PENGARUH PENGGUNAAN METODE DISCOVERY LEARNING TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR DAN PENGUASAAN
KONSEP OLEH SISWA PADA MATERI POKOK GERAK TUMBUHAN
(Studi Eksperimen Pada Siswa Kelas VIII SMP Muhammadiyah Pekalongan Lampung Timur Tahun Ajaran 2013/2014)
Oleh
ERMAYANTI SUTIYO
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Program Studi Pendidikan Biologi
Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
PENGARUH PENGGUNAAN METODE DISCOVERY LEARNING TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR DAN PENGUASAAN
KONSEP OLEH SISWA PADA MATERI POKOK GERAK TUMBUHAN
(EksperimentpadaSiswaKelasVIII Semester Ganjil
SMPMuhammadiyah Lampung TimurTahunPelajaran 2013/2014)
Oleh
ERMAYANTI SUTIYO
Aktivitas belajar siswa menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Hasil observasi di SMP Muhammadiyah Lampung Timur diketahui bahwa aktivitas dan penguasaan konsep siswa masih cukup rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode discovery learning terhadap aktivitas dan penguasaan konsep oleh siswa.
Desain penelitian ini adalah pretes postes kelompok tak ekuivalen. Sampel penelitian adalah siswa kelas VIIc dan VIID yang dipilih secara purposive sampling. Data penelitian ini berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari rata-rata nilai pretes, postes, dan N-gain yang dianalisis menggunakan ujiU dan uji t pada taraf kepercayaan 5% dengan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode discovery dapat meningkatkan penguasaan konsep dengan rata-rata nilai pretes (27,46); postes (70,95); dan N-gain (59,74). Aktivitas belajar juga mengalami peningkatan untuk semua aspek yang diamati pada kelas eksperimen, yaitu aspek mengajukan pertanyaan (76,19%); aspek mengajukan ide atau pendapat (79,36%); aspek melakukan kegiatan diskusi (92,06%), aspek bekerjasama dalam kelompok (81,16%) dan aspek menjawab pertanyaan (44,93%). Selain itu, sebagian besar siswa memberikan tanggapan positif terhadap penggunaan dengan metode discovery learning. Dengan demikian,pembelajaran menggunakan dengan metode discovery learning
dapat meningkatkan aktivitas belajar dan penguasaan konsep oleh siswa.
MOTO
“Maka sesungguhny
a bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama
kesulitan ada kemudahan”
(QS Al-Insyirah: 5-6)
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
(QS Ar Rahman:13)
“
Lepaskanlah Busur Panahmu ke Tempat yang Ingin Kau Tuju, walau Kau
Tahu Anak Panahmu Tak akan sampai, Karena itu Lebih Baik dari pada
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Metro pada tanggal 22 Februari 1991 sebagai anak pertama dari dua bersaudara, dari pasangan Bapak Sutiyo dan Ibu Siti Zainah. Penulis bertempat tinggal di Desa Tulus Rejo Kec. Pekalongan Lampung Timur. No Hp 085669931320.
Penulis mengawali pendidikan formal di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Pekalongan yang diselesaikan pada tahun 2003. Tahun 2003 diterima di Madrasah Tsanawiyah Negeri Metro Lampung Timur yang diselesaikan pada tahun 2006. Tahun 2006 diterima di Madrasah Aliyah Negeri 1 Lampung Timur yang diselesaikan pada tahun 2009. Tahun 2009 penulis terdaftar sebagai
mahasiswi Pendidikan Biologi FKIP Unila melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).
Tahun 2012 penulis melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMP Negeri 4 Padang Cermin, Kab. Pesawaran dan KKN (Kuliah Kerja Nyata)
SANWACANA
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Dengan mengucap Alhamdulillahirabbill’alamin, segala puji dan syukur
kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan nikmat-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan sebagai salah satu syarat meraih gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Biologi Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Unila. Skripsi ini
berjudul “Pengaruh Penggunaan Metode Discovery Learning Terhadap Aktivitas Belajar dan Penguasaan Konsep oleh Siswa Pada Materi Pokok Gerak Tumbuhan ( Studi Eksperimen pada Siswa Kelas VIII SMP Muhammadiyah Lampung Timur Tahun Pelajaran 2013/2014)”.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari peranan dan bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dr. Bujang Rahman, M. Si., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung.
2. Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan PMIPA FKIP Universitas Lampung. 3. Berti Yolida, S.Pd, M. Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Biologi
yang telah memberikan bimbingan, saran, dan motivasinya kepada penulis hingga skripsi ini dapat selesai .
5. Drs. Arwin Achmad, M.Si., selaku pembimbing II sekaligus Pembimbing Akademik dari penulis yang telah memberikan bimbingan, saran, dan motivasinya kepada penulis hingga skripsi ini dapat selesai.
6. Dr. Tri Jalmo, M.Si., selaku dosen penguji, terima kasih atas kritik dan saran serta bimbingan yang telah diberikan.
7. Bapak dan ibu dosen pengajar, atas segala bantuan dan ilmu yang telah diberikan serta staf di Jurusan PMIPA FKIP Unila.
8. M. Dimyati, S.Pd., selaku Kepala SMP Muhammadiyah Pekalongan Lampung Timur dan Zaenatun, S.Pd., selaku guru mitra yang telah memberikan izin dan bantuan selama penelitian serta motivasi yang sangat berharga.
9. Seluruh dewan guru, staf, dan siswa-siswi kelas VIIC dan VIID SMP Muhammadiyah Pekalongan Lampung Timur atas kerja sama yang baik selama penelitian berlangsung.
10.Teristimewa untuk Bapak dan Ibu tercinta serta adikku tersayang yang telah mendoakan, selalu mendukung dan memberikan motivasi untukku.
11.Sahabat terbaik yang selalu ada menemani dan mendoakan untuk kesuksessanku.
12.Rekan-rekan Mahasiswa Pendidikan Biologi 2009, kakak dan adik tingkat Pendidikan Biologi atas persahabatan yang kalian berikan.
