Subordinasi Perempuan Dalam Adat Batak Toba (Studi Kasus terhadap Perempuan sebagai Orangtua Tunggal dalam Filosofi Dalihan Na Tolu pada Masyarakat Batak Toba)

153  10  Download (0)

Teks penuh

(1)

SUBORDINASI PEREMPUAN DALAM ADAT BATAK TOBA

(Studi Kasus terhadap Perempuan sebagai Orangtua Tunggal

dalam Filosofi Dalihan Na Tolu pada Masyarakat Batak Toba)

SKRIPSI

NORA EVANGELINE PASARIBU

100904102

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

MEDAN

(2)

SUBORDINASI PEREMPUAN DALAM ADAT BATAK TOBA

(Studi Kasus terhadap Perempuan sebagai Orangtua Tunggal

dalam Filosofi Dalihan Na Tolu pada Masyarakat Batak Toba)

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untukmemperoleh gelar

sarjana program strata 1 (S1) pada Departemen Ilmu

Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas

Sumatera Utara

Nora Evangeline Pasaribu

100904102

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

(3)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

Lembaran Persetujuan Sripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh : Nama : Nora Evangeline Pasaribu

NIM : 100904102

Departemen : Ilmu Komunikasi

Judul :SUBORDINASI PEREMPUAN DALAM ADAT

BATAK TOBA (Studi Kasus Terhadap Perempuan sebagai Orangtua Tunggal Dalam Filosofi Dalihan Na Tolu Pada Masyarakat Batak Toba)

Dosen pembimbing Ketua Departemen Ilmu Komunikasi

Yovita Sabarina Sitepu, S.Sos, M.Si Dra. Fatma Wardy Lubis, M. A /// NIP. 19801107200642002 NIP. 1962082819870122001

Dekan FISIP USU

(4)

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini diajukan oleh : Nora Evangeline Pasaribu

NIM : 100904102

Departemen : Ilmu Komunikasi

Judul Skripsi :SUBORDINASI PEREMPUAN DALAM ADAT

BATAK TOBA (Studi Kasus Terhadap POT Dalam Filosofi Dalihan Na Tolu Pada Masyarakat Batak Toba)

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

Majelis Penguji

Ketua Penguji :

Penguji :

Penguji Utama :

(5)

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumber baik yang dikutip Maupun dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika dikemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka

saya

Bersedia di proses sesuai dengan hukum yang berlaku.

Nama : Nora Evangeline Pasaribu

NIM : 100904102

Tanda tangan : _________________

(6)

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul Subordinasi Perempuan dalam Adat Batak Toba (Studi Kasus Terhadap Perempuan sebagai Orangtua Tunggal dalam Filosofi Dalihan Na Tolu Pada Masyarakat Batak Toba). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa-apa saja subordinasi yang terjadi pada perempuan sebagai orangtua tunggal serta ketidakseimbangan perlakuan terhadap perempuan yang bertolak belakang dengan “Dalihan Na Tolu”. Penelitian ini menggunakan paradigm kritis sebagai sudut pandang peneliti, sedangkan metode yang digunakan adalah metode kualitatif dalam bentuk studi kasus, dimana peneliti akan memberikan pemaparan atau gambaran umum mengenai subordinasi perempuan sebagai orangtua tunggal di dalam adat Batak. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam (in-dept interview) yaitu wawancara terhadap lima informan yang telah memenuhi kriteria yang telah ditentukan sebelumnya. Wawancara dilakukan secara intensif dan terus menerus sampai data yang didapatkan telah sesuai dengan tujuan penelitian dan penelitian kepustakaan (Library Research). Hasil penelitian menunjukkan bahwa informan (RS,YS, SM, MP dan LM) sebagai orangtua tunggal tersubordinasi baik melalui komunikasi verbal maupun nonverbal dan subordinasi tersebut berbeda dengan filosofi masyarakat Batak. Budaya dari pola pikir masyarakat jauh lebih kuat mempengaruhi kebiasaan sehingga adanya subordinasi yang bertolak belakang dengan filosofi “Dalihan Na Tolu”.

(7)

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN

1.1 Konteks Masalah ... 1

1.2 Fokus Masalah ... 7

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Manfaat Penelitian ... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kerangka Teoritis ... 8

2.1.1 Kajian Budaya ... 16

2.1.2 Teori Gender ... 20

2.2 Kerangka Pemikiran ... 27

2.3 Model Teoritis ... 30

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian ... 34

3.2 Objek Penelitian ... 37

3.3 Subjek Penelitian ... 39

3.4 Unit Analisis ... 42

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 44

3.6 Teknik Analisis Data ... 45

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil ... 46

4.2 Pembahasan ... 83

BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 92

5.2 Saran... 94 DAFTAR PUSTAKA

(8)

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul Subordinasi Perempuan dalam Adat Batak Toba (Studi Kasus Terhadap Perempuan sebagai Orangtua Tunggal dalam Filosofi Dalihan Na Tolu Pada Masyarakat Batak Toba). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa-apa saja subordinasi yang terjadi pada perempuan sebagai orangtua tunggal serta ketidakseimbangan perlakuan terhadap perempuan yang bertolak belakang dengan “Dalihan Na Tolu”. Penelitian ini menggunakan paradigm kritis sebagai sudut pandang peneliti, sedangkan metode yang digunakan adalah metode kualitatif dalam bentuk studi kasus, dimana peneliti akan memberikan pemaparan atau gambaran umum mengenai subordinasi perempuan sebagai orangtua tunggal di dalam adat Batak. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam (in-dept interview) yaitu wawancara terhadap lima informan yang telah memenuhi kriteria yang telah ditentukan sebelumnya. Wawancara dilakukan secara intensif dan terus menerus sampai data yang didapatkan telah sesuai dengan tujuan penelitian dan penelitian kepustakaan (Library Research). Hasil penelitian menunjukkan bahwa informan (RS,YS, SM, MP dan LM) sebagai orangtua tunggal tersubordinasi baik melalui komunikasi verbal maupun nonverbal dan subordinasi tersebut berbeda dengan filosofi masyarakat Batak. Budaya dari pola pikir masyarakat jauh lebih kuat mempengaruhi kebiasaan sehingga adanya subordinasi yang bertolak belakang dengan filosofi “Dalihan Na Tolu”.

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Konteks Masalah

Perempuan merupakan kaum yang sering di nomor duakan di kehidupan sehari-hari. Perempuan seringkali mendapat perlakuan yang kurang adil di dalam kehidupan masyarakat Batak. Dengan sistem patrilineal yang dianut oleh masyarakat Batak, jelas menunjukkan bahwa anak laki-laki sebagai generasi penerus, sedangkan anak perempuan kelak akan ikut marga suaminya. Masyarakat patrilineal khususnya dalam masyarakat “Batak Toba” menganggap bahwa anak laki-laki lebih berharga atau lebih tinggi kedudukannya dari pada anak perempuan. Anak laki-laki dianggap sebagai pembawa keturunan ataupun penerus marga dari orangtuanya. Sebaliknya, anak perempuan nanti akan ikut dengan suami dan keturunan yang dilahirkannya akan mengikuti marga suaminya.

(10)

Kedudukan perempuan sebagai orangtua tunggal menurut adat bertolak belakang pada kenyataan bahwa perempuan sebagai orang asing. Sehingga tidak berhak untuk mendapat apapun.Namun di dalam adat jika isteri tidak menikah lagi, maka isteri dapat memiliki harta yang diperoleh selama ada ikatan perkawinan (harta bersama). Oleh sebab itu, perempuan sebagai orangtua tunggal pada adat Batak Toba memiliki suatu ketentuan, yaitu apabila “janda” diintegrasikan ke dalam keluarga suaminya, ia dapat menetap di sana dan mendapat nafkah. Akan tetapi, apabila perempuan tersebut memisahkan diri dari keluarga suaminya, perempuan sebagai orangtua tunggal tidak akan berhak memiliki benda milik suaminya.

Anak perempuan dalam suku batak yang tidak memiliki saudara laki-laki, tidak berhak mendapat warisan dari orangtua karena dianggap tidak dapat melanjutkan silsilah keluarganya dan keluarga tersebut hanya berhenti di anak perempuan. Anak perempuan yang demikian disebut “siteanon”, artinya semua harta warisan ayahnya tidak dapatdimiliknya dan harus diwarisi anak laki-laki dari saudara laki-laki ayahnya. Tetapi pada masa sekarang, jika ayahnya memberikan surat wasiat yang tertuju pada anaknya, maka anak perempuan dapat memilikinya. Bukan hanya dalam hak warisan, pendapat perempuan dikalangan Batak juga tidak didengarkan, perempuan dianggap kurang memiliki hak suara dikeluarga suami maupun dikeluarga sendiri. Pendapat isteri biasanya disamakan dengan pendapat suami. Akan tetapi di dalam adat Batak, suara perempuan masih dapat diperhitungkan pada saat-saat tertentu. Seperti saat keluarga sendiri yang langsung bertanya dan meminta pendapat perempuan sebagai isteri maupun sebagai anak perempuan.

