Di dataran tinggi, dataran rendah, dan lahan basah

284  Download (0)

Full text

(1)

Harmoni Baru

MANUSIA

DAN ALAM

Di dataran tinggi, dataran rendah,

dan lahan basah

Bagian 1 Harmoni Manusia dan Alam di Dataran Tinggi Bagian 2 Harmoni Manusia dan Alam di Dataran Rendah Bagian 3 Harmoni Manusia dan Alam di Lahan Basah

ISBN : 978-623-256-508-1

Kehutanan

eISBN : 978-623-256-517-3

Kehutanan

Paradigma dominasi tidak mampu menghilangkan-meminjam istilah Fritjop Capra-residu peradaban. Begitu pula ketika perkembangan peradaban manusia memasuki fase modern. Inovasi teknologi tidak sepenuhnya mampu mengatasi problema utama 4K: krisis pangan, krisis energi, krisis ekologi, dan kemiskinan.

Solusi krisis tidak bisa hanya mengandalkan inovasi teknologi, tetapi juga dengan kasih sayang, kemurahan hati, dan kemampuan membedakan mana yang benar mana yang salah. Kerangka berpikir ini bisa kita sebut sebagai harmoni baru manusia dan alam. Umat manusia sesungguhnya dalam keadaan lelah, karena larut dalam paradigma dominasi; hidup seperti dalam arena perlombaan. Kita perlu mengamplifikasi teladan dan praktik-praktik terbaik di bawah paradigma harmoni baru, agar menjadi pilihan.

Balai Penelitian dan Pengembangan

Lingkungan Hidup dan Kehutanan Palembang

Jl. Kol. H. Burlian km 6,5 Punti Kayu Palembang

MANUSIA

DAN ALAM

Di dataran tinggi, dataran rendah, dan lahan basah

Didukung oleh:

Di datar

an tinggi, datar

an r

(2)

Kontributor

Nur Arifatul Ulya, Ari Nurlia, Tubagus AA Syabana, Mamat Rahmat, Imam Muslimin, Fatahul Azwar, Subekti Rahayu, Ibnu Budiman, Agus Kurniawan,

Iwan TC Wibisono, Fifin Fitriana, Hengki Siahaan, Dedy S Rosa, Asmaliyah, Purwanto, Sri Utami, Maliyana Ulfa, Darwo, Edwin Martin, Sahwalita, Agus Sumadi,

Nanang Herdiana, Etik EW Hadi, Asvic Helida

Di dataran tinggi, dataran rendah,

dan lahan basah

MANUSIA

DAN ALAM

(3)

dan Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Palembang (1979 – 2021)

(4)

Penerbit IPB Press

Jalan Taman Kencana No. 3, Kota Bogor - Indonesia

C.01/03.2021

Editor

Edwin Martin

Asvic Helida

Iwan Tri Wibisono

Darwo

Harmoni Baru

MANUSIA

DAN ALAM

Di dataran tinggi, dataran rendah,

dan lahan basah

(5)

Edwin Martin Asvic Helida Iwan Tri Wibisono Darwo

Penyunting Bahasa:

Aditya Dwi Gumelar

Korektor:

Tania Panandita

Desain Sampul:

Makhbub Khoirul Fahmi

Penata Isi:

Muhamar Alwedi

Kontributor foto sampul depan dan belakang:

Sahwalita, Efendi A. Waluyo, Nanang Suharnak, Edwin Martin, Purwanto, Mamat Rahmat

Jumlah Halaman:

270 + 12 hal romawi

Edisi/Cetakan:

Cetakan 1, Maret 2021

PT Penerbit IPB Press

Anggota IKAPI

Jalan Taman Kencana No. 3, Bogor 16128

Telp. 0251 - 8355 158 E-mail: penerbit.ipbpress@gmail.com www.ipbpress.com

ISBN: 978-623-256-508-1 eISBN: 978-623-256-517-3

Dicetak oleh Percetakan IPB, Bogor - Indonesia Isi di Luar Tanggung Jawab Percetakan

© 2021, HAK CIPTA DILINDUNGI OLEH UNDANG-UNDANG Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin tertulis dari penerbit

(6)

Buku ini merupakan hasil kristalisasi webinar-talkshow bertajuk Obrolan Pelepas Lelah (OPL): Menyingkap yang tak terungkap. OPL dilaksanakan sebanyak 7 seri, sejak Bulan September hingga Desember 2020. Tema utama yang diangkat adalah “harmoni manusia dan alam”.

Tema “harmoni manusia dan alam” adalah bahan diskusi abadi dan tak pernah kering dalam kehidupan umat manusia. Jika kita membaca karya-karya ilmuwan sejarah seperti Arnold Toynbee, Yuval Noah Harari, Jared Diamond, Conrad Kottak, Karl Polanyi, atau pun Fritjop Capra, manusia pada fase perkembangan awal peradaban menghadapkan wajahnya kepada alam. Mereka hidup selaras dengan alam; beradaptasi dengan situasi, kelebihan dan keterbatasan alam. Manusia meyakini bahwa keselarasan dengan alam akan menjamin pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup, dalam jangka pendek dan panjang. Jika alam dijaga, alam akan menjaga. Ini adalah kerangka pikir awal harmoni manusia dan alam.

Perubahan mulai terjadi ketika jumlah populasi manusia mulai meningkat dan beberapa keterbatasan alam mulai menjadi masalah. Manusia tidak lagi menghadapkan wajahnya kepada alam, tetapi kepada manusia lainnya; kemudian muncullah prasangka dan keserakahan. Dalam perkembangannya, terbentuklah struktur sosial. Individu dan kelompok manusia ingin melebihi dari individu dan kelompok manusia lainnya, tidak hanya sisi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan ekonomi, tetapi juga dari sisi kemuliaan dan keyakinan. Kerangka berpikir ingin melebihi dan menguasai manusia lainnya ini dapat kita sebut sebagai paradigma dominasi. Perbudakan, penjajahan, imperalisme, dan peperangan adalah wujud dari paradigma dominasi. Alam sering kali dieksploitasi dan dikorbankan untuk memenuhi hasrat dominasi tersebut.

Paradigma dominasi tidak mampu menghilangkan-meminjam istilah Fritjop Capra-residu peradaban. Begitu pula ketika perkembangan peradaban manusia memasuki fase modern. Inovasi teknologi tidak sepenuhnya mampu mengatasi problem utama 4K: krisis pangan, krisis energi, krisis

(7)

ekologi, dan kemiskinan. Krisis tidak kunjung usai, bahkan cenderung menganga. Teknologi, terutama yang berbasis kapital, malah melanggengkan dan memperkuat paradigma dominasi. Seiring dengan berulangnya krisis peradaban tersebut, muncul kesadaran bahwa kebencian, keserakahan, ketidaktahuan adalah musuh terbesar umat manusia.

Solusi krisis tidak bisa hanya mengandalkan inovasi teknologi, tetapi juga dengan kasih sayang, kemurahan hati, dan kemampuan membedakan mana yang benar mana yang salah. Kerangka berpikir ini bisa kita sebut sebagai harmoni baru manusia dan alam. Umat manusia sesungguhnya dalam keadaan lelah, karena larut dalam paradigma dominasi; hidup seperti dalam arena perlombaan. Kita perlu mengamplifikasi teladan dan praktik-praktik terbaik di bawah paradigma harmoni baru, agar menjadi pilihan. Oleh karena itulah, tema harmoni manusia dan alam dipilih dan dikemas dalam Obrolan Pelepas Lelah (OPL), selain memang dari sisi pemilihan waktu webinar talk-show-nya dilakukan pada saat selepas siang. Dan, untuk meringankan rasa lelah tersebut, tema harmoni manusia dan alam dikelompokkan lagi menjadi tiga bagian berdasarkan tipologi ekosistem; dataran tinggi, dataran rendah lahan kering, dan lahan basah.

Wajah dan karakter harmoni berbeda dengan dominasi. Jika wajah dominasi terlihat glamour atau glowing dengan atribut beragam prestasi, wajah harmoni nampak bersahaja, kurang efisien, dan dengan senyum ramah. Karakter di bawah paradigma dominasi adalah pola hidup menang-kalah, sedangkan karakter harmoni memilih pola hidup sejajar. Ciri khas perilaku dominasi berupa praktik akumulasi, mementingkan diri sendiri, dan melakukan eksklusi. Ciri utama perilaku harmoni adalah adaptasi, prinsip keseimbangan, dan inklusif. Secara faktual, saat ini paradigma dominasi menjadi arus utama dalam kehidupan manusia modern, sadar atau tidak sadar. Karenanya, untuk membangkitkan ide-ide harmoni manusia dan alam, maka perlu dilakukan dalam suasana di luar kebiasaan atau rutinitas, dan dalam suasana yang menyenangkan (fun).

(8)

Karena terbiasa dalam arus kompetitif; menang-kalah, para peneliti umumnya hanya percaya diri dengan temuan data primer yang mereka miliki atau akumulasi pengetahuan yang selama ini dikuasai saja. Padahal, bisa jadi banyak sekali temuan-temuan minor yang secara sengaja atau tidak, kebetulan atau tidak telah memunculkan diri kepada mereka, sebagai sebuah kebenaran baru dan bahkan menjadi anti-tesis dari arus utama pengetahuan. Oleh karena itu, tema harmoni manusia dan alam ini mengundang dan memberi wadah para peneliti untuk menyingkap banyak hal yang selama ini tak terungkap.

