BAB 148.
KEBIDJAKSANAAN DALAM LAPANGAN PRODUKSI.
Dalam bidang produksi Pemerintah menentukan kebidjaksanaan diantaranja:
§ 1807. Pertamatama merobah kesadaran rakjat dan iklim ekonomi sedemikian, hingga perhatian, minat dan daja kerdja rakjat dipusatkan pada bidang produksi.
Pada waktu dahulu djiwa liberalisme mengusai ekonomi Indonesia, baik dalam sektor partikulir maupun Pemerintah, dengan akibatakibatnja jang mejebahkan banjak modal dan skill nasional terhambur.
Pemenuhan kebutuhan rakjat banjak disabotir oleh tindakantindakan spekulasi dan manipulasi ,dalam sektor perdagangan.
§ 1808. Untuk memperbaiki iklim bagi penambahan produksi Pemerin tah akan mendjamin diantaranja adanja:
a. kebidjaksanaan perkreditan jang lebih progresip untuk usahausaha jang sesuai dengan kebidjaksanaan Pemerintah, terutama dibidang produksi. b. mempergiat pendidikan skill dan penarikan pindjaman modal mau
pun tenaga ahli dari Luar Negeri — asalkan tidak dalam pimpinan. c. kontinuitet dan kelantjaran pemasukan bahan baku.
d. penghargaan jang chusus dan pemberian djasa terhadap inisiatip dan prestasi luarbiasa dalam sektor produksi.
e. adanja sistim pendidikan jang mengutamakan kedjuruan dan ke ahlian jang menghasilkan tenaga untuk sektor produksi.
BAHAN.MAKANAN POKOK
§ 1809. Beras, djagung, ketela pohon dan ketela rambat.. Didasarkan atas pemakaian carbohydrat sebanjak 160 kg. tiap djiwa tiap tahun maka djumlah hasil dari bahan makanan jang mengandung carbohydrat disebut diatas telah mentjukupi. Akan tetapi harus diingat bahwa basil ini tidak tersedia merata sepandjang tahun dan disamping itu pengangkutan dari dae rah surplus kedaerah minus belum begitu lantjar seperti jang diharapkan.
Andaikata hasil tadi dapat tersedia, merata sepandjang tahun sedang pengangkutan dari daerah surplus kedaerah minus tidak menemui kesu karan, toch keadaan tadi akan belum djuga, oleh karena dari 160 kg. tadi jang berupa beras dibawah keinginan rakjat.
§ 1810. Produksi beras dan bahan makanan carbohydrat lainnja. Tahun Beras Djagung Ketela pohon/rambat Djumlah
Ribuan ton djagung dan ketela pohon/rambat dinilai beras 1955 7.217 1.882 11.246 x 30% 12.472 000 ton 1956 7.309 1.965 11.709 X 30% 12.804 ribu 1957 7.338 1.860 12.771 x 30% 13.105
1958 7.554 2.618 13.790 x 30% 14.309 1959 8.097 2.766 14.141 x 30% 15.105
Angkaangka tahun 1958 adalah angkaangka sementara dan angka angka tahun 1959 adalah taksiran.
Mengenai beras dapat dikemukakan bahwa pemakaian bahan ini dimanamana terus naik. Hal ini disebabkan tidak sadja oleh karena tam bahan penduduk, tetapi djuga oleh karena pemakaian tiap2 djiwa ber tambah, selandjutnja oleh karena didaerahdaerah dimana tadinja rakjat nja biasanja tidak makan beras, sekarang beras ini merupakan bagian dari pada menu mereka.
Demikianlah; djika diwaktu sebelum perang tiaptiap djiwa ratarata memakai kira2 84 kg. beras setahun, maka ditahuntahun belakangan ini
§ 1812. Mengenai sub b terutama jang berhubungan dengan ketela pohon tidak akan membawa kesukarankesukaran sebagai halnja dengan beras. Kemungkinan memperbanjak basil bahan ini masih sangat luas sekali dan berhubung dengan apa jang dikemukakan tadi hendaknja usaha menambah basil ini selalu mendapat perhatian sepenuhnja, akan tetapi dalam pada itu hendaknja djuga diperhatikan pula pasaran untuk kele bihan dari pemakaian oleh petani sendiri.
Mengenai beras, penambahan produksi dalam garis besarnja dapat didjalankan dalam dua tjara:
Sedjak tahun 1958 Pemerintah telah mengadakan gerakan jang di namakan „intensifikasimassal”. Tudjuan pokok dari gerakan tersebut ialah: (a) memperbaiki saluransaluran pengairan desa; (b) memperluas pemakaian bibit unggul; (c) menambah pemakaian pupuk; (d) pem berantasan hama dan penjakit; (e) menjelenggarakan perlombaan.
Gerakan ini meliputi seluruh wilajah Indonesia, dilakukan setjara serentak dan dibiajai setjara tambahan.
Dalam tahun 1958 untuk intensifikasi massal ini disediakan biaja se besar Rp. 76 djuta, dengan harapan kenaikan produksi sebesar: beras = 342.000 ton; djagung = 190.000 ton; dan ketela pohon/rambat = 330.000 ton (nilai beras) atau totaal 862.000 ton nilai beras.
djagung = 758.000 ton (+ 400% rentjana),
(a) menjediakan kredit terpimpin, jang berarti: kepada kaum tani pro duksi diberi kredit berupa uang dan alatalat beserta bahanbahan untuk keperluan mempertinggi produksi (pupuk, bibit unggul, obat obatan untuk memberantas penjakit/hania, alatalat pertanian). Maka dengan demikian ditimbulkan suatu ,,Productief effect jan pasti daripada kredit jang diberi. Dahulu kredit diberi berupa uang dan uang tersebut dapat dipergunakan untuk keperluankeperluan lain (pesta, djudi, dan lainlain).
Pula dalam sistim pemberian kredit dimasa jang lalu dibutuhkan djaminan physik dari pada petani jang terlalu sexing tak mampu mem berikannja maka sekarang pemberian kredit didasarkan atas keper tjajaan dan pengembaliannja dilaksanakan dengan sebagian dari tam bahan produksinja.
(b) ikut mendjamin pemasukan padi pada Pemerintah jang diperlukan untuk distribusi ke daerahdaerah minus.
(c) PadiCentra mengganti peranan penggilingan padi (petani sebagai produsen diusahakan turut dalam kegiatan marketing, agar lebih terdjamin kehidupan sosialnja.
§ 1813. Gambaran perkembangan systim PadiCentra adalah sebagai berikut:
a. Tahun 1958/1959 — 10 P.C. a 1.000 Ha = 10.000 Ha, b. Tahun 1959/1960 — 42 P.C. a 2.500 Ha = 100.000 Ha, c. Tahun 1960/1961 — 125 P.C. a 4.000 Ha = 500.000 Ha, d. Tahun 1961/1962 — 500 P.C. a 6.000 Ha = 3000.000 Ha,
Dengan adanja PadiCentra diharapkan kenaikan produksi rata rata 10 kwintal padi keying per ha.
Tambahan penerimaan jang dikuasai Pemerintah adalah + 6 kwin tal padi kering per Ha, sehingga penerimaan padi oleh Pemerintah ber tambah dalam:
§ 1814 Adapun projekprojek irrigasi antara lain ialah:
Penjelesaian dalam tahun
Projek 1959 1960 1961 1962 1963
1. WAY SEPUTIH
— — + 2000 ha + 8000 ha 5000 ha
2. BATANGHARI/
— + 1000 ha +2000 ha + 2600 ha —
4. PUNGGUR UTARA
+ 1000 ha + 3000 ha +7000 ha + 2000 ha —
Penjelesaian dalam tahun
Projek 1959 1960 1961 1962 1963
6.TJISADANE BA RAT
+5200 ha +4800 ha +2000 ha — —
Tahun 1959/19
60 100.000 x 6 Kw = 600.000 Kw= 60.000ton Tahun 1960/19
61 500.000 x 6 Kw = 3.000.000 Kw= 300.000ton Tahun 1961/19 3000.000 x 6 Kw18.000.000 Kw 1.800.000 ton Produksi beras seluruhnja dari sawah dan ladang:
Dalam program djangka pendek, usaha Pemerintah selain intensi fikasi massal dan padi centra tersebut diatas djuga meliputi usahausaha memperluas areal irrigasi.
Dapat djuga diterangkan bahwa dalam projek djangka pandjang Dja tiluhur terdapat usahausaha djangka pendek jang berupa irrigasi sedang dan ketjil.
