Perilaku prososial siswa (studi deskriptif pada siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta tahun ajaran 2018/2019 dan implikasinya terhadap penyusunan topik-topik bimbingan pribadi sosial - USD Repository

114 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PERILAKU PROSOSIAL SISWA

(Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019 dan Implikasinya terhadap

Penyusunan Topik-topik Bimbingan Pribadi Sosial)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Disusun oleh: Aprilia Dwi Ismail Tandi

151114015

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

i

PERILAKU PROSOSIAL SISWA

(Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019 dan Implikasinya terhadap

Penyusunan Topik-topik Bimbingan Pribadi Sosial)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Disusun oleh: Aprilia Dwi Ismail Tandi

151114015

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(3)
(4)
(5)

iv

HALAMAN MOTTO

“Today is the tomorrow you talked about yesterday”

(Woman blazing trails)

“Tetapi kepada kita masing-masing telah diberikan anugerah menurut ukuran pemberian Kristus”

(Efesus 4:7)

“Don’t you be afraid, for I am with you. Don’t be dismayed, for I am your God. I will strengthen you. Yes, I will help you. Yes, I will uphold you with the right hand

of my righteousness” (Isaiah 41:10)

“Yakinkan hatimu dan percaya bahwa mengandalkan Tuhan Yesus dalam setiap perjuangan akan membuat apa yang diyakini

tercapai”

(6)

v

HALAMAN PERSEMBAHAN

Kupersembahkan karya ini untuk, Tuhan Yesus Kristus,

Tuhan Yesus yang Senantiasa Mendahului Setiap Langkah Hidup ini. Orangtua yang kusayangi,

Bapak Johar Ismail Tandi dan Ibu Yelies Sumba Uppa yang selalu mendoakan dan atas cinta kasih yang sangat tulus.

Saudara yang kucintai,

Kakak Restianti Ismail Tandi yang selalu mendukung dan Adik Brayent Adli Uppa yang selalu menghibur.

(7)
(8)
(9)

viii ABSTRAK

PERILAKU PROSOSIAL SISWA

(Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019 dan Implikasinya terhadap Penyusunan

Topik-topik Bimbingan Pribadi Sosial) Aprilia Dwi Ismail Tandi

151114015

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan seberapa baik tingkat perilaku prososial siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta tahun ajaran 2018/2019 dan (2) Mengidentifikasi item-item pengukuran perilaku prososial yang capaian skornya rendah yang implikatif dijadikan dasar penyusunan topik bimbingan pribadi sosial.

Jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian dilaksanakan di SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta. Subjek penelitian adalah siswa kelas X dan diambil sampel sejumlah 216 siswa. Teknik Sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah simple random sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang akan mengungkap perilaku prososial siswa. Teknik analisis data menggunakan kategorisasi berdasarkan kriteria Azwar. Alternatif jawaban pada kuesioner yaitu: sangat sesuai, sesuai, tidak sesuai dan sangat tidak sesuai.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 68 siswa (32%) memiliki perilaku prososial yang sangat tinggi, sebanyak 130 siswa (60%) memiliki perilaku prososial yang tinggi, sebanyak 18 siswa (8%) memiliki perilaku prososial yang sedang, tidak ada siswa yang memiliki perilaku prososial yang rendah dan sangat rendah. Dari hasil perhitungan capaian skor item, terdapat 18 item (36%) yang capaian skornya sangat tinggi, terdapat 30 item (60%) yang capaian skornya tinggi, terdapat 2 item (2%) yang capaian skornya sedang, tidak terdapat item yang memiliki capaian skor rendah dan sangat rendah. Dari jumlah item yang capaian skornya sedang dan tinggi akan diambil masing-masing dua item untuk dijadikan usulan topik-topik bimbingan pribadi sosial untuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku prososial siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta tahun ajaran 2018/2019. Topik-topik bimbingan yang diusulkan yaitu, “Peduli Sesama Bagian dari Hidupku”, “Aku Senang Berbagi Cerita”, “Kebiasaan Menolong” dan “Pentingnya Membantu Sesama”.

(10)

ix ABSTRACT

THE STUDENTS’ PROSOCIAL BEHAVIOR

(Descriptive Study on Class X Students of SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Year 2018/2019 and Its Implications on Preparation of Social Personal

Guidance Topics)

Aprilia Dwi Ismail Tandi 151114015

Sanata Dharma University Yogyakarta

This study was aimed to: (1) Describe the level of students’ prosocial behavior of class X of SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Year 2018/2019 and (2) Identify items on prosocial behavior that have low scores that are implicative as the basis for the topic for personal guidance social.

The type of this research was quantitative descriptive research. The research was conducted at SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta. The research subjects were students of class X with sample subjects were 216 students. The sampling technique used in this study was simple random sampling. The research instrument was a questionnaire that would reveal students' prosocial behavior. The data analysis technique uses categorization based on the Azwar’s criteria. Alternative answer to the questionnaire is: very appropriate, appropriate, inappropriate and very inappropriate.

The results showed that 68 students (32%) had very high prosocial behavior, 130 students (60%) had high prosocial behavior, 18 students (8%) had moderate prosocial behavior, and no students had low and very low prosocial behavior. From the results of the item scores calculation, there are 18 items (36%) have very high scores, 30 items (60%) have high scores, and 2 items (2%) have moderate scores, there are no items that have low and very low score. From the items that have moderate and high scores, two items are taken as basis of proposed topics for personal social guidance to improve and maintain the prosocial behavior of class X of SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Year 2018/2019. The proposed guidance topics are, "Caring for Others is Part of My Life", "I Love Sharing Stories", "Helpful Habits" and "The Importance of Helping Others".

(11)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala penyertaan dan tuntunan-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi yang telah disusun ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan dari Program Studi Bimbingan dan Konseling. Skripsi ini dapat terselesaikan berkat adanya banyak pihak yang sangat membantu. Peneliti mengucapkan banyak terimakasih kepada:

1. Dr. Gendon Barus, M.Si selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah membantu memberikan dukungan, motivasi dalam penyusunan skripsi ini.

2. Prias Hayu Purbaning Tyas M.Pd selaku Dosen Pembimbing yang senantiasa membimbing, memotivasi, mendampingi dan mengingatkan peneliti dari awal proses penyusunan skripsi.

3. Juster Donal Sinaga, M.Pd selaku Wakil Ketua Program Studi Bimbingan

dan Konseling Universitas Sanata Dharma yang memberikan motivasi dalam proses penyusunan skripsi.

4. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling

Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan banyak ilmu dan motivasi kepada peneliti selama peneliti berproses di Universitas Sanata Dharma.

(12)

xi

dalam memberikan pelayanan kepada peneliti selama peneliti berada di Universitas Sanata Dharma.

6. Kepala Sekolah SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta yang telah menerima dan memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melaksanakan penelitian di SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta.

7. Pak Subiyanto, Ibu Budi, Pak Fahmi dan Ibu Dewi selaku guru BK SMK

Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta yang telah berkenan menerima dan memberikan kesempatan untuk melaksanakan penelitian pada jam masuk kelas.

8. Guru-guru dan staf tata usaha yang telah berkenan menerima peneliti untuk melaksanakan penelitian.

9. Siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta yang meluangkan waktu dan kesediaan menjadi responden untuk mengisi kuesioner dalam pengumpulan data.

10. Orangtua tercinta Bapak Johar Ismail Tandi dan Ibu Yelies Sumba Uppa yang senantiasa mendukung dan mendoakan peneliti dalam penyusunan skripsi.

