STRATEGI PENGEMBANGAN KOMPETENSI
PEDAGOGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
DI SMP ISLAM SUDIRMAN 1 BANCAK
KAB.SEMARANG TAHUN 2015
SKRIPSI
Diajukan untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan Islam
Oleh :
ISTIKHANA FAUZIYAH
NIM : 111 10 108
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SALATIGA
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
“
Saat Allah mengajarkan kebahagiaan bagiku ketenangan, saat Allah
mengajarkan kesedihan bagiku adalah perjuangan untuk selalu
istiqomah dijalan-
Nya”
PERSEMBAHAN
Skripsi ini penulis persembahkan kepada pihak-pihak yang mempunyai peranan penting dalam hidupnya
1. Ayahanda Muhtarom dan Ibunda Sulastri (almarhum) tercinta yang selalu memberikan dukungan baik moril maupun spiritual yang senantiasa berkorban dan berdoa demi tercapainya cita-cita penulis, semoga ibunda khusnul khotimah disisi Allah.. amin. Harapannya semoga ayahanda, selalu diberikan kesehatan jasmani dan rohaninya, dikaruniai rahmat dan hidayah oleh Allah Swt, ditetapkan Iman Islamnya dan kemudahan dalam menjalankan Ibadah, Hablum Minalallah dan Hablum Minannas dalam menjalankan sisa umurnya
2. Ananda Tomi Tohiron yang tiada henti mengucurkan kesabaran, kesetian dan ketulusannya untuk menemaniku dalam suka dan duka membuat hidupku ini seindah pelangi dengan cintanya.
ABSTRAK
Fauziyah, Istikhana. 2015. Strategi Pengembangan Kompetensi Pedagogi Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMP Islam Sudirman 1 Bancak Kab. Semarang Tahun 2015. Skripsi. Jurusan Tarbiyah. Program Studi Pendidikan Agama Islam. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: H. Maslikhah,S.Ag.,M.Si.
Kata Kunci: Strategi pengembangan dan kompetensi pedagogi
Penelitian ini merupakan strategi pengembangan untuk guru PAI dalam meningkatkan kompetensi pedagogi di SMP Islam Sudirman 1 Bancak Kab. Semarang. Pertanyaan utama yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah strategi pengembangan kompetensi pedagogi guru PAI di SMP Islam Sudirman 1 Bancak., dan (2) Apa faktor pendukung bagi guru PAI dalam mengembangkan kompetensi pedagogi di SMP Islam Sudirman 1 Bancak., (3) Apa faktor penghambat guru PAI dalam mengembangkan kompetensi pedagogi bagi di SMP Islam Sudirman 1 Bancak.,(4) Bagaiman upaya guru PAI untuk mengatasi hambatan dalam mengembangkan kompetensi pedagogi di SMP Islam Sudirman 1 Bancak.
Metode penelitian yang dilakukan peneliti yaitu melalui pendekatan penelitian deskriptif kualitatif dengan cara mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada di SMP Islam Sudirman 1 Bancak, kehadiran peneliti sebagai pengamat dan sebagai pengumpul data, dengan cara Wawancara serta Dokumentasi.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah dan taufiqnya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan skripsi ini. Sholawat serta salam kami haturkan kepada
junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW yang telah menuntun umatnya ke
jalan kebenaran dan keadilan.
Skripsi ini penulis susun dalam rangka memenuhi tugas dan melengkapi
syarat guna untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan. Adapun judul skripsi ini
adalah “STRATEGI PENGEMBANGAN KOMPETENSI PEDAGOGI GURU
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP ISLAM SUDIRMAN 1 BANCAK
KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2015”.
Penulisan skripsi ini tidak lepas dari berbagai pihak yang telah
memberikan dukungan moril maupun meteriil. Dengan penuh kerendahan hati,
penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) ,bapak Dr. Rahmat Hariyadi,
M.Pd.
2. Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Salatiga, bapak Suwardi,
M.Pd
3. Kepala Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Salatiga, ibu
Rukhayati, M.Pd.
4. Ibu Maslikhah, S.Ag., M.Si. selaku dosen pembimbing yang telah berkenan
tenaganya memberi bimbingan dan pengarahan yang sangat berguna sejak
awal proses penyusunan dan penulisan hingga terselesaikannya skripsi ini.
