• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI PENGEMBANGAN KOMPETENSI PEDAGOGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP ISLAM SUDIRMAN 1 BANCAK KAB.SEMARANG TAHUN 2015 SKRIPSI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "STRATEGI PENGEMBANGAN KOMPETENSI PEDAGOGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP ISLAM SUDIRMAN 1 BANCAK KAB.SEMARANG TAHUN 2015 SKRIPSI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam"

Copied!
147
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGI PENGEMBANGAN KOMPETENSI

PEDAGOGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

DI SMP ISLAM SUDIRMAN 1 BANCAK

KAB.SEMARANG TAHUN 2015

SKRIPSI

Diajukan untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan Islam

Oleh :

ISTIKHANA FAUZIYAH

NIM : 111 10 108

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

SALATIGA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Saat Allah mengajarkan kebahagiaan bagiku ketenangan, saat Allah

mengajarkan kesedihan bagiku adalah perjuangan untuk selalu

istiqomah dijalan-

Nya”

PERSEMBAHAN

Skripsi ini penulis persembahkan kepada pihak-pihak yang mempunyai peranan penting dalam hidupnya

1. Ayahanda Muhtarom dan Ibunda Sulastri (almarhum) tercinta yang selalu memberikan dukungan baik moril maupun spiritual yang senantiasa berkorban dan berdoa demi tercapainya cita-cita penulis, semoga ibunda khusnul khotimah disisi Allah.. amin. Harapannya semoga ayahanda, selalu diberikan kesehatan jasmani dan rohaninya, dikaruniai rahmat dan hidayah oleh Allah Swt, ditetapkan Iman Islamnya dan kemudahan dalam menjalankan Ibadah, Hablum Minalallah dan Hablum Minannas dalam menjalankan sisa umurnya

2. Ananda Tomi Tohiron yang tiada henti mengucurkan kesabaran, kesetian dan ketulusannya untuk menemaniku dalam suka dan duka membuat hidupku ini seindah pelangi dengan cintanya.

(7)

ABSTRAK

Fauziyah, Istikhana. 2015. Strategi Pengembangan Kompetensi Pedagogi Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMP Islam Sudirman 1 Bancak Kab. Semarang Tahun 2015. Skripsi. Jurusan Tarbiyah. Program Studi Pendidikan Agama Islam. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: H. Maslikhah,S.Ag.,M.Si.

Kata Kunci: Strategi pengembangan dan kompetensi pedagogi

Penelitian ini merupakan strategi pengembangan untuk guru PAI dalam meningkatkan kompetensi pedagogi di SMP Islam Sudirman 1 Bancak Kab. Semarang. Pertanyaan utama yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah strategi pengembangan kompetensi pedagogi guru PAI di SMP Islam Sudirman 1 Bancak., dan (2) Apa faktor pendukung bagi guru PAI dalam mengembangkan kompetensi pedagogi di SMP Islam Sudirman 1 Bancak., (3) Apa faktor penghambat guru PAI dalam mengembangkan kompetensi pedagogi bagi di SMP Islam Sudirman 1 Bancak.,(4) Bagaiman upaya guru PAI untuk mengatasi hambatan dalam mengembangkan kompetensi pedagogi di SMP Islam Sudirman 1 Bancak.

Metode penelitian yang dilakukan peneliti yaitu melalui pendekatan penelitian deskriptif kualitatif dengan cara mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada di SMP Islam Sudirman 1 Bancak, kehadiran peneliti sebagai pengamat dan sebagai pengumpul data, dengan cara Wawancara serta Dokumentasi.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat, hidayah dan taufiqnya, sehingga penulis dapat

menyelesaikan penulisan skripsi ini. Sholawat serta salam kami haturkan kepada

junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW yang telah menuntun umatnya ke

jalan kebenaran dan keadilan.

Skripsi ini penulis susun dalam rangka memenuhi tugas dan melengkapi

syarat guna untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan. Adapun judul skripsi ini

adalah “STRATEGI PENGEMBANGAN KOMPETENSI PEDAGOGI GURU

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP ISLAM SUDIRMAN 1 BANCAK

KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2015”.

Penulisan skripsi ini tidak lepas dari berbagai pihak yang telah

memberikan dukungan moril maupun meteriil. Dengan penuh kerendahan hati,

penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) ,bapak Dr. Rahmat Hariyadi,

M.Pd.

2. Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Salatiga, bapak Suwardi,

M.Pd

3. Kepala Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Salatiga, ibu

Rukhayati, M.Pd.

4. Ibu Maslikhah, S.Ag., M.Si. selaku dosen pembimbing yang telah berkenan

(9)

tenaganya memberi bimbingan dan pengarahan yang sangat berguna sejak

awal proses penyusunan dan penulisan hingga terselesaikannya skripsi ini.

5. Ibu Muna Erawati, M. Si selaku dosen pembimbing akademik yang selalu

memberikan bimbingan dan pengarahan.

6. Segenap dosen dan karyawan IAIN Salatiga yang dengan sengaja maupun

tidak sengaja turut memperlancar proses penyusunan skripsi ini.

7. Bapak Mustakim, S.Pd.I selaku kepala sekolah SMP Islam Sudirman 1

Bancak yang telah memberikan izin, masukan dan bantuan untuk melakukan

penelitian.

8. Guru-guru di SMP Islam Sudirman 1 Bancak bapak Sunarto, ibu Ana

Mustagfiroh, ibu Siti Zulaikhah, ibu Ely Himawati yang telah meluangkan

waktu dan membantu pencarian data dalam penyusunan skripsi ini.

9. Anisa Alfi Nurjanah sahabat yang selalu menemani dalam suka maupun

duka.

10.Guru-guru yang berjuang di TK Bina Insani, Ibu Umi dan Ibu Muslikhah

yang selalu memberikan dukungan dalam penulisan skripsi.

11.Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu yang telah

membantu dalam penulisan skripsi ini.

Semoga amal mereka diterima sebagai amal ibadah oleh Allah SWT serta

mendapatkan balasan myang berlipat ganda amien. Penulis sadar bahwa dalam

penulisan ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnan. Oleh karena

(10)

membangun demi kesempurnaan penulisan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat

bermanfaat bagi penulis pada khususnya maupun pembaca pada umumnya dan

memberikan sumbangan bagi pengetahuan dunia pendidikan. Amin. . .amin ya

robbal„alamin.

Salatiga, 6 Januari 2015 Penulis,

(11)

DAFTAR ISI

PERSETUJUAN PEMBIMBING………... ii

LEMBAR PENGESAHAN KELULUSAN ……….. iii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN……….... iv

MOTTO PERSEMBAHAN……….. v

KATA PENGANTAR………... vi

ABSTRAK……….... ix

DAFTAR ISI……….... x

DAFTAR TABEL DAN GAMBAR………..……….. xiii

BAB 1 PENDAHULUAN………... 1

A. Latar Belakang Masalah……….... 1

B. Fokus Penelitian……….... 8

C. Tujuan Penelitian………... 8

D. Manfaat Penelitian………... 8

E. Definisi Operasional………... 9

F. Metode Penelitian………... 10

G. Sistematika Penulisan………... 16

BAB II LANDASAN TEORI………. 19

A.Strategi guru PAI... 19

1. Strategi... ... 19

2. Strategi guru PAI... 21

(12)

B.Kompetensi Pedagogi... 35

1. Pengertian kompetensi pedagogi... 35

2. Indikator kompetensi pedagogi... 37

3. Komponen kompetensi pedagogi... 50

4. Urgensi kompetensi pedagogi... 51

C.Strategi Pengembangan Kompetensi Pedagogi... 52

BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN... 59

A. Paparan data... 59

1. Letak Geografis SMP Islam Sudirman 1 Bancak... 59

2. Sejarah SMP Islam Sudirman 1 Bancak... 60

3. Visi dan Misi... 61

4. Profil... 62

5. Keadaan Sarana dan Prasarana... 63

6. Struktur Organisasi ... 64

7. Pembagian Kerja Guru... 65

8. Data Guru... 71

9. Keadaan Siswa... 72

B. Temuan Penelitian... 73

1. Profil Responden... 73

2. Temuan Penelitian... 75

BAB IV PEMBAHASAN...

