SEMINAR PENGARUH PEMBERIAN ISCHEMIC COMPRESSION DAN
CONTRAC RELAX STRETCHING TERHADAP INTENSITAS NYERI
PADA MYOFASCIAL TRIGGER POINT OTOT UPPER TRAPEZIUS
DI RSUD DELI SERDANG
Isidorus Jehaman1*, Shubhan Ahmad2, Sondang Tiolena Siahaan3
1Program Studi Fisioterapi, Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
2Program Studi Fisioterapi, Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
3Program Studi Fisioterapi, Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
Jln. Sudirman No.38 Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang,
Sumatera Utara – Indonesia
*email korespondensi author: Abstrak
Myofacial Trigger Point syndrome merupakan suatu titik nyeri yang hipersensitif pada bagian otot dan fascia yang menegang yang dapat menimbulkan nyeri setempat jika ditekan akan memberikan nyeri yang spesifik, dan otot yang paling banyak mengalami nyeri myofascial trigger point syndrome adalah otot upper trapezius. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan bahwa ada Pengaruh pemberian ischemic compression dan contract relax stretching terhadap intensitas nyeri myofascial trigger point syndrome otot upper trapezius. Ischemic compression merupakan teknik manual terapi yang bekerja dengan prinsip menerapkan tekanan berkelanjutan pada trigger point secara bertahap dengan menggunakkan ibu jari tetapi tidak melebihi toleransi pasien. Contract relax stretching
merupakan kombinasi kontraksi tipe isometrik dan stretching pasif Fisioterapis harus
memiliki kemampuan dalam membantu mengatasi nyeri myofascial trigger point syndrome khususnya daerah otot upper trapezius.
Kata kunci: Pengetahuan; ischemic compression; contract relax stretching; Nyeri; myofascial trigger point otot upper trapezius
Abstract
Myofacial Trigger Point syndrome was a hypersensitive pain point in the tightened part of the muscle and fascia which could caused local pain if pressed to provide specific pain, and the muscle that experiences the most myofascial trigger point syndrome pain were the upper trapezius muscle. Based on the results of the research that has been done, it was found that there was an effect of giving ischemic compression and contract relax stretching on the intensity of myofascial trigger point syndrome pain in the upper trapezius muscle. Ischemic compression was a manual therapy technique that works on the principle of applying continuous pressure to the trigger point gradually by using the thumb but does not exceed the patient's tolerance. Contract relax stretching was a combination of isometric type contractions and passive stretching. The physiotherapist must have the ability to help overcome the pain of myofascial trigger point syndrome, especially the upper trapezius muscle area.
Keywords: Knowledge; ischemic compression; contract relax stretching; pain; myofascial trigger point upper trapezius muscle
1.Pendahuluan
Penggunaan teknologi maju sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia secara luas. Disamping
memberi kemudahan bagi proses
produksi, dan memudahkan untuk melakukan pekerjaan terutama pada pekerja administrasi yang setiap harinya berada di depan komputer. Dibalik itu tentunya juga akan menimbulkan dan
memiliki efek samping akibat
penggunaan komputer dan jam kerja yang tidak terkendali sehingga dapat mengakibatkan nyeri pada bagian leher
(musculoskeletal). Nyeri
musculsokeletal di leher merupakan masalah kesehatan pada masyarakat yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Seperti halnya pada pekerja
administrasi yang bekerja didepan komputer, dimana dalam melakukan pekerjaan mengetik memerlukan waktu yang lama didepan komputer dengan
posisi statik dan overload. Posisi tubuh
yang sering membungkuk, Posisi leher lebih condong kedepan, posisi keyboard berada dibawah yang menyebabkan posisi siku tidak tersanggah, fleksi pada
leher, mengakibatkan otot leher
menahan bahu. Tanpa disadari para pekerja yang cenderung berada didepan komputer sering melakukan aktifitas seperti itu dalam waktu yang cukup lama sehingga terjadi kontraksi yang terus menerus pada otot yang akan menyebabkan terjadinya keluhan nyeri musculoskeletal pada bagian leher (Makmuriyah et al, 2013).