11. Kakak dan adik tersayang Restianti Ismail Tandi dan Brayent Adli Uppa

(13)
(14)

xiii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... xi

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 6

C. Pembatasan Masalah ... 7

D. Rumusan Penelitian ... 7

E. Tujuan Penelitian ... 7

F. Manfaat Penelitian ... 7

G. Batasan Istilah ... 8

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 10

A. Perilaku Prososial... 10

1. Pengertian Perilaku Prososial ... 10

2. Aspek-aspek Perilaku Prososial ... 12

3. Karaketeristik Individu yang Memiliki Perilaku Prososial ... 13

4. Faktor-faktor yang Mendasari Perilaku Prososial ... 14

(15)

xiv

B. Remaja ... 17

1. Pengertian Remaja... 17

2. Remaja di Sekolah ... 17

3. Remaja di SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta ... 18

4. Ciri-ciri Remaja ... 19

5. Perkembangan Perilaku Prososial Remaja ... 22

C. Bimbingan Pribadi Sosial ... 24

1. Pengertian Bimbingan Pribadi Sosial ... 24

2. Tujuan Bimbingan Pribadi-Sosial ... 24

3. Unsur-unsur Bimbingan Pribadi Sosial ... 26

D. Kajian Penelitian yang Relevan ... 27

BAB III METODELOGI PENELITIAN ... 28

A. Jenis Penelitian... 28

B. Waktu dan Tempat Pengumpulan Data ... 29

C. Subjek Penelitian ... 29

D. Variabel Penelitian dan Defenisi Operasional ... 30

E. Teknik dan Instrumen Penelitian ... 31

1. Teknik Pengumpulan Data ... 31

2. Instrumen Pengumpulan Data ... 33

F. Uji Coba ... 35

G. Validitas dan Reliabilitas ... 37

1. Validitas ... 37

2. Reliabilitas ... 40

H. Teknik Analisis Data... 42

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 46

A. Hasil Penelitian ... 46

(16)

xv

Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG

Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019. ... 48

B. Pembahasan ... 51

BAB V PENUTUP ... 61

A. Kesimpulan ... 61

B. Keterbatasan Penelitian ... 62

C. Saran ... 62

DAFTAR PUSTAKA ... 64

(17)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Sampel Penelitian ... 30

Tabel 3.2 Pengukuran Skala Likert ... 31

Tabel 3.3 Kisi-kisi Kuesioner Perilaku Prososial Siswa Kelas X ... 34

Tabel 3.4 Jumlah Subjek Uji Coba ... 35

Tabel 3.5 Jumlah Item Gugur dan Valid ... 37

Tabel 3.6 Hasil Rekapitulasi Uji Validitas Kuesioner Perilaku Prososial ... 39

Tabel 3.7 Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian ... 41

Tabel 3.8 Kriteria Guilford ... 41

Tabel 3.9 Norma Kategorisasi Perilaku Prososial Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019 ... 43

Tabel 4.1 Kategorisasi Skor Subjek Perilaku Prososial Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019 ... 46

Tabel 4.2 Kategorisasi Perilaku Prososial Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019 ... 47

Tabel 4.3 Kategorisasi Skor Item Perilaku Prososial Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019 ... 49

Tabel 4.4 Kategorisasi Skor Item Tingkat Perilaku Prososial Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019 ... 49

Tabel 4.5 Rekapitulasi Item-item Pernyataan yang Tergolong dalam Kategorisasi Sedang dan Tinggi Tingkat Perilaku Prososial Siswa SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019 ... 56 Tabel 4.6 Usulan Topik-topik Bimbingan Pribadi Prososial untuk

(18)

xvii

Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto

(19)

xviii

DAFTAR GAMBAR

Diagram 4.1 Kategorisasi Perilaku Prososial Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun

(20)

xix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Kuesioner Penelitian ... 67 Lampiran 2: Kuesioner Penelitian Uji Coba ... 74 Lampiran 3: Hasil Perhitungan Validitas Instrumen Perilaku

(21)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai latar belakang masalah, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan batasan istilah.

A. Latar Belakang Masalah

Perilaku Prososial seringkali kita jumpai setiap hari dalam interaksi manusia. Tindakan apapun yang menguntungkan orang lain disebut sebagai perilaku prososial. Perilaku prososial juga dipengaruhi oleh beberapa tipe relasi antara manusia, baik itu karena suka, merasa berkewajiban, memiliki pamrih dan empati. Seseorang biasanya cenderung lebih sering membantu orang yang dikenal daripada membantu orang yang tidak dikenal atau biasa dikatakan orang asing. Meskipun demikian, memberi pertolongan kepada orang asing bukanlah hal yang jarang terjadi (Taylor, 2009).

(22)

Menurut Goranson dan Berkowitz (Taylor E Shelley 2009:457) norma tanggung jawab sosial menentukan bahwa seharusnya kita membantu orang lain yang bergantung pada kita. Aturan agama dan moral kebanyakan masyarakat menekankan wajib untuk menolong orang lain dan terkadang kewajiban ini ditulis dalam bentuk hukum. Sedangkan norma timbal balik menyatakan bahwa kita harus menolong orang yang menolong kita. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang lebih cenderung membantu seorang yang pernah membantu mereka.

Perspektif lain tentang perilaku prososial menekankan makna penting proses belajar. Dalam masa perkembangan, anak mempelajari norma masyarakat tentang tindakan menolong. Di rumah, di sekolah, dan di dalam masyarakat, orang dewasa mengajarkan pada anak bahwa mereka harus melakukan tindakan yang benar dan tidak merugikan orang lain. Beberapa penelitian memperlihatkan dengan jelas bahwa anak akan membantu dan memberi lebih banyak bila mereka mendapat ganjaran karena melakukan prososial. Peniruan juga merupakan penyebab kuat timbulnya perilaku prososial pada seseorang. Hal seperti itu banyak didapatkan dengan bersosialisasi dengan siapapun. Sederhananya perilaku prososial yang dimiliki tiap manusia diinternalisasikan dari berbagai aktivitas yang dilakukan setiap waktu.

(23)

tersebut bersifat menguntungkan dan menyokong kesejahteraan pihak lain. Tindakan tersebut dilakukan dengan maksud memberi keuntungan kepada orang lain tanpa memikirkan motif atau maksud pemberi pertolongan. Seseorang yang memiliki perilaku prososial akan memiliki aspek tersebut.

Pada era yang modern ini perilaku prososial sulit ditemui pada remaja, hal itu dapat terlihat dari kurangnya rasa empati terhadap permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat sekeliling. Fenomena yang terjadi dan muncul sehari-hari adalah remaja tidak peduli dengan keadaan sekitar melainkan hanya memikirkan diri sendiri. Contoh kongkrit yang peneliti temukan berdasarkan wawancara dengan beberapa siswa bahwa untuk mendapatkan suatu barang tertentu siswa lebih memilih untuk berbohong dengan alasan untuk uang saku dan lain sebagainya. Contoh lain adalah siswa tidak peduli dengan kesulitan yang dialami oleh teman yang memerlukan bantuan. Contoh lain yang juga terjadi di lapangan adalah siswa menertawakan teman yang terjatuh. Seseorang yang memiliki perilaku prososial seharusnya langsung memberi bantuan dan tidak menertawakan teman yang sedang mengalami kesulitan.

(24)

kerjasama yang baik karena siswa dituntut untuk disiplin. Siswa menampakkan kerjasama dengan sekolah dengan mengikuti tata tertib yaitu sudah hadir di sekolah sebelum kegiatan pagi akan dilaksanakan.

Meskipun demikian, peneliti juga menemukan sebagian siswa terlihat kurang dapat melakukan kerjasama apabila dinamika kelompok dimulai, baik itu kerjasama dengan teman kelompok untuk mencapai suatu tujuan dan juga dengan peneliti pada saat peneliti memimpin jalannya suatu dinamika kelompok. Kerjasama adalah salah satu aspek dari perilaku prososial, aspek kerjasama yakni kesediaan untuk melakukan suatu hal secara bersama-sama dengan orang lain untuk mencapai suatu tujuan, kerjasama biasanya saling memberi, saling menolong dan menyenangkan satu dengan yang lain.