13.Semua pihak yang membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
dalam upaya peningkatan dan pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam pendidikan. Amin.
Bandar Lampung, November 2014 Penulis
Dengan menyebut nama Alloh yang Maha pengasih lagi Maha penyayang
PERSEMBAHAN
Segala puji hanya milik Allah SWT, atas rahmat dan nikmat yang tak terhitung…
Sholawat serta salam selalu tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW…
Kupersembahkan karya ini sebagai tanda bakti dan cinta kasihku kepada:
Ibu dan Bapak tercinta yang telah mendidik dan membesarkan ku dengan segala doa terbaik mereka, kesabaran dan limpahan kasih sayang, selalu menguatkanku, mendukung segala langkah ku menuju kesuksesan dan kebahagian. Semoga aku bisa
menjadi kebanggaan dan kebahagiaan kalian.
Adik yang kubanggakan dan kusayangi yang selalu memberikan bantuan dan
menyemangatiku. Terimakasih untuk do’a dari keluarga besar yang tercinta. Jaadilah anak kebanggaan Ibu dan Bapak
Sahabat terbaikku yang selalu datang memberi canda dan semangat. Terimakasih untuk semangat yang diberikan semoga sukses menghampirimu.
Para guru, murabbi dan dosen atas ilmu yang telah diberikan.
Teman-teman, adik-adik, dan kakak-kakak pendidikan Biologi yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terimakasih kerjasama, bantuan, dan dukungan selama ini.
DAFTAR ISI
E. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data Penelitian ... 24
F. Teknik Analisis Data ... 27
G. Pengolahan data aktivitas siswa ... 29
IV.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 34
B. Pembahasan ... 38
V. SIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 41
B. Saran ... 41
LAMPIRAN
1. Silabus Pembelajaran ... 46
2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ... 50
3. Lembar Kerja Kelompok (LKK) ... 61
4. Kunci Jawaban LKK ... ... 72
5. Kriteria Penskoran ... 79
6. Kisi-kisi Pretest ... 84
7. Soal Pretest Postest ... 92
8. Lembar Jawaban... 96
9. Lembar Observasi Aktivitas Siswa ... 97
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Lembar observasi Aktivitas siswa ... 29 2. Kriteriua Aktivitas siswa ... 30 3. Pernyataan angket tanggapan siswa terhadap metode discovery
learning ... 31 4. Skor perjawaban angket ... 32 5. Data angket tanggapan siswa terhadap metode discovery learning ... 32 6. Tafsiran persentase angket tanggapan siswa terhadap metode
discovery learning ... 33 7. Aktivitas belajar siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen ... 34 8. Hasil statistik pretes, postes, dan N-gain oleh siswa pada kelas
eksperimen dan kontrol ... 35 9. Hasil uji statistik indikator kognitif C2, C3, dan C4 siswa pada kelas
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat ... 7
2. Desain penelitian pretes-postes kelompok tak ekuivalen... 19
3. Tanggapan siswa terhadap penerapan metode discovery learning ... 37
4. Contoh jawaban siswa pada LKK 2 ... 39
5. Siswa kelas kontrol mengerjakan soal pretes ... 99
6. Siswa kelas kontrol berdiskusi mengerjakan LKS ... 99
7. Siswa kelas kontrol mengerjakan soal postes ... 99
8. Siswa kelas eksperimen mengerjakan soal pretes ... 99
9. Siswa kelas eksperimen melakukan diskusi kelompok ... 99
I. PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang diarahkan pada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar juga proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu (Sudjana,1989: 28). Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan (Hamalik, 2011: 28).
Selain itu di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 1 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa, dan negara (Visimedia, 2008: 2) .
2
kegiatan belajar yang mendukung UU Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1Ayat 1 tentang sistem pendidikan nasional.
Dapat dikatakan bahwa masalah utama dalam pembelajaran pada pendidikan formal (sekolah) dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik. Hal ini tampak dari rerata hasil belajar peserta didik yang senantiasa masih sangat memprihatinkan. Prestasi ini tentunya merupakan hasil kondisi pembelajaran yang masih bersifat konvensional dan tidak menyentuh ranah dimensi peserta didik itu sendiri, yaitu bagaimana sebenarnya belajar itu (belajar untuk belajar). Dalam arti yang lebih substansial, bawha proses pembelajaran hingga dewasa ini masih memberikan dominasi duru dan tidak memberikan akses bagi anak didik untuk berkembang secara mandiri melalui penemuan dalam proses berpikirnya (Trianto,2012: 5).
Hasil wawancara dengan guru mata pelajaran IPA kelas VIII di SMP
Muhammadiyah Pekalongan Lampung Timur pada bulan Juni 2013 dikatakan bahwa guru tersebut lebih banyak menggunakan metode ceramah. Padahal, kegiatan atau aktivitas dalam proses pembelajaran sangat penting guna melatih keterampilan siswa dan memberikan pengalaman belajar yang lebih serta menunjang perolehan pengetahuan dan informasi siswa. Hal ini sesuai dengan hal yang dikatakan oleh Hamalik (2011: 172) bahwa pengajaran yang efektif adalah pengajaran yang menyediakan kesempatan belajar sendiri atau
3
Sesuai dengan hakikat pembelajaran IPA dan pembelajaran biologi yang tercantum dalam BNSP (2006: iv), yang menyebutkan bahwa Pelajaran Biologi termasuk dalam rumpun Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), yang umumnya
memiliki peran penting dalam peningkatan mutu pendidikan, khususnya di dalam menghasilkan peserta didik yang berkualitas, yaitu manusia Indonesia yang mampu berpikir kritis, kreatif, logis dan berinisiatif dalam menanggapi isu di masyarakat yang diakibatkan oleh dampak perkembangan IPA dan teknologi.
