• Tidak ada hasil yang ditemukan

MASYARAKAT LOKAL

HASIL/OUTPUT PENELITIAN

4.2 Zonasi Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Rinjani

Secara keseluruhan luas Hutan Rinjani adalah 124.894 ha dan ditetapkan sebagai kawasan hutan dalam berbagai fungsi, yaitu: hutan lindung (59.304,50 ha), hutan produksi tetap (11.550,74 ha), hutan produksi terbatas (9.194,66 ha), Taman Nasional Gunung Rinjani (41.330 ha), taman wisata alam (359,10 ha) dan taman hutan raya (3.155,00 ha). Penetapan kawasan hutan tersebut didasarkan hasil pengukuhan dan tata batas hutan yang dilaksanakan sejak tahun 1930 sehingga secara yuridis formal mempunyai landasan hukum yang kuat (Dinas Kehutanan NTB 1997).

Pasal 1 ayat (14) UU No 5 Tahun 1990 tentang “Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya” menegaskan bahwa taman nasional adalah kawasan pelesatarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Selanjutnya Peraturan Menteri Kehutanan No P.56/Menhut-II/2006 tentang “Pedoman Zonasi Taman Nasional”, pada pasal 1 ayat (4) sampai (10) menjelaskan batasan (pengertian) zona taman nasional dan selanjutnya fungsi dari masing-masing zona tersebut dijelaskan pada pasal 6 huruf (a) sampai (g) sebagai berikut:

¾ Zona inti adalah bagian taman nasional yang mempunyai kondisi alam baik

biota ataupun fisiknya masih asli dan tidak atau belum diganggu oleh manusia yang mutlak dilindungi; berfungsi untuk perlindungan ekosistem, pengawetan flora dan fauna khas beserta habitatnya yang peka terhadap gangguan dan perubahan, sumber plasma nutfah dari jenis tumbuhan dan satwa liar, untuk kepentingan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan penunjang budidaya

¾ Zona rimba (untuk wilayah perairan laut disebut zona perlindungan bahari)

adalah bagian taman nasional yang karena letak, kondisi dan potensinya mampu mendukung kepentingan pelestarian pada zona inti dan zona pemanfaatan; berfungsi untuk kegiatan pengawetan dan pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan alam bagi kepentingan penelitian, pendidikan konservasi, wisata terbatas, habitat satwa migran dan menunjang budidaya serta mendukung zona inti.

¾ Zona pemanfaatan adalah bagian taman nasional yang letak, kondisi dan

alam dan rekreasi, jasa lingkungan, pendidikan, penelitian dan pengembangan yang menunjang pemanfatan, kegiatan penunjang budidaya.

¾ Zona tradisional adalah bagian dari taman nasional yang ditetapkan untuk

kepentingan pemanfaatan tradisional oleh masyarakat yang karena kesejarahan mempunyai ketergantungan dengan sumber daya alam.

¾ Zona rehabilitasi adalah bagian dari taman nasional yang karena mengalami

kerusakan, sehingga perlu dilakukan kegiatan pemulihan komunitas hayati dan ekosistemnya yang mengalami kerusakan sehingga menjadi atau mendekati kondisi ekosistem alamiahnya.

¾ Zona religi, budaya dan sejarah adalah bagian dari taman nasionai yang

didalamnya terdapat situs religi, peninggalan warisan budaya dan atau sejarah yang dimanfaatkan untuk kegiatan keagamaan, perlindungan nilai-nilai budaya atau sejarah; berfungsi untuk memperlihatkan dan melindungi nilai-nilai hasiI karya, budaya, sejarah, arkeologi maupun keagamaan, sebagai wahana penelitian; pendidikan dan wisata alam sejarah, arkeologi dan religius.

¾ Zona khusus adalah bagian dari taman nasional karena kondisi yang tidak

dapat dihindarkan telah terdapat kelompok masyarakat dan sarana penunjang kehidupannya yang tinggal sebelum wilayah tersebut ditetapkan sebagai taman nasional antara lain sarana telekomunikasi, fasilitas transportasi dan listrik.

Berkenaan dengan kepentingan pengelolaan sebagai Taman Nasional di Indonesia, kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) dibagi menjadi beberapa zona pemanfaatan. Pembagian zona ini ditetapkan berdasarkan SK Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor: SK 99/IV/Set-3/2005 tanggal 26 September 2005 tentang “Penataan Zona pada Taman Nasional Gunung Rinjani”. Posisi dan luas masing-masing zona TNGR secara lengkap dapat dilihat pada Gambar 8 dan Tabel 9 berikut.