(25)

meminta izin. Ketidakjujuran siswa juga banyak terungkap pada saat siswa dipanggil ke ruang BK karena banyaknya izin atau alpa di absen, dan terbukti siswa berbohong tidak hanya pada guru namun juga orang tua mereka. Pada saat peneliti menanyakan beberapa hal terkait perilaku tersebut kepada guru BK, guru BK mengatakan bahwa hal tersebut dipengaruhi oleh situasi di sekeliling mereka. Situasi yang dimaksud adalah pergaulan siswa sehari-hari siswa tumbuh dan berkembang di lingkungan sosial yang berbeda-beda maka dari itu perilaku prososial juga berbeda-beda. Fenomena lain yang sering terlihat adalah siswa menertawakan teman yang sedang menjalani hukuman sedangkan seseorang yang memiliki perilaku prososial seharusnya memberi suport kepada teman yang sedang menjalani hukuman agar tidak mengulangi kesalahannya dan tidak seharusnya menertawakan kesalahan teman karena hal itu bisa mempengaruhi psikologis teman yang sedang menjalani hukuman.

(26)

digunakan sebagai pengetahuan. Guru BK dapat membantu peserta didik merefleksikan banyak hal terkait perilaku perilaku prososial.

Berkaitan dengan semua yang telah dipaparkan, maka peneliti perlu melakukan penelitian mengenai perilaku prososial. Dengan mengungkap perilaku prososial diharapkan banyak orang dapat memahami latar belakang perilaku prososial sehingga menambah pengetahuan mengenai perilaku prososial. Atas dasar itu, maka dalam penelitian ini peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih mendalam tentang “PERILAKU PROSOSIAL SISWA KELAS X SMK PENERBANGAN AAG ADISUTJIPTO YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2018/2019.

B. Identifikasi Masalah

Berangkat dari latar belakang mengenai “Perilaku Prososial”, peneliti

menemukan beberapa masalah yang teridentifikasi sebagai berikut:

1. Sebagian siswa sulit melakukan kerjasama.

2. Sebagian siswa berbohong apabila meminta surat izin di ruang piket. 3. Sebagian siswa berbohong kepada orangtua dan bolos dari sekolah. 4. Sebagian siswa berbohong kepada guru piket.

5. Siswa menertawakan teman yang terjatuh.

6. Beberapa siswa menertawakan teman yang sedang menjalani

(27)

C. Pembatasan Masalah

Mengingat berbagai bentuk masalah yang muncul yang sudah dibahas di latar belakang, maka dalam penelitian ini fokus kajian diarahkan untuk menjawab tingkat perilaku prososial siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019.

D. Rumusan Masalah

1. Seberapa baik tingkat perilaku prososial siswa kelas X SMK Penerbangan

AAG Adisutjipto?

2. Topik bimbingan pribadi-sosial seperti apa yang akan diusulkan

berdasarkan item-item instrumen yang capaian skornya teridentifikasi rendah?

E. Tujuan Penelitian

1. Mendeskripsikan tingkat perilaku prososial siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto.

2. Mengidentifikasi item-item pengukuran perilaku prososial yang capaian skornya rendah yang implikatif dijadikan dasar penyusunan topik-topik bimbingan pribadi sosial.

F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

(28)

2. Manfaat Praktis

a. Bagi SMK Penerbangan AAG Adisutjipto

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan informasi kepada sekolah tentang perilaku prososial.

b. Bagi Kepala Sekolah dan Guru

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan informasi sehingga membantu kepala sekolah dan guru dalam memberikan bimbingan yang sesuai kepada siswa.

c. Bagi Universitas Sanata Dharma

Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi sumber informasi sehingga dapat menambah wawasan rekan-rekan mahasiswa mengenai perilaku prososial pada siswa kelas X.

G. Batasan Istilah

Batasan istilah dalam peneilitian ini adalah:

1. Perilaku prososial adalah segala tindakan yang dilakukan seseorang untuk menolong orang lain tanpa memikirkan motif atau maksud pemberi pertolongan. Perilaku prososial juga dapat didefinisikan sebagai segala tindakan yang menguntungkan orang lain dan menyokong kesejahteraan orang lain.

(29)
(30)

10 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Bab ini memaparkan tentang perilaku prososial, remaja dan bimbingan pribadi-sosial.

A. Perilaku Prososial

1. Pengertian Perilaku Prososial

Beberapa peneliti mengungkapkan definisi dari perilaku prososial. Salah satunya adalah Baron & Byrne (Arifin, 2015:272) yang menyimpulkan bahwa perilaku prososial meliputi segala tindakan yang menguntungkan orang lain. Secara umum, istilah ini diaplikasikan pada tindakan yang tidak menyediakan keuntungan langsung kepada orang yang melakukan tindakan tersebut, bahkan mungkin mengandung tingkat risiko tertentu bagi orang yang melakukan tidakan tersebut.

Skinner (Arifin, 2015:272) mendefinisikan perilaku sebagai respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus – Organisme –

Respon. Oleh karena itu perilaku prososial muncul karena adanya rangsangan, stimulus dan pengaruh dari luar individu.

(31)

luar, maka Dayakisni & Yuniardi (Arifin, 2015:272) mendefinisikan perilaku prososial sebagai kesediaan orang untuk membantu atau menolong orang lain yang ada dalam kondisi distres (menderita) atau mengalami kesulitan. Dengan demikian, stimulus atau rangsangan berupa kesulitan yang dialami seseorang maka penolong tergerak untuk membantu. Staub (Arifin, 2015:272) juga mendefinisikan perilaku prososial sebagai perilaku yang memiliki konsekuensi sosial positif secara fisik ataupun secara psikologis, dilakukan secara sukarela dan menguntungkan orang lain.

Dayaksini & Hudaniah (Arifin, 2015:273) menyimpulkan bahwa perilaku prososial sebagai bentuk memberikan konsekuensi positif bagi si penerima, baik dalam bentuk materi, fisik ataupun psikologis tetapi tidak memiliki keuntungan yang jelas bagi pemiliknya. Akan tetapi, Brigham (Dayaksni & Hudaniah, 2006) mengatakan bahwa perilaku prososial mempunyai maksud untuk menyokong kesejahteraan orang lain.

(32)

2. Aspek-aspek Perilaku Prososial

Eisenberg & Mussen (Asih & Pratiwi, 2010) mengungkapkan bahwa perilaku prososial mencakup tindakan-tindakan yang dikategorikan sebagai aspek perilaku prososial sebagai berikut:

a. Menolong (Helping), yaitu kesediaan memberikan bantuan atau pertolongan kepada orang lain yang sedang mengalami kesulitan, baik berupa moril maupun materil. Menolong meliputi membantu orang lain atau menawarkan sesuatu yang menunjang berlangsungnya kegiatan orang lain. Menolong juga membantu meringankan beban fisik maupun psikologis seseorang.

b. Berbagi (Sharing), yaitu kesediaan berbagi perasaan dengan orang lain dalam suasana suka dan duka, ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Berbagi yaitu saling bercerita tentang pengalaman hidup atau lebih tepatnya mencurahkan isi hati yang dialami atau juga diartikan memberikan kesempatan dan perhatian kepada orang lain untuk mencurahkan keinginan dan isi hatinya.

c. Kerjasama (Cooperating), yaitu kesediaan untuk bekerja sama dengan

orang lain demi tercapainya suatu tujuan. Kegiatan dilakukan bersama-sama berdasarkan kesepakatan untuk mencapai tujuan bersama. Kerjasama biasanaya saling menguntungkan, saling memberi, saling menolong dan menyenangkan.

d. Bertindak jujur (Honesty), yaitu kesediaan untuk melaukukan sesuatu

(33)

Bertindak jujur juga kesediaan untuk berkata, bersikap apa adanya dan menunjukkan keadaan yang tulus hati.

e. Berdema (Donating), yaitu kesedian untuk memberikan secara sukarela sebagian barang miliknya kepada orang yang membutuhkannya. Berderma adalah membantu dalam bentuk apapun dengan sukarela kepada orang yang membutuhkan. Berderma juga murah hati untuk beramal kepada orang lain.