Hasil wawancara tersebut menyebutkan bahwa kebanyakan siswa hanya datang, duduk, diam, dan mendengarkan penjelasan guru. Diduga dengan metode pembelajaran dan media pembelajaran tersebut kurang merangsang aktivitas dan penguasaan konsep siswa. Dengan demikian hasil yang diperoleh pun belum maksimal, ditunjukkan dengan hasil tes formatif pada materi gerak tumbuhan pada tahun ajaran 2012-2013, yaitu sebesar 10% siswa yang
mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ditetapkan sekolah yaitu 65.
Dari fakta tersebut, metode discovery learning dapat dijadikan inovasi untuk pembelajaran IPA pada materi pokok gerak tumbuhan di SMP Muhammadiyah Pekalongan. Penggunaan metode discovery learning ini dapat menjadikan siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran dan pembelajaran yang terjadi benar-benar terpusat pada siswa. Karena dalam penerapan metode discovery learning siswa dilatih untuk menemukan konsep dalam materi itu sendiri,
4
mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur , membuat kesimpulan dan sebagainya (Roestiyah, 2008: 20). Dengan
menemukan konsep sendiri maka pemahaman yang didapat oleh siswa akan bertahan lama dalam ingatannya. Juga siswa akan lebih mudah dalam
memahami konsep yang ada. Dan lebih mudah dalam mengembangkan potensi dalam dirinya karena pemahaman yang di dapat dari usahanya sendiri. Dengan demikian tujuan pembelajaran akan tercapai.
Hasil penelitian Rosilawati dan Sunyono (2008: 6) menunjukkan bahwa
penemuan terbimbing terbukti mampu meningkatkan aktivitas dan penguasaan konsep oleh siswa. Wahyuningsih (2012: 4) menyebutkan bahwa penerapan pembelajaran menggunakan penemuan terbimbing cukup efektif untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam belajar. Hal ini ditunjukkan adanya peningkatan dari 30,77%, kemudian menjadi 89,74%.
Berdasarkan pemaparan di atas maka dilakukan penelitian dengan judul
Pengaruh Penggunaan Metode Discovery Learning Terhadap Aktivitas Belajar dan Penguasaan Konsep oleh Siswa pada Materi Pokok Gerak Tumbuhan pada siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah Pekalongan Lampung Timur tahun ajaran 2013/2014.
B. Rumusan Masalah
5
1. Bagaimanakah pengaruh metode discovery learning terhadap aktivitas belajar siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah Pekalongan pada pembelajaran biologi materi pokok gerak tumbuhan?
2. Apakah metode discovery learning berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan penguasaan konsep oleh siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah Pekalongan pada pembelajaran biologi materi pokok gerak tumbuhan?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah dikemukakan maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1. Pengaruh metode discovery learning terhadap aktivitas belajar siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah Pekalongan pada pembelajaran biologi materi pokok gerak tumbuhan.
2. Pengaruh metode discovery learning terhadap kemampuan penguasaan konsep oleh siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah Pekalongan pada pembelajaran biologi materi pokok gerak tumbuhan.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian melalui penerapan motode discovery learning ini diharapkan memberikan manfaat terhadap pendidikan biologi. Manfaat tersebut antara lain :
6
konsep oleh siswa dalam pembelajaran dan membantu dalam menuyusun instrumen untuk mengukur kemampuan pemahaman konsep oleh siswa. 2. Bagi siswa, dapat mengurangi kejenuhan siswa dalam belajar dan dapat
meningkatkan aktivitas belajar dan pemahaman konsep oleh siswa 3. Bagi peneliti: memberikan manfaat berupa pengalaman untuk menjadi
calon guru, sebagai aplikasi ilmu pengetahuan yang diperoleh di peguruan tinggi yang berhubungan dengan dunia pendidikan.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Untuk menghindari terjadinya salah penafsiran dalam penelitian ini, maka ruang lingkup penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah Pekalongan, Lampung Timur.
2. Aktivitas yang diamati yaitu aktivitas siswa dalam: 1) mengajukan pertanyaan, 2) mengajukan ide atau pendapat, 3) melakukan kegiatan diskusi, 4) bekerjasama dalam kelompok, dan 5) menjawab pertanyaan. 3. Penguasaan konsep diperoleh dari hasil tes awal-tes akhir aspek kognitif. 4. Materi pokok pada penelitian ini adalah gerak tumbuhan. KD: 2.3
Mengidentifikasi macam-macam gerak pada tumbuhan
F. Kerangka Pikir
7
menemukan sendiri atau mengalami proses mental sendiri. Proses mental tersebut terdiri dari mengamati, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan. Hal ini sesuai dengan keterbutuhan yaitu siswa dituntut untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran serta dapat memahami konsep IPA yang diajarkan. Dengan siswa mengalami proses mental tersebut maka aktivitas siswa selama proses pembelajaran akan meningkat. Disamping itu siswa akan lebih mudah mengingat pelajaran karena siswa mengalami sendiri, sehingga akan meningkatkan penguasaan konsep siswa.
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah metode discovery learning (variabel X), dan variabel terikat dalam penelitian ini adalah aktivitas belajar siswa (variabel Y1) dan penguasaan konsep oleh siswa (variabel Y2).
Hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat ditunjukkan pada tabel di bawah ini.
Keterangan : X : Variabel bebas (pembelajaran melalui metode Discovery learning).
Y 1: Variabel terikat (aktivitas belajar siswa)
Y2: Variabel teerikat (kemampuan penguasaan konsep oleh siswa) (dimodifikasi dari Margono, 2005: 139)
Gambar 1. Hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat
X
Y1
8
G. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
H0 : Penggunaan metode discovery learning berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan penguasaan konsep oleh siswa pada materi Gerak Tumbuhan
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Metode Discovery Learning
Metode discovery adalah suatu prosedur mengajar yang manitikberatkan studi individual, manipulasi objek-objek dan eksperimentasi oleh siswa membuat generalisasi sampai siswa menyadari suatu komponen dari praktek pendidikan yang sering disebut sebagai heuristic teaching, yakni: suatu tipe pengajaran yang meliputi metode-metode yang disusun untuk memajukan rentang yang luas dari belajar aktif, berorientasi pada proses, membimbing diri sendiri (self-directed), inkuiri, dan model belajar reflektif (Hamalik, 2011: 134).