5. Ibu Muna Erawati, M. Si selaku dosen pembimbing akademik yang selalu
memberikan bimbingan dan pengarahan.
6. Segenap dosen dan karyawan IAIN Salatiga yang dengan sengaja maupun
tidak sengaja turut memperlancar proses penyusunan skripsi ini.
7. Bapak Mustakim, S.Pd.I selaku kepala sekolah SMP Islam Sudirman 1
Bancak yang telah memberikan izin, masukan dan bantuan untuk melakukan
penelitian.
8. Guru-guru di SMP Islam Sudirman 1 Bancak bapak Sunarto, ibu Ana
Mustagfiroh, ibu Siti Zulaikhah, ibu Ely Himawati yang telah meluangkan
waktu dan membantu pencarian data dalam penyusunan skripsi ini.
9. Anisa Alfi Nurjanah sahabat yang selalu menemani dalam suka maupun
duka.
10.Guru-guru yang berjuang di TK Bina Insani, Ibu Umi dan Ibu Muslikhah
yang selalu memberikan dukungan dalam penulisan skripsi.
11.Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu yang telah
membantu dalam penulisan skripsi ini.
Semoga amal mereka diterima sebagai amal ibadah oleh Allah SWT serta
mendapatkan balasan myang berlipat ganda amien. Penulis sadar bahwa dalam
penulisan ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnan. Oleh karena
membangun demi kesempurnaan penulisan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat
bermanfaat bagi penulis pada khususnya maupun pembaca pada umumnya dan
memberikan sumbangan bagi pengetahuan dunia pendidikan. Amin. . .amin ya
robbal„alamin.
Salatiga, 6 Januari 2015 Penulis,
DAFTAR ISI
PERSETUJUAN PEMBIMBING………... ii
LEMBAR PENGESAHAN KELULUSAN ……….. iii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN……….... iv
MOTTO PERSEMBAHAN……….. v
KATA PENGANTAR………... vi
ABSTRAK……….... ix
DAFTAR ISI……….... x
DAFTAR TABEL DAN GAMBAR………..……….. xiii
BAB 1 PENDAHULUAN………... 1
A. Latar Belakang Masalah……….... 1
B. Fokus Penelitian……….... 8
C. Tujuan Penelitian………... 8
D. Manfaat Penelitian………... 8
E. Definisi Operasional………... 9
F. Metode Penelitian………... 10
G. Sistematika Penulisan………... 16
BAB II LANDASAN TEORI………. 19
A.Strategi guru PAI... 19
1. Strategi... ... 19
2. Strategi guru PAI... 21
B.Kompetensi Pedagogi... 35
1. Pengertian kompetensi pedagogi... 35
2. Indikator kompetensi pedagogi... 37
3. Komponen kompetensi pedagogi... 50
4. Urgensi kompetensi pedagogi... 51
C.Strategi Pengembangan Kompetensi Pedagogi... 52
BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN... 59
A. Paparan data... 59
1. Letak Geografis SMP Islam Sudirman 1 Bancak... 59
2. Sejarah SMP Islam Sudirman 1 Bancak... 60
3. Visi dan Misi... 61
4. Profil... 62
5. Keadaan Sarana dan Prasarana... 63
6. Struktur Organisasi ... 64
7. Pembagian Kerja Guru... 65
8. Data Guru... 71
9. Keadaan Siswa... 72
B. Temuan Penelitian... 73
1. Profil Responden... 73
2. Temuan Penelitian... 75
BAB IV PEMBAHASAN...
A. Strategi pengembangan kompetensi pedagogi guru PAI di SMP
Islam Sudirman 1 Bancak...
B. Faktor pendukung dalam pengembangan kompetensi pedagogi
guru PAI di SMP Islam Sudirman 1 Bancak...