Masa pandemi covid-19 melahirkan kebiasaan baru dalam dunia ilmu pengetahuan yaitu “musim webinar”. Sebagaimana paradigma harmoni yang berbeda dengan paradigma arus utama dominasi, maka gagasan Obrolan Pelepas Lelah “harmoni manusia dan alam” ditawarkan kepada tim perumus webinar Balitbang LHK Palembang, sebagai webinar yang berbeda dan dapat melibatkan beragam “struktur sosial” peneliti dan akademisi. Gagasan ini dibahas dan di-reformulasi menjadi sebuah protokol pelaksanaan kegiatan oleh tim perumus, yang dikomandani Dr. Mamat Rahmat dengan anggota Ibu Dr. Sri Utami, Dr. Nur Arifatul Ulya, Dr Maliyana Ulfa, Nanang Herdiana, S.Hut., M.Sc., Agus Kurniawan, S.Hut., M.Sc., Fatahul Azwar, S.Hut., M.Sc., dan Edwin Martin. OPL harmoni manusia dan alam dapat terselanggara dan berlangsung selama 7 seri berkat kerja kompak, keras, dan hebat dari tim pelaksana, yang diketuai Ibu Sri Lestari, S.Hut., M.SE., MA. Apresiasi yang tinggi kepada tim pelaksana, Kepala Balai Litbang LHK Palembang dan para staf, serta seluruh sahabat OPL dari berbagai penjuru nusantara.

Webinar-talkshow OPL 2020 menampilkan 10 pembicara untuk sub tema dataran tinggi, 8 pembicara untuk sub tema dataran rendah, 13 pembicara untuk sub tema lahan basah. Dari materi-materi talkshow tersebut, 24 pembicara kemudian menuliskannya menjadi makalah; 6 makalah terkait dataran tinggi, 8 makalah menyangkut sub tema dataran rendah, 10 makalah termasuk sub tema lahan basah. Kumpulan makalah inilah yang membentuk kesatuan, menjadi sebuah buku. Banyak gagasan dan

(9)

pengetahuan baru, pengalaman-pengalaman yang selama ini tak terungkap yang dimunculkan dalam makalah-makalah buku ini. Semoga bermanfaat bagi pengelolaan lanskap lingkungan hidup dan kehutanan Indonesia.

Palembang, Januari 2021 Tim kreatif Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Palembang

(10)

Kata Pengantar ...v Daftar Isi ...ix

BAGIAN SATU

HARMONI MANUSIA DAN ALAM DI DATARAN TINGGI ...1

BAB 1 Harmoni Manusia dan Alam di Dataran Tinggi: Tantangan, Realitas dan Harapan

Asvic Helida ...2

BAB 2 Pengobatan Tradisional dan Konservasi Jenis

Etik Erna Wati Hadi ...17

BAB 3 Barangan: Pangan Potensial Masyarakat Hulu

Nanang Herdiana ...25

BAB 4 Perangkat Simulasi Pengembangan Bambang Lanang

Agus Sumadi, Hengki Siahaan dan Purwanto ...36

BAB 5 Rotan Jernang untuk Penghidupan

Sahwalita ...52

BAB 6 Blusukan Lanskap

Edwin Martin ...63

BAGIAN DUA

HARMONI MANUSIA DAN ALAM DI DATARAN RENDAH...75

BAB 7 Harmoni Manusia dan Alam di Dataran Rendah: Tantangan, Realitas, dan Harapan

Darwo ...76 BAB 8 Belajar dari Jamur Alam

(11)

BAB 9 Hama dan Kebakaran Hutan

Sri Utami ...96

BAB 10 Mengangkut Bibit Revegetasi Menggunakan Gajah

Purwanto, Andika Imanullah, Nuralamain, Agus Sumadi

dan Hengki Siahaan...107

BAB 11 Etnomedisin: Pelawan untuk Kesehatan

Asmaliyah ...114

BAB 12 Taman Koleksi Reklamasi Pascatambang

Dedy Saptaria Rosa ...126

BAB 13 Sistem Pangkas Pelawan untuk Energi

Hengki Siahaan ...132

BAB 14 Menilik Kehidupan Tarsius Belitung

Fifin Fitriana dan Fatahul Azwar ...141

BAGIAN TIGA

HARMONI MANUSIA DAN ALAM DI LAHAN BASAH ...155

BAB 15 Harmoni Manusia dan Alam di Lahan Basah: Tantangan, Realitas, dan Harapan

Iwan Tri Cahyo Wibisono ...156

BAB 16 Api dalam Gambut

Agus Kurniawan ...169

BAB 17 Paludikultur: Dari Jerman hingga Pedamaran

Ibnu Budiman ...175

BAB 18 Jelutung Gambut, Riwayatmu dulu

Subekti Rahayu ...182

BAB 19 Kantong Semar: Menghias Rumah, Menghasilkan Rupiah

Fatahul Azwar ...197

BAB 20 Mendulang Sienol di Lahan Gambut

Imam Muslimin ...207

BAB 21 Perburuan Madu Mangrove Berujung Tragedi?

(12)

BAB 22 Kenali Lahan sebelum Menanam

Tubagus Angga A. Syabana, Efendi A. Waluyo,

Mamat Rahmat ...237

BAB 23 Perempuan dan Gambut

Ari Nurlia ...247

BAB 24 Pohon, Roh Perekonomian Rawa Gambut

(13)
(14)

HARMONI MANUSIA

DAN ALAM DI DATARAN TINGGI

BAGIAN

1

(15)

Tantangan, Realitas dan Harapan

Asvic Helida

1

Pendahuluan

“The only thing that change is change.

Tidak ada sesuatu yang abadi di dunia ini yang abadi adalah perubahan itu sendiri

(Heraklius, 550 SM)

1 Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang

asvic_helida@um-palembang.ac.id

Harmoni adalah sesuatu yang serasi, selaras, dan seimbang. Adanya keharmonian akan menghadirkan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan. Keserasian, keselarasan dan keseimbangan akan menghadirkan kenyamanan, ketertiban dan kecintaan. Sesuatu yang dicintai pasti akan sangat disukai. Alam telah diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dalam keadaan serasi, seimbang dan selaras. Sebagaimana firman-Nya yang berbunyi:

“Bahwa seluruh komponen jagat raya berinteraksi satu dengan lainnya dengan ketertataan yang sempurna dan terukur” (QS: Al-Hijr : 21), “Allah telah menciptakan alam semesta beserta isinya dalam keadaan seimbang, indah dan bermanfaat” (QS Al-Mulk : 3).

Harmoni manusia dan alam artinya adalah keserasian dan keselarasan hubungan manusia dan alam sekitarnya. Rambo (1983) dalam Helida et

al. (2016), menyatakan adanya dua sistem yang menjadi penopang utama

terciptanya harmonisasi manusia dan alam yakni system social dan ekosistem alam (natural ecosystem). Beberapa komponen natural ekosistem antara lain meliputi faktor-faktor biofisik seperti tanah, air, iklim, tumbuhan, hewan

(16)

Landasan Teori

Teori Ekologi Manusia

A.

Hubungan timbal balik antara sistem sosial dan sistem natural ini dapat berubah yang akan memengaruhi harmonisasi manusia dan alam. Salah satu bentuk perubahan tersebut adalah agroekosistem. Agroekosistem adalah sistem lingkungan yang telah dimodifikasi dan dikelola oleh manusia untuk kepentingan produksi pangan, serat dan berbagai produk pertanian lainnya (Conway 1987). Untuk menjaga perubahan yang terjadi agar tetap harmoni, Conway memperkenalkan tentang sistem properti yang penting untuk diperhatikan dalam setiap analisis agroekosistem yaitu productivity, stability, Misalnya saja, perubahan iklim yang mengarah pada tingkat kekeringan tertentu akan berpengaruh pada ketersediaan air dalam tanah, yang pada gilirannya akan memberikan pengaruh pada sebaran tumbuhan dan hewan yang ada di atasnya. Demikian juga dengan sistem sosial, beberapa komponen sosial seperti demografi, organisasi sosial, ekonomi, institusi politik dan sistem kepercayaan adalah hal-hal yang saling memberikan pengaruh pada terbentuknya karakter tertentu, daya tahan, stabilitas, dan tingkat kemajuan (Rambo 1983). Oleh karena itu antara kedua sistem ini harus berjalan seimbang, asupan memberi

Adanya hubungan timbal balik yang saling memengaruhi antara sistem sosial budaya dan sistem alami (ekosistem) merupakan konsep dasar dari harmoni manusia dan alam. Salah satu teori yang terkenal adalah teori ekologi manusia (Adiwibowo 2007). Teori ekologi manusia mendeskripsikan bagaimana interaksi manusia dan lingkungannya. Interaksi yang terjalin telah membentuk suatu hubungan timbal balik yang saling memengaruhi antara sistem sosial dengan ekosistem alam (sistem ekologi). Hubungan timbal balik antara dua subsistem ini dapat berjalan dengan baik dan teratur karena adanya aliran energi, materi dan informasi yang saling memengaruhi.

sebagaimana Teori Ekologi Manusia.

dan menerima energi harus seimbang,

dan lain sebagainya yang satu sama lain berinteraksi dalam suatu mekanisme tertentu sehingga perubahan pada komponen yang satu akan berpengaruh pada keberadaan komponen lainnya.

(17)

sustainability dan equitability. Dengan memperhatikan sistem properti ini,

pengelolaan agroekosistem dapat terkontrol sedemikian rupa sehingga bisa memberikan kontribusi optimal pada sistem sosial tanpa harus menghancurkan ekosistem alam.

Selain itu adanya perubahan sistem sosial budaya masyarakat juga akan memengaruhi harmoni manusia dan alam. Perubahan sistem sosial budaya merupakan sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan ini merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan sosial budaya terjadi karena beberapa faktor internal seperti komunikasi cara dan pola pikir masyarakat, perubahan jumlah penduduk, penemuan baru, terjadinya konflik. Dan faktor eksternal seperti bencana alam, perubahan iklim, peperangan dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain.

