4. ANALISA DATA
4.1. Gambaran Umum Sasaran Penelitian
Catur merupakan olahraga otak yang dimainkan secara invidu. Dalam olahraga ini, strategi dan ketelitian menjadi kunci utama untuk memenangkan pertandingan. Yang menarik dari olahraga yang terkenal diam dan serius ini, komunikasi juga sangat dibutuhkan untuk menganalisa langkah catur terbaik dan terburuk sebagai evaluasi bertanding. Catur juga memiliki individu pelatih dan atlet, namun berbeda dari olahraga lainnya dimana atlet sangat bergantung dengan pelatih. Dalam catur antar sesama atlet juga bisa saling berbagi ilmu dan menjadi pemberi motivasi untuk meraih ataupun meningkatkan prestasi, karena catur bergantung pada strategi dan kemampuan otak masing-masing atlet yang didukung dengan motivasi dari orang-orang terdekat maupun diri sendiri.
Peneliti mengambil informan yaitu dua atlet catur nasional dengan gelar master dan grandmaster internasional, yang adalah pasangan kakak beradik. Karena pecatur bersaudara tersebut rutin melakukan latihan catur bersama di rumah, serta memiliki kebiasaan saling mencium pipi kanan-kiri sebelum bertanding dan kebiasaan setelah bertanding membahas dan menganalisa partai catur mereka masing-masing. Kebiasaan-kebiasaan itu menjadi ciri khas mereka dalam memotivasi satu sama lain untuk meningkatkan prestasi. Sebagai atlet yang sukses, pecatur bersaudara ini saling menggantikan peran pelatih yang biasanya dimiliki atlet lainnya untuk menjadi motivator pemberi semangat bertanding.
Setelah peneliti menceritakan topik penelitian ini, pecatur bersaudara tersebut bersedia untuk di teliti bagaimana proses komunikasi interpersonal mereka sebagai sesama atlet dengan cara saling memotivasi satu sama lain untuk meningkatkan prestasi.
4.1.1. Profil Kaisar Jenius Hakiki
Perkenalan peneliti dengan Kaisar berawal pada Agustus 2005, di Kejuaraan Nasional Catur di Tarakan, Kalimantan Timur. Peneliti sempat berbincang-bincang mengenai prestasinya yang sudah cukup banyak saat
itu. Setelah perkenalan tersebut peneliti bertemu kembali dengan Kaisar di bulan November 2005 dalam pertandingan Perang Bintang Master Catur di Bekasi, Jawa Barat. Peneliti memperhatikan beberapa kali setelah selesai bertanding Kaisar langsung menganalisa permainan caturnya bersama pecatur wanita Irene Kharisma Sukandar, yang belakangan peneliti ketahui adalah adik kandung Kaisar.
Kaisar Jenius Hakiki, lahir pada tanggal 28 Maret 1990. Kaisar lahir dari ayah yang berasal dari Jawa Timur dan ibu yang berasal dari Jawa Barat. Keluarganya sangat menyukai olahraga. Ayahnya adalah salah satu atlet tenis meja nasional dan dua adik perempuannya juga merupakan atlet catur nasional.
Kaisar memiliki hobi membaca dan belajar apapun. Menurutnya, tidak ada hari tanpa membaca dan mempelajari hal-hal yang baru. Terbukti saat usianya 18 tahun, Kaisar berani membentuk “Irene Kharisma Organizer” dan mengajak kerja sama beberapa perusahaan besar dan banyak mall di Ibukota, untuk membuat turnamen-turnamen catur bagi para pecinta catur dengan hadiah yang cukup besar.
Penyuka berbagai macam menu soto ini, termasuk anak muda yang pandai berkomunikasi dengan relasinya, karena seluruh project yang ia buat tidak pernah ditolak oleh perusahaan-perusahaan untuk menjadi sponsor turnamen-turnamen catur yang ia buat. Padahal Kaisar bisa dibilang mempunyai sifat tertutup pada keluarga dan teman-temannya karena gayanya yang sangat kebapakan, selalu santai, tenang serta terlihat bijak. Walaupun berusia 22 tahun, terlihat pembawaannya sangat bijak dan dewasa dimana ia selalu menyelesaikan permasalahan dengan kepala dingin. Menurut orang tuanya, Kaisar termasuk anak yang tertutup dan jarang menceritakan hal-hal pribadinya. Tetapi ia bersemangat jika membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan catur. Menurut saudaranya, Kaisar termasuk kakak yang sangat perhatian pada prestasi adik-adiknya, selalu memberi semangat dan bisa mengembalikan semangat mereka ketika kalah bertanding.
Menurut Kaisar sendiri, sejak kecil ia benar-benar diajar oleh ayahnya untuk hidup mandiri dan berani membuat suatu terobosan baru agar bisa jadi seseorang yang hebat dan dihargai banyak orang. Sehingga karakternya yang bisa dibilang perfeksionis, membuatnya tidak mudah menyerah dalam hal apapun. Sama halnya dengan prestasi Kaisar di dunia catur dan dunia pendidikan sekarang ini.
Karena sejumlah prestasinya yang luar biasa di olahraga catur, ia mendapatkan beasiswa pendidikan S1 di Universitas Gunadarma Kalimalang, Jakarta, dan telah diwisuda pada bulan Mei 2012 dengan gelar Sarjana Ekonomi. Kemudian di bulan September masih di tahun yang sama Kaisar kembali mendapat beasiswa untuk melanjutkan S2. Menurut Kaisar, sambil menempuh S2 ia juga akan mengikuti turnamen-turnamen catur yang ada di dalam dan luar negeri, hingga bisa mencapai gelar tertinggi di dunia yaitu Grandmaster.
Ketertarikan Kaisar dengan catur, membuat sang ayah mencoba memasukannya ke sekolah catur di Roxy Mas Jakarta pada tahun 1997. Dan pada tahun 1999 Kaisar pindah di Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA), Bekasi, Jawa Barat. Ia mengakhiri pelatihan caturnya tahun 2004, dan memilih latihan di rumah serta memperbanyak mengikuti turnamen catur. Karena Kaisar selalu berpikir untuk melakukan yang terbaik, sebab itu di setiap pertandingan caturnya ia mampu mengalahkan maupun menahan
draw pemain seniornya baik di dalam maupun luar negeri.
Dengan perjalanan karirnya yang cukup panjang, tahun 2011 menjadi tahun terbaiknya karena berhasil meraih 4 penghargaan penting sekaligus. Yaitu, Juara 2 Seleksi Nasional Catur Sea Games di Bogor, Jawa Barat. Kemudian meraih Best Junior di Tashkent Open Chess Tournament, Uzbekistan. Meraih Bronze Medal, 17th Asian Cities Chess Championships,
Indonesia. Dan di akhir tahun 2011, Kaisar mendapat gelar Fide Master. Karena itu hingga saat ini di kalangan catur nasional, Kaisar dan dua adiknya terkenal sebagai pecatur bersaudara yang sangat berprestasi.
4.1.2. Irene Kharisma Sukandar
Irene Kharisma Sukandar lahir di Jakarta 7 April 1992. Gadis
berumur 20 tahun ini merupakan aset bangsa untuk catur di dunia internasional. Irene memiliki hobi membaca buku sejarah, mendengarkan musik instrumental dan acapella, serta online internet chatting dengan teman-temannya pecatur luar.
Menurut Irene, ia memang tidak terlalu dekat dengan pecatur-pecatur di Indonesia dan lebih dekat dengan pecatur luar. Karena itu di setiap pertandingan ia jarang berkumpul dengan pecatur wanita lainnya yang selalu berkelompok. Menurut pecatur-pecatur wanita nasional, Irene sosok yang tertutup dan agak serius, jarang untuk menceritakan hal-hal pribadinya jika orang tersebut tidak dekat dengannya. Karakter Irene memang sedikit pemilih, karena ia hanya lancar berkomunikasi dengan orang-orang yang menurutnya bisa diajak berteman.
Namun berbeda dengan pendapat teman-teman kampusnya, yang menganggap Irene low profile, humoris dan suka mentraktir teman-teman satu kelasnya di setiap ia meraih prestasi. Menurut orang tuanya, sejak kecil Irene memang sudah dewasa cara berpikirnya. Kedewasaan Irene terbentuk karena tanggung jawabnya dalam setiap pertandingan untuk tidak mengecewakan pihak-pihak yang mendukungnya.
Menurut saudaranya, Kaisar dan Diajeng, sosok Irene sebenarnya tidak terlalu tertutup, karena masih suka menceritakan hal-hal pribadinya dengan keluarga. Mereka juga jarang bertengkar karena Irene punya sifat yang tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Tetapi berbeda jika membahas catur, Irene bisa cerewet mengurus permainan saudaranya.
Sebelum namanya dikenal sebagai pecatur, Irene sebenarnya terlebih dahulu menekuni olahraga tenis meja seperti ayahnya. Namun, setelah melihat sang kakak mulai menekuni olahraga catur, Irene menjadi tertarik untuk bermain catur karena ia menganggap permainan tersebut memiliki buah-buah yang lucu dan unik seperti suatu teka-teki.