111
C. Faktor penghambat dalam pengembangan kompetensi pedagogi
guru PAI di SMP Islam Sudirman 1 Bancak
120
D. Upaya guru PAI untuk mengatasi hambatan dalam
pengembangan kompetensi pedagogi SMP Islam Sudirman 1
Bancak
122
BAB V PENUTUP... 124
A. Kesimpulan ... 124
B. Saran... 127
DAFTAR PUSTAKA……….. 128
DAFTAR TABEL DAN GAMBAR
Tabel 3.1 Letak geografis SMP Islam Sudirman 1 Bancak... 59
Gambar bagan 3.1 Struktur organisasi SMP Islam Sudirman 1 Bancak... 65
Tabel 3.2 Profil SMP Islam Sudirman 1 Bancak... 62
Table 3.3 Sarana prasarana SMP Islam Sudirman 1 Bancak ... 63
Table 3.4 Sarana prasarana pelengkap SMP Islam Sudirman 1 Bancak... 64
Table 3.5 Daftar guru dan staff pembantu SMP Islam Sudirman 1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Era modern dewasa ini perkembangan pendidikan berlangsung begitu
cepat yang mengakibatkan terjadi berbagai perubahan sesuai dengan tuntutan
dan kebutuhan masyarakat secara lokal maupun global. Pendidikan yang
bertujuan untuk mencerdaskan anak bangsa sehingga mampu bersaing dalam
taraf pendidikan di era global ini. Masyarakat yang sadar akan pentingnya
menghadapi tantangan masa yang akan datang, diharapkan berusaha untuk
membekali diri dengan berbagai ilmu pengetahuan.
Dalam hal ini guru merupakan pusat utama yang mempunyai tugas
mulia yang diharapkan mampu mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang
berkualitas. Guru sebagai pengawal peradaban harus terus berada pada
mainstream perubahan yang terjadi, bahkan menjadi lokomotif dan pelopor
perubahan pendidikan. Guru mampu menjadi figur inspiratif dan memberikan
motivasi bagi keberhasilan anak didik (Ma‟mur, 2009: 15).Dengan kata lain
guru dituntut mampu berkompetisi menjawab tantangan perubahan zaman.
Sekarang ini wacana profesionalisme guru menjadi perbincangan hangat di
kalangan masyarakat, seiring dengan tuntutan pendidikan di Indonesia yang
semakin meningkat.
Hamalik (2003: 34) berpendapat masalah kompetensi profesional guru
merupakan salah satu dari kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru
komponen yang paling menentukan dalam pendidikan secara keseluruhan
mau tidak mau guru dituntut mampu menguasai bahan ajar yang akan di
ajarkan kepada anak didik, bahkan dalam penyampaian bahan ajar guru harus
mampu menjadi sosok yang inspiratif.
Peran-peran guru profesional yang paling penting diingat adalah
bahwa guru yang secara langsung bertanggung jawab atas pengembangan
pendidikan dari begitu banyak fikiran dan jiwa muda. Semua sadar akan
adanya pengaruh sehari-hari guru pada muridnya dalam pembelajaran
langsung, membuat murid tertawa atau menangis, mengajari murid belajar
mandiri, menciptakan lingkungan yang peduli dan membantu, dan lebih
banyak lagi. Tetapi saat guru menjadi pelayan, murid mempunyai
karakteristik berbeda yang memungkinkan mereka bergerak keluar dari ruang
kelas, untuk mempengaruhi cara pengaturan lingkungan pendidikan
(Norlander, 2009: 151).
Mulyasa (2008:26) berpendapat kompetensi guru merupakan peraduan
antara kemampuan personal, keilmuan, teknologi, social, dan spiritual yang
secara kaffah membentuk kompetensi standar profesi guru, yang mencakup
penguasaan materi, pemahaman terhadap peserta didik, pembelajaran yang
mendidik, pengembangan pribadi dan profesional. Bukan hanya itu tugas
seorang guru tidak hanya menyampaikan ilmu yang diberikan, seorang guru
juga di harapkan memberikan perhatian penuh dalam etika moral dan spiritual
yang luhur serta dapat membakar semangat anak didik sehingga mereka dapat
Guru profesional semata-mata tidak hanya dituntut untuk mengusai
bidang ilmu tertentu, bahan ajar, metode pembelajarannya akan tetapi
memiliki keterampilan dan pengetahuan yang luas. Untuk menjadikan
seorang guru yang mempunyai profesionalitas dalam mengajar di kelas salah
satunya harus memenuhi kompetensi pedagogi. Menurut Mulyasa (2008: 75)
dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan pasal 28 ayat 3 butir a
dikemukakan bahwa kompetensi pedagogi adalah kemampuan mengelola
pembelajaran peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran,
evalusi hasil belajar, pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan
berbagai potensi yang dimilikinya.