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa, perilaku prososial adalah tindakan yang dilakukan seseorang meliputi menolong, berbagi, bekerjasama, bertindak jujur dan berderma.

3. Karakteristik Individu yang Menunjukkan Perilaku Prososial

Menurut Staub (Husein Fahmi, 2014) ada 3 (tiga) ciri atau karakteristik seseorang yang menunjukkan perilaku prososial, yaitu:

a. Tindakan tersebut berakhir pada dirinya dan tidak menuntut

keuntungan pada pihak pemberi bantuan. Tindakan prososial berarti tindakan yang dilakukan seseorang bukan karena ingin mendapatkan imbalan atau balasan namun dilakukan karena tulus ingin membantu orang lain.

b. Tindakan tersebut dilahirkan secara sukarela. Perilaku prososial murni

(34)

c. Tindakan tersebut menghasilkan kebaikan. Perilaku Prososial mengutamakan semua tindakan yang akan memberikan keuntungan bagi orang lain atau penerima pertolongan.

4. Faktor-faktor yang Mendasari Perilaku Prososial

Menurut Staub (Dayakisni & Hudaniah, 2009:159) terdapat beberapa faktor yang mendasari seseorang untuk prososial yaitu:

a. Keuntungan Diri (Self-Gain)

Harapan seseorang untuk memperoleh atau menghindari kehilangan sesuatu, misalnya ingin mendapatkan pengakuan, pujian atau takut dikucilkan.

b. Nilai-nilai dan Norma-norma Pribadi (Personal Values and Norms) Adanya nilai-nilai dan norma sosial yang diinternalisasikan oleh individu selama mengalami sosialisasi dan sebagian nilai-nilai serta norma tersebut berkaitan dengan tindakan prososial, seperti berkewajiban menegakkan kebenaran dan keadilan serta adanya norma timbal balik.

c. Empati (Empathy)

(35)

Berdasarkan penjelasan mengenai faktor yang mendasari perilaku prososial, maka disimpulkan bahwa ada tiga faktor yaitu (1) Keuntungan diri (Self Gain) yaitu suatu harapan seseorang untuk memperoleh sesuatu, (2) Nilai-nilai dan norma-norma pribadi (Personal Values and Norms) yaitu sebuah nilai-nilai atau norma yang dipatuhi seseorang yang berkaitan dengan tindakan prososial (3) Empathy yaitu kemampuan seseorang untuk merasakan suatu hal yang dirasakan orang lain.

5. Upaya untuk Meningkatkan Perilaku Prososial

Adapun beberapa cara untuk meningkatkan perilaku prososial menurut Brigham (Dayakisni & Hudaniah, 2009:189) yaitu:

a. Penayangan Model Perilaku Prososial

(36)

b. Menciptakan Suatu Superordinanate Identity

Pandangan bahwa setiap orang adalah bagian dari keluarga manusia secara keseluruhan. Dalam beberapa penelitian ditunjukkan bahwa menciptakan superordinate identity dapat mengurangi konflik dan meningkatkan perilaku prososial dalam kelompok besar serta meningkatkan kemampuan empati diantara anggota kelompok tersebut. Jadi setiap orang merupakan bagian dari kelompok manusia secara keseluruhan adalah hal penting yang perlu dilakukan. Manakala seseorang merasa menjadi bagian dari suatu kelompok yang lebih besar, ia akan berusaha tetap berada di kelompok tersebut dan akan melakukan perbuatan yang menuntun ia dapat diterima oleh anggota kelompok yang lain, salah satu cara adalah senantiasa berbuat baik untuk orang lain. Seseorang akan menghindarkan diri dari perbuatan yang tidak disenangi oleh kelompoknya, sehingga kondisi ini akan memberikan dorongan untuk senantiasa berbuat baik untuk orang lain.

c. Menekankan Perhatian Terhadap Norma-Norma Prososial

(37)

B. Remaja

1. Pengertian Remaja

Menurut Latifah (Sarwono, Sarlito W, 2016:17) beberapa penulis Indonesia berpendapat bahwa remaja adalah seseorang yang dalam masa transisi dari masa anak ke dewasa, yang ditandai dengan perkembangan biologis, psikologis, moral, agama, kognitif dan sosial. Di kalangan pakar psikologis perkembangan (termasuk di Indonesia), yang banyak dianut adalah pendapat Hurlock (Sarwono, Sarlito W, 2016:17) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 tahun atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun).

Berdasarkan definisi ahli mengenai remaja, dapat disimpulkan bahwa masa remaja adalah suatu transisi untuk menemukan jati diri. Masa remaja dibagi menjadi remaja awal dan masa remaja akhir.

2. Remaja di Sekolah

(38)

sekolah. Tidak mengherankan kalau pengaruh sekolah terhadap perkembangan jiwa remaja cukup besar.

3. Remaja di SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta

(39)

juga mendapat pengaruh besar terkait perilaku prososial di luar lingkungan sekolah. Terkait dengan hal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa perilaku prososial seperti menolong (Helping), berbagi (Sharing), kerjasama (Cooperating), bertindak jujur (Honesty), dan berderma (Donating) terbentuk karena adanya pengaruh besar dari lingkungan sekitar terhadap siswa.

4. Ciri-ciri Remaja

Hurlock (1980: 207-210) berpendapat bahwa masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu selama rentan kehidupan. Masa remaja memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a. Masa remaja sebagai periode yang penting

Perkembangan fisik yang cepat dan penting disertai dengan cepatnya perkembangan mental yang cepat terutama pada masa remaja awal. Perkembangan ini menimbulkan penyesuaian mental dan perlunya membentuk sikap, nilai dan minat baru. b. Masa remaja sebagai periode peralihan

(40)

ini, remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan orang dewasa.

c. Masa remaja sebagai periode perubahan

Selama awal masa remaja, ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat, perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung secara pesat. Empat perubahan yang terjadi pada masa remaja antara lain:

1) Meningginya emosi yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikologis yang terjadi. 2) Perubahan tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh

masyarakat menimbulkan masalah baru.

3) Berubahnya minat pada pola perilaku mengakibatkan

nilai-nilai juga berubah.

4) Sebagian besar remaja bersikap ambivalen terhadap

setiap perubahan. Mereka mengingkan dan menuntut kebebasan tetapi mereka sering takut bertanggung jawab akan akibatnya.

d. Masa remaja sebagai usia bermasalah

Masalah pada masa remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi. Terdapat dua alasan tehadap kesulitan yang terjadi, yaitu:

(41)

kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah.

2) Para remaja merasa mandiri, sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri, menolak bantuan orang tua dan guru.

3) Masa remaja sebagai masa mencari identitas. Penyesuaian diri pada masa remaja dilakukan dengan standar kelompok adalah jauh lebih penting daripada individualitas. Seperti dalam hal pakaian, berbicara dan perilaku anak yang lebih besar ingin lebih cepat seperti teman-temannya. Mereka mulai menunjukkan siapa dirinya kepada masyarakat.

e. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan

Adanya keyakinan bahwa dewasa mempunyai pandangan yang buruk tentang remaja, membuat pertumbuhan masa dewasa menjadi sulit. Hal ini mengakibatkan adanya jarak antara orang tua dan anak yang menghalangi anak untuk meminta bantuan orang tua untuk mengatasi masalahnya.

f. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik

(42)

remaja memandang dirinya sendiri, keluarga, teman-teman, dan kehidupannya pada umumnya secara realistik. Bila telah mencapai usia dewasa ia merasa bahwa masa remaja lebih bahagia daripada masa dewasa, bersama dengan tuntutan dan tanggung jawabnya.

g. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa

Semakin mendekati usia yang matang, remaja semakin gelisah untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan di masa remaja. Berdasarkan paparan di atas mengenai ciri-ciri pada remaja maka dapat ditarik kesimpulan bahwa remaja sangat perlu melakukan penyesuaian diri di masyarakat. Penyesuaian diri perlu didukung dengan pertumbuhan fisik dan perkembangan emosional.

