• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sang Pewaris – Bab Dua Puluh Tiga

Dalam dokumen Pendekar Elang Salju (Halaman 110-115)

Saat itu pertarungan menjadi semakin seru.

Sesekali bayangan naga merah melibas dengan garang, sedangkan bayangan kucing hitam raksasa menghindar dengan gesit. Adakalanya bayangan kucing hitam raksasa berusaha menyerang ke arah ekor bayangan naga merah, namun dengan gerakan manis, mulut naga merah menghembuskan

napas apinya untuk menghalau. Begitulah, pertarungan maut yang mempertontonkan peragaan ilmu-ilmu silat kelas tinggi dan dipadu dengan kemampuan mengolah tenaga dalam nomor wahid dari dasar ilmu silat masing-masing, seakan larut menjadi satu dengan raga pemiliknya. Yang muda adalah pewaris tunggal dari Naga Bara Merah yang juga merupakan salah satu dari Empat Pengawal Gerbang Utama bagian timur dari Istana Elang yang juga disebut Sang Api. Gadis yang memiliki Rajah Naga Merah Darah yang secara sah telah diangkat sebagai pengganti Pengawal

Gerbang Timur Istana Elang.

Sedang satunya adalah salah satu dari pasangan suami-istri pentolan sesat Partai Sarang Iblis Dan Setan, yang kini bernaung di bawah bendera Benteng Tebing Hitam. Sejak suaminya Musang Terbang Tangan Hitam yang menyamar sebagai Parjo, dan tanpa sengaja tewas di tangan Ki Dalang Kandha Buwana, ia mulai menyamar sebagai Nyi Rengganis, istri Juragan Padmanaba. Tentu saja ia

harus menyingkirkan terlebih dahulu Nyi Rengganis asli.

Meski penyamaran mereka berdua sudah berlangsung satu purnama lebih dengan berganti-ganti rupa, tabiat suaminya yang suka dengan daun-daun muda tidak hilang begitu saja. Justru karena si Musang Terbang Tangan Hitam salah mengincar mangsa, maka ia harus merelakan nyawanya di

tangan ayah si gadis yang diincarnya!

Prakk! Prakk! Daar!!

Kembali terdengar benturan keras saat tendangan ‘Naga Menggiling Padi’ milik Ayu Parameswari tepat mengenai dada, pundak dan pelipis kiri lawan dengan beruntun. Wanita berbaju hitam ketat itu langsung terpelenting ke tanah dengan keras diiringi teriakan kesakitan. Dada terasa sesak, pundak kiri tergeser ke samping, kepala pening dan yang pasti mata berkunang-kunang. “Kurang ajar! Jurus tendangan bocah perempuan itu makin lama semakin cepat dan ganas!” keluhnya dalam hati, “untung saja hawa pelindung tubuhku cukup tebal.” Kucing Iblis Sembilan Nyawa segera mengibaskan tangan kanan yang membentuk cakar ke arah Ayu Parameswari yang diwaktu melihat lawan sedang kepayahan, langsung melakukan pukulan susulan dengan telapak tangan kanan miring berniat memapas bagian leher.

Wutt! Plakk!

Cakar tangan sarat dengan tenaga dalam itu berbenturan keras dengan telapak tangan si gadis baju merah, karena posisi si gadis yang sedang melayang membuatnya terpental sambil berjumpalitan ke belakang.

Wutt! Jlegg!

Langsung berdiri tegak di atas tanah.

