang dan tidak beranjak dari tempat mereka berdiri! Justru orang yang paling ditunggu oleh Paksi tidak ada diantara para makhluk gaib yang meluruk ke

tempat itu.

"Aneh ... kemana perginya si Topeng Tengkorak Emas?" gumam Paksi, " ... atau jangan-jangan ... " Di sisi timur laut, Sepasang Raja Tua, Juragan Padmanaba dan Nawala, melindungi Nyi Dhandang Gendhis yang sedang hamil tua. Nyonya muda itu berada dalam sebuah ruang batu yang telah diberi pagar gaib oleh ayah mertuanya, dan tentu saja kalung emas terukir mantra ‘Rajah Kalacakra Pangruwating Diyu’ terkalung indah di lehernya. Dan di sekeliling empat orang persilatan tersebut, masih berlapis dengan Bidadari Berhati Kejam, tiga orang murid utama Partai Ikan Terbang, Tiga Golok Empat Pedang dari Perguruan Karang Patah serta Ketua Perguruan Perisai Sakti, Perisai Baja Bermata Sembilan dengan dua orang muridnya Suratmandi dan Wiratsoko yang telah siap dengan

klewang tanpa sarung.

Ketika angin bisa dikatakan berhenti berhembus, di langit meloncat kilatan petir tanpa suara. Bukan hanya sekali, tapi berulang kali. Bersamaan dengan loncatan bunga api di langit yang paling panjang dan paling lama, awan kelabu bergulung-gulung dari segala penjuru seakan berusaha menutupi pancaran sinar matahari. Begitu gulungan awan kelabu menebal, di atas langit terlihat jelas bola kuning raksasa yang sebelumnya memancarkan sinar garang sedikit demi sedikit memerah, semakin lama semakin merah pekat kehitaman, kemudian pada akhirnya tertutup sebentuk bayangan hitam yang bentuk dan wujudnya sama besar dengan sang mentari hingga seluruh tempat itu menjadi gelap gulita, pekat tanpa cahaya, seakan bumi dan seluruh isinya diguyur dengan tinta hitam dari langit. Untuk ketiga kalinya, Gerhana Matahari Kegelapan terjadi di muka bumi! Ketika Gerhana Matahari Kegelapan terjadi di bumi, bagaikan muncul dari alam gaib, ribuan cahaya bagai kunang-kunang beterbangan di segala pelosok mata angin mengiringi seberkas cahaya merah pekat berkilau yang turun dari langit, saling tegak lurus menghunjam bumi.

Plashh ... !

Semua mata memandang pancaran cahaya agung kemerahan yang semakin lama semakin mengecil. Terus mengecil ... terus mengecil dan ... terus mengecil. Bahkan cahaya kunang-kunang juga semakin rapat mengerumuni pancaran tiang cahaya, hingga seperti bentuknya laksana pilar yang menyangga langit.

Tiba-tiba saja ...

Pyarr ... !

Tiang langit pecah, meledak tanpa suara!

Namun, pecahan tiang langit yang tetap dikerumuni cahaya kuning bagai kunang-kunang berputaran cepat di angkasa. Semakin lama semakin cepat dan pada akhirnya ...

Diikuti suara meraung layaknya ribuan naga angkasa mengamuk, pecahan tiang langit seperti dihempaskan ke bawah dan langsung menukik ke arah Nyi Dhandhang Gendhis berdiam diri.

Blashh ... !!

Nyi Dhandhang Gendhis yang tidak siap dengan kejadian itu langsung terlonjak kaget, tapi kekagetannya sirna tatkala pecahan tiang langit hanya berputaran mengelilingi dirinya. Cahaya kunang-kunang berputaran lambat-lambat, sedang pecahan tiang langit berwarna merah kemilau bagai bintang bertaburan masih tetap di posisi semula, berputaran di sekeliling tubuh Nyi Dhandhang Gendhis.

Werr ... werr ... !

