BAB III
TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada tanggal 25 April 2011
1. Identitas Pasien
Tahap pengkajian dilakukan pada tanggal 25 april 2011 pada Ny. Mk.
Klien berumur 81 tahun, perempuan, dengan alamat Ngalian, Semarang.
Klien bersuku bangsa jawa dan beragama Islam. Klien adalah seorang
janda, pada saat ini klien sudah tidak bekerja. Klien masuk ke RSUD
Tugurejo pada tanggal 23 April 2011, No. Register 254970 dengan
diagosa medis stroke hemoragik. Selama dirawat yang menanggung
biaya perawatan klien adalah Tn. Ng, 55 tahun, pekerjaan swasta. Tn.Ng
adalah anak dari Ny. Mk.
2. Riwayat Kesehatan Klien
a. Keluhan utama
Saat dikaji klien tidak bisa mengatakan kata-kata dengan jelas, klien
mengalami penurunan kesadaran, klien dalam keadaan apatis dengan
pengukuran
tingkat
kesadaran
Glasgow
Coma
Scale
(GCS)
E
3M
5V
afasia.
b. Riwayat penyakit sekarang
Keluarga mengatakan dua hari yang lalu (21 April 2011) sekitar pukul
14.00 WIB, saat mengikuti kegiatan pengajian di mushola, klien
duduk berdampingan dengan jamaah lain dan tiba-tiba jatuh tidak
sadarkan diri, tidak ada muntah, tidak kejang, kemudian oleh keluarga
dibawa ke IGD RSUD Tugurejo, TD klien saat masuk
215/110
mmHg dan dianjurkan untuk rawat inap. Klien sudah mendapat terapi
dari dokter dan sudah dilakukan CT Scan, hasilnya terjadi perdarahan
intra serebral.
c. Riwayat perawatan dan kesehatan dahulu
Keluarga mengatakan bahwa klien menderita hipertensi sudah lama
kira-kira 5 tahun, namun jarang dikontrolkan karena klien menolak
untuk periksa. Setiap kali sakit klien hanya minum obat yang dibeli di
warung, obat yang biasa dibeli adalah obat sakit kepala. Klien akan
periksa ke dokter jika kondisi sudah lemah dan tidak berdaya.
Keluarga mengatakan klien belum pernah dirawat di rumah sakit
sebelumnya karena penyakit hipertensi.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Keluarga mengatakan tidak ada anggota keluarga lain yang menderita
penyakit stroke, hipertensi, dan tidak ada riwayat diabetes melitus
ataupun penyakit jantung.
3. Pengkajian Pola Fungsional (Data Fokus)
a. Pola nutrisi dan metabolik
Keluarga mengatakan sebelum sakit klien makan 3 x sehari dengan
nasi, lauk, sayur, dengan porsi sedang habis. Dengan mengurangi
garam karena klien menderita hipertensi, garam yang digunakan
seperempat sampai setengah sendok teh, klien juga tidak makan
makanan seperti daging kambing, sayuran dari bayam, daun singkong,
melinjo. Klien lebih sering makan tahu atau tempe sebagai lauk, klien
sesekali makan daging ayam. Kurang lebih 3 hari sebelum dirawat
klien tidak mau makan karena klien tidak nafsu makan, klien ingin
semua anak-anaknya berkumpul. Selama dirawat klien mendapat diit
cair (susu) 200 cc/ 4 jam, karena keluarga menolak dipasang
Nasogastrik Tube (NGT) maka keluarga hanya menyuapi klien 2-3
sendok makan susu. Pada hari ke 3 perawatan, setelah mendapat
penjelasan dari dokter keluarga klien menerima untuk dilakukan
tindakan pemasangan NGT karena kondisi klien mulai melemah.
Klien mengalami gangguan menelan, hal itu bisa diketahui karena
setiap kali klien disuapi susu cair atau air putih selalu keluar lagi. Dan
pada saat dilakukan tindakan pemasangan NGT pada klien mengalami
kesulitan menelan sehingga NGT sulit masuk, namun akhirnya NGT
bisa masuk. Susu masuk 100 cc pada sore hari.