Berdasarkan pengertian kompetensi pedagogi di atas, realitasnya
permasalahan guru di Indonesia masih banyak guru yang tidak menjalankan
profesiya secara keseluruhan maka dapat dikatakan kurang memahami
kompetensi pedagogi itu sendiri. Guru hanya memandang yang penting sudah
mengajar itu sudah dianggap menggugurkan kewajibannya. Selain itu, banyak
ditemukan di lapangan pada proses pembelajaran di kelas, guru dalam
penyampaian materi pembelajaran menggunakan metode yang monoton yang
biasa dikenal “bercerita” sehingga anak didik diibaratkan seperti gelas yang diisi air sampai penuh oleh gurunya. Seharusnya, kemampuan pedagogi juga
ditunjukkan dalam membantu, membimbing, dan memimpin peserta didik.
Kunandar (2011: 76) berpendapat bahwa kompetensi pedagogi
meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Kompetensi tersebut
belum dapat dikuasai secara baik oleh guru. Beberapa indikator menunjukkan
guru memiliki kinerja yang lemah. Mulyasa (2008: 9) menyebutkan antara
lain: rendahnya pemahaman tentang strategi pembelajaran, kurangnya
kemahiran dalam mengelola kelas, rendahnya kemampuan melakukan dan
memanfaatkan penelitian tindakan kelas (classroom action research),
rendahnya motivasi berprestasi, kurang disiplin, rendahnya komitmen profesi
serta rendahnya kemampuan manajemen waktu.
Menanggapi indikator tersebut, maka kompetensi pedagogi guru perlu
ditingkatkan melalui berbagai upaya. Harapan yang diinginkan kualitas
kinerja dan pencapaian target kualitas pembelajaran yang dihasilkan akan
meningkat. Selain itu seorang guru hendaknya mempunyai rasa ikhlas dan
mempunyai tanggung jawab moral dan intelektual. Sebagaimana, Islam
sangat menghargai orang-orang yang berilmu pengetahuan yang bertugas
sebagai pendidik dan Islam memuliakan mereka.
Sehubungan dengan kompetensi pedagogi guru, maka tugas dan
tanggung jawab guru di sekolah adalah sebagai pengajar, guru sebagai
pembimbing dan sebagai administrator kelas (Sujana, 2012:15). Guru harus
mempunyai kinerja profesional terutama dalam mendesain program
pengajaran dan melaksanakan proses belajar mengajar agar dapat
memberikan ”layanaan ahli” dalam bidang tugasnya sesuai dengan kemajuan
ilmu pengetahuan dan tekhnologi serta perkembangan masyarakat. Dengan
berfikir global (thinking globally), dan mampu bertindak lokal (acting
locally), serta dilandasi oleh akhlak yang mulia (akhlakul karimah).
SMP Islam Sudirman 1 Bancak Kab. Semarang sebagai salah satu
lembaga pendidikan Islam yang dipercaya oleh masyarakat mampu
menghasilkan out-put yang berkualitas dan berakhlakul karimah, sehingga
harus mampu mengembangkan SDM khususnya guru yang berkualitas dan
mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin berkembang terhadap
pendidikan.
Menjadikan seorang guru yang mempunyai profesionalitas dalam
kompetensi pedagogi di perlukan adanya pengembangan profesionalitas
kompetensi pedagogi guru. Sebuah lembaga pendidikan harus memiliki
strategi sebagai usaha awal yang menjadi tolok ukur yang kelak digunakan
lembaga pendidikan untuk mencapai tujuan.