(11)

Perempuan hanya sebagai pengguna untuk sumber kehidupan tanpa memiliki sementara pendapatnya bukan hal yang penting untuk dipertimbangkan, itupun jika memiliki anak laki-laki. Sementara perempuan sebagai orangtua tunggal yang tidak memiliki anak tanpa pernikahan atau hamil tanpa adanya pernikahan, cenderung dikucilkan bahkan dianggap sangat rendah. Sebagai orangtua tunggal yang belum pernah menikah lebih dianggap mempermalukan keluarga sehingga terasing dikeluarga, dan anak tersebut tidak dianggap karena tidak memiliki marga.

Pernikahan pada suku Batak bukan masalah perseorangan, tetapi masalah keluarga. Bila seseorang menikah dengan orang lain, bukan saja dia yang mengikat tali kekerabatan dengan keluarga istri atau suaminya, tetapi terbentuklah jaringan-jaringan kekerabatan atau jaringan kekeluargaan yang baru. Kalau ikatan kekerabatan sudah ada atau sudah erat sebelumnya, maka pernikahan itu berarti memperbaharui dan memperkuat ikatan yang sudah ada. Tetapi jika diantara mempelai itu tidak terdapat hubungan kekeluargaan atau kekerabatan sebelumnya, maka pernikahan mereka akan membentuk suatu jaringan kekerabatan atau jaringan kekeluargaan yang baru (Tambun, 2004: 56).

(12)

peminggiran dan penomerduaan pun dirasakan perempuan sebagai orangtua tunggal.

Masyarakat Batak Toba memiliki filosofi yang menyangkut masyarakat da Tolu” merupakan simbol dari sistem sosial masyarakat batak yang sampai di abad modern ini peranannya sangat kuat dalam membina kehidupan khususnya masyarakat batak baik yang menyangkut pergaulan hidup, kepemimpinan, hukum dan lain sebagainya. Filosofi “Dalihan Na Tolu” ini menunjukkan solidaritas persatuan dan sikap saling hormat menghormati diantara sesama manusia. Hal ini disebabkan karena sistem etika yang mengayomi para pihak di dalam “Dalihan Na Tolu” sangat relevan di setiap perkembangan jaman. Dalam adat Batak, “Dalihan Na Tolu” ditentukan dengan adanya tiga kedudukan fungsional yang terdiri dari tiga hal yang menjadi dasar bersama. Ketiga hal tersebut yaitu, Pertama, “Somba Marhulahula/samba” Hormat kepada keluarga pihak

Ketiga, “Manat Mardongan Tubu”bersikap hati-hati atau saling

menghormati kepada teman semarga (Rajamarpodang : 1992).

Penerapan “Dalihan Na Tolu” bisa kita lihat dalam suatu perkawinan yang sah.“Dalihan Na Tolu” telah menggariskan dan menetapkan aturan dan ketentuan rinci mengenai berbagai hubungan sosial baik antara suami dengan isteri, antara orang tua dengan saudara-saudara kandung dari masing-masing pihak, maupun dengan “boru” serta “hula-hula” dari masing-masing pihak. Di dalam adat Batak, jika perkawinan hanya disahkan dengan upacara agama dan catatan sipil, maka perkawinan itu tidak sah di dalam “Dalihan Na Tolu”. sehingga apabila timbul keretakan di dalam rumah tangga, maka sudah pasti keluarga dan kerabat semarga dari masing-masing pihak tidak memiliki hak dan kewajiban untuk mencampurinya karena belum “diadati”.

(13)

(marga suami). Jika timbul permasalahan, bukan hanya keluarga suami yang mengambil keputusan tetapi harus bermusyawarah dengan ketiga bagian “Dalihan Na Tolu”. “hula-hula”, “mardongan tubu”, “boru”, seluruhnya harus ikut dalam menyelesaikan masalah. Agar suku Batak Toba tetap bersama-sama dan tetap satu dalam naungan “Dalihan Na Tolu”.

Adapun penyelesaian permasalahan-permasalahan yang sering timbul dalam perkawinan pada kehidupan masyarakat Batak Toba misalnya tentang perceraian, dan pembagian harta warisan juga tidak akan dapat berjalan apabila “Dalihan Na Tolu” tidak ada, disebabkan karena unsur “Dalihan Na Tolu” dari pihak yang bersengketa tersebut yang memiliki inisiatif dalam hal mencari tahu sengketa yang sedang terjadi, apa, mengapa dan bagaimana sumber sengketa terjadi, lalu mengajak berkumpul, dan bermusyawarah untuk menyelesaikan sengketa yang sedang mereka alami tersebut. “Dalihan Na Tolu” bukanlah kasta karena setiap orang Batak Toba memiliki ketiga posisi tersebut, ada saatnya menjadi “Hula hula/Tondong”, ada saatnya menempati posisi “Dongan Tubu/Sanina” dan ada saatnya menjadi “Boru”.

Kenyataan ironis ini membuat perempuan termarginalkan, perempuan lebih menderita ketika dia menjadi seorang “janda”. Pada saat suami masih adapun, perempuan sudah termarginalkan dimana pendapat perempuan bukanlah hal yang utama, dan harus melalui suami. Ketika suami mengatakan iya, maka pendapat istri adalah pendapat yang benar dan patut diperhitungkan. Subordinasi perempuan dan marginalisasi perempuan dapat dilihat dari ibu YS tersebut.

(14)

tidak peduli. Perlakuan ini sangat bertolak belakang dengan “Dalihan Na Tolu”, tidak ada peran dari ketiga “Dalihan” tersebut.

Hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan dapat dilihat dari berbagai bidang kehidupan, antara lain bidang politik, sosial, ekonomi, budaya, dan hukum (baik hukum tertulis maupun tidak tertulis yakni hukum-hukum adat). Hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan dalam bidang kehidupan tersebut pada umumnya menunjukan hubungan yang sub-ordinasi yang artinya bahwa perempuan termarginalkan di bandingkan dengan kedudukan laki-laki.

Kaum perempuan diberi kebebasan untuk memperoleh pendidikan dan kesempatan untuk bekerja tetapi mereka tetap saja diikat dengan norma-norma patriarki yang relatifmenghambat dan memberikan kondisi yang dilematis terhadap posisi mereka. Kaum perempuan dibolehkan bekerja dengan catatan hanya sebagai penambah pencari nafkah keluarga sehingga mereka bekerja dianggap hanya sebagai “working or lipstick” belum lagi kewajiban utama mengasuh anak dibebankan sepenuhnya kepada perempuan (Daulay, 2007 : 3).

Penelitian ini berangkat dari adanya ketidakseimbangan antara kenyataan yang terjadi dan bertolak belakang dari filosofi “Dalihan Na Tolu” pedoman dasar suku Batak terhadap perempuan yang sudah tidak memiliki suami ataupun yang sama sekali tidak memiliki suami tetapi memiliki anak didalam budaya Batak Toba. Dari ketidakseimbangan inilah terdapat subordinasi perempuan sebagai orangtua tunggal. Perempuan seringkali disubordinasikan oleh lingkungan. Penelitian ini ingin mengetahui apa sajakah bentuk-bentuk subordinasi yang terdapat pada prempuan sebagai orangtua tunggal.

(15)

1.2 Fokus Masalah

Berdasarkan konteks masalah yang diuraikan sebelumnya, maka fokus masalah dalam penelitian ini adalah: “Bagaimana bentuk-bentuk subordinasi perempuan sebagai orangtua tunggal dalam filosofi Dalihan Na Tolu?”. Penelitian ini akan ditujukan kepada informan yaitu, perempuan sebagai orangtua tunggal yang tidak memiliki suami karena kematian, orangtua tunggal cerai hidup serta orangtua tunggal yang sama sekali belum menikah atau hamil tanpa pernikahan.

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui bentuk-bentuk subordinasi perempuan sebagai orangtua tunggal dalam adat Batak Toba.

2. Untuk mengetahui bagaimana peran perempuan sebagai orangtua tunggal di dalam adat Batak Toba.

3. Untuk mengetahui bagaimana ketidakseimbangan perlakuan perempuan yang bertolak belakang dengan “Dalihan Na Tolu”.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah :

1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan penjelasan dan pembuktian terhadap beberapa teori yang membahas tentang subordinasi perempuan sebagai orangtua tunggal.

2. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai budaya adat Batak Toba, dan penulis berharap agar penelitian ini bermanfaat bagi kalangan mahasiswa, khususnya bagi mahasiswa suku Batak. Penelitian ini juga diharapkan dapat disumbangkan untuk memperluas wawasan serta berguna bagi mahasiswa.

(16)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Paradigma Kajian

Paradigma merupakan suatu pandangan mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari (Arifin, 2006 : 37). Paradigma Kualitatif merupakan paradigma penelitian yang menekankan pada pemahaman mengenai masalah-masalah dalam kehidupan sosial berdasarkan kondisi realitas atau natural setting yang holistis, kompleks dan rinci (Hartono, 2004:16). Sedangkan Wimmer & Dominick (Kriyantono, 2006: 48) menyebut pendekatan dengan paradigma, yaitu seperangkat teori, prosedur, dan asumsi yang diyakini tentang bagaimana peneliti melihat dunia. Perspektif tercipta berdasarkan komunikasi antaranggota suatu kelompok selama seseorang menjadi bagian kelompok tersebut.

Mulyana mengatakan jenis perspektif atau pendekatan yang disampaikan oleh teoritis bergantung pada bagaimana teoritis itu memandang manusia yang menjadi objek kajian mereka. Adapun metodologi yang digunakan peneliti dalam pembahasannya adalah metode deskriptif kualitatif dengan paradigma kritis. Paradigm kritis menurut Guba dan Lincoln, critical paradigm menilai ilmu sosial sebagai proses yang kritis berusaha mengungkap the real structures(dalam Kriyantono, 2006: 48).