Gambar 8. Pembagian Zonasi TNGR

(Sumber : WWF Indonesia Program Nusa Tenggara – Mataram, 2008) Keterangan:

1 = Pintu masuk pendakian Rinjani (Senaru) 5 = Zona Rehabilitasi Aik Berik 9 = Jalur Hijau TNGR

2 = Pemandian Air Panas (Goa Susu) 6 = Lokasi wisata (Permandian) Otak Kokok, Joben 10 = Pemandian Air Panas Sebau 3 = Camping Ground Danau Segara Anak 7 = Lokasi Rehabilitasi Swadaya, Kembang Sri

4 = Enclave (tidak ada pemukiman) 8 = Air Terjun Jeruk Manis, Kembang Kuning

Tabel 9. Luas, Lokasi dan Karakteristik Masing-masing Zona Taman Nasional Gunung Rinjani

No Zona Pengelolaan Luas (ha) Lokasi Keterangan

1 Zona Inti 20.843,50 Berada di bagian tengah Hutan Rinjani, meliputi Puncak Rinjani, - CH : 2 200 – 3 800 mm/th a. Zona Inti Darat 19.717,50 Danau Segara Anak dan sekitarnya, akan tetapi penyebaran lokasinya - Ketinggian: 500 – 3 726 m dpl b. Zona Inti Danau 1.126,00 Dari Danau Segara Anak ke arah Sebelah Timur, Utara, dan Selatan

sedangkan ke arah Barat hanya sedikit.

2 Zona Rimba 17.349,50 Berada menyebar di seluruh wilayah TNGR mengelilingi Zona Inti - CH : 1 400 – 2 000 mm/th - Ketinggian: 500 – 2 000 m dpl - Kemiringan 10 – 40% 3 Zona Pemanfaatan 799,00

a. Zona Pemanfaatan Intensif 398,00 (1) Otak Kokok (171 ha; 600 m dpl) , (2) Sebau (20 ha; 750 m dpl), (3) Kembang Kuning (150 ha), & (4) Senaru (57 ha)

- CH : 2 700 mm/th

- Ketinggian: 600 – 750 m dpl

b. Zona Pemanfaatan Khusus (ZPK) 401,00

- ZPK Kultural/ budaya 75,00 (1)Sekitar Goa Susu, Goa Payung & Goa Manik (25 ha) (2)Sekitar Danau Segara Anak (50 ha)

- Ketinggian: 1 800 - 2 100 m dpl - CH: 2 800 – 3 400 mm/th - ZPK Wisata terbatas 326,00 (1) Jalan trail wisata: Sembalun, Kembang Kuning, Senaru, Torean

dan Santong;

(2) Shelter jalur Senaru, Sembalun dan Kembang Kuning

- Savana - CH: 2 000 – 2 200 mm/th - Kemiringan 0-20% 4 Zona Lainnya 2.338,00 5 6 7 10 8 9 4 3 2 1

a. Zona Pemanfaatan Tradisional 583,00 (1) Srijata (418 ha) (2) Timbanuh (175 ha)

- CH : 1 800 – 2 400 mm/th - Ketinggian: 500 – 2 000 m dpl b. Zona Rehabilitasi 1.755,00 (1) Gawah Akar (350 ha) ,

(2) Memerong (75 ha), (3) Lelongken (300 ha),

(4) Lingkung-Kembang Sri (350 ha), (5) Stiling-Lantan (300 ha), dan (6) Kekuang (380 ha).

- CH : 1 500 – 2 800 mm/th - Ketinggian: 650 –1 600 m dpl

Total 41.330,00

Penetapan zonasi TNGR sebagaimana disajikan pada Tabel 10 didasarkan pada pertimbangan tingkat sensitivitas wilayah yang dikombinasi dengan penyebaran obyek wisata/rekreasi, obyek khusus dan jalur jalan kecil (trail) yang telah ada. Tingkat sensitivitas wilayah didasarkan pada 7 (tujuh) kriteria, yaitu: kelerengan, jenis tanah, bahaya vulkanologi, daerah aliran sungai, keanekaragaman hayati, status flora dan fauna, dan curah hujan (Kanwil Kehutanan Propinsi NTB 1997).