A. Strategi pengembangan kompetensi pedagogi guru PAI di SMP

Islam Sudirman 1 Bancak...

(13)

B. Faktor pendukung dalam pengembangan kompetensi pedagogi

guru PAI di SMP Islam Sudirman 1 Bancak...

111

C. Faktor penghambat dalam pengembangan kompetensi pedagogi

guru PAI di SMP Islam Sudirman 1 Bancak

120

D. Upaya guru PAI untuk mengatasi hambatan dalam

pengembangan kompetensi pedagogi SMP Islam Sudirman 1

Bancak

122

BAB V PENUTUP... 124

A. Kesimpulan ... 124

B. Saran... 127

DAFTAR PUSTAKA……….. 128

(14)

DAFTAR TABEL DAN GAMBAR

Tabel 3.1 Letak geografis SMP Islam Sudirman 1 Bancak... 59

Gambar bagan 3.1 Struktur organisasi SMP Islam Sudirman 1 Bancak... 65

Tabel 3.2 Profil SMP Islam Sudirman 1 Bancak... 62

Table 3.3 Sarana prasarana SMP Islam Sudirman 1 Bancak ... 63

Table 3.4 Sarana prasarana pelengkap SMP Islam Sudirman 1 Bancak... 64

Table 3.5 Daftar guru dan staff pembantu SMP Islam Sudirman 1

(15)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Era modern dewasa ini perkembangan pendidikan berlangsung begitu

cepat yang mengakibatkan terjadi berbagai perubahan sesuai dengan tuntutan

dan kebutuhan masyarakat secara lokal maupun global. Pendidikan yang

bertujuan untuk mencerdaskan anak bangsa sehingga mampu bersaing dalam

taraf pendidikan di era global ini. Masyarakat yang sadar akan pentingnya

menghadapi tantangan masa yang akan datang, diharapkan berusaha untuk

membekali diri dengan berbagai ilmu pengetahuan.

Dalam hal ini guru merupakan pusat utama yang mempunyai tugas

mulia yang diharapkan mampu mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang

berkualitas. Guru sebagai pengawal peradaban harus terus berada pada

mainstream perubahan yang terjadi, bahkan menjadi lokomotif dan pelopor

perubahan pendidikan. Guru mampu menjadi figur inspiratif dan memberikan

motivasi bagi keberhasilan anak didik (Ma‟mur, 2009: 15).Dengan kata lain

guru dituntut mampu berkompetisi menjawab tantangan perubahan zaman.

Sekarang ini wacana profesionalisme guru menjadi perbincangan hangat di

kalangan masyarakat, seiring dengan tuntutan pendidikan di Indonesia yang

semakin meningkat.

Hamalik (2003: 34) berpendapat masalah kompetensi profesional guru

merupakan salah satu dari kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru

(16)

komponen yang paling menentukan dalam pendidikan secara keseluruhan

mau tidak mau guru dituntut mampu menguasai bahan ajar yang akan di

ajarkan kepada anak didik, bahkan dalam penyampaian bahan ajar guru harus

mampu menjadi sosok yang inspiratif.

Peran-peran guru profesional yang paling penting diingat adalah

bahwa guru yang secara langsung bertanggung jawab atas pengembangan

pendidikan dari begitu banyak fikiran dan jiwa muda. Semua sadar akan

adanya pengaruh sehari-hari guru pada muridnya dalam pembelajaran

langsung, membuat murid tertawa atau menangis, mengajari murid belajar

mandiri, menciptakan lingkungan yang peduli dan membantu, dan lebih

banyak lagi. Tetapi saat guru menjadi pelayan, murid mempunyai

karakteristik berbeda yang memungkinkan mereka bergerak keluar dari ruang

kelas, untuk mempengaruhi cara pengaturan lingkungan pendidikan

(Norlander, 2009: 151).

Mulyasa (2008:26) berpendapat kompetensi guru merupakan peraduan

antara kemampuan personal, keilmuan, teknologi, social, dan spiritual yang

secara kaffah membentuk kompetensi standar profesi guru, yang mencakup

penguasaan materi, pemahaman terhadap peserta didik, pembelajaran yang

mendidik, pengembangan pribadi dan profesional. Bukan hanya itu tugas

seorang guru tidak hanya menyampaikan ilmu yang diberikan, seorang guru

juga di harapkan memberikan perhatian penuh dalam etika moral dan spiritual

yang luhur serta dapat membakar semangat anak didik sehingga mereka dapat

(17)

Guru profesional semata-mata tidak hanya dituntut untuk mengusai

bidang ilmu tertentu, bahan ajar, metode pembelajarannya akan tetapi

memiliki keterampilan dan pengetahuan yang luas. Untuk menjadikan

seorang guru yang mempunyai profesionalitas dalam mengajar di kelas salah

satunya harus memenuhi kompetensi pedagogi. Menurut Mulyasa (2008: 75)

dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan pasal 28 ayat 3 butir a

dikemukakan bahwa kompetensi pedagogi adalah kemampuan mengelola

pembelajaran peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran,

evalusi hasil belajar, pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan

berbagai potensi yang dimilikinya.

Berdasarkan pengertian kompetensi pedagogi di atas, realitasnya

permasalahan guru di Indonesia masih banyak guru yang tidak menjalankan

profesiya secara keseluruhan maka dapat dikatakan kurang memahami

kompetensi pedagogi itu sendiri. Guru hanya memandang yang penting sudah

mengajar itu sudah dianggap menggugurkan kewajibannya. Selain itu, banyak

ditemukan di lapangan pada proses pembelajaran di kelas, guru dalam

penyampaian materi pembelajaran menggunakan metode yang monoton yang

biasa dikenal “bercerita” sehingga anak didik diibaratkan seperti gelas yang diisi air sampai penuh oleh gurunya. Seharusnya, kemampuan pedagogi juga

ditunjukkan dalam membantu, membimbing, dan memimpin peserta didik.

Kunandar (2011: 76) berpendapat bahwa kompetensi pedagogi

meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan

(18)

mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Kompetensi tersebut

belum dapat dikuasai secara baik oleh guru. Beberapa indikator menunjukkan

guru memiliki kinerja yang lemah. Mulyasa (2008: 9) menyebutkan antara

lain: rendahnya pemahaman tentang strategi pembelajaran, kurangnya

kemahiran dalam mengelola kelas, rendahnya kemampuan melakukan dan

memanfaatkan penelitian tindakan kelas (classroom action research),

rendahnya motivasi berprestasi, kurang disiplin, rendahnya komitmen profesi

serta rendahnya kemampuan manajemen waktu.

Menanggapi indikator tersebut, maka kompetensi pedagogi guru perlu

ditingkatkan melalui berbagai upaya. Harapan yang diinginkan kualitas

kinerja dan pencapaian target kualitas pembelajaran yang dihasilkan akan

meningkat. Selain itu seorang guru hendaknya mempunyai rasa ikhlas dan

mempunyai tanggung jawab moral dan intelektual. Sebagaimana, Islam

sangat menghargai orang-orang yang berilmu pengetahuan yang bertugas

sebagai pendidik dan Islam memuliakan mereka.

Sehubungan dengan kompetensi pedagogi guru, maka tugas dan

tanggung jawab guru di sekolah adalah sebagai pengajar, guru sebagai

pembimbing dan sebagai administrator kelas (Sujana, 2012:15). Guru harus

mempunyai kinerja profesional terutama dalam mendesain program

pengajaran dan melaksanakan proses belajar mengajar agar dapat

memberikan ”layanaan ahli” dalam bidang tugasnya sesuai dengan kemajuan

ilmu pengetahuan dan tekhnologi serta perkembangan masyarakat. Dengan

(19)

berfikir global (thinking globally), dan mampu bertindak lokal (acting

locally), serta dilandasi oleh akhlak yang mulia (akhlakul karimah).