“Tanganku rasanya kebas saat membentur jurus cakar si kucing garong itu,” gumam Ayu Parameswari sambil mengalirkan tenaga untuk memulihkan kondisi tangannya. Sebagai murid tunggal dan sekaligus pewaris dari Naga Bara Merah, Ayu Parameswari tentu memiliki ilmu yang tinggi, bahkan sampai senjata pusakanya gurunya yang bernama Kipas Naga Sutera Merah kini telah berganti majikan lengkap dengan jurus-jurus ‘Kipas Pengacau Langit’, bahkan ilmu kesaktian yang dimilikinya sejajar dengan tokoh-tokoh kosen rimba persilatan masa kini. ‘Ilmu Silat Naga Langit Timur’ yang berjumlah 18 jurus silat terdiri dari atas 15 jurus tendangan, 2 jurus pukulan dan yang paling akhir adalah 1 jurus telapak telah dikuasai dengan sempurna. Bahkan ‘Tenaga Sakti Naga

Langit Timur’ pun sudah sampai pada tahap pamungkas.

Tahap ke sepuluh!

Sekarang, menghadapi tokoh hitam sekelas Kucing Iblis Sembilan Nyawa berjalan dengan seimbang tentu saja dapat dimaklumi, apalagi wanita sesat itu telah disusupi oleh sebentuk kekuatan setan yang membuat ilmu kesaktiannya menjadi meningkat puluhan kali lipat dari aslinya, bahkan sampai ‘Tenaga Hitam Siluman Kucing’ yang selama ini dipelajari dengan cara memuja Ratu Siluman Kucing

pun meningkat pesat.

Sehingga pertarungan kali ini ibarat pertarungan hidup mati antara kebaikan melawan kejahatan! Berkali-kali pukulan, cakaran, tamparan dan tendangan mereka saling beradu keras dan berkali-kali pula mereka terlontar balik akibat benturan yang terjadi. Ketika menginjak jurus yang ke seratus lima, posisi masing-masing sedang melayang di udara dimana Ayu Parameswari sedang melancarkan salah jurus pamungkasnya yang bernama ‘Telapak Naga Turun Dari Langit’ dengan kekuatan tenaga dalam delapan bagian. Seberkas hawa naga berwarrna merah pekat terlihat memancar keluar dari

sepasang telapak tangan yang terbuka lebar itu.

Hoargghh ... !

Terdengar raungan naga yang membuncah diiringi dengan pekikan nyaring yang kian membahana memenuhi angkasa, bahkan arena pertarungan berguncang cukup keras disaat sepasang hawa naga itu terlihat meraung keras memperlihatkan rentetan gigi-giginya yang tajam sambil badannya

meliuk-liuk di angkasa turun ke bumi.

berulangkali berputar-putar saling susul menyusul sehingga membentuk gulungan hawa naga menjadi semakin pekat diiringi suara desisan menyelingi raungan naga yang semakin mengangkasa.

Woshhh ... Cwozz ... !!

Melihat hal itu, Kucing Iblis Sembilan Nyawa juga tidak tinggal diam. Sepasang telapak tangannya yang berkuku runcing tajam bercuitan keras membelah udara diiringi dengan kepulan kabut hitam

yang semakin santer.

Swoshh ... Swoshh … Syatt!!

Kuku-kuku tajam itu saling menjentik satu sama lain sehingga menghasilkan larikan-larikan kabut hitam yang semakin banyak jumlahnya. Bau amis darah tercium keluar saat larikan-larikan kabut hitam itu mulai menggumpal menjadi sebentuk bola hitam raksasa menyelubungi Kucing Iblis Sembilan Nyawa didalamnya disertai suara ribut yang cukup menusuk telinga. Rupanya wanita sesat itu sedang mengerahkan tingkat tertinggi dari ‘Tenaga Hitam Siluman Kucing’ yang terlah tercampur dengan tuah rajah setan bertanduk yang ada di punggung tangannya serta disatukan dengan

‘Pukulan Tangan Kabut Hitam’!

Syuuung … Wuung!!!

Raungan naga dan cuitan tajam saling bertubrukan menghasilkan getaran-getaran suara yang bias menjebol telinga. Akibatnya, Ki Dalang Kandha Buwana yang saat ini berdiri dekat dengan Juragan Padmanaba serta Sepasang Naga Dan Rajawali harus mengerahkan tenaga dalam masing-masing untuk menahan getaran suara yang semakin lama seakan merobek pecah gendang telinga.

