DESKRIPSI TINGKAT KONSEP DIRI SISWA SMP XAVERIUS TUGUMULYO PALEMBANG KELAS VIII TAHUN AJARAN 2010/2011 DAN IMPLIKASINYA
TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN PRIBADI
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi
Bimbingan dan Konseling
Disusun oleh : Rosalina Fridyasari
061114017
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
i
DESKRIPSI TINGKAT KONSEP DIRI SISWA SMP XAVERIUS TUGUMULYO PALEMBANG KELAS VIII TAHUN AJARAN 2010/2011 DAN IMPLIKASINYA
TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN PRIBADI
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi
Bimbingan dan Konseling
Disusun oleh : Rosalina Fridyasari
061114017
PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto
Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti
yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana. (Yesaya, 14:24)
Bisa karena biasa, mampu karena mau.
PERSEMBAHAN
Skripsi ini kupersembahkan untuk :
¾
Tuhan Yesusku
¾
Orang tuaku terkasih
v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian dari orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 10 Februari 2011 Penulis
vi
ABSTRAK
DESKRIPSI TINGKAT KONSEP DIRI SISWA SMP XAVERIUS TUGULMULYO PALEMBANG KELAS VIII TAHUN AJARAN 2010/2011 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN
PRIBADI Rosalina Fridyasari Universitas Sanata Dharma
2011
Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan metode survei. Rumusan masalahnya adalah sejauh mana tingkat konsep diri siswa kelas VIII SMP Xaverius Tugumulyo Palembang tahun ajaran 2010/2011 dan topik-topik bimbingan apa yang bertautan dengan kebutuhan dalam pengembangan konsep diri para siswa. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sejauh mana tingkat konsep diri siswa kelas VIII SMP Xaverius Tuhumulyo Palembang tahun ajaran 2010/2011 dan mengidentifikasi butir-butir konsep diri siswa yang pencapaiannya belum terpenuhi secara baik untuk mendapatkan perbaikan dengan pemberian topik-topik bimbingan pribadi.
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Xaverius Tugumulyo kelas VIII tahun ajaran 2010/2011 yang berjumlah 79 siswa. Instrumen yang digunakan adalah berupa kuesioner konsep diri yang disusun oleh penulis. Teknik analisis data yang digunakan adalah dengan membuat tabulasi data, menghitung skor total dari masing-masing item kuesioner dan skor rata-rata subjek maupun rata-rata butir dan mengkategorikannya menurut mean teoritis.
vii
ABSTRACT
DESCRIPTION OF THE LEVEL VIII GRADE STUDENT
PERSONAL CONCEPT IN XAVERIUS JUNIOR HIGH SCHOOL
TUGUMULYO PALEMBANG 2010/2011 AND THE
IMPLICATION TOWARD THE SUGGESTION PERSONAL
COUNSELING TOPICS
Rosalina Fridyasari Sanata Dharma University
2011
This observation includes descriptive observation with the survey method. The formulation problem is how far does the concept level of the students in Xaverius Junior High School Tugumulyo Palembang. Also to identify the values of the student concept which results are not yet compiling and good in order to reach the best make up grade with giving personal consul topics.
The subject of this observation is 79 students in the eighth grade in Xaverius Tugumulyo Junior High School on 2010/2011. The insrument used is the personal concept questionnaire aranged by the writer, the data analysis tecnic is by data tabulation, which is Counted from the total score of each questioner and categorize based on mean theoretical.
The result of the research is 61 students (77%) categorized into high personal concept, and the rest 18 students (23%) are categorized into who are middle personal concept. There are no students who are indicated into low personal concept. Thus we can conclude that the personal concept grade of the student in Xaverius Tugumulyo Junior High School is that grade on VIII 2010/2011 is good. The conclusion based on personal concept achievement is that students are classified into high personal concept achievement and none of the students are categorized into low concept achievement, additionally students are also some categorized into middle personal concept achievement. It means that the personal concept of the students are not maximum yet. The personal concept that the student are lacking of are self-personal aspect, social personal, family personal, and academic personal. From 48 items, there are 12 (25%) values which is identified having middle indication, and the rest 36 students (75%) are categorized into high category. And none of the items are classified as the low category, due to some developmental counseling topics are categorized as the midlle category, therefore, the students only need some counseling topics that are arranged in the syllabus.
viii
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH
UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma NAMA : Rosalina Fridyasari
NIM : 061114017
Demi mengembangkan ilmu pengetahuan saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma skripsi saya yang berjudul “DESKRIPSI TINGKAT KONSEP DIRI SISWA SMP XAVERIUS TUGUMULYO PALEMBANG KELAS VIII TAHUN AJARAN 2010/2011 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN PRIBADI,” beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelola dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau kepada media lain untuk kepentingan akademis selama tetap menyantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di Yogyakarta
Pada tanggal 10 Februari 2011 Yang menyatakan :
ix
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur saya haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat, perlindungan dan penyertaanNya akhirnya peneliti dapat menyelesaikan skripsi dengan baik. Skripsi ini ditulis untuk memenuhi syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di Universitas Sanata Dharma.
Peneliti sadar bahwa tanpa bantuan, semangat, dan bimbingan dari berbagai pihak skripsi ini tidak akan terselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada :
1. Tuhan Yesus Kristus, yang menjadi kekuatan dan teladan utama untuk terus dan terus berkarya untuk menyelesaikan skripsi ini.
2. Bapak Dr. Gendon Barus, M. Si, sebagai pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan, sumbangan ide, pengajaran dan segala kesabarannya selama memberikan bimbingan kepada peneliti.
3. Dr. M. M Sri Hastuti, M. Si, sebagai kepala program studi bimbingan dan konseling yang telah memberikan persetujuan kepada penulis mengenai topik skripsi yang diambil.
x
5. Para siswa kelas VIII SMP Xaverius Tugumulyo Palembang tahun ajaran 2010/2011 atas kesediaan waktu dan tenaga untuk peneliti dalam menjalankan peneltian.
6. Bapak, ibu, adik yang telah memberikan seluruh kasih sayang, tenaga, perhatian, materi, semangat, doa dan penyertaannya selama menempuh pendidikan hingga sekarang ini.
7. Teman-teman Bimbingan dan Konseling angkatan 2006 yang menjadi penyemangat dalam proses belajar dan kuliah selama ini.
8. Sahabat-sahabatku Lina, Ella, Modes, Ryas, Dita, Tina, Riya yang menjadi teman seperjuangan dalam pergulatan menyelesaikan pendidikan untuk memperoleh gelar sarjana.
9. Serta seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan oleh peneliti satu persatu, terimakasih atas peran sertanya.
Dalam penyusunan skrispsi ini peneliti telah berusaha maksimal untuk hasil yang terbaik, namun peneliti sadar bahwa penelitian ini belum sempurna. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Akhirmya penulis mengharapkan skripsi ini dapat berguna bagi diri sendiri dan semua pihak secara umum.
Penulis
xi
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN MOTO DAN PERSEMBAHAN ... iv
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v
ABSTRAK ... vi
ABSTRACT ... vii
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GRAFIK ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat Penelitian ... 5
E. Definisi Operasional ... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pengertian Konsep Diri ... 7
B. Penggolongan Konsep Diri ... 8
C. Aspek-aspek Konsep Diri ... 11
D. Faktor-faktor yang Berpengaruh dalam Pembentukan Konsep Diri ... 15
E. Peranan Konsep Diri dalam Pola Kepribadian Remaja ... 16
xii
A. Jenis Penelitian ... 21
B. Subjek Penelitian ... 21
C. Instrumen Penelitian ... 22
1. Kuesioner Konsep Diri ... 23
2. Aspek-aspek Konsep Diri ... 24
3. Validitas dan Reliabilitas Kuesioner ... 24
D. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data ... 32
1. Persiapan dan Pelaksanaan ... 32
2. Teknik Analisis Data ... 34
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 37
B. Pembahasan ... 41
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 55
B. Saran ... 56 DAFTAR PUSTAKA
xiii
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel I Kuesioner Konsep Diri ... 23
Tabel 2 Kriteria Guilford ... 27
Tabel 3 Hasil Revisi Kuesioner Berdasarkan Telaah Ahli (Expert Judgement) ... 30
Tabel 4 Kategori Tingkat Konsep Diri Siswa ... 36
Tabel 5 Skor Rata-rata Konsep Diri Para Siswa ... 37
Tabel 6 Butir-butir Konsep Diri yang Sedang ... 39
Tabel 7 Usulan Topik-topik Bimbingan Pribadi ... 56
xiv
DAFTAR GRAFIK
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1 Hasil Perhitungan Konsistensi Internal Butir-butir Uji Coba ... 62
Lampiran 2 Hasil Koefisien Realibilitas Kuesioner Uji Coba ... 70
Lampiran 3 Tabulasi Skor Hasil Penelitian ... 71
Lampiran 4 Usulan Topik-topik Bimbingan Pribadi Berdasarkan Butir-butir Item Konsep Diri yang Memiliki Tingkat Sedang ... 73
Lampiran 5 Satuan Pelayanan Bimbingan (SPB) ... 79
Lampiran 6 Kuesioner Konsep Diri ... 96
1
BAB I
PENDAHULUAN
Dalam bab ini akan menjelaskan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional.