SMP Islam Sudirman 1 Bancak Kab. Semarang sebagai salah satu

lembaga pendidikan Islam yang dipercaya oleh masyarakat mampu

menghasilkan out-put yang berkualitas dan berakhlakul karimah, sehingga

harus mampu mengembangkan SDM khususnya guru yang berkualitas dan

mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin berkembang terhadap

pendidikan.

Menjadikan seorang guru yang mempunyai profesionalitas dalam

kompetensi pedagogi di perlukan adanya pengembangan profesionalitas

kompetensi pedagogi guru. Sebuah lembaga pendidikan harus memiliki

strategi sebagai usaha awal yang menjadi tolok ukur yang kelak digunakan

lembaga pendidikan untuk mencapai tujuan.

Peningkatan dalam kompetensi pedagogi guru yang lebih luas

diperlukan strategi, yaitu keputusan kebijakan dari pihak sekolah maupun luar

sekolah dan tindakan kegiatan yang diwujudkan dalam lima ruang lingkup

yang terdapat dalam kompetensi pedagogi meliputi bentuk pengelolaan,

perencanaan dan pelaksanaan, evaluasi hasil serta perkembangannya yang

disusun untuk mencapai tujuan. Hal ini penting karena tanpa perencanaan dan

strategi yang tepat, tidak mustahil tujuan pendidikan akan sulit dicapai

bahkan mutu lembaga pendidikan semakin menurun tertinggal dari lembaga

(20)

Setelah mendapatkan data dari lapangan berdasarkan wawancara awal

dengan kepala sekolah dan waka kurikulum serta guru PAI di SMP Islam

Sudirman 1 Bancak usaha mengenai guru PAI dalam meningkatkan

kompetensi pedagogi guru memiliki prosedur antara lain: guru ikut serta

dalam organisasi guru PAI tingkat Sub Rayon (Kabupaten), mengikuti

MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran), dari pihak kepala sekolah selalu

memberikan pembinaan setiap minggu, pembinaan dari pengawas sekolah

akan tetapi pembinaan dari pengawas sekolah waktunya tidak tentu. Upaya

ini tidak memberikan hasil yang membanggakan. Kondisi ini ditandai dengan

masih lemahnya kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran peserta

didik. Kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran ini menyangkut

tiga fungsi manajerial yaitu perencanaan penetapan tujuan, kompetensi serta

memperkirakan cara penyampainnya, akan tetapi guru PAI di SMP Islam

Sudirman 1 Bancak masih mengabaikan hal tersebut, karena guru lebih fokus

dalam perencanaan pembelajaran padahal pengelolaan pembelajaran

berkaitan erat dengan perancangan pembelajaran. Perancangan

pembelajaran peserta didik merupakan pokok yang paling utama dalam

kompetensi pedagogi salah satunya guru harus mampu menyiapkan

kurikulum, silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) akan tetapi

guru PAI di SMP Islam Sudirman 1 Bancak memberikan alasan tentang

kurikulum yang masih berubah-ubah lebih jelasnya untuk pembelajaran

semester awal menggunakan kurikulum 2013 dan sekarang kembali lagi ke

(21)

RPP yang digunakan guru PAI di SMP Islam Sudirman 1 Bancak belum

sesuai standar karena mengandalkan dari format internet, untuk pelaksanaan

pembelajaran guru belum bisa menyesuaikan dengan apa yang direncanakan

dalam RPP. Media yang dapat menunjang proses pembelajaran belum

memadai serta masih lemahnya guru dalam mengoperasikan teknologi, selain

itu buku yang dapat menunjang proses pembelajaran tidak semua peserta

didik memiliki. Sedangkan untuk evalusi hasil belajar peserta didik guru

terkadang tidak sesuai dengan yang ditetapkan di kalender

pendidikan/kalender akademik, serta pengembangan bagi peserta didik dari

gurunya sendiri belum menguasai.

Oleh karena itu, perlu perbaikan sejak dini terhadap peningkatan

kualitas seorang guru di dunia pendidikan. Guru sebagai seorang pendidik

dalam pembelajaran maka perlu ditumbuhkan kesadaran bahwa kompetensi

pedagogi sangat menentukan keberhasilan anak didik di dalam kelas. Maka

diharapkan hendaklah seorang guru selalu berusaha untuk memulai dirinya

sendiri dengan hal-hal yang baru yang dapat menambah penguasaan bidang

studinya. Guru kurang memiliki kesadaran pentingnya strategi untuk

mencapai tujuan, semangat/motivasi, guru memiliki hambatan personal dan

profesional, guru memiliki kelebihan sebagai pendukung mencapai tujuan

tetapi guru tidak mengetahui kelebihan yang dimiliki.

Berdasarkan uraian tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang

(22)

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP ISLAM SUDIRMAN 1

BANCAK KAB. SEMARANG TAHUN 2015”.

B. Fokus Penelitian

Dalam penulisan penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup

permasalahan agar mempermudah dalam penulisan penelitian sehingga

terarah sesuai tujuan dan kegunaan dari penelitian tersebut. Ruang lingkup

permasalahan ini yaitu Bagaimana strategi pengembangan kompetensi

pedagogi guru PAI di SMP Islam Sudirman 1 Bancak Kab. Semarang tahun

2015?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan dari rumusan masalah di atas, maka dapat ditetapkan

tujuan penelitian ini untuk mengetahui strategi pengembangan kompetensi

pedagogi guru PAI di SMP Islam Sudirman 1 Bancak Kab. Semarang Tahun

2015.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoretis

Menambah khasanah dunia pustaka tentang strategi peningkatan

kompetensi pedagogi guru Pendidikan Agama Islam (PAI).

2. Manfaat Praktis

a. Guru

Memberikan masukan pada dunia pendidikan khususnya bagi

guru SMP Islam Sudirman 1 Bancak Kab. Semarang tentang

(23)

mencapai keberhasilan peserta didik secara maksimal di dalam kelas.

Dengan demikian guru adalah faktor yang paling menentukan dalam

proses pembelajaran di kelas.

b. Sekolah

Bagi pihak lembaga khususnya SMP Islam Sudirman Bancak,

adalah dengan penelitian ini dapat memberikan gambaran untuk

meningkatkan kompetensi pedagogi, sehingga nantinya dapat

dijadikan sebagai bahan masukan untuk menambah kualitas

kompetensi guru dan memberikan sumbangan pemikiran tentang

pengembangan dalam meningkatkan kompetensi pedagogi guru. Serta

sebagai bahan informasi terhadap SMP Islam Sudirman 1 Bancak

dalam merencanakan strategi pengembangan kompetensi pedagogi

guru untuk mencapai tujuan secara optimal dimasa sekarang dan masa

yang akan datang.

E. Definisi Operasioal

Agar penelitian tidak menyimpang terlalu jauh dan dapat terarah dengan

baik dari tujuan yang di harapkan maka perlu adanya definisi istilah sebagai berikut:

1. Strategi

Strategi dalam Kamus Bahasa Indonesia (2007:1092) adalah rencana cermat

mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Dalam penelitian ini strategi

adalah suatu rencana yang disusun secara tepat agar mencapai tujuan yang

diinginkan dalam proses pembalajaran.

(24)

Kompetensi berarti suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau

kemampuan seseorang, baik yang kulitatif maupun kuantitatif. (Mujtahid, 2009:

55). Mulyasa berpendapat (2008: 75 ) dalam Standar Nasional Pendidikan,

penjelasan pasal 28 ayat 3 butir a dikemukakan bahwa kompetensi pedagogi

adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi

pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan

pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk

mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Jadi kompetensi pedagogi merupakan kemampuan yang harus dimiliki

oleh seorang guru agar dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif dan

sesuai dengan tujuan pembelajaran.