Paradigma kritis (critical paradigm) adalah semua teori sosial yang mempunyai maksud dan implikassi praktis dan berpengaruh terhadap perubahan sosial. Paradigma ini tidak sekedar melakukan kritik terhadap ketidakadilan sistem yang dominan yaitu sistem sosial kapitalisme, melainkan suatu paradigma untuk mengubah sistem dan struktur tersebut menjadi lebih adil (Magnis, 1995:160).

(17)

menginterpretasikan dan karenanya memahami bagaimana berbagai kelompok sosial dikekang dan ditindas. Kedua, pendekatan ini mengkaji kondisi-kondisi sosial dalam usahanya untuk mengungkap struktur-struktur yang seringkali tersembunyi. Kebanyakan teori kritis mengajarkan bahwa pengetahuan adalah kekuatan untuk memahami tindakan untuk mengubah kekuatan penindas. Ketiga, pendekatan kritis secara sadar berupaya untuk menggabungkan teori dan tindakan. Teori-teori tersebut jelas normatif dan bertindak untuk mencapai perubahan dalam berbagai kondisi yang mempengaruhi hidup kita (Senjaya dkk, 2007: 33).

Pendekatan kritis menganggap bahwa pengalaman manusia bahwa pengalaman manusia tidak terpisahkan dari percakapan dan teks yang tertanam didalamnya. Pengalaman itu sendiri adalah bahasa. Bahasa dari budaya menentukan pengalaman dan menciptakan suatu bias atau cara untuk memahami. Teks memang berbicara, tetapi orang selalu membaca teks dari sudut pandang lingkungan historis dimana ia hidup dan berfikir. Seringkali lingkungan itu terdiri dari kekuatan-kekuatan yang menghancurkan dan menindas manusia. Bentuk-bentuk bahasa yang dominan dan media komunikasi dapat mencegah kelompok tertentu dari partisipasi dalam struktur-struktur kendali masyarakat. Dalam masa sekarang, beberapa orang beranggapan penindasan dapat dilihat dalam struktur ekonomi, media komunikasi, dan hubungan gender (Senjaya dkk, 2007 : 40).

(18)

mengenai suatu fenomena yang digunakan untuk menganalisis dan mempertimbangkan suatu isu yang berkembang dalam masyarakat.

2.2. Kajian Pustaka 2.2.1. Komunikasi

2.2.1.1. Pengertian Komunikasi

Komunikasi sulit untuk didefenisikan, kata ‘komunikasi’ bersifat abstrak, seperti kebanyakan istilah, memiliki banyak arti(Morisson& Cory,2009). Menurut Louis Forsdale (dalam Muhammad,2007:2) komunikasi adalah suatu proses memberikan signal menurut aturan tertentu, sehingga dengan cara ini suatu sistem dapat didirikan, dipelihara, dan diubah. Pada defenisi ini komunikasi dianggap sebagai suatu proses. Kata signal maksudnya adalah signal yang berupa verbal dan nonverbal yang mempunyai aturan tertentu. Dengan adanya aturan ini menjadikan orang yang menerima signal yang telah mengetahui aturannya akan dapat memahami maksud dari signal yang diterimanya. Tubbs dan Moss mendefenisikan komunikasi sebagai proses pembentukan makna di antara dua orang atau lebih. Menurut Harold D. Laswell komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu (dalam Effendy,2007:10).

Carl I Hovland mengatakan, komunikasi adalah suatu sistem yang berusaha menyusun prinsip-prinsip dalam bentuk yang tepat mengenai hal memindahkan penerangan dan membentuk pendapat serta sikap-sikap. Lebih lanjut Hovland mengemukakan bahwa komunikasi adalah peroses dimana seorang individu mengoperkan perangsang untuk mengubah tingkah laku indiviu-individu yang lain. Perangsang tersebut ialah budaya (dalam Purba dkk, 2010:34).

(19)

fenomena manusia sebagai makhluk sosial yang berhubungan dengan orang lain. Peran komunikasi dalam hubungan sosial ini adalah sebagai salah satu upaya manusia menjalin hubungan dengan orang lain(dalam Purba dkk, 2010:32).

Komunikasi lahir karena adanya manusia berfikir dan menyatakan eksistensinya. Eksistensi diri lahir karena adanya pengakuan dari manusia lain. Pengakuan tersebut lahir karena adanya bahasa, dengan bahasa manusia bertukar gagasan dan lahirlah komunikasi. Dengan adanya komunikasi antar manusia lahirlah masyarakat. Masyarakat yang berinteraksi antara satu dengan yang lain akhirnya melahirkan sebuah kebudayaan. Jadi, dalam kehidupan berbudaya, yang pertama adalah unsur manusia, unsur komunikasi, unsur masyarakat, unsur kebudayaan, dan bahasa sebagai alat komunikasi.

Harold D. Laswell menyebut tiga fungsi dasar yang menjadi penyebab mengapa manusia perlu berkomunikasi, yaitu (dalam Cangara, 2006:2) ;

Pertama, adalah hasrat manusia untuk mengontrol lingkungan.

Melalui komunikasi manusia dapat mengetahui peluang-peluang yang ada untuk dimanfaatkan, dipelihara dan menghindar pada hal-hal yang mengancam alam sekitarnya. Melalui komunikasi dapat mengetahui suatu kejadian atau peristiwa. Bahkan melalui komunikasi manusia dapat mengembangkan pengetahuannya, yakni belajar dari pengalamannya, maupun melalui informasi yang mereka terima dari lingkungan sekitarnya.

Kedua, adalah upaya manusia untuk dapat beradaptasi dengan

(20)

Ketiga, adalah upaya untuk melakukan transformasi warisan

sosialisasi. Suatu masyarakat yang ingin mempertahankan keberadaannya, maka anggota masyarakatnya dituntut untuk melakukan pertukaran nilai, perilaku, dan peranan. Misalnya bagaimana perempuan sebagai orangtua tunggal mengajarkan adat dan budaya serta tatakrama bermasyarakat yang baik kepada anak-anaknya.

Ketiga fungsi ini menjadi patokan dasar bagi setiap individu dalam berhubungan dengan sesama anggota masyarakat. Komunikasi tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Sebab, berkomunikasi dangan baik akan member langsung pada struktur keseimbangan seseorang dalam bermasyarakat.

Setiap praktik komunikasi pada dasarnya adalah representasi budaya, atau tepatnya suatu peta asata suatu realitas (budaya) yang sangat rumit. Komunikasi dan budaya adalah dua etnis tak terpisahkan, sebagaimana dikatakan Edward T.Hall, “Budaya adalah komunikasi dan komunikasi adalah budaya”. Begitu kita berbicara tentang komunikasi, tak terhindarkan, kitapun berbicara tentang budaya (dalam Mulyana, 2004:14). Budaya dan komunikasi berinteraksi secara erat dan dinamis. Inti budaya adalah komunikasi. Karena budaya muncul melalui komunikasi. Akan tetapi pada gilirannya budaya yang terciptapun mempengruhi cara berkomunikasi anggota budaya yang bersangkutan. Hubungan antara budaya dan komunikasi adalah timbal balik. Menurut Alfred G. Smith, budaya adalah kode yang kita pelajari bersama dan untuk itu dibutuhkan komunikasi. Budaya tak akan dapat dipahami tanpa mempelajari komunikasi dan komunikasi hanya dapat dipahami dengn memahami budaya yang mendukungnya (dalam Mulyana, 2004:14).

2.2.1.2. Fungsi dan Tujuan Komunikasi

(21)

maupun yang antarpribadi semuanya mengenai pengendalian lingkungan guna mendapatkan imbalan seperti dalam bentuk fisik, ekonomi, dan sosial (Miller&Steinberg,1975). Pengendalian lingkungan dibedakan ke dalam dua tingkatan. Pertama, hasil yang diperoleh sesuai dengan apa yang diinginkan. Kedua, hasil yang diperoleh mencerminkan adanya kompromi dari keinginan semula pihak-pihak yang terlibat (Budyatna&Ganiem,2011:27).

Komunikasi sebagai ilmu dan seni, sudah tentu memiliki fungsi yang dapat dimanfaatkan oleh manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam terjadinya komunikasi tidak terlepas dari bentuk dan fungsi komunikasi, dimana komunikasi yang baik, tidak jauh dari fungsi yang mendukung keefektifan komunikasi.

Adapun fungsi-fungsi dari komunikasi (Effendy, 2007:55) adalah sebagai berikut:

a. Menyampaikan informasi (to inform)

Komunikasi berfungsi dalam menyampaikan informasi, tidak hanya informasi tetapi juga pesan, ide, gagasan, opini maupun komentar. Sehingga masyarakat bisa mengetahui keadaan yang terjadi dimanapun.

b. Mendidik (to educate)

Komunikasi sebagai sarana informasi yang mendidik, menyebarluaskan kreativitas, tidak hanya sekedar memberi hiburan, tetapi juga memberikan pendidikan untuk membuka wawasan dan kesempatan untuk memperoleh pendidikan secara luas, baik untuk pendidikan formal disekolah maupun untuk di luar sekolah, serta memberikan berbagai informasi tidak lain agar masyarakat menjadi lebih baik, lebih maju, dan lebih berkembang. c. Menghibur (to entertain)

(22)

d. Mempengaruhi (to influence)

Komunikasi sebagai sarana untuk mempengaruhi khalayak untuk memberi motivasi, mendorong untuk mengikuti kemajuan orang lain melalui apa yang dilihat, dibaca, dan didengar. Serta memperkenalkan nilai-nilai baru untuk mengubah sikap dan perilaku kea rah yang baik dan moderniasasi.

