ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN MASALAH GANGGUAN PEMENUHAN Personal Hygiene PADA Ny.P
DI LINGKUNGAN X KELURAHAN SITI REJO II KECAMATANMEDAN AMPLAS
Karya Tulis Ilmiah (KTI) Disusun dalam Rangka Menyelesaikan
Program Studi DIII Keperawatan
Oleh
NUR CHAIRANI 132500025
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
JUNI 2016
KATA PENGANTAR
Kita banyak bersyukur kepada Allah, dengan anugrahnya kita masih diberinya kesehatan dan kekuatan dengan itu penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiahnya. Oleh karenanya shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah mengeluarkan umatnya dari kegelapan menuju terang benderang.
Adapun judul Karya Tulis Ilmiah ini adalah ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN MASALAH GANGGUAN PEMENUHAN Personal Hygiene PADA Ny.P DI LINGKUNGAN X KELURAHAN SITI REJO II KECAMATAN MEDAN AMPLAS. Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak baik moral maupun material, untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat:
1. Bapak Setiawan, S.Kep,M,NS,P.hd, selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara
2. Ibu Sri Eka Wahyuni, S.Kep.,Ns.,M.Kep, selaku wakil dekan dekan I dan ibu Cholina Trisa Siregar,S.Kep., Sp.KMB , M.Kep, selaku wakil dekan II dan ibu Siti Saidah Nasution , S.Kp.,M.Kep., Sp.Mat, selaku wakil dekan III Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara
3. Ibu Nur Afi Darti , S.Kp, M.Kep, selaku Ketua Prodi DIII Keperawatan dan Bapak Mula Tarigan, S.Kp, M.Kep , selaku sekretaris Prodi DIII Keperawatan Universitas Sumatera Utara
4. Bapak Setiawan, S.Kep,M,NS,P.hd, selaku dosen pembimbing akademik saya 5. Bapak Ismayadi S.Kep NS selaku dosen pembimbing Karya Tulis Ilmiah
Dalam kesempatan ini juga, penulis secara khusus ingin memberikan pengahrgaan yang sebesar-besarnya beserta ucapan terimakasih yang setulus-
1. Terimakasih yang begitu mendalam kepada kedua orang tua saya Bapak H.
Ngatimin dan Ibunda Hj. Supeni yang telah mendoakan saya, mendukung saya, membantu saya baik moral maupun material, terimakasih atas pengorbanannya selama ini sehingga saya dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah.
2. Terimakasih kepada Abangda saya M.Ardiansyah yang selalu mendukung dan mendoakan saya.
3. Trimakasih kepada keluarga besar saya anak cucu dari Alm. Bapak Suwito Harrjo yang selalu mendukung saya dan member motivasi saya.
4. Trimakasih kepada seluruh rekan-rekan seperjuangan saya Mahasiswa/I DIII Keperawatan 2013 Universitas Sumatra Utara.
5. Terimakasih untuk sahbat-sahabat saya, yang selalu mendukung saya di keadaan susah dan senang Tri May Rizki, Dita Hediant Safira, Yunisyah Mawaddah Silalahi, Winda Seppy Anggraini Dalimunte, Lastri Susanti, Syahfitri Handayani Harahap, Sigit Gunadi, serta teman-teman dari Fakultas lain trima kasih banyak.
Medan, Juli 2016 Hormat saya,
NUR CHAIRANI 132500025
DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN
LEMBAR PENGESAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI
BAB IPENDAHULUAN
A. Latar Belakang ... 1
B. Tujuan ... 4
C. Manfaat ... 4
BAB II PENGELOLAAN KASUS A. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan dengan Masalah Kebutuhan Dasar Personal Hygiene 1. Pengkajian ... 16
2. Analisa Data ... 19
3. Rumusan Masalah……… ... 20
4. Perencanaan………... 21
B.Asuhan Keperawatan Kasus 1. Pengkajian ... 27
2. Analisa Data ... 36
3. Rumusan Masalah………. ... 38
4. Perencanaan Keperawatan dan Rasional ... 39
5. Implementasi... 41
6. Evaluasi... 41
BAB III KESIMPULAN dan SARAN A. Kesimpulan ... 44
B. Saran ... 44 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pertumbuhan penduduk lansia yang diperkirakan lebih cepat dibandingkan dengan negara-negara lain telah menyebabkan Badan Pusat Statistik (BPS,2004) menjadikan abad 21 bagi bangsa Indonesia sebagai abad lansia. Menurut WHO, pada tahun 2025, Indonesia akam mengalami peningkatan lansia sebesar 41,4%, yang merupakan peningkatan tertinggi didunia. Bahkan Perserikatan Bangsa- bangsa memperkirakan bahwa jumlah warga Indonesia akan mecapai kurang lebih 60 juta jiwa pada tahun 2025, seterusnya meletakan Indonesia pada tempat ke-4 setelah China, India, dan Amerika Serikat untuk jumlah penduduk lansia terbanyak (Notoadmojo,2007).
Jumlah lansia di Indonesia pada tahun 2013 sekitar 24 juta jiwa atau hampir 10% jumlah penduduk. Setiap tahun, jumlah lansia bertambah rata-rata 450.000orang. Sedangkan jumlah lansia di Sumatra Utara 2.971.004 jiwa 9,34%
(Dinsos, 2013). Serta jumlah lansia di Kelurahan Siti Rejo Kecamatan Medan Amplas ( Dinkes Kota Medan,2013).
Personal hygiene merupakan suatu usaha pemeliharaan kesehatan diri
seseorang yang bertujuan mencegah terjangkitnya penyakit serta untuk memperbaiki status kesehatannya.Salah satu indicator dari personal hygiene adalah perawatan kaki, tangan dan kuku (Perry & Petter, 2005).
Kebersihan diri merupakan langkah awal mewujudkan kesehatan.Dengan tubuh yang bersih meminimalkan risiko terhadap kemungkinan terjangkitnya suatu penyakit, terutama penyakit yang berhubungan dengan kebersihan diri yang buruk.Hal-hal yang muncul bila lansia kurang kurang menjaga kebersihan dirinya diantaranya adalah badan gatal-gatal dan tubuh lebih mudah terkena penyakit, terutama penyakit kulit. Pada rambut terdapat ketombe atau kutu, penampilan tidak rapi dan bau badan tak sedap, serta kuku panjang dan kotor dapat menjadi sarang kuman dan penyebab penyakit saluran pencernaan, dan bila telinga tidak dibersih maka akan dapat menimbulkan gannguan pendengaran akibat penumpukan kotoran telinga dan dapat menimbulkan infeksi pada telinga.Pada gigi dan mulut akan menyebabkan karies gigi, gigi berlubang, sakit gigi dan bau mulut. (Andarmoyo, 2012).
Penurunan fungsi tubuh pada lansia atau ketidak mampuan lansia dalam memenuhi personal hygiene dapat mempengaruhi dan mengakibatkan perubahan kecil yang terjadi dalam kemampuan lansia yaitu: perubahan fisik, perubahan mental dan psikososial sehingga mempunyai dampak atau sebab untuk meningkatkan kepercayaan pada lansia.
Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene adalah: Dampak fisik: Gangguan fisik yang sering terjadi adalah integritas kulit, gangguan membrane mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga, dan gangguan fisik pada kuku. Dampak Psikososoal: masalah social yang berhubungan dengan personal hygiene adalah ngangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi social.