5. Perkembangan Perilaku Prososial Remaja

Peralihan pada masa remaja melibatkan perubahan besar dalam aspek fisik, kognitif, dan psikososial yang berkaitan satu dengan yang lain. Pada masa transisi, remaja mengalami pertumbuhan secara fisik serta menunjukkan perkembangan kognitif yang sangat pesat. Menurut Sa’id (Elisa & Yohanes 2016) remaja memiliki kecenderungan yang

kuat untuk berkelompok dan suka bergabung dengan kelompok remaja lainnya.

(43)

kecenderungan tumbuhnya kesadaran bahwa norma-norma yang ada dalam masyarakat perlu dijadikan acuan dalam hidupnya. Hal ini berhubungan dengan perilaku prososial karena pada usia remaja, remaja sudah tahu tindakan-tindakan meliputi menolong, bekerjasama, bertindak jujur, dan berderma.

Menurut Santrock (Elisa & Yohanes 2016) perilaku positif yang mendukung pertumbuhan diri remaja, misalnya dengan remaja memiliki tingkah laku sosial yang bertanggung jawab. Salah satu perilaku positif di lingkungan sosial yang bertanggung jawab, serta perlu dikembangkan pada masa remaja yaitu perilaku prososial. Remaja perlu untuk mengeksplorasi sisi positif dari perilaku moral seperti perilaku prososial. Meskipun remaja sering kali dinyatakan sebagai sosok yang egosentrik dan memikirkan diri sendiri, remaja juga banyak menampilkan tindakan yang bersifat tanpa pamrih.

(44)

cenderung menunjukkan perilaku yang kurang dapat diterima di norma-norma masyarakat misalnya melakukan perilaku antisosial. Ali & Asrori (Elisa & Yohanes 2016) mengatakan bahwa dewasa ini tidak sedikit remaja yang melakukan perilaku antisosial karena tugas-tugas perkembangan di masa remaja kurang berkembang dengan baik.

C. Bimbingan Pribadi-Sosial

1. Pengertian Bimbingan Pribadi-Sosial

Menurut Winkel & Sri Hastuti (2004:118), bimbingan Pribadi-sosial berarti bimbingan dalam menghadapi keadaan batinnya sendiri dan mengatasi berbagai pergumulan dalam batinnya sendiri salah satunya adalah bimbingan dalam membina hubungan kemanusiaan dengan sesama di berbagai lingkungan (pergaulan sosial). Siswa remaja berhadapan dengan aku-nya yang lain daripada sebelumnya, misalnya timbul beberapa keinginan serta perasaan yang silih berganti dari yang sangat sedih ke sangat gembira; ingin membangun cita-cita, tetapi tidak tahu bagaimana caranya. Bagi mereka pergaulan dengan anggota keluarga dapat menjadi problem; demikian pula pergaulan dengan teman lain jenis.

2. Tujuan Bimbingan Pribadi-Sosial

Syamsu dan Juntika (2006:14) berpendapat bahwa tujuan dari bimbingan pribadi sosial sebagai berikut:

a. Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai

(45)

keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, sekolah, tempat kerja maupun masyarakat pada umumnya.

b. Memiliki sikap toleran terhadap umat beragama lain dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing.

c. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah), serta mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut.

d. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif, baik yang berkaitan dengan kelebihan maupun kelemahan, baik fisik maupun psikis.

e. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain.

f. Memiliki kemampuan melakukan pilihan secara sehat.

g. Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai orang lain, tidak melecehkan martabat atau harga dirinya.

h. Memiliki rasa tanggung jawab yang diwujudkan dalam bentuk

komitmen terhadap tugas atau kewajibannya.

(46)

j. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain. k. Memiliki kemampuan dalam mengambil keputusan secara efektif.

3. Unsur-unsur Bimbingan Pribadi-Sosial

Bimbingan pribadi-sosial yang diberikan di jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi sebagian disalurkan melalui bimbingan kelompok dan sebagian lagi melalui bimbingan individual, serta mengandung unsur-unsur sebagai berikut;

a. Informasi tentang fase atau tahap perkembangan yang sedang dilalui oleh siswa remaja, anatara lain tentang konflik batin yang dapat timbul dan tentang tata cara bergaul yang baik.

b. Penyadaran akan keadaan masyarakat dewasa ini, yang semakin

berkembang ke arah masyarakat modern, antara lain apa ciri-ciri kehidupan modern, dan makna ilmu pengetahuan serta teknologi bagi kehidupan manusia.

c. Pengaturan diskusi kelompok mengenai kesulitan yang dialami oleh kebanyakan siswa. Diskusi kelompok ini dapat mendorong siswa untuk menghadapi ahli bimbingan, guna membicarakan suatu masalah secara pribadi dalam wawancara konseling.

d. Pengumpulan data yang relevan untuk mengenal kepribadian siswa, “misalnya sifat-sifat kepribadian yang tampak dalam tingkah laku,

(47)

D. Kajian Penelitian yang Relevan

Rafles, Febiola Yulientin (2018) telah melakukan penelitian mengenai tingkat perilaku prososial pada mahasiswa yang melakukan slacktivism. Metode analisis menggunakan kuantitatif deskriptif dan subjek dalam penelitian ini sebanyak 174 mahasiswa yang terdiri dari 47 subjek laki-laki dan 127 subjek perempuan yang merupakan mahasiswa yang tersebar dari angkatan 2013 sampai 2017. Alat pengumpulan data menggunakan skala perilaku prososial dengan bentuk skala Likert yang disusun oleh peneliti. Hasil penelitian yang diperoleh adalah mahasiswa yang melakukan slacktivism cenderung memiliki perilaku prososial yang sedang atau cukup. Letak relevansinya adalah pada variabel yang akan diukur yaitu perilaku prososial, penelitian ini mengukur tingkat perilaku prososial.

(48)

28 BAB III

METODELOGI PENELITIAN

Bab ini berisi uraian tentang jenis atau desain penelitian, waktu dan tempat pengumpulan data penelitian, subjek penelitian, variabel penelitian dan definisi operasional, teknik dan instrumen penelitian, uji coba, validitas dan reliabilitas, serta teknik analisis data.

A. Jenis Penelitian

(49)

B. Waktu dan Tempat Pengumpulan Data

Pengambilan data dalam penelitian ini dilaksanakan pada bulan November tahun ajaran 2018/2019 pada tanggal 27 November 2018. Tempat penelitian dilaksanakan di SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta.

C. Subjek Penelitian

Subjek Penelitian ini adalah siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta dengan mengambil beberapa siswa untuk menjadi subjek atau biasa disebut sampel, teknik yang dilakukan adalah teknik simple random sampling dengan cara undian. Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta terdiri dari 15 kelas dengan jumlah keseluruhan siswa 540. Pada penelitian ini diambil 216 siswa yang menjadi sampel dari keseluruhan siswa kelas X. Siswa-siswa yang menjadi sampel tersebut diperoleh secara acak dari tujuh kelas X dari 15 kelas yang ada.

(50)

Tabel 3.1 Sampel Penelitian

No. Kelas Jumlah

1 X.8 33

2 X.2 29

3 X.14 30

4 X.12 32

5 X.11 31

6 X.1 30

7 X.3 31

Total 216

D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

Menurut Sugiyono (2015:60) variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Menurut Hatch dan Farhady (Sugiyono, 2015:60) secara teoritis variabel merupakan atribut seseorang, atau obyek yang mempunyai “variasi” antara satu orang dengan yang lain atau obyek dengan obyek yang

lain.

(51)

E. Teknik dan Instrumen Penelitian

1. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner. Menurut Sugiyono (2015:61) kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab.

Pada penelitian ini, skala pengukuran kuesioer yang digunakan ialah skala Likert. Skala Likert terdiri dari pilihan jawaban sangat sesuai (SS), sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), dan sangat tidak sesuai (STS). Peneliti meniadakan pilihan jawaban netral (N) untuk menghindari adanya kecenderungan jawaban ditengah (central tendency effect). Berikut adalah tabel skor pengukuran skala Likert berdasarkan pernyataan favorable dan unfavorable.