Pada tahun 1999, Irene mulai belajar catur di SCUA Bekasi bersama Kaisar. Berbeda dengan sang kakak yang memilih tinggal langsung di
SCUA, Irene memilih tetap tinggal di rumah untuk menyelesaikan sekolahnya dan mengikuti pelatihan catur 3 kali seminggu, beruntung kedua orangtuanya memberi dukungan penuh pada pilihan Irene.
Di tahun 2006, Irene mengakhiri pelatihan caturnya di SCUA dan mulai berlatih di rumah bersama kakaknya. Pengagum pecatur Hongaria, GM Judit Polgar itu memperlihatkan kemampuannya dengan mengawali karir internasionalnya meraih norma Master Internasional Wanita (MIW) pada Chess Olympiad Turin, Italy. Cita-cita Irene untuk menjadi Grandmaster Wanita (GMW) pertama Indonesia akhirnya terwujud saat mendapat hasil sangat baik di Chess Olympiad Dresden, Germany (2008). Dan prestasi internasional Irene yang terbaru di tahun 2012 ialah meraih gelar Juara Asia sekaligus menjadi wanita pertama Indonesia yang lolos untuk mengikuti Kejuaraan Dunia. Sebenarnya Irene sudah meraih gelar
Internasional Master (untuk pria) sehingga bisa dikatakan gelar Irene lebih
diatas daripada Kaisar. Tetapi karena elo rating belum mencukupi sehingga gelarnya sebagai IM belum sah oleh FIDE. Hingga saat ini, Irene mewakili provinsi Jawa Barat, sedangkan Kaisar atlet catur mewakili Kepulauan Riau. Sederet prestasi yang berhasil diraih Irene merupakan hasil kerja kerasnya, fokus latihan dan rajin bertanding. Di tengah kesibukan sebagai pecatur yang kerap bertanding baik di dalam maupun luar negeri, Irene resmi tercatat sebagai salah satu mahasiswa jurusan Sastra Inggris pada tahun akademik 2009/2010 di Universitas Gunadarma Kalimalang, Jakarta.
4.2. Setting Penelitian
Peneliti memilih Kaisar dan Irene sebagai informan dalam penelitian ini, karena peneliti melihat keunikan tersendiri dimana mereka memiliki profesi yang sama sebagai pecatur dan juga menghasilkan prestasi yang sama-sama membanggakan tanpa motivasi dari sang pelatih. Penelitian ini memngambil konteks sebelum dan setelah para informan bertanding, sesuai saat peneliti berada di Bekasi melakukan penelitian.
Tanggal 12 Juni 2012, kurang lebih pukul 13.00 peneliti tiba di Bekasi, Jawa Barat, tempat tinggal para informan. Suasana dari teras rumah terlihat bersih
dan rapi, serta terasa sangat sejuk karena rumah itu dipenuhi dengan tanaman-tanaman koleksi ibu mereka. Rumah bergaya minimalis yang terdiri dari dua lantai itu menjadi tempat peneliti melakukan observasi dan wawancara.
Wawancara pertama dengan Kaisar dilakukan siang hari, sedangkan dengan Irene dilakukan sore hingga malam harinya. Kemudian wawancara kedua dengan Kaisar dilakukan esok harinya tanggal 13 Juni 2012, sedangkan wawancara dengan Irene dilakukan tanggal 18 Juni 2012 di pagi hari. Peneliti melakukan wawancara di ruang tamu rumah para informan yang dipenuhi dengan piagam penghargaan di dinding, beberapa lemari kaca berisi ratusan medali, dan piala-piala para informan.
Kemudian observasi untuk penelitian ini dilakukan di beberapa tempat, seperti di ruang latihan catur rumah informan yang terdapat meja kayu berwarna coklat dan putih didesain khusus untuk para informan bermain catur. Dengan menggunakan meja kayu catur tersebut, Kaisar dan Irene selalu merasa nyaman dan betah berlatih catur mulai dari sore hingga malam hari.
Kemudian observasi juga dilakukan saat berada di turnamen lapak Bekasi, pertandingan catur khusus non master yang diikuti Diajeng. Lalu di Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA), sekolah catur ini berlokasi di Bekasi, tidak jauh dari rumah para informan. Peneliti melakukan observasi di SCUA pada saat Kaisar dan Irene mengikuti “Home Tournament”, pertandingan rutin yang diselenggarakan setiap pertengahan bulan oleh pihak SCUA sebagai ajang latih tanding para murid dengan alumni, pelatih dan juga pecatur-pecatur senior lainnya.
Selain itu, peneliti juga melakukan observasi saat para informan mengikuti turnamen Simbolon Cup tanggal 01-06 Juli 2012 di Senayan, Jakarta. Turnamen yang diikuti kurang lebih 150 orang pecatur bergelar master tersebut, menjadi
setting penelitian karena peneliti banyak menemukan data-data yang dihasilkan
oleh para informan untuk mendukung penelitian ini. Dan penelitian ini diakhiri tanggal 06 Juli 2012, setelah para informan selesai bertanding.
4.3. Temuan Data
Dalam penelitian ini, peneliti menemukan data-data dari hasil wawancara dan observasi yang kemudian dideskripsikan untuk menggambarkan proses
komunikasi interpersonal Kaisar dan Irene sebagai pecatur bersaudara yang saling memotivasi untuk berprestasi. Peneliti mengelompokkan temuan data ke dalam sepuluh elemen DeVito 2007 yaitu:
4.3.1. Pengirim-Penerima (Source-Receiver)
Dalam pengamatan peneliti selama tinggal bersama para informan, komunikasi para informan setiap membahas tentang catur selalu berjalan dengan lancar. Dari hasil wawancara 13 Juni 2012, menurut Kaisar komunikasinya dengan Irene lebih lancar sebagai sesama atlet. “Kalau
ngobrol tentang catur, nyambung terus. Kalau ngobrol hal lainnya biasanya pas lagi kumpul sekeluarga, itupun biasa aja”. Hal yang sama diungkapkan
Irene saat wawancara 18 Juni 2012, “Kita itu jarang ngobrol Ind, kalau
ngobrol tuh pasti simbiosis mutualisme harus bisa sama-sama menguntungkan topiknya”.
Sehari sebelum melakukan wawancara yaitu tanggal 12 Juni 2012, peneliti terlebih dahulu mengamati interaksi Kaisar dan Irene dimulai saat makan siang di rumah. Kaisar sangat komunikatif dengan Irene membahas tentang beberapa pertandingan catur pada minggu mendatang karena merasa lucu bahwa pertandingan tersebut hadiahnya kurang menarik.
Setiap harinya para informan selalu membahas tentang catur, namun peneliti mengambil beberapa contoh temuan data yang menunjukkan mereka sebagai source dan receiver. Seperti pada tanggal 22 Juni 2012 saat latihan catur bersama, Kaisar mendengarkan dan merespon Irene saat menganalisa partai catur. Kemudian tanggal 23 Juni 2012 Irene bercerita pada Kaisar tentang kekecewaannya harus bertanding di luar negeri saat neneknya lebaran, Kaisar mendengarkan keluhan Irene setelah itu merespon, “Kalau mau dapet emas di PON, mikir catur aja deh, kalau
sukses kan emak juga yang seneng”. Irene tidak membantah tetapi
mendengarkan nasehat dari Kaisar. Kemudian saat bermain catur blitz (catur yang dimainkan secara cepat dalam waktu 1-5 menit) Kaisar dan Irene selalu bergurau saling meledek. “Mana nih jurus si Fide Master, masa keok sama adenya” beberapa kali peneliti mendengar Irene menyindir Kaisar sambil bercanda. “Nih jurus abangnya woman grandmaster, merem juga
menang net”, respon dari Kaisar setiap melangkahkan buah caturnya sambil kemudian mereka tertawa bersama (observasi, 30 Juni 2012).
Selama peneliti melakukan pengamatan dari tanggal 12 Juni-06 Juli 2012, Kaisar dan Irene selalu berkomunikasi dengan lancar. Tetapi komunikasi mereka terjadi hanya pada saat membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan catur. Dari hasil wawancara 18 Juni 2012, menurut Irene mereka menjadi komunikator serta komunikan yang pasif, pada saat membicarakan topik lainnya.
“Jadi baru-baru ini Irene cerita ke mas, kalau Irene udah
punya pacar pecatur juga dari New Zealand. Tapi mas gak komen apa-apa, malah senyum gitu doang. Ya emang susah sih kalau karakter kita sama-sama diam”.
Sehingga dari hasil pengamatan, menurut peneliti bahwa Kaisar dan Irene menjadi komunikator dan komunikan yang aktif pada saat membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan catur, dimana Kaisar lebih dominan berbicara memberikan nasehat, kritik dan juga kalimat-kalimat motivasi pada Irene.
4.3.2. Encoding-Decoding
Selama melakukan penelitian, peneliti melihat selama berkomunikasi para informan selalu menghasilkan dan menerima pesan (Encoding &
Decoding).
Salah satu kebiasaan para Informan untuk saling memotivasi adalah latihan catur bersama. Dalam hal ini, Encoding terjadi pada 18 Juni 2012, saat Kaisar mengajak Irene latihan bersama, “Net jam 4 ya seperti biasa” sambil menggerakkan jarinya memperagakan bermain catur. Irene melihat ke arah Kaisar sambil mengangguk.
