• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sang Pewaris - Bab Sepuluh

Dalam dokumen Pendekar Elang Salju (Halaman 54-59)

Di lereng Gunung Tambak Petir, terdapat sebuah lembah yang sangat liar. Ditumbuhi rumput-rumput aneh berwarna putih salju namun dikelilingi oleh hutan lebat lengkap dengan binatang-binatang buas, dan jarang didatangi manusia, karena lembah itu terkenal sebagai tempat yang sangat berbahaya,

seperti ungkapan jalma moro jalma mati, sato moro sato mati. Bahkan binatang yang paling liar dan ganas sekali pun tidak ada yang berani menginjakkan kaki di disana, terutama di bagian selatan lembah. Karena semakin ke selatan, angin terasa semakin keras dan dingin membekukan tulang belulang serta daerahnya yang berbatu-batu, tiba-tiba saja terjadi badai datang mengamuk. Pada mulanya, angin datang dari arah barat dan utara, nampak seperti gulungan awan putih dan debu tertiup angin lalu tiba-tiba berhenti mendadak, namun tak lama kemudian, gulungan awan putih dan debu tadi yang tak lain adalah angin puting beliung yang datang dengan diiringi gelegar suara halilintar yang menyambar-nyambar, tanpa peduli itu musim kemarau atau pun hujan, datang tak terduga. Belum lagi jika datang badai salju yang membuat udara bergulung-gulung butiran-butiran es yang berhamburan dan kadang berombak seperti riak air laut, menelan apa saja yang menghalang di depan.

Tapi anehnya, hanya pada daerah lembah saja yang terjadi badai salju dan halilintar yang mengamuk dan bukan berarti daerah yang berhutan merupakan tempat yang aman, bahkan imbasnya juga mencapai beberapa puluh tombak dari tepi luar hutan lebat tersebut, apalagi jika ditingkahi dengan suara gelegar halilintar, bisa terdengar hingga ratusan tombak jauhnya. Itulah sebabnya mengapa daerah di lereng selatan Gunung Tampak Petir itu dinamakan sebagai Lembah Badai, karena segala

macam gelaja alam seakan tumpah ruah disitu semua.

Sementara itu, jauh di bawah kaki lembah membentang daerah berumput nan luas dan karena situasi padang rumput itulah yang membuat orang semakin segan untuk mendekati Lembah Badai.

Tempat itu dinamakan orang sebagai Ladang Pembantaian!

Di sekitarnya penuh dengan kerangka manusia dan binatang yang membeku, bahkan ada bagian berlumpur yang berisi mayat-mayat manusia dan bangkai-bangkai binatang yang terjebak dan mati beku hingga tidak bisa membusuk, sampai bertahun-tahun masih menjadi bangkai terpendam dan

terbungkus lumpur.

Jalan menuju ke Lembah Badai hanya ada satu, yaitu dari jalur selatan, jika melalui arah lain tidak mungkin dilakukan sebab lembah itu kelilingi oleh jurang-jurang yang dalam, kecuali kalau orang itu bisa terbang, suatu hal yang tidak mungkin terjadi. Dari arah selatan pun juga bukan jalan yang mudah, hanya saja jalan dari selatan kelihatan lebih mungkin dilalui manusia, walaupun jalan yang

kelihatannya mudah, meski penuh dengan maut yang mengerikan.