Permasalahan yang berkaitan dengan lanjut usia secara individu, pengaruh proses menua dapat menimbulkan berbagai masalah baik secara fisik, biologi, mental maupun social ekonomi. Semakin lanjut usia seseorang, mereka akan mengalami kemunduran terutama dibidang kemampuan fisik, yang dapat mengakibatkan kemunduran peranan sosialnya. Hal ini mengakibatkan timbulnya gannguan di dalam mencukupi kebutuhan hidupnya khususnya kebutuhan kebersihan diri, sehingga dapat meningkatkan ketergantungan yang memerlukan bantuan orang lain (Nugroho dalam Widyaningsih, 2013).
Perempuan lansia di Indonesia berpotensi mengalami diskriminasi ganda, baik karna statusnya perempuan maupun karna statusnya sebagai penduduk yang usianya sudah lanjut. Sebagai perempuan, diskriminasi yang disebabkan oleh struktur social dan budaya masyarakat sebenarnya sudah terjadi sejak usia muda.
Hal ini kita ketahui sebagai akibat dari perbedaan yamg sifatnya kodrati maupun sebagai akibat dari gander. Perbedaan tersebut juga tercermin dari status perkawinan lanjut usia perempuan yang sebagian besar berstatus cerai mati atau cerai hidup. Karna usia harapan hidup perempuan yang lebih panjang di banding laiki-laki, maka lebih banyak usia lanjut perempuan yang di tinggal meninggal lebih dahulu oleh suaminya, dan karna perbedaan gender menyebabkan perempuan terbiasa mengurus dirinya sendiri. Sehingga lebih siap unntuk di tinggal sendiri.Sedangkan lanjut usia laki-laki banyak yang berstatus kawin (Badan Pusat Statistik,2007).
Kebersihan itu sendiri sangat dipengaruhi oleh individu dan kebiasaan.Salah satu hal diantaranya adalah prsepsi sesorang terhadap kesehatan itu sendiri.Jika
sesorang sakit biasanya masalah kesehatan kurang di perhatikan, hal itu terjadi karena mereka menggap masalah kebersihan adalah masalah spele.Padahal jika hal tersebut di biarkan dapat mempengaruhi kesehatan secara umum (Wartonah &
Trwoto, 2006).
B. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui perawatan pada klien dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene pada lansia khususnya Ny.P di Lingkungan X Kelurahan Siti Rejo II Kecamatan Medan Amplas.
2. Tujuan Khusus
1. Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene pada lansia khususnya Ny.P di Lingkungan X Kelurahan Siti Rejo II Kecamatan Medan Amplas.
2. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene pada lansia khususnya Ny.P di Lingkungan X Kelurahan Siti Rejo II Kecamatan Medan Amplas.
3. Mampu menyusun rencana Asuhan Keperawatan pada klien dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene pada lansia khususnya Ny.P di Lingkungan X Kelurahan Siti Rejo II Kecamatan Medan Amplas.
4. Mampu melakukan tindakan Keperawatan pada klien dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene pada lansia khususnya Ny.P di Lingkungan X Kelurahan Siti Rejo II Kecamatan Medan Amplas.
5. Mampu melakukan evaluasi Asuhan Keperawatan pada klien dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene pada lansia khususnya Ny.P di Lingkungan X Kelurahan Siti Rejo II Kecamatan Medan Amplas.Melakukan pendokumentasian Asuhan Keperawatan pada klien dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene pada lansia khususnya Ny.P di Lingkungan X Kelurahan Siti Rejo II Kecamatan Medan Amplas.
C. Manfaat Penelitian
1. Bagi Pelayanan Kesehatan
Karya tulis ilmiah ini dapat dijadikan sebagai masukan dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan/keperawatan.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Karya tulis ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan dalam memperkaya bahan pustaka yang berguna bagi peserta didik keperawatan dalam ruang lingkup judul.
3. Bagi klien
Untuk menambah wawasan dan informasi dalam merawat diri sendiri sesuai dengan apa yang di anjurkan.
BAB II Pengelolaan Kasus
A. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan dengan Masalah Kebutuhan Dasar Personal Hygiene
1. Pengertian Personal Hygiene
Personal Hygiene berasal dari bahasa Yunani yang berarti Personal yang artinya perseorangan dan Hygiene berarti sehat.Kebersihan perseorangan adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk memelihara krbrsihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahtraan fisik dan fisikis (Tarwoto & Wartonah).
Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan harus di perhatikan karna kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan pisikis seseorang. Kebersihan itu sendiri sangat dipengaruhi oleh nilai individu dan kebiasaan.Jika seseorang sakit maka masalah kebersihan biasanya kurang di perhatikan. Hal ini terjadi karna kita menganggap masalah kebersihan adalah masalah spele, padahal jika masalah tersebut di biarkan terus akan mempengaruhi kesehatan secara umum (Tarwoto, 2004).
Pemenuhan personal hygiene diperlukan untuk kenyamanan individu, keamanan dan kesehatan.Kebutuhan personal hygiene dibutuhkan bukan hanya orang sakit saja melaikan orang sehat juga.Praktik personal hygiene bertujuan untuk peningkatan kesehatan dimana kulit merupakan garis tubuh pertama dari pertahanan melawan infeksi. Dengan implementasi tindakan hygiene pasien, atau membantu anggota keluarga untuk melakukan tindakan itu maka akan menambah tingkat kesembuhan pasien (Potter & Perry, 2006).
1. Macam-macam personal hygiene
Pemeliharaan personal hygiene berarti tindakan memelihara kebersihan dan kesehatan diri seseorang untuk kesejahteraan fisik dan fisikisnya. Seseorang dikatakan memiliki personal hygiene baik apabila, orang tersebut dapat menjaga kebersihan tubuhnya yang meliputi kebersihan kulit, gig dan mulut, rambut, mata, hidung, dan telinga, kaki dan kuku, genetalia serta kebersihan dan kerapian pakaiian.
Menurut Potter & Perry (2006) macam-macam personal hygieneadalah : 1. Perawatan Kulit
Kulit merupakan organ aktif yang berfungsi pelindung, sekresi,ekspresi, pengatur temperature, dan sensai. Kulit memiliki 3 lapisan utama yaitu epidermis, dermis dan subkutan.Epidermis (lapisan luar) disusun beberapa lapisan tipis dari sel yang mengalami tahapan berbeda dari maturasi, melindungi jaringan yang berbed di bawahnya terhadap hilangnya cairan dan cedera mekanis maupun kimia serta mencegah masuknya mikroorganisme yang memproduksi penyakit.Dermis, merupakan lapisan kulit yang lebih tebal yang terdiri dari ikatan kolagen dan serabut elastik untuk mendukung epidermis. Serabut saraf, pembuluh darah, kelenjar keringat, kelenjar sebasea,dan folikel rambut bagian yang melalui lapisan dermal. Kelenjar sebasea mengeluarkan sebum, minyak, cairan odor, kedalam folokel rambut.Sebum meminyaki kulit dan rambut untuk menjaga agar tetap lemas dan kuat.Lapisan subkutan terdiri dari pembuluh darah, saraf dan limfe dan jaringan penyambung halus yang terisi dengan sel-sel lemak.Jaringan lemak berfungsi sebagai insulator panas bagi tubuh.Kulit berfungsi sebagai pertukaran oksigen, nutrisi dan cairan dengan pembuluh darah yang berbeda di bawahnya,
mensintesa sel baru, dan mengeliminasi sel mati, sel yang tidak berfungsi.Sirkulasi yang adekuat penting untuk memelihara kehidupan sel. Kulit sering kali mereflkeskan perubahan pada kondisi fisik dengan perubahan pada warna, ketebalan, tekstur, turgor, temperature.Selama kulit masih utuh dan sehat, fungsi fisiologisnya masih optimal.