Sedangkan Decoding terjadi tanggal 02 Juli 2012, pada saat Irene menang dan mengucapkan terima kasih sudah diberi semangat selama bertanding, Kaisar lalu memeluk Irene. Juga pada saat Kaisar memberikan semangat untuk Irene bertanding babak ke 3 dengan mengelus punggung Irene, dan Irene kemudian tersenyum.
4.3.3. Pesan
Selama peneliti berada bersama para informan, peneliti melihat dan mendengarkan pesan-pesan apa yang dibicarakan Kaisar dan Irene sehari-hari. Dalam menyampaikan pesan, mereka menggunakan pesan verbal dan non verbal. Seperti pada tanggal 01 Juli 2012, pesan verbal Irene untuk meminta semangat dari Kaisar sebelum bertanding, “Mas doain Irene ya”. Kaisar juga membalas pesan secara verbal untuk memotivasi Irene, “Semangat net, main bagus”. Kemudian pada tanggal 02 Juli 2012, Kaisar berpesan pada Irene sebelum bertanding, “Mainnya hati-hati net ya, pasti
menang”. Begitu juga dengan Irene, tanggal 06 Juli 2012 pertandingan
terakhir Simbolon Chess Cup Irene menyampaikan pesan yang memberikan motivasi, “Mas, kita berjuang ya sama-sama suksesnya”.
Sedangkan pesan non verbal untuk memotivasi Irene dari hasil pengamatan peneliti terjadi saat sebelum dan sesudah pertandingan, Kaisar seingkali mencium pipi dan mengelus punggung Irene. Peneliti juga melihat Kaisar beberapa kali menonton saat Irene bertanding ini merupakan pesan non verbal untuk memberikan Irene semangat.
Kemudian pesan non verbal dari Irene untuk memotivasi Kaisar, sebelum bertanding dan sesudah bertanding Irene mencium pipi Kaisar. Sama seperti Kaisar, Irene juga memberikan semangat secara non verbal saat menonton saat Kaisar bertanding. Dari hasil pengamatan peneliti tanggal 06 juli 2012 dalam pertandingan penentuan untuk masuk tiga besar, setelah bertanding dan hasilnya menang Irene langsung mendatangi Kaisar mencium pipi dan memeluk kakaknya itu.
Dari hasil wawancara (13 Juni 2012) menurut Kaisar pesan yang disampaikan untuk memotivasi Irene secara Verbal, “Kalau cenet mau tetep
jadi no satu, ya harus lebih lagi dari sekarang”. Dan menurut Irene
(wawancara 18 Juni 2012) Pesan yang disampaikan untuk memotivasi Kaisar secara Verbal, “Irene cuma sering ingetin Mas, semangat terus buat
dapetin GM nanggung kalau cuma FM”.
Selain itu, dari hasil pengamatan peneliti selama berada bersama para informan, saat latihan catur bersama jika ada pendapat Kaisar yang tidak
disetujui Irene, Kaisar menggelengkan kepalanya. Sebaliknya jika setuju, Kaisar mengangguk sambil tersenyum. Sama halnya dengan Irene, jika setuju dengan pendapat Kaisar, Irene mengangguk tersenyum sambil mengangkat jempolnya. Pada saat Kaisar berbeda pendapat Irene hanya diam dengan muka cemberut tetapi terlihat menerima apa yang dikatakan Kaisar.
4.3.4. Umpan Balik (Feedback)
Selama peneliti melakukan observasi, para informan selalu melakukan umpan balik saat berkomunikasi mengenai catur. Seperti observasi tanggal 22 Juni 2012, Kaisar sempat beradu argumen dengan Irene saat menganalisa partai catur untuk keperluan Diajeng bertanding keesokan harinya. Umpan balik ini bersifat low monitoring, karena terjadi secara spontan. Begitu juga pada tanggal 23 Juni 2012, saat berada di turnamen catur lapak dimana adik mereka Diajeng bertanding melawan pecatur-pecatur di warung kopi. Kaisar dan Irene bergantian saling berbisik menganalisa permainan catur Diajeng saat bertanding, mereka terlihat sangat kompak dan tidak beradu argumen. Umpan balik selanjutnya pada tanggal 30 Juni 2012 setelah selesai latihan catur bersama, Kaisar memberi pesan pada Irene untuk segera tidur,
“Jangan tidur malam-malam net besok tanding, kalau mau
juara YM’an tunda dulu tuh”. Kemudian Irene merespon sambil
meledek, ”Siap, mas juga langsung tidur tuh jangan pacaran
aja, fokus tanding besok hehe..”.
Dalam setiap mereka berkomunikasi, umpan balik yang terjadi adalah secara positif. Setiap Kaisar berbicara selalu mendapat respon yang positif dari Irene, karena Irene mengerti pesan yang disampaikan kakaknya baik itu memberikan semangat ataupun mengkritik hasil pertandingannya yang buruk. Begitu juga setiap Irene menyampaikan pesan, Kaisar bisa merespon sesuai dengan apa yang dibicarakan Irene. Seperti pada observasi peneliti tanggal 01 Juli 2012, umpan balik terjadi saat Irene meminta dukungan sebelum bertanding, kemudian direspon Kaisar; “Semangat net, main
bagus”. Begitupun ketika selesai bertanding Kaisar bertanya pada Irene
bagaimana hasilnya, Irene lalu merespon “Puji Tuhan menang mas”, dan dijawab kembali oleh Kaisar “oke, selamat net”.
Berbeda dengan observasi, hasil wawancara peneliti dengan para informan menunjukkan mereka memiliki umpan balik bersifat
(supportive-critical). Menurut Irene, umpan balik bersifat kritikan terjadi pada saat hasil
Kaisar buruk (wawancara 18 Juni 2012), “Irene suka kesal kalau liat partai
Mas pas tanding, yang tadinya unggul tiba-tiba jadi kalah. Biasanya Irene ngomel, terus Blind Chess di mobil analisa sama Mas”.
Begitu juga menurut Kaisar (13 Juni 2012), umpan balik mereka yang bersifat kritikan terjadi pada saat hasil Irene buruk bertanding di Indonesia.
“Biasanya tiap kalah main disini, besoknya saya omelin, sampe adu argumen. Tapi setelah itu bangkitin semangat dia lagi”. Dalam hal ini
menurut Kaisar, ia membangkitkan semangat dengan meyakinkan bahwa Irene mampu meraih hasil yang lebih baik dari sebelumnya.
Setiap Kaisar berkomunikasi dengan Irene membahas hal-hal yang berhubungan dengan catur, selalu terjadi umpan balik di dalamnya. Tetapi umpan balik yang terjadi tidak pernah dalam bentuk makian atau berbicara dengan kasar.
4.3.5. Feedforward
Dari hasil wawancara tanggal 18 Juni 2012, menurut Irene setiap Kaisar selesai bertanding catur dan hasilnya kalah, biasanya di mobil Irene mengajak Kaisar main catur buta (Blind Chess). Ini adalah umpan maju dari Irene sebelum ia membahas partai Kaisar yang kalah. “Biasanya di mobil
Irene ngajak mas Blind Chess dulu, mas udah tahu tuh pasti Irene pengen bahas partai mas”. Menurut Kaisar sendiri (wawancara, 13 Juni 2012),
Irene sering mengajak latihan catur bersama dengan berbagai cara. “Kalau Irene mah ribet, “mas dipanggil papa turun”, “mas
ada makanan di bawah sini”, macem-macem cara dia ngajakin saya. Ntar pas saya turun ke bawah, dia udah depan meja catur, “mas catur udah rapi nih” sambil maen mata gitu deh hehe..”
Selama peneliti melakukan pengamatan di rumah, para informan tidak terlalu sering melakukan umpan maju untuk menyampaikan pesan utama. Hanya pada tanggal 18 Juni 2012 saat makan siang bersama, Kaisar berbasa-basi untuk mengajak Irene latihan bersama karena ingin menganalisa partai catur terbaru. “Net jam 4 ya seperti biasa” sambil menggerakkan jarinya memperagakan bermain catur, kemudian direspon Irene dengan mengangguk sambil mengangkat jempolnya tanda setuju.
Dan dari hasil pengamatan peneliti pada saat hadir di dua turnamen catur yang diikuti Kaisar dan Irene, (Home Tournament SCUA & Simbolon
Chess Cup). Umpan maju dimulai dari Irene, saat Kaisar mengalami
kekalahan. Seperti yang dikemukakan Irene saat wawancara bahwa ia sering berbasa-basi mengajak Kaisar Blind Chess dengan menceritakan partainya terlebih dahulu, sebelum membahas partai Kaisar yang kalah.
4.3.6. Saluran Komunikasi
Hasil observasi peneliti dari tanggal 12 Juni – 06 Juli 2012, Kaisar dan Irene membahas tentang catur dan memberikan motivasi selalu secara tatap muka, tidak menggunakan media komunikasi lainnya karena sedang tidak berada di luar negeri.
Selama peneliti bersama dengan para informan, mereka memang tidak menggunakan media apapun untuk berkomunikasi. Karena penelitian ini juga dilakukan saat Kaisar dan Irene tidak memiliki jadwal pertandingan catur di luar kota atau luar negeri.