Peningkatan dalam kompetensi pedagogi guru yang lebih luas
diperlukan strategi, yaitu keputusan kebijakan dari pihak sekolah maupun luar
sekolah dan tindakan kegiatan yang diwujudkan dalam lima ruang lingkup
yang terdapat dalam kompetensi pedagogi meliputi bentuk pengelolaan,
perencanaan dan pelaksanaan, evaluasi hasil serta perkembangannya yang
disusun untuk mencapai tujuan. Hal ini penting karena tanpa perencanaan dan
strategi yang tepat, tidak mustahil tujuan pendidikan akan sulit dicapai
bahkan mutu lembaga pendidikan semakin menurun tertinggal dari lembaga
Setelah mendapatkan data dari lapangan berdasarkan wawancara awal
dengan kepala sekolah dan waka kurikulum serta guru PAI di SMP Islam
Sudirman 1 Bancak usaha mengenai guru PAI dalam meningkatkan
kompetensi pedagogi guru memiliki prosedur antara lain: guru ikut serta
dalam organisasi guru PAI tingkat Sub Rayon (Kabupaten), mengikuti
MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran), dari pihak kepala sekolah selalu
memberikan pembinaan setiap minggu, pembinaan dari pengawas sekolah
akan tetapi pembinaan dari pengawas sekolah waktunya tidak tentu. Upaya
ini tidak memberikan hasil yang membanggakan. Kondisi ini ditandai dengan
masih lemahnya kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran peserta
didik. Kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran ini menyangkut
tiga fungsi manajerial yaitu perencanaan penetapan tujuan, kompetensi serta
memperkirakan cara penyampainnya, akan tetapi guru PAI di SMP Islam
Sudirman 1 Bancak masih mengabaikan hal tersebut, karena guru lebih fokus
dalam perencanaan pembelajaran padahal pengelolaan pembelajaran
berkaitan erat dengan perancangan pembelajaran. Perancangan
pembelajaran peserta didik merupakan pokok yang paling utama dalam
kompetensi pedagogi salah satunya guru harus mampu menyiapkan
kurikulum, silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) akan tetapi
guru PAI di SMP Islam Sudirman 1 Bancak memberikan alasan tentang
kurikulum yang masih berubah-ubah lebih jelasnya untuk pembelajaran
semester awal menggunakan kurikulum 2013 dan sekarang kembali lagi ke
RPP yang digunakan guru PAI di SMP Islam Sudirman 1 Bancak belum
sesuai standar karena mengandalkan dari format internet, untuk pelaksanaan
pembelajaran guru belum bisa menyesuaikan dengan apa yang direncanakan
dalam RPP. Media yang dapat menunjang proses pembelajaran belum
memadai serta masih lemahnya guru dalam mengoperasikan teknologi, selain
itu buku yang dapat menunjang proses pembelajaran tidak semua peserta
didik memiliki. Sedangkan untuk evalusi hasil belajar peserta didik guru
terkadang tidak sesuai dengan yang ditetapkan di kalender
pendidikan/kalender akademik, serta pengembangan bagi peserta didik dari
gurunya sendiri belum menguasai.
Oleh karena itu, perlu perbaikan sejak dini terhadap peningkatan
kualitas seorang guru di dunia pendidikan. Guru sebagai seorang pendidik
dalam pembelajaran maka perlu ditumbuhkan kesadaran bahwa kompetensi
pedagogi sangat menentukan keberhasilan anak didik di dalam kelas. Maka
diharapkan hendaklah seorang guru selalu berusaha untuk memulai dirinya
sendiri dengan hal-hal yang baru yang dapat menambah penguasaan bidang
studinya. Guru kurang memiliki kesadaran pentingnya strategi untuk
mencapai tujuan, semangat/motivasi, guru memiliki hambatan personal dan
profesional, guru memiliki kelebihan sebagai pendukung mencapai tujuan
tetapi guru tidak mengetahui kelebihan yang dimiliki.
Berdasarkan uraian tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP ISLAM SUDIRMAN 1
BANCAK KAB. SEMARANG TAHUN 2015”.
B. Fokus Penelitian
Dalam penulisan penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup
permasalahan agar mempermudah dalam penulisan penelitian sehingga
terarah sesuai tujuan dan kegunaan dari penelitian tersebut. Ruang lingkup
permasalahan ini yaitu Bagaimana strategi pengembangan kompetensi
pedagogi guru PAI di SMP Islam Sudirman 1 Bancak Kab. Semarang tahun
2015?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan dari rumusan masalah di atas, maka dapat ditetapkan
tujuan penelitian ini untuk mengetahui strategi pengembangan kompetensi
pedagogi guru PAI di SMP Islam Sudirman 1 Bancak Kab. Semarang Tahun
2015.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoretis
Menambah khasanah dunia pustaka tentang strategi peningkatan
kompetensi pedagogi guru Pendidikan Agama Islam (PAI).