Perlahan-lahan, tubuh ibu muda itu terangkat naik, bagai di topang tangan-tangan kasat mata. Sejarak satu tombak, luncuran berhenti bergerak. Yang terlihat adalah, Nyi Dhandhang Gendhis berdiri melayang setinggi satu tombak di selimuti cahaya merah berkilauan bagai bintang bertaburan sedang

cahaya kunang-kunang membungkusnya dengan rapat.

"Apa yang terjadi?" gumam Wanengpati, tetap berdiri di atas pucuk pohon. "Sebentar lagi kau akan mengetahuinya, anakku," kata Ki Dalang Kandha Buwana. Sebuah bisikan lembut terdengar jelas di telinga ayah anak dalang itu. "Sebentar lagi proses kelahiran akan terjadi! Saat pecahan tiang langit merah selesai bersatu dan masuk ke dalam tubuh bayi, lantunkan mantra sakti kalian. Jangan ditunda lagi!" Suara tanpa wujud menggema di dalam dinding-dinding telinga Wanengpati dan Ki Dalang Kandha Buwana. Suara itu begitu asing di telinga, saat mereka berdua melihat ke sekelilingnya, tidak satu pun orang yang berbicara pada mereka, semua terpaku memandang kejadian menakjubkan itu.

"Siapakah ... "

"Tanyalah pada Paksi!" potong cepat si suara tanpa wujud.

"Bagaimana, Ayah?" tanya Wanengpati pada ayahnya.

"Kita turuti saja," jawab Ki Dalang Kandha Buwana pendek. Perlahan-lahan, cahaya merah berkilauan memasuki bagian pusar Nyi Dhandhang Gendhis.

Srepp ... !

Saat cahaya merah itu masuk seluruhnya ke dalam perut buncit si nyonya muda, sekujur tubuh wanita hamil itu bergetar lembut bagai menerima sentuhan hangat melenakan. kejadian itu berlangsung cepat dan hanya sebentar. Cahaya merah berkilauan keluar kembali dari dalam perut lewat pusar, tapi terjadilah keanehan yang sulit diterima akal sehat. Dari pusar Nyi Dhandhang Gendhis tiba-tiba keluar sebentuk gumpalan benda bulat bergerak-gerak lembut diselimuti cahaya merah berkilauan. Benda yang bergerak-gerak itu semakin lama semakin membesar ... membesar dan terus membesar.

Sosoknya menyerupai bayi manusia!

Dua helaan napas berlalu. Sosok itu semakin lama semakin jelas bentuknya. Ketika selesai membentuk raga sempurna, cahaya merah berkilauan memancarkan sinar ke segala penjuru.

Sriiing ... pyar ... pyar ... !!

Ratusan ekor kalajengking, ular-ular setan, kuda siluman dan sebagian besar penghuni alam gaib

musnah terkena terjangan sinar merah itu.

Blabb ... blabb ... blubbb ... blushhh ... !

Barisan pengepung langsung geger!

Mereka serabutan lintang pukang tak karuan menghindari terjangan sinar merah yang ternyata bisa

menewaskan bangsa penghuni alam gaib.

"Sinar apa itu?" desis Raja Pemalas.

"Itulah yang dinamakan Sinar Pelebur Ruh, seperti apa yang dituturkan mendiang Panembahan

Wicaksono Aji dahulu," sahut Bidadari Berhati Kejam.

Bersamaan dengan pancaran sinar merah, dari atas ketinggian terdengar lantunan mantra ilmu gaib

untuk mengusir makhluk halus dan sejenisnya.

Mantra ‘Rajah Kalacakra Pangruwating Diyu’!

Mendengar suara mantra yang paling ditakuti para penghuni alam gaib dan sejenisnya, membuat situasi menjadi pengepungan kendor dimana-mana. Suara letusan dan letupan berulangkali terdengar. Suara jerit kesakitan para penghuni alam gaib menyebar kemana-mana bagai ratapan dari

dalam kubur.

"Panasss ... panasss ... tobattt ... ampuuun ... !"