Dari hasil wawancara 13 Juni 2012 dengan Kaisar, jika salah satu dari ia ataupun Irene bertanding di luar kota atau luar negeri pasti menggunakan saluran komunikasi seperti Yahoo Messenger, Email atau
Facebook. “Pakai YM, kalau masih di Asia aja sih bisa telpon atau sms”.
Begitu pun menurut Irene, saat wawancara 18 Juni 2012, ia mengungkapkan jika mengikuti pertandingan diluar kota atau luar negeri selalu menggunakan media sosial untuk berkomunikasi, “Selalu Ind, kalau
4.3.7. Hambatan / Gangguan (Noise)
Hambatan / gangguan juga terjadi dalam komunikasi Kaisar dan Irene. Menurut Kaisar (wawancara 13 Juni 2012), terdapat gangguan fisik saat berkomunikasi dengan Irene. “Paling gak suka kalau lagi bahas partai
catur, terus dikasi tahu dia gak dengerin, gak ngerespon gara-gara sibuk sendiri ma hp”. Sedangkan menurut Irene (wawancara 18 Juni 2012),
terdapat gangguan psikologis saat berkomunikasi dengan Kaisar, “Gak suka
kalau mas ngomelin Irene pas lagi nurun mainnya. Waktunya gak tepat aja kadang-kadang lagi down banget tuh”. Menurut para informan
gangguan-gangguan seperti ini sudah biasa terjadi dan tidak pernah menjadi masalah, karena mereka tidak menggunakan ego yang dapat menimbulkan pertengkaran.
Dari hasil observasi, peneliti tidak menemukan hambatan-hambatan seperti yang diungkapkan para informan pada saat wawancara. Hanya terdapat hambatan fisik saat latihan catur bersama tanggal 29 Juni 2012, suara bising dari pesta pernikahan tetangga para informan. Sehingga saat menganalisa partai catur Irene terlihat gelisah dan tidak bisa berpikir, “Yaelah berisik banget mas, Irene gak konsen nih”. Sama halnya dengan Kaisar, ia menutup kuping dan tidak sama sekali merespon sewaktu Irene berbicara.
4.3.8. Konteks
Dari hasil observasi, setiap para informan berkomunikasi memang hanya membahas topik mengenai catur. Sebagai kakak-beradik yang tinggal dalam satu rumah dan usianya hanya terpaut dua tahun, Kaisar dan Irene memiliki karakter sangat tertutup untuk membicarakan hal-hal pribadi. Kaisar tidak pernah mau mencampuri dan mengetahui kehidupan pribadi Irene, begitu juga sebaliknya karena mereka tidak pernah menyediakan waktu untuk berbicara mengenai hal-hal pribadi ataupun topik selain catur. Tetapi sebagai sesama atlet, komunikasi mereka bisa berjalan dengan lancar saat menganalisa partai catur, saat latihan catur bersama maupun saat mereka saling memotivasi sebelum bertanding.
Dari hasil observasi, komunikasi interpersonal Kaisar dan Irene dalam hal saling memotivasi terjadi dalam konteks dimensi fisik (ruang), rumah Kaisar dan Irene, karena mereka memiliki ruang latihan catur sendiri. Kemudian di beberapa tempat pertandingan catur, yaitu di Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA), sekolah catur ini berlokasi di Bekasi, tidak jauh dari rumah para informan. Peneliti melakukan observasi di SCUA pada saat Kaisar dan Irene mengikuti “Home Tournament”, pertandingan rutin yang diselenggarakan setiap pertengahan bulan oleh pihak SCUA sebagai ajang latih tanding para murid dengan alumni, pelatih dan juga pecatur-pecatur senior lainnya. Selain itu, saat para informan mengikuti turnamen Simbolon
Cup tanggal 01-06 Juli 2012 di Senayan, Jakarta.
Dari hasil pengamatan peneliti dari tanggal 12 Juni-06 Juli 2012, dimensi temporal (waktu) berlangsung di saat latihan catur bersama, dan di saat pertandingan catur akan dimulai. Pada waktu tersebut, biasanya para informan berkomunikasi dan memberikan motivasi untuk berprestasi. Kemudian dimensi sosial dan psikologis (cara atau suasana menyampaikan pesan), saat Irene berbicara mengeluh tentang pertandingannya, Kaisar menegur dan menasehati Irene untuk tetap semangat berjuang. Saat Kaisar berbicara menasehati dan memberikan kalimat motivasi, Irene menerima dan mendengarkan apa yang dibicarakan Kaisar. Begitu juga saat sebelum bertanding, Irene memulai duluan memberikan Kaisar semangat. Dan dari hasil wawancara dengan Kaisar (13 Juni 2012) setiap selesai latihan catur bersama, mereka biasanya saling memberikan motivasi untuk lebih lagi meraih prestasi.
4.3.9. Ethics
Dari hasil pengamatan peneliti, setiap Irene berbicara mengenai catur, Kaisar selalu menghargai pendapat Irene dan menghargai apa yang diungkapkan Irene baik itu keluhan, pendapat, kritik dan juga kalimat motivasi. Ia juga tahu waktu dan tempat untuk menegur atau menasehati Irene. Begitu pun sebaliknya, setiap Kaisar berbicara memberikan
pendapat, nasehat atau motivasi, Irene selalu mendengarkan dan mematuhi nasehat / pendapat Kaisar.
Sebagai kakak beradik yang berprofesi sama, para informan juga memiliki panggilan untuk saling menghormati satu sama lain, contohnya setiap Irene beradu argumen maupun mengkritik pendapat Kaisar saat analisa partai catur, Irene selalu memanggil dengan kata “Mas”, tidak pernah dengan kata “kamu”. Begitu juga dengan Kaisar, walaupun ia beradu argumen, mengkritik ataupun kesal dengan Irene, Kaisar tetap memanggil “Cenet” (panggilan kesayangan untuk Irene). Mereka juga tidak pernah bertengkar dan saling memaki ketika saling mengkritik permainan catur yang kalah. Dan adu argumen mereka pun untuk membahas langkah catur yang terbaik dan langkah catur yang terburuk.
Selain itu, nilai moral lainnya dalam proses komunikasi Kaisar dan Irene adalah sebelum berangkat bertanding, Kaisar selalu mengajak Irene berdoa bersama secara kristiani. Mereka tidak pernah lepas dari kebiasaan berdoa bersama. Peneliti juga mendengarkan secara langsung, sebelum berangkat ke tempat pertandingan (Home Tournament SCUA & Simbolon
Chess Cup), saat Kaisar yang memimpin doa, ia lebih cenderung
mendoakan Irene agar permainan Irene hasilnya baik. Begitu juga saat Irene yang memimpin doa, ia lebih cenderung mendoakan kakaknya untuk bertanding dengan maksimal. Kemudian juga saat mengetahui Kaisar meraih juara satu Home Tournament SCUA, Irene memberikan selamat dengan memeluk Kaisar sambil berpesan untuk lebih meningkat lagi di pertandingan catur yang akan datang.
4.3.10. Interpersonal Competence
Dalam observasi peneliti dari tanggal 12 Juni – 06 Juli 2012, peneliti melihat kompetensi Kaisar dan Irene setiap kali mereka berkomunikasi. Kaisar selalu mau mendengarkan keluhan Irene yang berhubungan dengan catur. Kaisar juga mampu membangkitkan semangat Irene, ia bisa langsung mengerti saat Irene sedang tidak mood, bisa mengerti saat Irene membutuhkan dukungan untuk bertanding.
Peneliti selalu melihat dan mendengarkan di setiap latihan catur bersama dan persiapan untuk bertanding, Kaisar tidak pernah berhenti memberikan motivasi pada Irene. Sama seperti yang diungkapkan Irene saat wawancara 18 Juni 2012, “Irene bisa semakin meningkat karena punya mas
Kaisar sebagai partner yang selalu bisa membangkitkan semangat Irene”.
Selain itu, peneliti juga memperhatikan kompetensi Irene dimana ia selalu sopan saat berbicara dengan Kaisar, ia bisa mengerti saat Kaisar sedang kecewa atau kesal, sehingga selalu berusaha untuk mengalah dan mendengarkan jika Kaisar berkomentar. Mengenai sosok Irene, menurut Kaisar pada wawancara 13 Juni 2012, Irene selalu berpikiran positif dan memandang semua hal dengan kedewasaan. “Gimana ya, Irene itu dewasa
cara berpikirnya, selalu berpikiran positif”. Saat latihan catur bersama pun
Irene bisa sangat lancar berbicara membahas catur dengan Kaisar. Peneliti juga melihat beberapa kali sebelum bertanding Irene yang selalu memulai duluan memberikan Kaisar semangat untuk bermain maksimal. Seperti pada tanggal 02 Juli 2012 “Ayo mas, semangat maennya ya” dan juga pada tanggal 06 Juli 2012 di pertandingan Simbolon Chess Cup, “Mas, kita
berjuang ya sama-sama suksesnya”.