2. Manfaat Praktis
a. Guru
Memberikan masukan pada dunia pendidikan khususnya bagi
guru SMP Islam Sudirman 1 Bancak Kab. Semarang tentang
mencapai keberhasilan peserta didik secara maksimal di dalam kelas.
Dengan demikian guru adalah faktor yang paling menentukan dalam
proses pembelajaran di kelas.
b. Sekolah
Bagi pihak lembaga khususnya SMP Islam Sudirman Bancak,
adalah dengan penelitian ini dapat memberikan gambaran untuk
meningkatkan kompetensi pedagogi, sehingga nantinya dapat
dijadikan sebagai bahan masukan untuk menambah kualitas
kompetensi guru dan memberikan sumbangan pemikiran tentang
pengembangan dalam meningkatkan kompetensi pedagogi guru. Serta
sebagai bahan informasi terhadap SMP Islam Sudirman 1 Bancak
dalam merencanakan strategi pengembangan kompetensi pedagogi
guru untuk mencapai tujuan secara optimal dimasa sekarang dan masa
yang akan datang.
E. Definisi Operasioal
Agar penelitian tidak menyimpang terlalu jauh dan dapat terarah dengan
baik dari tujuan yang di harapkan maka perlu adanya definisi istilah sebagai berikut:
1. Strategi
Strategi dalam Kamus Bahasa Indonesia (2007:1092) adalah rencana cermat
mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Dalam penelitian ini strategi
adalah suatu rencana yang disusun secara tepat agar mencapai tujuan yang
diinginkan dalam proses pembalajaran.
Kompetensi berarti suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau
kemampuan seseorang, baik yang kulitatif maupun kuantitatif. (Mujtahid, 2009:
55). Mulyasa berpendapat (2008: 75 ) dalam Standar Nasional Pendidikan,
penjelasan pasal 28 ayat 3 butir a dikemukakan bahwa kompetensi pedagogi
adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi
pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan
pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Jadi kompetensi pedagogi merupakan kemampuan yang harus dimiliki
oleh seorang guru agar dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif dan
sesuai dengan tujuan pembelajaran.
F. Metode Penelitian
1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini merupakan field research dengan menggunakan pendekatan
kualitatif. Milles dan Michael (1992: 2) mengemukakan bahwa penelitian
kualitatif akan mendapatkan data kualitatif yang sangat menarik, memiliki
sumber dari yang luas dan berlandasan kokoh, serta memuat penjelasan tentang
proses-proses yang terjadi dalam lingkup setempat. Bog dan Taylor dalam
Moleong (2008: 4) mendefinisikan metodologi kualitatif adalah sebagai
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis
atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini
diarahkan pada latar dan individu tersebut secara utuh. Jadi, dalam hal ini tidak
boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variable atau hipotesis,
Dengan demikian peneliti dalam melakukan penelitian ini menggunakan
pendekatan penelitian kualitatif deskriptif yaitu menggambarkan bagaimana
strategi pengembangan kompetensi pedagogi guru Pendidikan Agama Islam
(PAI) di SMP Islam Sudirman Bancak Kab. Semarang, faktor pendukung dan
faktor penghambat bagi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam
mengembangkan kompetensi pedagogi di SMP Islam Sudirman 1 Bancak Kab.
Semarang untuk serta upaya guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMP Islam
Sudirman 1 Bancak Kab. Semarang mengatasi hambatan dalam
mengembangkan kompetensi pedagogi.
2. Subjek Penelitian
Mulyana berpendapat (2004: 187 ) subjek Penelitian yang biasa digunakan
dalam penelitian kualitatif adalah dengan nonprobability sampling yaitu tekhnik
purposive sampling (sampel bertujuan). Berdasarkan pengertian di atas, maka
peneliti menentukan subyek secara sampling purposive yang meliputi guru SMP
Islam Sudirman 1 Bancak Kab. Semarang.
3. Lokasi Penelitian
Sesuai judul penelitian, lokasi penelitian dilaksanakan di SMP Islam
Sudirman 1 Bancak Kab. Semarang.