F. Metode Penelitian

1. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Penelitian ini merupakan field research dengan menggunakan pendekatan

kualitatif. Milles dan Michael (1992: 2) mengemukakan bahwa penelitian

kualitatif akan mendapatkan data kualitatif yang sangat menarik, memiliki

sumber dari yang luas dan berlandasan kokoh, serta memuat penjelasan tentang

proses-proses yang terjadi dalam lingkup setempat. Bog dan Taylor dalam

Moleong (2008: 4) mendefinisikan metodologi kualitatif adalah sebagai

prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis

atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini

diarahkan pada latar dan individu tersebut secara utuh. Jadi, dalam hal ini tidak

boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variable atau hipotesis,

(25)

Dengan demikian peneliti dalam melakukan penelitian ini menggunakan

pendekatan penelitian kualitatif deskriptif yaitu menggambarkan bagaimana

strategi pengembangan kompetensi pedagogi guru Pendidikan Agama Islam

(PAI) di SMP Islam Sudirman Bancak Kab. Semarang, faktor pendukung dan

faktor penghambat bagi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam

mengembangkan kompetensi pedagogi di SMP Islam Sudirman 1 Bancak Kab.

Semarang untuk serta upaya guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMP Islam

Sudirman 1 Bancak Kab. Semarang mengatasi hambatan dalam

mengembangkan kompetensi pedagogi.

2. Subjek Penelitian

Mulyana berpendapat (2004: 187 ) subjek Penelitian yang biasa digunakan

dalam penelitian kualitatif adalah dengan nonprobability sampling yaitu tekhnik

purposive sampling (sampel bertujuan). Berdasarkan pengertian di atas, maka

peneliti menentukan subyek secara sampling purposive yang meliputi guru SMP

Islam Sudirman 1 Bancak Kab. Semarang.

3. Lokasi Penelitian

Sesuai judul penelitian, lokasi penelitian dilaksanakan di SMP Islam

Sudirman 1 Bancak Kab. Semarang.

4. Sumber Data

a. Data Primer

Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari lapangan

atau tempat penelitian. Kata-kata dan tindakan merupakan sumber data

(26)

Peneliti menggunakan data ini untuk mendapatkan informasi secara

langsung tentang strategi pengembangan kompetensi pedagogi guru

PAI, faktor pendukung dan faktor penghambat dalam mengembangkan

kompetensi pedagogi guru PAI serta upaya guru PAI mengatasi

hambatan dalam mengembangkan kompetensi pedagogi di SMP Islam

Sudirman 1 Bancak Kab. Semarang. Adapun sumber data langsung

peneliti dapatkan dari hasil wawancara dengan kepala sekolah, wakil

kepala (waka) kurikulum, dan guru Pendidikan Agama Islam.

b. Data Sekunder

Data sekunder yaitu data yang didapat dari sumber bacaan dan

berbagai macam sumber lainnya yang terdiri dari surat-surat pribadi dan

dokumen resmi dari instansi. Peneliti menggunakan data sekunder ini untuk

memperkuat hasil temuan dan melengkapi informasi yang telah

dikumpulkan melalui wawancara dan pengamatan.

Arikunto (2010: 107) berpendapat bahwa sumber data dengan tiga

(3) P, yaitu person, paper, place. Person terdiri dari kepala sekolah, wakil

kepala (waka) kurikulum dan guru yang membidangi mata pelajaran

Pendidikan Agama Islam (PAI). Paper dengan meneliti tentang administrasi

kurikulum, dan place yaitu tempat di SMP Islam Sudirman 1 Bancak Kab.

Semarang.

5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu metode wawancara

(27)

tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematis dan berdasarkan kepada

tujuan penyelidikan (Hadi, 1990: 193).

Berdasarkan uraian tersebut, metode wawancara digunakan untuk

mendapatkan data tentang strategi pengembangan kompetensi pedagogi, guru

PAI, faktor pendukung dan faktor penghambat dalam mengembangkan

kompetensi pedagogi guru PAI serta upaya guru PAI mengatasi hambatan dalam

mengembangkan kompetensi pedagogi di SMP Islam Sudirman 1 Bancak Kab.

Semarang. Strategi pengembangan kompetensi pedagogi meliputi komponen

pada pengelolaan pembelajaran, perancangan dan pelaksanan pembelajaran,

evaluasi hasil belajar dan pengembangan pesera didik.

Peneliti melakukan wawancara yang mendalam untuk mendapatkan

informasi yang akurat. Wawancara ini peneliti menggunakan pedoman

wawancara semi structured karena bentuk wawancara ini tidak membuat kaku,

melainkan lebih bebas dan luwes dalam melakukan wawancara (Yusuf,

2003:87). Meskipun demikian, peneliti tetap menggunakan pedoman

wawancara yang berisi tentang strategi pengembangan kompetensi pedagogi

guru PAI, faktor pendukung dan faktor penghambat guru PAI dalam

mengembangkan kompetensi pedagogi serta upaya guru PAI mengatasi

hambatan dalam mengembangkan kompetensi pedagogi di SMP Islam Sudirman

1 Bancak Kab. Semarang. Pedoman wawancara tersebut yang digunakan peneliti

untuk mengajukan pertanyaan dengan informan. Untuk mendapatkan data yang

penting, peneliti memanfaatkan handphone untuk merekam hasil wawancara

dengan informan.

(28)

Tahapan-tahapan penelitian ini ada tiga tahapan dan ditambah dengan

tahap terakhir penelitian yaitu tahap penulisan laporan hasil penelitian.

Tahap-tahap penelitian tersebut adalah (1) Tahap-tahap pralapangan, yang meliputi

menyusun rancangan penelitian, memilih lapangan penelitian, mengurus

perizinan, menjajaki dan menilai keadaan lapangan, memilih dan memanfaatkan

informan, menyiapkan perlengkapan penelitian dan menyangkut persoalan etika

penelitian; (2) tahap pekerjaan lapangan, yang meliputi memahami latar

penelitian dan persiapan diri, memasuki lapangan dan berperan-serta sambil

mengumpulkan data, (3) tahap analisis data, yang meliputi analisis selama dan

setelah pengumpulan data; (4) tahap penulisan hasil laporan penelitian

7. Pengecekan Keabsahan Data

Menurut Moleong (2000:173) pengecekan keabsahan data yang

digunakan didasarkan pada empat kriteria yaitu derajat kepercayaan

(credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability), dan

kepastian (confirmability).

Uji derajat kepercayaan (credibility) dilakukan dengan cara melakukan

pembandingan antara data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.

Keteralihan (transferability) membandingkan pendapat yang dikatakan orang di

depan umum dengan yang dikatakan orang secara individual.

Kebergantungan (dependability) dilakukan untuk mengetahui situasi

dalam penelitian dengan keadaan yang akan terjadi secara terus menerus.

Kepastian (confirmability) dilakukan untuk membandingkan hasil wawancara

(29)

8. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN : memuat tentang latar belakang

masalah rumusan masalah, tujuan

penelitian, manfaat penelitian,

definisi operasional, metode

penelitian dan sistematika

penulisan skripsi.

BAB II LANDASAN TEORI : memuat tentang strategi

pembelajaran yang memuat

definisi, sejarah istilah strategi,

macam strategi, definisi strategi,

sejarah strategi, definisi guru,

pengertian guru, tugas guru,

Pendidikan Agama Islam, definisi

kompetensi pedagogi, indikator

kompetensi pedagogi, komponen

kompetensi pedagogi, urgensi

kompetensi pedagogi, serta strategi

pengembangan kompetensi

pedagogi bagi guru Pendidikan

Agama Islam (PAI).

(30)

temuan penelitian yang meliputi:

gambaran umum SMP Islam

Sudirman Bancak 1 Kab.

Semarang (letak geografis, sejarah

berdiri, profil, visi, misi dan

tujuan, keadaan guru, karyawan

dan siswa serta sarana dan

prasarana), strategi pengembangan

kompetensi pedagogi guru PAI di

SMP Islam Sudirman Bancak 1

Kab. Semarang, faktor-faktor

pendukung dan penghambat guru

PAI dalam mengembangan

kompetensi pedagogi SMP Islam

Sudirman Bancak 1 Kab.

Semarang serta upaya guru PAI

untuk mengatasi hambatan dalam

mengembangkan kompetensi

pedagogi di SMP Islam Sudirman

Bancak 1 Kab. Semarang.