2.2.1.3. Komunikasi Verbal dan Komunikasi Nonverbal 2.2.1.3.1. Komunikasi Verbal

Komunikasi menurut Hovland, Janis, Kelly berarti sebuah proses dimana seorang individu sebagai komunikator menyampaikan stimulus yang biasanya verbal untuk mengubah perilaku orang lainnya.Verbal adalah pernyataan lisan antar manusia lewat kata-kata dan simbol umum yang sudah disepakati antar individu, kelompok, bangsa dan Negara. Jadi defenisi komunikasi verbal dapat disimpulkan bahwa komunikasi yang menggunakan kata-kata secara lisan dengan secara sadar dilakukan oleh manusia untuk berhubungan dengan manusia satu dengan yang lain. Dasar komunikasi verbal adalah interaksi antara manusia, dan menjadi salah satu cara bagi manusia berkomunikasi secara lisan atau beratatapan dengan manusia lain sebagai sarana utama menyatukan pikiran, perasaan, dan maksud (dalam Fajar, 2009:109).

Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, baik lisan maupun tertulis. Komunikasi ini paling banyak dipakai dalam hubungan antar manusia. Melalui kata-kata mereka menggunakan perasaan, emosi, pemikiran, gagasan atau maksud mereka menyampaikan fakta, data, dan informasi serta menjelaskannya, saling bertukar perasaan dan pemikiran, saling berdebat dan bertengkar. Dalam Komunikasi verbal, bahasa sangat memegang peranan penting(dalam Hadjana, 2003:32).

2.2.1.3.2. Komunikasi Nonverbal

(23)

(kecuali rangsangan verbal) dalam suatu setting komunikasi oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi pengirim atau penerima. Jadi defenisi ini mencakup perilaku yang disengaja juga tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa secara keseluruhan, kita mengirim banyak pesan nonverbal tanpa menyadari bahwa pesan-pesan tersebut bermakna bagi orang lain.

Komunikasi nonverbal meliputi semua stimulus nonverbal dalam sebuah sitiuasi komunikasi yang dihasilkan, baik oleh sumbernya, penggunanya, lingkungan dan yang memiliki nilai pesan yang potensial untuk menjadi sumber atau penerima (Samovar, 2010:294).

Karakteristik Komunikasi Nonverbal :

Terdapat jumlah bentuk komunikasi nonverbal dan bentuk-bentuk tersebut meliputi wajah terutamayang menyangkut mata, tubuh, sentuhan, suara, waktu, pakaian, dan lingkungan. Sebagian besar dari bentuk-bentuk ini menampilkan beberapa karakteristik dan enam diantaranya akan dibahas sebagai berikut (Budayatna & Leila, 2011 : 111-144) :

a. Komunikasi Nonverbal Kaya dalam Makna

Betapa kayanya komunikasi nonverbal itu, alis mata yang terangkat, senyum yang tidak kentara, sentuhan tangan dapat berkata banyak di dalam situasi yang tepat. Isyarat-isyarat nonverbal semacam itu berguna apabila untuk alasan tertentu komunikasi lisan atau tidak tertulis tidaklah tepat. Sebagai contoh, perempuan yang sudah berstatus sebagai orangtua tunggal sedang berbicara dengan mertua sehubungan tentang suami yang telah meninggal, ketika dia bercerita sambil mengeluarkan air mata, ibu mertua pun langsung menyentuh punggung dan mengelus-elus, yang artinya agar tetap tabah dan tegar menjalani semuanya.

b. Komunikasi Nonverbal dapat Membingungkan

(24)

kita bayangkan. Ada orang yang selalu menyilangkan kakinya yang kanan ke kiri, apapun alasannya. Itu adalah kebiasaan mereka, terasa nyaman dan tidak mempunyai makna tertentu sejauh komunikasi nonverbal berlangsung kecuali mungkin untuk menunjukkan bahwa mereka merasa senang dengan situasi seperti itu. Kita harus berhati-hati dalam menafsirkan isyarat nonverbal. Kita tidak selalu mendapatkan informasi yang cukup untuk membuat penilaian, dan dugaan-dugaan kita bisa saja jauh dari akurat atau tepat. Sebagai contoh, istri yang baru saja kehilangan suami dalam satu tahun terakhir sering memakai kemeja hitam, masyarakat mungkin menduga kesedihan perempuan tersebut masih tampak dari pakaiannya, sementara perempuan itu sendiri memakai pakaian hitam tanpa sadar. Perempuan tersebut sering memakai pakaian hitam karena dia mungkin terlihat kurus dengan pakaian hitamnya. c. Komunikasi Nonverbal Menyampaikan Emosi

(25)

hati mereka. Menjadi seorang anak berkewajiban menuruti perkataan orangtua dan menyadari kesalahannya. Ketika orangtua sedang marah, orangtua mungkin hanya sekedar menajamkan tatapan mata, anak tersebutpun tiba-tiba menunduk dan menunjukkan penyesalan dengan air mata terus menerus membasahi pipinya.

d. Komunikasi Nonverbal Dikendalikan Oleh Norma-Norma dan Peraturan Mengenai Kepatutan

Norma dan peraturan umumnya amat berbeda dari suatu budaya ke budaya yang lain. Kebanyakan norma dan peraturan kita pelajari sejak kecil dari bimbingan orangtua atau keluarga. Beberapa dari norma atau peraturankita pelajari dari hasil pengamatan orang lain. Ada juga yangkita pelajari dari kesalahan dan kegagalan dan hukuman. Misalnya kita belajar untuk tidak mengiterupsi ketika seseorang sedang bicara, untuk tidak mengkritik orang lain dimuka umum, atau tidak menggunakan bahasa vulgar dihadapan para anggota yang berbeda gender. Masalahnya disini bukan untuk memberikan daftar mengenai norma dan peraturan dan ini kebanyakan tidak aka nada batasnya. Melainkan untuk menunjukkan bahwa kebanyakan perilaku nonverbal diatur atau dikendalikan oleh norma-norma dan peraturan-peraturan. Tanpa menyadari atau mengabaikan norma dan peraturan seseorang dapat terlihat kasar, tidak sopan, atau acuh tak acuh. Sebagai contoh, saat “hula-hula” sedang berbicara meskipun tidak sesuai dengan pendapat “boru”, “boru” hanya dapat diam dan menunduk, dan mimic wajah pun tidak dapat menunjukkan kekesalan sekalipun tidak setuju dengan pendapat “hula-hula”. Karena “hula-hula” haruslah mendapat penghormatan atau dihormati. e. Komunikasi Nonverbal Terikat pada Budaya

(26)

pengamatan dan mencontoh dan bukan melalui pengajaran verbal secara eksplisit. Perilaku nonverbal mengkomunikasikan keyakinan, sikap, dan nilai-nilai budaya kepada pihak lainnya. Itulah kebanyakan orang tidak menyadari akan perilaku nonverbalnya sendiri. Hal tersebut diperankan tanpa piker, spontan dan tanpa sadar. Tetapi ini adalah tepat sekali karena hal ini seringkali sulit untuk mengidentifikasi dan menguasai komunikasi nonverbal dari budaya lain. Hal ini juga merupakan alasan mengapa banyak orang merasa tidak nyaman dengan budaya lain. Setiap orang yang tidak sesuai dengan norma fisik dari suatu budaya akan mengalami kesulitan berkomunikasi didalam budaya tersebut. Kesimpulan mengenai pengaruh-pengaruh budaya pada setiap bentuk nonverbal adalah sama. Gerak isyarat dan gerakan tubuh mempunyai makna yang berbeda diantara budaya. Kesimpulan yang gamblang ialah, “ Budaya adalah satu yang paling abadi, paling kuat, pembentuk yang tidak terlihat dari perilaku kita,” kata Weaver II (1993). Sebagai contoh, ketika “hula-hula” datang, kita harus menyiapkan tempat yang istimewa. Misalnya saat acara adat, “hula-hula” duduk didepan dengan 2 lapis tikar, lapis kedua adalah tikar berwarna putih. Karena tikar putih memiliki arti penting bagi suku batak, dimana putih itu bersih, suci, sehingga jika duduk diatas hendaklah demikian dan karena itu adalah cara untuk menghargai “hula-hula”.

2.2.2. Teori Cultural Studies (Kajian Budaya)

Kajian budaya (West, 2008:63) adalah perspektif teoritis yang berfokus bagaimana budaya dipengaruhi oleh budaya yang kuat dan dominan. Tidak seperti beberapa tradisi teoritis lainnya, kajian budaya tidak merujuk pada doktrin tunggal mengenai perilaku manusia.

(27)

memiliki peristiwa momen dimasa lalu”. Kajian budaya berkaitan dengan sikap, pendekatan, dan kritik mengenai sebuah budaya. Budaya merupakan fitur utama dalam teori ini, dan budaya telah menyediakan suatu kerangka intelektual yang telah mendorong para peneliti untuk mendiskusikan, tidak sepakat, menantang, dan merefleksikan (West, 2008 : 63).