2. Mandi
Mandi adalah perawatan hygiene total.Mandi dapat di kategorikan sebagai pembersihan atau traupetik. Mandi di tempat tidur yang lengkap di perlukan bagi individu dengan ketergantungan total dan memerlukan personal hygiene total.
Keluasan mandi individu dan metode yang digunakan untuk mandi berdasarkan pada kemampuan fisik individu dan kebutuhan tingkat hygiene yang di perlukan.Individu yang bergantung dalam krbutuhan hygiene nya sebagian atau individu yang terbaring di tempat tidur dengan kecukupan diri yang tidak mampu mencapai semua bagian badan memperoleh mandi sebagian di tempat tidur.
Pada lansia, mandi biasanya di lakukan dua kali sehati atau lebih sesuai selera dengan air dingin atau air hangat. Diusahakan agar mandi satu kali sehari tidak di bawah pancuran atau konsensional, tetapi merendam diri di bak mandi yang akan member kenikmatan, relaksasi dan menambah tenaga serta kebugaran tubuh. Penting juga membersihkan alat kelamin dan kulit antara dubur dan kelamin (perineum).Gosokan dimulai dari sisi kelamin kearah dubur.Bagi wanita putting payudara jangan lupa dibersihkan dan kemudian dikeringkan. Setelah selesai mandi keringkan badan, termasuk rongga telinga lipatan-lipatan kulit dan celah-celah jari kaki untuk menghindarkan timbulnya infeksi jamur, juga pada semua lipatan-lipatan kulit lainnya (Setiabudhi, 2010)
3. Perawatan Mulut
Hygiene mulut membantu mempertahankan status kesehatan mulut, gigi, gusi, dan bibir.Menggosok membersihkan gigi dari partikel-partikel makanan plak, dan bakteri memasase gusi, dan mengurangi ketidak nyamanan yang di hasilkan dari bau dan rasa yang tidak nyaman.Beberapa penyakit yang muncul akibat perawatan gigi dan mulut yang kurang yang buruk adalah karies, radang gusi, dan sriawan.Hygiene mulut yang baik memberikan rasa sehat dan selanjutnya menstimulasi nafsu makan.
Golongan lansia sering mengalami tanggalnya gigi geligi. Salah satu sebab adalah karena proses penuaan dan penyebab lain yang lebih sering adalah kurang baiknya perawatan gigi dan mulut. Osteoporosis dan periodontitis pada lansia menyebabkan akar gigi agak longgar dan di celah-celah ini tersangkut disisa makan.Inilah penyebab terjadinya peradangan. Karies timbul antara lain akibat permentasi sisa makanan yang menempel pada gigi oleh kuman yang lambat laun mengakibatjan lobang pada enamel gigi dan bila tidak di tambal akan menyebabkan radang dan kematian syaraf gigi karena infeksi. Setelah konsumsi makan dan minuman yang bersifat asam, gigi perlu di bersihkan yaitu kumur- kumur dengan air. Maka penting untuk menggosok gigi sekurang-kurangnya dua kali sehari atau menggosok gigi setiap kali selesai makan (setiabudhi,2010).
4. Perwatan Mata Hidung dan Telinga
Secara normal tidak ada perawatan khusus yang di perlukan untuk membersihkan mata, hidung , dan telinga selama individu mandi. Secara normal tidak ada perawatan khusus yang di perlukan untuk mata karena secara tereus-
menerus di bersihkan oleh air mata, kelopak mata dan bulu mata mencegah masuknya pertikel asing ke dalam mata.Normalnya, telinga tidak terlalu memerlikan pembersihan. Namun, telinga yang serumen terlalu banyak telinganya perlu di bersihkan baik mandiri ataupun di bantu oleh anggota keluarga. Hygiene telinga merupakan implikasi untuk ketajaman pendengaran.Bila benda asing terkumpul pada kanal telinga luar, maka akan menggangu konduksi suara. Hidung berfungsi sebagai indra penciuman, memantau temperature dan kelembapan udara yang dihirup, serta mencegah masuknya pertikel asing kedalam system pernafasan.
5. Perawatan Rambut
Penampilan dan kesejahteraa seseorang sering kali tergantung dari cara penampilan dan perasaan mengenai rambutnya. Penyakit atau ketidakmampuan mencegah seseorang untuk memelihara perawatan rambut sehari-hari.Menyikat, menyisir dan bersampho adalah cara-cara dasar higienis perawtan rambut, distribusi pola rambut dapat menjadi indicator status kesehatan umum, peribahan hormonal, stress emosional maupun fisik, penuaan, infeksi dan penyakit tertentu, atau obat-pbatan dapat mempengaruhi karakteristik rambut.Rambut merupakan bagian dari tubuh yang memiliki fungsi sebagai proteksi serta pengatur suhu, melalui rambut perubahan status kesehatan diri dapat di identifikasi.
Kerontokan rambut sering terjadi pada lansia. Jumlah rambut rata-rata adalah lebih 100.000 helai, 80% bersifat aktif tumbuh dan sisanya 20% berada dalam stadium tidak aktif. Rambut membutuhkan perawatan baik dan teratur, terutama pada wanita. Agar tidak terlalu banyak mengalami kerontokan, antara lain kurangnya sanitasi atau adanya infeksi jamur yang lazim disebut ketombe.
Rata-rata 50-100 helai rambut dapat rontok dalam masa sehari.Oleh karena itu rambut sebaik-baiknya perlu di cuci dengan shampo yang mengandung anti ketombe yang cocok. Cuci rambut sebaiknya dilakukan tiap 2 atau 3 hari dan minimal seminggu sekali (setiabudhi,2010).
6. Perawatan Kaki dan Kuku
Kaki dan kuku sering kali memerlukan perhatian khusus untuk mencegah infeksi, bau, dan cedera pada jaringan. Tetapi orang sering kali tidak sadar akan masalah kaki dan kuku sampai terjadi nyeri atau ketidaknyamanan. Menjaga kebersihan kuku penting dalam mempertahankan personal hygiene karna berbagai kuman dapat dapat masuk kedalam tubuh melalui kuku. Oleh sebab itu, kuku seharusnya tetap dalam keadaan sehat dan bersih.Perawatan dapat digabungkan selama mandi atau pada wajtu yang terpisah.
Pada lansia, proses penuan member perubahan pada kuku yaitu pertumbuhan kuku menjadi lambat, permukaan tidak mengkilat tetapi menjadi bergaris dan mudah pecah karna agak keropos. Warnanya bisa berubah menjadi kuning atau opaque.Kuku bisa menjadi lembek terutama kuku kaki akan menjadi lebih tebal dan kaku serta sering ujung kuku kiri dan kanan menusuk masuk ke dalam jaringan sekitarnya (ungus incarnates). Pengguntingan dilakukan setelah kuku di rendam di air hangat selama 5-10 menit karna pemanasan membuat kuk menjadi lembek dan mudah di gunting (setiabudhi,2010).