A. Latar Belakang Masalah
Masa remaja adalah masa peralihan. Banyak sekali perubahan yang dialami individu dalam masa ini. Perubahan tersebut menyangkut aspek fisik, emosi, sosial, dan moral. Dari berbagai perubahan yang terjadi dalam diri remaja tersebut, remaja harus menemukan dirinya sesuai dengan keinginan dirinya sendiri dan juga tuntutan dari lingkungan sekitarnya. Dalam proses menemukan jati diri tersebut, tak jarang remaja mengalami krisis kepercayaan diri, perasaan, dan pikiran.
perkembangan untuk dapat berkembang secara optimal. Dengan adanya masalah yang mereka hadapi serta tuntutan tugas perkembangan yang tetap harus mereka penuhi, remaja perlu memiliki suatu pegangan yang kuat. Hal ini bertujuan agar masalah-masalah yang dihadapi tidak mempengaruhi tugas perkembangan yang harus dipenuhi. Dalam hal ini konsep diri memiliki peranan penting. Konsep diri sangat memberikan pengaruh dalam pembentukan pemikiran, perasaan dan emosi diri remaja.
Surahkmad (1980:40) mengatakan konsep diri sebagai gambaran mental yang dimiliki seseorang mengenani pribadi dirinya. Konsep diri yang baik akan membuat remaja berpikiran positif tentang diri mereka, mampu menerima keadaan diri dan merasa nyaman dengan diri mereka. Dalam keadaan konsep diri yang baik, remaja juga akan memenuhi tugas perkembangannya dengan baik juga. Sementara remaja yang memiliki konsep diri yang buruk tentu akan membuat remaja berpikiran negatif tentang diri mereka, kurang menerima diri, dan tidak akan merasa nyaman dengan keadaan diri mereka. Remaja dengan keadaan konsep diri yang buruk dapat menjadi terhambat dalam proses pemenuhuhan kebutuhan masa remajanya.
masyarakat. Bimbingan diberikan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya sehingga ia sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan sekolah, keluarga serta masyarakat. Dengan demikian dia dapat mengecap kebahagiaan hidupnya serta dapat memberikan sumbangan berarti.
Dalam beberapa pihak dan wilayah, belum disadari benar akan manfaat pembentukan konsep diri anak ini. Bahkan di lembaga-lembaga pendidikan, dalam hal ini adalah sekolah, yang belum dijamah oleh tenaga bimbingan dan konseling dan belum memiliki program bimbingan yang terstruktur. Untuk daerah-daerah yang telah maju dan berkembang seperti di kota-kota besar mungkin bimbingan dan konseling bukan hal yang asing lagi karena biasanya sekolah telah memiliki guru bimbingan dan konseling serta telah memiliki program yang terstruktur, namun untuk daerah-daerah yang belum begitu pesat kemajuannya terutama sekolah-sekolah yang berada di luar pulau Jawa, tenaga bimbingan dan konseling profesional belum tersedia dan belum memiliki program yang jelas dan terstruktur.
Pelayanan BK hanya berisi tentang pelajaran-pelajaran moral, oleh karenanya tema mengenai pembentukan konsep diri tidak terjamah.
SMP Xaverius Tugumulyo Palembang adalah sekolah yang didirikan oleh yayasan Keuskupan Agung Palembang, beralamat di jalan Raya Mataram Tugumulyo Musi Rawas Sumatera Selatan. Sekolah ini adalah sekolah dengan akreditasi yang sangat baik, sedang mengalami perkembangan yang pesat dari segi infrastruktur bangunan dan kualitas sekolah. Untuk mendukung perkembangan dan kualitas sekolah, maka guru juga harus memberikan perhatian terhadap perkembangan siswanya. Hal ini dapat diawali dengan mengetahui tingkat konsep diri dari siswa dan siswinya kemudian memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
B. Perumusan masalah
Dalam penelitian ini masalah yang ingin diketahui adalah sebagai berikut : 1. Sejauh mana tingkat konsep diri siswa kelas VIII di SMP Xaverius
Tugumulyo Palembang tahun ajaran 2010/2011?
2. Butir-butir konsep diri manakah yang perlu diusulkan sebagai pengembangan konsep diri siswa kelas VIII di SMP Xaverius Tugumulyo Palembang yang teridentifikasi belum terpenuhi dengan baik?
C. Tujuan Penelitian
1. Mendeskripsikan sejauh mana tingkat konsep diri siswa kelas VIII SMP Xaverius Tugumulyo Palembang tahun ajaran 2010/2011.
2. Mengidentifikasi butir-butir konsep diri siswa kelas VIII SMP Xaverius Tugumulyo Palembang tahun ajaran 2010/2011 yang belum terpenuhi dengan baik untuk mendapatkan perbaikan dengan pemberian topik-topik bimbingan pribadi.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk berbagai pihak :
1. Bagi siswa untuk membantu mereka berkembang lebih optimal dalam pembentukan konsep dirinya.
2. Bagi guru pembimbing untuk menuyusun topik-topik bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan konsep diri siswanya.
3. Bagi sekolah sebagai pengalaman pertama dilakukannya survei kebutuhan.
E. Definisi Operasional
1. Konsep diri adalah seluruh gambaran, pandangan, keyakinan, dan penghargaan seseorang terhadap dirinya sendiri baik secara fisik maupun psikis (Sinurat, 2003:1) Konsep diri yang positif ditandai dengan mampunya seseorang untuk dapat menerima, menghargai dan menilai kedaan diri apa adanya secara positif.
7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Dalam bab ini akan menjelaskan pengertian konsep diri, penggolongan konsep diri, aspek-aspek konsep diri, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri, peranan konsep diri dalam pola kepribadian remaja, dan peranan tenaga bimbingan dalam pembentukan konsep diri.
A. Pengertian Konsep Diri
Konsep diri merupakan gabungan dari keyakinan yang dimiliki orang tentang diri mereka sendiri, meliputu kakakteristik fisik, psikologi, sosial, emosional, aspirasi, dan prestasi (Hurlock, 1989:58). Menurut Centi (1993:9), konsep diri tidak lain dan tidak bukan merupakan adalah gagasan tentang diri sendiri yang terdiri dari seseorang melihat diri sendiri (self image), memberi penilaian tentang diri sendiri (self evaluation), dan menginginkan dirinya sendiri mejadi pribadi yang diharapkan (self ideal).
Dari beberapa pernyataan tentang konsep diri di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
Konsep diri merupakan suatu bentuk pandangan, perasaan, dan pikiran seseorang tentang diri sendiri yang dilihat dari berbagai aspek. Beberapa aspek tersebut yaitu aspek penampilan, aspek akademik, dan aspek sosial. Konsep diri berpengaruh terhadap pembentukan dan perkembangan diri seseorang.
B. Penggolongan Konsep Diri
Ada beberapa penggolongan tentang konsep diri. Bagaimana seseorang melihat diri mereka. Menurut Burns (1993) penggolongam konsep diri secara umum adalah :
1. Konsep Diri Positif/tinggi
seseorang mampu menerima, menghargai, dan menilai keadaan diri apa adanya secara positif. Memiliki konsep diri yang positif berarti juga bahwa orang lain mampu menerima, menilai, dan memandang dirinya secara positif (Burns, 1993:234).
Gunawan (2005) menyebutkan bahwa seseorang yang mempunyai konsep diri positif akan menjadi invidu yang mampu memandang dirinya secara positif, berani mencoba dan mengambil resiko, selalu optimis, percaya diri, dan antusias menetapkan arah dan tujuan hidup. Konsep diri yang positif dapat diperoleh dari penerimaan, penghargaan dan cinta dari tokoh-tokoh yang signifikan dalam hidupnya seperti orang tua, guru dan teman sebaya dan orang lain yang berpengaruh terhadap hidupnya. Misalnya, seorang anak yang dinilai oleh gurunya sebagai seorang anak yang pintar dan penurut maka dia akan memiliki pandangan yang baik tentang dirinya bahwa dia adalah anak yang pintar dan penurut sesuai dengan penilaian ayang diberikan oleh gurunya tersebut.
2. Konsep Diri Negatif/rendah
jika dia meyakini dan memandang bahwa dfirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidup.