Hubungan manusia dengan alamnya sudah berlangsung sejak lama, mulai manusia diciptakan di muka bumi ini. Hubungan ini terbentuk sebagai upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup serta mempertahankan eksistensinya di muka bumi melalui eksploitasi alam (Rambo 1983; Rachman 2006; Pei, et al. 2009). Untuk mengungkap hubungan antara manusia dengan sumberdaya alam dan lingkungannya digunakan studi etnobiologi.

Teori Etnobiologi

B.

Studi etnobiologi merupakan disiplin ilmu yang mampu menjelaskan praktik tradisional masyarakat lokal dan dinamikanya. Etnobiologi adalah merupakan studi interdisiplin ilmu yang mengacu pada pendekatan metode sosial dan biologi. Secara definitif, etnobiologi adalah studi hubungan timbal balik antara budaya manusia dan alam lingkungannya. Hubungan timbal balik yang mengacu pada persepsi manusia tentang lingkungan biologisnya yang pada akhirnya akan memengaruhi perilaku manusia, sedangkan perilaku manusia pada gilirannya akan memengaruhi dan membentuk lingkungan biologisnya (Pieroni et al., 2007). Etnobiologi sebagai suatu studi ilmiah terhadap dinamika hubungan di antara masyarakat, biota dan lingkungan alamiahnya, yang telah ada sejak dulu hingga sekarang ini bersifat lokal spesifik, kompak, unik, berkelanjutan dan turun-temurun (Anderson et al., 2011).

(18)

Berbagai kajian etnobiologi, menunjukkan peningkatan yang sangat pesat. Hal ini didasari oleh pemahaman bahwa pengetahuan dan praktik budaya memiliki substansi nilai dalam pengelolaan sumberdaya alam hayati, pengelolaan lingkungan dan konservasi keanekaragaman hayati. Terjadinya peningkatan kesadaran bahwa adat dan pengetahuan lokal harus dipahami dan dimanfaatkan dalam upaya peningkatan kesejahteraan manusia. Etnobiologi menjadi penting karena isu kesejahteraan manusia tidak dapat dipisahkan dengan kelestarian sumberdaya di sekitar mereka tinggal. Selain itu adanya kebijakan yang bersifat back to biodiversity for life and for the future juga menjadi pemicu berbagai kajian etnobiologi di dunia (MAB 2011).

Masyarakat dalam melakukan pengelolaan sumberdaya alam didasari oleh pengetahuan yang berlangsung secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Purwanto (2007) dan Waluyo (2009) menyatakan bahwa pengetahuan ini bervariasi dari satu kelompok suku ke kelompok suku lain, bergantung pada tipe ekosistem tempat mereka tinggal, iklim terutama curah hujan, adat, tatacara, perilaku, pola hidup kelompok atau singkatnya pada tingkat kebudayaan masing-masing kelompok. Tingkat pengetahuan yang dicapai oleh masing-masing kelompok masyarakat berasal dari akumulasi dalam berinteraksi dengan alam lingkungannya. Interaksi yang terjadi telah berjalan sejak lama dan disepakati serta dilaksanakan bersama dalam menjaga keseimbangan alam lingkungan sekitarnya. Tingkat pengetahuan dan teknologi yang dimiliki masyarakat lokal ini merupakan faktor penting yang memengaruhi masyarakat dalam menentukan tindakan dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada.

Indonesia adalah negara megakultural, memiliki lebih dari 550 suku yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Mereka tersebar di lebih 73.798 desa (350.000 dusun atau kampung) yang hidup dan berinteraksi dengan lingkungan alami di sekitar mereka (BAPLAN 2013). Setiap kelompok masyarakat memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda dengan kelompok masyarakat suku lainnya. Selain karena perbedaan kondisi lingkungan, pengetahuan mereka juga dipengaruhi oleh tingkat kemajuan kebudayaan mereka. Tingkat pengetahuan yang dicapai oleh suatu kelompok masyarakat berasal dari adanya akumulasi dalam berinteraksi dengan alam lingkungan di mana mereka tinggal.

(19)

Berbagai kelompok masyarakat ini hidup pada berbagai tipe lingkungan seperti di daerah pegunungan, daerah dataran tinggi, daerah sekitar hutan, di sepanjang sungai dan di daerah pesisir. Mereka hidup dan melakukan proses ko-eksistensi dengan alam sekitarnya. Berbagai kelompok masyarakat ini telah berinteraksi dengan alam, mereka mengamati dan belajar dengan cermat, bagaimana mengelola sumber daya dan melakukan proses adaptasi terhadap perubahan yang terjadi seperti gangguan iklim. Pengetahuan ini telah diturunkan dari generasi ke generasi yang secara umum disebut Pengetahuan Ekologi Tradisional (Traditional Ecological Knowledge).

Pengetahuan ekologi tradisional adalah akumulatif pengetahuan, praktik dan keyakinan dari satu kelompok masyarakat tentang hubungan makhluk hidup (termasuk manusia), satu sama lain dan dengan lingkungan mereka. Pengetahuan ini berkembang dengan proses adaptif melalui transmisi budaya secara turun-temurun. Pengetahuan ekologi tradisional berguna untuk menganalisis semua aspek pengetahuan masyarakat tradisional tentang lingkungannya meliputi persepsi dan konsepsi mereka terhadap lingkungan dan sumber daya alam yang ada di dalamnya, menganalisis pengaruh formatif persepsi lokal tentang lingkungan dan pembangunan pengetahuan tersebut (Anderson et al., 2011). Pengetahuan ekologi tradisional ini diturunkan dari generasi ke generasi melalui tradisi lisan yang proses penyampaiannya berupa pesan lewat perkataan dari mulut ke mulut selama beberapa waktu sampai pesan tersebut menghilang.

Beberapa kajian menunjukkan bahwa pengetahuan ekologi tradisional ini dapat berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan. Helida et al., (2016) menyebutkan bahwa tradisi pelak, semacam sistem agroforestri yang dimiliki masyarakat Kerinci dapat menjaga keletarian hutan dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat Kerinci. Sementara Iswandono

et al., (2016) juga menyatakan bahwa masyarakat Manggarai terbukti dapat

menjaga kelestarian hutan dan lingkungan mereka. Zhang et al., (2015) juga menyebutkan bahwa tradisi hakka yang dimiliki oleh masyarakat lokal Cina telah memberikan kontribusi dalam proses restorasi kawasan hutan mereka. Galacgac dan Balicasan (2009) juga menyatakan bahwa peramalan tentang cuaca pada masyarakat lokal di Ilocos Norte Filipina telah memberikan keberhasilan dalam kegiatan agroforestry mereka.

(20)

Hasil ini membuktikan bahwa masyarakat tradisional memiliki pengetahuan yang baik terhadap pengelolaan lingkungan mereka. Hal ini diperkuat dalam The United Nations (2014) yang menyatakan bahwa masyarakat dapat memberikan kontribusi pengetahuan tradisional mereka dalam pemanfaatan lingkungan secara efektif dan lestari. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat dapat menginspirasi dunia dalam menghadapi perubahan serta mengurangi risiko bencana yang diakibatkannya.

Dataran Tinggi

Campur tangan manusia dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam telah menyebabkan perubahan-perubahan, termasuk di kawasan dataran tinggi, antara lain dataran tinggi Kerinci. Dataran tinggi Kerinci yang terletak sebelah barat Provinsi Jambi berada pada ketinggian 450 hingga 1500 m dpl menunjukkan telah terjadi perubahan pola pemanfaatan lahan. Dataran tinggi yang tadinya sejauh mata memandang merupakan hutan “kayu manis” (Cinnamomun burmanii), telah menampakkan perubahan menjadi areal agroekosistem atau areal pertanian jangka pendek seperti cabai, kentang dan kubis. Masyarakat telah menebang pohon kayu manis dan menggantinya dengan tanaman pertanian yang berusia relatif pendek.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen perubahan itu antara lain karena identitas yang berubah, arah dan laju perubahan, sumber perubahan, aras dan perspektif perubahan itu sendiri. Sebagaimana Lauer (2001) menyatakan sebagaimana Tabel 1.

Perspektif perubahan Tabel 1.

No Komponen Perubahan Dimensi Perubahan

1 Identitas yang berubah Sistem sosial budaya, ekonomi, dan ekologi 2 Arah dan laju perubahan Siklikal, dalam waktu yang relatif singkat dan

mengalami kemunduran 3 Sumber perubahan Faktor eksogen dan indogen 4 Aras Masyarakat

(21)

Perubahan sosial budaya merupakan sebuah gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan ini terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Perubahan sosial budaya dapat terjadi karena adanya faktor internal dan eksternal. Faktor internal antara lain komunikasi cara dan pola pikir masyarakat, perubahan jumlah penduduk, adanya penemuan baru, terjadinya konflik atau revolusi. Sementara faktor eksternal antara lain bencana alam, perubahan iklim, peperangan dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain.

Perubahan sosial budaya pada masyarakat Kerinci dapat dilihat dari berbagai bidang antara lain:

Perubahan penggunaan peralatan dan perlengkapan hidup yaitu a.

mencakup pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, alat produksi dan transportasi.

Masyarakat Kerinci mengalami perubahan dalam penggunaan peralatan dan perlengkapan untuk keperluan produksi pertanian. Seperti penggunaan kincir air berubah dengan rice milling (mesin penggilingan padi), penggunaan bajak dengan menggunakan hewan seperti kerbau juga sudah ditinggalkan beralih ke penggunaan mesin bajak (traktor) dan sebagainya.