Sebelum sakit klien minum 4-5 gelas sehari, pagi teh manis, siang dan
sore hari air putih biasa. Klien tidak mengkonsumsi kopi. Selama
dirawat klien sehari minum tidak menentu. Keluarga menyuapi 2-3
sendok makan air putih tiap kali minum. Klien terpasang infus Ringer
Lactat (RL) 20 tetes permenit, dalam sehari klien menghabiskan 3
flabot infus (1500 cc) dan Manitol 4 x 125 cc perhari.
b. Pola eliminasi
Keluarga mengatakan sebelum sakit klien biasa BAB 2 hari sekali
dengan konsistensi sediki padat, warna kuning, bau khas. Selama
dirawat klien belum BAB, klien terpasang diapers.
Sebelum sakit klien BAK 3-4 kali sehari dengan warna kuning, bau
khas, jernih. Selama dirawat klien terpasang DC kateter. Dalam satu
hari keluarga mengaku membuang urin tampung 2 kali kurang lebih
sebanyak 500 cc tiap kali membuang urin dengan warna kuning agak
keruh.
c. Pola aktivitas dan latihan
Keluarga mengatakan sebelum sakit klien mampu mandi, makan,
BAB, dan BAK sendiri tanpa bantuan orang lain. Selama dirawat,
karena klien mengalami hemipharese pada separuh bagian tubuh yang
kiri dan adanya penurunan kesadaran, semua kegiatan baik mandi,
BAB, BAK, makan dibantu oleh keluarga atau perawat.
d. Pola istirahat tidur
Keluarga mengatakan klien sering bangun tengah malam dan sulit
untuk tidur lagi. Di siang hari klien bisa tidur 1-2 jam. Selama dirawat
klien terlihat tidur terus dan mengalami penurunan kesadaran.
e. Pola persepsi sensori dan kognitif
Keluarga mengatakan sebelum sakit klien tidak mengalami gangguan
pendengaran,
klien
tidak
pikun,
klien
mengalami
penurunan
penglihatan. Selama dirawat klien mengalami penurunan kesadaran
GCS 8 (E
3M
5V
afasia)
4. Pemeriksaan Fisik
a. Pengkajian primer
1) Circulation
Nadi 78 x/menit, suhu 38,2
0C, Tekanan darah 170/110 mmHg.
Denyut nadi dangkal dan kuat, kapilery refil < 3 detik, tidak ada
sianosis.
2) Airway
Terdapat lendir pada jalan napas, terdengar bunyi snoring.
3) Breathing
Sesak nafas, nafas cepat, RR: 44 x/menit, nafas cuping hidung,
terpasang O
2kanul 3 liter/menit.
4) Dissability
Tingkat kesadaran klien apatis (klien akan mudah bangun bila
dirangsang nyeri dan akan mudah tidur lagi), klien gelisah, GCS
E
3M
5V
afasia.b. Pengkajian sekunder
1) Keadaan umum
: lemah
2) Tingkat kesadaran : apatis, klien gelisah
3) Tanda-tanda vital : TD: 170/110 mmHg, nadi: 78 x/menit,
suhu: 38,2
0C, RR: 44 x/menit
5) Kepala
: bentuk mesochepal, tidak terdapat luka
Rambut
: lurus, mulai memutih, kotor
Mata
: tidak anemis, isokor 2 mm kanan/kiri,
reflek cahaya positif kanan/kiri
Hidung
: kotor, ada sekret, nafas cuping hidung,
terpasang O
2kanul 3 liter/menit
Telinga
: kemampuan pendengaran menurun,
terdapat serumen, tidak menggunakan alat
bantu dengar
Mulut
: mukosa kering, warna pucat, bau mulut,
gigi kotor
Leher dan tenggorok
: tidak ada pembesaran kelenjar
limfe, tidak terdapat distensi Jugularis Vena
Presure (JVP), tidak ada batuk, adanya
lendir.
6) Paru-paru
I
: dada simetris kanan/kiri, retraksi dada kanan/kiri sama
Pa
: taktil vremitus kanan dan kiri teraba sama
Pe
: sonor seluruh lapang paru
A
: snoring
7) Jantung
I
: ictus cordis tidak tampak
Pe
: pekak
A
: bunyi jantung I dan II terdengar tunggal
8) Abdomen
I
: supel, datar
A
: bising usus positif
Pe
: tympani
Pa
: tidak ada pembesaran organ, tidak ada nyeri tekan
9) Genital
Memakai diapers, terpasang DC kateter hari ke 3, kotor.