4.4. Analisis dan Interpretasi Data 4.4.3. Analisis Data
Proses komunikasi interpersonal pecatur bersaudara dalam saling memotivasi untuk berprestasi, merupakan suatu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses komunikasi interpersonal yang terjadi antara sesama atlet yang saling memotivasi untuk meningkatkan prestasi. Dan atlet yang dimaksud secara khusus memiliki status hubungan bersaudara. Peneliti memilih topik ini karena dirasa penting untuk mengetahui proses komunikasi interpersonal dalam dunia olahraga, karena ternyata sesama atlet yang saling memotivasi juga bisa menjadi faktor penentu keberhasilan atlet. Dari hasil temuan data, Kaisar dan Irene memiliki kebiasaan-kebiasaan yang menjadi cara mereka memotivasi satu sama lain sebelum maupun setelah bertanding. Dari hasil penelitian tersebut,
peneliti hanya akan mengambil data yang menarik untuk dianalisis dengan didukung teori komunikasi interpersonal DeVito (2007).
Pesan verbal & non verbal (memotivasi Irene)
Pesan verbal & non verbal (memotivasi Kaisar)
Gambar 4.1. Proses komunikasi interpersonal Kaisar dan Irene dalam saling memotivasi untuk berprestasi
Sumber : Olahan Peneliti 2012
Pengirim – Penerima
Pada penelitian ini, pelaku komunikasi interpersonal pecatur bersaudara yang saling memotivasi untuk berprestasi adalah Kaisar dan Irene. Keduanya mengambil peran sebagai komunikator dan komunikan yang aktif saat berbicara mengenai hal-hal yang berhubungan dengan catur. Sebagai sesama pecatur yang memiliki gelar internasional, Kaisar dan Irene tidak pernah saling berebut untuk berbicara. Ada kalanya Kaisar berbicara dan Irene mendengarkan, sebaliknya ada kalanya Irene berbicara dan Kaisar mendengarkan. Hal ini terjadi saat mereka memberikan saran, masukan,
Hambatan Fisik & Psikologis Irene “Source / Receiver” Kompetensi Komunikasi Konteks: 1. Dimensi Fisik 2. Dimensi Waktu 3. Dimensi Sosial &
Psikologis
Feedforward:
1. Untuk mengajak Latihan catur bersama
Kaisar “Source / Receiver” Kompetensi Komunikasi Channel: Media Sosial 1. Yahoo Messenger 2. Email 3. Facebook Channel 1. Handphone 2. Yahoo Messenger
3. Email 1. Low Monitoring Feedback:
2. Positive 3. Supportive-Critical Feedback: 1. Low Monitoring 2. Positive 3. Feedforward:
1. Untuk mengajak latihan catur bersama
kritik, pendapat untuk memotivasi satu sama lain pada saat latihan bersama ataupun ketika sedang menganalisa partai catur. Namun selama peneliti melakukan observasi, menurut peneliti Kaisar cenderung lebih dominan berbicara daripada Irene, bukan karena ia merasa diri paling hebat. Tetapi karena Kaisar selalu ingin memberikan semangat agar Irene semakin meningkatkan prestasi dan tidak berpikiran hal-hal diluar catur.
Memang pada dasarnya Kaisar dan Irene sebagai kakak beradik yang sama-sama memiliki sifat tertutup. Namun berbeda ketika membahas tentang catur keduanya sangat terbuka dan aktif berkomunikasi. Hal ini sama seperti yang dikemukakan Tubbs (2000, p. 216) bahwa komunikasi keluarga bisa terjadi secara tertutup dan terbuka. Dalam sistem tertutup, informasi tidak mengalir. Sedangkan sistem terbuka, informasi mengalir dengan respon satu sama lain.
Dari hasil pengamatan peneliti, bagi Kaisar dan Irene komunikasi sangat dibutuhkan mereka sebagai sesama pecatur, tetapi komunikasi tidak dibutuhkan jika membahas hal pribadi lainnya. Terbukti jika tidak membahas tentang catur, mereka lebih banyak diam. Dan dalam hal memotivasi, Kaisar dan Irene saling menjadi motivator yang baik untuk mendukung saudaranya meningkatkan prestasi dalam catur.
Sebagai aset bangsa yang memiliki segudang prestasi dalam catur, Irene mewakili pecatur Indonesia untuk bertanding di nasional maupun internasional. Selagi memiliki jadwal bertanding yang padat, ia hanya terfokus pada karirnya untuk catur. Sehingga motivasi yang diberikan Kaisar memang hanya dikhususkan pada Irene untuk meningkatkan prestasi caturnya lebih lagi. Begitupun dengan Irene, walaupun saat ini Kaisar juga memiliki kesibukan lainnya yakni mengambil pendidikan S2, tetapi Irene hanya memfokuskan menjadi motivator kakaknya untuk meraih prestasi lebih banyak lagi dalam catur. Motivasi tidak ditemukan saat mereka melepaskan atribut sebagai pecatur, karena memang sejak kecil Kaisar dan Irene hanya lancar berbicara jika membicarakan semua hal yang berhubungan dengan catur.
(Topik: Catur)
Gambar 4.2. Proses yang terjadi antara Komunikator dan Komunikan Sumber: Olahan Peneliti 2012
Encoding-Decoding
Encoding merupakan suatu kegiatan memproduksi pesan, misalnya
menulis atau bicara. Sedangkan decoding merupakan kegiatan menerima dan memahami pesan seperti mendengarkan dan membaca. Setiap kali Kaisar dan Irene berbicara mengenai catur, baik itu saat berlatih catur bersama yang dalam hal ini memberikan motivasi ataupun memberikan kritik pasti mereka memproduksi pesan dan menerima pesan.
Karena kebiasaan mereka yang hanya berkomunikasi mengenai catur, maka apapun pesan yang diproduksi Kaisar maupun Irene, bisa diterima dan dipahami dengan cepat oleh masing-masing. Peneliti melihat
Encoding-Decoding terjadi pada saat Kaisar mengajak Irene latihan bersama, “Net jam 4 ya seperti biasa” sambil menggerakkan jarinya memperagakan bermain
catur. Irene melihat menerima pesan yang disampaikan Kaisar sambil mengangguk tanda setuju.
Kemudian pada saat akan mulai bertanding Kaisar memproduksi pesan verbal dengan memberikan kata-kata ataupun kalimat yang membuat Irene semangat, dan juga memproduksi pesan non verbal dengan mengelus punggung Irene, biasanya Irene menerima pesan tersebut dengan tersenyum. Dan juga setelah bertanding, saat Kaisar selesai bertanding terlebih dahulu, peneliti melihat ia mendatangi meja Irene yang masih bertanding untuk mengabarkan hasilnya. Biasanya Irene menerima pesan yang disampaikan Kaisar dengan menggangguk. Begitu juga ketika Irene selesai bertanding, ia mendatangi Kaisar memberi kabar kemenangannya dan Kaisar menerima pesan yang disampaikan oleh Irene tersenyum kemudian memeluknya.
KAISAR
Komunikator / Komunikan aktifIRENE
Komunikator / Komunikan aktifPesan
Selama peneliti berada bersama para informan, peneliti melihat dan mendengarkan pesan-pesan apa yang dibicarakan Kaisar dan Irene sehari-hari. Dalam menyampaikan pesan, mereka menggunakan pesan verbal dan non verbal. Seperti pesan verbal Irene untuk meminta semangat dari Kaisar sebelum bertanding, “Mas doain Irene ya”. Kaisar juga membalas pesan secara verbal untuk memotivasi Irene, “Semangat net, main bagus”. Kemudian Kaisar berpesan pada Irene sebelum bertanding, “Mainnya
hati-hati net ya, pasti menang”. Begitu juga dengan Irene, saat pertandingan
terakhir Simbolon Chess Cup Irene menyampaikan pesan yang memberikan motivasi, “Mas, kita berjuang ya sama-sama suksesnya”.
Sedangkan pesan non verbal untuk memotivasi Irene yaitu, sebelum dan sesudah pertandingan, Kaisar mencium pipi dan mengelus punggung Irene. Seperti yang dikemukakan Mark L. Knapp & Judith A. Hall (2010, p. 271) bahwa komunikasi interpersonal dapat berupa sentuhan positif yang bisa melibatkan dukungan, jaminan, apresiasi dan kasih sayang untuk menggambarkan kebersamaan.
Selain itu juga, menonton saat Irene bertanding juga merupakan pesan non verbal untuk memberikan Irene semangat. Kemudian pesan non verbal untuk memotivasi Kaisar, yaitu tersenyum, mencium pipi Kaisar sebelum dan sesudah bertanding, juga menonton saat Kaisar bertanding. Pesan non verbal Irene pada Kaisar di tempat, setelah selesai bertanding dan hasilnya menang, Irene terlihat bahagia mendatangi Kaisar lalu memeluknya.
Selain itu, saat latihan catur bersama, jika tidak setuju dengan pembicaraan Irene, Kaisar menggelengkan kepalanya. Sebaliknya jika setuju, Kaisar mengangguk sambil tersenyum. Sama halnya dengan Irene jika tidak setuju saat Kaisar mengkritik, Irene diam dengan muka cemberut. Sebaliknya jika setuju, Irene mengangguk sambil mengangkat jempolnya.
Salah satu kelebihan dari profesi mereka yang sama-sama sebagai pecatur adalah hubungan mereka sebagai saudara kandung. Sehingga pesan verbal dan non verbal yang digunakan keduanya menjadi pesan yang efektif, karena mereka tumbuh bersama sejak kecil, sehingga pesan diantara
keduanya sangat mudah dimengerti satu sama lain. Pesan yang disampaikan juga tidak dibuat-buat dan tidak pernah bersifat negatif. Dalam hal ini yang dimaksud bersifat negatif adalah setiap pesan yang disampaikan dari Kaisar pada Irene atau sebaliknya, tidak pernah pesan yang menyakiti perasaan.