Pendapat tersebut menegaskan bahwa metode discovery learning merupakan suatu metode pengajaran yang bertujuan agar siswa dapat membimbing dirinya sendiri dalam menemukan suatu konsep melalui pengalaman belajar siswa sendiri, mulai dari membuat dugaan sampai menemukan suatu konsep yang benar.
10
1. Pengertian Metode Penemuan (Discovery Method)
Metode Penemuan (Discovery Method) menurut Suryosubroto (2009: 178) diartikan sebagai suatu prosedur mengajar yang mementingkan pengajaran perseorangan, manipulasi obyek dan lain-lain, sebelum sampai kepada generalisasi. Sebelum siswa sadar akan pengertian, guru tidak menjelaskan dengan kata-kata.
Metode Penemuan (Discovery Method) merupakan komponen dari praktik pendidikan yang meliputi metode mengajar yang memajukan cara belajar aktif, beroreientasi pada proses, mengarahkan sendiri, mencari sendiri, dan reflektif.
Metode Penemuan menurut Roestiyah (2008: 20) adalah metode mengajar mempergunakan teknik penemuan. Metode discovery adalah proses mental yang menuntun siswa untuk dapat mengasimilasi sesuatu konsep atau suatu prinsip. Proses mental tersebut misalnya mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya. Dalam teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan instruksi.
Berdasarkan pernyataan Rostiyah (2008: 20) di atas dapat dikatakan bahwa metode penemuan (discovery merhod) adalah suatu metode yang dalam proses belajar mengajarnya guru memperkenankan
11
diberitahukan atau diarahkan. Penggunaan metode discovery ini guru berusaha meningkatkan aktivitas dalah proses belajar mengajar.
2. Langkah-Langkah Pelaksanaan Metode Penemuan (Discovery Learning)
Langkah-langkah pelaksanaan metode penemuan (discovery learning) Hamalik (2010: 220) adalah :
1. mengidentifikasi dan merumuskan topik, 2. mengajukan suatu pertanyaan tentang fakta,
3. memformulasikan hipotesis atau beberapa hipotesis untuk menjawab pertanyaan pada langkah 2,
4. mengumpulkan informasi yang relevan dengan hipotesis dan menguji setiap hipotesis dengan data yang terkumpul,
5. merumuskan jawaban atas pertanyaan sesungguhnya dan menyatakan jawaban sebagai preposisi tentang fakta. Jawaban itu mungkin
merupakan sintesis antara hipotesis yang diajukan dan hasil-hasil dari hipotesis yang diuji dengan informasi yang terkumpul.
3. Kelebihan dan Kelemahan Metode Penemuan (Discovery Learning) Metode penemuan, menurut Gilstrap (Dimyati dan Moedjiono, 2006: 87), memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain. Beberapa keunggulan dalam metode penemuan adalah sebagai berikut.
12
2. Pengetahuan sebagai pengetahuan yang melekat erat pada diri siswa. 3. Dapat menimbulkan gairah pada diri siswa karena siswa merasakan
jerih payahnya membuahkan hasil.
4. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk maju berkelanjutan sesusai dengan kemampuannya sendiri.
5. Menyebabkan siswa mengarahkan belajarnya sendiri, sehingga lebih termotivasi untuk belajar.
6. Membantu siswa memperkuat konsep siswa dengan bertambahnya rasa percaya diri selama proses kerja penemuan.
7. Terpusat pada siswa, guru sebagai fasilitator dan pendinamisator dari penemuan.
8. Membantu perkembangan siswa menuju ke skeptisme (perasaan meragukan) yang sehat untuk mencapai kebenaran akhir dan mutlak.
Selain memiliki kelebihan, metode penemuan juga memiliki kelemahan. Beberapa kelemahan metode penemuan adalah sebagai berikut.
1. Mempersyaratkan suatu persiapan kemampuan berpikir yang dapat dipercaya.
2. Kurang berhasil untuk mengajar kelas yang jumlahnya besar. 3. Harapan yang ditimbulkan oleh metode ini, kurang bisa diterapkan
oleh guru dan siswa yang sudah terbiasa dengan perencanaan dan pengajaran yang tradisional,
13
5. Tidak memungkinkan siswa untuk berpikir kreatif, bila sejak awal konsep yang akan ditemukan telah dipilih guru dan proses
penemuannya juga dibawah bimbingan guru.
B. Aktivitas Belajar
Kegiatan pembelajaran dimaksudkan agar tercipta kondisi yang
memungkinkan terjadinya belajar pada diri siswa. Dalam suatu kegiatan pembelajaran dapat dikatakan terjadi belajar apabila terjadi proses perubahan prilaku pada diri siswa sebagai hasil dari suatu pengalaman. Dari jabaran kegiatan pembelajaran tersebut, maka dapat diidentifikasi 2 aspek penting yang ada dalam kegiatan pembelajaran tersebut. Aspek pertama adalah aspek hasil belajar yakni perubahan prilaku pada diri siswa. Aspek kedua adalah aspek proses belajar, yakni sejumlah pengalaman intelektual, dan fisik pada diri siswa (Dimyati dan Mudjiono, 2010: 135-136).
Pengajaran yang efektif adalah pengajaran yang menyediakan kesempatan belajar sendiri atau melakukan aktivitas sendiri. Siswa dilatih belajar sambil bekerja (Learning by doing). Dengan bekerja mereka memperoleh
pengetahuan, pemahaman, dan aspek-aspek tingkah laku lainnya serta mengembangkan keterampilan yang bermakna untuk hidup di masyarakat (Hamalik, 2005: 171-172).
14
melakukan aktivitas di dalam pembentukan diri adalah anak itu sendiri sedang pendidik memberikan bimbingan dan merencanakan segala kegiatan untuk anak didik.