10) Ekstremitas
Klien mengalami hemipharese pada separuh anggota badan
sebelah kiri, kapilery refil < 3 detik, nilai kekuatan otot tangan
kanan 3, tangan kiri 0, kaki kanan 3, kaki kiri 0. Kuku bersih,
turgor cukup, terdapat decubitus di bawah lutut kiri dengan
diameter 2 cm berbentuk bula, bulat tidak rata. Plebitis pada
tangan kiri yang terpasang infus.
11) Kulit
Warna sawo matang, kering, turgor kulit cukup, kulit kotor,
tidak terdapat edema, terdapat decubitus di bawah lutut kiri
dengan diameter 2 cm berbentuk bula, bulat tidak rata.
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium tanggal 23 April 2011
Hematologi
hasil
nilai normal
satuan
Lekosit
9,1
3,6 – 11
10
3/uL
Eritrosit
5,0
3,8 – 5,2
10
6/uL
Haemoglobin
10,7
11,7 – 15,5
g/dl
Hematokrit
33,2
35 – 42
%
Trombosit
177
150 – 440
10
3/uL
Diff count
Eosinofil
0,0
2 – 4
%
Basofil
0,1
0 – 1
%
Neutrofil
86,1
50 – 70
%
Limfosit
6,5
25 – 40
%
Monosit
7,3
2 – 8
%
Kimia klinik
Gula darah sewaktu
136
<125
mg/dl
Asam urat
4,0
2,4 – 5,7
mg/dl
Ureum
52,0
10,0 – 50,0
mg/dl
Creatinin
0,80
0,60 – 0,90
mg/dl
SGOT
25
0 – 35
u/L
SGPT
13
0 – 35
u/L
Kalium
3,6
3,5 – 5,0
mmol/L
Natrium
137
135 – 147
mmol/ L
b. Radiologi tanggal 24 April 2011
Hasil pemeriksaan CT Scan tanpa kontras
Kesan: perdarahan intra serebral pada lobus temporo periero occipital
dextra volume perdarahan kurang lebih 100,82 cc
c. Therapy tanggal 25 April 2011
Parenteral: Infus ringer lactat 20 tetes/menit selang seling Manitol 125
cc/6 jam / IV
Injeksi
: Piracetam 3 gr / 6 jam / IV
Citicolin 500 mg / 12 jam / IV
Asam Tranexamat 1 gr / 8 jam / IV
Oral
: Isosorbit Dinitrate 5 mg / 8 jam / oral
Paraetamol 500 mg / 8 jam / oral
B. Pathways Kasus
Penyakit yang mendasari stroke ( Hipertensi, usia lanjut )
Kepekatan darah meningkat elastisitas pembuluh darah
Pembentukan thrombus
Sirkulasi darah terhambat
Obstruksi thrombus di otak kerja jantung meningkat
aneurisma
pecahnya pembuluh darah otak
Perdarahan serebral
Perdarahan intracranial Defisit neurologi pada korteks serebri Defisit neurologi korteks parietalis
Darah merembes ke dalam defisit neurologis korteks frontalis kegiatan pemrosesan dan
parenkim otak integrasi informasi sensorik
kerusakan/kelemahan primer
peningkatan TIK Gerak motorik primer gangguan sensorik kontralateral
penurunan kesadaran Hemiplegi kontralateral
Kelemahan pada Nervus Kranialis
Penurunan reflek mengunyah dan menelan penurunan reflek batuk dan menelan
gangguan area bicara Broca Akumulasi sekret
Afasia Global
C. Analisa Data
No Data (DS dan DO) Masalah Etiologi
1. DS:
-DO: klien gelisah, penurunan kesadaran, GCS= E3M5Vafasia, hasil
rongtent CT Scan tanpa kontras
Gangguan perfusi jaringan otak Perdarahan intraserebral Gangguan perfusi
jaringan otak Gangguan mobilitas
fisik
Bersihan jalan napas tidak efektif
Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
Kerusakan komunikasi verbal
2.
3.
4.