Tabel 10. Kriteria Penetapan Zonasi TNGR. Zona Kriteria

Inti - Wilayah sensitivitas tinggi

- Wilayah sensitivitas sedang yang ditinjau dari lokasinya lebih efektif dikelola sebagai zona inti

Rimba - Wilayah sensitivitas sedang

- 50 m sisi kiri dan 50 m sisi kanan jalan raya yang bisa dilalui kendaraan roda 4 pada wilayah sensitivitas tinggi

- 25 m sisi kiri dan 25 m sisi kanan sepanjang jalur trail pada wilayah sensitivitas tinggi

- Daerah obyek wisata terbatas pada wilayah sensitivitas tinggi

Pemanfaatan Intensif - Wilayah sensitivitas rendah dan/atau sedang berpotensi untuk kegiatan rekreasi, pendidikan atau penelitian bagi semua lapisan pengunjung

Pemanfaatan Khusus - Daerah obyek wisata yang sudah ramai dikunjungi oleh wisatawan dan masyarakat yang berada di wilayah sensitivitas tinggi dan sedang dengan kondisi topografi dan jalan relatif sulit/berat dan fasilitas pelayanan pengunjung sangat terbatas Sumber : Kanwil Kehutanan Propinsi NTB 1997.

Zona inti meliputi inti darat dan inti danau, terdapat di bagian tengah TNGR yang dikelilingi oleh zona rimba. Namun di sepanjang jalur pendakian, termasuk ke dalam zona pemanfaatan dan di bagian sebelah Utara Danau Segara Anak merupakan zona khusus wisata yang diperuntukkan bagi para pendaki untuk mendirikan tenda. Dari Gambar 8 di atas, nampak bahwa zona pemanfaatan berada di bagian Selatan TNGR termasuk zona pemanfaatan khusus wisata yang terdapat di beberapa tempat seperti Air Terjun Jeruk Manis (Resort Kembang Kuning) dan Air Terjun Otak Kokoq (Resort Joben).

Zona pemanfaatan tradisional juga berada di bagian Selatan, yaitu di wilayah Srijata (Resort Joben) seluas 418 ha dan di Timbanuh (Resort Kembang Kuning) seluas 175 ha. Sementara itu di beberapa lokasi terdapat zona rehabilitasi, yaitu di Gawah Akar, Memerong, Lelongken, Kembang Sri, dan Stiling sampai Lantan

Khusus di wilayah Resort Sembalun (Timur Laut TNGR) terdapat enclave yaitu di Dusun Memerong dan Dendaun, Desa Sembalun Lawang. Akan tetapi tidak ada masyarakat yang bermukim di tempat ini, hanya merupakan tanah milik masyarakat yang dibuktikan dengan kepemilikan Surat Pemberitahuan Pajak Tahunan (SPPT). Di Dusun Dendaun, terdapat tanaman kopi arabica (yang dikenal dengan Kopi Sembalun) dan di bagian pinggir terdapat beberapa pohon kayu. Sementara di Dusun Memerong umumnya berupa padang alang-alang dan digunakan sebagai tempat penggembalaan sapi oleh masyarakat. Beberapa tahun yang lalu, tempat ini digunakan untuk menanam bawang putih, akan tetapi setelah budidaya bawang putih kurang menguntungkan secara ekonomi, tempat ini dibiarkan kosong.

Satu hal yang perlu dicermati, meskipun secara de jure pembagian zonasi Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) sudah jelas lokasi dan luas masing-masing, namun secara de facto batas antar masing-masing zona tidak jelas. Hingga saat ini belum ada tanda yang jelas yang membatasi dan memisahkan antar zona sehingga jangankan masyarakat, petugas lapanganpun sebagian tidak mengetahui secara jelas dan pasti batas dari masing-masing zona, bahkan seringkali hanya menggunakan feeling dalam menentukan batas antar zona. Semua ini berimplikasi terhadap perencanaan dan implementasi kegiatan serta penerapan ketentuan-ketentuan pada setiap zona TNGR tidak dapat diberlakukan secara efektif. Karena itu perlu dilakukan penataan kembali dan sosialisasi zonasi TNGR sehingga pengelolaannya dapat dilakukan secara lebih terarah dan efektif sesuai dengan fungsi masing-masing zona.

Ketidakjelasan tata batas kawasan juga merupakan salah satu kendala yang dihadapi Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) sehingga mengakibatkan munculnya kerumitan dalam upaya pengelolaan. Bahkan, sering menimbulkan konflik antara petugas TNGH dengan pihak lain, baik dengan masyarakat maupun dengan instansi lain. Oleh karena itu, dalam rangka pemantapan kawasan tersebut, maka dilakukan upaya-upaya, antara lain: (1) rekonstruksi tata batas, yaitu penataan batas ulang kawasan TNGH melalui

kerjasama kehutanan dengan pemerintah daerah dan melibatkan pula persetujuan masyarakat setempat, (2) penataan batas zonasi, yaitu penataan batas berdasarkan fungsi kawasan yang mencakup zona inti, zona rimba dan zona pemanfaatan intensif, dan (3) survei Identifikasi kawasan hutan dalam rangka usulan perluasan kawsan TNGH (Widada 2008).

4.3 Potensi TNGR