Sebuah kengerian yang dipertontonkan dengan amat dahsyat!

“Kakang Padmanaba, tutupi telingamu dengan tanah! Cepat!”

Juragan Padmanaba yang paling rendah ilmunya diantara mereka berempat, segera saja meraup segumpal tanah lalu ditutupkan diantara ke dua lubang telinga. Sebentar kemudian, suara dengingan

sudah lumayan berkurang, tidak seperti sebelumnya.

Saat dua ilmu sakti berbeda sifat itu sudah mencapai titik puncak, dengan cepat laksana sambaran kilat, dua wanita berilmu tinggi itu menghantamkan ilmu masing-masing ke arah lawan.

Cwoss ... Swoshh ... Srakk!!

Terdengar suara gesekan dengan udara bagai sayatan pisau di sekitar mereka saat masing-masing menghantamkan ilmunya. Sepasang hawa naga yang berasal dari ilmu ‘Telapak Naga Turun Dari Langit’ dengan mulut terpentang lebar seakan ingin menelan bongkahan bola kabut hitam yang ada didepannya.

Hoarghhh!! Srakk! Dhesss!! Dhuaarrr!! Jderrr ... !!

Hawa naga sebelah kiri mendahului menelan bongkahan kabut hitam milik Kucing Iblis Sembilan Nyawa. Kontan keduanya langsung meledak memperdengarkan suara yang keras diiringi pancaran

cahaya abu-abu terang yang menyilaukan mata.

Empat orang yang ada ditempat itu tampak memicingkan mata saat cahaya itu menerpa mata mereka. Nawara menyadari ada yang tidak beres dengan pancaran cahaya itu, segera saja maju ke depan sembari mendorongkan sepasang tangan yang berpendar putih perak yang terangkum dalam ‘Ilmu Benteng Baja Dan Tembaga’ membentuk dinding pelindung bagi mereka berempat.

Sratt! Brakk! Brakk!

Benar saja, terdengar benturan keras antara dinding pelindung dengan pantulan cahaya abu-abu

terang itu.

Sedangkan hawa naga yang sebelah kanan terlihat meliuk ke atas, lalu dengan kecepatan luar biasa, menerjang ke arah Kucing Iblis Sembilan Nyawa yang tampak terkesiap melihat hawa naga itu bisa

berubah haluan.

Hoarghh!!

Tanpa bisa menghindar lagi, mulut naga itu langsung menelan Kucing Iblis Sembilan Nyawa bulat-bulat!

Srakk! Jdarr!!

Diikuti dengan hawa naga raksasa yang langsung meluruk masuk ke dalam tanah diikuti suara keras bak halilintar menyambar. Setelah hawa naga itu menghilang amblas ke dalam tanah, terlihat seonggok daging yang sudah hancur lebur seperti bubur, susah sekali untuk dikenali wujudnya. Ayu parameswari yang telah selesai mengerahkan ilmu pamungkas, terlihat sedang mengatur napas. Dadanya turun naik dengan cepat, pertanda bahwa ilmu yang dikerahkan barusan hampir

menggunakan seluruh dari ‘Tenaga Sakti Naga Langit Timur’-nya.

“Ayu, kau hebat!” kata Nawala sambil mengacungkan jempol kanan. Selesai Nawala berucap, tiba-tiba keluar suatu kejadian aneh. Sesosok bayangan hitam tampak berkelebat cepat laksana angin berhembus, melompati sosok tubuh Kucing Iblis Sembilan Nyawa

yang sudah menjadi bubur dengan cepat.

Bersamaan dengan hilangnya sosok bayangan kecil itu, jasad halus wanita sesat itu juga ikut lenyap

tak berbekas!