(Topik: Catur)
Gambar 4.3. Pesan yang disampaikan Kaisar dan Irene Sumber: Olahan Peneliti 2012
Umpan Balik
Dari hasil wawancara dan observasi, menurut peneliti umpan balik diantara Kaisar dan Irene terjadi secara low monitoring, positive dan
Supportive-Critical.
Seperti yang dikemukakan DeVito (2007), “Ada berbagai macam bentuk feedback seperti halnya yang terjadi secara spontan, benar-benar jujur, hal ini yang dinamakan low monitoring feedback”. Dari hasil observasi, peneliti melihat umpan balik saat mereka berkomunikasi terjadi secara spontan. Setiap Kaisar dan Irene berbicara membahas tentang catur, dimana didalam pembicaraan dan saling memberikan motivasi atau mengkritik permainan salah satu yang kalah, selalu terjadi umpan balik secara spontan. Seperti saat sebelum bertanding di Simbolon Chess Cup 2012, Irene meminta didoakan agar permainannya bagus, Kaisar merespon spontan dengan memberikan Irene semangat.
Positive feedback terjadi apabila komunikator dan komunikan arus
komunikasinya lancar. Dalam hal ini, setiap Kaisar berbicara selalu mendapat respon yang positif dari Irene, karena Irene mengerti pesan yang disampaikan kakaknya baik itu memberikan semangat ataupun mengkritik
Pesan untuk memotivasi Irene disampaikan secara verbal & non verbal
KAISAR
IRENE
Pesan untuk memotivasi Kaisar disampaikan secara verbal & non verbal
hasil pertandingannya yang buruk. Begitu juga setiap Irene menyampaikan pesan, Kaisar bisa merespon sesuai dengan apa yang dibicarakan Irene.
Supportive-critical. Supportive feedback berarti mendukung, menyetujui apa yang pembicara bawakan. Sedangkan critical feedback baik itu positif ataupun negatif terjadi ketika pesan yang dibawakan ditanggapi secara evaluasi atau menilai. Secara positif saat mengkritik untuk memberikan motivasi, secara negatif saat mengkritik untuk menjatuhkan lawan bicara (DeVito, 2007).
Dari hasil observasi dan wawancara, menurut peneliti umpan balik dalam komunikasi mereka juga terjadi secara Supportive, karena Kaisar dan Irene saling mendukung, menyetujui apa yang dibicarakan seperti pada saat persiapan untuk bertanding. Biasanya Kaisar memberikan pesan-pesan kecil agar Irene bermain dengan baik pasti akan direspon oleh Irene dengan meminta di doakan, dan begitupun sebaliknya apabila Kaisar juga akan bertanding.
Sedangkan dari hasil wawancara, menurut Kaisar dan Irene dalam mereka berkomunikasi juga terjadi critical feedback. Seperti apabila Irene mengalami kekalahan karena permainannya yang buruk dan sedang merasa
down, biasanya Kaisar akan langsung mengevaluasi dan memberikan
kritikan-kritikan. Kemudian akan direspon oleh Irene dengan muka cemberut. Dalam hal ini, peneliti melihat bahwa respon dari Irene dengan muka cemberut bukan karena kritik dari Kaisar yang kasar atau menyakiti hati Irene. Tetapi respon tersebut, lebih dikarenakan Irene merasa dirinya bersalah hingga mengalami hasil yang buruk.
Begitupun sebaliknya, ketika Kaisar mengalami kekalahan biasanya Irene akan mengevaluasi dan mengkritik permainan Kaisar yang buruk. Dalam hal ini Kaisar tidak marah atau emosi, tetapi justru menerima kritik dan evaluasi dari Irene.
Hal-hal tersebut menjadi kebiasaan bagi mereka, disaat Kaisar mengevaluasi dan memberi masukan atau kritik, Irene pasti menerima dan sebaliknya pada Kaisar. Justru kebiasaan ini menjadi salah satu aspek penambah motivasi untuk lebih meningkatkan prestasi lagi.
Feedforward
Dalam melakukan umpan balik ada juga proses yang dinamakan
feedforward yang adalah berisikan informasi pesan sebelumnya atau yang
sedang akan disampaikan. Pesan ini mengisyaratkan kepada pendengar mengenai pesan yang akan segera disampaikan.
Selama peneliti melakukan pengamatan, informan pernah melakukan umpan maju sebelum menyampaikan pesan utama. Seperti saat makan siang bersama, Kaisar berbasa-basi untuk mengajak Irene latihan bersama karena ingin menganalisa partai catur terbaru. “Net jam 4 ya seperti biasa” sambil menggerakan jarinya memperagakan bermain catur, kemudian direspon Irene dengan mengangguk sambil mengangkat jempolnya tanda setuju.
Menurut Irene sendiri setiap Kaisar selesai bertanding catur dan hasilnya kalah, terlebih dahulu Irene mengajak Kaisar main catur buta (Blind Chess), dan kemudian mulai membahas partai Kaisar yang kalah. “Biasanya di mobil Irene ngajak mas Blind Chess dulu, mas udah tahu tuh
pasti Irene pengen bahas partai mas”.
Dalam proses umpan maju Kaisar dan Irene, sebenarnya sudah sama-sama saling tahu maksud satu sama lain. Kaisar tahu apa yang ingin dibicarakan Irene, begitupun sebaliknya. Sehingga keduanya sudah terbiasa dengan pembicaraan yang dimulai tanpa basa-basi terlebih dahulu.
Saluran Komunikasi (Channel)
Menurut DeVito (2007), saluran komunikasi merupakan media yang selalu dilalui pesan. Seperti halnya jembatan dari source dan receiver dalam pengiriman pesan. Dalam penelitian ini, Kaisar dan Irene sebagai source dan receiver juga menggunakan saluran / media untuk berkomunikasi. Dari hasil observasi peneliti selama di Bekasi, Kaisar dan Irene berkomunikasi secara tatap muka karena tidak ada pertandingan di luar kota ataupun luar negeri. Dari hasil wawancara, menurut Kaisar dan Irene ketika salah satu diantara mereka sedang bertanding di luar kota maupun di luar negeri, mereka harus menggunakan saluran komunikasi. Apabila di luar
kota biasanya mereka selalu menggunakan mobile phone untuk berkomunikasi, sedangkan ketika di luar negeri mereka lebih banyak menggunakan Email, Yahoo Messenger (YM) ataupun terkadang juga
Facebook. Namun apabila kebutuhan yang mendesak, terkadang mereka
menggunakan telepon sebagai alat komunikasi walaupun biaya telepon yang digunakan sangat mahal.
Bagi keduanya komunikasi menggunakan media apapun tidak masalah, asalkan masih bisa saling menerima kabar. Seperti saat Irene bertanding di luar negeri, mereka lebih sering menggunakan Yahoo
Messenger (video call) sambil membuka papan catur dan laptop untuk
menganalisa partai bersama-sama karena Kaisar menjadi sekondan mempersiapkan permainan catur Irene. Hal ini merupakan kebiasaan dari Kaisar yang bisa dikatakan memotivasi Irene untuk berprestasi. Karena dengan menjadi sekondan saat Irene bertanding, ia bisa memantau permainan Irene dan sekaligus menjadi tempat Irene bertukar pikiran untuk memilih langkah-langkah yang terbaik dan terburuk sebelum bertanding.
Hambatan / gangguan (Noise)
Menurut Kaisar dan Irene bahwa gangguan psikologis terjadi pada saat Irene mengalami kekalahan dari pecatur putri di Indonesia. Karena frekuensi Irene yang lebih sering bertanding daripada Kaisar, sehingga biasanya Irene yang lebih sering dikritik saat hasil pertandingannya buruk. Kaisar akan mulai terus-terusan mengevaluasi permainan Irene dan juga mengkritik langkah-langkah catur yang dimainkan Irene saat itu. Irene yang masih dalam pengaruh kekecewaan karena kalah, biasanya akan merespon dengan muka cemberut dan terkadang sambil sibuk sendiri bermain
handphone. Seperti yang diungkapkan Kaisar saat wawancara, “Paling gak suka kalau lagi bahas partai catur, terus dikasi tahu dia gak dengerin, gak ngerespon gara-gara sibuk sendiri ma hp” (13 Juni 2012).
Dalam hal ini, gangguan psikologis tersebut menjadi hal yang biasa bagi Irene, karena ia mengetahui bahwa kriktik dari Kaisar saat ia mengalami kekalahan merupakan kritik yang membangun. Sangat wajar
seorang kakak mengkritik adiknya untuk tidak melakukan kesalahan lagi, karena saat ini posisi Irene adalah pecatur wanita terbaik Indonesia dan pecatur wanita no satu Asia. “Gak suka kalau mas ngomelin Irene pas lagi
nurun mainnya. Waktunya gak tepat aja kadang-kadang lagi down banget tuh. Tapi itu juga menurut Irene wajarlah mas ngomel” (wawancara, 18
Juni 2012).