Tokoh-tokoh signifikan dalam hidup yaitu orang tua, guru, teman sebaya dan orang-orang lain yang berpengaruh terhadap hidup seseorang akan memberikan pengaruh yang buruk terhadap konsep diri jika orang-orang tersebut merendahkan, meremehkan, mempermalukan, dan menolak. Konsep diri seseorang yang diperlakukan secara demikian akan menjadi negatif. Sebagaimana orang lain menilai dirinya, demikianlah juga seseorang akan menilia dirinya. Selain itu, beberapa pengaruh lain juga dapat terjadi. Seperti halnya yang dijelaskan oleh Centi (1993:26-32) :
a) Konsep diri negatif membuat kita cenderung memusatkan perhatian pada hal yang negatif-negatif dalam diri kita.
b) Konsep diri negatif mendorong kita untuk membuat perbandingan negatif dengan orang lain.
c) Konsep diri negatif menciptakan ingatan yang pilih-pilih, selektif, yang meneguhkan perasaan diri tak berharga.
d) Konsep diri negatif menciptakan sikap memihak dalam pandangan kita mengenai apa yang terjadi dalam dirikita.
mencoba yang baru, tidak berani mencoba hal-hal yang menantang, takut gagal, takut sukses, merasadiri bodoh, merasa diri rendah, merasa tidak berharga, tidak layak untuk sukses, pesimis dan masih banyak perilaku inferior lainnya.
C. Aspek-aspek Konsep Diri
Fitts (Agustiani, 2006:139-141) membagi aspek-aspek konsep diri individumenjadi enam bagian:
1. Konsep diri fisik
ideal. Dianggap sebagai konsep diri yang negatif apabila ia memandang rendah atau memandang sebelah mata kondisi yang melekat pada fisiknya, penampilannya, kondisi kesehatannya, kulitnya, tampan atau cantiknya, serta ukuran tubuh yang ideal. Pudjijogyanti (1985) mengatakan bahwa penilaian yang positif tentang keadaan fisik dengan memiliki kesadaran dan penerimaan bagian fisik yang menarik akan membantu perkembangan konsep diri ke arah yang positif. Hal ini disebabkan kesadaran dan penerimaan bagian fisik yang menarik akan menumbuhkan rasa puas terhadap keadaan diri.
2. Konsep diri pribadi
Konsep diri pribadi yaitu cara seseorang dalam menilai kemampuan yang ada pada dirinya dan menggambarkan identitas dirinya. Konsep diri seseorang dapat dianggap positif apabila ia memandang dirinya sebagai pribadi yang penuh kebahagiaan, memiliki optimisme dalam menjalani hidup, mampu mengontrol diri sendiri, dan sarat akan potensi. Dapat dianggap sebagai konsep diri yang negatif apabila ia memandang dirinya sebagai individu yang tidak pernah (jarang) merasakan kebahagiaan, pesimis dalam menjalani kehidupan, kurang memiliki kontrol terhadap dirinya sendiri, dan potensi diri yang tidak ditumbuhkembangkan secara optimal.
3. Konsep diri sosial
berkaitan dengan kapasitasnya dalam berhubungan dengan dunia di luar dirinya, perasaan mampu dan berharga dalam lingkup interaksi sosialnya. Menurut Berzonsky (1981) konsep diri sosial meliputi bagaimana peranan sosial yang dimainkan individu dan sejauh mana penilaian individu terhadap baik/buruknya perbuatan mereka. Setiap peranan yang dimainkan individu akan memunculkan adanya suatu penghargaan sosial bagi orang lain tentang bagaimana menilai suatu perbuatan dan tingkah lakunya. Konsep diri dapat dianggap positif apabila ia merasa sebagai pribadi yang hangat, penuh keramahan, memiliki minat terhadap orang lain, memiliki sikap empati, supel, merasa diperhatikan, memiliki sikap tenggang rasa, peduli akan nasib orang lain, dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial di lingkungannya. Dapat dianggap sebagai konsep diri yang negatif apabila ia merasa tidak berminat dengan keberadaan orang lain, acuh tak acuh, tidak memiliki empati pada orang lain, tidak (kurang) ramah, kurang peduli terhadap perasaan dan nasib orang lain, dan jarang atau bahkan tidak pernah melibatkan diri dalam aktivitas-aktivitas sosial.
4. Konsep diri moral etik
menjadi pribadi yang percaya dan berpegang teguh pada nilai-nilai moral etik, baik yang dikandung oleh agama yang dianutnya, maupun oleh tatanan atau norma sosial tempat di mana dia tinggal. Sebaliknya, konsep diri individu dapat dikategorikan sebagai konsep diri yang negatif bila ia menyimpang dan tidak mengindahkan nilai-nilai moral etika yang berlaku (baik nilai-nilai agama maupun tatanan sosial) yang seharusnya dia patuhi. 5. Konsep diri keluarga,
Konsep diri keluarga berkaitan dengan perspesi, perasaan, pikiran, dan penilaian seseorang terhadap keluarganya sendiri, dan keberadaan dirinya sendiri sebagai bagian integral dari sebuah keluarga. Seseorang dianggap memiliki konsep diri yang positif apabila ia mencintai sekaligus dicintai oleh keluarganya, merasa bahagia berada di tengah-tengah keluarganya, merasa bangga dengan keluarga yang dimilikinya, dan mendapat banyak bantuan serta dukungan dari keluarganya. Dianggap negatif apabila ia merasa tidak mencintai sekaligus tidak dicintai oleh keluarganya, tidak merasa bahagia berada di tengah-tengah keluarganya, tidak memiliki kebanggaan pada keluarganya, serta tidak banyak memperoleh bantuan dari keluarganya.
6. Konsep diri akademik
lingkungan tempat belajarnya, menghargai orang yang memberi ilmu kepadanya, tekun dalam mempelajari segala hal, dan bangga akan prestasi yang diraihnya. Dapat dianggap sebagai konsep diri akademik yang negatif apabila ia memandang dirinya tidak cukup mampu berprestasi, merasa tidak disukai oleh teman-teman di lingkungan tempatnya belajar, tidak menghargai orang yang memberi ilmu kepadanya, serta tidak merasa bangga dengan prestasi yang diraihnya.
D. Faktor-faktor yang Berpengaruh dalam Pembentukan Konsep Diri
Konsep diri bukanlah bawaan lahir, melainkan faktor yang dipelajari dan dibentuk dari pengalaman individu dalam berhubungan dengan individu lain. Dalam berinteraksi ini, setiap individu akan menerima tanggapan. Tanggapan yang diberikan tersebut akan dijadikan cermin bagi individu untuk menilai dan memandang dirinya. Jadi, konsep diri terbentuk karena suatu proses umpan balik dari individu lain (Pudjijogyanti, 1985:8). Hurlock (1989) mengemukakan berbagai faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan konsep diri yaitu : bentuk tubuh, cacat tubuh, pakakian, nama dan nama julukan, intelegensi, taraf aspirasi, emosi, jenis/prestise sekolah, status sosial, ekonomi keluarga, teman bergaul, dan tokoh-tokoh “signifikan”dalam hidup.
other dan affective others. Significant others adalah orang lain yang sangat penting ketika seseorang masih kecil yaitu orang tua, saudara-saudara dan orang yang tinggal satu rumah dengan orang tersebut. Affective other adalah orang lain yang memiliki ikatan emosional dengan seseorang. Dari merekalah konsep diri perlahan-lahan dibentuk. Senyuman pujian, penghargaan, pelukan yang diberikan oleh affective other tersebut menyebabkan penilain positif terhadap individu tersebut dan sebaliknya ejekan, cemoohan, hardikan menyebabkan penilain negatif.
Dalam perkembangannya, significant others meliputi semua orang yang mempengaruhi perilaku, pikiran, perasaan kita. Mereka mengarahkan tindakan kita, membentuk pikiran kita dan menyentuh kita secara emosional. Orang-orang ini boleh jadi masih hidup atau sudah mati. Ketika dewasa, kita mencoba menghimpun penilaian semua orang yang pernah berhubungan dengan kita. Pandangan diri tentang seluruh pandangan orang lain tersebut generalized others.
Harry Stack Suvillan (Rahmat, 2008: 101) menjelaskan bahwa jika kita diterima orang lain, dihormati, dan disenangi karena keadaan kita, kita akan cenderung bersikap menghormati dan menerima keadaan diri kita, sebaliknya bila orang lain selalu meremehkan kita, menyalahkan dan menolak kita, kita cenderung akan tidak menyenangi diri kita.
Istilah remaja atau adolesence berasal dari kata latin adolescere yang berarti “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan” (Ali dan Asrori, 2004:9). Dalam perkembangannya, istilah adolence memiliki arti yang luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik. Pandangan ini di dukung oleh Piaget (Ali dan Asrori, 2004) yang mengatakan bahwa secara psikologis, remaja adalah usia dimana individu menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat sosial. Remaja mulai masuk ke dalam kehidupan sosial yang lebih luas terutama dengan teman sebaya.