West mengutip kalimat Stuart Hall, menyatakan bahwa media merupakan sarana yang kuat bagi kaum elite. Media berfungsi untuk mengkomunikasikan cara-cara berfikir yang dominan, tanpa mempedulikan efektifitas pemikiran tersebut. Media merepresentasikan ideologi dari kelas yang dominan didalam masyarakat. Karena media dikontrol oleh korporasi (kaum elite), informasi yang ditampilkan kepada publik juga pada akhirnya dipengaruhi dan ditargetkan dengan tujuan untuk mencapai keuntungan. Pengaruh media dan peranan kekuasaan harus dipetimbangkan ketika menginterpretasikan suatu budaya.

Cultural studies merupakan bagian didalam komunikasi

multikultural yang artinya mengkaji persoalan komunikasi manusia dari pengaruh faktor-faktor praktik kebudayaan dan dalam hubungannya dengan kekuasaan. Cultural studies adalah kajian secara kritis hubungan komunikasi dengan kekuasaan, dengan upaya mengungkapkan bagaimana kebudayaan mempengaruhi tindak komunikasi dan kekuasaan. Cultural studies merupakan studi budaya yang bertujuan untuk memahami dan

mengubah struktur dominasi dimana-mana (Purwasito, 2004: 103).

Cultural Studies dikenal sebagaikajian budayaInggrisyang menjadi

salah satu pemaindominandalam teoribudayakontemporer. British Cultural Studiesbegitu kuat sehinggaketika beberapa orangberbicara tentang"Studi

budaya" mereka seringsecara implisitmengacu padalingkungan danturunannya.

Cultural Studies memiliki empat orientasi, diantaranya(Smith,

(28)

1. Sangat interdisiplinerdalam halkepentingan penelitiandan pengaruhteoritis

2. Ada kepentinganutamadalam

mengeksplorasibudayasebagaisebuah situs di manakekuatandan ketahanandimainkan.

3. Memvalidasistudi budayapopuler jugasebagai "budaya tinggi" 4. Komitmenpolitikterhadap

masalahtopikpenelitianpengaruhkirisering dan, beberapa kritikusakan mengatakan, kesimpulan.

Beberapa asumsi tentang kajian budaya (West, 2008) :

(29)

budaya dibentuk oleh media. Michael Real (1996) berpendapat “media menginvasi runga kehidupan kita, membentuk selera dari mereka yang berada disekitar kita, memberikan informasi dan mempersuasi kita mengenai produk dan kebijakan, mencampuri mimpi pribadi dan ketakutan publik kita, dan sebagai gantinya, mengundang kita untuk hidup didalam mereka”.

2. Orang merupakan bagian dari struktur kekuasaan yang bersifat hierarkis. Kekuasaan bekerja didalam semua leel kemanusiaan (Grossberg, 1989), dan secara berkesinambungan membatasi keunikan identitas (Weedon, 2004). Makna dan kekuasaan berkaitan erat, “makna tidak dapat dikonseptualisasikan diluar bidang permainan dari hubungan kekuasaan” (Hall, 1989). Dalam kaitannya dengan tradisi Marxis, kekuasaan adalah sesuatu yang diinginkan oleh kelompok subordinat tetapi tidak dapat dicapai. Seringkali terjadi pergulatan untuk kekuasaan, dan pemenangnya biasanya adalah orang yang berada dipuncak hierarki sosial. Mungkin sumber kekuatan yang paling mendasar didalam masyarakat adalah media. Dalam budaya yang beragam, tidak ada institusi yang harus memiliki kekuasaan untuk menentukan apa yang di dengar oleh publik. Gery Woodward (1997) juga menarik kesimpulan serupa ketika ia menyatakan bahwa terdapat sebuah tradisi dimana jurnalis bertindak sebagai pelindung dari kegiatan budaya bangsa: jika media menganggap sesuatu untuk memiliki nilai yang penting, maka sesuatu tersebut penting: suatu peristiwa yang sebenarnya tidak penting menjadi penting.

2.2.3. Gender

(30)

apa yang membentuk keindahan gender dan bagaimana hal itu ditampilkan diantara budaya(Kisni, 2003:253).

Maskulin identik dengan keperkasaan, bergelut di sektor publik, jantan dan agresif. Sedangkan feminim identik dengan lemah lembut, berkutat di sektor domestik (rumah), pesolek, pasif, dan lain-lain. Disebabkan oleh pembedaan yang tegas terhadap peran laki-laki dan perempuanyang selama ini terjadi didukung oleh budaya patriarki yang sangat mendominasi menyebabkan ketimpangan gender itu terjadi. Didalam kehidupan sosial muncul stereotip tertentu terhadap laki-laki dan perempuan. Padahal gender ini sifatnya netral dan tidak memihak. Peran laki-laki dan perempuan sangat ditentukan dari suku, tempat, umur, pendidikan serta perkembangan zaman. Selama ini yang terjadi adalah bias gender yang berpihak kepada laki-laki (Kisni, 2003).

Membahas tentang gender berarti membahas tentang permasalahan perempuan dan laki – laki dalam kehidupan bermasyarakat terkhususnya dalam berbudaya. Banyak masalah yang terjadi akibat ketidaksetaraan gender. Adanya perbedaan reproduksi dan biologis mengarahkan pada pembagian kerja yang berbeda antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga. Perbedaan-perbedaan ini pada gilirannya mengakibatkan perbedaan cirri-ciri sifat, karakteristik psikologis yang berbeda antara laki-laki dan perempuan.

Beberapa asumsi tentang gender(Murniati, 2004) :

1. Gender menyangkut kedudukan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat;hubungan laki-laki dan perempuan berbentuk secara sosiokultural, dan bukan dasar biologis.

2. Secara sosikultural, hubungan ini mengambil bentuk dominasi laki-laki, dan subordinasi perempuan.

3. Pembagian dan pembedaan yang bersifat sosial seringkali di naturalisasikan dianggap “kodrat” melalui ideologi mitos dan agama.

4. Gender menyangkut steorotip antara feminim dengan maskulin.

(31)

Konstruksi sosial perbedaan peran gender telah memberikan pengertian mendasar (ideologi) bagi laki-laki dan perempuan. Ternyata dalam proses kehidupan masyarakat, terjadi ketimpangan dan ketidakadilan gender (Muniarti,2004:97).

1.Ketidakadilan gender dalam hubungan kerja, perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki peran dalam produksi benda atau jasa, di sektor publik dari tingkat lingkungan sampai tingkat pemerintahan. Tetapi tugas-tugas yang berhubungan dengan fungsi reproduksi masyarakat, pekerjaan-pekerjaan domestik, hampir selalu menjadi tangggung jawab perempuan. Akibatnya, jam kerja perempuan jauh lebih panjang dibanding laki-laki. Pekerjaan reproduksi dianggap rendah dan tidak dianggap ekonomis, padahal pekerjaan domestik ini merupakan pekerjaan mempersiapkan tenaga kerja dalam masyarakat.

2.Ketidakadilan gender dalam kaitannya dengan hak asasi, hak asasi perempuan tidak diakui dunia. Dalam pembicaraan hak asasi, tidak otomatis hak asasi perempuan dimasukkan didalamnya. Kenyataan ini membuktikan bahwa perempuan tidak mempunyai hak pribadi, meskipun untuk menentukan fungsi reproduksinya sendiri. Perempuan tidak memiliki hak untuk menentukan hidupnya sendiri, sebagai contoh perempuan dijodohkan atau dipaksa menikah dengan “pariban”nya. Perempuan tidak dapat menetukan jenis pekerjaan, karena mereka sudah ditentukan dengan pekerjaan domestiknya.

(32)

tidak bisa berbicara dengan mertua secara tatap muka, dan memberi keistemewaan makan pada laki-laki sendiri.

Ketidakadilan gender terbagi atas atas lima (Muniarti,2004). Bentuk-bentuk ketidakadilan ini akan dipaparkan sebagai berikut :

1. Beban Ganda yaitu pembagian kerja berdasarkan gender membagi pekerjaan laki-laki di ruang publik, sementara perempuan di ruang domestik. Namun seiring pkembangan zaman dan kebutuhan ekonomi, perempuan masuk ke ruang publik menjadi pencari nafkah. Meski demikian perempuan tetap dituntut untuk bertanggungjawab thd urusan rumah tangga (domestik). Inilah yg dinamakan “beban ganda”.

2. Marginalisasi merupakan suatu proses penyisihan yang mengakibatkan kemiskinan bagi perempuan atau laki-laki. Terjadi dalam kultur, birokrasi dan program-program pembangunan. Sehingga secarasistematis perempuan tersingkir dan dimiskinkan secara sosial dan ekonomi. Contohnya, Perempuan tidak perlu pendidikan tinggi karena akhirnya nanti juga ke dapur atau perempuan hanya dianggap hanya untuk mengurus anak dan mengurus rumah.