7. Perawatan Genetalia
Perawatan genetalia merupakan bagian dari mandi lengkap.Seseorang yang paling butuh perawatan genetalia yang teliti adalah seseorang yang beresiko
terbesar memproleh infeksi. Seseorang yang tidak mampu melakukan perawtan diri dapat di bantu keluarga untuk melakukan personal hygiene.
2. Menurut Tarwoto (2004) tujuan perawatan personal hygiene : a. Meningkatkan derajat kesehatan seseorang
b. Memelihara kebersihan diri seseorang c. Memperbaiki personal hygiene yang kurang d. Mencegah pentnyakit
e. Meningkatkan percaya diri seseorang f. Menciptakan keindahan
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi personal hygiene
Menurut Tarwoto (2004) sikap seseorang melakukan personal hygiene dipengaruhi oleh sejumlah faktor antara lain :
1. Citra tubuh
Citra tubuh merupakan konsep subjektof seseorang tentang penampilan fisiknya.Personal hygiene yang baik akan mempengaruhi terhadap peningkatan citra tubuh individu. Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya karna adanya perubahan fisik sehingga individu tidak perduli terhadap kebersihannya.
2. Praktik sosial
Kebiasaan keluarga, jumlah orang di rumah, dan ketersediaan air panas atau air mengalir hanya merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi perawatan personal hygiene. Praktek personal hygiene pada lansia dapat berubah di krenakan situasi kehidupan, misalnya jika mereka tinggal dip anti jompo mereka tidak dapat mempunyai privasi dalam lingkungannya yang baru. Privasi
tersebut akan mereka dapatkan di rumahnya sendiri karena mereka tidak mempunyaii kemampuan fisik untuk melakukan personal hygiene sendiri.
4. Status sosial ekonomi
Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, shampo dan alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya.
5. Pengetahuan
Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan.Kendati demikian, pengetahuan itu sendiri tidaklah cukup.Seseorang harus termotivasi untuk memelihara perawatan diri.Sering kali pembelajaran penyakit atau kondisi yang mendorong individu untuk meningkatkan personal hygiene.
6. Budaya
Kepercayaan kebudayaan dan nilai pribadi mempengaruhi personal hygiene.Orang dari latar kebudayaan yang berbeda mengikuti praktek perawatan diri yang berbeda.Disebagian masyarakat jika individu sakit tertentu maka tidak boleh di mandikan.
7. Kebiasaan seseorang
Setiap individu mempunyai pilihan kapan untuk mandi, bercukur dan melakukan perawatan rambut. Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri seperti menggunakan shampo dan alat mandi yang lain.
8. Kondisi fisik
Pada keadaan sakit, tentu untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuaan anggota keluarga untuk melakukannya.
4. Manfaat perawatan personal hygiene menurut Potter dan Perry (2006) : 1. Perawatan kulit
Memiliki kulit yang utuh, bebas bau badan, dapat mempertahankan rentan gerak, merasa nyaman dan sejahtera, serta dapat berpartisipasi dalam memahami metod perawatan kulit.
2. Mandi
Mandi dapar menghilangkan mikroorganisme dari kulit serta sekresi tubuh, menghilangkan bau tidak enak, memperbaiki sirkulasi darah ke kulit, membuat individu merasa lebih rileks dan segar serta meningkatkan citra dari individu.
3. Perawatan mulut
Mukosa mulut utuh terhidrasi baik serta untuk mencegah penyebaran penyakit yang di tularkan melalui mulut misalnya tifus dan hepatitis, mencegah penyakit mulut dan gigi, meningkatkan daya tahan tubuh, mencapai rasa nyaman, memahami praktik hygiene mulut dan mampu melakukan sendiri perawatan hygiene mulut dengan benar.
4. Perawatan hidung mulut dan telinga
Organ sensori yang berfungsi normal, mata, hidung, dan telinga akan bebas dari infeksi, serta dapat berpartisipasi dan mampu melalukakan perawtan mata, hidung dan telinga sehari-hari.
5. Perawatan rambut
Memiliki rambut dan kulit kepala yang bersih dan sehat, untuk mencapai rasa nyaman dan harga diri, dan dapat berpartisipasi dalam melakukan perawtan rambut.
6. Perawatan kaki dan kuku
Memiliki kulit utuh dan permukaan kulit yang lembut, merasa nyaman dan bersih, serta dapat memahami dan melakukan metode perawatan kaki dan kuku dengan benar.
7. Perawatan genetalia
Untuk mencegah terjadinya infeksi, mempertahankan kebersihan genetlia, meningkatkan kenyamanan serta mempertahankan personal hygiene.
5. Dampak dari personal hygiene
Menurut Tarwoto (2004) dampak yang akan timbul jika kurangnya personal hygieneadalah :
1. Dampak fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karna tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik.Gangguan fisik yang sering terjadi adalah munculnya kutu pada rambut, gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mayta dan telinga, dan gangguan fisik pada kuku.
2. Dampak fisikososial
Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai, kebutuhan harga diri, aktualisai diri dan gangguan interaksi sosial.
2.Asuhan Keperawatan Pada Masalah Kebutuhan Dasar Personal Hygiene 1. Pengkajian
Tahap pengkajian dari proses keperawatan merupakan proses dinamis yang terorganisir yang meliputi tiga aktifitas dasar yaitu : pertama, mengumpulkan data secara sistematis, kedua, mensortir dan mengatur data yang di kumpulkan dan ketiga, mendokumentasikan data dalam format yang dapat di buka kembali. Pengumpulan dan pengorganisasian data harus menggambarkan dua hal :
1. Status kesehatan klien
2. Kekuatan klien dan masalah kesehatan yang dialami (actual atau resiko/potensial). Dalam melakukan opengkajian diperlukan keahlian keahlian (skil) seperti wawancara, pemeriksaan fisik, dan observasi. Hasil pengumpulan data kemudian diklasifikasikan dalam data subjektif dan objektif. Data subjektif meruoakan ungkapan atau presepsi yang di kemukakan oleh klien. Data objektif merupakan data yang di dapat dari hasil observasi, pengukuran, dan pemeriksaan fisik. Ada beberapa cara pengelompokan data, yaitu:
a) Berdasarkan system tubuh
b) Berdasarkan kebutuhan dasar (Maslow) c) Berdasarkan teori keperawtan
d) Berdasarkan pola kesehatan fungsional Tarwoto & Wartonah (2003)
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang perlu dilakukan pada masalahpersonal hygiene : 1. Rambut
a. Keadaan kesuburan rambut
b. Keadaan rambut yang mudah rontok c. Keadaan rabut yang kusam
d. Keadaan tekstur 2. Kepala
a. Botak atau alopesia b. Ketombe
c. Berkutu
d. Adakah eritema e. Kebersihan 3. Mata
a. Adakah sklera ikterik b. Adakah konjungtiva pucat c. Kebersihan mata
d. Apakah gatal atau mata merah 4. Hidung
a. Adakah pilek b. Adakah alergi c. Adakah perdarahan
d. Adakah perubahan penciuman
e. Kebersihan hidung
f. Bagaimana membrane mukosa g. Adakah sputum deviasi
5. Mulut
a. Keadaan mukosa mulut b. Kelembapannya
c. Adakah lesi d. Kebersihan 6. Gigi
a. Adakah karang gigi b. Kelengkapan gigi c. Pertumbuhan d. Kebersihan 7. Telinga
a. Adakah kotoran b. Ada lesi
c. Bagaimana bentuk telinga d. Adakah infeksi
8. Kulit
a. Kebersihan b. Adakah lesi
c. Keadaan turgor kulit d. Temperatur
e. Teksture
f. Pertumbuhan bulu 9. Kuku tangan dan kaki
a. Bentuknya bagaimana b. Warnanya
c. Adakah lesi d. Pertumbuhannya 10. Genetalia
a. Kebersihannya
b. Pertumbuhan rambut pubis c. Keadaan kulit
d. Keadaan lubang uretra
e. Keadaan labia minor dan minora f. Cairan yang keluarkan
g. Tubuh secara umum h. Kebersihan normal i. Keadaan postur tubuh 3. Analisa Data
Analisa data adalah pengumpulan informasi tentang klien yang dilakukan secara sistematis untuk menentukan masalah-masalah serta kebutuhan keperawtan dan kesehatan lainnya. Pengumpulan data merupakan tahap awal dalam proses keperawatan. Data dasar adalah kumpulan data yang berisikan mengenai status kesehatan klien, kemampuan klien mengelola kesehatan terhadap dirinya sendiri, dan hasil konsultasi dari medis atau profesi kesehatan terhadap dirinya sendiri, dan hasil konsultasi dari medis atau profesi kesehatan lainnya.