5.
pada lobus temporo parieto occipital dextra dengan volume perdarahan kurang lebih 100,82 cc, klien terlihat lemah. Pupil isokor 2 mm / 2 mm, TD= 170/110 mmhg, N= 78 x/menit, S= 38,20 C, RR= 44 x/menit, capilery refill < 3 detik. DS:
-DO: RR= 44 x/menit, terdapat snoring, napas cuping hidung,
hemipharese separuh bagian tubuh
kiri, penurunan kesadaran dengan GCS= E3 M5Vafasia, terdapat lendir
di tenggorokan, hasil rongtent CT Scan tanpa kontras terdapat perdarahan intraserebral pada lobus temporo parieto occipital dextra dengan volume perdarahan kurang lebih 100,82 cc. Terpasang O2kanul
3 l/menit. Ds :
-Do: klien tidak mau makan dan minum, penurunan kesadaran, BB :38 kg , TB : 148 cm, Hemoglobin:10,7 g/dl, Albumin (tidak tercantum pada hasil laboratorium tanggal 23 April 2011), diit cair 200 cc/4 jam, GCS= E3 M5 Vafasia, Terpasang NGT,
hemipharese pada separuh bagian
tubuh sebelah kiri, hasil rongtent CT Scan tanpa kontras terdapat perdarahan intraserebral pada lobus temporo parieto occipital dextra dengan volume perdarahan kurang lebih 100,82 cc
Ds :
-Do : klien terlihat lemah,
hemipharese separuh bagian tubuh
sebelah kiri, penurunan kesadaran dengan GCS E3M5Vafasia, ADL
dibantu, nilai kekuatan otot tangan kanan 3, tangan kiri 0, kaki kanan 3, kaki kiri 0
DS:-DO: Klien mengalami gangguan
Bersihan jalan napas tidak efektif Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Gangguan mobilitas fisik Kerusakan komunikasi Penumpukan sekret sekunder adanya penurunan reflek batuk dan menelan
Kelemahan otot mengunyah dan menelan Hemipharese Kerusakan sirkulasi serebral
komunikasi verbal. Klien mengalami penurunan kesadaran dengan GCS E3 M5 VAfasia, hasil
rongtent CT Scan tanpa kontras terdapat perdarahan intraserebral pada lobus temporo parieto occipital dextra dengan volume perdarahan kurang lebih 100,82 cc
verbal
D. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan perfusi jaringan otak berhubungan dengan perdarahan
intraserebral.
2. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan adanya
penumpukan sekret sekunder adanya penurunan reflek batuk dan
menelan.
3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
adanya kelemahan otot mengunyah dan menelan.
4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hemipharese.
5. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan kerusakan sirkulasi
serebral.
E. Intervensi
No Dx
Waktu Tujuan dan KH Intervensi Rasional
1. 25/4/11 16.00 WIB Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam perfusi jaringan otak dapat tercapai optimal dengan KH :
1. Klien tidak gelisah 2. Tidak ada keluhan
seperti pusing mual dan muntah 3. GCS= E4V5M6 4. Pupil isokor 5. Reflek cahaya positif 6. TTV normal 1. Observasi TTV dan kelainan tekanan intra kranial
2. Berikan posisi kepala lebih tinggi 15-30 derajat dengan letak jantung
3. Anjurkan bed rest total
1. Mengetahui tiap perubahan pada klien secara dini dan untuk penetapan tindakan yang tepat. 2. Mengurangi tekanan
darah arteri dengan meningkatkan drainase vena dan memperbaiki sirkulasi cerebral. 3. Batuk dan mengejan
meningkatkan tekanan intrakrainal dan potensial terjadi
4. Kolaborasi dengan dokter pemberian obat
neuroprotector:Piraceta
m 3 gr/6 jam/IV
5. Kolaborasi dengan dokter pemberian obat
osmotic diuretic: Manitol 125 cc/6 jam/IV 6. Kolaborasi dengan dokter pemberian Citicolin 500 mg/12 jam/ IV 7. Kolaborasi dengan dokter pemberian Asam Tranexamat 1 gr/ 8 jam/IV 4. Memproteksi otak dari kerusakan-kerusakan yang lainnya. 5. Manitol berefek diuresis, menarik oedem otak dan perdarahan pada otak, berefek urin banyak dan TD turun.