Dengan djalan djangka pendek tersebut diatas, diharapkan dalam tahun 1962 sudah dapat tertjapai selfsupporting beras, sehingga kemudian tidak perlu lagi kita kepada beras dari luar negeri. Ketjuali projek2 djang ka pendek Pemerintah melandjutkan projek2 djangka pandjang jang telah ada jaitu antara lain:
a. Kanalisasi b. mechanisasi rice farming.
a. Projek kanalisasi daerah pasangsurut di Kalimantan dan Sumatera. Tu djuan kanalisasi ini ialah untuk membuka persawahan baru didaerah rawa dengan djalan menggali saluran jang menghubungkan daerah ini dengan sungai besar jang keadaan perairannja dipengaruhi oleh pasangsurut laut. Karena permukaan air didalam saluran itu ikut serta turunnaik dengan pasangsurut laut, maka zatzat asam jang terkandung dalam rawarawa itu mengalir keluar. Tanahtanah rawa ini seolaholah ditju tji dan dibersihkan dari pada zat itu, sehingga setelah 2 tahun lamanja tanahtanah itu mendjadi subur dan dapat ditanami padi. Berdasarkan prinsip terurai diatas, sistim kanalisasi ini terdiri atas sebuah saluran in duk jang menghubungkan dua sungai besar; pads tiaptiap 5 km saluran induk digalilah dikirikanannja saluransaluran sekonder masing2 5 km pandjangnja, sedangkan dikirikanannja saluran sekonder ini pada tiap tiap 200 meter digali pula saluransaluran tcrsier, jang menghubungkan saluran sekonder ini dengan tanahtanah jang akan didjadikan persawa han baru. Dengan demikian maka pada tiaptiap satu kilometer saluran induk itu terbukalah kemungkinan untuk pembukaan persawahan baru seluas 1.000 ha dikirikanan saluran induk. Karena letaknja dasar salu ran, baik saluran induk maupun saluran sekonder, dibawah permukaan air surut, maka penggalian saluransaluran ini dikerdjakan dengan kapal keruk (cutterdregge). Menurut rentjana semula jang kasar sekali, di Kalimantan akan digali saluran induk antara Bandjarmasin dan Pontia nak sepandjang 760 km dan di Sumatera antara Palembang dan Tandjung balai sepandjang 840 km. Daripada rentjana ini baru dapat diselidiki dan diukur „traceenja” antara Bandjarmasin dan Sampit di Kalimantan
dan di Sumatera antara Palembang dan sungai Batanghari ditimurnja Djambi. Pada awal tahun 1958 dengan kapalkapal keruk jang telah ada digali 3 seksi daripada saluran induk tersebut, di Kalimantan, jaitu:
1. daripada seksi Kapuas/Kahajan sepandjang 24 km dari djurusan Bosarang dan Mintin.
2. daripada seksi Kahajan/Sebangau sepandjang 60 km dari djurusan Mintin dan Sebangau;
3. daripada seksi Sebangau/Sampit sepandjang 66 km dari djurusan Sebangau dan Sampit.
Pada pertengahan tahun 1959 pandjangnja saluran induk jang telah digali ketiga seksi itu baru berdjumlah 12,65 km. Karma hasil ini tidak be gitu memuaskan, maka pada awal tahun 1958 dipesan 45 buah kapal ke ruk baru. Menurut perkiraan, kapal keruk,baru itu, jang mempunjai kapa sitet mengeruk sebanjak .180 ms/sedjam dalam tanah biasa, dapat meng gali saluran induk itu sepandjang satu kilometer dalam waktu satu bulan sehingga penggalian ketiga seksi tersebut diatas jang pandjangnja sedjumlah 150 km dengan mempergunakan 6 keruk, dapat diselesaikan dalam waktu 25 bulan. Di Sumatera belum dimulai dengan penggalian saluran, karena tracenja masih harus diselidiki dan diukur, pekerdjaan mana pada achir tahun 1959 diharapkan selesai.
§ 1815. PROJEK DJATILUHUR:
Projek Djatiluhur merupakan projek serbaguna (Multipurpose) dengan tudjuan:
a. Pembangkitan tenaga listrik dengan daja terpasang 6 x 25.000 kw. = 150.000 kw. hour.
b. Pengairan dalam musim kemarau dapat memberi air kepada daerah Irigasi seluas 240.000 ha, jang berarti penambahan produksi beras dengan lebih kurang 300.000 ton.
c. Pentjegahan bandjir K. Tjitarum bagi daerah Krawang.
d. Perikanan darat, jang dapat menghasilkan 800 ton ikan setahun e. Pari wisata (toerisme).
Rentjana biajanja seluruhnja meliputi Rp. 5 miljard, termasuk $ 87 djuta. Hingga achir tahun 1959 dapat diselesaikan beberapa .pekerdjaan per siapan dan pekerdjaan dasar. jang terpenting ialah:
a. Pembuatan terowongan (tunnel) untuk menjalurkan air Tjitarum b. selama dilakukan pembangunan bendungan.
c. pembuatan dasar (pondamen) untuk menara pusat tenaga listrik. d. saluran pembuangan air dari turbine.
Oleh Pemerintah telah diputuskan untuk memilih alatalat elektro mekanik dari gabungan ItaliPerantjis, jang sementara terdiri dari 5 units turbines dan generatoren. .
Tingkat pekerdjaan selandjutnja ialah pembangunan dam induk dan pembangunan menara pusat tenaga listrik. Untuk pekerdjaan ini telah masuk hasilhasil penawaran pemborongan dan dalam waktu singkat akan diambil keputusan.
Dalam tahun 1960, ketjuali akan melandjutkan pekerdjaanpeker djaan tersebut diatas, djuga akan dimulai dengan pembangunan dam induk. Dalam tahun 1960 projek Djatiluhur belum menghasilkan tenaga listrik. Unit pertama berketenagaan 25.000 kw. akan mulai djalan pada media tahun 1963.
Mengenai pekerdjaan dibidang pengairan dalam rangka projek ini, dapat diterangkan bahwa hingga achir tahun 1959 baru dilakukan peker djaanpekerdjaan persiapan, jakni pengukuranpengukuran dan peren tjanaan.
Untuk tahun 1960 pekerdjaan dalam bidang pengairan terdiri dari: a. Pelandjutan pekerdjaan persiapanpersiapan termaksud diatas; b. mulai pelaksanaan.
Dalam tahun 1960 pekerdjaan pengairan belum memberi hasil. Baru dalam tahun 1962 pekerdjaan tersebut mulai menghasilkan, jakni tam bahan 60.000 ha. jang dapat diberi air dalam musim kemarau, dan dapat menghasilkan produksi beras I. k. 66.000 ton.
Dalam tahun 1963 pekerdjaan pengairan diharapkan akan selesai. Seperti telah disinggung dimuka didapat daerah persawahan seluas 240.000 ha jang setahun terusmenerus dapat diairi dan pada tingkat ini akan di peroleh tambahan produksi beras sebesar 1.k. 300.000 ton.
Untuk melaksanakan ini maka antara waduk Djatiluhur dan „water yang” harus dibangun sehuah watervang lagi di '1'jitarum dekat kampung Tjurug, jang akan membagikan air kedjurusan Barat, Walahar dan Timur; selain daripada itu kedjurusan Barat dan Timur harus diganti saluran in duk, jang pandjangnja masingmasing 68.dan70. kilometer. Selain dari pada bendungan di Tjurug, masih diperlukan lagi bagian Barat bendungan Tjibeet, Tjikarang dan Bekasi (ini telah hampir selesai dibangun) dan di bagian Timur bendungan Tjiasem; disamping bangunanbangunan jang besar itu masih dibutuhkan pula beherapa bangunanbangunan lain da lam pelintasan saluran induk dengan djalanan sungaisungai. Rentjana pengairan jang besar ini pada waktu sekarang sedang dalam penjusunan, berdasarkan hasilhasil pengukuran „traacee” dan penjelidikan tanah.
Setelah selesai dilaksanakannja rentjana ini, maka dengan sistim go longan ditiaptiap daerah pengairan terbukalah kemungkinan untuk tiap tiap tahun mendapatkan 2 panen, sehingga diharapkan akan tambahan produksi beras sebanjak tersebut diatas.
§ 1816. PEMBUKAAN TANAH KERING.
Pembukaan tanah kering setjara besarbesaran setjara mekanis (pro jek beras) mempunjai 2 fungsi:
a. menahan erosi.
b. Penambahan areal jang berarti penambahan produksi.
Pembukaan tanah kering didaerahdaerah Sumatera Timur, Sumatera Sclatan dan Kalimantan Selatan masih dalam taraf permulaan, sehingga belum menggambarkan aktivitet penuh.