Perubahan sistem mata pencaharian, dapat dilihat dalam sistem b.

ekonomi meliputi pertanian, peternakan dan sistem produksi. Masyarakat Kerinci tadinya adalah masyarakat petani yang berhasil mengelola sumberdaya alam dan sawah dengan sistem irigasi alami yang mereka miliki. Adanya “pelak” merupakan bentuk agroforestry masyarakat Kerinci dalam memanfaatkan dan memaksimalkan hasil lahan yang terbatas. Pemanfaatan sumberdaya alam yang tadinya bersifat subsisten untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari berubah mejadi pemanfaatan yang bersifat komersial.

Perubahan sistem kemasyarakatan mencakup sistem kekerabatan, c.

(22)

Masyarakat Kerinci memiliki sistem kemasyarakatan yang khas, dengan “depati”, sebagai ketua masyarakat. Depati sangat dihormati dan dihargai oleh seluruh anggota masyarakatnya. Depati dipilih oleh anggota masyarakat dan melakukan sumpah setia yang berbunyi sebagai berikut:

“....Jangan sampai dimata dipicingkan, sampai diperut dikempiskan,

jangan kuning karena kunyit, jangan lemak karena santan. Kalau itu terjadi maka dikutuk qur’an 30 jus, keatas tidak berpucuk, kebawah tidak berurat, ditengah-tengah digirik kumbang, anak dipangku jadi batu ”.

Sumpah di atas diyakini oleh masyarakat bahwa pemimpin atau pemangku adatnya adalah orang yang bila berkata benar, berjalan lurus dan memutus adil sehingga putusannya sangat dihormati dan ditaati oleh masyarakatnya.

Perubahan sistem bahasa. d.

Masyarakat Kerinci dulunya memiliki aksara tersendiri yang disebut aksara incung, bahasa disampaikan melalui tradisi lisan dan bersifat diwariskan dari mulut ke mulut. Namun sekarang aksara incung mulai dilupakan oleh masyarakat, hal ini ditunjukkan oleh semakin berkurangnya generasi muda yang paham akan aksara incung ini. Generasi muda saat ini menggunakan Bahasa Indonesia.

Kesenian, mencakup seni rupa, seni suara, dan seni tari. e.

Sistem pengetahuan, berkaitan dengan teknologi. Contohnya dahulu f.

masyarakat Kerinci berpedoman pada gejala-gejala alam dalam menentukan musim, tetapi sekarang lebih cendrung menggunakan alat-alat modern. Dan masih banyak contoh lainnya.

Serta keyakinan/religi. g.

Dahulu meyakini tentang adanya roh halus (roh leluhur) yang terungkap dari pesta adat kendurisko, yaitu pesta syukur terhadap hasil pertanian yang diperoleh, merasakan hadirnya roh para leluhur mereka. Namun sekarang manusia lebih berpikir logis dan masuk akal.

(23)

Salah satu perubahan menarik pada masyarakat Kerinci adalah dalam hal pemilihan jenis padi untuk ditanam. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, telah terjadi perubahan pemilihan varietas padi yang ditanam (Helida et.al, 2016). Hal ini disebabkan karena berbagai faktor internal dan eksternal yang masuk kepada masyarakat Kerinci:

Faktor internal adalah pertambahan dan pertumbuhan penduduk a.

yang menyebabkan sebagian masyarakat beralih kepada padi jenis unggul yang memiliki masa panen bisa 2 hingga 3 kali dalam satu tahun untuk pemenuhan kebutuhan.

Faktor eksternal antara lain dikenalkannya varietas baru kepada b.

masyarakat yang menyebabkan para petani mengkonstruksikan pengetahuan mereka dengan cara bereksperimen, pertukaran informasi serta pengamatan cermat tanaman padi sesama petani yang dilakukan pada hampir segala kesempatan. Karena pengetahuan ini dapat berubah-ubah maka tidak semua petani dalam sebuah desa memiliki pengetahuan dan informasi yang sama, dan keingintahuan serta kemampuan masing-masing yang tergantung pada umur dan pengalaman bertani, untuk mengaktualkan pengetahuan mereka menjadi penting maknanya.

Menyingkap yang Tak Terungkap

Indonesia adalah negara megabiodiversity memiliki tingkat keanekaragaman jenis hayati yang tinggi, baik tumbuhan maupun hewan. Keberadaan beragam jenis hayati ini telah dimanfaatkan oleh manusia sejak lama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kajian terhadap berbagai jenis keanekaragaman hayati baik tumbuhan maupun hewan atau yang biasa disebut bioprospeksi. Bioprospeksi berasal dari kata biodiversity dan prospecting yang berarti proses pencarian sumberdaya hayati terutama sumberdaya genetik dan materi biologi lainnya untuk kepentingan komersial (Moeljopawiro 1999; Mukhtar 2001; Riyadi 2008). Lebih luas bioprospeksi dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan untuk mengeksploirasi, mengoleksi, meneliti, dan memanfaatkan sumberdaya genetik dan biologi secara sistematis guna

(24)

mendapatkan sumber-sumber baru senyawa kimia, gen, organisme, dan produk alami lainnya yang memiliki nilai ilmiah dan atau komersial (Lohan dan Johnston 2003; Gepts 2004).

Bab 2 misalnya, kajian tentang pengobatan tradisional dan konservasi jenis. Etik Erna Wati Hadi ingin menyampaikan bahwa masyarakat tempatan sudah memanfaatkan tumbuhan di sekitar mereka sebagai tumbuhan obat untuk mengobati berbagai penyakit. Saat ini back to nature menjadi pilihan pengobatan untuk penyakit-penyakit yang memerlukan pengobatan secara terus-menerus dalam jangka panjang. Sehingga kebutuhan akan berbagai jenis tumbuhan obat semakin tinggi. Untuk itu perlu upaya agar pemanfaatan yang dilakukan dapat diiringi dengan upaya konservasi tumbuhan obat tersebut, sehingga keberadaannya di alam senantiasa tersedia.

Bab 3, Nanang Herdiana menyampaikan informasi barangan atau saninten (Castanopsis argente Blumme) sebagai salah satu pangan potensial yang dapat dijumpai di daerah hulu Sumatera Selatan. Saat ini pemanfaatan kacang barangan di masyarakat masih bersifat subsisten, hanya dengan cara mengkonsumsi langsung atau sekadar dijual di pasar kalangan setempat. Belum ada upaya pengolahan lebih lanjut. Namun sayang pemanfaatan kacang barangan ini belum diiringi dengan upaya budidaya yang baik, sehingga keberadaannya di alam semakin langka. Untuk itu dibutuhkan peran para pihak untuk pendampingan, pembinaan dan penyediaan IPTEK baik dari institusi litbang, perguruan tinggi, dinas perindustrian dan sebagainya.

Salah satu hal menarik disajikan pada Bab 4 yaitu perangkat simulasi budidaya bambang lanang yang disampaikan oleh Agus Sumadi. Perangkat ini menjadi menarik karena sesuai dengan perkembangan kemajuan teknologi informasi. Perangkat ini merupakan aplikasi yang dibangun dengan program STELLA yang terdiri atas menu input dan output. Input terdiri atas variabel karakteristik lahan yang akan dibangun tegakan bambang lanangdan variabel komponen biaya pembangunan tegakan. Pada menu output berisi informasi pertumbuhan tegakan baik diameter, tinggi dan volume serta informasi finansial budidaya bambang lanang yang meliputi NPV dan BCR. Temuan ini tentu memberikan kemudahan bagi kita untuk melihat hubungan input dan output pertumbuhan bambang lanang.

(25)

Bab 5, Sahwalita ingin menyampaikan bahwa pemanfaataan rotan jernang yang dilakukan apabila tidak ada pembatasan penggunaan maka keberadaannya di alam akan habis. Resin jernang memiliki banyak manfaat sebagai obat tradisional, bahan baku industri obat, industri kosmetik dan industry pewarna. Pemanfaatan dari rotan jernang ini sudah dimiliki oleh masyarakat Suku Anak Dalam atau Orang Rimba. Namun keberadaan masyarakat Suku Anak Dalam ini semakin hari semakin terancam dan populasi mereka semakin berkurang. Disisi lain, rotan jernang sudah semakin habis di alamnya, oleh karena itu diperlukan upaya penyelamatan keduanya, tentunya melalui upaya yang sungguh-sungguh dan keterlibatan para pihak.

Bab 6, metode Blusukan Lanskap yang disampaikan oleh Edwin Martin adalah usulan menarik bagi peneliti bioprospeksi yang perlu dipertimbangkan. Menurut penulisnya blusukan lanskap atau disingkat BL, dapat mendorong interaksi positif antara para pihak, masyarakat lokal dan lanskap tertentu agar terjadi proses reflektif-kreatif yang menghasilkan kelestarian lanskap.

Berbagai kajian yang disampaikan menunjukkan bahwa harmoni manusia dan alam itu masih. Namun ada juga kajian yang menunjukkan telah terjadi perubahan menjadi disharmoni antara manusia dan alam, seperti semakin berkurangnya keberadaan rotan jernang yang dicari oleh masyarakat karena memiliki berbagai manfaat, serta makin langkanya tumbuhan yang memiliki fungsi sebagai tanaman obat.

Oleh karena itu diperlukan berbagai upaya untuk menghindari terjadinya disharmoni manusia dan alam yang berlebihan. Selain upaya yang harus dilakukan oleh manusia, tentu haru diperkuat dengan kebijakan yang membantu untuk terciptanya usaha harmoni manusia dan alam ini. Beberapa kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah antara lain:

Undang-undang No 5 Tahun 1990 a.

Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDHE) merupakan turunan dari UU No 4 tahun 1982. UU ini berasaskan pelestarian kemampuan dan pemanfaatan SDAHE secara serasi dan seimbang sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan dan mutu kehidupan manusia. Undang-undang ini mengatur tentang perlindungan sistem penyangga

(26)

kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, kawasan suaka alam, pengawetan jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Undang-undang No. 5 Tahun 1994 b.

Tentang Pengesahan Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati.