Tabel 3.2

Pengukuran Skala Likert

Alternatif Jawaban Skor

Favorable Unfavorable

Sangat Sesuai (SS) 4 1

Sesuai (S) 3 2

Tidak Sesuai (TS) 2 3

Sangat Tidak Sesuai (STS) 1 4

Kuesioner pada penelitian ini terdiri dari 50 item pernyataan, yaitu 26 item favourable dan 24 item unfavourable.

(52)

a. Menyusun kisi-kisi instrumen. Dalam kisi-kisi ini termuat aspek-aspek perilaku prososial yang diukur dengan indikatornya masing-masing.

b. Menyusun item pernyataan kuesioner berdasarkan indikator dari

aspek-aspek yang diukur. Item pernyataan tersebut dibagi menjadi dua bentuk, yaitu favourable dan unfavourable. Skala pengukuran kuesioner yang digunakan adalah skala Likert.

c. Mengkonsultasikan item kuesioner kepada dosen pembimbing dan merevisi item, baik dari bahasa yang digunakan maupun kesesuaiannya dengan aspek yang ingin diukur.

d. Melakukan uji coba validitas dengan mengambil satu kelas untuk diuji yaitu kelas X.5 SMK Penerbangan AAG Adisutjipto dengan jumlah 34 siswa.

e. Mengolah data hasil uji coba dan menguji dengan menggunakan

IBM SPSS Statistics 20.

f. Mengkonsultasikan item yang valid kepada dosen pembimbing. g. Menyebar kuesioner pada siswa kelas X SMK Penerbangan AAG

Adisutjipto sebanyak tujuh kelas.

h. Hasil jawaban siswa pada kuesioner ditabulasi dan dilakukan

analisis butir item melalui perhitungan daya diskriminasi item atau daya beda, selanjutnya menghitung reliabilitas instrumen.

(53)

2. Instrumen Pengumpulan Data

(54)

Tabel 3.3

Kisi-kisi Kuesioner Perilaku Prososial siswa kelas X No

.

Aspek Indikator No. Butir Jumlah

Item

b. Siswa berlaku murah hati untuk beramal.

64, 63, 70, 67

44, 40, 59, 58 8

(55)

Skoring dilakukan dengan menjumlahkan jawaban responden pada masing-masing item. Semakin tinggi jumlah skor yang diperoleh, maka semakin tinggi pula perilaku prososial dan sebaliknya apabila semakin rendah jumlah skor yang diperoleh maka semakin rendah pula perilaku prososial siswa.

F. Uji Coba

Sebelum kuesioner digunakan untuk penelitian, kuesioner perilaku prososial diuji cobakan kepada para siswa. Uji coba kuesioner perilaku prososial yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas dari alat ukur yang sudah disusun.

Uji coba dilaksanakan pada hari Kamis, 22 November 2018 dengan subjek siswa kelas X.5 SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta tahun ajaran 2018/2019. Jumlah siswa yang mengikuti uji coba terlihat pada tabel berikut:

Tabel 3.4

Jumlah Subjek Uji Coba Kelas Jumlah Siswa

X.5 34

Berikut langkah-langkah uji coba yang dilakukan:

(56)

2. Peneliti mengurus surat ijin penelitian ke SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta.

3. Peneliti melaksanakan uji coba pada hari Kamis, 22 November 2018 kepada siswa kelas X.5.

4. Setelah para siswa/i selesai mengisi kuesioner Perilaku Prososial, peneliti mengumpulkan kembali kuesioner yang telah diisi oleh para siswa/i.

Waktu yang dibutuhkan dalam mengisi kuesioner Perilaku Prososial kurang lebih 20 menit, dengan jumlah kuesioner yang diuji cobakan sebanyak 80 butir pernyataan.

Metode yang digunakan untuk menganalisis validitas butir instrumen adalah metode korelasi dengan teknik Pearson product moment yang sama pada teknik analisis perhitungan uji validitas dan reliabilitas pada item-item yang digunakan untuk penelitian. Nilai koefisien validitas 0,30 dan apabila terdapat item yang memiliki nilai koefisien validitas dibawah 0,30 maka item tersebut dinyatakan konsistensi internalnya tidak kuat dan tidak digunakan sebagai item instrumen penelitian.

(57)

Tabel 3.5

Jumlah Item Gugur dan Valid

No. Item Nomor Item Jumlah

1. Item Tidak Valid

2, 34, 4, 79, 1, 72, 39, 57, 13, 20, 75, 15, 7, 12, 54, 43, 56, 21, 74, 9, 52, 26, 19, 45, 18, 29, 68, 36, 14, 33

30

2. Item Valid 17, 46, 53, 27, 50, 11, 42, 73, 65, 6, 66, 22, 77, 10, 60, 80, 24, 8, 55, 25, 31, 3, 23, 51, 28, 48, 78, 61, 5, 37, 30, 16, 32, 47, 38, 69, 41, 35, 76, 62, 71, 49, 64, 63, 70, 67, 44, 40, 59, 58

50

Total 80

Nilai reliabilitas dari 80 item yang diuji cobakan adalah 0, 743 yang termasuk dalam kriteria tinggi dan dapat dilihat dari kriteria Guilford.

H. Validitas dan Reliabilitas Instrumen

1. Validitas

Instrumen dalam penelitian ini harus valid dan reliabel. Menurut Sugiyono (2015:172) hasil penelitian yang valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti.

(58)

Penghitungan uji validitas penelitian ini dilakukan dengan cara menghitung korelasi antara masing-masing skor item pernyataan dengan skor total. Rumus yang digunakan adalah rumus korelasi Pearson product moment dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics 20. Rumus korelasi Pearson product moment adalah sebagai berikut:

Keterangan:

R: Korelasi produk momen X: Nilai setiap butir

Y: Nilai dari jumlah butir N: Jumlah responden

(59)

Tabel 3.6

Hasil Rekapitulasi Uji Validitas Kuesioner Perilaku Prososial

(60)

5. Berdema

Menurut Sugiyono (2015:172) hasil penelitian yang reliabel apabila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda. Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Instrumen yang reliabel adalah adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama.

Perhitungan indeks reliabilitas kuesioner penelitian ini menggunakan pendekatan koefision Alpha Cronbach yaitu (α)

(61)

Dalam penelitian ini, uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan IBM SPSS Statistic 20. Dari hasil perhitungan didapatkan skor sebagai berikut:

Tabel 3.7

Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

,889 50

Hasil perhitungan reliabilitas dikonfirmasi dengan menggunakan kriteria Guilford. Kriteria Guilford dapat dilihat pada tabel 3.8berikut.

Tabel 3.8 Kriteria Guilford

No Koefisiensi Korelasi Kualifikasi 1. 0,91 – 1,00 Sangat Tinggi

2. 0,71 - 0,90 Tinggi

3. 0,41 - 0,70 Cukup

4. 0,21 - 0,40 Rendah

5. <0,20 Sangat Rendah

(62)

Alpha sebesar 0, 889 termasuk dalam kriteria tinggi. Artinya kuesioner ini dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data.

H. Teknik Analisis Data

(63)

Tabel 3.9

Norma Kategorisasi Perilaku Prososial Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019

Berdasarkan tabel diatas maka selanjutnya yang dilakukan adalah menentukan norma atau patokan yang akan digunakan dengan mencari X maksimum teoritik, X minimum teoritik, standar deviasi, dan mean teoritik. Untuk menggolongkan perilaku prososial siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta maka digunakan perhitungan sebagai berikut :

X maksimum teoritik :Skor tertinggi yang mungkin diperoleh subjek penelitian dalam skala.

X minimum teoritik :Skor terendah yang mungkin diperoleh subjek peneliti dalam skala.

(standar deviasi) :Luas jarak rentang yang dibagi dalam 6 satuan deviasi standar.