Karena jalan melalui selatan ini berarti melalui Ladang Pembantaian! Padang rumput yang luas namun sangat berbahaya itu hingga banyak binatang yang terperangkap dan mati di sekitar tempat itu, sehingga yang nampak hanya tulang belulangnya saja dan karena seringnya orang melihat bangkai binatang, kadang-kadang juga manusia yang melakukan perjalanan lewat di tempat itu dan tersesat lalu menjadi korban keganasan alam, sehingga bangkai binatang dan mayat berserakan dimana-mana di sekitar padang rumput, maka tempat itu dinamakan Ladang Pembantaian, neraka bagi yang tersesat dan juga kematian yang mengerikan! Bahkan ada yang kelihatannya seperti tempat berumput biasa saja dengan rumput-rumputnya yang hijau dan pendek-pendek, tapi tempat itu merupakan tempat pembawa maut. Banyak manusia maupun binatang yang kebetulan lewat dan lalu mengira bahwa tempat itu adalah tempat aman, akhirnya terperangkap dan sekali kaki mereka terperosok, sulit untuk menyelamatkan diri karena rumput hijau itu seolah-olah memiliki tangan-tangan yang terpendam. Jika terinjak kaki, di bawah tebalnya rumput itu ternyata berisi lumpur hisap yang dapat menyedot apa saja dengan kekuatan hisap yang tidak terukur besarnya. Lumpur itu sangat dalam dan sekali kaki menginjak, sulit sekali ditarik kembali sampai akhirnya orang atau binatang yang terjebak itu terhisap habis ke sampai dasarnya!

Bahkan bagi yang belum ditelan habis oleh lumpur hisap dan masih dapat berpegangan pada rumput-rumput dan tubuhnya terhisap hanya sampai separuh, tetap saja akan mati karena bagian tubuh yang terhisap ke bawah lumpur, darahnya akan dihisap sampai habis dan dagingnya digerogoti oleh Lintah Penghisap Darah dan satwa lain-lain yang hidup di dalam lumpur maut itu. Pada bagian lain juga ada yang rumputnya berwarna biru pekat karena rumput ini mengandung racun ganas. Andaikata kaki atau bagian tubuh lain sampai menyentuh bahkan sampai terluka akibat getah rumput ini, yang bersangkutan akan jatuh terguling dengan muka pucat dan tak berapa kemudian akan mati dengan tubuh kering. Bahkan di sisi paling timur dari Ladang Pembantaian, terdapat rumput ilalang setinggi orang dewasa dan bisa menyesatkan karena luasnya, belum lagi jika terjebak atau terperosok ke dalam lubang-lubang kecil sarang ular kobra hitam yang beracun, dan banyak lagi binatang liar dan buas yang menghuni disitu, bersembunyi di dalam rumpun ilalang yang tinggi lebar itu.

Jadi, jalan menuju ke Lembah Badai hanya satu, yaitu dengan melalui padang rumput beracun yang

dinamakan sebagai Ladang Pembantaian!

Tambak Petir, semua hal yang mengerikan dan membuat bulu kuduk merinding itu tidak terlihat sama sekali, yang nampak hanyalah keindahan alam yang menakjubkan. Gemuruh badai salju dan kilatan petir nampak indah dari atas sana. Belum lagi jika rumput-rumput yang bergoyang tertiup angin, semakin tampak indah dan menawan saja. Apalagi di waktu matahari terbit atau waktu matahari tenggelam, bukan main indahnya pemandangan di kaki langit, di waktu bumi terbakar oleh sinar

keemasan dan segala sesuatu nampak jelas dan indah.

Akan tetapi, di sore yang cerah itu, dimana sinar keemasan memancar terang dengan indahnya, tampak sesosok tubuh seorang kakek sedang berdiri mematung di tepi luar Ladang Pembantaian. Kakek yang sudah kelihatan uzur itu mengenakan baju hijau lengan panjang dengan celana komprang yang hijau pula, di pinggangnya terlilit sebentuk sabuk dari kulit ular sanca kembang yang diawetkan. Tidak ada yang aneh dengan penampilan kakek itu. Mukanya sudah kerut merut pertanda dirinya sudah tidak muda lagi, diperkirakan usianya sudah mendekati delapan puluh tahunan, namun tubuhnya masih gagah tegap, tidak bongkok seperti kakek-kakek pada umumnya. Tinggi tubuh dan bentuk badannya juga biasa-biasa saja seperti layaknya orang-orang kebanyakan. Tapi, ada satu yang aneh pada kakek berbaju hijau itu. Dia menggunakan sebuah caping lebar yang jarang atau malah tidak ada orang mau meletakkannya di atas kepala sekalipun, sebab caping itu bukan dari anyaman bambu atau rotan tapi caping yang terbuat dari tempurung kura-kura! Mulutnya lincah bergerak kesana kemari seakan mengunyah sesuatu sedang matanya mencorong tajam mengawasi sekelilingnya. Tangan kirinya asyik memutar-mutar rumput yang dimasukkan ke

dalam telinganya.