Pembukaan tanah kering ini bisa dipergunakan untuk multipurpose — projek jaitu:
1. beras,
2. chewan (susu, daging, telor), 3. palawidja.
Sudah pada tempatnja, bahwa Saudarasaudara ikut memikirkan hal ini. Irigasi sedang/ketjil tambah ± 0,1 „ „ Djatiluhur ± 0,3 „ „ Djawatan Pertanian Rakjat. Ketjuali itu perluasan tanah pertanian seperti tadi dikemukakan akan mengakibatkan djuga tambahnja pro duksi ini.
b. Mengenai katjangkatjangan lainnja; sajursajuran danbuahbuahan perlu dikemukakan disini peranan dari pekarangan. Luas pekarangan
Perlu ditambahkan disini bahwa mengenai sajursajuran usaha mempertinggi hasilnja ketjuali dipekarangan djuga didjalankan disa *ah dan tegalan.
Didalam kesemua usahausaha tadi perlu dikemukakan faktorfaktor berikut :
1. ,,Veredeling" dan seleksi dari padi, djagung, buahbuahan, sajursa juran terns dikerdjakan. Hasil seleksi djagung antara lain ialah djenis Metro dan djenis perla. Hasil seleksi padi jang sudah ditest ialah dje nisdjenis Bangawan, Djelita, Si Gadis, dan Remadja.
Djenisdjenis Bengawan dan Si Gadis telah disiarkan setjara besar besaran. Perlu dikemukakan disini bahwa soal seleksi ini masih mem
2. Kekurangankekurangan dilapangan pengangkutan pada umumnja djuga mempengaruhi djeleknja produksi.
3. Pada umumnja, dibandingkan dengan sebelum perang, maka petani sekarang adalah djauh lebih dynamic. Djika sebelum perang sukar untuk memasukkan' (introduceeren) tjaratjara baru, alatalat baru dan lainlain maka sekarang terdapat sebaliknja.
4. Alatalat, bahanbahan• dan lainlain inilah, pula modal jang sering mendjadi bottle neck untuk petani. Padi centra, seperti diuraikan tadi, dibentuk djustru dengan maksud supaja halhal tadi tepat pada waktunja diterima oleh petani, setjara kredit.
5. Provessing dan marketting dalam pertanian rakjat merupakan suatu mata rantai jang lemah. Hingga sekarang jang mendjadi pokok ialah penggilingan padi dan perdagangan beras, sedangkan petaniprodusen hanja merupakan verlengstuk sadja dari penggilingan dan perdagangan tadi. Usaha menjehatkan hal ini sudah dimulai, diantara lain direntja nakan didalam tiap Padi Centra satu penggilingan padi.
Tadi dikemukakan bahwa sebagian terbesar dari petani adalah ter lalu melarat sehingga mereka tidak dapat mengikuti adjakan Pemerintah untuk menggunakan alatalat dan tjaratjara modern. Mereka melarat oleh karena tidak dapat menggunakan alatalat dan tjaratjara modern, akan tetapi sebaliknja oleh karena mereka tidak dapat menggunakan alat alat tjaratjara modern mereka akan tetap melarat. Djustru untuk dapat menerobos hal tadi itu diadakan systim Padi Centra sehingga dengan de mikian petani dapat mengerdjakan tanahnja dengan alatalat dan tjara tjara jang lebih modern.
Direntjanakan supaja achirnja pemerintah dapat menjerahkan Padi Centra itu kepada koperasikoperasi tani, sehingga petani dapat menger djakan satu dan lain sendiri setjara gotongrojong.
Untuk mengikuti keinginan masjarakat tani, djumlah achliachli kita adalah djauh tidak seimbang dibanding dengan tugas jang dihadapinja. Oleh karena itu masih harus banjak tenaga dan pikiran dipusatkan terha dap pendidikan, kader dilapangan ini.
KECHEWANAN: DAGING, TELOR DAN SUSU. § 1817. Keadaan sekarang.
Tentang persoalan kebutuhan protein, Dewan Bahan Makanan da lam Sidangnja pada tanggal 4 Mei 1959 antaranja telah memutuskan, bahwa sebagai startingpoint untuk memenuhi kebutuhan akan protein, per capita sehari harus tersedia 60 gram (45 gram protein nabati dan 15 gram protein chewan).
Berdasarkan atas pedoman tersebut, dan mengingat akan imbangan antara produksi kechewanan dan perikanan pada saat sekarang berperban dingan 49 : 51, maka dalam bidang kechewanan harus dapat disediakan 49% dari 15 gram, jaitu: ± 7½ gram.
Ini berarti bahwa untuk penduduk jang 85 djuta djumlahnja dalam tahun 1957 dibutuhkan ±,226.000 ton animal protein.
Disamping itu produksi dalam tahun 1957 itu baru berdjumlah ± 134.000 ton, sehingga masih kekurangan 94.000 ton atau 42%.
Adapun sebab2 kurangnja produksi animal protein tersebut diatas ialah:
a. Peternakan rakjat pada umumnja didjalankan sebagian besar ditanah Djawa, berhubung dengan kebutuhan ternak pembadjak (eleegve). Mengingat akan sangat padatnja penduduk di pulau Djawa dan sangat ketjilnja grondbezitsvorm, maka potensi memperbanjak djumlah ternak telah sangat terbatas (ketjuali ternak ketjil dan unggas), berhubung dengan adanja persaingan antara kebutuhan areal untuk menanam bahan makanan manusia dan chewan.
Diluar Djawa kekurangan produksi disebabkan karena kurang ke tjerdasan umum pada rakjat didalam bidang peternakan dan disamping itu djuga disebabkan oleh karena kurangbanjaknja penduduk.
b. Marketing.
Sedjak beberapa tahun jang terachir dihadapi banjak kesulitan ten tang pengangkttan dari daerah2 jang terdapat banjak ternak kedaerah2 jang amat memerlukannja, jang disebabkan tidak adanja lagi kapal2 pengang
kut chusus untuk ternak. Dengan keadaan demikian export ternak dari daerah2 itu kurang lantjar adanja, sehingga stimulans untuk memperkem bangkan peternakan tertekan adanja.
Pengangkutan dengan kereta api di Djawa djuga menderita kesukaran berhubung dengan tidak tepat pada waktunja disediakannja gerbong2 jang diperlukan sehingga stocpiling ternak dikota2 jang memerlukan (Dja wa Barat pada umumnja) kurang terdjamin. Keadaan ini menimbulkan naiknja harga daging untuk consument.
c. Ongkos pengangkutan.
b. Keperluan untuk export:
Keperluan export keluar Negeri akan ternak potongan sangat tergantung akan permintaan dari daerah2 jang membutuhkan.
Selain dari pada kesulitan akan pengangkutan kapal, pada tahun achir2 ini ternjata, bahwa export keluar Negeri pada umumnja mendjadi agak kurang adanja karena saingan dari Negeri2 lain (antaranja Thailand dan Singapore mengenai babi).
Dalam tahun2 jang terachir export. ternak potongan keluar Negeri dapat digambarkan sebagai daftar dibawah ini;
Tabun Kuda Sapi Kerbau Kambing/
domba Babi
1956 — 4571 — — 8.840
1957 — 4074 1680 — 32.848
1958 — 4243 — 24.169
§ 1819.. Kebidjaksanaan.
Usaha Pemerintah dalam rangka memenuhi target seperti telah di gambarkan diatas dapat diperintji dalam 2 djenis.
a. Usaha djangka pendek.
1. Memperkembangkan peternakan ajam.
Perkembangan ternak unggas hingga sekarang mengalami banjak kesulitan karena meradjalelanja penjakit pseudovogelpest. Korban. tiap tahunnja karena penjakit tersebut berkisar antara 40 — 50% dari djumlah unggas. Dengan djalan melakukan vaccinatie besarbesaran terhadap pe njakit tersebut jang sedang disiapkan rentjananja, dapat diharapkan djumlah ternak unggas dapat dilipatgandakan. Pada saat ini pernilikan ajam adalah rata2 1,5 ekor tiap orangnja. Dengan vaccinatie seperti tersebut diatas pe milikan ajam dapat diharapkan meningkat sampai 2 a 3 ekor ajam tiap orangnja.
Disamping usaha menjelamatkan ternak unggas dengan vaccinatie tersebut, perkembangan peternakan unggas masih dapat diperbaiki lagi dengan mempertinggi mutu unggas rakjat dengan djalan penjebaran bibit ternak jang unggul pada masjarakat.