Tujuan dari peraturan ini adalah untuk konservasi keanekaragaman hayati, pemanfaatan komponen-komponennya secara berkelanjutan dan membagi keuntungan yang dihasilkan dari pendayagunaan sumber daya genetika secara adil dan merata, termasuk melalui akses yang memadai terhadap sumber daya genetik, dengan alih tekonologi yang tepat guna, dan dengan memperhatikan semua hak atas sumber-sumber daya maupun dengan pendanaan yang memadai. Undang-undang ini juga mengatur tentang akses pada sumber daya genetik, akses pada teknologi dan alih teknologi, pertukaran informasi, kerjasama teknisi dan ilmiah, penanganan bioteknologi dan pembagian keuntungan, sumber dana, dan beberapa hal mengenai aspek-aspek teknis dan kesekretariatan. Lingkup kedaulatan suatu negara berkaitan dengan komponen keanekaragaman hayati, adalah yang terdapat di dalam batas-batas yurisdiksinya.

Undang-undang No 23 Tahun 1997 c.

Undang-undang ini menggantikan undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Pengelolalaan Lingkungan Hidup.

Undang-undang ini juga menggariskan bahwa pengelolaan lingkungan hidup dan penataan ruang tetap memperhatikan nilai-nilai agama, adat istiadat, dan nilai-nilai-nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. Pengelolaan lingkungan dilakukan secara terpadu, dengan penataan ruang, perlindungan sumber daya alam non hayati, perlindungan sumber daya buatan, konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, cagar budaya, keanekaragaman hayati dan perubahan iklim.

(27)

Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 1998 d.

Tentang Penyerahan sebagian urusan Pemerintahan di bidang Kehutanan kepada Pemerintah Daerah. Berbicara mengenai Pengesahan sebagian Urusan Pemerintahan di bidang kehutanan kepada Daerah penting untuk diletakan prinsip-prinsip dasar sehingga tujuan dari penyerahan urusan terrsebut yang tidak semata menyangkut mekanisme penyerahan, akan tetapi menyangkut substansi. Substansi yang dimaksud di sini, dalam konteks sumber daya alam hutan adalah adanya manfaat yang nyata dari pemanfaatan sumber daya alam hutan itu sendiri terhadap daerah dan masyarakatnya. Dalam hal mekanisme penyerahan urusan pemerintahan di bidang kehutanan kepada daerah prosesnya haruslah melibatkan daerah itu sendiri. Sehingga tugas yang diberikan tersebut tidak bersifat top-down, tetapi bottom-up yang betul-betul mencerminkan kepentingan daerah

Namun berdasarkan telaahan terhadap beberapa peraturan tersebut menunjukkan adanya beberapa persoalan mendasar yaitu antara lain:

Terdapatnya ketidaksesuaian antara peraturan yang ada, sehingga a.

terkesan peraturan pada tingkat yang lebih tinggi tidak diikuti oleh peraturan di bawahnya,

Lemahnya penegakan hukum (

b. law enforcement) terhadap pelaku

perusakan kawasan konservasi.

Berbagai aktivitas yang nyata-nyata mengancam dan merusak kawasan konservasi sering kali tidak dikenakan peringatan ataupun tindakan yang tegas. Berbagai peraturan yang memuat peran serta masyarakat, kecuali PP No 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa peran serta masyarakat itu tidak penting. Masyarakat bahkan dilihat sebagai orang yang tidak mengerti tentang pengelolaan sumber daya alam termasuk konservasi sehingga disebutkan bahwa peran serta tersebut akan ditumbuhkan dan ditingkatkan melalui pendidikan dan penyuluhan. Padahal tidak ada yang dapat membantah justru masyarakat adat Dayak, masyarakat adat Haruku dan berbagai masyarakat lainnya di berbagai wilayah di Indonesia dikenal secara turun-temurun memiliki konsep konservasi yang luar biasa

(28)

dan telah menerapkannya. Sebagaimana hasil kajian pada masyarakat Kerinci yang telah menunjukkan bahwa mereka telah memiliki konsep konservasi yang terbukti mampu menjaga keberlanjutan sumber daya alam biodiversitas dan lingkungannya.

Simpulan

Untuk dapat mewujudkan harmoni manusia dan alam, etnobiologi dapat dijadikan sebagai dasar pengembangan pembangunan berkelanjutan. Karena etnobiologi merupakan pendekatan multidisplin ilmu pengetahuan yang menggabungkan ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu biologi. Etnobiologi masyarakat tradisional menunjukkan bahwa mereka telah memiliki sistem nilai dan sitem pengetahuan tradisional yang telah mereka anut sejak lama hingga sekarang secara turun-temurun.

Selain itu diperlukan kesadaran dan pemahaman para pihak dalam pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya agar tetap terjaga di muka bumi melalui pembatasan kuota pemanfaatan, pembatasan wilayah jelajah, pembuatan peraturan tingkat tapak, penyuluhan kepada masyarakat dan terus melakukan upaya bioprospeksi untuk mengenali sumber daya alam hayati tersedia di bumi ini.

Daftar Pustaka

Adiwibowo S. 2007. Ekologi Manusia : Mata Air Integrasi Ilmu-ilmu Alam dan Ilmu-ilmu Sosial. Di dalam Adiwibowo S. 2007. Editor. Ekologi

Manusia. Fakultas Ekologi Manusia IPB. Bogor (ID)

Anderson EN. 2011. Ethnobiology: Overview of a Growing Field. Anderson EN, Pearsal DM, Hunn ES, Turner JN. 2011. Editor. Ethnobiology. Published by John Wiley & Sons, Inc., Hoboken, New Jersey

Gepts, P. 2004. Who owns biodiversity and howshould the owners be compensated? PlantPhysiol. 134: 1.295−1.307

Helida A., Zuhud EAM., Hardjanto, Purwanto Y., Hikmat A. 2015. The Ethnography of Kerinci. Komunitas International Journal of Indonesian

Society and Culture. 7(2): (283 – 296). DOI: 10.15294/komunitas.

(29)

Julijanti, Hermanislamet B. 2005. Perubahan pemanfaatan lahan di kawasan dataran tinggi Dieng (studi kasus difusi spasial usaha tani kentang di Desa Batur dan Desa Dieng Kulon Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara) [tesis]. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Li, Tania Muray. 2002. Transformasi Daerah Pedalaman di Indonesia. Yayasan Obor. Jakarta

Lohan D, S Johnston. 2003. The Inter-national Regim for Bioprospecting. UNU/IAS All Right Reserved. 26 pp

Pei SJ. 2013. Ethnobotany and sustainable use of biodiversity. Plant and

Diversity Resources. 35(4): 401–406. http://dx.doi.org/10.7677/

ynzwyj201313002

Riyadi I. 2008. Potensi pengelolaan bioprospeksi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian 27 (2) : 2008

(30)

Pengobatan Tradisional dan Konservasi Jenis

Etik Erna Wati Hadi

2

Pendahuluan

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki banyak suku bangsa yang memiliki beragam adat dan budaya serta kearifan lokal. Keanekaragaman suku bangsa tersebut memiliki adat dan tatanan hidup yang khas, termasuk hubungannya dengan alam sekitarnya. Salah satu ciri dari hubungan manusia dengan alam adalah pemanfaatan tumbuhan untuk berbagai kebutuhan hidupnya, antara lain ekonomi, spiritual, nilai-nilai budaya, kesehatan, kecantikan bahkan untuk pengobatan berbagai penyakit. Pemanfaatan tumbuhan untuk tujuan ekonomi dilakukan oleh masyarakat pedesaan di beberapa negara Asia terutama di wilayah Himalaya (Tiwari et al., 2017), tumbuhan juga masih dimanfaatkan oleh masyarakat dalam berbagai kegiatan ritual (Geng et al., 2017) seperti dilakukan oleh masyarakat Melayu Landak yang melakukan upacara adat Tumpang negeri (Hasanah et al., 2014), dan untuk pengobatan antara lain untuk menjaga kesehatan, stamina dan mengobati penyakit (Hikmat et al., 2011). Berdasarkan berbagai latar belakang budaya, sumber daya hayati dan kondisi geografis dapat memengaruhi keberagaman pengetahuan terhadap pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan obat tradisional. Pemanfaatan tumbuhan untuk tujuan pengobatan telah dilakukan oleh berbagai suku bangsa di Indonesia, secara turun-temurun.

Gaya hidup masyarakat di zaman modern telah memberikan hasil dengan kemunculan berbagai jenis penyakit. Penyakit yang muncul antara lain penyakit degeneratif metabolik yang memerlukan pengobatan jangka panjang secara terus-menerus. Lemahnya daya beli masyarakat dan ketakutan akan dampak negatif dari konsumsi obat sintetik secara terus-menerus, memaksa masyarakat mencari alternatif bahan obat alami karena dinilai lebih

2 Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Palembang, email: Etik_imkho@yahoo.

(31)

aman (Hikmat et al., 2011) dan dikenal dengan trend “gaya hidup kembali ke alam” atau back to nature. Saat ini pemanfaatan tumbuhan untuk pengobatan tidak hanya untuk memelihara kesehatan dan penyakit ringan, namun juga dimanfaatkan untuk penyakit berat dan penyakit-penyakit yang saat ini belum ada ditemukan pengobatannya secara memuaskan (Asmaliyah et al., 2018) sebagai contoh herbal dan rempah-rempah menawarkan solusi alternatif untuk pengobatan kanker payudara, dengan komponen bioaktif seperti alkaloid, flavonoid, antosianin, fenilopropanoid, dan terpene yang dapat menghambat proses yang terkait dengan pertumbuhan sel kanker payudara (Vutakuri & Somara, 2018). Di Sumatera Selatan, daun Oroxylum indicum digunakan oleh Suku Saling untuk mengobati penyakit kuning dan asma (Asmaliyah et al., 2016) dan di Kabupaten Kulon Progo masyarakat memanfaatkan rebusan daun Peperomia pellucida untuk obat asam urat (Hadi et al., 2016).