6. Mengurangi iskemik dan infark pada otak.
7. Asam tranexamat berfungsi sebagai anti perdarahan 2. 25/4/11 16.00 WIB Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam jalan nafas efektif dengan KH: 1. Klien tidak sesak 2. Tidak terdapat bunyi nafas tambahan. 3. Tidak terdapat sekret 4. RR teratur
1. Observasi pola dan frekuensi nafas
2. Ubah posisi tiap 2 jam
3. Lakukan fisioterapi dada sesuai KU pasien
4. lakukan suction bila perlu
5. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian vasodilator: Isosorbit Dinitrat 5 mg /8 1. Untuk mengetahui ada tidaknya ketidakefektifan jalan nafas . 2. Perubahan posisi dapat melepaskan sekret dari saluran nafas 3. Agar dapat melepaskan sekret dan mengembangkan paru-paru 4. Suction dilakukan untuk mengurangi sekret dan memperlancar saluran napas 5. Untuk mengurangi O2konsumsion
jam/oral
6. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian 02adekuat 6. Bantu oksigenasi adekuat 3. 25/4/11 16.00 WIB Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam tidak terjadi gangguan nutrisi dengan KH:
1. BB dipertahankan atau ditingkatkan 2. Hb dan Albumin
dalam batas normal
1. Pasang NGT
2. Pasang infus, monitor intake cairan
3. kolaborasi pemberian diit cair 6x200 cc tiap hari 1. Membantu intake nutrisi adekuat. 2. Menjaga intake nutrisi adekuat. 3. Mempertahankan intake nutrisi adekuat. 4. 25/4/11 16.00 WIB Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuan dengan KH: 1. tidak terjadi kontraktur sendi 2. bertambahnya kekuatan otot 3. menujukkan tindakan kenaikan mobilitas
1. Kaji kemampuan secara fungsional/luasnya kerusakan awal dengan cara teratur
2. Lakukan gerak pasif pada ekstremitas yang sakit
3. ajarkan pada keluarga untuk melakukan alih baring tiap dua jam pada klien
4. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien 1. Mengidentifikasi kekuatan/kelemahan dan dapat memberikan informasi mengenai pemulihan
2. Otot volunter akan kehilangan tonus dan kekuatannya bila tidak digerakkan. 3. Supaya tidak terjadi
decubitus, alih baring meningkatkan
sirkulasi darah 4. Mempertahankan
kekuatan tonus otot 5. 25/4/11 16.00 WIB Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam kerusakan sirkulasi serebral berkurang dengan KH: 1. Tidak terjadi perdarahan lebih lanjut pada otak 2. Tekanan darah
dalam batas normal 3. Tidak terjadi
muntah, kejang
1. Kaji tipe atau derajat disfungsi 2. Monitor tanda-tanda vital 1. Membantu menentukan daerah dan derajat kerusakan serebral yang terjadi dan kesulitan pasien dalam beberapa atau seluruh tahap proses komunikasi
2. TD harus selalu di monitor, jika TD tinggi diatas normal
3. Berikan posisi kepala elevasi 15-300
4. Kolaborasi dengan dokter pemberian obat
neuroprotektor:
piracetam 3 gr/6 jam/IV 5. Kolaborasi dengan
dokter pemberian Asam Tranexamat 1 gr/8 jam/IV
perdarahan ulang 3. Mengurangi tekanan
darah arteri dengan meningkatkan drainase vena dan memperbaiki sirkulasi cerebral. 4. Memproteksi otak dari kerusakan-kerusakan yang lainnya. 5. Asam tranexamat berfungsi sebagai anti perdarahan
F. Implementasi
No DxWaktu Tindakan Respon Klien Paraf
1. 2,5 2. 2. 2. 1,5 25/4/11 15.00 15.00 15.00 15.05 15.10 15.15 1. Memberikan 02 kanul 3 l/menit 2. Mengukur ttv
3. Mengkaji pola dan frekuensi pernapasan
4. Menganjurkan dan
menjelaskan untuk dilakukan suction
5. Menjaga kepatenan jalan napas
6. Memberikan posisi kepala lebih tinggi 300
S:
O: RR : 44x/menit, klien terlihat sesek, menggunakan otot bantu nafas, kepala ekstensi
S: -O : TD : 170 / 110 mgHg N: 78x / menit RR: 44x/menit S : 38,20celcius S:-O: RR: 44 x/menit, terpasang O2
kanul 3 l/menit, nafas dangkal dan dalam. Terdengar snoring S: Keluarga mengatakan menolak
untuk dilakukan suction, keluarga mengatakan sudah ikhlas perihal kondisi klien O: RR: 38 x/menit, nafas cepat dan
dalam, nafas tidak teratur, terdengar snoring
S:-O: Terpasang O2 kanul 3 l/menit,
kepala ekstensi
4. 4. 4. 3. 3. 2. 2,5 2,5 1,5 15.20 15.30 15.45 16.00 17.15 17.30 18.00 18.30 20.00
7. Mengkaji nilai kekuatan otot
8. Menganjurkan klien untuk bed rest total
9. Menganjurkan alih baring pada keluarga dan mendemonstrasikan cara alih baring
10. Mengajarkan keluarga untuk melatih gerak pasif pada extremitas yang tidak sakit dan yang sakit
11. Memasang infuse
12. Memasang NGT
13. Memberikan Obat oral isosorbit dinitrat 5 mg dan paracetamol 500 mg
14. Memberikan injeksi asam tranexamat 1 gr/IV
15. Memberikan injeksi citicoline 500 mg/IV
arteri, mengurangi perdarahan intraserebral
S:-O: Kekuatan otot: tangan kiri 0, tangan kanan 3, kaki kiri 0, kaki kanan 3
S:-O: Klien terlihat tidur
S:-O: Keluarga mengerti tiap 2 jam dilakukan alih baring
S:-O:Klien tenang , dilakukan latihan dengan menggerakkan exrimitas atas bawah
S:-O: Klien sedikit gelisah, tangan kiri plebitis, infus dipindah ke tangan kanan
S: Klien sedikit gelisah
O: NGT masuk , pemberian diet cair ½ gelas (75 cc).