2. Pemerahan ternak rakjat.
Produksi protein untuk kebutuhan rakjat dalam djangka pendek ma sih dapat diusahakan dengan pemerahan ternak rakjat, (kambing chusus nja). Usaha ini telah dimulai beberapa tahun jang lalu setjara incidentil.
Kini sedang disiapkan rentjana gerakan pemerahan ternak rakjat jang dimaksudkan setjara besar2an.
Tahun Protein (ton) Keterangan
pat ditjapai target
jang dibutuhkan
Adapun djenis produksi jang lebih tinggi ini, ditjapai dengan tambahan daging unggas, telur dan susu.
b. Usaha djangka pandjang. 1. Perbaikan makanan ternak.
Karena didaerah2 penghasil ternak potongan (Nusa Tenggara) dalam musim kemarau sangat kekurangan makanan ternak, sehingga meng akibatkan susutnja timbanghidup ternak jang diexport (sampai 20%), sedangkan dalam musim penghudjan terdapat berlimpahlimpah rumput, maka untuk mengatasi keadaan jang buruk ini, sedang direntjanakan hooi bereiding setjara machinaal didaerah2 jang dianggap perlu itu.
Hingga sekarang produksi bungkil klapa jang sangat berharga bagi perkembangan ternak chusus hanja ditudjukan untuk keperluan export. Dirasa sangat perlu, mulai lebih memperhatikan bahan tersebut untuk keperluan dalam negeri sendiri. Berhubung dengan itu allokasi untuk ke pentingan dalam negeri sendiri perlu diperhatikan lebih dahulu.
2. Perbaikan mutu ternak.
Dengan perbaikan kwaliteit ternak dengan djalan selectie, castratie dan pemberian bibit jang unggul kepada rakjat, masih dapat diharapkan tambahan produksi.
3. Penjebaran ternak.
Didaerah2 diluar Djawa, dimana ada kemungkinan dapat berkem bangbiaknja ternak, perlu diusahakan penjebaran bibit ternak berasal dari daerah2 jang padat akan ternak.
Usaha ini setjara ketjil2an telah dimulai didaerah Kalimantan, dan kepulluan Maluku. Hasilnja memberikan harapan besar.
Dalam rangka usaha transmigrasi, usaha penjebaran ternak jang di maksud itu perlu direntjanakan setjara besar2an.
Dengan usaha2 djangka pendek dan djangka pandjang seperti diurai kan diatas, berangsurangsur target seperti digambarkan diatas dapat di tjapai.
Pemakaian animalprotein bagi perbaikan susunan makanan rakjat pada hakekatnja sangat terpengaruh oleh keinsafan rakjat sendiri terha dap menu jang sehat.
Untuk kebutuhan jang maksimal akan protein hewan harus ada pe arti: tiap manusia setahun membutuhkan zatputihtelur sedjumlah mi nimum 22 kg.
Dad 22 kg. zatputih telur ini adalah:
16 — 17 kg. zatputihtelur nabati dan 5 — 6 kg. zatputihtelur chewani. Dalam memenuhi kebutuhan 5 — 6 kg, proteine chewani per tahun ini jang equivalent dengan 25 a 30 kg. daging/ikan per tahun, maka ba gian jang dipikulkan pada:
Bagi 85 djuta djiwa penduduk Indonesia djumlah produksi 700.000 ton ikan setahun berarti bahwa setiap orang Indonesia setiap tahun hanja mendapat bagian ± 8 kg. ikan.
b. Faktor jang mempengaruhi kekurangan produksi. 1. Ketjerdasan umum nelajan.
Tingkat usaha perikanan laut rakjat adalah sangat sederhana, 500.000 orang nelajan dengan djumlah 200.000 buah matjam matjam alat penangkapan dan 110.000 buah perahu penangkapan hanja menghasilkan ratarata 400.000 ton setahun; njata bahwa mereka belum dapat bekerdja setjara rationeel.
2. Pengetahuan technis.
Nelajannelajan kita tjukup tjerdas dalam menggunakan alat alat sederhana mereka. Akan tetapi mereka kurang pengetahuan dan pengalaman dalam menggunakan alatalat modern (kini baru terdapat ±1000 buah kapal bermotor).
3. Modal.
Kreditorganisasi jang memberikan kredit setjara teratur kurang ada; pemberian kredit setjara teratur sampai sekarang hanja didjalankan oleh koperasikoperasinja jang djuga tidak tjukup punja modal (sifat sekedar bedrijfkrediten).
Marketing dibidang perikanan, sebagian terbesar berada diluar pe nguasaan Pemerintah, jaitu dikuasai tengkulak dan pedagang, dan mela lui terlampau banjak tangan sebelum sampai pada konsumen: Tjara pe ngawetan ikan belum sempurna, untuk dapat disimpan tjukup lama agar dapat dibawa kedaerahdaerah konsumsi (Djawa) dengan alatalat pe ngangkutan jang sangat kurang.
Djumlah 'nelajan Indonesia adalah 500.000 djiwa jang kini mengha silkan 400.000 ton ikan per tahun atau berarti 850 kg. hasil ikan per tahun
Dalam usaha melengkapi kebutuhan akan ikan laut, Pemerintah mengambil kebidjaksanaan antara lain melalui jang akan dinamakan „ikan
Pula diharap perhatian Saudarasaudara terhadap soal pendidikan tenaga ahli perikanan laut jang kurang djumlahnja, dan terhadap soal modal jang sangat diperlukan untuk membuka setjara besarbesaran usaha perikanan bait jang gemechaniseerd.
a. Sangat tidak meratanja penduduk: di Djawa penduduk sangat padat, tenaga memproduceer berlimpahlimpah, daja konsumsi sangat be
sar, sedang lapangan produksi amat sempit. Sebaliknja diluar Djawa: penduduk sangat tipis, lapangan memproduceer sangat luas, tetapi tenaga penghasilan sangat kurang, jang lebih diperhambat lagi oleh pelbagai faktor, antaranja kesulitan perhubungan, alatalat lalu lintas dan sebagainja.
b. Rintanganrintangan alam borupa tumbuhtumbuhan padat menutup
perairan umum (jaitu sungaisungai, danaudanau dan rawarawa). c. Ketjerdasan umum dan pengetahuan technis rakjat jang sebagian ter
besar masih rendah. d. Modal sangat kurang.
e. Alatalat dan bahanbahan jang diperlukan untuk produksi tidak men tjukupi kebutuhan dan sulit didapat.
f. Kekurangan sangat akan tenagatenaga ahli. § 1824. Rentjana kebidjaksanaan.
Untuk.mentjapai produksi jang mentjukupi kebutuhan dalam negeri, maka Pemerintah mendjalankan usahausaha;
a. Pembrantasan tumbuhtumbuhan diantaranja jang menutupi perairan umum itu.
b. Memperdalam tempattempat perlindungan ikan diperairan umum. c. Memperbanjak penjebaranpenjebaran djenis ikan jang unggul di
perairan umum.
Darat, ikancentra, dan koperasikoperasi nelajan.
PEGARAMAN.
§ 1825. Umum: Disamping P.G.S.N. jang sudah lama membuat garam, maka keadaan pegaraman rakjat sedang berada dalam taraf perkembangan. Perusahaan pegaraman dimulai setelah ditjabutnja ordonantie 1941 Staatsblad No.357 dan 388, tentang ;,Zout Monopolie" dan diganti dengan Undangundang Darurat No.25 tahun 1957 (Lembaran Negara No. 82 tahun 1957).
Garam merupakan suatu bahan pokok jang sangat vitaal dan masa lah ini Iebih2 sekarang mendapat perhatian Pemerintah dengan politiknja menggerakkan usaha rakjat banjak.
§ 1826. Keadaan sekarang: Luas areal:
Luas aeral tanah jang tjotjok uintuk Pegaraman Rakjat berdjumlah ±6,090 Ha.
Ketjuali pengusaha2 pegaraman Rakjat masih harus memperdalam teknik pembuatan garam, maka kebutuhan Akan modal sangat dirasakan.
§ 1828. Transport: Hingga sekarang soal pengangkutan masih meru pakan soal jang sangat sulit, terutama dalam hal pengangkutan melalui laut.
§ 1829. Processing: Pada hakekatnja tjara; pembuatan garam sebagian besar masih mempergunakan proces penguapan air laut jang dialirkan dalam petak2 tambak. Djadi sangat bergantung pada matahari dan musim.
b. Berdasarkan suatu minimum requirement,. bahwa rakjat Indonesia per capita setahun membutuhkan 5 — 6 kg proteine chewan jang equi valent dengan 25 — 30 kg daging ikan, maka bagian jang dipikulkan
c. Untuk kebutuhan industri misalnja industri soda, pabrik ketjap, margarine dan sebagainja dalam tahun 1956 diperlukan garam 27.000 ton, dan dalam tahun 1957 23.000 ton, jang semua itu bersumber kepada garam Pemerintah.