Blabb ... blabb ... blubbb ... blushhh ... ! Blabb ... blabb ... blubbb ... blushhh ... ! Kepulan asap berbau menyengat langsung menyeruak di sekitar tempat itu.

Blabb ... blabb ... blubbb ... blushhh ... !

Akhirnya ... seluruh tempat itu bersih seperti sebelumnya. Tidak ada desisan ular dan kalajengking, pekikan kera-kera juga menghilang, ringkikan kuda dan lolongan serigala sudah tidak terdengar lagi. Akan tetapi, lantunan mantra sakti itu ternyata tidak mempan terhadap enam senopati tangguh

Kerajaan Iblis Dasar Langit. Atau dengan kata lain, mereka berenam bisa bertahan dari lantunan mantra sakti tingkat tinggi. Enam senopati masih berdiri di tempat masing-masing, hanya saja pancaran 'Tenaga Gaib Siluman' sudah dikerahkan untuk menahan daya lebur mantra ‘Rajah Kalacakra Pangruwating Diyu’ yang dilantunkan Ki Dalang Kandha Buwana dan anak laki-lakinya. Dari arah selatan, melesat dengan kecepatan kilat sebentuk bayangan hitam, dan sasarannya adalah

raga sempurna bayi mungil!

Blassh ... !

Kejadian itu terlalu cepat sehingga sulit diikuti pandangan mata. Namun, kembali kejadian aneh terjadi. Cahaya kunang-kunang yang mengelilingi si ibu dan anak tiba-tiba memancarkan kilau cahaya

kuning terang, seolah melindungi mereka berdua.

Sriiing ... pyarrr!!

Sosok itu kaget, tapi sudah terlambat untuk menghindar karena cepatnya ia berkelebat dan cahaya kuning terang menerjangnya. Sontak ia mengempos hawa tenaga dalam sebisa mungkin untuk

melindungi diri.

Bwoshh ... !!

Begitu tubuh si bayangan tersentuh kilau cahaya kuning terang, muncul kobaran api yang langsung menyergap sosok bayangan dengan cepat, menjalar laksana petir menyambar.

"Aaaakhh ... ammpuun ... tolooonggg ... !!"

Teriakan kesakitan kembali membuncah di tempat itu sambil bergulingan berusaha memadamkan api yang membakar tubuh. Namun anehnya api itu bukannya padam, justru makin berkobar-kobar menjilat-jilat tubuh mangsanya. Sebentar kemudian, gulingan tubuh berhenti. Kejadian itu hanya

sesaat berlangsung.

Begitu dicermati, sosok tubuh terbakar yang ternyata adalah perempuan bongkok dengan tangan kiri dan kaki kanan buntung sebatas siku tewas dengan tubuh hangus terbakar api. "Ratu Sesat Tanpa Bayangan," desis Gineng begitu mengenali siapa adanya tokoh yang berniat buruk pada Nyi Dhandhang Gendhis dan anaknya yang terlindung di dalam bola cahaya kunang-kunang. Ia bisa mengenali Ratu Sesat Tanpa Bayangan dengan adanya tongkat ular kobra yang tergeletak di

samping mayat si nenek sesat.

Gineng tidak menyangka sama sekali bahwa tokoh sakti sekelas Ratu Sesat Tanpa Bayangan harus kehilangan nyawa secara mengenaskan dengan tubuh hangus terbakar. Padahal ia tahu seberapa tinggi kesaktian dari nenek sesat yang dulu pernah membuatnya gentar saat Ratu Sesat Tanpa Bayangan dan Gerombolan Serigala Iblis menyerang Padepokan Singa Lodaya kurang lebih sepuluh

tahun silam.

"Itu ... Sinar Pelebur Raga!” ujar Bidadari Berhati Kejam. “Tubuh hangus terbakar adalah akibat tersengat api gaib Sinar Pelebur Raga yang melindungi bayi itu!”

Dalam dokumen Pendekar Elang Salju (Halaman 195-198)