“Bocah, siapa namamu?”
“Paksi ... ” sahut Paksi. “Lengkapnya Paksi Jaladara.”
“Hemm, Paksi?! Nama yang bagus,” namun di hatinya ia berkata, “Sama persis dengan pesan dari Ketua Elang Berjubah Perak yang kuterima beberapa tahun yang silam atau mungkin cuma kebetulan saja?”
“Bocah, ceritakan bagaimana kau bisa memiliki Rajah Elang Putih yang tercetak di dahimu. Ceritakan
dengan singkat saja.”
Paksi Jaladara hanya menjungkitkan alisnya sambil membatin, “Kakek bercaping aneh ini hebat juga, mungkin tadi waktu melihatku dengan sorot mata tajam hanya untuk melihat rajah di dahiku ini.
Jangan-jangan ... kakek ini juga melihat perabotku yang lain.”
“Bocah, jangan berpikir yang macam-macam. Mana mungkin aku melihat segala macam perabot yang kau sembunyikan itu. Macam-macam saja pikiran anak sekarang ini,” gerutu si kakek, seolah bisa
membaca isi hati Paksi Jaladara.
Paksi Jaladara hanya nyengir kuda mengetahui apa yang dipikirkannya tertebak oleh si kakek. “Wah, berarti kakek ini tinggi juga ilmunya, bahkan sampai bisa membaca pikiran orang,” pikir Paksi. Kemudian Paksi menceritakan semua hal yang berhubungan dengan dirinya semenjak dia dilahirkan, itu pun sesuai dengan apa yang didengarnya dari penuturan ibunya, Nyi Salindri. Semua diceritakan secara singkat dan jelas, tidak ada yang ditambah atau pun dikurangi, bahkan saat Tabib Sakti Berjari
Sebelas mengajarkan sebuah jurus silat kepadanya juga diceritakan kepada kakek aneh itu. Kakek sakti yang berjuluk Si Kura-kura Dewa dari Selatan mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar
penuturan Paksi Jaladara, pemilik Rajah Elang Putih.
“Hemm, begitu rupanya. Jadi si Perak juga telah mengajarkan padamu beberapa jurus silat padamu. Dan aku yakin, jurus silat itu bernama Ilmu Silat ‘Elang Salju’, betul?” ucap si kakek. “Menurut kakek tabib, jurus itu benar adanya bernama Ilmu Silat ‘Elang Salju’. Tapi tidak hanya Si Perak saja, bahkan seorang kakek berjubah perak juga mengajarkannya lewat mimpi.” Kura-kura Dewa dari Selatan dan Tabib Sakti Berjari Sebelas hanya manggut-manggut saja. Tidak ada bantahan dari mulut dua tokoh tua itu. Sudah tidak aneh lagi jika mendengar hal yang mustahil
terjadi itu, namun begitulah kenyataan yang terjadi.
Sejak tadi Arjuna Sasrabahu hanya mendengarkan saja, tidak terdengar sedikit pun suara terucap dari mulutnya. Matanya hanya berkejap-kejap jenaka memandang Paksi Jaladara dari ujung rambut hingga ujung kaki, bahkan tadi sempat berdecak kagum saat mendengar bocah berikat kepala merah
menceritakan tentang jati dirinya.
“Hei, bagaimana menurutmu?” kata si kakek aneh sambil siku kirinya menyenggol muridnya.
“Apanya yang bagaimana kek?”
“Bodoh! Jadi apa yang kau kerjakan sejak tadi?” sentak gurunya. “Lho, bukankah kakek tadi menyuruhku diam, ya ... aku diam saja.” balas Arjuna dengan santai. “Kura-kura tua, boleh kutahu siapa bocah itu?” tanya Tabib Sakti Berjari Sebelas yang dengan heran memandang seorang bocah yang memakai tempurung kura-kura di punggungnya, bahkan dengan
santai sekali menjawab pertanyaan si kakek bercaping.
“Dia? Bocah menyebalkan itu? Dia ... dia adalah muridku.” sahut si Kura-kura Dewa dari Selatan
dengan bersungut-sungut.