Meskipun Kaisar dan Irene tahu bahwa kekalahan pasti sangat berpengaruh dengan psikologis mereka, tetapi untuk menjadi juara sejati menurut Kaisar dan Irene harus siap mental untuk dievaluasi dan dikritik, agar bisa menjadi lebih baik lagi.
Sedangkan pada saat penelitian, peneliti tidak melihat adanya hambatan psikologis dalam komunikasi mereka. Selama peneliti memperhatikan mereka berbicara, gangguan justru terjadi dari luar (fisik) yang membuat mereka tidak bisa melanjutkan menganalisa partai catur saat latihan bersama.
Konteks (Context)
Konteks komunikasi interpersonal Kaisar dan Irene sebagai pecatur bersaudara selalu membahas topik catur. Dimana didalam komunikasi tersebut, mereka sama-sama saling mendukung dan saling memotivasi sebagai sesama pecatur. Seperti yang dikemukakan Teri Kwal dan Michael W. (2005, p. 428), bahwa dalam konteks apapun, anggota keluarga selalu menyiapkan waktunya untuk memberi dukungan.
Sebagai kakak-beradik yang tinggal dalam satu rumah dan usianya hanya terpaut dua tahun. Kaisar tidak pernah mau mencampuri dan mengetahui kehidupan pribadi Irene, begitu juga sebaliknya karena mereka tidak pernah menyediakan waktu untuk berbicara mengenai hal-hal pribadi ataupun topik selain catur. Tetapi sebagai sesama atlet, komunikasi mereka bisa berjalan dengan lancar saat menganalisa partai catur, saat latihan catur bersama maupun saat mereka saling memotivasi sebelum bertanding dilihat dalam empat dimensi.
Menurut DeVito (2007), komunikasi selalu berlangsung dalam sebuah konteks / lingkungan komunikasi, yakni sebuah lingkungan yang mempengaruhi bentuk dan isi dari kegiatan komunikasi yang ada dilihat dari empat dimensi. Dalam penelitian ini, komunikasi interpersonal Kaisar dan Irene terjadi dalam konteks dimensi fisik (ruang), rumah Kaisar dan Irene, karena mereka memiliki ruang latihan catur sendiri. Kemudian di beberapa tempat pertandingan catur, yaitu di Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA), sekolah catur ini berlokasi di Bekasi, tidak jauh dari rumah para informan. Peneliti melakukan observasi di SCUA pada saat Kaisar dan Irene mengikuti “Home Tournament”, pertandingan rutin yang diselenggarakan setiap pertengahan bulan oleh pihak SCUA sebagai ajang latih tanding para murid dengan alumni, pelatih dan juga pecatur-pecatur senior lainnya. Selain itu, saat para informan mengikuti turnamen Simbolon Chess Cup tanggal 01-06 Juli 2012 di Senayan, Jakarta.
Dimensi temporal (waktu) berlangsung di saat latihan catur bersama, dan mereka saling memotivasi di saat sebelum bertanding. Dimensi sosial dan psikologis (cara atau suasana menyampaikan pesan), saat Irene berbicara mengeluh tentang pertandingannya, Kaisar menegur dan menasehati Irene untuk tetap semangat berjuang. Saat Kaisar berbicara menasehati dan memberikan kalimat motivasi, Irene menerima dan mendengarkan dengan baik apa yang dibicarakan Kaisar.
Ethics
Menurut Teri Kwal dan Michael W. (2005, p. 429) bahwa etika terbentuk dari bagaimana anggota dalam keluarga berperilaku sesuai dengan aturan-aturan berkomunikasi secara efektif untuk meningkatkan komunikasi dalam keluarga. Dalam hal ini, sebagai pecatur bersaudara, Kaisar dan Irene juga memiliki etika dalam berkomunikasi. Walaupun Kaisar lebih tua ataupun Irene lebih muda, mereka tetap saling menghargai satu sama lain saat sedang berbicara.
Seperti Kaisar yang selalu menghargai pendapat Irene dan menghargai apa yang diungkapkan Irene baik itu keluhan, pendapat, kritik dan juga
kalimat motivasi. Ia juga tahu waktu dan tempat untuk menegur atau menasehati Irene. Begitu pun sebaliknya, setiap Kaisar berbicara memberikan pendapat, nasehat atau motivasi, Irene selalu mendengarkan dan mematuhi nasehat / pendapat Kaisar. Irene sangat menyadari posisinya sebagai adik dan tidak pernah melawan atau berbicara kasar dengan Kaisar. Walaupun secara gelar catur dan pengalaman posisi Irene berada di atas Kaisar, karena Irene sudah meraih gelar Internasional Master (untuk pria) hanya karena elo rating yang belum mencukupi sehingga gelarnya sebagai IM belum sah oleh FIDE.
Sebagai keturunan Jawa, para informan juga memiliki panggilan untuk saling menghormati satu sama lain, contohnya setiap Irene beradu argumen maupun mengkritik pendapat Kaisar saat analisa partai catur, Irene selalu memanggil dengan kata “mas”, tidak pernah dengan kata “kamu”. Dalam budaya Jawa, memanggil laki-laki yang dihormati tidak perduli lebih muda dari usianya, selalu memakai “mas” atau “kangmas”. Karena etnik Jawa memiliki ciri halus, ramah tamah, bersopan santun, sederhana, dan menghormati adat kebiasaan (Mulyana, 2003, p.221). Begitu juga dengan Kaisar, walaupun ia mengkritik ataupun kesal dengan Irene, Kaisar tetap memanggil “Cenet” (panggilan kesayangan untuk Irene). Mereka tidak pernah bertengkar dan saling memaki ketika beradu argumen atau saling mengkritik. Berdasarkan watak orang jawa yang selalu menghindari konflik, sejak kecil orang tua Kaisar dan Irene selalu mendidik mereka untuk tidak bersaing. Karena itulah mereka saling menghargai ketika terjadi perbedaan pendapat dalam membahas tentang catur.
Selain itu, nilai moral dalam proses komunikasi Kaisar dan Irene adalah sebelum berangkat bertanding, Kaisar selalu mengajak Irene berdoa bersama secara kristiani. Berdoa bersama merupakan kebiasaan yang diajarkan orangtua mereka sejak kecil. Sehingga bisa dikatakan, kebiasaan ini juga menjadi nilai tersendiri bagi hubungan mereka sebagai saudara dengan profesi yang sama untuk bertanding catur.
Interpersonal Competence
Kompetensi komunikasi adalah kemampuan seseorang berkomunikasi secara efektif yang mempengaruhi kandungan pesan dan bentuk komunikasi. Contohnya pengetahuan tentang kepastian situasi dan kepastian pendengar bahwa topik itu cocok dan yang lain tidak. Pengetahuan tentang aturan perilaku nonverbal seperti vocal volume dan ketidakcocokan sentuhan juga merupakan bagian dari kompetensi.
Para informan memiliki kompetensi dalam berkomunikasi. Seperti Kaisar yang selalu mendengarkan keluhan Irene yang berhubungan dengan catur, ia bisa langsung mengerti saat Irene sedang tidak mood. Kaisar selalu mampu membangkitkan semangat Irene, saat Irene membutuhkan dukungan untuk bertanding dengan cara memotivasi Irene. Begitu juga dengan kompetensi komunikasi Irene yang selalu sopan saat berbicara dengan Kaisar, walaupun dilihat secara gelar catur ia lebih tinggi dibandingkan gelar Kaisar. Irene sangat menyadari posisinya sebagai adik harus tetap menghormati kakaknya.
Selain itu, Irene juga sangat lancar berbicara membahas catur maupun memotivasi Kaisar sebelum bertanding dan juga bisa mengerti saat Kaisar sedang kecewa atau kesal, sehingga selalu berusaha untuk mengalah. Sehingga bisa dikatakan Irene selalu bisa memotivasi Kaisar untuk berprestasi, seperti yang ceritakan Kaisar pada peneliti saat wawancara, “Andelan Irene pasti, “ayo mas semangat latihannya biar dapet GM, masa
gitu-gitu aja”. Ya saya kebakar juga tuh digituin, jadi bawaannya kalau tanding gak mau kalah hehe..” (13 Juni 2012).
Dalam hal ini kompetensi komunikasi diantara Kaisar dan Irene bisa dikatakan sangat efektif mempengaruhi pesan yang diterima maupun disampaikan untuk memotivasi satu sama lain agar bisa meningkatkan prestasi.
4.4.4. Interpretasi Data
Untuk melakukan interpretasi data, peneliti memaknai temuan data hasil analisis proses komunikasi interpersonal yang dilakukan pecatur bersaudara dalam saling memotivasi untuk berprestasi. Pada proses komunikasi interpersonal tersebut terdapat elemen-elemen seperti yang dikemukakan DeVito (2007), antara lain pengirim-penerima, encoding-decoding, pesan, feedback, feedforward, saluran komunikasi, konteks, hambatan, ethics, interpersonal competence.