“Hemm, kemana perginya bocah tengik itu? Sudah menjelang malam begini belum pulang juga,”

gumamnya sambil terus mengawasi keadaan sekelilingnya.

Tiba-tiba, matanya yang tajam menangkap suatu gerakan di semak-semak sebelah selatan, dan tak lama kemudian muncullah seorang anak laki-laki berbadan gemuk berbaju sama hijau dengan baju si kakek, yang sedang tersenyum-senyum cengengesan sambil berjalan ke arah kakek aneh itu. Di tangan kanannya tertenteng empat ekor kelinci yang masih hidup dan tubuhnya cukup gemuk, mungkin ditangkapnya saat ia menuju ke tmpat itu. Kalau seorang bocah seperti dia menangkap kelinci dengan mudah, bisa diperkirakan seberapa hebat ilmu peringan tubuhnya.

“Bocah brengsek, kemana saja kau?” bentaknya marah.

Anak laki-laki yang disebut ‘bocah brengsek’ oleh kakek itu hanya tersenyum saja. Tubuhnya yang gemuk berjalan dengan ringan seolah berat badan itu tidak berpengaruh sama sekali dengan dirinya. Bocah itu berusia kurang lebih sepuluh tahunan dengan muka bulat bundar, kulit hitam kecoklatan karena seringnya tertimpa sinar matahari. Meski badannya gemuk, namun gerakannya nampak gesit dan lincah. Bocah itu mengenakan baju dan celana yang sama dengan kakek itu yaitu berwarna hijau tua. Bahkan sabuk kulit ular pun juga sama persis, bedanya hanya sedikit lebih kecil ukurannya. Demikian juga dengan tempurung kura-kura yang dimilikinya, sama persis dengan milik si kakek, hanya sedikit lebih besar, posisinya dilekatkan di punggung dengan seutas tali dari kulit binatang yang liat dan lentur. Jika dilihat dari kejauhan, persis kura-kura gemuk yang berjalan dengan dua kaki! “Hei, ditanya malah cengar-cengir tak karuan!” bentak kakek itu lagi. “Heh-he-he ... tenang kek! Tenang! Sabar ... sabar!” timpal si bocah, masih tetap dengan senyum

yang sama.

“Bocah, darimana saja kau?”

“Dari ... dari sana kek.” kata si bocah berbaju hijau dengan bagian dada tidak dikancingkan itu

menunjuk ke suatu arah, tepatnya ke arah selatan.

“O, jadi kau habis main-main sampai ke tepi jurang sana. Hei, bocah, apa kau tidak tahu berbahayanya tempat itu. Sekali kau terjatuh, pasti nyawamu segera berangkat ke neraka, apa kau tidak takut, hah!” semprot si kakek bercaping tempurung kura-kura itu. “Aduuhh, kakek ini gimana sih?! Bukankah kakek sendiri yang menyuruh Arjuna untuk menyusuri tepi jurang sana itu, untuk memastikan bahwa orang yang sedang kita tunggu sudah datang atau belum?” Mendengar ucapan bocah gemuk yang bernama Arjuna itu, si kakek melengak kaget. Dengan muka sedikit ditekuk, kakek itu mendegus kesal, “Apa benar begitu, aku yang menyuruhmu?” “Ya, jelas benar dong. Kakek sendiri yang menyuruh Arjuna tadi pagi.”

“O, begitu ya, he-he-he. Aku kok lupa.”

“Ya ... gitu dech!” sahut si bocah gemuk sekenanya, “Lupa lagi ... “ “Lalu, bagaimana hasilnya? Apa kau sudah melihat mereka?” tanya si kakek. “Mungkin besok sore orang yang kita tunggu akan sampai disini, kek.” kata Arjuna kemudian,

“kecuali ... “

“Kecuali apa?”