3. Stereotype atau pelabelan negatif yaitu suatu sikap negatif

(33)

4. Subordinasi atau penomorduaan adalahsikap atau tindakan masyarakat yang menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah dibanding laki-laki. Dibangun atas dasar keyakinan satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibanding yang lain.Kenyataan di masyarakat, perempuan seringkali mendapat kedudukan sebagai bawahan laki-laki. Perempuan ditempatkan pada jajaran kedua setelah laki-laki karena keberadaan perempuan dianggap tidak penting atau sebagai pelengkap semata. Dalam budaya patriarki laki-laki dianggap sebagai figur utama dan perempuan sebagai figur kedua. Contohnya, Perempuan lebih dikalahkan dari laki-laki dalam pendidikan oleh keluarganya, perempuan dianggap tidak cocok untuk berbagai pekerjaan, mengurus rumahtangga dianggap sebagai kodrat perempuan.

5. Kekerasan atau kekerasan berbasis gender adalah serangan fisik, psikis dan seksual terhadap perempuan. Serangan ini terjadi karena ia seorangperempuan. Salah satu contohnya adalah pemaksaan hubungan seksual. Hal ini seringkali terjadi di ranah domestik maupun publik. Pemaksaan hubungan seksual di ranah domestik bisa terjadi terhadap hubungan suami istri “marital rape”, atau ayah dengan anak perempuan.

2.2.3.1 Komunikasi Antar Gender

Gender merupakan pandangan mengenai ketidakseimbangan hubungan antara laki-laki dan perempuan antara orang tua dan orang muda disebabkan oleh adanya pandangan yang berbeda. Dalam persepektif gender tampak bahwa peran laki-laki lebih dominan disbanding peran yang dimainkan oleh perempuan.

(34)

komunikasi antar kaum laki-laki dan kaum perempuan oleh sebab pendefenisian sosial-budaya.

Subordinasi perempuan terhadap laki-laki menyebakan terjadinya marginalisasi perempuan. Sebagai contohnya didalam budaya batak perempuan tidak diwajibkan dalam pengambilan keputusan, tetapi laki-laki sangat penting dikarenakan menganut budaya patriarki. Dari subordinasi inilah terlihat bahwa perempuan sebenarnya termarginalkan. Semua itu merupkan warisan budaya yang telah menjadi pembelaan negatif

2.2.4. Subordinasi

Subordinasi menurut KBBI edisi ketiga adalah kedudukan bawahan,pengertian subordinasi yaitu suatu penilaian atau anggapan bahwa suatu peran yang dilakukan oleh satu jenis kelamin lebih rendah dari yang lain. Nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, telah memisahkan dan memilah-milah peran gender, laki-laki dan perempuan. Perempuan dianggap bertanggung jawab dan memiliki peran dalam urusan domestik atau reproduksi, sementara laki-laki dalam urusan publik atau produksi. 2.2.4.1Subordinasi terhadap Perempuan

Subordinasi terhadap perempuan merupakan pandangan yang memposisikan perempuan dan karya-karyanya lebih rendah dari laki-laki. Perempuan dianggap kurang mampu, sehingga diberikan tugas yang mudah dan ringan.

(35)

2.2.5. Perempuan Sebagai Orangtua Tunggal 2.2.5.1.Perempuan

Perempuan menurut KKBI edisi ketigaartinya orang (manusia) yg mempunyai alat reproduksi, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui. Sementara pengertianWanita adalah singkatan dari bahasa jawa (wani dan ditoto) sebutan yang digunakan unt kelamin dan mempunyai alat reproduksi.Pengertian wanita berdasarkan asal bahasanya tidak mengacu pada wanita yang ditata atau diatur oleh laki-laki atau suami pada umumnya terjadi pada kaum patriarki.

Perempuan tidak dapat dijadikan sebagai kepala keluarga. Perempuan tidak boleh memimpin laki-laki sekalipun laki-laki tidak dapat memimpin. Walaupun ibu yang menyediakan makanan, tetapi ayah dan anak laki-laki didahulukan (Muniarti, 2004).

Perempuan dalam konteks gender didefenisikan sebagai sifat yang melekat pada seseorang untuk menjadi feminim. Sedangkan perempuan dalam pengertian sex merupakan salah satu jenis kelamin yang ditandai oleh alat reproduksi berupa rahim, sel telur, dan payudara sehingga perempuan dapat hamil, melahirkan dan menyusui (Fakih, 2000:2).

2.2.5.2 Orangtua Tunggal

(36)

hanya ayah atau ibu saja mengasuh dan membesarkan anak-anak mereka sendiri tanpa hadirnya pasangan.Tidaklah mudah bagi orang tua tunggal dalam menjalani kehidupannya setelah kehilangan salah satu angogota keluarga yaitu suami, karena segala sesuatu yang harusditanggung sendiri. Orangtua tunggal dapat disebabkan beberapa hal antara lainadalah : (1) Perceraian, (2) Kematian, (3) Kehamilan diluar nikah, (4) Bagi seorang wanita atau laki-laki yang tidak mau menikah, kemudian mengadopsi anak orang lain.

Perubahan-perubahan yang terjadi dalam keluarga yang mengakibatkan seseorang menjadi orang tua tunggal yang berarti akan membawa seseorang untuk beradapatasi dengan kondisi yang baru yakni penambahan peran dan serangkaian tugas-tugas ganda yang harus dilakukan.Orang tua tunggal yang disebabkan karena adanya hubungan di luar nikah atau bagi seorang wanita atau laki-Laki yang tidak mau menikah kemudian mengadopsi anak pada kasus ini dibutuhkan motivasi dan dukungan yang lebih dari keluarganya karena perlu kesiapan yang matang baik secara mental maupun financial untuk menjadi orang tua tunggal. Sedang orang tua tunggal yang karena adanya kematian dan sakit dirasa kondisi tersebut seseorang dianggap memiliki tingkat kematangan yang tinggi sehingga diharapkan mampu mengatasi segala perubahan yang terjadi.

(37)

setiap perubahan yang terjadi dalam masyarakat guna terwujudnya keseimbangan dan keutuhan masyarakat, maka setiap individu dituntut menjalankan peran-perannya, perubahan terjadi dalam unit waktu tertentu, dan tempat tertentu di mana berbeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Setiap orang tua memiliki peran yang besar dalam perkembangan anak mulai sebelum lahir hingga menuju kedewasaan.

Peran sebagai ayah dan ibu tidak akan dapat terlaksana dengan baik apabila terjadi perpisahan dalam keluarga baik perceraian, kematian akibat sakit, bencana alam, dan perang. Bagi keluarga sosok ayah merupakan kepala keluarga yang dihormati anak serta isterinya sehingga menjadi panutan keluarga. Istri yang ditinggalkan oleh suami, harus berperan sebagai ibu dan sekaligus sebagai ayah bagi anak -anaknya.Hal ini berarti tanggung jawab ibu akan bertambah, ia harus mencari nafkah sendiri, mengambil keputusan-keputusan penting sendiri, dan sekian banyak tugas-tugas yang harus dilaksanakan sebagai orang tua tunggal.

Perubahan besar yang harus dijalankan ibu menjalankan peran ibu sekaligus sebagai ayah, yang senantiasa berjuang menjadi tulang punggung keluarga dan panutan anak–anaknya, walau ayah tidak ada namun tetap ibu sebagai orang tua tunggal tetapmenjalankan peranan dengan baik dengan didukung anak-anak untuk dapat bersama-sama mencapai hidup harmonis dan selaras dengan perubahan peran danstatus pdf).

2.2.6. Budaya

Budaya sudah ada sejak manusia berfikir, berkreasi dan berkarya sekaligus menunjukkan bagaimana pola berfikir dan tingkah laku manusia terhadap lingkungannya.

(38)

bahasa Latin berasal dari kata colera. Colera berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, mengembangkan tanah (bertani) (Setiadi, 2010:27).

Budaya menurut E.B.Taylor adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hokum, adat istiadat, dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Sementara menurut Koentjaraningrat, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, milik diri manusia dengan belajar. Dengan demikian, kebudayaan atau budaya menyangkut keseluruhan aspek kehidupan manusia baik material maupun nonmaterial.

2.2.6.1 Kompenen Kebudayaan

T.La Pier menyatakanbahwa kebudayaan manusia dibagi dalam tiga sistem yang saling tergantung (interdependent system), yaitu (Setiadi, 2004:85 :

a. Sistem Ideologi, yaitu bagian dari kebudayaan yang berisi ide-ide, kepercayaan, nilai-nilai, cara berpikir/penalaran, dimana manusia belajar menerima dalam membatasi apa yang diinginkan. La Pier menyebut sistem ideologi ini “komponen mental” dari sistem sosial, yang dapat dipergunakan sebagai landasan aktivitas berfikir manusia. Ide-ide kita makhluk gaib (supernatural creature), demokrasi, keadilan, kebebasan, kesetiaan, kejujuran, keindahan dan nilai-nilai pendidikan atau ilmu pengetahuan berasal dari sistem ideology dari kebudayaan sebagaimana yang telah kita pelajari.

b. Sistem Teknologi, bagian kebudayaan yang berkaitan dengan keahlian (skill), kerajinan (craft), dan seni yang memungkinkan manusia dapat

menghasilkan barang-barang material yang berasal dari lingkungan alam (natural environment). Kemampuan kita memasak makanan, mengendarai mobil, membentuk teknologi yang pada gilirannya melahirkan kebudayaan.

(39)

perilakunya secara efektif dengan tindakan-tindakan orang lain. Kemampuan untuk memainkan peranan khusus untuk bertindak sebagai anak atau orangtua, sebagai pemimpin diskusi, dan sebagainya, membentuk bagian dari komponen organisasi dari kebudayaan yang telah kita pelajari. Jika sejumlah orang ada dalam proses interaksi satu sama lain, mereka membentuk kelompok sosial yang terorganisir.