Pujdijogyanti (1985) mengatakan sebagai masa peralihan yang juga disebut sebagai masa transisi, masa remaja telah menimbulkan perubahan yang sangat menegangkan. Perubahan-perubahan yang diawali dengan perubahan fisik telah menimbulkan perasaan aneh, ganjil dan berbeda dari orang lain ini menimbulkan perasaan tidak puas terhadap diri sendiri. Perasaan tidak puas terhadap fisiknya menunjukkan bahwa remaja menolak tubuhnya sendiri. Situasi ini sangat mempengaruhi pembentukan konsep diri remaja.
Dalam masa-masa transisi tersebut, remaja tetap harus memenuhi tugas perkembangan yang harus dilaluinya pada masa itu. Menurut Havighurts (Pujdijogyanti, 1985:25) tugas-tugas perkembangan yang ada dalam masa masa remaja adalah penyesuaian terhadap segala aspek. Kegagalan atau keberhasilan dalam penyesuaian tersebut merupakan situasi yang mempengaruhi seluruh aspek kepribadian termasuk dalam pembentukan konsep dirinya. Apabila pada masa remaja individu tidak mendapat kesempatan untuk mengembangkan konsep diri yang baik maka individu tersebut juga tidak akan mendapat kesempatan untuk mengembangkan diri dan menyesuaikan diri dengan tugas-tugas perkemabangannya.
F. Peranan Tenaga Bimbingan dalam Pembentukan Konsep Diri Siswa
bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan. Bimbingan dalam rangka menemukan pribadi agar siswa mengenal kekuatan dan kelemahan diri sendiri, serta menerimanya secara positif dan dinamis sebagai modal mengembangkan diri lebih lanjut, bimbingan dalam menemukan lingkungan dimaksudkan agar siswa mengenal secara obyektif terhadap lingkungan baik lingkungan sosial dan lingkungan fisik serta menerima berbagai kondisi lingkungan itu secara positif dan dinamis pula, sedangkan bimbingan dalam merencanakan masa depan agar siswa mampu mempertimbangkan dan mengambil keputusan tentang masa depan dirinya sendiri, baik yang menyangkut bidang pendidikan, bidang karier, bidang budaya maupun masyarakat.
Para siswa yang tergolong remaja perlu mendapatkan pendampingan dalam menemukan dan mengembangkan jati dirinya. Para siswa yang tidak memiliki kesempatan mengembangkan diri dan menyesuaikan diri dengan tugas perkembangannya akan kehilangan kesempatan untuk dapat mengembangkan konsep diri. Pujidjogyanti (1985:45-49) mengatakan hal-hal yang dapat dilakukan oleh guru pembimbing untuk mengembangkan konsep diri siswa adalah :
2. Memberikan kesempatan pada siswa untuk membuat keputusan sendiri atas perilakunya berarti guru pembimbing telah memberi tanggung jawab kepada siswa. Tanggung jawab akan mengarahkan sikap yang positif siswa terhadap hidupnya.
3. Penilaian guru terhadap prestasi siswa akan mempengaruhi konsep dirinya. Para siswa mampu mengembangkan konsep dirinya secara optimal apabila guru pembimbing selalu berpandangan bahwa pada dasaranya siswa memiliki kemampuan dan mengajak siswa untuk mewujudkan kemampuan tersebut.
4. Untuk membantu membentu konsep diri, guru pembimbing harus membantu siswa untuk menetapkan tujuan yang hendak dicapai secara realistik artinya sesuai dengan kemampuan siswa. Tujuan dan realistik diterapakan dengan melihat keberhasilan siswa pada masa lampau. Dengan demikian pencapaian prestasi sudah dapat dipastikan sehingga membantu siswa untuk bersikap terhadap dirinya.
5. Pada saat siswa mengalami suatu kegagalan, terkadang siswa menilai kegagalannya secara negatif. Hal tersebut perlu dihindari oleh para siswa. Guru pembimbing dapat membantu menilai prestasi secara realistik yang membantu rasa percaya pada kemampuan mereka sendiri.
21
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan metode survei.
Furchan (2004:415-418) mengatakan penelitian deskriptif dengan metode
survei dirancang untuk memperoleh informasi dengan mengumpulkan data
yang relatif terbatas dari kasus-kasus yang relatif besar jumlahnya. Penelitian
deskriptif berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasi apa yang ada, yaitu
tentang kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang sedang tumbuh,
proses yang sedang berlangsung akibat atau efek yang terjadi atau
kecenderungan yang telah berkembang. Penelitian ini bersifat deskriptif
karena peneliti ingin mendapat gambaran mengenai Konsep Diri para Siswa
Kelas VIII SMP Xaverius Tugumulyo Palembang tahun ajaran 2010/2011.
B. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Xaverius
Tugumulyo Palembang tahun ajaran 2010/2011. Populasi penelitian mencakup
seluruh siswa pada tingkat kelas VIII. Jumlah populasi siswa adalah 84.
Peneliti memilih siswa kelas VIII karena pada masa tersebut siswa
mulai memasuki masa pubertas. Dalam masa pubertas siswa tentu akan
banyak mencari tahu tentang diri mereka, mulai melihat diri mereka baik
dan melihat diri mereka maka pembentukan konsep diri sangat dominan di
masa ini.
Dalam masa pubertas juga, siswa mulai masuk ke dalam kehidupan
sosial yang baru. Mereka akan mencari dan membutuhkan banyak teman
dalam kehidupannya. Peran dan kehadiran mereka dalam kelompok mereka
juga akan sangat mempengaruhi konsep diri. Jika mereka merasa memiliki
peran yang penting dan merasa diterima dan disukai dalam kelompok itu maka
mereka akan merasa senang.
Masa pubertas adalah masa potensial bagi pembentukan konsep diri.
Oleh karena itu siswa pada rentan usia puber perlu mendapat bimbingan untuk
memahami dan memiliki konsep tentang dirinya yang positif karena hal itu
merupakan bekal utama bagi remaja dalam masa pubertas untuk menjalani
pergaulan dalam hidupnya.
C. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian ini berupa kuesioner yang disusun berdasarkan
aspek-aspek konsep diri menurut Fitts (Agustiani, 2006:139-141). Kuesioner tentang konsep diri terdiri dari dua bagian yaitu yang pertama berisi tentang
kata pengantar petunjuk pengisian kuesioner, bagian yang kedua berisi tentang
pernyataan yang mengungkapkan gambaran konsep diri. Kisi-kisi jumlah
Tabel 1. Kuisioner Konsep Diri Uji Coba
1. Diri Fisik 1.1 Memiliki kesadaran tentang keadaan fisik (gemuk, kurus, tinggi, pendek) dan memiliki penerimaan akan bentuk tersebut 1.2 Memiliki penerimaan tentang
keadaan kesehatan diri 1.3 Menghargai penampilan diri 1.4 Memiliki kesadaran dan
penerimaan tentang bagian fisik yang menarik
2. Diri Pribadi 2.1 Memiliki kesadaran tentang potensi diri
2.2 Memiliki kemampuan mengontrol diri
2.3 Memiliki sikap optimis dalam menjalani hidup
3. Diri Sosial 3.1 Kemampuan individu dalam berinteraksi dengan orang lain atau lingkungan sekitar. 3.2 Dapat menilai diri apakah
diterima atau ditolak dalam lingkungan sekitar.
4.1 Keadaan individu dalam hubungannya dengan Tuhan (Agama)
4.2 Nilai hidup yang dipegang
39, 40
5. Diri keluarga 5.1 Menilai keadaan keluarga
5.2 Menyadari peran dan fungsi individu di dalam keluarga
49, 50, 51,
Memiliki kemampuan untuk menilai kemampuan dan prestasi dalam bidang akademik.
57, 58, 59 60 4
Beberapa hal yang berkaitan dengan kuesioner konsep diri tersebut antara
lain:
1. Kuesioner tentang Konsep Diri
Jawaban responden atau pilihan jawaban yang disedikan dinyatakan
dalam 4 kategori yaitu : Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Kurang Sesuai
(KS) dan Tidak Sesuai (TS). Setiap skor item berkisar antara 4 sampai 1
untuk skor positif (favourable) dan 1 sampai 4 untuk skor negatif
(unfavourable).
2. Aspek-aspek Konsep Diri
Indikator-indikator yang digunakan untuk menyusun item-item dalam
kuesioner dibuat berdasarkan aspek-aspek konsep diri menurut Fitts
(Agustiani, 2006:139-141).
3. Validitas dan Reliabilitas Kuesioner
Validitas mempunyai arti sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu
alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya (Azwar, 2008:5). Validitas
berhubungan dengan sejauh mana suatu alat mampu mengukur apa yang
dianggap orang seharusnya diukur oleh alat tersebut (Furchan, 1982:281).