4. Sumber Data
a. Data Primer
Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari lapangan
atau tempat penelitian. Kata-kata dan tindakan merupakan sumber data
Peneliti menggunakan data ini untuk mendapatkan informasi secara
langsung tentang strategi pengembangan kompetensi pedagogi guru
PAI, faktor pendukung dan faktor penghambat dalam mengembangkan
kompetensi pedagogi guru PAI serta upaya guru PAI mengatasi
hambatan dalam mengembangkan kompetensi pedagogi di SMP Islam
Sudirman 1 Bancak Kab. Semarang. Adapun sumber data langsung
peneliti dapatkan dari hasil wawancara dengan kepala sekolah, wakil
kepala (waka) kurikulum, dan guru Pendidikan Agama Islam.
b. Data Sekunder
Data sekunder yaitu data yang didapat dari sumber bacaan dan
berbagai macam sumber lainnya yang terdiri dari surat-surat pribadi dan
dokumen resmi dari instansi. Peneliti menggunakan data sekunder ini untuk
memperkuat hasil temuan dan melengkapi informasi yang telah
dikumpulkan melalui wawancara dan pengamatan.
Arikunto (2010: 107) berpendapat bahwa sumber data dengan tiga
(3) P, yaitu person, paper, place. Person terdiri dari kepala sekolah, wakil
kepala (waka) kurikulum dan guru yang membidangi mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam (PAI). Paper dengan meneliti tentang administrasi
kurikulum, dan place yaitu tempat di SMP Islam Sudirman 1 Bancak Kab.
Semarang.
5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu metode wawancara
tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematis dan berdasarkan kepada
tujuan penyelidikan (Hadi, 1990: 193).
Berdasarkan uraian tersebut, metode wawancara digunakan untuk
mendapatkan data tentang strategi pengembangan kompetensi pedagogi, guru
PAI, faktor pendukung dan faktor penghambat dalam mengembangkan
kompetensi pedagogi guru PAI serta upaya guru PAI mengatasi hambatan dalam
mengembangkan kompetensi pedagogi di SMP Islam Sudirman 1 Bancak Kab.
Semarang. Strategi pengembangan kompetensi pedagogi meliputi komponen
pada pengelolaan pembelajaran, perancangan dan pelaksanan pembelajaran,
evaluasi hasil belajar dan pengembangan pesera didik.
Peneliti melakukan wawancara yang mendalam untuk mendapatkan
informasi yang akurat. Wawancara ini peneliti menggunakan pedoman
wawancara semi structured karena bentuk wawancara ini tidak membuat kaku,
melainkan lebih bebas dan luwes dalam melakukan wawancara (Yusuf,
2003:87). Meskipun demikian, peneliti tetap menggunakan pedoman
wawancara yang berisi tentang strategi pengembangan kompetensi pedagogi
guru PAI, faktor pendukung dan faktor penghambat guru PAI dalam
mengembangkan kompetensi pedagogi serta upaya guru PAI mengatasi
hambatan dalam mengembangkan kompetensi pedagogi di SMP Islam Sudirman
1 Bancak Kab. Semarang. Pedoman wawancara tersebut yang digunakan peneliti
untuk mengajukan pertanyaan dengan informan. Untuk mendapatkan data yang
penting, peneliti memanfaatkan handphone untuk merekam hasil wawancara
dengan informan.
Tahapan-tahapan penelitian ini ada tiga tahapan dan ditambah dengan
tahap terakhir penelitian yaitu tahap penulisan laporan hasil penelitian.
Tahap-tahap penelitian tersebut adalah (1) Tahap-tahap pralapangan, yang meliputi
menyusun rancangan penelitian, memilih lapangan penelitian, mengurus
perizinan, menjajaki dan menilai keadaan lapangan, memilih dan memanfaatkan
informan, menyiapkan perlengkapan penelitian dan menyangkut persoalan etika
penelitian; (2) tahap pekerjaan lapangan, yang meliputi memahami latar
penelitian dan persiapan diri, memasuki lapangan dan berperan-serta sambil
mengumpulkan data, (3) tahap analisis data, yang meliputi analisis selama dan
setelah pengumpulan data; (4) tahap penulisan hasil laporan penelitian
7. Pengecekan Keabsahan Data
Menurut Moleong (2000:173) pengecekan keabsahan data yang
digunakan didasarkan pada empat kriteria yaitu derajat kepercayaan
(credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability), dan
kepastian (confirmability).