Berdasarkan data World Health
Organization (WHO) tahun 2014 melaporkan bahwa gangguan otot
rangka (musculoskeletal disorder)
adalah penyakit akibat kerja yang paling
banyak terjadi dan diperkirakan
mencapai 60% dari semua penyakit akibat kerja. Terbukti dari hasil survei di Amerika Serikat didapatkan fakta bahwa rata-rata waktu kerja yang digunakan untuk bekerja dengan komputer adalah 5,8 jam per hari atau 69% dari total jam kerja merekadan angka kejadian yang lebih tinggi tercatat pada pegawai kantoran yang banyak menggunakan
komputer serta usia yang produktif (Prianthara, 2014).
Menurut Globan Burden pada
tahun 2010 di Amerika serikat
menganalisis bahwa didapati nyeri pada bagian leher menempati peringkat ke-4. Nyeri leher dalam waktu satu tahun berkisar antara 10,4% sampai 23,3%.
Prevalensi berkisar antara 0.4%
menjadi 86,8% (Hoy et al, 2010).
Di Canada, sebanyak 54% dari total penduduk pernah mengalami nyeri didaerah leher. Dan menurut studi yang dilakukan terhadap 9.482 pekerja di 12
kabupaten atau kota di
Indonesia,penyakit yang pada
umumnya diderita berupa penyakit muskuloskeletal (16%), gangguan saraf
(6%), dan dari hasil penelitian
ditemukan sebanyak 52,6% masyarakat
di dunia mengalami myofascial trigger
point pada bagian otot upper trapeziusnya (Samara, 2007).
Prevalensi angka kejadian
myofascial trigger point syndrome cukup tinggi pada pengguna komputer, hal ini dibuktikan oleh penelitian yang
dilakukan (Ravi Chandra, 2016),
diperkirakam kejadian nyeri leher dalam waktu 1 tahun berkisar dari 10,4% meningkat menjadi 23,3% prevalensi berkisar dari 0,4% menjadi 86,8% (Atmadja, 2016).
Di Indonesia sendiri hasil
penelitian yang khusus tentang kejadian myofascial trigger point syndrome
terhadap pekerja kantorbelum
selengkap seperti yang dijelaskan di atas, karena kebanyakan pengguna komputer di Indonesia menganggap
bahwa nyeri di daerah otot upper
trapezius hanya kelelahan biasa dan akan hilang dengan sendirinya. Namun secara patologi kondisi tersebut apabila tidak ditangani akan menimbulkan kekakuan dan penurunan fleksibilitas otot bahkan bisa menjadi penyebab
utama terjadinya myofascial pain
syndrome yang bersifat yang kronik. Hal ini juga yang mendasari penulis untuk meneliti lebih lanjut tentang nyeri myofascial trigger point syndrome khususnya daerah otot upper trapezius. Myofascial trigger point (MTrPs) merupakan suatu titik nyeri yang hipersensitif pada bagian otot dan
fascia, dan otot yang paling banyak
mengalami nyeri myofascial trigger
point adalah otot upper trapezius (Ravichandran et al, 2016).
Adapun pendekatan yang
dilakukan untuk menangani kasus myofascial trigger point syndrome upper trapezius ini adalah dengan fisioterapi. Salah satu Intervensi yang dilakukan
Fisioterapi adalah teknik ischemic
compression dan contract relax stretching dengan tujuan untuk
mengurangi nyeri pada myofascial
trigger point syndrome otot upper trapezius.
Ischemic compression merupakan teknik manual terapi yang bekerja dengan prinsip menerapkan tekanan berkelanjutan pada trigger point secara bertahap dengan menggunakkan ibu jari tetapi tidak melebihi toleransi pasien (Kulkarni, S, et al, 2017).
Dalam penelitian Babu, V, et al,
(2016), “Pengaruh Perbandingan Hold Relax VS Ischemic Compression Technique Terhadap Myofacial Trigger Point Upper Trapezius”. Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa teknik hold
relax dan teknik kompresi ischemic secara statistik dan secara klinis
berpengaruh signifikan terhadap
penurunan nyeri, ambang nyeri
tekanan, dan rentang fleksi lateral leher
untuk subjek dengan trapezius
myofascial triger point (TrP2). Contract relax stretching merupakan kombinasi
kontraksi tipe isometrik dan stretching
pasif (Konrad, 2017).