“Apa itu?” tanya Nawara tanpa sadar, seolah bayangan hitam tadi membuatnya terpana sesaat. “Entahlah! Tapi yang jelas, ia telah membawa pergi bubur kucing itu,” kata Nawala seenaknya. “Hmm, apa ini?” kata Juragan Padmanaba yang sedari awal hanya terbengong melompong, melihat sesuatu yang aneh dari bekas tempat mayat wanita sesat, suatu benda hitam yang sangat lembut dan

halus mengkilap.

Bulu hitam!

“Apa yang kau temukan, Kakang Padmanaba?”

Laki-laki tambun itu tidak menjawab pertanyaan Ki Dalang Kandha Buwana yang saat itu sudah

berjongkok di sebelah kiri.

Setelah mengamati beberapa saat, ia bergumam sendiri, ”Ini ... bulu ... bulu kucing?”

“Bulu kucing?”

“Mungkin bulu kucing atau sejenis musang,” gumam Juragan Padmanaba sambil memperhatikan bulu

itu lebih jauh.

Tak berani ia menyentuh bulu itu dengan tangan, tapi dengan sebuah ranting kecil yang tergeletak di situ.

“Itu memang bulu kucing!” sahut Nawala dengan tegas.

Juragan Padmanaba menoleh, sambil bertanya, “Darimana Nakmas tahu jika ini bulu kucing?” “Mudah sekali, paman! Setahun yang lalu, kucing iblis sembilan nyawa dan musang terbang tangan hitam pernah menyatroni tempat kami, tapi gagal total. Saat itu terjadi perkelahian dan wanita sesat itu berhasil kami pecundangi. Namun saat kami akan menghabisinya, seekor kucing hitam datang menolong mereka yang saat itu dalam keadaan sekarat menunggu ajal. Kucing hitam itu mendadak melompati tubuh dua orang itu, dan mereka berdua langsung menghilang begitu saja. Hilang tak berbekas. Guru menyadari bahwa kucing itu bukan kucing biasa, tapi kucing jadi-jadian. Lalu dihantam dengan ‘Pukulan Paruh Rajawali’, hingga akhirnya kucing hitam itu mati seketika. Namun, beberapa saat kemudian, kucing hitam itu hidup lagi, lalu menghilang di kegelapan malam,” tutur

Nawala panjang lebar.

“Dan lagi, di ekor kucing itu sudah ada tujuh sayatan. Menurut guru, kucing hitam itu adalah Ratu Siluman Kucing, majikan yang sesungguhnya dari Kucing Iblis Sembilan Nyawa. Sedangkan jumlah sayatan berarti ia pernah mengalani beberapa kali kematian,“ tambah Nawara, lalu sambungnya, “sebelum kucing hitam itu hidup kembali, bertambah lagi satu sayatan di ekornya. Jadi bisa disimpulkan bahwa ia pernah mati delapan kali, mati satu kali di tangan guru kami berdua.” “Jadi ... jika jumlah sayatan berjumlah sembilan, apa yang akan terjadi?” tanya Ayu Parameswari

dengan tertarik.

“Mungkin ia akan mati dengan abadi alias tidak bisa hidup lagi!” kali ini Nawala yang menjawab.

“Kenapa bisa begitu?”

“Karena kucing hitam itu hanya memiliki sembilan nyawa! Kini nyawanya tinggal satu, tentu saja ia harus kabur cepat-cepat sebelum nyawa terakhirnya benar-benar melayang ke neraka,” jawab Nawala

dengan mantap.

Akhirnya, mereka berlima kembali ke Padukuhan Songsong Bayu dengan langkah lesu, terutama sekali juragan padmanaba. Bagaimana tidak lesu, jika kepulangan mereka berlima tidak berhasil menangkap orang yang membuat geger di padukuhan, tapi justru pulang membawa sesosok mayat kaku.

Sosok kaku Nyi Rengganis yang asli!

Nyi rengganis ditemukan telah menjadi mayat, saat mereka berlima melewati jembatan bambu yang tidur melintang di atas sungai berbatu. Mayat Nyi Rengganis tergeletak begitu saja di bawah jembatan. Pelipis kanan kirinya terlihat masing-masing berlubang lima, tidak ada luka yang lain, jelas sekali bahwa Kucing Iblis Sembilan Nyawa langsung menghabisi istri kepala dukuh dengan satu

serangan mematikan.