(31)

mengenai strategi pengembangan

kompetensi pedagogi guru PAI

dalam di SMP Islam Sudirman 1

Bancak Kab. Semarang,

faktor-faktor pendukung dan faktor

penghambat bagi guru PAI dalam

mengembangkan kompetensi

pedagogi SMP Islam Sudirman

Bancak 1 Kab. Semarang serta

upaya guru PAI untuk mengatasi

hambatan dalam mengembangkan

kompetensi pedagogi di SMP

Islam Sudirman Bancak 1 Kab.

Semarang.

BAB V PENUTUP : memuat tentang kesimpulan dan

(32)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

G. Strategi Guru Pendidikan Agama Islam

1. Strategi

a. Definisi Strategi

1) Strategi Menurut Bahasa

Istilah strategi (strategy) berasal dari “kata benda” dan “kata kerja”

dalam bahasa Yunani. Sebagai kata benda, strategos merupakan

gabungan kata stratos (militer) dengan “ago” (memimpin). Sebagai kata kerja, stratego berarti merencanakan (to plan) (Majid, 2014a: 3). Selain

itu strategi dari kata Yunani, juga dinamakan srategia yang berarti ilmu

perang atau panglima perang.

Strategi adalah suatu seni merancang operasi di dalam peperangan,

seperti cara-cara mengatur posisi atau siasat berperang, angkatan darat

atau laut. Strategia juga dapat diartikan sebagai suatu keterampilan

mengatur kejadian atau peristiwa (Hardini, 2012:11).

2) Strategi menurut Istilah

Strategi dalam Kamus Bahasa Indonesia (2007:1092) adalah

rencana cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.

Menurut kamus The American heritage Dictionary dalam Madjid

(2014a: 3) mengemukakan bahwa strategy is the science or art of

(33)

Madjid (2014a:3) mendefinisikan strategi adalah suatu pola yang

direncanakan dan ditetapkan secara sengaja untuk melakukan kegiatan

atau tindakan. Strategi mencakup tujuan kegiatan, siapa yang terlibat

dalam kegiatan, isi kegiatan, proses kegiatan, dan sarana yang

menunjang kegiatan.

Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis

besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah

ditentukan. Berkaitan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan

sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam

perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujaun yang

telah digariskan (Hardini dan Puspita, 2012:11).

Strategi dalam penelitian ini adalah suatu rencana yang disusun

secara tepat agar mencapai tujuan yang diinginkan dalam proses

pembelajaran.

b. Sejarah Istilah Strategi

Istilah strategi pada awalnya digunakan dalam dunia militer yang

diartikan sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk

memenangkan suatu peperangan. Sekarang, istilah strategi banyak

digunakan dalam berbagai bidang kegiatan yang bertujuan memperoleh

kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan tercapai (Majid,

2014a:3).

Sebuah peperangan atau pertempuran, terdapat seseorang

(komandan) yang bertugas mengatur strategi untuk memenangkan

(34)

pasukan perang), semakin besar kemungkinan untuk menang. Sebuah

perang disusun dengan mempertimbangkan medan perang, kekuatan

pasukan, perlengkapan perang dan sebagainya. Seiring berjalannya waktu,

istilah “strategi” di dunia militer tersebut diadopsi ke dalam dunia

pendidikan. Konteks pendidikan, strategi digunakan untuk mengatur siasat

agar dapat mencapai tujuan dengan baik. Dengan kata lain, strategi dalam

konteks pendidikan dapat dimaknai sebagai perencanaan yang berisi

serangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan

(Suyadi, 2013: 13).

2. Strategi Guru Pendidikan Agama Islam (PAI)

a. Strategi Kompetensi Pedagogi

Upaya peningkatan kompetensi guru khususnya kompetensi

pedagogi harus dilakukan oleh semua pihak, baik dari guru maupun kepala

sekolah/lembaga pendidikan. Maka, ada dua upaya peningkatan

kompetensi pedagogi guru yang sangat mempengaruhi satu sama lain,

yaitu upaya yang dilakukan guru dan upaya yang dilakukan oleh kepala

sekolah/lembaga pendidikan yang bersangkutan.

Upaya peningkatan kompetensi pedagogi guru di sekolah dalam

proses belajar mengajar antara lain:

1) Guru mengikuti organisasi-organisasi keguruan.

2) Mengikuti kursus kependidikan

Upaya Lembaga Pendidikan/ Kepala Sekolah dalam

meningkatkan kompetensi pedagogi guru:

(35)

(b) Mengadakan Penataran Guru.

(c) Memotivasi Guru untuk Membuat Karya Tulis Ilmiah

(d) Memberikan Penghargaan (rewards)

(e) Mengadakan Supervisi

(f) Mengadakan Rapat Sekolah (Anisa, Jurnal Administrasi

Pendidikan: 2014)

Menurut Hendyat dalam skripsi Afifah (2010:14-16) untuk

mengembangkan profesi guru, ada dua jalan yang dapat ditempuh, yaitu

melalui pengembangan diri guru itu sendiri dan melalui pengembangan

secara lembaga.

1) Pengembangan Diri

Ada beberapa cara dan usaha yang dapat dilakukan oleh guru

dalam mengembangkan profesinya, antara lain: berusaha memahami

tujuan pendidikan dan pengajaran secara jelas dan konkrit, berusaha

memahami dan memilih bahan pengajaran sesuai tujuan. Agar profesi

guru dapat dikembangkan maka harus berusaha memahami problem

minat, dan kebutuhan dalam proses belajar subyek didik,

mengorganisasi bahan dan pengalaman belajar, berusaha memahami,

menyeleksi, dan menerapkan metode pembelajaran, berusaha

memahami dan sanggup membuat, mendayagunakan berbagai alat

pelajaran.

Dimana guru harus berusaha membimbing dan mendorong

kemajuan pertumbuhan dan perkembangan belajar subyek didik, mampu

(36)

Guru sebaiknya mengadakan penilaian diri sendiri (self evaluation)

untuk melihat kekurangan dan keberhasilan pelaksanaan tugasnya,

berusaha membaca-baca buku-buku yang relevan dengan tugas

profesinya (professional reading), berusaha mengembangkan diri dengan

menulis karya ilmiah di berbagai media (professional writing).

Guru yang ingin menambah wawasannya maka guru mengadakan

pertemuan antar sejawat dan dengan ahli lain dalam mengembangkan

wawasan keilmuan dan wawasan proses dan strategi pembelajaran

(individual conference), berusaha melakukan percobaan-percobaan atau

inovasi yang ditemukan atau strategi pembelajaran baru.

2) Pengembangan Kelembagaan

Pengembangan kelembagaan dalam hal ini dimana guru itu harus

berusaha mengembangkan profesinya agar dapat bekerja secara profesional

dengan cara yaitu penugasan guru-guru dalam bidang tugasnya dan dalam

mengikuti pertemuan-pertemuan pertumbuhan jabatan (assigment of

teacher), kegiatan dan pertemuan dalam organisasi profesional (professional

organization).

Apabila guru mengikuti pertemuan-pertemuan, guru akan bertambah

pengalamannya dan bisa terlibat secara langsung dalam suatu lembaga atau

intervisitation (perlibatan dalam kepanitiaan-kepanitiaan), mengajar yang

didemonstrasikan (demonstration teaching), kunjungan kelembagaan atau

instansi/ tempat yang dapat dijadikan medan studi bagi para guru dan

(37)

Adanya kunjungan tersebut menjadikan guru lebih paham untuk

mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya sesuai dengan

kemampuannya dengan cara mengembangkan curriculum laboratory

(laboratorium yang dirancang untuk mengembangkan pengetahuan dan

kemampuan dalam rangka aplikasi kurikulum dalam proses pembelajaran) dan

professional library (disediakan perpustakaan agar didayagunakan oleh guru

untuk mengembangkan profesinya).

Demikian juga dengan sharing of experiences (tukar menukar

pengalaman antar guru yang penyelenggaraannya dirancang oleh lembaga

atau atas inisiatif guru-guru sendiri), workshop (lokakarya yang

diselenggarakan dengan maksud meningkatkan profesi guru), panel discussion

guru mengikuti diskusi panel diberbagai kesempatan), symposium

(guru-guru mengikuti symposium diberbagai kesempatan).