Secara singkat menurut Nurgiyantoro (2009:338) dapat dikatakan bahwa
validitas alat penelitian mempersoalkan apakah alat itu dapat mengukur
apa yang akan diukur. Validitas yang dipakai dalam penelitian ini adalah
validitas isi (content validity). Validitas isi adalah validitas yang
mempertanyakan bagaimana kesesuaian antara instrumen dengan tujuan
satu kriteria instrumen penelitian ini diperiksa dengan validitas isi (content
validity), dikarenakan penyusunan instrumen didasarkan pada kisi-kisi
yang sesuai dengan aspek tujuan, bahan/deskripsi bahan, indikator dan
jumlah pernyataan per indikator.
Pemeriksaan keterpenuhan validitas isi didasarkan pada
pertimbangan yang dilakukan oleh ahli (expert judgement), guna menelaah
kualitas konstruk secara logis setiap butir item pernyataan kuesioner
tingkat konsep diri siswa, yang bertujuan agar setiap item pernyataan yang
dibuat secara logis tepat /sesuai dengan konstruk kisi-kisinya
(Nurgiyantoro, 2009:339).
Hasil telaah ahli dilengkapi dengan uji empirik untuk memeriksa
keterpenuhan kriteria konsistensi internal setiap item terhadap aspeknya.
Teknik uji yang digunakan adalah dengan cara mengkorelasikan skor-skor
item terhadap skor-skor aspek melalui pendekatan analisis korelasi
Pearson Product Moment. Formulasi yang digunakan dalam analisis
konsistensi internal butir item adalah sebagi berikut
XY
r = korelasi skor butir dengan skor-skor aspek
N = jumlah subyek
X = skor item/butir
XY = hasil perkalian antara skor item (X) dan skor total aspek (Y)
Patokan koefisien validitas minimal untuk melihat valid tidaknya
nomor-nomor item skala adalah dengan melihat patokan koefisien
Cronbach (Azwar, 1999:103). Dalam patokan tersebut dikatakan bahwa
patokan koefisien validitas menggunakan patokan minimal 0,30. Item
yang koefisien validitasnya < 0,30 dinyatakan gugur sedangkan item yang
koefisien validitasnya > 0,30 dinyatakan valid.
Reliabilitas menunjuk pada pengertian apakah sebuah instrumen dapat
mengukur sesuatu yang diukur secara konsisten dari waktu ke waktu
(Nugiyantoro, 2009:341). Jadi kata kunci untuk syarat kualifikasi suatu
instrumen pengukur adalah konsistensi, keajegan atau tidak berubah-ubah.
Pendekatan yang digunakan untuk memeriksa reliabilitas kuesioner pada
penelitian ini adalah teknik belah dua gasal-genap (split half). Bagian
pertama berupa item bernomor gasal dan bagian kedua berupa
item-item bernomor genap.
Perhitungan indeks reliabilitas kuesioner tingkat konsep diri para siswa
dilakukan dengan menghitung koefisien korelasi skor item gasal dan skor
item genap dengan menggunakan teknik Product Moment dari Pearson.
Hasil perhitungan korelasi product momen belahan itu kemudian
dikoreksi dengan formula Spearman-Brown sebagai berikut.
tt r =
gg gg r r
+ ×
1 2
tt
r = koefisien reliabilitas seluruh instrumen
gg
r = koefisien korelasi skor belahan gasal-genap
Hasil perhitungan dikonsultasikan ke kriteria Guilford (Guilford,
dalam Masidjo, 2006:72) sebagai berikut:
Tabel 2
Kriteria Guilford
No Koefisien Korelasi Kualifikasi
1. 0,91 - 1,00 Sangat Tinggi 2. 0,71 – 0,90 Tinggi
3. 0.41 – 0,70 Cukup 4. 0,21 – 0.40 Rendah 5. Negatif – 0,20 Rendah Sekali
1. Pengembangan Instrumen
a. Telaah Ahli (Expert Judgement) terhadap Kuesioner
Penelaahan butir-butir pada instrumen dilakukan oleh dosen
pembimbing skripsi yaitu, Dr. Gendon Barus, M.Si Berdasar hasil
penelaahan terhadap instrumen, perlu dilakukan perbaikan pada
butir-butir instrumen agar setiap butir-butir pernyataan yang dibuat berisi kalimat
yang efektif sehingga mudah dipahami dan butir dirumuskan secara
logis tepat/sesuai dengan konstruk kisi-kisinya.
Hasil Rekam Proses Telaah Instrumen oleh Dr. Gendon Barus, M.Si
1) Masukan dan saran terhadap pengembangan instrumen:
a) Setiap indikator dalam aspek harus mewakili muatan aspek
b) Butir-butir item hendaknya lebih dipertajam dan
menjelaskan indikator yang hendak dicapai, tidak keluar
dari indikator yang ada.
c) Menyederhanakan bahasa dalam kalimat item-item agar
mudah dipahami dan tidak bermakna ambigu.
d) Butir-butir item hendaknya hanya berisi satu pokok
pernyataan yang hendak dicapai dengan menghilangkan
kata “dan” dalam item.
e) Butir-butir item yang menggunakan istilah asing hendaknya
dijelaskan oleh peneliti dalam tanda kurung di belakang
istilah.
f) Menempatkan item ke tempat yang lebih sesuai dengan
penjelasan indikator.
g) Penomoran pada tabel kisi-kisi instrumen dibuat berurutan
agar memudahkan ahli dalam memeriksa atau menelaah.
h) Jumlah butir pernyataan terlalu banyak dan beberapa butir
memiliki makna yang hampir sama. Butir pernyataan dapat
lebih disederhanakan lagi jumlahnya.
2) Perbaikan dan Pengembangan Instrumen dengan
Memperhatikan Masukan dari Ahli :
a) Peneliti menambahkan kalimat dalam aspek 1 indikator 1.1
untuk lebih mempertajam maksudnya dengan
menambahkan kalimat dari “Memiliki kesadaran tentang
keadaan fisik (gemuk, kurus, tinggi, pendek” menjadi
“Memiliki kesadaran akan bentuk fisik (gemuk, kurus,
tinggi, pendek) dan memiliki penerimaan akan bentuk
b) Peneliti memperbaiki kalimat dalam aspek 1 indikator 1.2,
1.3 dan 1.4 untuk lebih dapat menjelaskan pengungkapan
behavior dengan mengganti kalimat dalam indikator 1.2
dari “Memiliki kesadaran tentang keadaan kesehatan diri”
menjadi “Memiliki penerimaan tentang keadaan kesehatan
diri”, indikator 1.3 dari “Memiliki kesadaran tentang
penampilan diri” menjadi “Menghargai penampilan diri”
dan indikator 1.4 dari “Memiliki kesadaran tentang bagian
fisik yang menarik” menjadi “Memiliki kesadaran dan
penerimaan tentang bagian fisik yang menarik”
c) Peneliti memperbaiki butir yang mengandung makna lebih
dari satu pokok permasalahan dengan menghilangkan katan
“dan” seperti yang terdapat dalam contoh kalimat
pernyataan “Saya merasa senang dan percaya diri dengan
penmpilan saya” menjadi “Saya percaya diri dengan
penampilan saya”
d) Peneliti memperbaiki penomoran kisi-kisi pada tabel
instrumen yang sebelumnya tidak berurutan menjadi
berurutan.
e) Memangkas beberapa butir pernyataan dari 80 butir
Tabel 3
Hasil Revisi Kuesioner Berdasarkan Telaah Ahli (Expert Judgement)
No item
Item yang diperbaiki Perbaikan
1. Saya tetap merasa percaya diri dengan keadaan fisik saya
Saya merasa percaya diri dengan keadaan fisik saya
9. Saya merasa senang dan percaya diri dengan penampilan saya
Saya percaya diri dengan penampilan saya
10. Saya merasa senang dan nyaman dengan penampilan saya kenakan setiap hari
Saya nyaman dengan pakaian yang saya kenakan tiap hari
17. Saya bangga dengan kemampuan yang saya miliki
Saya bangga karena saya memiliki kelebihan yang tidak dimiliki teman lain
18. Saya menggunakan kamampuan saya sebaik mungkin
Saya menggunakan bakat yang saya miliki sebaik mungkin
20. Saya merasa kamampuan yang saya miliki bukan suatu yang istimewa dan sangat biasa saja
Saya merasa bakat yang saya miliki bukan sesuatu yang istimewa
21. Saya dapat memilih dan menjalankan perilaku yang baik
Saya dapat memilih perilaku yang baik
25. Saya sangat marah dan mengamuk jika hal yang tidak saya kehendaki terjadi pada saya
Saya marah terhadap hal yang tidak saya kehendaki
29. Saya merasa tidak canggung dan percaya diri apabila berhadapan atau berinteraksi dengan lawan jenis
Saya merasa percaya diri apabila berhadapan atau berinteraksi dengan lawan jenis
31. Saya senang berkenalan dengan orang-orang baru dan membicarakan hal-hal yang belum saya ketahui
Saya senang berkenalan dengan orang-orang baru
34. Saya merasa kurang suka berada di lingkungan baru karena tidak sesuai dan tidak sama dengan lingkungan yang pernah saya tempati
Saya merasa kurang suka berada di lingkungan baru karena tidak sama dengan lingkungan yang pernah saya tempati
35. Saya lebih senang menyendiri dan cenderung menutup diri
Saya lebih senang menyendiri
43. Setiap pujian yang diberikan oleh orang lain membuat saya merasa percaya diri dan memacu untuk lebih berbuat lebih baik lagi tapi tidak membuat saya menjadi sombong
Setiap pujian yang diberikan oleh orang lain membuat saya terpacu untuk lebih baik lagi
45. Saya menyadari bahwa saya membutuhkan orang lain untuk berbagi dan saling tolong menolong
48. Saya kurang perduli/peka terhadap kebutuhan orang lain dan lebih suka mementingkan diri sendiri
Saya apatis (tidak perduli) terhadap kebutuhan orang lain.