“Kalau mereka berlari cepat atau setidaknya menggunakan ilmu peringan tubuh, mungkin sebentar

Kakek bercaping itu manggut-manggut, sambil bergumam, “Semoga saja orang yang kita

tunggu-tunggu itu memang benar.”

“Maksudnya apa kek?”

“Maksudnya benar itu ya ... tidak salah. Tidak salah orang alias tidak keliru. Bodoh benar kau ini!” Arjuna hanya cengar-cengir saja. Sudah jadi makanan sehari-hari kalau dirinya sering dikatakan bodoh oleh kakek itu. Sebenarnya, siapakah adanya kakek bercaping tempurung kura-kura dan bocah

bernama Arjuna itu?

Kakek bercaping aneh dengan baju lengan panjang dan celana komprang warna hijau dan di pinggangnya terlilit sebentuk sabuk dari kulit ular sanca kembang itu adalah salah satu dari empat pengawal Istana Elang yang saat ini masih hidup yang bergelar Si Kura-kura Dewa dari Selatan. Tidak ada yang tahu siapa nama aslinya, bahkan Elang Berjubah Perak pun tidak pernah tahu siapa nama dari bawahannya itu. Meski usianya sudah mencapai lebih dari tiga ratus tahun, namun masih tampak seperti orang berusia delapan puluhan tahun saja. Saat ini dirinya sedang menunggu kedatangan sang pewaris Tahta Angin yang dikawal oleh salah seorang murid Malaikat Sepuh Pulau Khayangan yang bernama Tabib Sakti Berjari Sebelas. Berita telah ditemukannya calon ketua Istana Elang disampaikan oleh elang berbulu perak yang selama ini mengikuti kemana saja Paksi Jaladara pergi. Tentu saja Si Kura-kura Dewa dari Selatan paham benar dengan bahasa isyarat hewan dan juga akrab dengan si penguasa angkasa itu, karena dirinya sendiri juga memiliki tunggangan satwa langka kura-kura raksasa yang selalu setia menemani majikannya. Kura-kura tunggangannya itu bukan hewan sembarangan, karena selain langka, juga memiliki kelebihan yang tidak dimiliki makhluk sejenisnya.

Sedangkan bocah gemuk bernama Arjuna, tepatnya Arjuna Sasrabahu adalah murid tunggalnya. Aslinya ia bernama Joko Keling, namun karena ingin namanya lebih gagah dan mentereng, diganti sendiri dengan nama Arjuna Sasrabahu. Biar kelihatan hebat, katanya! Si Kura-kura Dewa dari Selatan menemukan bocah gemuk itu secara tidak sengaja. Di saat dirinya sedang berjalan-jalan di sisi timur Lembah Badai, dia melihat bocah gemuk berusia kurang lebih delapan tahunan itu sedang bergulat dengan seekor ular sanca kembang yang besarnya sepaha orang dewasa. Bocah itu cukup kuat dan bisa menahan belitan ular yang cukup besar itu.

Jarang-jarang ada bocah memiliki tenaga sebegitu kuat.

Sebenarnya kakek itu tidak tertarik dan cenderung masa bodoh saja ketika menolong bocah itu. Kepala ular sanca kembang itu disentil dengan jarinya, sehingga kepala ular pecah berhamburan. Darah merah dan otak berceceran mengotori baju dan wajah bocah itu. Setelah lolos dari maut, bocah itu melepas baju dan mengusap wajah yang belepotan darah dengan bajunya. Mata kakek itu terbelalak lebar saat melihat sesuatu di dada kiri bocah itu. Sesuatu yang sedang dicari-carinya sehingga membuat dirinya kembali blusukan ke rimba persilatan dan kini tanpa sengaja terpampang

di depan batang hidungnya!

Rajah kura-kura hijau!

Rajah Kura-Kura Hijau adalah pertanda bahwa bocah gemuk itu merupakan salah satu calon pewaris dari ilmu-ilmu silat, kesaktian dan juga pengemban amanat sebagai salah satu Empat Pengawal

Gerbang Selatan dari Istana Elang.