(mean teoritik) :Rata-rata teoritis dari skor maksimum dan minimum.

Setelah peneliti mengelompokkan perilaku prososial siswa, peneliti juga mengelompokkan skor item yang diperoleh dari angket yang telah diisi subjek. Langkah ini dilakukan untuk dapat mengetahui item mana saja yang

No Norma Kategori

1 µ+1,5 (σ) < X Sangat Tinggi

(64)

menunjukkan perilaku prososial yang tinggi. Pengelompokan skor item adalah sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah. Berikut perhitungannya sebagai berikut:

X item maksimum teoritik :Skor tertinggi yang mungkin dicapai item skala.

X item minimum teoritik :Skor terendah yang mungkin dicapai item skala.

(standar deviasi) :Luas jarak rentang yang dibagi dalam 6 satuan deviasi standar.

(mean teoritik) :Rata-rata teoritis dari skor maksimum dan minimum.

Hasil data angket dianalisis dengan menggunakan norma kategorisasi yang telah diuraikan di atas.

Kategori diterapkan sebagai patokan dalam pengelompokan tinggi rendah perilaku prososial dengan jumlah item valid yaitu 50 item. Diperoleh unsur perhitungan capaian skor subjek sebagai berikut :

Skor Maksimum Teoritik : 4 x 50 = 200

Skor Minimum Teoritik : 1 x 50 = 50

(65)

Perhitungan capaian skor item perilaku prososial siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta tahun ajaran 2018/2019 yang berjumlah 216 dapat dilihat sebagai berikut:

Skor maksimum teoritik : 4 x 216 = 864

Skor minimum teoritik : 1 x 216 = 216

(66)

46 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini diuraikan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian perilaku prososial siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta tahun ajaran 2018/2019.

A. Hasil Penelitian

Hasil Penelitian ini akan menjawab rumusan masalah penelitian mengenai: 1. Seberapa Baik Tingkat Perilaku Prososial Siswa kelas X SMK

Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019.

Setelah melihat hasil perhitungan pada bab III, kategorisasi skor subjek dapat dilihat pada tabel 4.1

Tabel 4.1

Kategorisasi Skor Subjek Perilaku Prososial Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019

No. Norma

Interval Skor Subjek

Keterangan

1 µ+1,5 (σ) < X 164-200 Sangat Tinggi

2 ( ) ( ) 139-163 Tinggi 3 ( ) ( ) 114-138 Sedang 4 ( ) ( ) 89-113 Rendah 5 ( ) 50-88 Sangat Rendah

(67)

siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta tahun ajaran 2018/2019 pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.2

Kategorisasi Skor Perilaku Prososial Siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019

Kategori Interval

Berdasarkan tabel 4.2 di atas dapat dilihat bahwa:

a. Terdapat 68 atau 32% siswa yang memiliki perilaku prososial yang sangat tinggi. Hal ini berarti siswa sudah menerapkan perilaku prososial dengan sangat baik dalam kehidupan sehari-hari.

b. Terdapat 130 atau 60% siswa yang memiliki perilaku prososial yang tinggi. Hal ini berarti siswa sudah menerapkan perilaku prososial dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.

c. Terdapat 18 atau 8% siswa yang memiliki perilaku prososial yang sedang. Hal ini berarti siswa sudah menerapkan perilaku prososial dengan cukup dalam kehidupan sehari-hari.

d. Tidak ada siswa yang memiliki perilaku prososial yang rendah.

(68)

Perilaku prososial siswa yang sangat tinggi (68 siswa) dan perilaku prososial siswa yang tinggi (130 siswa) digabungkan dan peneliti tafsirkan sebagai tinggi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perilaku prososial sebagian besar siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta tinggi.

Kategorisasi perilaku prososial siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta tahun ajaran 2018/2019 dapat dilihat pada diagram 4.1

Diagram 4.1

Kategorisasi Perilaku Prososial Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019

2. Hasil Skor Item Perilaku Prososial Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019

Setelah melihat hasil perhitungan pada bab III, pengelompokan skor item dapat dilihat pada tabel 4.3

Sangat Tnggi

32%

Tinggi 60% Sedang

(69)

Tabel 4.3

Kategorisasi Skor Item Perilaku Prososial Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019

No. Norma Interval Skor

Berikut hasil pengkategorisasian item-item yang dapat dilihat pada tabel 4.4

Tabel 4.4

Kategorisasi Item Tingkat Perilaku Prososial Siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019

Kategori Interval Skor Item

Berdasarkan tabel 4.2 di atas dapat dilihat bahwa:

a. Terdapat 18 item atau 36% yang memiliki skor sangat tinggi yaitu nomor

(70)

b. Terdapat 30 item atau 60% yang memiliki skor tinggi yaitu nomor 1, 2, 3, 4, 5, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 16, 17, 18, 19, 24, 25, 28, 30, 36, 37, 38, 39, 40, 44, 45, 46, 48, 50. Hal ini berarti tingkat perilaku prososial yang tergambar pada item-item tersebut sudah baik. Meskipun demikian, topik-topik bimbingan pribadi sosial untuk memelihara dan mempertahankan perilaku prososial siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta tahun ajaran 2018/2019 diusulkan berdasarkan beberapa item yang capaian skornya paling tinggi pada kategori tinggi.

c. Terdapat 2 atau 4% item yang memiliki skor sedang yaitu nomor 6 dan 35.

Hal ini berarti tingkat perilaku prososial siswa pada item-item tersebut kurang. Dengan demikian, topik-topik bimbingan pribadi sosial untuk meningkatkan perilaku prososial siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta tahun ajaran 2018/2019 diusulkan berdasarkan item-item tersebut.

d. Tidak terdapat item yang memiliki skor rendah. Hal ini berarti tidak ada topik-topik bimbingan pribadi sosial untuk meningkatkan perilaku prososial siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta tahun ajaran 2018/2019 yang dapat diusulkan.

e. Tidak terdapat item yang memiliki skor sangat rendah. Hal ini berarti tidak

(71)

B. Pembahasan

1. Deskripsi Perilaku Prososial Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti di SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta sebagian besar siswa kelas X sudah memiliki perilaku prososial yang rata-rata tergolong tinggi. Dari data tersebut menunjukkan bahwa siswa memiliki perilaku prososial yang baik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 68 (32%) subjek memiliki perilaku prososial yang sangat tinggi, 130 (60%) subjek memiliki perilaku prososial yang tinggi, 18 (8%) subjek memiliki perilaku prososial yang sedang dan tidak ada subjek yang memiliki perilaku prososial yang rendah atau sangat rendah. Peneliti menyimpulkan bahwa perilaku prososial siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta adalah tinggi atau positif (baik).

(72)

kuesioner dan tidak melakukan wawancara lebih dalam kepada siswa. Kemungkinan lain adalah siswa mengisi angket kurang sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Siswa cenderung ingin terlihat baik. Meskipun demikian, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa masih ada beberapa siswa yang masuk pada kategori sedang.

(73)

siswa sebagai remaja awal sudah mengetahui baik buruknya suatu tindakan yang akan siswa internalisasikan.

Menurut peneliti pengaruh usia juga dapat mempengaruhi siswa dalam melakukan perilaku prososial karena siswa yang menjadi responden adalah remaja yang berumur 15 tahun keatas dimana usia tersebut masuk pada kategori remaja awal. Menurut Hurlock (1980:207-210) remaja awal memiliki ciri-ciri yakni salah satunya mengalami perubahan perilaku dan sikap yang berlangsung sangat pesat. Artinya siswa yang memiliki perilaku prososial yang tinggi maupun sedang berarti mengalami perubahan dalam dirinya dan hal itu wajar pada usia remaja awal.