Berdasarkan atas paeil jang constant maka sedikitnja diperlukan garam industri 25.000 ton.
Dalam memikirkan akan keperluan garam ini Pemerintah mengu sahakan agar djuga terdapat adanja bufferstock jang tersebar ditiap daerah untuk dapat menghindarkan kematjetan.
supaja didjamin oleh U.P.P.I. (Usaha Pembangunan Perikanan Indone tanah jang kiranja tepat untuk ditanami kapas adalah tidak lebih dari 450.000 ha.
Karenanja, untuk memenuhi kebutuhan kita akan kain, jang terang akan meningkat berkenaan dengan:
a. bertambalmja penduduk tiap tahunnja, serta
b. menudju target kita mendjamin paling sedikit 18 meter per djiwa/ per tahun, maka disamping mempergiat usahausaha dalam memper tinggi produksi kapas dengan tjara intensivikasi, kita harus berusaha pula memprodusir lainlain djenis bahan pakaian seperti RAMI, RAYON dan. sebagainja.
§ 1833. KAPAS: Sebagai pangkalan untuk membuka penanaman kapas setjara besarbesaran di Nusa Tenggara, maka tepat pada hari ini Pemerintah membuka suatu perusahaan tanaman kapas disekitar Asem Bagus (Djawa Timur). Pembelian kapas dari rakjat dan kebutuhan petani kapas akan kredit, bibit, pupuk, serta alatalat lain keperluan tana man kapas akan didjamin oleh perusahaan Asem Bagus ini.
Disamping itu kini Pemerintah mengadakan persiapan2 setjara mendalam dipulaupulau Nusa Tenggara untuk membuka tanaman kapas setjara besar2an.
§ 1834. RAMI: Pemerintah telah merentjanakan untuk dimulai pada tahun 1960 penanaman rami setjara perkebunan di Sumatera Timur seluas 10.000 ha. guna mentjukupi kebutuhan pemintalan rami di P. Siantar.
§ 1836. HASIL BAHAN2 UNTUK EKSPOR
1957 1958 1959 1960 1961
828.592 774.563 851.145 875.000 900.000
Taksirain produksi 1960 dan 1961 itu harus dikemukakan dengan sedikit reserve, oleh karena kesukarana jang dialami dalam produksi tahun hankan seluas tahun jang lalu, namun pada umumnja mutu tanah2 jang diperoleh sangat kurang, dan tanah2 tersebut terpentjarpentjar.
2. Iklim tahun 1959 ini telah menundjukkan musim kering jang sangat pandjang, sehingga pengaruhnja terhadap tanaman tabu jang masih muda dichawatirkan akan buruk adanja.
3. Harga pokok dan likwiditeit. Berhubung dengan berbagai kenaik. an perupahan, harga bahan baku, harga pokok harus diperhitungkan
Agaknja hanja dua djalan jang terbuka untuk mengatasi kesulitan ini, ialah:
(a) menurunkan accijns gula.
RENTJANA DJANGKA PANDJANG
Mengingat makin naiknja konsumsi dalam negeri (lebih dari 100% sedjak 1940 dari 250.000 ton mendjadi sekarang 670.000 ton setahun), perlu diperhatikan betul2 perluasan produksi gula dalam djangka waktu lima sampai sepuluh tahun, dengan mendirikan pabrik2 gula baru dan merehabilitir pabrik2 gula jang sekarang tidak bekerdja.
Mengingat sempitnja sudah ruangan luas tanah di pulau Djawa, titik berat perluasan produksi ini hares diletakkan didaerah2 diluar Djawa jang iklimnja tjotjok dan memenuhi sjarat2 lain jang diperlukan.
Menurut tindjauan sepintas lalu, kemungkinan untuk mengadakan perluasan produksi itu ada di Atjeh, Sumatera Selatan dan Sulawesi Se latan. Jang sudah paling djauh perentjanaannja ialah pendirian pabrik baru di Atjeh, pabrik mana sudah disetudjui 'untuk ditempatkan pada pesanan pampasan Djepang 1960.
Disamping ini perlu segera ditindjau kemungkinan pembangunan kembali pabrik2 gula jang rusak dan tidak bekerdja (Kunir, Tjeper, Gon danglipuro, Pakis, T jomal).
Perhatian mengenai berhasilnja rentjana2 tersebut diatas hares tetap ada, oleh karena dalam kegagalan terbajang paksaan dihari kemudian untuk mengimport gula guna memenuhi konsumsi dalam Negeri.
Berhasilnja penjelesaian dalam bidang ini djuga banjak tergantung dari penjelesaian ha12 jang dihadapi dalam djangka pendek.
§ 1837. KARET:
Diantara hasil2 pertanian ekspor, bahkan dalam rangka seluruh nilai ekspor Indonesia, karet (perkebunan besar dan rakjat) menempati kedu dukan jang terkemuka; dari nilai ekspor + miljard devisen rupiah (tanpa minjak bumi) karet mengambil bagian tidak kurang dari 50% (20% karet perkebunan, 30% karet rakjat). Berhubung dengan itu maka sektor ini dalam bidang kegiatan menaikkan produksi hares mendapat.perhatian setjara chusus;
a. Rentjana djangka pendek.
Statistik.
Jang sudah direalisa Rentjana djangka sikan terhitung ton pendek terhitung ton
1957 1958 1959 1960 1961
Ekspor karetperkebunan 239.115 200.496 240.000 250.000 260.000 karet rakjat 407.156 368.991 410.000 450.000 460.000 Djumlah 646.271 575.487 650.000 700.000 720.000 Kesulitan2 jang dialami dalam melaksanakan program djangka pen dek adalah:
1. Gedjala menurunnja produksi. Sedjak tahun 1954 baik dibi dang produksi karet perkebunan maupun karet rakjat, nampak adanja tendens kemunduran jang terus menerus (lihat angka2 dibawah ini).
Produksi karet Indonesia terhitung ton.
Tahun perkebunan rakjat Djumlah
1954 288.188 506.202 794.390
1955 266.588 494.077 760.665
1956 265.994 445.026 711.020
1957 258.494 466.325 724.819
1958 244.113 437.584 681.697
Adapun alasan kemunduran ini sudah lama diketahui, jaitu sudah terlalu tuanja sebagian besar dari pokok2 karet, berhuhung selama djaman Djepang dan djaman revolusi (1942 — 1952) kurang sekali diadakan pe remadjaan tanaman.
Satu2nja djalan untuk mengatasi kesulitan. ini ialah dalam djangka pendek mengintensivir pemeliharaan dan pengusahaan tanaman. (pemupu kan, stimulansia dls.), dan dalam djangka pandjang mengusahakan pere madjaan jang teratur (lihat rentjana djangka pandjang).
2. Pentjurian getah. Pentjurian getah masih sangat dirasakan (sampai ada kalanja 20 — 40% dari produksi didaerah2 jang masih terganggu keamanannja (Sumatera Timur, Atjeh).
Sangat erat hubungannja dengan keadaan jang kurang memuaskan ini, ialah adanja gedjala2 lain jang sangat merugikan negara, seperti pe njelundupan dan pembelian gelap. Menurut taksiran kasar dalam tahun 1958 tidak kurang dari k.l. 85.000 ton karet telah diselundupkan, teruta ma ke, Singapur.
b. RENTJANA DJANGKA PANDJANG.
Peremadjaan tanaman karet. Mengingat luasnja areaal jang di pandang perlu untuk diremadjakan jaitu 260.000 ha. disektor karet rakjat demikian, mengingat keadaan keuangan Negara pada waktu ini sudah dapat dibajangkan sebelumnja, bahwa pemetjahannja tidak mudah.
Oleh sebab itu perlu segera ditjarikan „wayout”, dan pada. waktu ini sebuah Panitya jang dibentuk oleh Pemerintah sedang sibuk menji apkan suatu rentjana jang diharapkan akan selesai dalam waktu jang pendek, dan jang menudju kesuatu cess jang dipungut dari pada karet jang diexport serta suatu apparat Pemerintah jang effectief melaksanakan penanaman pohon karet Baru dikebunkebun karet rakjat.
§ 1838. TEMBAKAU.
a. RENTJANA DJANGKA PENDEK.