Yang lebih menyedihkan, Nyi Rengganis mati dalam keadaan telanjang bulat dan mata melotot! Dhandang Gendhis langsung pingsan melihat sosok ibunya yang mati mengenaskan, bahkan Juragan Padmanaba yang semula terlihat tegar, langsung ambruk tatkala selesai meletakkan mayat istrinya di atas dipan. Andai di belakangnya tidak ada Nawala, tentu sudah jatuh mencium tanah. Sore itu juga, pemakaman Nyi Rengganis diselenggarakan dengan khidmat. Puluhan warga padukuhan berbondong-bondong mengiringi kepergian istri kepala dukuh itu dengan deraian air mata, bahkan beberapa teman karib Nyi Rengganis sampai merutuki orang yang membunuh sahabat mereka dengan kejam. Bahkan anaknya Dhandhang Gendhis berkali-kali pingsan, untung saja suaminya wanengpati selalu berada disisinya hingga langsung membawa bisa mengatasi keadaan istrinya yang berkali-kali pingsan karena ditinggal pergi ibunya.

Setelah masa berkabung lewat satu minggu ... Di Dalem Kadukuhan terlihat beberapa orang yang sedang bercakap-cakap, dimana terdiri dari sepasang muda-mudi kembar berbaju putih yang tak lain Sepasang Naga Dan Rajawali yang berasal dari Benteng Dua Belas Rajawali duduk berendeng dengan seorang dara cantik baju merah menyala

yang bukan lain adalah Ayu Parameswari.

Seorang laki-laki tambun yang bibirnya tidak lepas dari pipa tembakau tersebut adalah kepala Dukuh Songsong Bayu Juragan Padmanaba terlihat duduk berhadapan dengan dua orang laki-laki tua muda berpakaian dalang. Mereka berdua adalah Kakek Pemikul Gunung atau yang terkenal sebagai dalang kondang, Ki Dalang Kandha Buwana serta anak laki-laki satu-satunya yang bernama Wanengpati. Sedang tiga orang lagi terlihat duduk dengan posisi tubuh yang berbeda-beda, satunya sedang tidur-tiduran di atas dipan, sedang satunya benar-benar tidur, tidur yang sebenarnya. Sedang yang terakhir adalah seorang wanita yang masih terlihat cantik, terlihat duduk dengan tenang di sebelah kiri

Juragann Padmanaba.

Yang sedang tidur-tiduran di atas dipan adalah seorang kakek usia delapan puluhan tahun yang mengenakan baju kembang-kembang penuh tambalan dimana-mana. Cukup sulit untuk mencari mana warna yang asli dari sekian puluh tambalan yang ada di pakaian kebesarannya. Dari tiga puluh dua gigi yang ada di mulut, cuma tersisa barang tiga biji saja yang masih setia menghuni mulut

peotnya, dua berada di atas dan satu berada di bawah.

Akan halnya bibir keriput itu selalu bergerak-gerak terus tiada henti, entah apa yang ada di dalam mulutnya, mungkin sebangsa kelabang atau cacing barangkali. Meski terlihat kemalas-malasan, namun kakek bangkotan itu merupakan salah satu tokoh rimba persilatan yang berilmu tinggi, bahkan bisa dikatakan setiap tokoh kosen akan berpikiran ribuan kali jika ingin berurusan dengan si Raja Pemalas.

Dan perlu diketahui, dimana ada Raja Pemalas, tentu ada kambratnya si Raja Penidur! Sama halnya Raja Pemalas, Raja Penidur yang usianya sepantaran dengan Raja Pemalas itu memiliki keunikan tersendiri, dimana pun ia berada, tak peduli di kubangan lumpur atau di kandang sapi sekali pun, tidak peduli siang atau pun malam, kakek itu bisa tidur dengan nyaman. Bahkan berjalan dan berbicara pun ia bisa sambil tidur, seakan mata tuanya itu selalu saja terkatup dengan rapat.