S:-O: Obat masuk, obat oral di tumbuk hingga lembut dan di campur sedikit air dimasukkan per sonde. Suhu belum turun, klien masih panas S:-O: Klien tenang S:-O: Klien tenang 2. 4. 26/4/11 11.00 11.15
1. Berkolaborasi dengan petugas fisioterapi melakukan
fisioterapi dada
2. Berkolaborasi dengan petugas fisioterapi melakukan latihan
S:-O: Klien mengeluarkan air liur kurang lebih 5cc, secret tidak keluar maksimal. RR: 30 x/menit
1,5 2. 2. 2. 1,5 20.00 20.10 20.10 20.15 22.00
gerak pasif pada ektremitas untuk mengurangi kontraktur sendi
3. Mengukur TTV
4. Menjaga kepatenan jalan nafas
5. Menjaga kepatenan 02
6. Mengkaji frekuensi pernapasan, auskultasi
7. Memberikan injeksi piracetam 3 gr/IV
pada ekstremitas sebelah kiri dan kanan. Terdapat dekubitus dibawah lutut kiri dengan diameter 2 mm, berbentuk bula bulat
S:-O: TD : 160/100 mgHg, S :38 C, N:78 x /menit, RR : 36 x/menit, klien lemah, mata cekung, pupil isokor
S:-O: RR : 36 x/menit Kepala sedikit extensi
S:-O: O2 3 l/menit, RR: 36 x/menit
S:-O: Terdengar snoring , RR : 36 x/menit
Menggunakan otot bantu nafas, napas cepat dan dalam
S:-O: Injeksi piracetam 3gr/IV, klien tenang 2. 1. 1. 1,2 27/4/11 02.00 02.05 02.05 02.10 s/d 02.20 02.20
1. Melakukan bugging dan Resusitasi Jantung Paru selama 20 menit 2. Mengukur TD
3. Melakukan pengkajian auskultasi bunyi jantung 4. Melakukan bugging dan resusitasi jantung paru 5. Melakukan EKG
S:-O: Klien apnea, tekanan darah tak terdeteksi, nadi tak teraba, usaha napas tidak ada
S:-O: Tekanan darah tak terdeteksi, nadi tak teraba
S:-O: Bunyi jantung tak terdengar
S:-O: Usaha napas tidak ada, nadi tak teraba
S:-O: Hasil perekaman timbul garis lurus, HR=0, oleh dokter klien dinyatakan meninggal dunia
6. Melakukan perawatan jenasah
7. Mengantar ke kamar jenasah
pada pukul 02.20
S:-O: Klien meninggal dunia, melepas pakaian, melepas semua alat yang terpasang, mengikat anggota gerak dan kepala
S:-O: klien meninggal dunia
G. Evaluasi
No Dx
Waktu Evaluasi Paraf
1. 26/4/11 08.00 WIB
S:-O: Klien gelisah, Capileri refil <3 detik, penurunan kesadaran, GCS 8 dengan E3M5Vafasia TD: 160/110
mmHg, S: 370C, N: 78x/menit, RR: 40x/menit, A: Masalah teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi
1. Observasi TTV dan kelainan tekanan intra kranial 2. Berikan posisi kepala lebih tinggi 15-30 derajat
dengan letak jantung 3. Anjurkan bed rest total
4. Kolaborasi dengan dokter pemberian obat Piracetam 3 gr/6 jam/IV, Manitol 125 cc/ jam/IV, Citicolin 500mg/12 jam/IV, Asam Tranexamat 1 gr/8 jam/IV.