PRODUKSI Sudah direalisasikan
terhitung baal Rentjana djangka pendek terhitung baal
1958 1959 1960 1961
Tembakau Deli 20.677 27.000 35.000 40.000 Besuki 30.000 31.000 31.000 31.000 Vortenlands 6.000 6.500 6.500 6.500 Tembakau Rakjat 56.677 64.500 72.500 77.500 60.000 70.000 75.000 80.000 116.677 134.500 147.500 157.500
Dalam prinsipnja telah disetudjui rentjana adanja „wens arealen” (tanah2 jang melulu diperuntukkan usaha pertembakauan setelah kurang lebih 50% dari luas semula dikembalikan kepada Pemerintah untuk dibagi2kan kepada rakjat).
Kesulitan jang timbul sekarang ini ialah dalam menentukan batas jang tegas dari „wensarealen” tersebut, hal mans sangat menjulitkan penentuan rentjana baik untuk djangka pendek rnaupun untuk djangka pandjang.
Mengenai tembakau rakjat di Djawa ini diichtiarkan supaja luas tanah ta' melebihi jang sekarang, tetapi kelebihan produksi diusahakan dengan djalan intensifikasi, rotasi,. d.1.1.
b. RENTJANA DJANGKA PANDJANG
Dalam djangka pandjang dibidang perluasan penanaman dititik berat kan diluar Djawa, mengingat sempitnja ruangan tanah dipulau Djawa.
Dalam hal ini jang nampak kemungkinan penanaman tembakau Vir ginia untuk ekspor jalah di Nusatenggara + 5.000 ha. dan Sulawesi Se latan lebih kurang 50.000 ha. Produksi jang diharapkan dalam djangka waktu 5 tahun dari daerah2 itu jalah 80.000 sampai 100.000 baal.
mi menghasilkanJang dapat MinjakSawit sawitBidji 1956 102.983 91.631 164.896.094 41.400.489 1957 102.995 90.506 160.152.525 39.503.256 1958 103.000 91.000 147.332.000 35.124.000
Djumlah luas jang menghasilkan menundjukkan suatu kemadjuan. Penghasilan sesudah perang belum menjamai pada tingkat sebelum perang, sebab tanaman2 jang muda tidak mendapat pemeliharaan sebagai mana mestinja pada waktu pendudukan Djepang. Sebagai akibat daripada
kemerosotan keadaan keamanan di Sumatera Utara dalam tahun 1958 maka produksi sangat tertekan. Untuk mempertinggi produksi hasil ini, perlu sekali diperbaiki situasi keamanan di daerah tsb.
TEH. Produksi perkehunan di Djawa memperlihatkan kemadjuan da lam talmn2 1958 dan 1959 dalam perbandingan dengan tahun 1957. Akan tetapi produksi teh kita dalam tahun2 jang lapau tsb. masih sangat ter kebelakang terhadap angka2 sebelum perang. Produksi teh dalam tahun2 jang lampau baru berdjumlah ± 50% dari produksi sebelum perang.
1956 76.940 ha. 66.151 ha. 39.657.693 kg 3.273.606 kg 42.931.299 kg
1957 75.145 65.231 44.025.042 3.545.094 47.570.136
1958 75.000 62.000 42.356.000 3.880.000x) 46.236.000
x) tidak termasuk produksi Sumatera Barat.
Untuk mempertinggikan produksi teh perkebunan, kemungkinan chusus terletak dalam pembukaan kembali perkebunan jang sesudah pe rang masih belum dikerdjakan. Untuk tudjuan tsb. perlu dari perkebunan perkebunan tsb. diadakan inventarisasi setjepat mungkin untuk menjeli diki objek2 mana jang dapat dieksploitasikan kembali.
Adapun teh rakjat melulu menghasilkan untuk konsumsi dalam Negeri.
Perluasan produksi teh rakjat dapat dilakukan dengan intensifikasi pemeliharaan dan pengusahaan tanaman (pemupukan, Pemberantasan hama dan penjakit, dsb.).
mi Jang dapatmenghasilkan perkebunan kg rakjat kg 1956 47.381 ha. 41.521 ha. 13.020.550 kg. 46.396.000 kg. 1957 47.141 42.056 15.284.137 40.425.000 1958 47.000 42.000 12.574.000 22.141.000
Untuk mempertinggi produksi kopi, perlu diselidiki sampai seberapa djauh masih ada perkebunan jang dapat direhabilitasikan. Pada waktu sekarang djumlah perkebunan jang dieksploitasikan baru merupakan
50% daripada djumlah perkebunan jang dieksploitasi dalam djaman sebelum perang.
Kemunduran eksport kopi rakjat tidak disebabkan karena kurangnja produksi, akan tetapi banjaknja penjelundupan dan pentjurian jang ter djadi, terutama dari daerah Sumatera Selatan. Sesudah perang, tanaman kopi rakjat mendapat kemadjuan jang tidak ketjil, sehingga, djikalau pe njelundupan dapat diatasi, potensi ekspor kopi rakjat tidak kurang dari 60.000 sampai 70.000 ton setahun (3 x lipat ekspor sekarang).
§ 1840. TJOKLAT
Dibawah ini ditjantumkan beberapa angka2: Luas tanaman ha.
Tahun Jang dita Jang dapat Produksi kg. nami menghasilkan
1956 6.950 ha. 4.565 ha. 1.478.046 kg.
1957 7.160 5.134 1.182.699
1958 7.000 5.000 1.336.000
Pada tahun2 terachir luas tanaman bertambah. Produksi dapat meningkat djika semua tanaman2 muda jang ada sudah dapat menghasilkan.
§ 1841. KINA.
Potensi produksi dari perkebunan2 kina sudah sedjak dahulu lebih besar daripada pemakaian kulit kina, sehingga perkebunanperkebunan itu selalu hanja dapat mengolah sebagian ketjil dari potensi produksi itu, menurut angka2 standard produksi, maka djumlah potensi adalah ± 1.200.000 kg.zwakib (zwavelzure kinine in bast), padahal dalam tahun2 jang ,lampau afzetzwakib adalah hanja sebagian ketjil sadja dari standard productie, seperti dibawah ini: nguasai Perusahaan2 Perkebunan Negara ini, termasuk Perkebunan jang dinasionalisasikan adalah P.P.N. Baru jang telah dalam waktu jang singkat dapat mengconsolidasikan keadaan produksi perkebunan tersebut diatas:
PRODUKSI HASIL HUTAN.
Kaju Pertukangan (1000 m3 Kaju bakar (1000 sm)
T a h u n Exploitasi Djawatan Exploitasi
Fihak III Exploitasi Djawatan ExploitasiFihak III Arang(1000 ton) Kulit(1000 ton) Bambu(1000 ton) Sirap(1 djuta bidji) Minjakkayu putih (1000 L)
Terpentijn
(1000 L) Gondorukem (ton)
Djati Rimba Djati rimba Djati Rimba Djati rimba
pendjelasan nanti, meskipun banjak kaju jang dipotong dari perkebun anperkebunan atau ladangladang seseorang.
Keadaan demikian itu akan djalan terus menerus, djika kita tidak segera mulai dengan exploitasi hutan setjara besarbesaran di Luar Djawa, mengingat kemungkinan jang besar sekali mempertinggi produksi disitu, berhubung dengan masih luasnja hutan2 jang ada, sedang untuk mem pertinggi produksi di Djawa dan Madura adalah sangat terbatas kemung kinannja djika kita tidak menginginkan dikurbankannja continuiteit be ginel.
Disamping itu adalah suatu kenjataan bahwa dajaproduksi di Luar Djawa sangatlah kurangnja, karena djumlah penduduk sangat terbatas, begitu pula keachliannja dan peralatannja kurang sekali.
Usahausaha memperbesar produksi setjara mekanis (traktor, mesin penggergadjian, dan lain sebagainja) belum mentjapai basil jang kita in ginkan.
Fasiliteitfasiliteit perdagangan dibidang pengangkutan, perhubung an, bank, pos, dan lain sebagainja, menghambat pula kelantjaran marketing, djadi djuga produksinja. Berbelitbelitnja peraturan export, peratu ran pelajaran, tidak selalu adanja bankbank deviezen di Daerahdaerah dan lain sebagainja, semuanja itu adalah faktorfaktor jang sangat me njulitkan, begitu djuga dangkalnja muaramuara sungai, terutama di Kali mantan dan Sumatera, menutup kemungkinan kapalkapal samudera meng ambil kajukaju jang banjak dapat dihasilkan disepandjang sungaisungai.
Tjara exploitasi, jang umumnja kini didasarkan pada adanja bandjir (bandjirkap), tidak mendjamin.kontinuiteit daripada volume perdagangan kaju, begitu djuga resiko rusak/hilangnja/kajukaju tersebut mengurangi hasrat orang memperbesar produksi.