“Muridmu?” tanya Ki Gedhe Jati Kluwih, “Bocah, siapa namamu?” “Kakek berkeranjang obat, saya adalah Arjuna,” ucap si bocah gemuk dengan mantap. “Ha-ha-ha-ha ... “ Paksi Jaladara langsung tertawa terbahak-bahak mendengar nama bocah gemuk itu.
“Kenapa tertawa? Menghina ya?” bentak Arjuna Sasrabahu dengan mata melotot, “Ada yang aneh
dengan namaku?”
“Tidak ... ha-ha-hi-hi, tidak, aku tidak menghinamu, hanya merasa lucu dan aneh saja, hi-hi.” “Apanya yang aneh dan lucu?” bentak Arjuna, masih dengan mata melotot. Melihat mata yang melotot lebar itu, tak urung si Kura-kura Dewa dari Selatan dan Tabib Sakti Berjari Sebelas tersenyum juga dan pada akhirnya malah meledak menjadi tawa yang berderai-derai. “Bocah, tak perlu melotot begitu, mukamu bukannya menyeramkan malah makin lucu. Matamu itu ... ha-ha-ha ... seperti bisul yang mau pecah, ha-ha-ha!” ucap gurunya, si Kura-kura Dewa dari Selatan
tertawa terkial-kial sambil memegangi perutnya.
Bocah bertempurung kura-kura di punggung itu hanya manyun berat. Sudah seringkali gurunya itu
menggodanya dengan ‘kata-kata semanis’ seperti itu.
“Sudahlah! Arjuna, coba kau uji dia!”
“Uji apa kek?”
“Tolol, tentu saja uji ilmu silatnya! Memang kau mau uji nyali!?” Arjuna tidak menyahut, hatinya masih dongkol sekali karena ditertawakan oleh bocah yang umurnya masih dibawahnya. Dia tidak menyadari bahwa dirinya juga seorang bocah! “Kesempatan baik! Akan kuhajar dia sampai sungsang sumbel!” pikirnya. “Baru kutahu ... betapa
manisnya balas dendam itu.”
“Arjuna, gunakan ‘Ilmu Silat Pulau Kura-Kura’! Ingat, jangan mengecewakan aku sebagai gurumu!”
seru kakek bercaping tempurung kura-kura itu.
Bocah berbadan boros itu hanya mengacungkan jempol kanannya saja. Tanpa persiapan terlebih dahulu, bocah yang mengenakan tempurung kura-kura di punggungnya itu menerjang Paksi yang saat itu sudah pasang kuda-kuda siap tarung. Badan besar tidak menghalangi kecepatan geraknya. ‘Ilmu Silat Pulau Kura-Kura’ yang dikuasainya memang merupakan salah satu ilmu silat langka di rimba persilatan. Gerakannya yang kadang selamban kura-kura berjalan dan kadang secepat kura-kura berenang, diiringi dengan kibasan tangan dan kaki dengan mantap. Akan halnya Paksi, bocah berikat kepala merah itu dengan lincah menghindar kesana-kemari. Gerakannya ringan laksana elang muda yang sedang mengecoh mangsanya. Ilmu Silat ‘Elang Salju’ yang dimilikinya juga merupakan salah satu ilmu langka yang ada di rimba persilatan selain ‘Ilmu Silat Pulau Kura-Kura’ yang dimiliki oleh Arjuna, murid Kura-kura Dewa dari Selatan! Sebentar saja, dua bocah murid tokoh-tokoh sakti rimba persilatan sudah baku hantam dengan seru. Kadang lambat, kadang cepat. Saat ini mereka berdua masih menggunakan ilmu silat dan kegesitan ilmu ringan tubuh yang mereka terima dari guru masing-masing.
“Tabib Tua, apakah kau sudah pernah mencoba ilmunya? Seberapa hebat dia?” “Untuk bocah seukuran dia, aku cukup kaget karena dia bisa menahan sepertiga dari tenagaku!”
“Heh!?” kaget sekali kakek bercaping tempurung kura-kura itu.