2.2.7. Adat Batak Toba

Banyak pendapat mengenai darimana asal-usul suku Batak dan apa arti perkataan Batak itu. Ada teorimengatakan bahwa suku Batak adalah “sibatak hoda” yang artinya suku pemacu kuda dan pengertian Batak pada kamus yang ada adalah perampok, penyamun, gelandangan. Asal-usul suku Batak berdasarkan teori tersebut adalah pendatang dari Hindia Belakang sekitar Asia Tenggara sekarang memasuki pulau Sumatera pada masa perpindahan bangsa-bangsa di Asia (Rajamarpodang, 1992: 32).

Suku Batak adalah suku murni sejati atau suku asli, sesuai dengan yang terdapat pada “Mithologi Siboru Deakparujar” yaitu “Batakna” yang artinya “Mulana” atau “Mulanya”. Apabila diteliti akan kemurnian atau keaslian suku Batak dari segi silsilah dan rasnya maka dapat dipastikan suku Batak itu adalah benar-benar murni atau asli. Silsilah suku Batak menggambarkan kemurnian dan kesejatian. Ciri khas sistem kekerabatan suku Batak adalah marga. Penyebutan marga bagi seorang suku Batak menggambarkan identitas pribadi etnis kekerabatan masyrakat Batak dan digunakan sebagai titik tolak berkomunikasi sesama masyarakat Batak sesuai dengan filosofi “Dalihan Na Tolu”(Rajamarpodang, 1992 : 36).

(40)

ToluNilai budaya suku Batak” yaitu; kelompok kekerabatan, sistem keturunan (prinsip keturunan Batak).

- Kelompok Kekerabatan Suku Batak, pada umumnya perkawinan suku Batak adalah monogami. Tetapi faktor turunan terutama karena faktor turunan anak laki-laki terjadi pula poligami. Perkawinan sangat erat kaitannya dengan keluarga, sedangkan perceraian sangat jarang terjadi dan sejauh mungkin diusahakan jangan sampai terjadi. Hal ini terjadi karena budaya, seorang istri yang diceraikan suaminya tidak akan mempunyai hubungan lagi dengan keluarga laki-laki baik anak sendiri maupun keluarga lain.Pandangan Suku Batak bahwa anak adalah sesuatu yang paling berharga.

- Prinsip Keturunan Suku Batak, prinsip keturunan suku Batak adalah patrilineal, bahwa garis turunan etnis adalah dari anak laki-laki. Anak laki-laki memiliki peranan penting dalam kelanjutan generasi, artinya apabila seseorang tidak memiliki anak laki-laki hal itu dapat dianggap “Napunu” karena tidak dapat melanjutkan silsilah ayahnya dan tidak pernah lagi diingat atau diperhitungkan dalam silsilah. “Napunu” artinya adalah bahwa generasi seseorang sudah punah tidak berkelanjutan lagi pada silsilah suku Batak. Sebagai pertanda dari prinsip keturunan suku Batak adalah Marga. Marga ini adalah asal mula nama nenek moyang yang terus dipakai dibelakang nama diri dari satu-satu garis keturunan. Rentetan vertikal turunan marga itu sejak nama nenek moyang sampai saat sekarang menumbuhkan silsilah suku Batak.

2.2.8. Dalihan Na Tolu

(41)

bentuknya menjadi bulat panjan, ujungnya yang satu tumpul dan ujung yang lain agak bersegi empat sebagai kaki dalihan, kakinya kurang lebih 10cm, panjangnya kurang lebih 30cm, dan diameter lebih kurang dari 12cm yang ditanamkan dekat dapur dan tempat yang telah disediakan terbuat dari papan empat persegi panjang berisi tanah liat yang dikeraskan. Ketiga “Dalihan” yang ditanam berdekatan tadi berfungsi sebagai tungku tempat alat masak dijerangkan. Besar “Dalihan” harus sama besar dan ditanam sedemikian rupa sehingga jaraknya simetris satu sama lain dan terlihat harmonis (Rajamarpodang, 1992 : 52).

Periuk atau belanga tidak selamanya dapat menjadi alat masak yang cocok dijerangkan diatas tungku, mungkin alat masak terlalu kecil. Untuk itu supaya alat masak tidak lolos atau luncas kebawah harus dibantu dengan batu-batu kecil yang dipipih cocok untuk dalihan sehingga alat masak dapat dijerangkan, batu pembantu demikian disebut “sihal-sihal”. Jelasnya semua tungku yang tidak dibuat dari batu, seperti tungku-tungku alat modern atau keluaran pabrik tidak boleh dinamai “Dalihan”. Karena “Dalihan Na Tolu” bukan sekedar tiga tungku untuk prasarana memasak, tetapi menyangkut seluruh kehidupan yang bersumber dari dapur. Demikianlah keadaan kekerabatan suku Batak Toba dan pandangan hidupnya, bahwa “dongan”, “hula-hula”, dan “boru” masing-masing mempunyai pribadi dan harga diri tahu akan hak dan kewajiban sebagai pelaksana tanggung jawab terhadap kedudukannya pada suatu saat.

(42)

unsur kekerabatan ibarat tiga tiang tungku yang berdiri sendiri tetapi saling berkaitan dalam bentuk kerjasama. Ketiga unsur yang berdiri sendiri tidak akan ada arti, tetapi harus bekerja sama satu dengan yang lain barulah bermanfaat. Unsur pertama suhut atau dongan tubu, unsur kedua adalah saudara suhut yang perempuan dengan suaminya disebut boru, dan unsur ketiga laki-laki dari istri suhut disebut hula-hula.

Ketiga unsur tersebut diuraikan sebagai berikut (Rajamarpodang,1992) : 1. Somba Marhula-hula

“Hula-hula” merupakan sapaan terhadap saudara laki-laki dari isteri, saudara laki-laki ibu yang melahirkan kita, saudara laki-laki dari ibu yang melahirkan ayah kita, saudara laki-laki dari ibu yang melahirkan kakek kita.“Somba marhula-hula” artinya bahwa “hula-hula” adalah sumber berkat kepada “boru”. “Hulahula” sebagai sumber “hagabeon” atau keturunan. Keturunan diperoleh dari seorang istri yang berasal dari “hula-hula”, tanpa “hula-hula” tidak ada istri dan tanpa istri tidak ada keturunan.

2. Elek Marboru

“Elek Marboru” artinya “boru” harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang serta membujuk secara persuasif. Rasa sayang terhadap “boru”tidak disertai maksud tersembunyi dan pamrih. “Boru” adalah anak perempuan kita, atau kelompok anak kita(anak perempuan kita). Sikap lemah lembut terhadap “boru” perlu, karena“boru” akan mengerahkan seluruh kekuatan yang ada padanya untuk mendukung hula-hulanya. “Boru” juga disebut “Pangalapan gogo do boru” artinya boru adalah sumber kekuatan.

3. Manat Mardongan Tubu

(43)

dekat dan seringnya hubungan terjadi, hingga dimungkinkan terjadi konflik, konflik kepentingan, kedudukan, dan lain-lain.

“Dalihan Na Tolu” merupakan pandangan hidup yang diyakini kebenarannya. Sehingga mendorong suku Batak Toba dalam segala kegiatan untuk mewujudkannya, karena dengan berbuat demikian mereka akan mendapat kebahagiaan material maupun spiritual.

2.2.8.1 Perempuan Sebagai OrangtuaTunggal dalam “Dalihan Na Tolu”

Seorang perempuan Batak akan menikah dengan laki-laki di luar kelompok kekerabatannya,artinya laki-laki dari marga lain akan memperisterikan dan perempuan itu akan menjadi bagian dari marga suaminya.Perempuan itulah yang akan menjadi penghubung tali persaudaraan antara dua keluarga,yaitu pertama keluarga asal perempuan itu dan keluarga dari pihak suaminya. Ketika telah menikah,perempuan akan menjadi hak dari keluarga suaminya karena keluaraga suaminya telah membayar mas kawin dalam bahasa batak disebut “sinamot” kepada keluarga perempuan sebagai simbol untuk “menghargai” perempuan yanga akan dijadikan isteri.Posisi perempuan itu dalam “Dalihan Na Tolu” juga telah berkembang setelah ia menikah,kalau dulu sewaktu belum menikah ia hanya menjadi “Boru” dalam “Dalihan Na Tolu” tetapi sekarang ia bisa menjadi “Hula-hula” lebih dipandang karena adanya peran suaminya sebagai laki-laki.

(44)

suaminya itu. Adapaun hal yang menjadi penghubung antara perempuan sebagai orangtua tunggal yang telah menikah lagi dan dengan ”Dalihan Na Tolu” suami pertamanya adalah apabila perempuan tersebut memiliki anak laki-laki dari suami yang pertama karena bagaimanapun anak laki-laki itu akan mewarisi marga ayahnya dan melanjutkan keturunan. Pada kenyataanya apabila seorang perempuan telah “bercerai”, sering kali dirinya tidak begitu terlihat lagi posisinya di dalam “Dalihan Na Tolu” keluarga suaminya. Karena posisi tersebut ia dapatkan dengan mengikuti posisi suaminya. Apabila perempuan sebagai orangtua tunggal tidak mempunyai anak atau tidak mempunyai anak laki- laki, biasanya perempuan tersebut lebih cenderung dekat atau kembali ke keluarga asalnya walaupun juga tidak sedikit perempuan yang tetap berada di keluarga suaminya.