Keadaan jang suram itu ditambah pula dengan tidak adanja pricere search di luar negeri setjara systiematis.
Hingga pada masa sekarang masih belum nampak adanja penjaluran/ penggabungan usahausaha exploitasi hutan, jang menurut Pemerintah perlu sekali, mengingat besarnja modal jang dibutuhkan, lamanja perpu taran modal tadi, dan besarnja resiko.
Mengenai exploitasi hutan, barn beberapa tenaga dikirimkan ke luar negeri untuk mempeladjari tjaratjara pembukaan hutan dibeberapa negeri jang telah madju misalnja mengenai longging di Philipina, U.S.A. Canada, British Borneo.
Ketjuali itu telah dikirim pula beberapa tenaga keluar negeri untuk mem peladjari woodprocessing dan papermaking.
Tapi, walaupun demikian, masih dirasa perlu sekali menambah pe ngiriman tenagatenaga kita ke luar negeri, terutama jang mudamuda, misalnja untuk mempeladjari methode perakitan kaju (rafting), pulpwood longging, dan lainlain.
§ 1844. Kebutuhan kaju seluruh Indonesia untuk keperluan Dalam Negeri dalam 1000 m2 kaju kasar
(ta' dibatja disampaikan setjara tertulis)
1953/ 1960 1970 Keterangan
1955 min max min max
I. Kaju Pertukangan
1. Perumahan 2. Gcdung2/
bangunan2
2875 3140 3221 3607 3837
lainnja
3. Peti/alat2 70 80 87 104 123
pembungkus 110 120 138 152 203
4. Bantalan 15 20 24 30 34
5. Kendaraan2 — 1 2 4 6
10. Lain2 industri 8 14 16 24 32
Pekajuan 15 15 17 18 19
11. Lain2 industri 689 753 767 1010 1093
Djumlah kaju pertukangan
II. Kaju bajar 3849 4225 4367 5062 5499
(1000 m3)
III. Arang 80.316 86.200 88.710 90.480 98.570
(1000 m. ton) 707 728 780 811 886
Kebutuhan akan kaju, sebagai djelas dari daftar jang akan disam paikan setjara tertulis kepada Saudarasaudara sekalian, ternjata bahwa produksi dari fihak Djawatan Kehutanan dan fihak swasta jang terdaf tar, djauh tidak mentjukupi, sedang kebutuhan itu harus dipenuhi. Dapat dipastikan bahwa kekurangan jang besar itu sekarang ditjukupi sekedarnja dari pekarangan, ladang dan lain sebagainja. Disamping itu masih banjak dipergunakan pula bahanbahan pengganti kaju, misalnja daundaun, kulit kaju, steenkool, minjak, djerami dan lain sebagainja.
§ 1845. Export Kaju
pertukangan bakarKaju Arang Hasilhutan Tahun 1939 400.000 m3 96.000 ton 30.000 ton ton
1950 134.000 „ 113.000 „ 16.000 „ 44.000 ton 1951 130.000 „ 115.000 „ 25.000 „ 36.000 „ 1952 199.000 „ 137.000 „ 28.000 „ 36.000 „ 1953 204.000 ,, 115.000 „ 26.000 „ 38.000 „ 1954 188.000 „ 95.000 „ 28.000 „ 79.000 „ 1955 196.000 „ 66.000 „ 36.000 „ 48.000 „ 1956 245.000 „ 71.000 ,; 29.000 „ 43.000 ,, 1957 206.000 „ 62.000 „ 31.000 „ 44.000 „ 1958 134.000 „ 49.000 „ 27.000 „ 44.000 ,, § 1846. Kebidjaksanaan Pemerintah.
Didalam mentjapai tjitatjita untuk memenuhi kebutuhan masjara kat dan perbaikan keuangan Negara, perlu sekali mendapat perhatian soalsoal jang ditjantumkam dibawah ini:
Pembukaan.
a. Didalam pembukaan hutan diluar Djawa,.perhatian harus dititik berat kan pada Kalimantan,Sumatera dan Maluku. Pembukaan hutanhutan didaerahdaerah tersebut harus kita djalankan setjara besarbesaran dan setjara mechanis, dan sebelumnja, untuk memungkinkan hasil jang sebesarbesarnja perlu sekali diadakan survey jang mendalam. b. Dalam menjelenggarakan objekobjek tersebut, harus kita perhatikan
soal tenaga disekitar daerahdaerah jang bersangkutan. Pada umumnja tenaga didaerahdaerah itu adalah sangat kurang. Dalam memetjah kan soal ini pelaksanaan transmigrasi adalah suatu djalan jang sebaik baiknja.
Didalam penjelenggaraan transmigrasi ke Daerahdaerah ini sedapat mungkin diambilkan orangorang jang telah biasa bekerdja dilapangan kehutanan. Dengan demikian pendidikan untuk mereka dalam me lakukan pembukaan hutan dapat disederhanakan.
c. Faktor selandjutnja, mengenai mechanisasi perlu sekali perluasan unitunit mesin jang ada, serta djaminan sparepartsnja jang se tjukuptjukupnja. Pengalaman mengenai spareparts ini sangat me njedihkan, sehingga alatalat jang ada dalam waktu singkat telah meru pakan besi tua belaka, dan sebagai kita uraikan diatas tjitatjita kita tidak tertjapai. Disamping itu, pendidikan dan latihan kerdja bagi tenaga untuk mendjalankan unitunit itu masih perlu sekali, dan pendidikan mereka perlu diselenggarakan sebelum unitunit tadi datang.
d. Fasiliteitfasiliteit marketing perlu sekali dapat perhatian sepenuh nja, misalnja dengan diadakan Bank Devisen dan Djawatan Export. Tjabang ditiaptiap daerah penghasil, mengkonsentrasikan kekuasaan pemberian idjinidjin dibidang pelajaran dan bea tjukai. Disamping itu perlu sekali menambah djumlah kapalkapal untuk pengangkutan kaju. e. Djuga harus mendapat perhatian soal pengerukan muara sungai
pelabuhan jang terletak disepandjang sungaia tadi karena dengan de mikian akan dikurangi be,aja pengangkutan.
f. Tjara exploitasi berdasarkan bandjir, harus lambatlaun ditinggal kan dan diganti dengan ponebangan setjara teratur dengan mem buat djalandjalan truck dan railbaan, sehingga exploitasi ini dapat terdjamin kontinuitetnja sepandjang tahun.
g. Berhubung hutanhutan kita mengandung banjak sekali djenisdjenis, padahal hanja sebagian ketjil sadja jang sudah mempunjai pasaran, maka market research dan price research, terutama diluar negeri, perlu sekali diadakan terutama dinegaranegara pembeli seperti Djepang, Singapur, Timur Tengah dan Eropa Barat.
h. Effeciency pengusahaan kaju masih perlu sekali dipertinggi, terutama dengan djalan pooling dari capital and skill, melalui gabungangabung an usaha dan kooperasi.
Sebagai follow up dari usahausaha tersebut adalah penting sekali usahausaha untuk mendjamin terlaksananja rentjana perindustrian hutan, misalnja:
j. Achirnja diminta perhatian Depernas terhadap soal modal jang be sar, jang merupakan sjarat mutlak untuk dapat melaksanakan exploi
1957 332.800 ton Ini jang lewat pelabuhan2 resmi. 1958 166.600 ton
Luas areal Kelapa ± 1.500.000 Ha, separohnja sudah tua dan produksinja mundur.
Rentjana Peremadjaan : tiap tahun 30.000 Ha, sehingga peremadjaan selesai dalam waktu 50 tahun.
Usaha ini dapat dipertjepat dengan gerakan2 jang dipimpin oleh Pemerintah setjara perlombaan2 dan lainlainnja.
Hama² jang menjerang Kelapa : Artona, kumbang, ulat bidari jang menjebabkan turunnja produksi. Perlu pemberan tasan setjara sistimatis dan terus menerus.
Penjakit2 dan hama2 ini terutama meradjalela di Djawa Te ngah, Sulawesi Utara, Atjeh dan Lampung.
Kwaliteit kopra jang diekspor menurun, disebabkan harga pembelian kopra menurun, perhubungan dan angkutan didaerah kopra (Indonesia bagian Timur) kurang sekali, sehingga ada algemeene verwaarloozing. Perlu ada perbaikan angkutan, dan tjara2 pembuatan kopra dapat diper tinggi djika teknik petani kelapa diperbaiki dengan kursus2 pembuatan kopra, penanaman kelapa djenis jang unggul dan supply bahan/ bangun an rumah2pengeringan kopra.