Sekolah adalah salah satu pusat kegiatan belajar. Dengan demikian, di sekolah merupakan arena untuk mengembangkan aktivitas. Aktivitas siswa tidak cukup hanya dengan mendengarkan atau mencatat seperti yang lazim dilaksanakan selama ini. Akan tetapi perlu adanya aktivitas-aktivitas positif lain yang dilakukan oleh siswa. Pada proses pembelajaran, guru perlu menimbulkan aktivitas siswa dalam berpikir maupun berbuat. Penerimaan pelajaran jika dengan aktivitas siswa sendiri, kesan itu tidak akan berlalu begitu saja, tetapi dipikirkan, diolah kemudian dikeluarkan lagi dalam bentuk berbeda. Atau siswa akan bertanya, mengajukan pendapat, menimbulkan diskusi dengan guru. Dalam berbuat siswa dapat menjalankan perintah, melaksanakan tugas, membuat grafik, diagram, intisari dari pelajaran yang disajikan oleh guru. Bila siswa menjadi partisipasi yang aktif, maka ia memiliki ilmu/pengetahuan itu dengan baik (Slameto, 1995: 36).
15
C. Penguasaan Konsep
1. Penguasaan
Pengertian penguasaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai pemahaman atau kesanggupan untuk menggunakan pengetahuan, kepandaian dan sebagainya. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dinyatakan bahwa penguasaan adalah pemahaman. Pemahaman bukan saja berarti mengetahui yang sifatnya mengingat (hafalan) saja, tetapi mampu mengungkapkan kembali dalam bentuk lain atau dengan kata-kata sendiri sehingga mudah dimengerti makna bahan yang dipelajari, tetapi tidak mengubah arti yang ada di
dalamnya.
2. Konsep
Menurut (Dahar,1996: 80) konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili suatu objek-objek, kejadian-kejadian, kegiatan-kegiatan, atau
hubungan-hubungan yang mempunyai atribut-atribut yang sama. Konsep diperlukan untuk memperoleh dan mengkomunikasikan pengetahuan, karena dengan menguasai konsep kemungkinan memperoleh pengetahuan baru tidak terbatas.
batu-16
batu pembangunan (building blocks) berpikir. Konsep-konsep merupakan dasar bagi proses-proses mental yang lebih tinggi untuk merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi. Untuk memecahkan masalah, seorang siswa harus mengetahui aturan-aturan yang relevan, dan aturan-aturan ini didasarkan pada konsep-konsep yang diperolehnya (Dahar, 1996: 79).
3. Penguasaan Konsep
Penguasaan konsep merupakan kemampuan siswa dalam memahami konsep-konsep setelah kegiatan pembelajaran. Penguasaan konsep dapat diartikan sebagai kemampuan siswa dalam memahami makna secara ilmiah, baik konsep secara teori maupun penerapannya dalam kehidupan sehari-hari (Dahar, 2003: 4)
Ada beberapa kriteria suatu konsep telah dikuasai. Untuk mengetahui apakah siswa telah mengetahui suatu konsep, paling tidak ada empat hal yang dapat diperbuatnya, yaitu sebagai berikut.
a. Menyebutkan nama contoh-contoh konsep bila dia melihatnya. b. Menyatakan ciri-ciri (properties) konsep tersebut.
c. Memilih, membedakan antara contoh-contoh dari yang bukan contoh.
d. Lebih mampu memecahkan masalah yang berkenaan dengan konsep tersebut (Hamalik, 2006: 166)
17
III. METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2013/2014 di SMP Muhammadiyah Pekalongan, Lampung Timur.
B. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII semester ganjil SMP Muhammadiyah Pekalongan, Lampung Timur tahun pelajaran
2013/2014. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2008: 85). Teknik ini digunakan untuk menghindari peluang kelas unggulan menjadi sampel.Sampel tersebut adalah siswa-siswi kelas VIIID yang
berjumlah 21 orang sebagai kelas eksperimen dan siswa-siswi kelas VIIIC yang berjumlah 23 orang sebagai kelas kontrol.
C. Desain Penelitian
19
metode diskusi. Setelah itu, kedua kelompok diberi tes/soal berupa soal essay yang sama di awal dan akhir kegiatan pembelajaran (pretes-postes). Hasil pretes dan postes pada kedua kelompok dibandingkan. Sampel mendapat penilaian aktivitas belajar yang sama. Sehingga struktur desain penelitiannya sebagai berikut:
X = Perlakuan di kelas eksperimen dengan metode discovery learning C = Perlakuan di kelas kontrol dengan metode diskusi
O1 = Pretes O2 = Postes
Gambar 2. Desain penelitian pretes-postes kelompok ekuivalen
D. Prosedur Penelitian
Penelitian ini terdiri atas dua tahap, yaitu prapenelitian dan pelaksanaan penelitian. Adapun langkah-langkah dari tahap tersebut yaitu sebagai berikut: 1. Prapenelitian
Kegiatan yang dilakukan pada prapenelitian sebagai berikut : a. Membuat surat pengantar izin penelitian ke sekolah tempat
diadakannya penelitian.
20
untuk mengetahui kondisi awal nilai siswa serta mendiskusikan masalah–masalah yang dihadapi guru saat ini.
c. Menetapkan sampel penelitian untuk kelas eksperimen.
d. Membuat perangkat pembelajaran yang terdiri dari Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
e. Membuat instrumen evaluasi yaitu soal tes awal dan tes akhir berupa soal pilihan jamak beralasan.
f. Membuat instrumen evaluasi yaitu soal tes-awal/tes-akhir untuk setiap pertemuan.
g. Melakukan uji desain pada tiap butir soal yang akan digunakan pada tes-awal/tes-akhir.
h. Membentuk kelompok diskusi pada kelas eksperimen yang bersifat heterogen berdasarkan nilai akademik siswa atau nilai kognitifnya, 2 siswa dengan nilai tinggi, 2 siswa dengan nilai sedang, dan 2 siswa dengan nilai yang rendah. Setiap kelompok terdiri dari 5-6 orang siswa (Lie, 2004: 42). Jadi jumlah kelompok pada tiap kelas adalah 5.