(45)

2.3. Model Teoritik

Berdasarkan teori yang telah dijabarkan diatas, model teoritik yang terbentuk adalah :

- Teori Kajian Budaya (Cultural Studies)

- Gender Budaya Adat

Batak Toba

Perempuan Sebagai Orangtua Tunggal karena

Kematian

Perempuan Sebagai Orangtua Tunggal karena

Cerai Hidup

Perempuan Sebagai Orangtua Tunggal yang

Tidak Memiliki Suami (Hamil tanpa

pernikahan)

(46)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Metode merupakan proses, prinsip dan prosedur yang digunakan peneliti untuk mendekati suatu masalah dan mencari jawabannya. Dengan kata lain, metodologi adalah sebuah pendekatan umum untuk mengkaji topik penelitian. Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Mulyana, 2001 : 145-146).

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dalam bentuk studi kasus. Studi kasus merupakan upaya mengumpulkan dan kemudian mengorganisasikan serta menganalisis data tentang kasus-kasus tertentu berkenaan dengan permasalahan-permasalahan yang menjadi perhatian peneliti untuk kemudian data tersebut dibandingkan atau dihubungkan satu dengan lainnya (dalam hal lebih dari satu kasus), dengan tetap berpegang pada prinsip holistik dan kontekstual (Pawito,2007:141). Selain itu menurut Pawito, “studi kasus bertujuan untuk memberikan penekanan pada spesifikasi dari unit-unit atau kasus yang diteliti. Metode studi kasus berorientasi pada sifat-sifat unik (kasual), dari unit-unit yang sedang diteliti berkenaan dengan permasalahan-permasalahan yang menjadi fokus penelitian” (Pawito,2007:141).

(47)

suatu program, organisasi atau peristiwa secara sistematis (Kriyantono,2006:65). Penggunaan studi kasus dalam penelitian komunikasi dapat dilakukan dengan mengikuti prosedur sebagai berikut (Pawito,2007:145-146) :

a. Menentukan topik penelitian (relatif spesifik) dan tujuan penelitian. b. Mengidentifikasi unit analisis (individu, kelompok, organisasi,

komunitas, teks).

c. Melakukan studi literatur.

d. Merancang pedoman wawancara, terutama pada studi kasus yang melibatkan manusia sebagai sumber data (subjek, informan). Dalam hal ini, jumlah subjek yang diangkat sebagai kasus biasanya relatif terbatas jumlahnya, sesuai dengan tujuan penelitian.

e. Melakukan pengamatan dan pengumpulan data, termasuk observasi dan in depth interview. Catatan lapangan serta penggunaan alat-alat perekam yang digunakan untuk merekam wawancara sangat penting dalam hal ini.

f. Membandingkan (mencari persamaan serta perbedaan) yang ada diantara unit analisis yang berbeda-beda, menghubung-hubungkan satu dengan yang lain.

g. Menyusun draft awal (persoalan demi persoalan) di bawah sub-sub judul tertentu sambil kembali memeriksa literatur.

h. Penyusunan draft final laporan penelitian.

3.2 Objek Penelitian

(48)

3.3 Subjek Penelitian

Penelitian kualitatif tidak bertujuan untuk membuat generalisasi hasil penelitian. Hasil penelitian lebih bersifat konsektual dan kasuistik sesuai dengan waktu dan tempat pada saat penelitian dilakukan. Karena itu, dalam penelitian kualitatif tidak dikenal istilah sampel. Sampel pada penelitian kualitatif disebut informan atau subjek penelitian, yaitu orang-orang yang dipilih untuk diwawancarai atau diobservasi sesuai dengan tujuan penelitian. Informan dianggap sebagai individu yang aktifmengkonstruksi realita, tidak hanya sekedar objek yang hanya mengisi kuesioner (Kriyantono, 2010:165).

Teknik penentuan informan adalah dengan menggunakan teknik purposive. Menentukan informan yang paling umum didalam penelitian

kualitatif, yaitu menentukan kelompok peserta yang menjadi informan sesuai dengan kriteria terpilih yang relevan dengan masalah penelitian tertentu (Bungin, 2007 : 107).

Adapun kriteria informan yaitu : 1. Bersuku Batak

2. Tidak memiliki suami

3. Suami bersuku batak (alm.) dan mantan suami bersuku batak 4. Informan berdomisili di Medan

5. Memiliki anak atau pernah memiliki anak

Informan dari penelitian ini adalah perempuan sebagai orangtua tunggal yang cerai karena kematian, cerai hidup serta perempuan sebagai orangtua tunggal tanpa memiliki suami.

3.4 Kerangka Analisis

Unit Analisis dari penelitian ini adalah budaya. Kata budaya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai pikiran, akal budi atau adat-istiadat. Sedangkan definisi budaya menurut Koentjaraningrat adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan

(49)

manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar.

Budayadipandang sebagairanahideal, spiritual,

dannonmaterial. dipahamisebagai suatu

bidangbermotifkeyakinan, nilai-nilai, simbol, tanda-tanda, dan wacana (Smith, 2008 : 2).

Budaya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari diri manusia.. Ketika seseorang berusaha be berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dan informasi melalui informan dilakukan dengan dua cara, yaitu :

1. Studi Kepustakaan

Sebelum melakukan wawancara, peneliti terlebih dahulu membaca literatur yang berkaitan dengan penelitian. Dalam hal ini adalah literatur maupun bacaan yang berkenaan dengan adat budaya batak. 2. Wawancara Mendalam (in-depth interview)

Tipe wawancara adalah tidak terstruktur, yaitu tidak memiliki setting wawancara yang baku. Penyampaian dan peruntutan

pertanyaan akan berbeda dari wawancara ke wawancara. Tetapi peneliti tetap membuat interview guide yang akan menjadi panduan dalam wawancara informan. Wawancara dilakukan secara langsung (tatap muka) dengan jumlah pertemuan tidak ditetapkan, sesuai kebutuhan informasi.

3. Observasi

(50)

3.6 Keabsahan Data

Keabsahan data adalah setiap keadaan harus memenuhi: mendemonstrasikan nilai yang benar, menyediakan dasar agar hal itu dapat diterapkan, dan memperbolehkan keputusan luar yang dibuat tentang konsistensi dari prosedurnya dan kenetralan dari temuan dan keputusan-keputusannya(Moleong, 2005).

Teknik keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Triangulasi

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhdap data tersebut. Teknik Triangulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lainnya. Ada empat jenis triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik, teori.

Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan memeriksa balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Hal ini dapat dicapai dengan jalan, (1) membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara; (2) membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi; (3) membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu; (4) membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.

Jika peneliti membandingkan hipotesis pembanding dengan penjelasan pembanding, bukan berarti peneliti menguji atau meniadakan. Tetapi peneliti mencari data yang menunjang penejelasan tersebut.

(51)

Ketekunan pengamatan bertujuan untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci. Peneliti hendaknya mengadakan pengamatan dengan teliti dan rinci secara berkesinambungan terhadap faktor-faktor yang menonjol. Kemudian menelaah secara rinci sampai pada suatu titik sehingga pada pemeriksaan tahap awal tampak salah satu atau seluruh faktor yang ditelaah sudah dipahami dengan cara yang biasa.

Teknik ini menuntut agar peneliti mampu menguraikan secara rinci bagiamana proses penemuan secara tentatif dan penelaahan secara rinci tersebut dapat dilakukan.

3.7 Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini, peneliti memperoleh data dari informan yang memiliki kriteria sesuai dengan yang ditetapkan peneliti, kemudian peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik pengumpulan data dengan menggunakan triangulasi data dan teori, dan proses pengumpulan data tersebut dilakukan terus-menerus hingga datanya jenuh. Kemudian dengan menggunakan teknik analisis data selama di lapangan model Miles and Huberman, peneliti menganalisis data dengan langkah-langkah sebagai berikut (Sugiyono,2005:92):

1. Peneliti melakukan redukasi data. Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu perlu segera dilakukan analisis data melalui redukasi data. Meredukasi berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari pola dan temanya. Dengan demikian data yang telah diredukasi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.

(52)
(53)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Penelitian ini dilakukan terhadap lima orang informan, yang terdiri dari tiga perempuan sebagai orangtua tunggal karena kematian, satu perempuan sebagai orangtua tunggal cerai hidup, dan satu perempuan sebagai orangtua tunggal tanpa memiliki suami atau hamil tanpa pernikahan. Penelitian ini hanya dibatasi terhadap lima orang informan karena data yang didapatkan dari kelima informan ini dianggap sudah cukup dan jenuh, yang artinya penambahan informan lagi tidak memberikan informasi yang baru bagi penelitian yang dilakukan. Informan peneliti yaitu perempuan sebagai orangtua tunggal yang berdomisili di Kota Medan. Mereka yang dipilih sebagai informan merupakan perempuan sebagai orangtua tunggal yang sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti sesuai dengan teknik pemilihan sampel (purposive sampling), yaitu perempuan sebagai orangtua tunggal bersuku Batak Toba, tidak memiliki suami, suami atau mantan suami bersuku Batak Toba, memiliki anak atau pernah memiliki anak, dan informan berdomisili di Medan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...