Pengobatan atau gaya hidup back to nature perlu disupport dengan ketersediaan bahan baku. Jika selama ini masyarakat tradisional mengambil bahan baku di alam (Suleiman Abubakar et al., 2018) dalam jumlah terbatas dan sesuai kebutuhan, ketersediaan bahan baku masih bisa terjaga dengan baik. Namun saat ini eksploitasi sumber daya di alam semakin meningkat akibat perubahan tren dan gaya hidup mengakibatkan beberapa jenis tumbuhan yang berpotensi sebagai obat menjadi sulit ditemukan bahkan masuk dalam kategori langka (Singh et al., 2012). Di India, eksploitasi berlebihan terhadap jenis-jenis tumbuhan obat hasil dari masuknya pengetahuan dari berbagai sumber menyebabkan kerusakan habitat aslinya (Sai Murali et al., 2017). Sehingga hal terpenting yang harus dilakukan adalah bagaimana menjaga ketersediaan bahan baku dengan tetap mempertahankan keberadaan jenis-jenis tersebut di alam, salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan konservasi in-situ dan ex-situ atau upaya pembudidayaan jenis-jenis yang berpotensi sebagai bahan obat sebelum jenis-jenis-jenis-jenis tersebut menjadi langka dan punah (Suleiman Abubakar et al., 2018).

Ilmu etnobotani mengupas tentang bagaimana hubungan manusia dengan tumbuh-tumbuhan di sekitarnya. Berbagai penelitian tentang tumbuhan obat, baik jenis, potensi maupun cara pemanfaatannya telah banyak dilakukan. Data-data tersebut bisa dijadikan base-line data, sehingga bisa dilakukan

(32)

pengembangan berbagai jenis tumbuhan yang memiliki potensi sebagai obat. Pengembangan jenis ini bisa dilakukan secara kolaboratif, antara teknik budidaya, pengolahan yang tepat, kandungan bahan aktifnya dan tentu saja secara ekonomi harus kita pelajari pasar yang tepat. Diharapkan celah-celah kosong tersebut dapat disempurnakan dengan berbagai kegiatan tersebut.

Realitas dan Harapan

Fakta-fakta tentang pengobatan tradisional yang masih dilakukan oleh suku-suku terutama di Sumatera Selatan membuktikan bahwa masyarakat sampai saat ini masih sangat bergantung pada alam. Fakta-fakta tersebut kami dapatkan saat pelaksanaan kegiatan penelitian dan pengembangan tumbuhan berkhasiat obat degeneratif metabolik di subregion Sumatera Bagian Selatan yang dilakukan oleh tim dari Balai Litbang LHK Palembang tahun 2015. Berdasarkan realitas di lapangan (Gambar 2.1) menunjukkan bahwa dalam tatanan masyarakat tradisional terdapat orang-orang dengan pengetahuan tentang pengobatan yang didapat dari para leluhurnya secara turun-temurun.

Pengobat tradisional asal Suku Saling, Desa Taba, Kecamatan Gambar 2.1

(33)

Pada Gambar 2.1, pengobat tradisional tersebut bernama Ibu Nol, beliau banyak memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan sebagai bahan obat. Pengobatan tradisional di suku Saling merupakan pengobatan alternatif (Asmaliyah

et al., 2015), karena sebagian masyarakat telah mengenal pengobatan medis.

Masyarakat menyebut pengobatan tradisional dengan sebutan “ubat ula’an” atau obat dusun, biasanya menjadi rujukan saat pengobatan medis belum menunjukkan penyembuhan.

Pengobat tradisional (battra) terdiri atas 2 jenis, yaitu pengobat yang menggunakan bahan obat dari tumbuhan untuk penyembuhannya dan pengobat yang mengobati dengan teknik penerawangan. Battra yang menggunakan tumbuhan sebagai obat, mengambil bahan dari hutan dan lingkungan sekitar (Gambar 2.2). Gambar 2.2 menunjukkan bahwa battra selama ini mengambil bahan tumbuhan untuk obat di hutan sekitar mereka, namun seiring perkembangan populasi manusia, keberadaan jenis-jenis tersebut mulai sulit ditemukan di hutan, dan battra memiliki cara untuk melestarikan jenis-jenis tersebut dengan menanam di sekitar rumah.

Lokasi pengambilan bahan tumbuhan untuk obat Gambar 2.2

Pengobat dan masyarakat tradisional memiliki cara tersendiri dalam menjaga alam. Pengambilan bahan untuk pengobatan haruslah memenuhi beberapa persyaratan yang tidak boleh dilanggar, di antaranya jumlah dan waktu pengambilan serta ciri khas dari tumbuhan tersebut. Hal ini merupakan kearifan lokal, di mana masyarakat memanfaatkan sumberdaya alam dalam batas tertentu sesuai kebutuhan mereka dan menanam beberapa jenis yang sulit ditemukan di alam agar secara pribadi mereka tidak mengalami kesulitan

(34)

dalam mendapatkannya. Penelitian di bidang etnobotani telah banyak dilakukan, tujuan utamanya adalah menggali dan mendokumentasikan kemampuan dan pengetahuan dari para pengobat tradisional dalam meramu dan menjelaskan khasiatnya. Dari hasil-hasil penelitian tersebut kita dapat mengembangkan berbagai jenis tumbuhan yang memiliki khasiat untuk obat dari penyakit-penyakit yang belum ditemukan obatnya, bagaimana teknik budidayanya, kandungan bahan aktif, pengujian bahan aktif dan berbagai kegiatan penelitian lanjutan dari bidang sosiologi, pertanian, kehutanan, dan kesehatan. Penelitian yang komprehensif akan menjadikan pengetahuan tradisional menjadi pengetahuan modern yang membawa nilai-nilai keilmiahan. Selain itu, upaya budidaya jenis merupakan salah satu bagian dari upaya konservasi jenis, di mana bahan bisa diambil dari hasil budidaya yang telah dimodifikasi dan dikembangkan, hal ini tentu menjadi langkah penyelamatan jenis-jenis yang jumlahnya sudah mulai berkurang atau langka di alam.

Dalam pemanfaatan sumber obat tradisional secara luas, terdapat beberapa kendala di antaranya beberapa jenis tumbuhan belum diuji secara ilmiah khasiatnya. Hal ini dikarenakan pemanfaatan obat tersebut dilakukan secara turun-temurun, sehingga dokumentasi dari jenis-jenis tersebut belum dilakukan secara baik. Namun demikian, saat ini berbagai upaya pendokumentasian jenis tumbuhan dan pemanfaatannya sebagai obat tradisional mulai banyak dilakukan, di antaranya studi etnobotani tumbuhan obat di Cianjur, Jawa Barat (Malini et al., 2017), studi etnobotani di Suku “Topo Uma” (Yulia et al., 2017), studi tumbuhan berkhasiat obat di subregion sumbagsel (Asmaliyah et al., 2015), dan kurang lebih 150 hasil penelitian etnobotani telah dipresentasikan dan dipublikasi melalui seminar yang diadakan oleh LIPI (Walujo, 2008). Namun demikian banyak dari penelitian yang yang telah dilakukan sebatas mendokumentasikan saja, belum ada uji lebih lanjut, sehingga hal ini memberikan peluang yang sangat luas bagi penelitian lanjutan, baik dari sisi jenis tumbuhan atau dari sisi lainnya.

Dengan kondisi hutan yang semakin terdegradasi, maka akan memengaruhi ketersediaan bahan baku tumbuhan untuk obat dialam. Tentu saja hal ini cukup menyulitkan bagi para battra. Namun demikian mereka berupaya utuk melakukan adaptasi dengan menanam jenis-jenis yang sulit

(35)

mereka temui di alam. Mereka memanfaatkan pekarangan di sekitar rumah untuk memudahkan pengambilan dan menjaga ketersediaan bahan baku. Selain itu para battra juga mengajak masyarakat setempat untuk ikut menanam jenis-jenis yang sulit ditemukan di alam. Hal ini karena masyarakat juga sadar kebutuhan mereka akan jenis tumbuhan tersebut. Ada juga yang menyimpan dalam bentuk serbuk dan diawetkan. Untuk transfer pengetahuan tentang tumbuhan berkhasiat obat, masyarakat di beberapa suku telah melakukan itu, mereka berusaha mengingat jenis-jenis tumbuhan yang dimanfaatkan oleh para battra untuk mengobati penyakit. Yang tidak bisa diturunkan adalah mantra, ucapan atau jampi-jampinya.

Simpulan

Berbagai studi etnobotani merupakan base line data bagi penelitian lanjutan dan prospek pengembangan tumbuhan obat. Penelitian tentang budidaya, farmakologi, lingkungan, sosiologi, ekonomi dan kesehatan dapat berkolaborasi menggali potensi-potensi sumberdaya obat di alam Indonesia.

Daftar Pustaka

Asmaliyah, Hadi EEW, Muslimin I, Turjaman M, Thalib I. 2016. Quantitative pre-eliminary phytochemical screening of aqueous extracts of leaves of oroxylum indicum from five different places in sumatra island, Indonesia. International Journal of Pharmacognosy and Phytochemical

Research, 8(11), 1863–1869.

Asmaliyah, Hadi EEW, Waluyo EA, Muslimin I, Nopriansyah A. 2018. Tumbuhan Obat dan herbal Dari Hutan Untuk Penyakit Degeneratif Metabolik: Gaya Hidup Kembali ke Alam. In Unsri Press.

Asmaliyah, Muslimin I, Hadi EEW, Imanullah A. 2015. Penelitian dan

Pengembangan Tumbuhan Berkhasiat Obat Degeneratif Metabolik di Subregional Sumbagsel.