2. Pelaksanaan Penelitian
Mengadakan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan metode discovery learning untuk kelas eksperimen dan metode diskusi untuk kelas kontrol.
21
Kelas eksperimen (Pembelajaran menggunakan metode discovery learning)
a) Pendahuluan
1. Siswa mengerjakan soal tes awal (pretest) pada pertemuan 1 dalam
bentuk pilihan jamak beralasan untuk materi pokok “Gerak pada
Tumbuhan”
2. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
3. Guru menggali pengetahuan awal siswa (apersepsi):
Pertemuan I: “1. Apakah beda gerak pada kedua gambar (bunga pukul 4 mekar pada saat pukul 16.00 wib dengan daun bunga putri malu yang menutup jika disentuh)?”
Pertemuan II: “Apakah beda antara gerak pada ketiga gambar (gerak pada bunga pukul 4, daun bunga putri malu, dan gerak Euglena sp.?)” 4. Guru memberikan motivasi dengan penegasan :
Pertemuan I: bahwa macam-macam gerak pada tumbuhan dipengaruhi oleh jenis rangsangan.
Pertemuan II: bahwa bahwa macam-macam gerak pada tumbuhan dipengaruhi oleh jenis rangsangan, dan untuk itu kita perlu
membuktikannya untuk menanamkan pemahaman kita.
5. Siswa mengerjakan pretes berupa soal pilihan jamak beralasan.
(Pertemuan I)
b) Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi 5 kelompok secara heterogen, setiap
kelompok terdiri dari 5 orang.
22
3. Guru memberikan penjelasan tentang tata cara untuk mengerjakan
LKK.
4. Siswa berdiskusi dalam kelompoknya masing-masing untuk menjawab beberapa pertanyaan dalam LKS menggunakan bahan ajar brosur sebagai sumber dengan didampingi oleh guru.
5. Guru menunjuk perwakilan siswa dari tiap-tiap kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok didepan kelas. 6. Siswa memberikan pendapat atau pertanyaan kepada kelompok
yang tampil.
7. Siswa mendengarkan penjelasan dari guru.
8. Siswa mengumpulkan LKS yang telah didiskusikan c) Kegiatan Akhir
1. Guru mengadakan tes akhir (postes) (Pertemuan ke-II). 2. Guru menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.
Kelas Kontrol (Pembelajaran dengan metode diskusi) a) Pendahuluan
1. Siswa mengerjakan soal tes awal (pretest) pada pertemuan 1 dalam
bentuk pilihan jamak beralasan untuk materi pokok “Gerak pada
Tumbuhan”.
2. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
3. Guru menggali pengetahuan awal siswa (apersepsi) :
23
Pertemuan II: “Apakah beda antara gerak pada ketiga gambar (gerak pada bunga pukul 4, daun bunga putri malu, dan gerak Euglena sp.?)”.
4. Guru memberikan motivasi dengan penegasan :
Pertemuan I: bahwa macam-macam gerak pada tumbuhan dipengaruhi oleh jenis rangsangan.
Pertemuan II: bahwa bahwa macam-macam gerak pada tumbuhan dipengaruhi oleh jenis rangsangan, dan untuk itu kita perlu
membuktikannya untuk menanamkan pemahaman kita.
5. Siswa mengerjakan pretes berupa soal pilihan jamak beralasan. (Pertemuan I)
b) Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi 5 kelompok secara heterogen, setiap
kelompok terdiri dari 5 orang.
2. Siswa dibagikan Lembar Kerja Kelompok (LKK).
3. Guru memberikan penjelasan tentang tata cara untuk mengerjakan
LKK.
4. Siswa berdiskusi dalam kelompoknya masing-masing untuk menjawab beberapa pertanyaan dalam LKS menggunakan bahan ajar brosur sebagai sumber dengan didampingi oleh guru.
5. Guru menunjuk perwakilan siswa dari tiap-tiap kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok didepan kelas. 6. Siswa memberikan pendapat atau pertanyaan kepada kelompok
24
7. Siswa mendengarkan penjelasan dari guru.
8. Siswa mengumpulkan LKS yang telah didiskusikan. c) Kegiatan Akhir
1. Guru mengadakan tes akhir (postes) (Pertemuan ke-II). 2. Guru menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.
E. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data Penelitian
Jenis dan teknik pengambilan data pada penelitian ini adalah :
1. Jenis Data
Data penelitian berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif yaitu pemahaman konsep siswa yang diperoleh dari hasil jawaban siswa pada tes awal dan tes akhir. Data kualitatif diperoleh dari lembar observasi aktivitas siswa yaitu mengajukan pertanyaan, memberikan ide atau
pendapat, berkomunikasi dalam kelompok, bekerjasama dalam
menyelesaikan tugas kelompok berupa LKS dan menjawab pertanyaan selama proses pembelajaran.
2. Teknik Pengambilan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut: a) Tes awal dan Tes akhir
25
nilai tes awal dan nilai tes akhir. Nilai tersebut disebut N-gain, lalu dianalisis secara statistik.
b) Lembar Observasi Aktivitas Siswa
Lembar observasi siswa berisi semua aspek kegiatan yang diamati pada saat proses pembelajaran. Setiap siswa diamati point kegiatan yang
dilakukan dengan cara memberi tanda ( ) pada lembar observasi sesuai dengan aspek yang telah ditentukan.
E.Jenis dan Teknik Pengambilan Data
Jenis dan teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut :
a. Jenis Data
Terdapat dua jenis data yang diperoleh dari penelitian ini yaitu data kuantitatif dan kualitatif yang diuraikan sebagai berikut :
1. Data Kuantitatif
Data kuantitatif yaitu berupa hasil belajar siswa pada materi pokok gerak tumbuhan yang diperoleh dari nilai pretes dan postes. Kemudian dihitung nilai N-gain, lalu dianalisis secara statistik.