Salah satu lembaga yang biasa diikuti oleh guru PAI adalah

Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). MGMP adalah “wadah kegiatan

professional untuk membina hubungan kerjasama secara koordinatif dan

fungsional antara sesama guru yang bertugas di SMP, SMA, MTs maupun MA”

sesuai dengan instansi pendidikan masing-masing. Pengertian yang lain MGMP

adalah wadah tempat kegiatan para anggota MGMP untuk melaksanakan

musyawarah dalam upaya peningkatan kemampuan dan keterampilan

mengajar. Pada MGMP ini guru dapat berdiskusi untuk mencari solusi dalam

memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam pengelolaan kegiatan

belajar. (MGMP PAI KOTA KEDIRI, http//:mgmpkediri.wordpress.com download

(38)

MGMP intinya adalah musyawarah sebagai proses interaksi edukatif.

Prinsip musyawarah ini sangat ditekankan dalam islam sehingga harus

senantiasa di tegakkan, karena dengan musyawarah itulah, manusia saling

memberi kesempatan dan saling menerima pendapat, sekaligus sebagai

pemenuhan hak-hak sesama manusia. Untuk itu, Allah berfirman dalam QS:3

(Ali imran);159 :

Artinya:…, “dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan

itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawak kallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai

orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.(Q.S. Ali Imran :159)

Ayat tersebut menekankan pentingnya musyawarah dalam segala

urusan, termasuk MGMP sebagai suatu wadah bagi para guru untuk saling

bertukar pikiran, pengalaman dan dapat digunakan untuk berdiskusi dalam

rangka memecahkan berbagai persoalan yang berkaitan dengan tugas guru

khususnya permasalahan didalam kelas, dan disinilah guru bisa dengan mudah

dapat menemukan pengetahuan yang dapat membantu dalam pelaksanaan

tugas secara lebih efektif.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa

MGMP adalah suatu lembaga yang anggotanya adalah semua guru mata

pelajaran di suatu daerah berdasarkan instansi pendidikan yang diampunya,

juga sebagai wadah untuk bersaling tukar pikiran dan memecahan masalah

yang ada sehingga lebih mudah dapat menemukan solusinya yang dapat

membantu dalam pelaksanaan tugas secara lebih efektif.

Guru yang sudah mengikuti banyak kelembagaan maka bisa

(39)

majalah atau surat kabar, penyelenggaraan kursus-kursus, pemyelenggaraan

penataran-penataran, konseling yang diberikan kepada guru baik secara

individual maupun secara kelompok, pertemuan umpan balik bergelombang

berdasarkan pada masalah dan tema yang telah diberikan sebelumnya,

pengembangan progaram testing dan pola-pola baru secara bersama,

penyenggaraan penelitian-penelitian yang diikuti oleh para guru.

b. Definisi Guru

1) Pengertian Guru

Guru merupakan komponen yang paling menentukan dalam

system pendidikan secara keseluruhan, yang harus mendapat

perhatian sentral, pertama dan utama. Guru mempunyai peranan

penting di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Masyarakat akan

mengalami kemajuan dan pembaharuan dari masa ke masa, karena

masyarakat akan bersaing untuk menggapai taraf kehidupan yang

lebih baik. Sehingga guru sangat dibutuhkan dalam kehidupan

masyarakat karena guru dapat memberikan pencerahan, kemajuan

pola pikir masyarakat menjadi lebih maju.

Bahri (2005:31) mengemukakan guru dalam pandangan

masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di

tempat-tempat tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan formal, tetapi

bisa di masjid, di surau/mushola, di rumah, dan lain sebagainya.

Guru menempati kedudukan terhormat di masyarakat.

Kewibawaanlah yang menyebabkan guru dihormati, sehingga

(40)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:330), guru

adalah orang yang pekerjaan, mata pencaharian atau profesinya

mengajar.

Usman (1998:5) mengungkapkan guru adalah jabatan atau

profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Pekerjaan

ini bisa dilakukan oleh orang yang tidak memiliki keahlian untuk

melakukan kegiatan atau pekerjaan sebagai guru. Untuk menjadi

guru diperlukan syarat-syarat tertentu, apalagi sebagai guru yang

professional harus menguasai betul seluk-beluk pendidikan dan

pengajaran dengan berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang perlu

dibina dan dikembangkan melalui masa pendidikan tertentu atau

pendidikan pra-jabatan. Oleh karena itu, guru menempati

komponen paling utama dalam kegiatan profesi di sekolah formal

maupun non formal.

Guru (dalam bahasa jawa) adalah seseorang yang harus

digugu dan harus ditiru oleh semua muridnya. Harus digugu artinya

segala sesuatu yang disampaikan olehnya senantiasa dipercaya dan

diyakini sebagai kebenaran oleh semua muridnya. Segala ilmu

pengetahuan yang datangnya dari sang guru dijadikan sebagai

sebuah kebenaran yang tidak perlu dibuktikan atau diteliti lagi.

Seorang guru juga harus ditiru, artinya seorang guru menjadi suri

tauladan bagi semua muridnya. Mulai dari cara berpikir, cara

(41)

Dalam proses pembelajaran di kelas guru adalah sentral

yang menentukan, merancang, melaksanakan sera mengevaluasi

kegiatan belajar mengajar sehingga dapat mencapai tujuan

pembelajaran karena guru langsung berhadapan dengan pesera

didik.

2) Tugas Guru

Guru dalam Islam adalah orang yang bertanggung jawab

terhadap perkembangan anak didik dengan mengupayakan seluruh

potensinya, baik potensi afektif, potensi kognitif, maupun

psikomotorik. Guru berarti bertanggung jawab dalam

perkembangan jasmani dan ruhanianya agar mencapai tingkat

kedewasaan, serta mampu berdiri sendiri dalam memenuhi

tugasnya sebagai hamba Allah.

Allah berfirman dalam Q.S, Ali Imran 3;164:

Sesunguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa mereka, dan mengajarkan mereka al-kitab dan al-hikmah. Dan sesungguhnya sebelum kedatangan Nabi itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Berdasarkan ayat di atas, dapat ditarik kesimpulan tugas

utama menurut ayat tersebut antara lain:

a) Penyucian, yakni pengembangan, pembersihan dan pengangkatan

jia kepada pencipta-Nya, menjauhkan diri dari kejahatan dan

(42)

b) Pengajaran, yakni pengalihan berbagai pengetahuan dan akidah

kepada akal dan hati kaum Muslim agar mereka merealisasikan

dalam tingkah laku kehidupan (Nurdin,2010:128).

Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa tugas guru dalam

Islam tidak hanya mengajar dalam kelas, tetapi juga sebagai norm

dragger (pembawa norma) agama di tengah-tengah masyarakat.

Guru mempunyai kekuasaan untuk membentuk dan membangun

kepribadian anak didik menjadi seseorang yang berguna bagi

agama, nusa, dan bangsa.

Tugas guru tidak hanya sebagai suatu profesi akan tetapi

juga mempunyai tugas dalam pengabdian antara lain (Bahri,

2005:37):

a) Tugas guru sebagai suatu profesi antara lain mendidik, mengajar,

dan melatih anak didik. Mendidik berarti meneruskan dan

mengembangkan nilai-nilai hidup kepada anak didik. Tugas guru

sebagai pengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu

pengetahuan dan teknologi kepada anak didik. Sedangkan tugas

guru sebagai pelatih berarti mengembangkan ketrampilan dan

menerapkannya dalam kehidupan demi masa depan anak didik.

b) Tugas guru dalam kemanusiaan, guru harus terlibat dalam

kehidupan di masyarakat dengan interaksi social. Guu harus

menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada anak didik. Dengan

begitu anak didik dididik agar mempunyai sifat kesetiakawanan

(43)

c) Tugas guru dalam kemasyarakatan, guru mempunyai tugas

mendidik dan mengajar masyarakat untuk menjadi warga negara

Indonesia yang bermoral Pancasila.