Justru jika mata Raja Penidur yang selalu tertutup rapat malah terbuka lebar, akan sangat berbahaya bagi siapa saja yang memandangnya, karena dari mata Raja Penidur bisa memancarkan cahaya merah yang bisa menghancurkan segala macam benda di depannya. Bisa dihitung dengan jari tokoh persilatan yang bisa memaksanya membuka ‘Sepasang Mata Maut’ milik Raja Penidur. Yang terakhir adalah seorang wanita yang tampak duduk dengan anggun di samping kiri Juragan Padmanaba. Sebenarnya usia wanita yang seluruh bajunya warna ungu sudah mendekati tujuh puluh lima tahun, tapi masih terlihat anggun dan cantik menawan seperti wanita usia tiga puluhan tahun. Tentu saja hal ini dipengaruhi tingkat ketinggian tenaga sakti dan juga segala jenis ramuan-ramuan

obat serta ilmu awet muda yang diwarisi dari gurunya.

Bidadari Berhati Kejam, sebuah julukan yang cukup menggetarkan di kalangan tokoh-tokoh hitam, bahkan ada yang juga yang menyebut sebagai Sang Pembantai Cantik. Tentu saja hal ini hanya berlaku bila mereka sampai kepergok berbuat kejahatan di hadapan Bidadari Berhati Kejam, jangan harap dapat pengampunan darinya, sedikitnya mereka akan mati dengan jasad utuh! Pernah suatu ketika, Tiga Belas Hantu Malam mengeroyok Bidadari Berhati Kejam dikarenakan salah satu dari Tiga Belas Hantu Malam secara tidak sengaja kesalahan tangan mencelakai salah satu murid kesayangannya, hingga si murid tewas. Setelah mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas kematian muridnya, Bidadari Berhati Kejam menyatroni sarang Tiga Belas Hantu Malam dan tanpa perlu bertanya-tanya lagi, langsung membantai habis seluruh pengikut Tiga Belas Hantu Malam

tanpa sisa.

Melihat anak buahnya habis terbantai, Tiga Belas Hantu Malam marah besar dan langsung mengeroyok Bidadari Berhati Kejam. Namun akibatnya, justru Tiga Belas Hantu Malam tewas seluruhnya, bahkan salah satu dari Hantu Malam yang membunuh sang murid, tangan dan kaki dipotong dengan pedang, hingga menimbulkan jerit lengking kesakitan dari Hantu Malam yang malang itu. Dua hari dua malam lamanya Bidadari Berhati Kejam menyiksa si Hantu Malam dengan

sadis, dan akhirnya ia tewas karena kehabisan darah.

Setelah jadi mayat pun, Bidadari Berhati Kejam masih tidak puas, sebuah ‘Pukulan Sakti Pecah Raga’

dilancarkan hingga mayat si Hantu Malam hancur tercerai-berai!

Bahkan Dewi Cendani atau si Dewi Obat Tangan Delapan yang mendengar sendiri bahwa sahabat karibnya si Bidadari Berhati Kejam baru saja membantai habis seluruh pengikut dari Tiga Belas Hantu Malam sampai bergidik ngeri melihat sepak terjang sahabatnya itu. Akan tetapi jika melihat segala bentuk kejahatan Tiga Belas Hantu Malam, rasanya apa yang

dilakukan oleh Bidadari Berhati Kejam masih terlalu ringan diterima oleh Tiga Belas Hantu Malam, sebab sekitar tiga purnama yang lalu, hanya dalam satu malam saja, Tiga Belas Hantu Malam

membantai habis sebuah desa!

Sebuah kekejaman yang melebihi batas kemanusiaan!

Dalam dokumen Pendekar Elang Salju (Halaman 110-115)