2. Data Kualitatif
26
b. Teknik Pengambilan Data
Teknik pengambilan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Pretes dan Postest
Hasil belajar berupa nilai pretes diambil pada pertemuan pertama dan postes diambil pada pertemuan kedua. Nilai pretes diambil sebelum pembelajaran pertemuan pertama pada setiap kelas baik eksperimen maupun kontrol, sedangkan nilai postes diambil setelah pembelajaran pertemuan kedua pada setiap kelas, baik eksperimen maupun kontrol.
b. Lembar Kerja Kelompok (LKK)
LKK digunakan untuk mengetahui hasil hasil dikusi oleh siswa di kedua kelas selama proses pembelajaran. Baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol mendapatkan LKK dalam bentuk essay atau uraian.
c. Lembar Observasi Aktivitas Siswa
Lembar observasi aktivitas siswa berisi aspek kegiatan yang diamati pada saat proses pembelajaran di kedua kelas. Setiap siswa diamati poin kegiatan yang dilakukan dengan cara memberi tanda (√ ) pada lembar observasi sesuai dengan aspek yang telah ditentukan.
d. Angket Tanggapan Siswa
27
pernyataan negatif. Angket tanggapan siswa ini memiliki 2 pilihan jawaban yaitu setuju dan tidak setuju.
F. Teknik Analisis Data
a) Analisis Data Kuantitatif
Nilai pretes, postest, dan N-gain pada kelas eksperimen dan kontrol selanjutnya dianalisis menggunakan uji statistik dengan program SPSS versi 17, yang sebelumnya dilakukan uji prasyarat berupa uji normalitas dan kesamaan dua varians (homogenitas) data:
1. Uji Normalitas Data
Uji normalitas data dilakukan menggunakan uji Lilliefors dengan program SPSS versi 17.
a. Hipotesis
Ho : Sampel berdistribusi normal H1 : Sampel tidak berdistribusi normal b. Kriteria Pengujian
Terima Ho jika Lhitung < Ltabel atau p-value > 0,05, tolak Ho untuk harga yang lainnya (Pratisto, 2004: 5).
2. Uji Kesamaan Dua Varians
Apabila masing masing data berdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan uji kesamaan dua varian dengan dengan menggunakan program SPSS versi 17. a. Hipotesis
Ho : Kedua sampel mempunyai varians sama H1 : Kedua sampel mempunyai varians berbeda b. Kriteria Uji
28
Apabila masing masing data tidak berdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan Uji Mann-Whitney U dengan menggunakan program SPSS versi 17.
a. Hipotesis :
Ho = rata-rata nilai kedua sampel tidak berbeda secara signifikan H1 = rata-rata nilai kedua samp el berbeda secara signifikan b. Kriteria Uji :
Jika probabilitasnya > 0,05 maka Ho diterima
Jika probabilitasnya < 0,05 maka Ho ditolak
3. Pengujian Hipotesis
Untuk menguji hipotesis digunakan uji kesamaan dua rata-rata dan uji perbedaan dua rata-rata dengan menggunakan program SPSS versi 17. a. Uji Kesamaan Dua Rata-rata
1) Hipotesis
H0 = Rata-rata N-gain kedua sampel tidak berbeda secara signifikan. H1 = Rata-rata N-gain kedua sampel berbeda secara signifikan. 2) Kriteria Uji
- Jika –ttabel < thitung < ttabel, maka Ho diterima
- Jika thitung < -ttabel atau thitung > ttabel maka Ho ditolak (Pratisto, 2004: 13)
b. Uji Perbedaan Dua Rata-rata 1) Hipotesis
H0 = Rata-rata N-gain pada kelompok eksperimen sama dengan kelompok kontrol.
H1 = Rata-rata N-gain pada kelompok eksperimen lebih tinggi dari kelompok kontrol.
2) Kriteria Uji :
- Jika –ttabel < thitung < ttabel, maka Ho diterima
29
G. Pengolahan Data Aktivitas Siswa
Data aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung merupakan data yang diambil melalui observasi. Data tersebut dianalisis dengan menggunakan indeks aktivitas siswa.
Langkah-langkah yang dilakukan yaitu:
1) Menghitung persentase aktivitas menggunakan rumus:
Xi = Jumlah skor aktivitas yang diperoleh n = Jumlah skor aktivitas maksimum
(Sudjana, 2002: 69). Tabel 1. Lembar observasi aktivitas siswa
No Nama Aspek yang diamati
Berilah tanda checklist (√) pada setiap item yang sesuai (dimodifikasi dari Arikunto, 2009:183)
Keterangan kriteria penilaian aktivitas belajar siswa: A.Mengajukan pertanyaan:
0) Tidak mengajukan pertanyaan
1) Mengajukan pertanyaan tetapi tidak relevan dengan materi 2) Menjawab pertanyaan yang relevan dengan materi
B.Mengajukan Ide atau Pendapat: 0) Tidak mengajukan pendapat
30
C.Melakukan Kegiatan Diskusi:
0) Diam saja, tidak melakukan diskusi dalam kelompok
1) Melakukan diskusi tetapi kurang tepat dan tidak sesuai dengan permasalahan
2) Melakukan diskusi dengan tepat dan sesuai dengan permasalahan D.Bekerja sama dalam Kelompok:
0) Tidak bekerja sama dalam kelompok
1) Bekerja sama dalam kelompok tetapi hanya satu atau dua teman 2) Bekerja sama dalam kelompok dengan semua anggota kelompok E.Menjawab Pertanyaan:
0) Tidak menjawab pertanyaan
1) Menjawab pertanyaan tetapi tidak relevan dengan materi 2) Menjawab pertanyaan yang relevan dengan materi
1) Menghitung rata-rata skor aktivitas dengan menggunakan rumus :
Xi : Jumlah skor aktivitas yang diperoleh n : Jumlah skor aktivitas maksimum
2) Menafsirkan atau menentukan kategori Indeks Aktivitas Siswa sesuai klasifikasi pada tabel 2 dibawah ini :
Tabel 2. Kriteria aktivitas siswa
indeks aktivitas siswa (%) Interprestasi 0,00 – 29,99 Sangat Rendah
30,00 – 54,99 Rendah
55,00 – 74,99 Sedang
75,00 – 89,99 Tinggi
31
2. Pengolahan Data Angket Tanggapan Siswa Terhadap Penerapan Metode Discovery Learning
Data tanggapan siswa metode discovery learning dikumpulkan melalui penyebaran angket. Angket tanggapan siswa berisi 7 pernyataan yang terdiri dari 4 pernyataan positif dan 3 pernyataan negatif.