Usaha Research Kelapa, selain jang sudah ada di Menado, perlu ditam bah untuk daerah kelapa di Pontianak, Atjeh dan Djawa Tengah, dan pusatnja di Bogor. Induk kooperasi Kopra Indonesia (IKKI) jang ber pusat di Djakarta, dan daerah kerdjanja barn meliputi Kalimantan Barat dan Djawa Barat, perlu diperluas sampai diseluruh Sumatera, Sulawesi, Maluku dan Irian.
Ternjata systim kooperasi membawa banjak kemadjuan2 dalam pro duksi baik volume maupun kwaliteit dan kemakmuran rakjat dan daerah kelapa dapat madju pesat.
Target penanaman kelapa:
a. Memenuhi keperluan makanan rakjat Indonesia dengan lemak2 tum buhtumbuhan (minjak goreng) jang tiap tahun rneningkat kebu tuhannja.
Sebelum perang konsumsi dalam negeri: 800.000 ton eq kopra, sekarang +1.000.000 ton.
Sebentar lagi kalau djumlah penduduk sudah mentjapai 90 djuta, maka konsumsi dalam negeri akan berdjumlah 1.400.000 ton (pro
Daerahnja: Atjeh, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung Banjumas, Su lawesi Utara (Menado) Ambon dan sekitarnja.
Kebutuhan dari pabrik rokok kretek sebetulnja berdjumlah 12.000 ton setahun sehingga kekurangannja masih diimpor dari Zanzibar (Mandagas kar), sekarang berdjumlah 5000 a 7000 ton setahun.
Target usaha Pemerintah adalah membikin Indonesia selfsuporting me ngenai tjengkeh.
Semendjak tahun 1952 sudah diadakan penanaman barn dengan disiar kan bibit2 tjengkeh jang baik (djenis Zanzibar) dari Falkultas Pertanian Bogor didaerah2 Djawa Barat, Djawa Tengah dan Djawa Timur, Atjeh, Lampung dan Sumatera Barat.
(Djenis2 lama jalah djenis SiKotok dan djenis Ambon).
Penanaman baru didaerah produksi jang lama berdjalan spontan dan tjepat.
Karelia pohon tjengkeh baru berbuah + pada umur 5 tahun, maka baru pada 1958/1959 daeraha baru mulai kelihatan pada tambahan pro duksi. Dengan tempo jang sekarang, pada tahun 1965 ada kemungkinan produksi tjengkeh Indonesia dapat memenuhi 50% kehutuhan.
Dengan kerdja sama dengan Departemen Perindustrian Rakjat dan gabung an pabrik2 rokok kretek, maka disediakan fonds Rp. 15.000.000 kepada Fakultas Pertanian untuk perluasan pembibitan Tjengkeh dan pc nanaman tjengkeh baru terutama di Djawa Tengah. dan Djawa' Timur. Perluasan itu dibantu oleh Djawatan Pertanian Rakjat setempat.
§ 1849. LADA.
Kalau sebelum perang dunia ke II Indonesia menduduki tempat pertama dalam produksi dan ekspor lada putih. dan hitam, maka sesudah perang dunia tanaman lada di Indonesia tinggal % dari sebelum perang.
Daerah produksi terutama di Bangka, Belitung, Kepulauan Riau dan Atjeh untuk lada putih dan di Lampung untuk lada hitam. Penana man baru dimulai lagi pada tahun 1950, sehingga sekarang areal sudah hampir pulih kembali.
Produksi tahun 1958 sudah merupakan + 50% dari produksi sebe lum perang. Tetapi kesulitan kesulitan dibidang ekspor mempengaru hi semangat penanaman baru.
Ongkos produksi lada di Indonesia adalah termurah diseluruh dunia, sehingga untuk bersaingan dipasaran dunia Indonesia tentu akan men djadi djuara pendjual lada dipasar lada di London dan di NewYork. Kesulitan terletak pada sektor perdagangan luar Negeri jang seterus nja perlu diperlantjar. naman muda jang belum berhasil sehingga produksi tanaman sekarang dalam lima tahun sudah dapat menghasilkan kurang lebih 60.000 ton lada, jang akan berarti menjamai produksi sebelum perang.
§ 1850. Perusahaan Listerik Negara Rentjana kerdja 1960.
Dalani tahun 1960, dilandjutkan pelaksanaan pembagunan beberapa Pusat Pembangkitan Listrik jang sebelumnja telah dimulai dan telah mendekati penjelesaiannja.
tenaga listrik jang telah dibangkit ini dibangun agar tenaga tadi dapat disampaikan kepada Daerahdaerah konsumsi.
Disamping projek2 jang telah dimulai pelaksanaannja adalah dalam rentjana untuk membangun pusatpusat pembangkit listrik dengan uap. Pusatpusat pembangkit sedjenis ini telah direntjanakan untuk dibangun di centra propinsipropinsi di Djawa jaitu di Djakarta, Semarang dan Surabaja, masing2 dengan kekuatan 2 x 25.000 k.w.
Selandjutnja daerahdaerah jang terpentjil tidak akan dilupakan pula; pembangunan pusatpusat diesel diibukota daerahdaerah Swatantra II jang terpentjar diseluruh Indonesia mulai dapat direalisir. (Mesinmesin dari bantuan I.C.A. dan kredit dari CzechoSlowakia). Pusat pembang kit dengan tenaga diesel ini akan metnpunjai kapasiteit l.k. 46.000 k.w.
Keputusan Pemerintah untuk menjelenggarakan Asian Games de ngan 1Iotel Indonesia mengakibatkan harusnja segera dibangun Pusat Tenaga Listrik Diesel di Kebajoran.
Ketjuali bangunanbangunan ini sangat diperlukan pula pembelian alatalat pengangkutan serta montage mesinmesin baru dan untuk peme liharaannja, serta alatalat pengukur listrik dan air jang pada dewasa ini sudah mendjadi sangat urgent, berhubung dengan eksploitasi sumber sumber tenaga air jang sudah harus dimulai djuga.
Pembaharuan bangunanbangunan pada beberapa pusat tenaga lis trik hydrolis harus diselenggarakan; pada pusatpusat tenaga baru perlu
Sebuah multipurpose projek, dengan sebuah waduk jang berisi 3 miljard m2.
5. Pekerdjaan2 dimulai thn. 1954 dan kini telah selesai a.l. perumahan2 untuk tenaga asing dan bacigsa kita, Centrale Diesel untuk penerang an, mesin2 pekerdja, instalasi pemetjahan batubatu.
6. Pada achir tahun 1959 akan selesai a.l. trowongan, saluransaluran pem bangunan air,
Bendungan dapat diselesaikan pertengahan tahun 1964, djika se muanja dapat berdjalan lantjar seperti sekarang; dan dalam tahun 1962 sudah dapat membangkitkan tenaga listriknja.
b. Projek Asahan.
Jang telah selesai ialah a.l. djalandjalan, djembatandjembatan dan sehagian besar perumahan:
Telah siap pula gambargambar detaildetailnja lengkap tinggal mengadakan undangan penawaran.
c. Projek Tjikalong (Pengalengan):
Taraf penjelesaian pekerdjaan ialah, bahwa pada achir tahun 1959 dapat diadakan pertjobaan mesinmesinnja, daja pasang 19 MW. dapat tidaknja pindjaman waktu djangka pandjang dari Exim Bank atau suatu credit dari Luar Negeri.
§ 1853. DIESEL PROJEK2:
a. dari rentjana anggaran belamlia Kern. P.U.&.'I'., baik perluasan maupun pembangunan baru.
b. dari credit I.C.A.
c. credit CzechoSlowakia. a. perluasan, a.l.
Pembangunan baru a.l.
b. Riamkanan (Martapura, Kalimantan) dengan daja terpasang 30.000 kw dan isi air 600.000.000 ms
DJALAN2/DJEMBATAN:
a. Kebidjaksanaan dalam sektor djalandjalan/djembatan ditudjukan untuk memberi imbangan pada kebutuhan lalulintas kearah me lantjarkan roda perekonomian dan atau mempertjepat distribusi barang sandang pangan.
b. Langkah pertama menurut kebutuhan jang njata ialah:
Memperbaiki dan memberi perkerasan/pengaspalan pada djalan2 krikil dimana telah mendapat lalulintas berat jang sebagian besar terletak diluar pulau Djawa diperlukan alatalat „Roadbuilding equipment” jang sebagian didapat dalam rangka Pampasan Djepang jang untuk tahun 19581959 meliputi harga $ 5,2 djuta.