Adapun interpretasi data yang dilakukan oleh peneliti ini sekaligus disertai dengan triangulasi sumber dan triangulasi teori. Triangulasi Sumber sering disebut dengan triangulasi data, dilakukan dengan mengakses sumber-sumber yang lebih bervariasi guna memperoleh data berkenaan dengan persoalan yang sama. Peneliti bermaksud menguji data yang diperoleh dari satu sumber untuk dibandingkan dengan data dari sumber lain. Dari sini peneliti akan sampai pada salah satu kemungkinan: data yang diperoleh ternyata konsisten, tidak konsisten atau berlawanan. Sedangkan triangulasi teori adalah penggunaan perspektif teori yang bervariasi dalam menginterpretasi data yang sama (Pawito, 2007, p. 99-100):
Dalam penelitian ini, triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan hasil temuan penelitian dengan hasil wawancara dari orang tua para informan yang sehari-hari mengetahui komunikasi anak-anaknya sebagai sesama atlet catur maupun sebagai kakak beradik. Dan triangulasi teori dilakukan dengan membandingkan dengan elemen komunikasi interpersonal DeVito dan teori komunikasi interpersonal di dunia olahraga.
Menurut hasil analisis, ada beberapa temuan data menarik yang dapat dimaknakan oleh peneliti. Seperti temuan data, bahwa Kaisar dan Irene hanya bisa lancar berkomunikasi saat mereka sama-sama memposisikan diri sebagai pecatur, karena mereka tidak pernah berkomunikasi sebagai kakak beradik yang membahas hal-hal pribadi satu sama lain. Selain itu karena mereka sangat memanfaatkan ilmu, pengalaman dan prestasi yang diraih hingga saat ini, maka saat berkomunikasi mereka bisa saling mengerti satu sama lain. Ini juga dapat dibuktikan dari hasil wawancara dengan orang tua Kaisar dan Irene mengenai apa yang selalu mereka bicarakan bersama.
“Selama ini ya tante lihat mereka sering ngobrol pada saat latihan catur, suka bahas-bahas hasil pertandingan di analisa-analisa
gitu. Kalau ngobrol masalah pribadi, mas Kaisar dan mbak Irene gak pernah mau saling tahu” (Wawancara dengan Ibu, 28 Juni 2012).
“Oh kalau curhat tentang permasalahan catur iya, tetapi untuk masalah di luar hubungannya dengan catur tidak ada menurut om. Dan memang Kaisar atau Irene saya rasa gak saling mengurusi masalah pribadi saudaranya, mereka hanya terfokus sama catur dan pendidikan saja” (Wawancara dengan Ayah, 02 Juli 2012).
Jika ditriangulasikan dengan elemen source-receiver DeVito (2007), Kaisar dan Irene sama-sama menjadi komunikator dan komunikan yang aktif saat berbicara mengenai catur, dan sama-sama menjadi pasif saat berbicara hal-hal di luar catur.
Temuan data menarik selanjutnya adalah menuruti Kaisar dan Irene, komunikasi mereka tidak boleh terputus saat salah satu bertanding di luar kota ataupun luar negeri. Karena saat mereka tidak mengikuti pertandingan catur bersama-sama, yang tidak ikut akan menjadi sekondan.
Dari hasil wawancara, karena Irene lebih banyak bertanding di luar negeri maka Kaisar yang lebih sering bertugas menjadi sekondan Irene. Menurut peneliti, dengan Kaisar menjadi sekondan saat Irene bertanding, artinya Kaisar membantu Irene berjuang meraih prestasinya. Karena tugas sekondan adalah membantu mempersiapkan langkah terbaik dan langkah terburuk sebelum bertanding, sehingga hal ini menjadi salah satu bentuk dukungan untuk Irene mendapat hasil yang baik. Sebab itu, komunikasi mereka harus terus berjalan lancar untuk memantau kondisi saat bertanding. Dan hal ini juga sama seperti yang diungkapkan orang tua mereka.
“Yang tante tahu sih mereka selalu komunikasi terus pakai chatting,
misalkan mbak di luar dia pasti kasi kabar ke masnya, nanti masnya yang sampein ke tante sama om. Sering video call juga sama masnya”
(Wawancara dengan Ibu, 28 Juni 2012)
“Komunikasi mereka harus lancar kalau salah satu pergi bertanding,
entah itu menggunakan telepon, sms-sms, email. Dari mereka sendiri memang gak pernah absen untuk saling menghubungi (Wawancara
Dalam elemen saluran komunikasi, para informan sangat memanfaatkan media yang ada untuk tetap berkomunikasi. Setiap salah satu bertanding di luar kota atau luar negeri, yang lain harus bisa tetap online menunggu kabar. Ini dapat menunjang proses komunikasi interpersonal yang efektif bagi Kaisar dan Irene sebagai sesama pecatur.
Kompetensi para informan dalam berkomunikasi juga menjadi informasi pendukung dalam penelitian ini. Kaisar selalu mendengarkan keluhan Irene yang berhubungan dengan catur, ia bisa langsung mengerti saat Irene sedang tidak
mood untuk berbicara. Kaisar selalu mampu membangkitkan semangat Irene, saat
Irene membutuhkan dukungan untuk bertanding dengan cara memotivasi Irene. Begitu juga dengan kompetensi komunikasi Irene yang selalu sopan saat berbicara dengan Kaisar. Ia sangat lancar berbicara membahas catur maupun memotivasi Kaisar sebelum bertanding, ia juga bisa mengerti saat Kaisar sedang kecewa atau kesal, sehingga selalu berusaha untuk mengalah. Dan ia juga berinisiatif untuk memotivasi terus-terusan di saat Kaisar ingin kembali bertanding catur setelah fokus pada pendidikan.
“Tante lebih sering lihat masnya yang suka nasehatin Irene. Karena masnya itu peduli sekali sama prestasi adik-adiknya. Irene kasi motivasi ke masnya seperti ngingetin masnya supaya karir caturnya terus meningkat lagi. Irene sama masnya itu sering analisa permainan setiap selesai bertanding. Kalau sebelum bertanding mereka persiapinnya selalu sama-sama yang tante tahu” (Wawancara
dengan Ibu, 28 Juni 2012).
Iya pasti itu. Irene itu semangatnya luar biasa kalau keluarganya ada di dekat dia saat bertanding, begitu juga Kaisar. Makanya saya pesan setiap mereka mau bertanding, pantau terus permainan masnya atau permainan adiknya supaya menambah semangat. Sebelum bertanding pun, mereka saya ajarkan untuk memotivasi satu sama lain” (Wawancara dengan Ayah, 02 Juli 2012).
Menurut peneliti, kompetensi komunikasi Kaisar dan Irene terbentuk dari pendidikan mental mereka sejak kecil dimana diajarkan untuk tidak ada persaingan melainkan harus saling mendukung satu sama lain. Terbukti selama peneliti melakukan observasi saat Kaisar dan Irene berbicara, mereka tidak pernah
mengucapkan kata-kata yang kasar dan saling menyakiti. Walaupun mereka memiliki karakter yang sama-sama tertutup, tetapi saat berkomunikasi justru mereka lebih bersifat memotivasi untuk meraih prestasi catur sebanyak-banyaknya. Hal ini juga bisa dilihat dari kebiasaan mereka hingga saat ini, sebelum berangkat bertanding selalu berdoa bersama secara kristiani dan selalu mencium pipi sebelum bertanding. Kaisar dan Irene tidak pernah, melewatkan kebiasaan-kebiasaan tersebut jika mengikuti pertandingan catur bersama. Ini juga sesuai seperti yang diungkapkan ibu mereka.
“Selama ini tante lihat si mereka saling mendukung, saling
kerjasama, gak ada rasa iri kalau ada salah satu yang prestasinya lebih menonjol. Karena mereka kalau ikut pertandingan, pasti berdoa sama-sama dulu” (Wawancara dengan Ibu, 28 Juni 2012).
Kebiasaan-kebiasaan tersebut sama seperti yang dikemukakan Vlad Rosca (2010), bahwa komunikasi interpersonal berperan sebagai kunci keberhasilan dalam dunia olahraga. (dalam jurnal internasional sport communication berjudul “The Coach-Athlete Communication Process. Towards A Better Human
Resources Management In Sport”).
Dari seluruh temuan data yang peneliti interpretasikan, sesuai dengan teori komunikasi interpersonal Pederson, Miloch, & Laucella, bahwa komunikasi yang mengalir secara dua arah dalam konteks olahraga. Kapanpun bila dua orang individu berkomunikasi dalam konteks olahraga, maka mereka terlibat dalam komunikasi interpersonal. Komunikatornya dapat seorang atlet, pelatih, sponsor, eksekutif dan para stakeholder lainnya. (dalam Elvina, Surjana, 2011, p. 15). Dalam penelitian ini, komunikasi interpersonal Kaisar dan Irene disebut sebagai komunikasi interpersonal di dunia olahraga, karena mereka berprofesi sebagai catur. Dan komunikasi mereka selalu terjadi melalui kebiasaan menyampaikan pesan verbal dan nonverbal untuk saling memotivasi meraih prestasi sebanyak-banyaknya dalam olahraga catur. Jika dalam olahraga lainnya, pelatih menjadi penentu keberhasilan atlet dengan memotivasi atlet tersebut, tetapi bagi Kaisar dan Irene justru mereka bisa berhasil meraih prestasi karena saling memotivasi satu sama lain. Sehingga bisa dikatakan komunikasi interpersonal
sesama atlet yang saling memotivasi juga menjadi kunci keberhasilan untuk berprestasi.