Pengolahan data angket dilakukan sebagai berikut:
1. Membuat pertanyaan angket tanggapan siswa seperti pada tabel 3.
Tabel 3. Pernyataan Angket Tanggapan Siswa Terhadap Metode Discovery Learning
No. Pernyataan- Pernyataan S TS
1 Saya senang mempelajari materi gerak tumbuhan dengan metode pembelajaran yang digunakan oleh guru.
2 Saya lebih mudah memahami materi yang dipelajari melalui metode pembelajaran yang digunakan oleh guru
3 Metode pembelajaran yang digunakan menjadikan saya lebih aktif dalam diskusi kelas dan kelompok
4 Saya merasa sulit berinteraksi dengan teman dalam proses pembelajaran berlangsung 5 Saya termotivasi untuk mencari
data/informasi dari berbagai sumber untuk membuktikan percobaan yand dirancang dalam LKK
6 Saya merasa sulit mengerjakan soal-soal di LKK dengan metode pembelajaran yang digunakan oleh guru.
7 Saya tidak memperoleh
32
2. Menghitung skor angket pada setiap jawaban sesuai dengan ketentuan pada Tabel 4.
Tabel 4. Skor per jawaban angket
Sifat Pernyataan Skor
1 0
Positif S TS
Negatif TS S
Keterangan: S = setuju; TS = tidak setuju Sumber: Rahayu (dalam Anggraini 2012: 42)
3. Melakukan tabulasi data temuan pada angket berdasarkan klasifikasi yang dibuat, bertujuan untuk memberikan gambaran frekuensi dan kecenderungan dari setiap jawaban berdasarkan pernyataan angket. Tabel 5 . Data angket tanggapan siswa terhadap metode discovery learning
Sumber: Rahayu (dalam Anggraini 2012: 42).
4. Menghitung persentase skor angket dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
33
5. Menafsirkan persentase angket tanggapan siswa terhadap penerapan metode discovery learning
Tabel 6. Tafsiran persentase angket tanggapan siswa terhadap penerapan model pembelajaran Dicovery Learning.
Persentase (%) Kriteria
100 76 – 99 51 – 75
50 26 – 49
1 – 25 0
Semuanya Sebagian besar Pada umumnya Setengahnya Hampir setengahnya
41
V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Penerapan metode discovery learning berpengaruh terhadap aktivitas belajar siswa pada materi pokok gerak pada tumbuhan.
2. Penerapan metode discovery learning berpengaruh secara signifikan terhadap penguasaan konsep oleh siswa pada materi pokok gerak pada tumbuhan. 3. Angket tanggapan siswa menyatakan bahwa siswa merasa senang belajar dan
lebih mudah memahami materi yang di sampaikan dengan menggunakan
metode discovery learning pada materi gerak pada tumbuhan.
B. Saran
Untuk kepentingan penelitian, maka penulis menyarankan sebagai berikut. 1. Sebaiknya guru hanya menyampaikan materi secara garis besarnya saja,
42
2. Pada saat kegiatan diskusi, guru harus memberikan arahan dengan jelas dan tegas kepada seluruh kelompok sehingga siswa dapat lebih bertanggung jawab terhadap tugasnya dan menyelesaikannya tepat waktu.
DAFTAR PUSTAKA
BNSP. 2006.Petunjuk Teknis Pengembangan Silabus dan Contoh/Model Silabus SMA/MA Mata Pelajaran Biologi. Departemen Pendidikan Nasional: Jakarta.
Dahar, R.W. 1996. Teori-Teori Belajar. Erlangga. Jakarta
Dimyati dan Moedjiono. 2004. Motivasi Belajar Mengajar. Bumi Aksara. Jakarta.
Erika. 2011. Pengaruh media audio visual melalui model Numbered Head
Together (NHT) terhadap aktivitas dan penguasaan konsep siswa pada materi pencemaran lingkungan (Studi eksperimental semu siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bandar Lampung 2010/2011). Skripsi. FKIP Unila. Bandar Lampung
Hake, R. R. 1999. Analyzing Change/ Gain Score. American Educational Research Methodology.
http://lists.asu.edu/cgi-bin/wa?A2=ind9903&L=aera-d&P=R6855. (7 Desember 2012 : 08:00) Hamalik, O. 2010. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem.
Bumi Aksara. Jakarta.
Hamalik,O. 2011. Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara. Jakarta.
Lie, A. 2004. Mempraktikkan Cooperatif Learning di Ruang-ruang Kelas. Gramedia. Jakarta.
Margono, S. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan. Rineka Cipta:Jakarta Pratisto, A. 2004. Cara Mudah Mengatasi Masalah Statistik dan Rancangan
Percobaan dengan SPSS 12. Bumi Aksara. Jakarta.
Purwanto, N. 2008. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Sudjana. 2002. Metode Statistika Edisi Keenam. PT. Tarsito: Bandung. Suryosubroto, B. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Rineka Cipta.
Jakarta.
Sardiman, A. M. 2005. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta
Sanjaya, W. 2009. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Kencana. Jakarta.
Slameto. 1995 . Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. PT Rineka Cipta. Jakarta
Trianto. 2012. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Kencana. Jakarta