Data fokus adalah tentang perubahan-perubahan atau respon klien terhadap kesehatan dan masalah kesehatannya serta hal-hal yang mencakup tindak yang dilaksanakan terhadap klien. Data dasar akan digunakan untuk menentukan diagnosis keperawatan, merencanakan asuhan keperawatan, serta tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah-masalah klien. Pengumpulan data di mulai sejak klien masuk rumah sakit (intial assesment), selama klien dirawat secara terus menerus (ongoing assesment) serta pengkajian ulang untuk menambah/
melengkapi data (re-assesment) (sigit, 2010).
4. Tipe Data 1. Data Subjektif
Data subjrktif adalah data yang didapatkan dari klien sebagai suatu pendapat terhadap suatu situasi dan kejadian.Informasi tersebut tidak bisa di tentukan oleh perawat, mencakup presepsi, perasaan, ide klien terhadap status kesehatan lainnya (Sigit, 2010).
2. Data Objektif
Data objektif adalah data yang dapat diobservasi dan diukur, dapat diperoleh menggunakan panca indera (lihat, dengar, cium, raba/sentuhan) selama pemeriksaan fisik, kemudian mengkaji batasan karakteristik dan faktor tang berhubungan (Wilkison, 2013).
5. Rumusan Masalah
Rumusan masalah ini bertujuan untuk mendiskripsikan masalah apa yang akan dicapai. Masalah keperawatan yang akan dicapai dilihat berdasarkan teori kebutuhan dasar dan hasil pengkajian kasus klien. Pada kasus teori kebutuhan dasar yang dib aha adalah kebutuhan dasara personal hygiene.
6. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan Kebutuhan Dasar
Pada masalah kebutuhan dasar personal hygiene diagnosa keperawatan yang mungkin muncul menurut Potter & Perry, (2006) adalah sebagai berikut:
1. Resiko kerusakan integrutas kulit 2. Kerusajkan integritas kulit
3. Perubahan perfusi jaringan perifer 4. Defisit perawatan diri : mandi 5. Kerusakan integritas jaringan 6. Nyeri
7. Resiko infeksi
8. Defisiensi pengetahuan perawatan kaki dan kuku 9. Perubahan membrane mukosa mulut
10. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh 11. Defesiensi pengetahuan tentang hygiene oral
12. Gangguan citra tubuh
13. Defisit perawatan diri : eliminasi 14. Defisit perawatan diri : makan 7. Perencanaan
Rencana asuhan keperawtan adalah petunjuk tertulis yang menggambarkan secara tepat mengenai rancana tindakan dilakukan terhadap klien sesuai dengan kebutuhan berdasarkan diaganosa keperawtan.
8. Kriteria Hasil
Untuk membuat criteria hasil yang dibuat dalam perencanaan asuhan keperawatan klien, berikut akan dijelaskan bagaimana cara penggunaan Nursing Outcomes Classification (NOC).
1. Defenisi Nursing Outcomes Classification (NOC)
Defenisi Nursing Outcomes Classification (NOC) adalah hasil keperawatan klien yang sensitive yang meliputi individu, keluarga, atau prilaku masyarakat, atau presepsi yang diukur sepanjang kontinum dalam menanggapi intervensi keperawatan.Nursing Outcomes Classification (NOC) menggambarkan respon pasien terhadap tindakan keperawtan, mengevaluasi hasil pelayanan keperawtan sebagai bagian dari pelayanan kesehatan. Standar criteria hasil pasien sebagai partisipan penuh dalam evaluasi klinik bersama dengan disiplin ilmu kesehatan lain.
2. Tujuan dari aplikasi Nursing Outcomes Classification (NOC)
Tujuan dari aplikasi Nursing Outcomes Classification (NOC) ini adalah hal yang akan kita tuju atau capai selama perawatan pasien. Dalam penentuan tujuan outcomes inilah perawat di tuntut untuk berfikir secara sistematis dan kritis.Tujuan dari aplikasi ini ditanyakan dengan prinsip SMART (specific, measurable, achieveable, rational, time line). Indikator juga dinyatakan dalam penilaiian skala sebagai berikut :
a. Tidak dilakukan b. Jarang dilakukan c. Kadang dilakukan d. Sering dilakukan
e. Selalu dilakukan
3. Manfaat Nursing Outcomes Classification (NOC)
Manfaat Nursing Outcomes Classification (NOC) dalam keperawatan adalah sebagai berikut:
a. Membeikan label dan ukuran-ukuran untuk criteria hasil yang komprehensif b. Sebagai hasil dari intervensi keperawatan
c. Mendefenisikan kriteria hasil yang berfokus pada klien dan dapat digunakan perawat-perawat dalam disiplin ilmu lain
d. Menggunakan skala untuk mengukur kriteria hasil dan memberikan informasi kuantitatif (Bluecheck & Mcclokey, 1996)
4. Perumusan Nursing Outcomes Classification (NOC)
Perumusan Nursing Outcomes Classification (NOC) ialah perawat dituntut harus dapat berfikir secara sitematis dan kritis. Penentuan NOC dengan kriteria hasil yang akan kita capai harus sesuai dengan diagnosa keperawatan yang sesuai dengan tujuan yang akan kita capai melalui intervensi keperawatan.
5. Cara penulisan Nursing Outcomes Classification (NOC)
Penulisan Nursing Outcomes Classification (NOC) diawali dengan tujuan yang akan dicapai berdasarkan kriteria hasil dengan skala yang ditentukan dan membuat waktu pencapaiian dari pelaksaan tujuan yang dicapai, perawat dapat menentukan bagaimana tingkat pencapaian dari intervensi keperawatan yang akan dilaksanakan.