Geng Y, Hu G, Ranjitkar S, Shi Y, Zhang Y, Wang Y. 2017. The implications of ritual practices and ritual plant uses on nature conservation: a case study among the Naxi in Yunnan Province, Southwest China. Journal

of Ethnobiology and Ethnomedicine, 13(1), 58. https://doi.org/10.1186/

(36)

Hadi EEW, Widyastuti SM, Wahyuono S. 2016. Keanekaragaman dan Pemanfaatan Tumbuhan Bawah Pada Sistem Agroforestri di Perbukitan Menoreh, Kabupaten Kulon Progo. Jurnal Manusia Dan Lingkungan,

23(2), 206–214.

Hasanah U, Linda R, Lovadi I. 2014. Pemanfaatan tumbuhan pada Upacara Adat Tumpang Negeri Suku Melayu di Keraton Ismahayana Landak.

Protobiont, 3(3), 17–24.

Hikmat A, Zuhud EAM, Siswoyo, Sandra E, Sari RK. 2011. Revitalisasi konservasi tumbuhan obat keluarga (Toga) guna meningkatkan kesehatan dan ekonomi keluarga mandiri di Desa Contoh Lingkar Kampus IPB Darmaga Bogor (the Revitalization of Family Medicine Plant (Toga) Conservation for Crease Health and Econ. Jurnal Ilmu

Pertanian Indonesia, 16(2), 71–80. http://journal.ipb.ac.id/index.php/

JIPI/article/view/6600/5128

Malini DM, Madihah, Kusmoro J, Kamilawati F, Iskandar J. 2017. Ethnobotanical Study of Medicinal Plants in Karangwangi, District of Cianjur, West Java. Journal of Biology & Biology Education, 9(2), 345– 356. https://doi.org/10.15294/biosaintifika.v9i2.5756

Sai Murali RS, Nageswara Rao G, Basavaraju R. 2017. Looking through the lens of a conservation biologist: Life of medicinal plants in the Eastern Ghats of Andhra Pradesh, India. International Journal of Conservation

Science, 8(2), 333–348.

Singh KN, Lal B, Chand G, Todaria NP. 2012. Ecological Features And Conservation Of Arnebia euchorma. A Critically Endangered Medicinal Plant In Western Himalaya. Iternational Journal of Concervation Science,

3(3), 189–198. https://doi.org/10.2307/2752507

Suleiman Abubakar U, Ibrahim Khalifa B, Abdu F, Sanusi M, Abdu Gawuna T, Gambo Adamu J, Saidu Rogo S. 2018. Threatened Medicinal Plants of

Kano Flora and the Need for Urgent Conservation. 9(1), 173–178. www.

plantlist.org

Tiwari V, Negi KS, Rawat R, Mehta PS. 2017. In-situ conservation and

Traditional Uses of Medicinal Plants : A Case Study of Home Gardens in Nainital , Uttarakhand. 21(1).

(37)

Vutakuri N, Somara S. 2018. Natural and herbal medicine for breast cancer using Elettaria cardamomum (L.) Maton. Ijhm, 6(2), 91–96.

Walujo EB. 2008. Research Ethnobotany in Indonesia and the Future Perspectives. Biodiversitas, Journal of Biological Diversity, 9(1), 59–63. https://doi.org/10.13057/biodiv/d090114

Yulia C, Fachri, Ramadanil. 2017. Studi etnobotani tumbuhan obat Suku “Topo Uma” di Desa Oo Parese Kecamatan Kulawi Selatan Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah. Jurnal Biocelebes, 12(2), 2580–5991. https:// bestjournal.untad.ac.id/index.php/Biocelebes/article/view/9309

(38)

Barangan: Pangan Potensial Masyarakat Hulu

Nanang Herdiana

3

Pendahuluan

Barangan, begitulah masyarakat Suku Semende di Sumatera Selatan menyebut Castanopsis argentea (Blume) A.DC, salah satu pohon lokal yang tumbuh di hutan pegunungan. Masyarakat di beberapa daerah lain, seperti di Riau, Bengkulu, Sumatera Utara dan Bangka juga mengenal tumbuhan ini dengan nama Barangan, sementara masyarakat di Jawa menyebutnya dengan nama Saninten atau Rambutan Hutan, mungkin karena daun dan buahnya mirip rambutan. Barangan merupakan tumbuhan asli Indonesia yang hidup di Sumatera dan Jawa (Heyne, 1987; Whitmore dan Tantra, 1986), pada daerah dengan ketinggian mulai dari 150–1.400 m dpl, bahkan bisa juga mencapai 1.750 m dpl (Cahyo, 2018). Dengan ketinggian tempat tumbuhnya yang demikian, barangan merupakan tanaman lokal penting di daerah hulu yang merupakan daerah pegunungan dan perbukitan (Rinandion dan Hariri, 2018).

Masyarakat lokal, terutama di Sumatera, mengenal tumbuhan ini tidak hanya sebagai penghasil kayu dengan kualitas yang baik, tetapi juga memanfaatkan buahnya sebagai penganan lokal yang telah dikenal sejak lama secara turun-temurun. Mereka menyebutnya sebagai kacang barangan. Jika kita berkunjung ke masyarakat Semende pada awal tahun, mungkin kita bisa menjumpai penganan ini sebagai suguhan camilan yang telah di rebus dan menjadi teman minum kopi semende yang sudah terkenal. Kacang barangan memiliki rasa manis, gurih dan teksturnya empuk, sebenarnya rasanya mirip biji kluwih yang lebih dikenal luas di masyarakat. Tanpa disadari bahwa barangan sejak lama sudah menjadi salah satu Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar hutan.

(39)

Pemanfaatan barangan oleh masyarakat lokal memang masih sangat terbatas, mereka hanya mengumpulkan buah matang yang jatuh di bawah tajuk pohon yang tumbuh liar di hutan, di sekitar pemukiman atau kebun. Buah yang terkumpul bisa jadi hanya sebagai sisa binatang liar. Hasilnya pun hanya sekadar untuk konsumsi sendiri atau dijual terbatas di sekitar tempat tinggal mereka. Upaya pengolahan kacang barangan juga belum ada, hanya sekadar direbus atau digosngseng. Dengan menjual kacang barangan dalam bentuk yang masih mentah dan terbatas, tentu harganya pun masih murah, biasanya hanya sekitar Rp2.000–5.000/kaleng bekas susu kental manis.

Kondisi di atas ternyata sangat berbanding terbalik dengan chestnut atau kacang kastanya yang tumbuh dan dikembangkan di Eropa, Amerika atau negara Asia lainnya seperti Jepang dan Cina. Jika barangan termasuk marga Castanopsis, maka chestnut atau kacang kastanya masuk ke dalam marga Castanea, tetapi keduanya termasuk ke dalam suku Fagaceae. Kastanya telah dikenal sejak lama sebagai bahan makanan penting di Eropa dan Asia. Penyebaran dan budidaya chesnut yang terbesar adalah kawasan Eropa diikuti Cina, Jepang dan Amerika Latin (Castanea sativa di Eropa; Castanea dentata di Amerika; Castanea mollissima di Asia Timur dan Castanea crenata di Jepang). Tingginya produksi chestnut sebagai hasil budidaya intensif telah menjadikannya sebagai komoditas ekspor penting. Saat ini China telah berhasil menjadi negara eksportir kastanye dunia yang paling kontinu. Pada tahun 2007, China mampu mengekspor chestnut sebanyak 34.000 ton, senilai $ 73 juta atau Rp. 1,108 Triliun (Cahyo, 2018). Nilai produksi sebesar itu tentunya tidak berasal dari produksi hutan alam, tetapi dari hutan tanaman dengan luasan dan produkstivitas yang tinggi. Selain nilai produksi yang tinggi, aneka olahan dan produk turunan yang dihasilkan juga sangat bervariasi. Peningkatan nilai tambah produk sangat intensif dilakukan melalui usaha produktif yang turut menggerakan perekonomian masyarakat.

(40)

Pohon, bunga, buah dan biji barangan Gambar 3.1

Meskipun barangan (Castanopsis) tidak sama dengan chesnut, tetapi sejak masa penjajahan Belanda telah memanfaatkan dan memasukan barangan (saninten) sebagai sebagai sumber daya nabati yang ada di Jawa (Cahyo, 2018). Oleh karena itu, potensi barangan sebagai bahan pangan cukup potensial dan menjanjikan. Ke depan, barangan atau saninten sebagai kerabat

chestnut bisa turut menjadi komoditas ekspor penting yang bernilai ekonomi

tinggi. Tidak menutup kemungkinan jika barangan dikelola dengan baik akan mendatangkan manfaat yang tinggi dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat sekitar hutan.

(41)

Realitas dan Harapan

Sejak dulu masyarakat lokal, baik di Jawa maupun di Sumatera, telah mengenal pohon barangan atau saninten sebagai penghasil kayu dengan kualitas yang baik dan penggunaan yang cukup luas. Kayu barangan memiliki kelas kuat II dan kelas awet III (Martawijaya et al., 1989), sehingga kayunya banyak digunakan sebagai bahan baku kontruksi bangunan, jembatan dan bahkan digunakan sebagai bahan baku perabot rumah tangga (furnitur). Kayu Barangan juga termasuk ke dalam jenis kayu yang baik untuk digunakan sebagai bahan pembuatan alat musik dan kayu energi, baik untuk kayu bakar maupun arang (Rinadio dan Hariri, 2018). Dengan kondisi tersebut, maka ekploitasi kayu, baik legal maupun pembalakan liar, telah dilakukan secara intensif sejak dulu. Selain itu adanya konversi lahan hutan yang merupakan habitat alaminya menjadi penggunaan lain, seperti perkebunan karet, sawit atau kopi di Sumatera dan menjadi pemukiman di Jawa telah mempercepat penurunan jumlah pohon di habitat aslinya.