Dari hasil penelitian Morcelli et al. (2013) bahwa terdapat perbedaan
antara ballistic stretching, contract
relaxstretching, dan static stretching
dengan signifikansi antara ballistic dan
contract relax stretching relatif sama
sehingga lebih efektif dalam
pengurangan nyeri dan lebih baik
daripada static stretching dalam
meningkatkan fleksibilitas otot.
Pelaksanaan kegiatan ini
diharapkan mampu meningkatkan
pengetahuan fisioterapis sehingga
membantu mengatasi nyeri myofascial
trigger point syndrome khususnya daerah otot upper trapezius.
2.Metode
Kegiatan pengabdian ini
menggunakan metode ceramah, Tanya
jawab dan demonstrasi. Dalam
memberikan materi menggunakan
metode ceramah tentang teknik
ischemic compression dan contract relax stretching serta nyeri myofascial trigger point syndrome otot upper
trapezius. Langkah-langkah yang
digunakan dalam pelaksanaan
pengabdian ini adalah sebagai berikut
1. Langkah 1
Pengabdi melakukan proses
perijinan di RSUD Deli Serdang dengan membawa surat tugas dari Ketua LPPM Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
2. Langkah 2
Pengabdi melakukan sosialisasi terkait kegiatan pengabdian kepada fisioterapis
3. Langkah 3
Pengabdi melakukan skrining
pengetahuan dan kemampuan
tentang penatalaksanaan nyeri
myofascial trigger point syndrome khususnya daerah otot upper trapezius.
4. Langkah 4
Pengabdi dan peserta melakukan
simulasi tentang tehnik ischemic
compression dan contract relax stretching dalam mengatasi nyeri myofascial trigger point syndrome otot upper trapezius.
5. Langkah 5
Pengabdi melakukan evaluasi proses dan bertanya kepada peserta
6. Langkah 6
Pengabdi memberikan rencana dan program tindak lanjut kepada kepala ruangan
3.Hasil dan Pembahasan
Kegiatan pengabdian pada
masyarakat ini dilakukan untuk
meningkatkan pengetahuan fisioterapis
dalam mengatasi nyeri myofascial
trigger point syndrome otot upper trapezius.
Secara garis besar hasil kegiatan yang telah tercapai dalam pengabdian masyarakat ini adalah sebagai berikut:
diterima dan dapat dipahami, serta mendapat respon dari peserta yang
ditandai dengan adanya
pertanyaan-pertanyaan yang
muncul
2. Secara umum peserta memahami
dan mampu mengaplikasikan
teknik ischemic compression dan
contract relax stretching dalam
mengatasi nyeri myofascial trigger
point syndrome otot upper trapezius.
Kegiatan pengabdian masyarakat di RSUD Deli Serdang mendapatkan respon baik dari fisioterapis dengan sangat antusias. Secara umum hasil pengabdian meliputi beberapa aspek pencapaian yaitu :
1. Ketercapaian tujuan kegiatan
Ketercapaian tujuan kegiatan
pengabdian masyarakat tentang
peningkatan kemampuan
fisioterapis dalam memahami
penggunaan teknik ischemic
compression dan contract relax stretching dalam mengatasi nyeri myofascial trigger point syndrome otot upper trapezius dengan benar sudah baik, semua persiapan dan materi yang direncanakan dapat tersampaikan dan didukung dengan
hasil pembuktian evidence based
yang dilakukan pengabdi secara langsung.
2. Ketercapaian target materi yang
direncanakan
Ketercapaian target materi pada kegiatan pengabdian masyarakat ini baik, karena materi telah dapat
disampaikan secara keseluruhan.