52. Saya merasa nyaman dan kerasan berada di sekeliling keluarga saya
Saya merasa nyaman berada di sekeliling keluarga saya 54. Saya merasa keberadaan saya dalam
keluarga sangatlah berguna dan berharga
Saya merasa bahwa keluarga saya mebutuhkan saya
60. Saya kurang mengetahui memampuan akademik saya yang paling menonjol
Saya kurang mengetahui kemampuan akademik saya
Dari hasil penelaahan oleh ahli, serta pengembangan dan
perbaikan terhadap instrumen, maka instrumen dinyatakan siap untuk diuji
coba kepada subjek yang telah ditentukan karena sudah sesuai dengan
konstruk kisi-kisinya.
b. Uji Empirik Terhadap Kuesioner
1) Validitas Kuesioner
Setelah dilakukan uji coba terhadap instrumen (uji empirik)
kepada siswa kelas VIII di SMP Stella Duce II Yogyakarta pada
hari Jumat, 24 Oktober 2010 diperoleh hasil perhitungan
konsistensi internal butir pada setiap aspek menggunakan rumus
Pearson Product Moment dengan jumlah subjek (N) 34.
Hasil perhitungan tersebut diperiksa konsistensinya dengan
menggunakan program komputer SPSS. Keputusan ditetapkan
berdasarkan nilai koefisien korelasi. Jika koefisien di atas 0,30
maka item di nyatakan valid dan jika koefisien korelasi lebih kecil
atau di bawah 0,30 maka item dinyatakan gugur/tidak valid dan
item tersebut didrop. Dari hasil pemeriksaan konsistensi butir
dinyatakan gugur atau tidak valid sehingga didrop karena hasil
perhitungan korelasi menunjukkan lebih kecil atau di bawah 0,30.
Data hasil uji konsistensi internal disajikan pada lampiran 1.
2) Reliabilitas Kuesioner
Dari data hasil uji coba (empirik) kepada siswa kelas VIII
SMP Stella Duce II Yogyakarta pada hari Jumat, 24 Oktober 2010
diperoleh perhitungan koefisien reliabilitas seluruh instrumen
dengan menggunakan rumus Spearman Brown yaitu 0,79. Hasil
perhitungan 0,79 dikonsultasikan ke kriteria Guilford. Berdasarkan
kriteria Guilford hasil perhitungan tersebut disimpulkan bahwa
koefisien reliabilitas kuesioner masuk dalam kategori tinggi.
(lampiran 2)
D. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data
1. Persiapan dan pelaksanaan
a. Persiapan
Berikut ini adalah tahap-tahap persiapan yang dilakukan untuk
pengumpulan data :
1) Menyusun instrumen/skala tentang konsep diri
2) Menentukan responden yaitu para siswa kelas VIII SMP Xaverius
Tugumulyo palembang tahun ajaran 2010/2011
3) Pengujian instrumen oleh ahli yang dilakukan oleh dosen
4) Pengujian empirik terhadap validitas dan reliabilitas kuesioner
yang dilakukan kepada siswa kelas VIII SMP Stella Duce II
Yogyakarta tahun ajaran 2010/2011 pada hari Jumat, 24 Oktober
2010.
5) Manganalisa data uji empirik terhadap validitas dan reliabilitas
kuesioner:
a) Menghitung koefisien korelasi skor item gasal dan skor
item genap dengan menggunakan Product Moment dari
Pearson dengan menggunakan program komputer SPSS.
b) Menghitung koefisien reliabilitas kuesioner tingkat konsep
diri para siswa kelas VIII SMP Stella Duce II Yogyakarta
Tahun Ajaran 2010/2011 menggunakan rumus
Spearman-Brown dengan program komputer SPSS.
c) Menghitung koefisien validitas butir kuesioner konsep diri
para siswa kelas VIII SMP Stella Duce II Yogyakarta
Tahun Ajaran 2010/2011 menggunakan Product Moment
dari Pearson dengan menggunakan program komputer
SPSS
6) Meminta surat ijin penelitian pada sekretariat Program Studi
Bimbingan dan Konseling
b. Pelaksanaan
1) Bertemu dengan kepala sekolah untuk menyampaikan surat ijin dan
meminta waktu kapan dapat melakukan pengambilan data
2) Melakukan pengambilan data kepada para siswa kelas VIII SMP
Xaverius Tugumulyo Palembang tahun ajaran 2010/2011 pada hari
Rabu, 3 November 2010 pada jam ke 7 dan 8.
3) Menganalisa data yang terkumpul
2. Teknik Analisis Data
a. Memeriksa keabsahan administratif hasil jawaban responden untuk
diolah lebih lanjut
b. Memberi skor setiap alternatif jawaban. Alternatif jawaban, Sangat
Sesuai = 4, Sesuai = 3; Kurang Sesuai = 2; dan Tidak Sesuai = 1 untuk
pernyataan positif dan sebaliknya untuk pernyataan negatif.
c. Membuat tabulasi data, menghitung skor total dari masing-masing
item kuesioner dan skor rata-rata subjek maupun rata-rata butir.
d. Mengkategorisasikan subjek menurut Azwar (2009 : 107-109) dengan
berdasar pada mean teoretisnya yang terdistribusi menurut model
normal, yang terbagi atas enam bagian atau enam satuan deviasi
standar yaitu, tiga bagian berada di sebalah kiri mean (bertanda
negatif) dan tiga bagian berada di sebelah kanan mean (bertanda
positif). Pada penelitian ini skala terdiri dari 48 butir yang setiap
butirnya diberi skor Sangat Sesuai = 4, Sesuai = 3; Kurang Sesuai =
2; dan Tidak Sesuai = 1. Skor minimum skala adalah 1 dan skor
dengan demikian setiap satuan deviasi standar (sd) teoritis bernilai 3/6
= 0,5. Mean teoretisnya (x) adalah 2
4 1+
= 2,5. Berdasarkan nilai-nilai
tersebut dan berpedoman pada kriteria Azwar (2009:107-109)
penggolongan subjek dimasukkan ke dalam 3 kategori diagnosis
Tabel 4
Kategori Tingkat Konsep Diri Siswa
No Formula Kriteria Rentang Kategori Fungsi Bimbingan yang diperlukan
1. [x+1,0(sd)] ≤ X 3,01-4,00 Tinggi Perlu mendapat layanan bimbingan fungsi preverentif yaitu mengantisipasi
kemungkinan masalah konsep diri yang mungkin terjadi dan berupaya mencegahnya.
2. [x-1,0(sd)] ≤ X < [x+1,0(sd)] 2,01-3,00 Sedang Perlu diberikan bimbingan dengan fungsi pengembangan yaitu bimbingan yang sifatnya lebih proaktif untuk
memfasilitasi perkembangan konsep diri siswa
3. X < [x-1,0(sd)] 1,00-2,00 Rendah Sangat perlu diberi bimbingan dengan fungsi penyembuhan yaitu bimbingan yang bersifat kuratif. Memberikan bantuan pada siswa yang mengalami masalah konsep diri.
Keterangan :
X : Rata-rata Skor Total dan Butir Subjek
x : Mean Teoretis
37
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini disajikan hasil dari penelitian tentang Deskripsi Tingkat Konsep
Diri Siswa kelas VIII SMP Xaverius Tugumulyo Palembang tahun ajaran
2010/2011 dan pembahasan.