(74)

mulai bersosialisasi dengan sekolah. Perilaku prososial lebih banyak dilakukan di masa remaja dibandingkan pada masa kanak-kanak, jadi semakin bertambahnya usia maka membuat siswa semakin memahami atau menerima norma-norma sosial. Menurut Peterson (Elisa & Yahones, 2016) semakin bertambahnya usia maka akan membuat individu dapat menjadi lebih empati, dapat memahami nilai, dan menemukan makna dari setiap perilaku prososial yang ditunjukan. Salah satu nilai yang dipahami siswa yang menonjol adalah nilai agama dimana siswa setiap pagi, siang dan sore melakukan sholat di sekolah, hal ini berkaitan dengan aspek berderma (donating).

(75)

Meskipun demikian masih ada 18 siswa yang memiliki perilaku prososial yang sedang. Terkait dengan upaya untuk meningkatkan perilaku prososial menurut Bringham (Dayaksini & Hudaniah, 2009: 189) kemungkinan siswa memiliki perilaku prososial yang sedang karena siswa kurang menekankan perhatian terhadap norma-norma prososial, siswa yang tidak ditekankan perhatian terhadap norma-norma prososial bisa memunculkan perilaku antisosial atau tidak peduli dengan lingkungan. Kemungkinan yang kedua adalah siswa sudah ditekankan mengenai perhatian terhadap norma-norma prososial namun siswa siswa sulit merealisasikan dalam kehidupan sehari karena dipicu oleh faktor lingkungan.

2. Usulan Topik-topik Bimbingan Pribadi Sosial yang Sesuai untuk Mengembangkan dan Memelihara Perilaku Prososial Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019.

(76)

memelihara perilaku prososial siswa, hal ini sangat penting dilakukan karena perilaku prososial siswa tidak hanya perlu ditingkatkan namun beberapa item yang sudah masuk kategori tinggi juga sangat perlu dipertahankan atau dipelihara agar perilaku prososial siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019 semakin baik.

Tabel 4.5

Rekapitulasi Item-item Pernyataan yang Tergolong dalam Kategori Sedang dan Tinggi Tingkat Perilaku Prososial Siswa Kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019 No. No

Item

Aspek Indikator Pernyataan Skor

(77)

Item yang termasuk dalam kategori sedang adalah yang pertama yaitu “Saya menertawakan teman saya yang terjatuh.” Item ini termasuk

dalam kategori sedang dan dapat diindikasikan bahwa siswa belum bisa memberikan pertolongan kepada orang lain yang mengalami kesulitan dan hal ini berkaitan dengan aspek menolong (helping).

Item yang kedua, yaitu “Saya senang menceritakan pengalaman menyenangkan kepada guru.” Item ini juga masuk kedalam kategori

sedang dan peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa beberapa siswa belum bisa terbuka untuk menceritakan suatu hal yang menyenangkan. Item ini berkaitan dengan aspek berbagi (sharing). Seperti yang sudah dijelaskan pada bab II bahwa aspek berbagi menurut Einsen & Mussen (Asih & Pratiwi, 2010) adalah kesediaan untuk berbagi perasaan dengan orang lain dalam suasana suka maupun duka.

Selanjutnya adalah item yang masuk kategori tinggi yaitu yang pertama adalah “Saya tidak suka apabila guru meminta saya mengambil

absen di ruang piket.” Karena item itu masuk kategori tinggi maka peneliti menarik kesimpulan bahwa siswa mau apabila guru meminta bantuan. Hal tersebut sangat penting untuk terus dipelihara dan dipertahankan agar siswa mulai belajar dari hal yang kecil agar bisa berdampak positif dalam keseharian mereka.

(78)

diindikasikan bahwa siswa peka terhadap situasi sulit yang dialami seseorang, siswa membantu orang lain yang mengalami kesulitan dan membutuhkan bantuan. Hal tersebut sangat perlu dipelihara dan dipertahankan karena apabila siswa sudah belajar untuk membantu siapapun maka siswa belajar menjadi pribadi yang rendah hati.

Berdasarkan penjelasan di atas maka peneliti akan menggunakan empat item, dua dari kategori sedang dan dua dari kategori tinggi. Usulan Topik bimbingan untuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku prososial siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019 ini bertujuan agar siswa menyadari bahwa sangat penting memiliki perilaku prososial yang positif untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Apabila perilaku prososial sudah tertanam dalam diri setiap siswa maka siswa akan melakukan setiap tindakan yang berpengaruh positif bagi orang lain dan terlebih untuk dirinya sendiri.

(79)

Tabel 4.6

Usulan Topik-Topik Bimbingan Pribadi Sosial Untuk Meningkatkan dan Mempertahankan Perilaku Prososial Siswa kelas X SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta Tahun Ajaran 2018/2019

No. Item

(80)

membawa sebagian barang ketika guru

membawa banyak barang bawaan.

Memba ntu Sesama.

untuk membantu orang lain yang mengalami kesulitan.

(81)

61 BAB V PENUTUP

Pada bab ini diuraikan kesimpulan, keterbatasan penelitian, dan saran-saran untuk berbagai pihak.

A. Kesimpulan

1. Berdasarkan hasil penelitian mengenai perilaku prososial siswa SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta tahun ajaran 2018/2019 maka dapat disimpulkan bahwa perilaku prososial siswa kelas X termasuk kategori tinggi atau positif (baik). Penelitian menunjukkan sebanyak 68 siswa (32%) siswa memiliki perilaku prososial yang sangat tinggi, 130 siswa (60%) memiliki perilaku prososial yang tinggi, 18 siswa (8%) memiliki perilaku prososial yang sedang. Dari hasil penelitian yang dilakukan tidak ada siswa yang memiliki perilaku prososial rendah atau sangat rendah.

2. Untuk membantu siswa dalam meningkatkan dan mempertahankan perilaku prososial siswa perlu diberikan bimbingan klasikal atau dinamika kelompok. Pada bab IV peneliti telah memaparkan beberapa usulan topik-topik yang bisa membantu siswa, usulan topik-topik-topik-topik tersebut disusun berdasarkan beberapa item yang capaian skornya rendah dan tinggi. Usulan topik-topik tersebut berkaitan dengan aspek menolong (Helping) dan berbagi (Sharing).

B. Keterbatasan Penelitian

Figur

Tabel 3.1 Sampel Penelitian
Tabel 3 1 Sampel Penelitian . View in document p.50
tabel skor pengukuran skala Likert berdasarkan pernyataan favorable dan
Likert berdasarkan pernyataan favorable dan . View in document p.51
Tabel 3.3 Kisi-kisi Kuesioner Perilaku Prososial siswa kelas X
Tabel 3 3 Kisi kisi Kuesioner Perilaku Prososial siswa kelas X . View in document p.54
Tabel 3.4 Jumlah Subjek Uji Coba
Tabel 3 4 Jumlah Subjek Uji Coba . View in document p.55
Tabel 3.5 Jumlah Item Gugur dan Valid
Tabel 3 5 Jumlah Item Gugur dan Valid . View in document p.57
tabel 3.6 sebagai berikut:
tabel 3.6 sebagai berikut: . View in document p.58
Tabel 3.6
Tabel 3 6 . View in document p.59
Tabel 3.7 Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian
Tabel 3 7 Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian . View in document p.61
Tabel 3.9
Tabel 3 9 . View in document p.63
Tabel 4.1 Kategorisasi Skor Subjek Perilaku Prososial Siswa Kelas X SMK
Tabel 4 1 Kategorisasi Skor Subjek Perilaku Prososial Siswa Kelas X SMK . View in document p.66
Tabel 4.2
Tabel 4 2 . View in document p.67
Tabel 4.4 Kategorisasi Item Tingkat Perilaku Prososial Siswa kelas X SMK
Tabel 4 4 Kategorisasi Item Tingkat Perilaku Prososial Siswa kelas X SMK . View in document p.69
Tabel 4.5 Rekapitulasi Item-item Pernyataan yang Tergolong dalam Kategori
Tabel 4 5 Rekapitulasi Item item Pernyataan yang Tergolong dalam Kategori . View in document p.76
Tabel 4.6
Tabel 4 6 . View in document p.79

Referensi

Memperbarui...