Oleh karena itu, tugas guru tidak hanya bertanggung jawab

di lingkungan sekolah saja, tetapi guru juga mempunyai tugas

dalam pengabdian kemanusiaan, kemasyarakatan.Sehingga guru

sebagai konjungsi (penghubung) antara sekolah dan masyarakat.

c. Pendidikan Agama Islam

1) Pengertian Pendikan Agama Islam

Islam adalah ketetapan Allah yang diturunkan melalui nabi

Muhammad SAW untuk disampaikan kepada umatnya di muka bumi

agar mereka beribadah kepada-Nya. Penanaman kepada Tuhan hanya

bisa dilakukan melalui proses pendidikan di rumah, di sekolah, maupun

di lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, Pendidikan Agama Islam

berperan penting dalam mendukung kebutuhan manusia sehingga

mampu melahirkan manusia yang menjadi khalifah di bumi ini.

Menurut Baharuddin Pendidikan Agama Islam adalah usaha

sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal,

memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran Islam, dibarengi

dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam

hubungannya dengan kerukunan antar-umat beragama hingga terwujud

kesatuan dan persatuan bangsa (Baharuddin, 2010:192)

Menurut Majid Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan

(44)

menghayati, hingga mengimani, bertakwa, dan berakhlak mulia dalam

mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci

Al-Qur’an dan Al-Hadis, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan,

serta penggunaan pengalaman (Majid, 2014b:11).

Daradjat mengemukakan dalam Madjid (2014b:12) Pendidikan

Agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta

didik agar senantiasa dapat memahami kandungan ajaran Islam secara

menyeluruh, menghayati makna tujuan, yang pada akhirnya dapat

mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup (way of

life).

Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa

Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha yang dilakukan untuk

membentuk manusia sesuai kodratnya sebagaimana yang terkandung

dalam Al-Qur’an yaitu sebagai khalifah di muka bumi sesuai dengan

ajaran Agama Islam.

2) Tujuan dan Fungsi Pendidikan Agama Islam

Tujuan pendidikan agama Islam pada hakikatnya sama dan

sesuai dengan tujuan diturunkannya agama Islam yaitu untuk

membentuk manusia yang muttaqin yang rentangnya berdimensi

infinitium (tidak terbatas menurut jangkauan manusia), baik secara

lincar maupun secara algoritmik (berurutan secara logis). Adapun tujuan

pendidikan agama Islam antara lain:

a) Membentuk manusia Muslim yang dapat melaksanakan ibadah

(45)

b) Membentuk manusia Muslim yang, disamping dapat melaksanakan

ibadah mahdah, juga dapat melaksanakan ibadah muamalah dalam

kedudukannya sebagai anggota masyarakat.

c) Membentuk warga negara yang bertanggung jawab kepada Allah,

penciptanya.

d) Membentuk dan mengembangkan tenaga professional yang siap dan

terampil atau setengah terampil untuk memungkinkan memasuki

teknostruktur masyarakat.

e) Mengembangkan tenaga ahli di bidang ilmu (agama dan ilmu-ilmu

Islami lainnya (Bahruddin,2010: 192-193)

Menurut kurikulum PAI fungsi Pendidikan Agama Islam di

sekolah/madrasah bertujuan menumbuhkan dan meningkatkan

keimanan melalui pemberian dan memupukkan pengetahuan,

penghayatan, pengalaman peserta didik tentang Agama Islam sehingga

menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan,

ketakwaan, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan

pada jenjang yang lebih tinggi (Majid,2014b:16).

Pendidikan Agama Islam untuk sekolah/ madrasah berfungsi

sebagai berikut:

(a) Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan

peserta didik kepada Allah Swt. Yang telah ditanamkan dalam

lingkungan keluarga. Pada dasarnya dan pertama-tama kewajiban

menanamkan keimanan dan ketakwaan dilakukan oleh setiap orang

(46)

kembangkan lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan,

pengajaran, dan pelatihan agar keimanan dan ketakwaan tersebut

dapat berkembang secara optimal sesuai dengan berkembang secara

optimal sesuai dengan tingkat perkembangan.

(b) Penanaman niali, sebagai pedoman hidup mencari kebahagiaan

hidup dunia dan akhirat.

(c) Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan

lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dapat

mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam.

(d) Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan,

kekurangan-kekurangan, dan kelemahan-kelemahan peserta didik

dalam keyakinan, pemahaman, dan pengalaman ajaran dalam

kehidupan sehari-hari.

(e) Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari

lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan

dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia

Indonesia seutuhnya.

(f) Pengajaran tentang ilmu pengetahuan kegamaan yang secara umum

(alam nyata dan nirmyata), sistem dan fungsionalnya.

(g) Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat

khusus di bidang Agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang

secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri

(47)

Oleh karena itu, Pendidikan Agama Islam sangat penting

keberadaannya karena Pendidikan Agama Islam merupakan suatu upaya

atau proses, pencarian, pembentukan, dan pengembangan sikap dan

perilaku untuk mencari, mengembangkan, memelihara, serta

menggunakan ilmu dan perangkat teknologi atau keterampilan demi

kepentingan manusia sesuai ajaran Islam.

H. Kompetensi Pedagogi

1. Pengertian Kompetesi pedagogi

Kompetensi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah

kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan) sesuatu

(KBHI, 1989: 453). Kompetensi utama yang harus dimiliki guru agar

pembelajaran yang dilakukan efektif dan dinamis adalah kompetensi

pedagogi. Guru harus belajar secara maksimal untuk menguasai

kompetensi pedagogi secara teori dan praktik (Ma‟mur, 2009:59).

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005

tentang Guru dan Dosen, pasal 10 dijelaskan bahwa: “ yang dimaksud

kompetensi pedagogi adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta

didik (Redaksi, 2006:44). Sedangkan Kompetensi pedagogi yang

dijelaskan dalam standar nasional pendidikan pasal 28 ayat (3) butir a

bahwa Kompetensi pedagogi adalah kemampuan mengelola pembelajaran

peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik,

perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan

pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi

(48)

Kompetensi pedagogi juga dapat diartikan tentang pemahaman guru

terhadap anak didik, perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi

hasil belajar, dan pengembangan anak didik untuk mengaktualisasikan

sebagai potensi yang dimilikinya (Wibowo dan Hamrin, 2012:110).

Menurut Permendiknas nomor 17 tahun 2007, kompetensi pedagogi

guru mata pelajaran terdiri atas 37 buah kompetensi yang dirangkum

dalam 10 kompetensi antara lain:

a. Menguasai karakteristik peserta ddidik dari aspek fisik, moral, spiritual,

sosial, kultural, emosional, dan intelektual;

b. Menguasai teori balajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik

c. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajran yang

diampu;

d. Menyelenggarkan kurikulum pembelajaran yang mendidik;

e. Memanfaatkan tekhnologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan

pembelajaran ;

f. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk

mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki;

g. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik;

h. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar;

i. Memanfaatkan hasil penelitian dan evaluasi untuk kepentingan

pembelajaran;

j. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas

(49)

Kompetensi pedagogi berarti kemampuan guru dalam mengelola

kelas agar sesuai dengan tujuan pendidikan dengan mengaktualisasikan

semua kemampuan yang dimiliknya. Sehingga, guru harus mempunyai

kualitas diatas rata-rata kerena guru secara langsung dituntut untuk

berwawasan luas, mengelola kelas sebaik mungkin serta mengetahui

kondisi psikologi siswa. Kunci keberhasilan pendidikan tidak hanya

terletak pada guru saja akan tetapi menjadi tanggung jawab bersama-sama

dengan peserta didik.