A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Tingkat Konsep Diri Para Siswa
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat konsep diri
para siswa kelas VIII SMP Xaverius Tugumolyo Palembang tahun ajaran
2010/2011 dan mengidentifikasi butir-butir konsep diri mana yang belum
tercapai pada diri para siswa tersebut. Dalam penelitian ini ada tiga
kategori tingkat konsep diri para siswa berdasarkan nilai rata-rata skor
total, yaitu kategori tinggi, kategori sedang, dan kategori rendah. Nilai
capaian rata-rata skor konsep diri pada penelitian adalah sebagai berikut:
Tabel 5
Skor Rata-rata Konsep Diri Para Siswa
No Rentang Jml siswa Klasifikasi
1. 1,00-2,00 0 Rendah
2. 2,01-3,00 18 Sedang
3. 3,01-4,00 61 Tinggi
Berdasarkan dari perhitungan skor rata-rata tersebut dapat disimpulkan
bahwa tingkat konsep diri sebagian siswa yaitu berjumlah 18 siswa
skor 2,10-3,00, sedangkan sisanya sebanyak 61 siswa (77%) sudah berada
pada kategori tinggi. Dari persentase tersebut dapat dikatakan bahwa
konsep diri para siswa SMP Xaverius Tugumolyo Palembang tahun ajaran
2010/2011 adalah positif. (hasil perhitungan rata-rata skor di sajikan dalam
lampiran 3)
Berdasarkan hasil analisis profil skor konsep diri pada setiap siswa
berikut disajikan grafik profil skor rata-rata konsep diri pada tiap siswa.
Grafik 1
Grafik Skor Rata-rata Konsep Diri Siswa
Dari grafik di atas dilihat bahwa 37 siswa berada di bawah garis
rata-rata. Sisanya, sebanyak 42 siswa sudah berada di atas atau berada
pada garis rata-rata. Dengan melihat jumlah siswa yang masih berada di
bawah garis rata-rata maka hal ini dapat menjadi pertimbangan bagi guru
pembimbing untuk memberikan pelayanan bimbingan mengenai konsep
2. Butir-butir Konsep Diri yang belum tercapai pada diri siswa
Semula peneliti mengidentifikasi bahwa ada siswa yang memiliki
tingkat konsep diri yang rendah namun dari hasil penelitian empirik yang
telah dilakukan, tidak ada siswa yang terindikasi memiliki tingkat konsep
diri rendah. Demikian juga halnya dengan butir pernyataan, tidak ada butir
yang terindikasi yang memiliki tingkat capaian rendah. Dari 48 butir item
terdapat 36 (75%) butir item yang masuk ke kategori tinggi dan sisanya
sebanyak 12 (25%) butir item masuk ke dalam tingkat kategori sedang.
Oleh karena hal tersebut, maka peneliti akan mengulas butir-butir konsep
Tabel 6
Butir-butir Konsep Diri yang Sedang
No No Item Rumusan Item Skor Peringkat
1. 17 Saya sabar saat menunggu sesuatu 2,43 1 2. 48 Saya kurang mengetahui kemampuan
akademik saya
2,54 2
3. 22 Saya percaya diri apabila berhadapan atau berinteraksi dengan lawan jenis
2,55 3
4. 45 Saya mudah memahami pelajaran yang diberikan
2,62 4
5. 21 Saya khawatir dengan masa depan saya 2,63 5 6. 23 Saya adalah orang yang ramah 2,70 6 7. 24 Saya merasa kurang suka berada di
lingkungan baru karena tidak sama dengan lingkungan yang pernah saya tempati
2,75 7
8. 14 Saya merasa bakat yang saya miliki bukan sesuatu yang istimewa
2,78 8
9. 47 Saya membantu teman yang mengalami kesulitan dalam belajar
2,84 9
10. 20 Saya berani dalam mengambil suatu keputusan
2,88 10
11. 41 Saya kerap bertengkar dengan anggota keluarga saya
2,96 11
12. 46 Saya merasa bangga dengan prestasi belajar saya
2,98 12
Berikut ini akan disajikan grafik pie agar agar mendapat gambaran lebih
jelas mengenai komposisi skor rata-rata tiap butir item konsep diri.
Grafik 2
Profil Skor Rata-rata Tiap Item Konsep Diri
E. Pembahasan
Dari hasil penelitian, konsep diri siswa yang diperoleh adalah tinggi. Hal
ini dapat dilihat dari hasil persentasi siswa yang memiliki tingkat konsep diri
yang tinggi yaitu 77% siswa. Sisa dari persentase itu adalah siswa yang
berada pada tingkat konsep diri yang sedang dengan jumlah 23%. Dari hasil
pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, tingkat konsep diri yang tinggi ini
disebabkan oleh beberapa hal. Hal-hal tersebut menyangkut keadaan
lingkungan sekolah yaitu keadaan sekolah dan lingkungannya, guru
pembimbing dan juga guru-guru mata pelajaran. Sebagai salah satu sekolah
yang disebut sekolah favorit di antara sekolah-sekolah lain di daerah tersebut,
swasta yang cukup mahal dengan fasilitas yang paling lengkap diantara
sekolah-sekolah yang lainnya menyebabkan siswa memiliki konsep diri yang
baik karena siswa merasa bangga menjadi siswa di sana. Hal ini sejalan
dengan apa yang dikatakan oleh Hurlock (1989) bahwa salah satu faktor yang
mempengaruhi konsep diri remaja adalah jenis/prestise sekolah.
Sementara dari lingkungan sekolah sendiri, sejauh yang peneliti pernah
alami selama dulu menjadi salah satu murid di sana, lingkungan sekolah
tersebut sangat baik untuk perkembangan konsep diri siswa. Hubungan antara
siswa dan guru sangat dekat. Karena jumlah siswa yang tidak terlalu besar
maka guru dapat mengenal murid satu persatu. Sebagai Significant Others
guru pembimbing dan guru-guru mata pelajaran telah melakukan tugasnya
dengan baik. Mereka memperlakukan siswa selayaknya anak di dalam
keluarga, memperhatikan anak satu persatu dengan mengenal mereka lebih
jauh. Suasana kekeluargaan benar-benar terasa di lingkungan sekolah
tersebut, namun demikian siswa tetap menghargai guru mereka. Siswa tahu
batasan yang harus dijalankan antara dekat dan tetap menghormati. Kedaan
tersebut masih terjadi hingga sekarang.
Karena tidak ada satu pun siswa yang berada dalam tingkat konsep diri
yang rendah, dapat dikatakan bahwa siswa mampu menerima keadaan dirinya
dengan baik. Namun, siswa-siswa tersebut tetap harus mendapatkan
bimbingan untuk fungsi pemeliharaan dan pengembangan, terutama untuk
beberapa item yang tingkat pencapaiannya sedang. Item-item tersebut juga
pengembangannya sedang. Berikut ini adalah beberapa item yang terindikasi
memiliki tingkat capaian yang sedang dan pembahasannya:
1. Saya sabar saat menunggu sesuatu
Remaja dalam perkembangannya mengalami perubahan
emosi sehingga menyebabkan ketidakstabilan emosi. Emosi yang
belum stabil menyebabkan remaja memiliki kemampuan
mengontrol diri yang kurang baik. Kesabaran saat menunggu
sesuatu dapat dijadikan salah satu tolok ukur bagi siswa untuk
dapat menilai kemampuan mengontrol dirinya. Dari sedangnya
tingkat capaian item di atas dapat diartikan bahwa siswa tidak
cukup sabar dalam menunggu sesuatu. Siswa melihat bahwa
dirinya kurang memiliki kontrol diri yang baik.
Peran guru pembimbing dalam hal ini adalah memberikan
pengertian dan bimbingan kepada anak mengenai kesabaran.
Kesabaran adalah salah satu cara melatih kontrol diri yang baik
untuk membentuk pribadi yang unggul. Hal ini dapat dilakukan
dengan memberikan bimbingan dengan tema cara melatih
kesabaran dan cara mengendalikan diri.
2. Saya kurang mengetahui kemampuan akademik saya
Mengetahui kemampuan akademik siswa dapat dilakukan
dengan berbagai cara seperti tes bakat, nilai rapor, dan melihat
secara langsung bakat yang dimiliki dari perilaku siswa. Sekolah
tes bakat tentu tidak pernah melakukan hal ini. Dengan demikian
siswa yang berada dalam sekolah tersebut harus meraba dan
mengetahui sendiri apa bakat dan kemampuan akademik yang
dimilikinya. Tidak semua siswa dapat melihat kemampuan
akademik yang dimilikinya sendiri, perlu bantuan dari orang lain
untuk mengarahkan. Pengarahan tersebut dapat dilakukan oleh guru
atau orang dewasa. Siswa yang kurang mengetahui kemampuan
akademiknya tidak dapat mengembangkan apa yang menjadi bakat
dan kemampuannya dengan optimal.
Guru pembimbing dapat membimbing dan mengarahkan
siswa untuk dapat menemukan kemampuan akademiknya dengan
memberikan informasi mengenai bidang-bidang kemampuan
akademik. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan bimbingan
klasikal dan menindaklanjutinya dengan memberikan bimbingan
pribadi. Bagi siswa yang ingin lebih jelas mendapatkan gambaran
tentang kemampuan akademiknya dapat melakukan konseling
pribadi dengan guru pembimbing.