3. Kemampuan peserta dalam
menguasai materi
Kemampuan peserta dilihat dari pemahaman penggunaan teknik ischemic compression dan contract relax stretching dalam mengatasi
nyeri myofascial trigger point
syndrome otot upper trapezius. Pelaksanaan kegiatan pengabdian
pada masyarakat terdapat faktor
pendukung dan penghambat kegiatan pengabdian pada masyarakat
1. Faktor pendukung
a. Adanya dukungan baik dari pihak
Rumah sakit serta fisioterapis
dalam pelaksanaan kegiatan
sosilaisasi penggunaan teknik ischemic compression dan contract relax stretching dalam
mengatasi nyeri myofascial
trigger point syndrome otot upper trapezius
b. Tersedianya sarana dan
prasarana yang memadai
2. Faktor penghambat
Dalam pelaksanaan kegiatan
evaluasi tidak dapat dilakukan untuk pendampingan fisioterapis secara langsung kepada pasien
sehubungan dengan situasi
pandemi covid-19 yang
memberikan ruang yang terbatas dalam pemberian informasi secara luas.
4. Kesimpulan
Pelaksanaan pengabdian
masyarakat dalam rangka
meningkatkan kemampuan fisioterapis rumah sakit dalam mengatasi nyeri myofascial trigger point syndrome otot upper trapezius dapat disimpulkan berhasil sampai tahap kemampuan untuk mengaplikasikan. Keberhasilan ini ditunjukkan antara lain:
a. Adanya kesesuaian materi dalam
mengatasi masalah di Rumah sakit dimana mayoritas pasien tidak mampu menahan nyeri,
b. Adanya respon yang positif dari
peserta yang ditunjukkan dengan pertanyaan dan tanggapan yang diberikan selama pengabdian
c. Sebagian besar (97%) peserta
mengalami peningkatan nilai post test dibandingkan dengan nilai pre test.
Kelebihan dari kegiatan ini dapat memenuhi kebutuhan rumah sakit akan
informasi mengenai teknik yang
dibutuhkan fisioterapis dalam mengatasi nyeri myofascial trigger point syndrome
otot upper trapezius. Sedangkan
kekurangan dari kegiatan ini adalah keterbatasan yang disebabkan karena
pandemi covid-19 sehingga ada
keterbatasan waktu dan jumlah peserta. Untuk kedepannya diharapkan dapat dilakukan kegiatan yang dilakukan dalam beberapa sesi untuk dapat
menjangkau lebih banyak peserta.
5.Ucapan Terima Kasih
Pengabdi menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
a. Lembaga Penelitian dan Pengabdian
Kepada Masyarakat (LPPM) Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
b. Direktur RSUD Deli Serdang
6. Daftar Pustaka
Atmadja, Andika Surya. (2016).
Sindrom Nyeri Myofasial. CDK, 43(3), 176-179.
Babu, V.K. 2016. Comperative Effect
Betwen Hold Relax Versus Ischemic Compression Techniques On Upper Trapezius Myofascial Trigger Point. International Journal of Medical and Exercise Science. Vol 2. No 1. Hal 106-117.
Hoy D, Brooks P, Blyth F, Buchbinder R.
2010. The epidemiology of Neck
Pain. Best Pract Res Clin Rheumatol 24: 769-81.
Kulkarni, S A. (2017). Effectiveness Of
Ischemic Compression v/s Myofascial Release on Myofascial Trigger Point Otot Upper Trapezius. Int. J. Of Allied Med. Sci. And Clin. Research Vol-5(1) [209-216]
Konrad, A., Stafilids, S., & Tilp, M. (2017). Effects of acute static, ballistic, and PNF stretching exercise on the tendon tissue properties. Scandinavian Journal of Medicine & Science in Sports, 27(10)
Makmuriyah dan Sgijanto. (2013). Iontophoresis Diclofenac Lebih Efectif di Bandingkan Ultrasound Terhadap Pengurang Nyeri. Pada Myofacial Syndrome Musculus Upper Trapezius.Jurnal Fisioterapi. Vo; 13 (1):17-32.
Morcelli, MH., Oliveira, JMCA., &
Navega, MT. 2013. Comparison of
Static, Ballistic and Contract Relax Stretching in Hamstring Muscle.
Fisioterapia Pesquisa, 20 (3): 244-249.
Priantara, M. D. Winaya, M. N. dan
Muliarta, M. (2015). Kombinasi
Strain Conterstraindan Infrared Sama Baik Dengan Kombinasi Contrax Relax Strecthing dan Infrared Terhadap Penurunan Nyeri Myofacial Pain syndrome Otot Upper Trapezius pada Mahasiswa Fisioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dalam OJS. Unud.ac.id.