Kembali kakek bangkotan yang usianya sudah ratusan tahun itu kembali terdiam. Otaknya yang sudah karatan itu kembali berputar-putar, mencoba mengingat sepenggal demi sepenggal tentang si Elang Berjubah Perak tentang segala macam kehebatan ilmu kesaktiannya. ”Kalau bocah bernama Paksi itu sampai bisa menahan gempuran tabib tua ini, aku yakin sekali bahwa bocah itu sudah menguasai atau setidaknya mempelajari Kitab Sakti ‘Hawa Rembulan Murni’ pada tahap ‘Temaram Sinar Rembulan’.” kata hati kakek bercaping tempurung kura-kura. “Hemm, bocah itu
makin lama makin menarik saja.”
Pada saat itu, Paksi Jaladara menghadapi situasi yang sulit. Tangan kirinya melanjutkan serangan menukik menghindari tangkisan tinju kanan Arjuna Sasrabahu dan melewati bawah lengan. Sekarang ujung jemari tangan yang membentuk paruh elang menyerang ke arah titik kelemahan di leher. Wutt!!
Sementara jurus ’Tinju Kura-kura Berantai’ dari Arjuna Sasrabahu mencoba ditangkisnya dengan
tangan kanan, lewat jurus ‘Paruh Elang Memercik Air’!
Arjuna Sasrabahu tidak menghindar dari serangan paruh elang di lehernya, tapi ia meneruskan terjangan pukulan lurusnya ke empat titik di tubuh Paksi Jaladara. Percaya penuh dengan kekebalan kulitnya yang terangkum dalam ’Jubah Kura-Kura Sakti’, Arjuna membiarkan saja serangan lawan.
Dugh! Dugh! Dakk ... !
Tiga dari pukulan Arjuna berhasil ditangkis oleh Paksi Jaladara, bersamaan dengan ujung paruh elang Paksi Jaladara menyentuh kulit Arjuna Sasrabahu, bersamaan itu pula sebuah pukulan Arjuna Sasrabahu yang tak tertangkis menerobos masuk. Sedapat mungkin Paksi Jaladara menghindar. Namun tetap saja, pukulan Arjuna Sasrabahu masuk mengenai bahu Paksi Jaladara.
Bugh! Dess!! Jdduukkk!!
Sungguh perhitungan yang matang dari Arjuna Sasrabahu. Seolah ia rela mengorbankan titik lemah di
lehernya terkena paruh elang, sementara tinjunya berhasil masuk.
Paksi Jaladara bersalto beberapa kali ke belakang untuk mengurangi daya serang pukulan dari Arjuna Sasrabahu. Ketika ia melihat bahunya, tampak bajunya gosong seolah habis terbakar dan tampak warna hitam bekas pukulan di bahunya. Tinju Arjuna Sasrabahu masih mengejar Paksi Jaladara, sementara sudah sekian puluh jurus Paksi Jaladara tidak membalas sama sekali melainkan hanya menghindar saja dengan menggunakan jurus yang bernama ‘Elang Menggulung Angin dan Awan’. Ia tak menemukan celah sedikitpun untuk menyerang Arjuna Sasrabahu. Di saat itu, terdengar seruan keras dari Kura-Kura Tua, ”Bocah, gunakan ’Tinju Dewa Api’-mu.
Gunakan tenaga sepuluh bagian!”
Arjuna tidak menyahut, karena pada saat itu serangan Paksi yang kini ganti menyergapnya dengan jurus ‘Elang Menggulung Angin dan Awan’, jurus ini tidak hanya untuk menghindar saja, tapi juga
memiliki jurus serangan balik yang dahsyat.
Wutt!
Bocah bongsor itu segera bersalto menjauhkan diri dari serangan lawan. Arjuna segera mengambil posisi seperti kura-kura merangkak, sedang kepala, kedua tangan dan kaki di tarik ke dalam, masuk ke dalam tempurung kura-kura. Tempurung kura-kura yang disebut sebagai Perisai Kura-kura Sakti itu bukan benda sembarangan. Semua jenis senjata dan pukulan maut tidak akan dapat menembus atau bahkan menghancurkannya dengan mudah, karena tempurung itu berasal dari turunan binatang
langka, kura-kura hijau raksasa yang sudah mati.