3. Saya percaya diri apabila berhadapan atau berinteraksi
dengan lawan jenis
Masa remaja adalah masa di mana siswa mengalami banyak
sekali perubahan dan perkembangan. Perubahan dan perkembangan
yang berhubungan dengan item di atas adalah perubahan sosial.
perkembangan remaja yang paling sulit adalah berhubungan
dengan masalah penyesuaian sosial. Remaja harus menyesuaikan
diri dengan lawan jenis yang sebelumnya belum pernah ada.
Karena kesulitan ini, banyak sekali siswa yang mengalami
hambatan untuk dapat berinteraksi dengan lawan jenisnya. Bagi
siswa yang memiliki konsep diri yang baik, ia tidak akan
mengalami begitu banyak kendala dalam menjalankan tugas
perkembangan ini. Namun bagi siswa yang tidak cukup memiliki
penerimaan dan penilaian positif terhadap dirinya, ia akan semakin
sulit untuk berinteraksi dengan lawan jenis. Hal ini disebabkan oleh
perasaan malu atau minder dan rasa tidak percaya diri dengan
keadaan dirinya.
Peran guru pembimbing dalam hal ini adalah memberikan
informasi tentang peran yang harus dijalankan dalam kehidupan
bermasyarakat. Siswa tidak selamanya dapat menjalankan perannya
di masyarakat hanya dengan teman sejenis, tetapi mereka juga
perlu menjalankannya dengan teman lawan jenis. Siswa harus tetap
berinteraksi dengan lawan jenis untuk dapat mengembangkan
dirinya. Namun guru pembimbing juga harus mengikutsertakan
norma-norma dan nilai-nilai tentang interaksi antara laki-laki dan
4. Saya mudah memahami pelajaran yang diberikan
Dari item di atas dapat diartikan bahwa siswa mengalami
kesulitan dalam memahami pelajaran yang diberikan. Ahmadi
(1991:74) mengatakan bahwa kesulitan belajar yang dialami oleh
anak tidak selalu disebabkan karena faktor intelegensi yang rendah,
akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor
nonintelegensi. Faktor-faktor nonintelegensi terdiri dari faktor
fisiologis, psikologis, dan sosial. Siswa yang tidak berada dalam
keadaan fisiologis, psikologis, dan sosial yang baik tidak dapat
menerima keadaan dirinya dengan baik sehingga konsep diri yang
dimiliki juga tidak baik. Keadaan konsep diri siswa yang tidak baik
akhirnya menimbulkan kesulitan siswa dalam memahami pelajaran
yang diberikan.
Dalam kondisi seperti ini, guru pembimbing dapat
memberikan perhatian khusus kepada mereka dengan memberikan
bimbingan belajar kelompok. Melalui bimbingan belajar ini siswa
tidak hanya mendapat manfaat pelajaran tambahan, tetapi juga
dapat saling berbagi mengenai masalah yang dihadapi saat
mengalami kesulitan dalam belajar. Orang tua dan guru dapat
membantu siswa dengan bekerja sama menciptakan suasana
5. Saya khawatir dengan masa depan saya
Usia remaja adalah usia yang menimbulkan ketakutan
(Hurlock, 1980:208). Sebagai remaja, siswa banyak mendengarkan
tuntutan dari orang tua tentang perilaku, nilai hidup, dan
peraturan-peraturan tentang baik-buruk yang harus dijalankan, sementara
mereka belum begitu memahami apa yang dituntutkan kepada
mereka. Tidak jarang mereka juga mendapatkan beberapa penilaian
tentang perilaku yang tidak berkenan. Penilaian dari orang-orang di
sekitarnya terutama orang dewasa dapat mempengaruhi konsep diri
siswa. Konsep diri yang buruk karena penilaian yang buruk akan
membuat siswa memiliki kekhawatiran akan hidup yang dijalani.
Mereka akan merasa tidak percaya diri karena memiliki konsep diri
yang buruk tentang perilaku dan hidupnya.
Tugas guru pembimbing saat menghadapi siswa yang
mengalami kekhawatiran dengan masa depannya adalah tetap
memberikan dukungan atas hal positif yang dilakukan oleh siswa,
membantu dan mendampingi siswa dalam proses perkembangan
yang sedang dijalani. Melalui cara tersebut siswa dapat menerima
apa yang sudah mereka lakukan karena orang lain tidak akan
“menyalahkan” perilaku mereka. Siswa akan merasa diterima oleh
orang lain karena perilakunya tidak dicap buruk. Siswa juga tidak
akan memiliki penilaian negatif atas dirinya sendiri yang
6. Saya adalah orang yang ramah
Sikap ramah adalah salah satu keterampilan sosial.
Keterampilan sosial dan penerimaan lingkungan adalah dua hal
yang saling berpengaruh satu sama lain. Siswa akan mendapat
penerimaan dari lingkungannya apabila ia terampil dalam
bersosialisasi dengan bersikap ramah. Sikap ramah siswa dapat
timbul apabila siswa merasa dirinya berharga untuk orang lain dan
lingkungannya, merasa percaya diri untuk bersosialisasi dan
mendapat penerimaan dari lingkungannya. Siswa dengan perasaan
harga diri yang rendah akan merasa tidak nyaman dengan
lingkungannya sehingga ia akan menarik diri dengan tidak bersikap
ramah terhadap lingkungannya tersebut.
Siswa perlu mempunyai keterampilan sosial. Tugas seorang
guru pembimbing adalah memberikan bimbingan kepada siswa
tentang cara-cara praktis bersikap ramah terhadap lingkungan di
sekitar agar mereka dapat lebih terampil kehidupan sosialnya.
Selain itu siswa juga hendaknya terus didampingi agar dapat
menemukan hal-hal positif dalam dirinya yang akan membuatnya
merasa percaya diri dan berharga untuk dapat berinteraksi dengan
orang lain.
7. Saya merasa kurang suka berada di lingkungan baru karena
Sebagai remaja, siswa memiliki kecenderungan untuk
memilih tempat yang dapat menerima dan menghargai dia.
Perasaan diterima dan dihargai di lingkungannya akan
menimbulkan perasaan aman sehingga siswa dapat membangun
konsep diri dengan baik. Lingkungan dapat menjadi ancaman bagi
siswa jika tidak sesuai dengan dirinya dan tidak dapat menerima
serta menghargai keberadaannya. Perpindahan ke suatu lingkungan
baru bagi remaja adalah hal yang menurutnya tidak mudah.
Perasaan takut tidak diterima dan tidak mendapat pengakuan dari
lingkungannya akan muncul. Bagi siswa yang memiliki konsep diri
yang baik, hal tersebut tidak akan menjadi kendala yang berarti
karena dengan penerimaan diri yang baik, ia akan mudah bergaul
dan membaur dengan lingkungan baru yang ditempatinya. Namun
bagi siswa yang tidak cukup memiliki penerimaan diri yang baik, ia
akan terus dibayangi rasa takut akan ancaman lingkungan baru,
ancaman tidak mendapat penerimaaan, penghargaan, dan
pengakuan.
Dalam hal ini guru pembimbing hendaknya menyadarkan
siswa bahwa kehidupan sosial akan terus berubah dan sangat luas.
Siswa harus mulai belajar untuk masuk ke kehidupan sosial mulai
dari sekarang, misalnya dengan menerima lingkungan baru yang
mungkin tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Kunci untuk
kepercayaan diri siswa untuk membawa diri dengan baik. Guru
pembimbing dapat memberikan informasi mengenai kehidupan
sosial agar pengetahuan siswa semakin bertambah dan
mempersiapkan diri siswa untuk masuk ke dalam dunia sosial yang
lebih luas lagi. Guru pembimbing juga perlu membimbing siswa
untuk dapat berinteraksi dengan orang lain.
8. Saya merasa bakat yang saya miliki bukan sesuatu yang
istimewa
Kebanggaan terhadap bakat dan membuat bakat tersebut
terasa istimewa dapat dirasakan siswa apabila siswa dapat
menunjukkan bakatnya pada orang lain. Sementara itu siswa tidak
dapat menunjukkan bakatnya jika dia tidak mengetahui dengan
baik bakat yang dimiliki. Siswa kurang mendapat sentuhan dalam
hal mengetahui bakat yang dimiliki karena tidak adanya pihak yang
membantu dalam pengungkapan bakat dan kemampuan yang
dimiliki. Hal ini dikarenakan tidak tersedianya tenaga profesional
bagi siswa untuk mengetahui bakat yang dimiliki setiap siswa. Jika
siswa tidak dengan baik mengetahui bakat dan kemampuan yang
dimiliki, dia juga tidak dapat mengasah bakat yang dimiliki dengan
baik. Pada akhirnya siswa merasa bahwa bakat yang ada dalam
dirinya bukanlah sesuatu yang istimewa. Konsep diri siswa
terhadap potensi dan kemampuan yang dimiliki pun akan kurang