Setelah menanyakan asal-usul dan diri pribadi bocah yang mengaku bernama Joko Keling tapi bocah itu lebih suka dipanggil dengan nama Arjuna, mengambil tokoh tampan dari ksatria panengah Pandawa, dengan maksud agar bisa meniru sifat ksatria itu, katanya. Sejak itulah, Joko Keling atau Arjuna diambil sebagai murid oleh Kura-kura Dewa dari Selatan. Namun, yang membuat kakek bangkotan itu jengkel bukanlah nama bocah itu, tapi syarat yang diajukan si bocah. Selama dirinya malang melintang di rimba persilatan, banyak tokoh-tokoh sakti bahkan para pendekar baik golongan putih maupun golongan hitam yang mengemis-ngemis agar bisa mewarisi sedikit saja ilmunya, ditolaknya mentah-mentah meski diiming-imingi dengan segala macam hata benda. Tapi giliran dia ingin mendapat murid, malah calon muridnya itu yang mengajukan

persyaratan yang membuatnya geleng-geleng kepala.

“Aku yang butuh atau dia yang butuh, sih? Masak tokoh sakti macam aku harus memenuhi syarat seorang bocah yang ingin kujadikan murid. Seribu tokoh sakti atau seribu putra pendekar terkenal saja kutolak saat mereka menawarkan diri menjadi muridku, eh ... giliran aku yang butuh murid dan ingin mengajarinya ilmu silat, malah sekarang aku yang harus memenuhi syarat calon muridku? Benar-benar kapiran bocah itu!?” batin kakek itu, waktu dia menawarkan diri sebagai guru si bocah.

“Baik, apa syarat yang kau ajukan itu?”

“Pertama, dalam satu purnama penuh, aku minta satu hari penuh untuk bermain kemana saja, terserah aku. Kedua, ilmu yang ingin kakek ajarkan haruslah ilmu-ilmu yang terbaik dan yang paling sakti bukan ilmu-ilmu kacangan. Dan ketiga, saya tidak mau menyebut guru pada kakek. Bagaimana,

“Tidak mau menyebut guru? Kok bisa begitu?” tanya si kakek heran. “Sebab, sebelumnya saya adalah murid Perguruan Silat Harimau Putih, tapi karena disuruh jadi

kacung terus-menerus, saya bosan.” kata Arjuna dengan polos.

“Perguruan Silat Harimau Putih? Maksudmu, perguruan silat yang berada di sisi utara tempat ini?”

“Betul.” sahut Arjuna sambil menganggukkan kepala.

“Memangnya, kau sudah berapa lama menjadi murid Perguruan Silat Harimau Putih?”

“Baru ... tiga bulan, kek.”

“Lalu, kau kesini dengan perlu apa?” selidik si Kura-kura Dewa dari Selatan. “Saya dikeluarkan dari perguruan, karena saya bermain diluar tanpa sepengetahuan guru.” “O, begitu rupanya. Baiklah, syaratmu kuterima. Tapi kau harus belajar dengan tekun!” “Baik!”

Maka, sejak saat ini, Arjuna menjadi murid tunggal dari Kura-kura Dewa dari Selatan. Tidak percuma kakek itu mengangkat si bocah menjadi muridnya, meski baru diajarkan jurus-jurus dasar, sudah cukup membanggakan kakek itu. Lalu ditingkatkan dengan latihan menghimpun hawa tenaga dalam,

dan hasilnya pun cukup bagus untuk bocah seukurannya.

Tanpa terasa, dua tahun berlalu.

Di saat itu pula, di saat Arjuna bermain-main kemana saja, kakek itu memerintahkan pula untuk mencari keterangan tentang adanya orang yang memiliki Rajah Elang Putih, yang merupakan

perlambang dari ketua Istana Elang.

Tanpa terasa, malam pun telah menjelang. Sang matahari telah kembali ke peraduannya dan kini digantikan oleh cahaya bintang dan bulan yang menyinari dengan anggun. Saat itu memang sedang

bulan purnama, bulan sedang bulat-bulatnya bertahta di angkasa.