2. 26/4/11 08.10 WIB
S: Keluarga mengatakan menolak dilakukan suction, keluarga mengatakan sudah ikhas dengan kondisi klien.
O: RR: 40x/menit, klien tampak sesek, klien lemah, menggunakan otot bantu nafas, terpasang O2 kanul 3
l/menit, kepala ekstensi, terdapat bunyi napas snoring, retraksi dada kanan dan kiri sama.
A: Timbul masalah baru yaitu pola nafas tidak efektif berhubungan dengan intake O2tidak adekuat sekunder
adanya penurunan reflek batuk dan menelan P: Lanjutan intervensi
2. Ajarkan dan anjurkan keluarga klien mengubah posisi klien tiap 2 jam
3. Kolaborasi dengan petugas fisioterapi melakukan fisioterapi dada sesuai KU pasien
4. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian vasodilator (Isosorbit Dinitrat 5 mg/8 jam/oral) 5. Berikan O2adekuat
3. 26/4/11 08.20 WIB
S:-O: Klien lemah, diit masuk ½ gelas (75 cc), tidak terdapat residu, terpasang infus RL 20 tpm,
A: Masalah belum teratasi P: Lanjutan intervensi.
1. Pemberian nutrisi adekuat, diit sesuai terapi (200 cc/ 4 jam/ parenteral)
2. Monitor terapi cairan inus RL 20 tpm 4. 26/4/11
12.00 WIB
S:-O: Klien lemah, hemipharese separuh bagian tubuh sebelah kiri, nilai kekuatan otot tangan kanan 3, tangan kiri 0, kaki kanan 3, kaki kiri 0. Sendi masih sedikit kaku.
A: Masalah teratasi sebagian P: Lanjutan intervensi
1. Lakukan gerak pasif pada ekstremitas yang sakit 2. Ajarkan pada keluarga untuk melakukan alih baring
tiap dua jam pada klien
3. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan gerak pasif pada klien
5. 26/4/11 09.00 WIB
S:-O: Klien mengalami afasia, klien mengalami penurunan kesadaran, KU lemah, TD: 160/110 mmHg, S: 370C, N: 78x/menit, RR: 40x/menit. Klien tidak mengalami muntah, tidak kejang
A: Masalah teratasi sebagian P: Lanjutkan intervensi
1. Berikan posisi kepala elevasi 15-300 2. Monitor tanda-tanda vital
3. Observasi adanya muntah dan kejang 2. 26/4/11
22.00 WIB
.
S:-O: KU klien lemah, tingkat kesadaran apatis, GCS: E3M3
VAfasia,TD: 160/100 mmHg, S: 38 0
C, RR: 34 x/menit, N: 78 x/menit. Klien sesek, terdengar snoring, mata cekung, napas cepat dan dalam.
A: Masalah belum teratasi P: Lanjutkan intervensi
1. Berikan O2adekuat
2. Posisikan kepala ekstensi sedikit miring 3. Observasi pola dan frekuensi pernapasan 27/4/11
02.20 WIB
S:-O: Apnea, TD tidak terdeteksi, nadi tak teraba, A: gangguan pola nafas: apnea
P:
1. Lakukan bantuan hidup dasar (bugging dan Resusitasi Jantung Paru (RJP))
2. Lakukan pemeriksaan jantung 3. Lakukan perekaman jantung (EKG) I:
1. Melakukan bugging dan RJP selama 20 menit 2. Memeriksa bunyi jantung
3. Melakukan perekaman EKG pada klien E:
1. Klien mengalami gagal nafas 2. RR tidak ada
3. Denyut nadi tidak teraba
4. Auskultasi bunyi jantung tak terdengar 5. Hasil perekaman EKG, Hearth Rate (HR): 0 6. Klien dinyatakan meninggal oleh dokter
padapukul 02.20 WIB
R: Melakukan perawatan jenasah dan mengantar jenasah ke ruang jenasah