9. Intervensi
Untuk membuat kriteria hasil yang di buat dalam pelaksanaan asuhan keperawatan klien, berikut akan dijelaskan bagaimana cara penggunaan Nursing Interventionss Classifications (NIC).
A. Defenisi Nursing Interventionss Classifications (NIC)
Pengertian Nursing Interventionss Classifications (NIC) adalah suatu klasifikasi/pengelompokan dari tindakan-tindakan yang sudah terstandarisasi secara komperhensif yang dilakukan oleh perawat.Nursing Interventionss Classifications (NIC) digunakan di semua area keperawatan dan spesialis.Intervensi keperawatan merupakan tindakan yang berdasarkan kondisi klinik dan pengethuan yang dilakukan perawat untuk membantu pasien mencapai hasil yang diharapkan.
B. Tujuan Nursing Interventionss Classifications (NIC)
Tujuan Nursing Interventionss Classifications (NIC) yaitu:
1. Merencanakan sebuah asuhan 2. Dokumentasi/ pencatatan klinis 3. Pengaturan komunikasi antar asuhan 4. Penyatuan antar data-dat sistematis 5. Keefektifan penelitian
6. Pengukuran produktivitas 7. Evaluasi yang komfetetif 8. Penghematan biaya rumah sakit 9. Pengajaran/edukasi
C. Tujuan klasifikasi pelaksanaan yang dibentuk di dalam Nursing Interventionss Classifications (NIC)
Tujuan klasifikasi pelaksanaan yang di bentuk di dalam Nursing Interventionss Classifications (NIC) dapat digunakan pada semua setting atau tempat (dari pelayanan akut sampai unit pelayanan intensif, pelanana home care, pelayanan komunitas dan pelayanan dasar) dan semua kekhususan (dari asuhan keperawatan jiwa, asuhan keperawatan medikal bedah, asuhan keperawatan anak, dan asuhan keperawatan gerontik). Secara umum intervensi dalam Nursing Interventionss Classifications (NIC) menyangkut pada dua hal yaitu kebutuhan fisiologis (seperti management asam basa) dan kebutuhan fisikologis (seperti penurunan kecemasan).
D. Perumusan Nursing Interventionss Classifications (NIC)
Perumusan Nursing Interventionss Classifications (NIC) berhubungan dengan North American Nursing Diagnoses Assocation International (NANDA- I). Sebagai diagnosa keperawatan .Sebuah intrvensi muncul ketika ditemukan masalah keperawatan.Masalah keperawatan yang dirumuskan dalam North American Nursing Diagnoses Assocation International (NANDA-I) yang mengacu pada hasil pengkajian perawat.Hasil pengkajian berupa data subjektif dan data objektif yang tertuang dalam batasan karakteristik (defining characteristic) di buku North American Nursing Diagnoses Assocation International (NANDA-I).
E. Penulisan Nursing Interventionss Classifications (NIC)
Penulisan Nursing Interventionss Classifications (NIC) diawali dengan tindakan/ intervensi seperti kaji, observasi atau pantau (assesst, observe, monitoring) yang artinya perawat dalam melakukan perencanaan kegiatan selalu diawali dengan melakukan reevaluasi .Selanjutnya diikuti dengan tindakan mandiri, kemudian tindakan kolaboratif, dan diakhiri dengan edukasi kesehatan.Dalam penentuan intervensi ini juga tetap tidak lepas dari diagnos yang sudah di tentukan.
B.Asuhan Keperawatan Kasus
PROGRAM DIII KEPERAWATAN FAKULATAS KEPERAWATAN FORMAT PENGKAJIAN PASIEN
I. BIODATA IDENTITAS KLIEN
Nama
Jenis Kelamin Umur
Status Perkawinan Agama
Pendidikan Pekerjaan Golongan Darah Tanggal Pengkajian Alamat
: Ny.P : Perempuan : 70thn : Janda : Islam : SR
: Ibu Rumah Tangga : O
: 16 Mei 2016
: JL.Aman Lingkungan X
I. KELUHAN UTAMA
Pada saat dikaji klien mengatakan tidak mengeluhkan sakit apa- apa, tetapi ketika di lihat kulit tampak kering dan bersisik.
A. Penyakit yang pernah dialami
Klien mengatakan tidak pernag mengalami penyakit yang serius, hanya sakit ringan saja seperti, pusing, demam dan batuk.
B. Pengobatan/tindakan yang dilakukan
Klien mengatakan ketika sakit biasanya pergi ke puskesmas untuk melakukan pemeriksaan.
C. Pernah dirawat/dioprasi
Klien mengatakan tidak pernah masuk di rumah sakit apalagi operasi.
D. Alergi
Klien mengatakan tidak pernah ada alergi yang di miliki.
III. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
A. Orang Tua
Kedua orang tua klien sudah meninggal.
B. Saudara Kandung
Klien mempunyai enam saudara kandung tiga perempuan dan tiga laki-laki, klien anak ke tiga dari enam bersaudara.Saudara-saudara klien tidak memiliki riwayat penyakit yang serius.
C. Penyakit keturunan yang ada
Keluarga klien tidak memiliki penyakit ketururunan.
IV. RIWAYAT KEADAAN PSIKOSOSIAL
A. Perspsi tentang penyakitnya
Klien mengatakan bahwa kekeriputan kulit ini biasa terjadi ketika usia yang makin menua.
B. Konsep diri -Gambaran diri
Klien menyukai seluruh bagian anggota tubuhnya.
-Ideal diri
Klien ingin keadaan tubuhnya tetap sehat-sehat saja.
-Harga diri
Klien merasa sangat dihargai dan disayangi oleh setiap anggota keluarganya
-Peran diri
Klien bereran sebagai ibu dan nenek didalam keluarga.
-Identitas diri
Klien adalah seorang nenek yang harus menjaga cucunya ketika anaknya sedang berkerja.
C. Keadaan emosi
Klien tampak tenang ketika berbicara dengan orang lain atau lingkungan sekitarnya.
D. Hubungan sosial -Orang yang berarti
Anak-anak dan cucu-cucunya -Hubungan dengan keluarga
Hubungan dengan anak dan cucunya sangat baik mereka sering berkumpul bersama.
-Hubungan dengan orang lain
Hubungan klien dengan orang disekitarnya sangatlah baik.
E. Spiritual
-Nilai dan keyakinan
Klien menganut agama Islam dan klien sering melakukan ibadah di rumah.
-Kegiatan ibadah
Klien mengatakan ia lebih sering melakukan ibadah di rumah ketimbang di mesjid, karna jarak yang terlalu jauh ia memilih untuk melakukan ibadah di rumah saja.
V. STATUS MENTAL -Pembicaraan
Ketika klien berbicara sangat lembut dan santun.
-Afek
Tidak ada afek negative ketika klien di ajak berbicara.Pembawaan klien sangat ramah terhadap lawan bicaranya.
-Interaksi selama wawancara
Klien kooperatif, mau diajak bicara, kontak mata pasien saat dilakukan penkajian bagus, pasien mau menatap lawan bicara.
-Proses pikir
Ketika di ajak berbicara ada kemunduran dalam berpikir dan itu adalah proses penuan.