Si kakek membuat api unggun di bawah pohon yang cukup rindang, sedang Arjuna sibuk menguliti empat ekor kelinci yang gemuk yang tadi siang dibawanya. Setelah selesai, daging kelinci yang sudah bersih itu diberi bumbu merica, bawang dan garam yang diambil dari saku kirinya, lalu ditusuk dengan sebilah bambu yang cukup panjang dan diserahkan kepada kakek bangkotan yang juga gurunya, sedang hati kelinci disatukan Arjuna dalam satu bilah bambu yang lain. Memang anak ini paling senang makan hati kelinci bakar. Tak lama kemudian, terciumlah bau harum dan gurih dari daging serta hati kelinci yang dibakar guru dan murid itu, sehingga menerbitkan air liur keduanya. Tak lama kemudian, mereka berdua sudah makan dengan nikmatnya. Sepenanakan nasi kemudian, semua daging kelinci bakar sudah tandas habis dan kini menghuni perut mereka berdua. Lalu tangan kanan murid si Kura-kura Dewa dari Selatan merogoh ke dalam tempurung yang selalu dibawanya, dan mengeluarkan sebuah guci kecil, melepas tutup guci dan menenggaknya dengan nikmat.

Glukk! Glukk! Glukk!

Terasa air dingin membasahi kerongkongan, lalu masuk ke dalam perut gendut si bocah. “Murid kurang ajar! Perisai Kura-kura Sakti kau jadikan tempat menaruh makanan! Murid macam apa kau ini?! Dikasih senjata pusaka malah dibuat mainan! Dasar bocah gemblung!” semprot si kakek

sambil menepak kepala sang murid.

“Uh, kakek ini, cuma untuk meletakkan guci kecil saja, masak tidak boleh!?” elak si bocah bersungut-sungut.

Si kakek memelototkan mata mendengar alasan murid tunggalnya.

“Dasar murid geblek!” gerutu si kakek, lalu tangannya menyambar ke arah guci dan sekejab kemudian guci sudah berpindah tangan dan isinya sudah pindah ke dalam perut. Arjuna hanya melirik saja melihat perbuatan gurunya, tak berani menegur, takut nantinya kalau kena semprot lagi. Kena semprotnya memang tidak masalah, tapi ludah yang menyertainya itu yang bermasalah.

“Kalau kena semprot lagi, lama-lama mukaku bisa jadi ladang banjir,” pikir Arjuna. “Juna, sebentar lagi, orang yang kita tunggu-tunggu akan segera datang. Kau siap-siaplah.”

Arjuna Sasrabahu hanya mengangguk saja.

Tak lama kemudian, tampaklah dua sosok bayangan yang berjalan dengan santai ke arah mereka. Bayangan sebelah kiri tinggi tegak sedang bayangan sebelah kanan agak pendek, seperti anak usia tujuh tahunan. Makin lama makin dekat ke arah dua orang yang sedang duduk menanti sejak tadi siang.

Beberapa saat kemudian, bayangan itu membentuk dua sosok manusia. Yang satu seorang kakek berjubah hijau panjang dipadu celana panjang hitam dan memegang tongkat di tangan kiri. Di punggung kakek bertongkat akar kayu cendana itu tersampir keranjang yang entah apa isinya. Satunya adalah seorang bocah yang memakai ikat kepala merah, dengan baju dalam lengan panjang dan celana pangsi berwarna biru yang diikat sehelai sabuk kain yang berwarna merah. Diluarnya mengenakan jubah putih tanpa lengan yang panjangnya pas dengan tinggi tubuhnya. Jubah putih itu berkibar-kibar saat terkena tiupan angin malam. Mereka berdua adalah Ki Gedhe Jati Kluwih yang

bergelar Tabib Sakti Berjari Sebelas dan Paksi Jaladara, bocah yang memiliki Rajah Elang Putih yang

berada dibalik ikat kepala merahnya!

Ketika jarak mereka berdua tinggal beberapa tindak, kakek tua bercaping tempurung kura-kura itu menghujaninya dengan teguran, “Tabib tua, lama sekali kau berjalan? Apa kau menginginkan tulang tua ini menjadi kaku kedinginan di tempat terbuka seperti ini?”

Dalam dokumen Pendekar Elang Salju (Halaman 54-59)