Melihat reaksi lawan, Paksi segera melentingkan tubuh ke atas dengan gerakan kilat. Wuttt!!
Dari atas, Paksi Jaladara melancarkan jurus ‘Kelebat Ekor Elang’, sebuah jurus yang mengandalkan gabungan kecepatan serangan dan ilmu meringankan tubuh dimana setiap serangan dilambari dengan hawa tenaga dalam yang bisa menghancurkan tebing. Bahkan desiran angin tajam yang timbul akibat kecepatan serangan yang menggesek udara kosong bisa merobek kulit.
Dughh! Dharr ... !!
Terdengar benturan keras saat serangan dari jurus ‘Kelebat Ekor Elang’ yang dilancarkan Paksi Jaladara saat membentur Perisai Kura-kura Sakti yang berada di punggung Arjuna. Bocah gemuk yang menyembunyikan diri di dalam senjatanya yang unik itu, merasakan getaran yang cukup kuat dan rambatan hawa dingin yang menyusup-nyusup sampai tulang sumsum. ”Kurang ajar, ilmu apa yang dipakai bocah berikat kepala merah itu. Uhhh, dinginnya minta ampun. Brrrr ... !” gerutu Arjuna, sambil menggigil kedinginan. ”Harus kukerahkan ’Tenaga Inti Api’ nih. Dasar sialan!”
pelan. Napasnya menghela dengan teratur. Sebentar saja, terasa hawa hangat yang berputar-putar di pusarnya kemudian dialirkan ke seluruh pembuluh darah di tubuh untuk mengenyahkan hawa dingin akibat serangan dari Paksi Jaladara. Lalu perlahan tapi pasti, Arjuna Sasrabahu menjulurkan seluruh anggota tubuhnya yang tadi disembunyikan di dalam tempurung kura-kura sambil terus menghimpun
Ilmu Sakti ’Tinju Dewa Api’!
Sementara itu, bocah berikat kepala merah itu kini membentangkan kedua tangannya seperti membentangkan sayap-sayapnya dan membentukkan jari-jarinya seperti sebuah cakar elang. Jurus ‘Elang Menyambar Ikan di Lautan’ yang merupakan bagian dari Ilmu Silat ’Elang Salju’ akan dikeluarkan. Sebuah jurus yang paling akhir dikuasai, bahkan Tabib Sakti pun belum pernah melihat jurus ini sebelumnya, dimana untuk menyerang titik terlemah dari si lawan. Dan yang menjadi sasaran adalah jantung atau ulu hati. Paksi Jaladara melentik tinggi dan kemudian dari ketinggian ia bergerak
turun sangat cepat menuju satu titik.
Ulu hati lawan!
Arjuna Sasrabahu tampak bersiap dengan ‘Tinju Dewa Api’. Ia tidak berniat menghindar dari serangan Paksi Jaladara. Tetesan air keringat di tubuh Arjuna Sasrabahu sekejap berubah menjadi uap yang mengepul di sekitar tubuhnya. Bocah gemuk itu kembali mengambil sikap berjongkok seperti kura-kura merangkak, meletakkan kedua kepalan tinjunya di atas tanah. Paksi Jaladara masih melayang di atas, dengan kedua lengannya dibentangkan membentuk sayap elang, kedua tangannya membentuk cakar turun dengan cepat menuju ke arah Arjuna Sasrabahu. Jarak sekitar dua tombak ketika Paksi Jaladara menggerakkan perlahan tangan kanannya menuju muka Arjuna Sasrabahu dengan jurus ‘Elang Menyambar Ikan di Lautan’-nya.
Whuss!! Whus!!
Dan Arjuna Sasrabahu menghentakkan tinjunya di tanah dan melompat menerjang Paksi Jaladara di udara.
Duaassss ... ! Duarr ... !!!