VI. PEMERIKSAAN FISIK A. Keadaan Umum
Klien tampak tidak bersih dan mengeluarkan aroma tidak sedap.
B. Tanda-tanda Vital
-Suhu tubuh : 36,30 -Tekanan darah
C
: 130/90 mmHg
-Nadi : 72x/i
-Pernafasan : 18x/i
-Tinggi Badan : 145cm
-Berat badan : 50kg
C. Pemeriksaan Head to toe Kepala
-Bentuk : Simetris
-Ubun-ubun : Normal
-Kulit kepala : Kotor dan berbau
-Bentuk kepala : Lonjong
Rambut
-Keadaan rambut : Jarang dan tipis
-Bau : Jarang keramas
-Warna rambut : Putih keseluruhan
Mata
-Kesimetrisan : Normal
-Palpebra : Normal
-Konjungtiva dan Sklera : Normal
-Pupil : Tidak diperiksa
-Kornea dan Iris : Tidak diperiksa
-Visus : Tidak diperiksa
-Tekanan bola mata : Tidak diperiksa
Hidung
-Tulang hidung dan posisi sputumnasi
:Normal, sputum masih dalam posisi normal
-Lubang hidung :Tidak adap
Perdarahan dan bersih.
-Cuping hidung :Normal
Telinga
-Bentuk telinga : Normal dan simetris
-Ukuran telinga : Dalam batas normal
-Lubang telinga :Ada kotoran,tidak
infeksi
-Ketajaman pendengaran : Tidak diperiksa
Mulut & Faring
-Keadaan bibir :Mukosa bibir kering -Keadaan gigi dan gusi :Gigi kuning, ada
karies,(jarang sikat gigi) -Keadaan lidah :Tidak ada lesi dan
perdarahan
-Orofaring :Tidak ada peradangan
Tangan
-Keadaan kuku : Kuku tangan panjang
terdapat hitam-hitam di selah-selah kuku
Pemeriksaan integument
-Kebersihan : Bersisik, bercak hitam
-Kehangatan : Kulit hangat.
-Warna : Kuning langsat
-Turgor : Kembali < 2 detik.
-Kelembaban : Lembab
Pemeriksaan payudara dan ketiak
-Ukuran dan bentuk : Normal
-Warna payudara dan areola : Tidak diperiksa -Kondisi payudara dan putting : Tidak diperiksa
Pemeriksaan kelamin dan daerah sekitarnya
-Genetalia : Tidak diperiksa
-Anus dan perineum : Tidak diperiksa
VII. POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI
I. Pola makan dan minum
-Frekuensi makan/hari : 3 X 1 hari -Nafsu/selera makan : Baik
-Nyeri ulu hati : Tidak ada nyeri
-Alergi : Tidak ada alergi
-Mual dan muntah :Tidak ada mual
-Tampak makan memisahkan diri : Tidak
-Waktu pemberian makan : Pagi, siang, sore.
II. Perawatan diri/personal hygiene
-Kebersihan tubuh : Kurang bersih, kotor -Kebersihan rambut : Kurang bersih dan
berbau -Kebersihan mulut dan
gigi
: Mulut berbau, gigi kuning, ada caries pada gigi
-Kebersihan Kuku dan tangan
: Kuku panjang dan terdapat hitam-hitam di selah-selah kuku
II. Pola kegiatan/aktivitas
-Uraikan aktivitas klien untuk mandi, makan, eliminasi, ganti pakaian dilakukan secara mandiri, sebagian atau total :
Klien melakukan kegiatan mandi 1x sehari, makan 3x sehari dilakukan klien secara mandiri, eliminasi bowel dilakukan 1-2 sehari, eliminasi urine tidak tentu, ganti pakaian dua hari 1x dilakukan.
- Uraikan aktivitas ibadah klien :
Klien mengatakan sholat lima waktu begitu azan langsung melakukan sholat, klien juga mengatakan sering mengikuti pengajian yang dilakukan di lingkungan sekitar rumahnya.
III.Pola eliminasi A. BAB
-Pola BAB : 1-2x/hari
-Karakter feses : Tidak ada perdarahan -Riwayat pendarahan : Tidak ada pendarahan -BAB terakhir : Sehari yang lalu
-Diare : Tidak pernah
-Penggunaan laksatif : Tidak ada
B. BAK
-Pola BAK : Tidak tentu.
-Karakter urine : Warna urine kuning -Nyeri/kesulitan BAK : Tidak ada nyeri.
II.
ANALISA DATA
NO DATA PENYEBAB MASALAH
KEPERAWATAN 1. DS:
1. Klien mengatakan sedikit risih dengan kulit yang bersisik dan kering.
2. Klien mengatakan jarang mengkonsumsi buah-buahan.
3.Klien juga mengatakan mandi hanya 1x sehari.
DO:
1.Klien kurang menjaga kebersihan tubuhnya.
2.Kulit klien kering dan bersisik, ada bercak hitam.
Ketidakmampuan klien untuk melakukan perawatan kulit seluruh tubuh.
Resiko kerusakan integritas kulit.
2.
DS:1. Klien mengatakan jarang keramasan.
2. Klien mengatakan kulit rambut sering gatal.
3. Klien mengatakan rambut sering mengalami kerontokan.
DO:
1. Rambut klien yang mulai memutih secara
Ketidakmampuan klien untuk menjaga kebersihan rambut dan kepala.
Defisit perawatan diri:
(mandi)
keseluruhan.
2. Rambut klien berbau karna jarang keramas.
3.
Rambut klien jarang dan tipis.3.
DS:1. Klien mengatakan jarang menyikat giginya.
2. Klien mengatakan malas membersihkan mulutnya ketika selesai makan.
3. Klien mengatakan sering membiarkan sisa makanan yang tersisa di mulutnya.
DO:
1. Gigi klien kuning.
2. Aroma yang tak sedapakibat jarang sikat gigi keluar dari mulut klien.
3. Adanya caries pada gigi klien.
Ketidakmampuan klien untuk merawat gigi dan mulut setelah selesai makan.
Defisiensi hygien oral
4.
DS:1. Klien mengatakan jarang mengguntimg kuku.
2. Klien mengatakan membiarkan kukunya ada hitam-
Ketidakmampuan klien dalam merawat kuku dan tangan.
Defisiensi pengetahuan perawatan kuku tangan dan kaki.
hitamnya.
DO:
1.Klien mengatakan jarang menggunting kuku.
2.Didalam kuku klien terdapat hitam-hitam.
III. MASALAH KEPERAWATAN
1. Masalah Keperawatan : Resiko kerusakan integritas kulit 2. Masalah Keperawatan : Defisit perawatan diri (mandi) 3. Masalah Keperawatan : Defisiensi hygiene oral
4. Masalah Keperawatan : Defisiensi pengetahuan perawatan kuku tangan kaki IV. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Masalah Keperawatan : Resiko kerusakan integritas kulit b/d ketidakmampuan klien untuk melakukan perawatan kulit seluruh tubuh d/d klien mengatakan risih dengan kulitnya yang bersisik dan kering, klien mengatakan jarang mengkonsumsi buah-buahan, klien mengatakan hanya mandi 1x sehari.
2. Masalah Keperawatan : Defisit perawatan diri (mandi) b/d ketidakmampuan klien untuk menjaga kebersihan rambut dan kepala d/d klien mengatakan jarang keramasan, kulit rambut sering gatal, dan rambut sering mengalami kerontokan.