2. Indikator Kompetensi Pedagogi

Menurut Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 dalam Ma‟mur

(2009:65), kompetensi pedagogi guru terdiri atas 37 buah kompetensi, yang

dirangkum dalam 10 kompetensi inti, yaitu:

a. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, spiritual,

sosial, kultural, emosional,dan intelektual

b. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang

mendidik

c. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang

diampu

d. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik

e. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan

pembelajaran

f. Menfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk

(50)

g. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik

h. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar

i. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan

pembelajaran

j. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran

Komponen pedagogi sebagaimana keterangan diatas adalah

kompetensi pertama yang harus dikuasai dan dipraktikkan guru dalam

proses belajar mengajar. Lebih lanjut, dalam RPP tentang guru (Mulyasa,

2008:75) dikemukakan bahwa kompetensi pedagogi guru merupakan

kemampuan guru dalam mengolah pembelajaran peserta didik yang

sekurang-kurangnya meliputi :

1. Pemahaman Wawasan atau Landasan Kependidikan

Pemahaman terhadap peserta didik merupakan salah satu

kompetensi pedagogik yang harus dimilki guru. Guru merupakan

manajer dalam pembelajaran, yang bertanggung jawab terhadap

perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian perubahan atau perbaikan

program pembelajaran. Guru diharapkan membimbing dan

mengarahkan pengembangan kurikulum dan pembelajaran secara

efektif, serta melakukan pengawasan dalam pelaksanaannya.

2. Pemahaman terhadap peserta didik

Pemahaman terhadap peserta didik merupakan salah satu

kompetensi pedagogik yang harus dimilki guru. Sedikitnya terdapat

(51)

kecerdasan, kreativitas, cacat fisik, dan perkembangan kognitif

(Mulyasa, 2008:79).

Selain itu guru juga harus mengetahui karakteristik setiap

individu peserta didik sehingga dapat dengan mudah melakukan

pendekatan dengan peserta didik agar dapat melaksanakan

pembelajaran secara efektif. Hal ini, pembelajaran dapat

diverisifikasikan atau diperluas, diperdalam, dan disesuaikan dengan

keberagamaan kondisi dan kebutuhan, baik yang menyangkut

kemampuan peserta didik maupun potensi lingkungan.

Pemahaman terhadap peserta didik merupakan salah satu

kompetensi pedagogi yang harus dimiliki guru. Sedikitnya terdapat

empat hal yang harus dipahami guru dari peserta didiknya, yaitu :

a. Tingkat Kecerdasan

Ada 3 tingkatan kecerdasan bagi peserta didik, antara lain:

1) Tingkat terendah adalah mereka yang memiliki IQ antara 0-50,

mereka tergolong tak dapat dididik atau dilatih.

2) Tingkat menengah adalah mereka yang memiliki IQ antara

50-70 dan dikenal dengan golongan moron, yaitu keterbatasan atau

keterlambatan mental.

3) Tingkat atas adalah mereka yang memiliki IQ antara 90-110,

mereka biasa belajar secara normal, cepat mengerti, dan

superior.

(52)

Kreatifitas dikembangkan dengan penciptaan proses

pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mengembangkan

kreativitasnya. Secara umum guru diharapkan menciptakan kondisi

yang baik, yang memungkinkan setiap peserta didik dapat

mengembangkan kreativitasnya, antara lain dengan teknik kerja

kelompok kecil, penugasan dan mensponsori pelaksanaan proyek.

Kreativitas dapat dikembangkan dengan memberi kepercayaan,

komunikasi yang bebas, pengarahan diri dan pengawasan yang

tidak terlalu ketat.

c. Kondisi Fisik

Kondisi fisik berkaitan dengan penglihatan, pendengaran,

kemampuan berbicara, pincang (kaki), dan lumpuh karena

karusakan otak. Terhadap peserta didik yang memiliki kelainan

fisik diperlukan sikap dan layanan yang berbeda dalam rangka

membantu perkembangan pribadi mereka.

3. Pengembangan kurikulum/silabus

Guru memiliki kemampuan mengembangkan kurikulum

pendidikan nasional yang disesuaikan dengan kondisi spesifik

lingkungan sekolah. Pendidikan yang terjadi dalam lingkungan

sekolah sering disebut pendidikan formal, sebab sudah memiliki

rancangan pendidikan berupa kurikulum tertulis yang tersusun secara

sistematis, jelas, dan rinci. Pelaksanaannya, dilakukan pengawasan

(53)

tersebut. Peranan kurikulum dalampendidikan formal di sekolah

sangatlah strategis dan menentukan bagi tercapainya tujuan

pendidikan. Kurikulum juga memiliki kedudukan danposisi yang

sangat sentral dalam keseluruhan proses pendidikan, bahkankurikulum

merupakan syarat mutlak dan bagian yang tak terpisahkan dari

pendidikan itu sendiri.

Sebagai program pendidikan yang telah direncanakan secara

sistematis, kurikulum mengemban peranan yang sangat penting bagi

pendidikan siswa. Dalam kegiatan pengembangan kurikulum

membutuhkan perencanaan dan sosialisasi, agar pihak-pihak terkait

memiliki persepsi dan tindakan yang sama. Sedangkan dalam

pendidikan itu sendiri identik interaksi antara guru dan peserta didik

untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan.

Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan

berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh

BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah.

Penyusunan KTSP untuk pendidikan khusus dikoordinasi dan

disupervisi oleh dinas pendidikan provinsi, dan berpedoman pada SI

dan SKL serta panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh

BSNP.

Prinsip-prinsip yang harus ada dalam pengembangan KTSP

berdasarkan BSNP adalah pertama, berpusat pada potensi,

(54)

lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa

peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan

kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa

kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,

cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis

serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan

tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan

potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik

serta tuntutan lingkungan. Memiliki posisi sentral berarti kegiatan

pembelajaran berpusat pada peserta didik.

Kedua, beragam dan terpadu. Kurikulum dikembangkan

dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi

daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak

diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat,

status social ekonomi, dan gender. Kurikulum meliputi substansi

komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan

diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan

kesinambungan yang bermakna dan tepat antar substansi.

Ketiga, tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan,

teknologi dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran

bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang berkembang secara

(55)

pengalaman belajar peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan

perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

Keempat, relevan dengan kebutuhan kehidupan.

Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan

stakeholdersuntuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan

kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia

usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan

pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan

akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.

Kelima, menyeluruh dan berkesinambungan. Substansi

kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian

keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara

berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan.

Keenam, belajar sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada

proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik

yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan

keterkaitan antar unsur-unsur pendidikan formal, nonformal, dan

informal dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan

yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.

Ketujuh, seimbang antara kepentingan nasional dan

kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan

memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk

Gambar

Tabel 3.1 Sarana dan Prasarana SMP Islam Sudirman 1 Bancak
Tabel 3.3 Sarana dan Prasarana SMP Islam Sudirman Bancak
Tabel 3.4 Sarana dan prasarana perlengkapan sekolah SMP Islam Sudirman 1 Bancak
Gambar 3.1 Bagan Struktur Organisasis SMP Islam Sudirman 1 Bancak Sumber: Dokumentasi SMP Islam Sudirman 1 Bancak
+2

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu kompetensi yang harus dimiliki seorang guru adalah kompetensi pedagogik yang berkaitan dengan pengelolaan pembelajaran.Guru Pendidikan Agama Islam (

Pertanyaan utama yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah (1) Bagaimana mekanisme pengelolaan zakat fitrah di Dusun Kaliwaru, Desa Tengaran, Kecamatan

Pertanyaan utama yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah pelaksanaan akad murabahah pada produk pembiayaan multibarang di BMT Anda

Pernyataan utama yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah (1) Bagaimana intensitas pelaksanaan shalat siswa di MTs Al Hadi Girikusumo Mranggen Demak?, (2)

Keterkaitan pengasuhan orang tua dengan perilaku keberagamaan seorang anak, dimana dalam penelitian ini study kasusnya terhadap siswa kelas VII SMP Islam Sudirman

improving students‟ reading comprehension skill for the 8 th grade students of Smp Islam Sudirman 1 Bancak?. 2) Whether any improvements of the students‟ reading comprehension

Pengamalan agama Islam siswa SMK Islam Sudirman Tingkir Salatiga berbeda-beda, dari data di atas dapat disimpulkan jika dikelompokan berdasarkan lingkungan tempat

Pertanyaan utama yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah bagaimana pertimbangan majelis hakim dalam menentukan putusan atas penentuan nafkah bagi istri dan