Di tanah keras, tampak bekas ‘Tinju Dewa Api’ Arjuna Sasrabahu yang barusan dihantamkan mengepulkan uap panas. Beberapa puluh pukulan tinju mengarah ke titik-titik lemah di tubuh Paksi Jaladara. Mengarah ke jidat antara dua mata, ke arah sebelah kiri dan kanan mata, ke arah titik leher bawah dagu kanan dan kiri, ke arah ulu hati, ke arah limpa, ke arah titik pusat, ke arah lutut dan
pergelangan kaki.
Wusss ... Wuss ... !!!
Detik-detik terakhir sebelum benturan dua tenaga dan jurus terjadi, kaki kanan Paksi Jaladara menginjak kaki kirinya di udara, sebagai tumpuan loncatan. Tubuhnya meliuk berputar bersalto melewati kepala Arjuna Sasrabahu dan kini dalam gerak yang sangat cepat, dua cakarnya bergantian
menyerang belakang kepala Arjuna Sasrabahu!
Sett! Settt!!
Hanya selisih hitungan detik saja ketika puluhan ‘Tinju Dewa Api’ Arjuna Sasrabahu mengenai tempat kosong dan kini ia terancam oleh jurus ‘Elang Menyambar Ikan di Lautan’ Paksi Jaladara. Arjuna Sasrabahu menekuk kepalanya menghindari serangan ke arah belakang kepala. Dan bersamaan dengan itu, tubuhnya melengkung membentuk bulatan, meski ia tak bisa lolos dari cakar
elang, ia masih dapat menyelamatkan ulu hatinya.
Dduuueessss ... !!!!! Drakkkk ... !!!
Jurus ‘Elang Menyambar Ikan di Lautan’ bergeser sasarannya, mengenai punggung Arjuna Sasrabahu, menghantam tepat pada tempurung kura-kura yang ada di punggungnya. Terdengar
suara keras.
Brrakkk!!
Arjuna Sasrabahu terpelanting dan tulang ekornya terasa nyeri saat menghantam tanah. Sambil berputar turun dari udara, Paksi Jaladara masih sempat menjejakkan kakinya, meluncurkan tendangan ke arah ulu hati Arjuna Sasrabahu. Posisi tak memungkinkan mengenai sasaran, kembali
terdengar suara keras.
Bughhh!! Krrakkkk ... !!
Ketika tendangan Paksi Jaladara mengenai tengah-tengah tempurung kura-kura itu. Arjuna Sasrabahu semakin terjerembab, nyungsep dengan tubuh telungkup sampai beberapa tombak.
”Cukup! Cukup!”
Terdengar bentakan keras dari mulut Kura-kura Dewa dari Selatan. Kakek bercaping itu segera menghampiri muridnya yang nyungsep di tanah. Bocah bertubuh gemuk hanya menggeleng-gelengkan kepala karena pusing yang teramat sangat. Tidak ada luka pada tubuhnya, akan tetapi andaikata tidak terhalang oleh Perisai Kura-kura Sakti, mungkin akan terluka dalam lumayan parah. Pengawal Gerbang Selatan Istana Elang memeriksa keadaan muridnya. Tidak ada luka yang serius, hanya terasa hawa dingin saat ia menyentuh Perisai Kura-kura Sakti yang dikenakan muridnya.
“He-he-he, jangan sedih kek, aku tidak apa-apa kok,” ujar Arjuna seperti tahu apa yang dipikirkan
gurunya, “Santai saja.”
“Sedih kepalamu pitak! Aku hanya mengkhawatirkan Perisai Kura-kura Sakti saja. Buat apa khawatir
dengan bocah dogol macam kau!” sentak Kura-kura Dewa.
Arjuna hanya menjebikkan bibir saja, lalu bangkit berdiri setelah merasa bahwa hawa dingin itu sudah hilang saat kakek itu menyentuh tempurung kura-kura yang dipakainya. Sedangkan Paksi Jaladara, masih duduk bersila untuk menetralisir hawa panas yang sempat menyengat bahunya. Beberapa saat kemudian, keluarlah uap putih yang membungkus seluruh tubuhnya. “Gila! Bukankah itu tahap awal dari Kitab Sakti ‘Hawa Rembulan Murni’ bagian kedua yang bernama ‘Bayangan Rembulan’?” Kura-kura Dewa dari Selatan berseru dengan kaget, “Bocah macam apa
yang dipilih oleh sang Ketua? Sungguh luar biasa!”