3. Masalah Keperawatan : Defisiensi hygiene oral b/d ketidakmampuan klien untuk merawat mulut dan gigi setelah makan d/d klien mengatakan jarang menyikat giginya, malas membersihkan mulutnya setelah makan, sering membiarkan sisa makanan tertinggal di mulutnya.
4. Masalah Keperawatan : Defisiensi pengetahuan perawatan kuku tangan dan kaki b/d ketidakmampuan klien dalam merawat kuku dan tangan d/d klien mengatakan jarang menggunting kuku dan membiarkan kukunya ada hitam- hitamnya.
V. PERENCANAAN KEPERAWATAN DAN RASIONAL
HARI/TANGGAL No. DX PERENCANAAN KEPERAWATAN
RASIONAL
Selasa, 17 Mei 2016
1 Tujuan dan Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x6 jam personal hygiene perawatan kulit
seluruh tubuh dapat terpenuhi.
Rencana Tindakan:
1. Kaji pola kebutuhan personal hygiene
2. Klien mampu dalam menjaga kebersihan badannya dengan cara menganjurkan klien mandi 2x dalam sehari.
3. Berikan pendidikan kesehatan tentang kebersihan diri pada klien.
4. Menganjurkan klien untuk menggunakan lotion untuk kulit.
5. Klien mampu mengganti
a. Memberikan rasa nyaman pada klien.
b. Menghindari resiko infeksi dan
memberikan kenyamanan bagi klien.
c. Melembabkan kulit klien.
d. Meningkatkan pengetahuan dan membuat klien lebih kooperatif
baju 2x sehari Selasa,
17 Mei 2016
2 Tujuan dan Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x6 jam personal hygiene dengan perawatan kulit kepala dapat terpenuhi.
Rencana Tindakan:
1. Klien mampu mencuci rambut menggunakan shampho selama 1x2 hari.
2. Klien mampu menyisir rambut.
a. Rambut klien jadi bersih
b. Rambut klien menjadi rapi
Rabu, 18 Mei 2016
3 Tujuan dan Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x6jam personal hygiene perawatan mulut dan gigi
dapat terpenuhi.
Rencana Tindakan:
1. Klien mampu menggosok gigi
2. Ajarkan klien cara gososk gigi yang benar.
a. Gigi klien menjadi bersih.
b. Mengurangi resiko luka pada gusi.
Kamis, 18 Mei 2016
4 Tujuan dan Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x6 jam personal hygiene perawatan kuku dan
a. Kuku klien menjadi pendek b. Klien dapat
tangan dapat terpenuhi.
Rencana Tindakan:
1. Klien mampu memotong kuku 1x dalam seminggu.
2. Klien mampu untuk menyikat kukunya bila perlu.
membersih kan kotoran pada ujung kuku.
VI. PELAKSANAAN KEPERAWATAN
NO.
DX
HARI/TANGGAL IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
EVALUASI (SOAP)
1.
KAMIS, 19 MEI 2016
a. Mengkaji pola kebutuhan personal hygiene
b. Membantu klien untuk mandi dan perawatan kulit
S :Klien mengatakan merasa segar dan nyaman setelah melakukan perawatan kulit seluruh tubuh.
O :Kulit menjadi lebih bersih dan badan kelihatan semakin segar.
A : Masalah sebagian teratasi
P : Dalam 1x6jam klien mampu melakukan perawatan
seluruh tubuh 2. Kamis,
19 Mei 2016
a. Membantu cara mencuci rambut yang benar.
S: Klien mengatakan rambutnya lebih rapi
b. Membantu cara menyisir rambut yang benar.
dan bersih.
O :Rambut tampak lebih bersih dan rapi.
A :Masalah sebagian teratasi.
P : Dalam 1x6 jam klien dapat melakukan perawatan rambut.
3. Jum’at 20 Mei 2016
a. Menggosok gigi dengan cara yang baik dan benar.
S : Klien merasa lebih nyaman setelah menyikat gigi
O:Gigi tampak bersih A: Masalah sebagian teratasi
P: Dalam 1x6 jam klien mampu melakukan perawatan
mulut dan gigi 4. Jum’at
20 Mei 2016
a. Membantu klien untuk memotong kuku
b. Menganjurkan klien untuk menyikat kukunya bila perlu.
S : Klien merasa nyaman setelah memotong kuku
O : Kuku klien tampak bersih
A : Sebagian masalah teratasi
P: Dalam 1x6 jam klien mampu melakukan perawatan
kuku dan tangan.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Pada pengkajian tahap awal dari proses keperawatan ditemukan data yang menjadi fokus dalam personal hygiene yaitu klien mengatakan risih dengan kulit yang bersisik dan kering, mandi hanya1x sehari, jarang keramasan, kulit ranbut gatal, rambut sering rontok, dan klien mengatakan jarang menyikat gigi,dan jarang menggunting kuku.
Setiap masalah keperawatan yang ditemukan pada Ny.P dibuat suatu perencanaan untuk memecahkan masalah yang disusun sesuai dengan perencanaan dan prioritas masalah.Yang dilakukan penulis pada Ny.P adalah melakukan pengkajian, merumuskan diagnosa, menyusun asuhan keperawatan yang tepat untuk klien, serta melakukan tindakan keperawatan sesuai NIC NOC dan NANDA sesuai dengan kebutuhan klien.
B. SARAN 1. Bagi Klien
Meningkatkan pengetahuan klien tentang personal hygiene untuk mengaplikasikan bagaimana cara merawat diri dengan baik dan benar seperti mandi, berhias, berpakaiian dan toileting.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Karya tulis ilmiah sebaiknya dituliskan sesuai dengan hasil pengkajian asuhan keperawatan berdasarkan department mata kuliah Keperawatan Gerontik, bertujuan agar mahasiswa DIII Keperawatan Universitas Sumatra Utara mampu memenuhi standart Kompetensi Keperawatan.
3. Bagi Pelayanan Kesehatan
Masukan dan informasi bagi pelayanan keperawatan Rumah Sakit dalam mengambil kebijakan asuhan keperawatan, khususnya pada klien yang mengalami gangguan personal hygiene.
DAFTAR PUSTAKA
Alimul, Aziz H, (2006). Kebutuhan Dasar Manusia, Edisi 2 Jakarta: Selemba Medika.
Andarmoyo, Sulistyo (2012). Dalam Pendekatan Konsep dan ProsesKeperawatan, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Herdman, T.H. (2012). NANDA International Nursing Diagnosis : Definition and Clasification, 2012-2014. Oxford : Wilay-Blackwell
Hardywinoto, Setiabudhi. (2010). Panduan Gerontik,Jakarta : Pustaka Umum Nurjannah, I. (2012). Intan’s Diagnosis Asssesment, Yoyakarta: Mocomedia Nugroho, W, (2013). Keperawatan Gerontik, Edisi 5 Jakarta : Salemba Medika Potter & Perry. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses,
dan Buku Kedokteran, Edisi 4, Jakarta:EGC
Tarwoto dan Wartonah.(2006), Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan, Edisi 3.Jakarta : Salemba Medika.
Wartonah, Tarwotoh. (2003). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan, Edisi 1: Jakarta :Salemba Medika