Sebenarnya, permasalahan penurunan populasi barangan tidak hanya muncul akibat ekploitasi atau kerusakan habitat alaminya saja, tetapi juga disebabkan oleh rendahnya kemampuan regenerasi alami barangan itu sendiri (Efendi, 2018). Di lapangan akan sangat jarang bisa menemukan anakan atau tingkat pertumbuhan lainnya secara alami di sekitar pohon induk. Keterbatasan regenerasi barangan terkait dengan musim buah dan perkecambahan benihnya. Musim buah barangan umumnya tidak setiap tahun, rata-rata terjadi setiap dua tahun sekali. Musim buah barangan biasanya di awal tahun, mulai bulai januari sampai april. Buah barangan juga bisa dimakan atau edible, tidak hanya dikonsumsi oleh manusia, tetapi menjadi pakan penting bagi berbagai satwa liar di hutan, mulai babi, tupai, tikus, musang, monyet dan binatang pemakan buah lainnya. Dengan kondisi seperti itu maka benih barangan yang tertinggal dan berpotensi tumbuh menjadi anakan di lantai hutan akan sangat berkurang. Benih berangan juga memiliki karakter rekalsitran, cepat rusak, sehingga tidak tahan lama jika disimpan. Daya berkecambah benih barangan segar hanya sekitar 75% dan akan cepat berkurang dengan cepat jika tidak langsung dikecambahkan (Rinandio dan Hariri, 2018; Cahyo, 2018).

(42)

Dengan kondisi seperti itu, tidak mengherankan jika populasi alami pohon barangan saat ini menjadi sulit dijumpai di lapangan. Di bebeberapa lokasi, pohon barangan atau saninten ini hanya bisa dijumpai di areal konservasi atau taman nasional, seperti di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Gunung Halimun, lereng Taman Nasional Gunung Ciremai dan Kebun Raya Cibodas. Merujuk pada salah satu hasil penelitian yang dilakukan oleh Heriyanto et al., (2007), bahwa jumlah populasi barangan atau saninten pada lokasi sebaran alaminya hanya mencapai 18 individu/ha. Oleh karena itu, berdasarkan Permen LHK Nomor P.20/MENLHK/SETJENKUM.1/6/2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi, menegaskan dan memasukan barangan atau saninten sebagai tumbuhan yang dilindungi. Sementara berdasarkan IUCN Red List of Thretened Species, barangan masuk ke dalam status genting atau endangered, artinya memiliki risiko kepunahan di alam liar yang tinggi pada waktu yg akan datang (Efendi, 2018).

Di Sumatera sendiri, khususnya di daerah hulu seperti di Semende Muara Enim sebagai salah satu daerah sebaran alaminya, saat ini pohon barangan bisa dijumpai di hutan atau kebun di sekitar pemukiman masyarakat, hutan sekunder dan semak belukar yang belum dibuka, di batas kebun masyarakat atau pinggir sungai. Pohon barangan yang terutama masih tumbuh di sekitar pemukiman atau kebun tersebut sebenarnya merupakan sisa pohon yang tidak ditebang oleh masyarakat, karena kurang bagus jika dijadikan sebagai penghasil kayu, biasanya berbatang bengkok dan pendek. Selain itu, masyarakat juga masih berharap untuk bisa panen buah barangan.

Dari sisi produksi buah, tentunya dengan semakin berkurangnya jumlah dan sebaran populasi barangan alam akan berimplikasi langsung terhadap potensi buah yang dapat dihasilkan, baik untuk kebutuhan regenerasi maupun konsumsi. Di sisi lain, seperti telah diungkapkan di atas, pemanfaatan buah barangan oleh masyarakan lokal di daerah juga masih sangat terbatas, sederhana dan belum ada upaya pengolahan. Hal tersebut tentunya belum bisa menjadikan barangan sebagai komoditas ekonomi yang diharapkan turut mampu memberikan tambahan pendapatan dalam angka peningkatan kesejahteraan masyarakat.

(43)

Keterbatasan produksi bahan baku, pemasaran dan tata niaga mapun upaya peningkatan nilai tambah produk menjadi kendala yang harus dipecahkan bersama. Dibutuhkan upaya konprehensif dalam rangka pemangembangan dan pemanfaatan barangan sebagai komoditas ekologi dan ekonomi. Sebagai komoditas ekologi, kondisi ini tidak lepas dari status barangan sebagai tumbuhan dilindungi dengan potensi populasi dan sebaran alaminya yang semakin menurun. Di sisi lain, potensi pemanfaatan kayu dan buah barangan yang cukup potensial menjadikannya sebagai komoditas ekonomi menjanjikan.

Dalam upaya pengembangan barangan, terdapat dua kegiatan penting yang harus dikerjakan bersamaan dan berkesinambungan, yaitu kegiatan di hulu dan di hilir. Kegiatan di hulu diarahkan sebagai upaya penyediaan bahan baku buah barangan, sedangkan kegiatan di hilir lebih diarahkan kepada upaya peningkatan nilai tambah barangan dan pemasarannya. Upaya komesrsialisasi kacang barangan tidak akan berhasil jika pasokan bahan baku tidak tersedia dan kontinu. Begitupula dengan upaya peningkatan nilai tambah yang tidak hanya diarahkan sebagai upaya penambahan variasi dan nilai ekonomi produk, tetapi juga merupakan upaya pemberdayaan masyarakat melalui usaha produktif.

Upaya teknis yang dilakukan dalam rangka menjamin pasokan dan meningkatkan produksi barangan juga tidak lepas sebagai upaya konservasi barangan sebagai tumbuhan langka Indonesia. Kegiatan rehabilitasi populasi alami barangan bisa dilakukan melalui pengayaan atau re-stocking di hutan alam (areal lindung atau areal konservasi). Sementara penanaman barangan di areal budidaya masyarakat bisa diposisikan sebagai upaya untuk mengurangi tekanan terhadap barangan alam. Kegiatan penanaman di masyarakat bisa dilakukan sebagai budidaya intensif, menggunakan bahan perbanyakan berkualitas yang dikombinasikan dengan tindakan manipulasi lingkungan yang tepat, sehingga diharapkan akan meningkatkan produktivitas tanaman. Pola campuran atau agroforestri bisa menjadi salah satu pilhan yang logis bagi masyarakat. Kombinasi dan diversifikasi komoditas yang dibudidayakan, baik tanaman berkayu yang tahunan (barangan) termasuk berbagai jenis tanaman semusim, diharapkan akan mampu memberikan keragaman hasil

(44)

dan pendapatan, periode panen berjenjang, padat tenaga kerja dan ramah lingkungan (Huxley, 1999; Sahwalita et al., 2011). Pola tanaman ini juga akan lebih mudah diterima oleh masyarakat lokal, karena memanfaatkan pengetahuan, teknologi dan sesuai dengan budaya masyarakat setempat (Nair, 1987).

Kegiatan budidaya akan berkaitan dengan ketersediaan bahan tanaman dan materi genetik. Penurunan populasi alami barangan yang telah terjadi di berbagai tempat dikhawatirkan akan mempersempit genetik base jenis dimaksud. Dari sisi konservasi genetik dan kepentingan budidaya intensif tentu saja akan menjadi kendala yang penting. Oleh sebab itu dibutuhkan upaya inventarisasi dan koleksi materi gentik sebagai langkah preservasi genetik dan bahan baku kegiatan pemuliaan. Secara teknis, jika hasil evaluasi genetik di sutu sebaran alami, maka bisa langsung dilakukan infusi materi genetik dari lokasi sebran alami lain yang diketahui atau dianggap berbeda. Ke depan, dengan adanya proses kawin silang, maka diharapkan akan terjadi peningkatan genetik base barangan di suatu lokasi.

Upaya budidaya barangan juga terkait dengan kualitas materi genetik yang telah dikoleksi di suatu lokasi. Kegiatan dalam penyediaan materi perbanyakan tanaman seyogyanya diawali dengan valuasi dan seleksi materi genetik unggul. Evaluasi parameter atau karakter fenotipe, seperti karakter pertumbuhan tanaman, luas tajuk, produktifitas buah, kualitas buah, ketahanan hama dan penyakit merupakan sebagian dari karakter seleksi yang dilakukan. Upaya selanjutnya berupa penyediaan bahan perbanyakan yang diperoleh dari pohon induk lokal unggul pada sumber benih yang telah ditetapkan, bila perlu berasal dari kegiatan pemuliaan. Pada praktiknya, kegiatan penyediaan bahan perbanyakan saninten yang dilakukan selama ini masih konvensional, dengan mengecambahkan benihnya langsung atau stek tunas (Fitria, 2015). Metoda ini terkadang akan terkendala dengan ketersediaan benih yang dihasilkan oleh pohon induk unggul. Upaya lain yang cukup potensial untuk diterapkan adalah dengan cara in vitro atau kultur jaringan (Surya et al., 2017).

Dalam jangka pendek, upaya penghentian atau moratorium ekploitasi kayu barangan akan bisa menahan penurunan produksi buah dan diharapkan juga akan membantu upaya regenerasi alaminya. Di saat produksi buah

Figure

Gambar 9.3  Zeuzera sp. (tanda panah)

Gambar 9.3

Zeuzera sp. (tanda panah) p.114
Gambar 10.2a Gajah sedang

Gambar 10.2a

Gajah sedang p.125
Gambar 15.1  WII)

Gambar 15.1

WII) p.170
Diagram alir yang menggambarkan relasi materi OPL dengan Gambar 15.4

Diagram alir

yang menggambarkan relasi materi OPL dengan Gambar 15.4 p.177

References

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in