Tabib Sakti Berjari Sebelas juga kaget saat mendengar perkataan kakek bercaping aneh itu. “Benarkah?”
“Ya, aku tahu dengan pasti bahwa bocah itu sedang mengerahkan bagian kedua dari kitab itu,” jelas si kakek sambil mengamati gerak-gerik bocah berikat kepala merah. “Setahuku, ilmu ‘Tinju Dewa Api’ tingkat menengah sebanding dengan tingkat ke dua dari Kitab Sakti ‘Hawa Rembulan Murni’ yang
bernama ’Bayangan Rembulan’.”
Ki Gedhe Jati Kluwih manggut-manggut. Tiba-tiba terlintas dibenaknya suatu hal dikepalanya. ”Sebenarnya, ada berapa tingkat yang ada di kitab itu?” Tabib Sakti Berjari Sebelas bertanya. ”Ada 4 tingkat. Yang pertama adalah ’Temaram Sinar Rembulan’, kedua adalah ‘Bayangan Rembulan’, yang ketiga adalah ‘Di Bawah Sinar Bulan Purnama’ dan yang terakhir adalah ‘Tapak Rembulan Perak’ yang merupakan bentuk gabungan 3 tingkat sebelumnya. Yang terakhir inilah yang paling sulit dikuasai. Ketua terdahulu hanya menguasai sampai tahap menengah saja,” sahut kakek bercaping aneh itu sambil mengamat-amati gerak-gerik Paksi Jaladara. “Kurasa bocah itu sudah
menguasai tahap kedua meski belum sempurna betul.”
Sepenanakan nasi telah berlalu, bocah pilihan dari Elang Berjubah Perak telah selesai menetralisir
hawa panas yang masuk ke dalam tubuhnya.
“Bocah, bagaimana keadaanmu?”
“Seperti yang kakek lihat, saya baik-baik saja.”
“Ayo, kita duduk disana,” kata kakek bertempurung kura-kura itu sambil berjalan menuju ke bawah pohon rindang dimana Joko Keling alias Arjuna Sasrabahu dan Ki Gedhe Jati Kluwih asyik ngobrol. Paksi Jaladara mengiyakan saja, lalu berjalan mengikuti kakek itu. Mereka berempat duduk melingkari api unggun sambil bercakap-cakap. Tabib Sakti Berjari Sebelas dan Kura-kura Dewa Dari Selatan duduk berjajar sedangkan dihadapannya duduk berdua Arjuna dan Paksi. Dua bocah yang tadi sudah saling gebrak itu, kini sudah ngobrol ngalor ngidul tak karuan juntrungannya. Maklum, namanya juga bocah, yang diberikan sekitar dunia mereka. Kakek bertongkat kayu cendana mengeluarkan dendeng menjangan kering, dibumbui dengan merica, bawang putih dan garam yang sudah dilumatkan, lalu ditusuk dengan bilahan bambu kecil dan dibakar diatas api unggun. Lalu dikeluarkannya sebentuk kantong air dan 4 potongan gelas bambu, dibukanya tutup kantong itu dan air yang mengeluarkan bau semriwing telah tertampung di gelas bambu. “Ha-ha-ha, dasar tabib! Kemana-mana selalu saja membawa air jahe, he-he-he,” seloroh kakek bercaping aneh itu, “ ... tapi bagus juga. Panggang dendeng menjangan diselingi dengan minum air jahe.”
Begitulah, sambil berbicara panjang lebar tentang pengalaman masing-masing, mereka menikmati makanan yang ada didepan mereka. Bahkan diselingi oleh gerak tawa dari mereka berempat jika ada
cerita yang lucu dan menarik.
Tak terasa, tengah malam telah datang, kemudian Kura-kura Dewa mengajak mereka ke pondokan mereka dan mempersilahkan tamunya untuk istirahat di kamar sebelah kiri, sedang guru dan murid itu
lebih memilih tidur dengan cara yang tidak lazim.
Tidur diatas tali yang digantung disisi kiri dan kanan!