Uji derajat kepercayaan (credibility) dilakukan dengan cara melakukan
pembandingan antara data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
Keteralihan (transferability) membandingkan pendapat yang dikatakan orang di
depan umum dengan yang dikatakan orang secara individual.
Kebergantungan (dependability) dilakukan untuk mengetahui situasi
dalam penelitian dengan keadaan yang akan terjadi secara terus menerus.
Kepastian (confirmability) dilakukan untuk membandingkan hasil wawancara
8. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN : memuat tentang latar belakang
masalah rumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian,
definisi operasional, metode
penelitian dan sistematika
penulisan skripsi.
BAB II LANDASAN TEORI : memuat tentang strategi
pembelajaran yang memuat
definisi, sejarah istilah strategi,
macam strategi, definisi strategi,
sejarah strategi, definisi guru,
pengertian guru, tugas guru,
Pendidikan Agama Islam, definisi
kompetensi pedagogi, indikator
kompetensi pedagogi, komponen
kompetensi pedagogi, urgensi
kompetensi pedagogi, serta strategi
pengembangan kompetensi
pedagogi bagi guru Pendidikan
Agama Islam (PAI).
temuan penelitian yang meliputi:
gambaran umum SMP Islam
Sudirman Bancak 1 Kab.
Semarang (letak geografis, sejarah
berdiri, profil, visi, misi dan
tujuan, keadaan guru, karyawan
dan siswa serta sarana dan
prasarana), strategi pengembangan
kompetensi pedagogi guru PAI di
SMP Islam Sudirman Bancak 1
Kab. Semarang, faktor-faktor
pendukung dan penghambat guru
PAI dalam mengembangan
kompetensi pedagogi SMP Islam
Sudirman Bancak 1 Kab.
Semarang serta upaya guru PAI
untuk mengatasi hambatan dalam
mengembangkan kompetensi
pedagogi di SMP Islam Sudirman
Bancak 1 Kab. Semarang.
mengenai strategi pengembangan
kompetensi pedagogi guru PAI
dalam di SMP Islam Sudirman 1
Bancak Kab. Semarang,
faktor-faktor pendukung dan faktor
penghambat bagi guru PAI dalam
mengembangkan kompetensi
pedagogi SMP Islam Sudirman
Bancak 1 Kab. Semarang serta
upaya guru PAI untuk mengatasi
hambatan dalam mengembangkan
kompetensi pedagogi di SMP
Islam Sudirman Bancak 1 Kab.
Semarang.
BAB V PENUTUP : memuat tentang kesimpulan dan
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
G. Strategi Guru Pendidikan Agama Islam
1. Strategi
a. Definisi Strategi
1) Strategi Menurut Bahasa
Istilah strategi (strategy) berasal dari “kata benda” dan “kata kerja”
dalam bahasa Yunani. Sebagai kata benda, strategos merupakan
gabungan kata stratos (militer) dengan “ago” (memimpin). Sebagai kata kerja, stratego berarti merencanakan (to plan) (Majid, 2014a: 3). Selain
itu strategi dari kata Yunani, juga dinamakan srategia yang berarti ilmu
perang atau panglima perang.
Strategi adalah suatu seni merancang operasi di dalam peperangan,
seperti cara-cara mengatur posisi atau siasat berperang, angkatan darat
atau laut. Strategia juga dapat diartikan sebagai suatu keterampilan
mengatur kejadian atau peristiwa (Hardini, 2012:11).
2) Strategi menurut Istilah
Strategi dalam Kamus Bahasa Indonesia (2007:1092) adalah
rencana cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.
Menurut kamus The American heritage Dictionary dalam Madjid
(2014a: 3) mengemukakan bahwa strategy is the science or art of
Madjid (2014a:3) mendefinisikan strategi adalah suatu pola yang
direncanakan dan ditetapkan secara sengaja untuk melakukan kegiatan
atau tindakan. Strategi mencakup tujuan kegiatan, siapa yang terlibat
dalam kegiatan, isi kegiatan, proses kegiatan, dan sarana yang
menunjang kegiatan.
Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis
besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah
ditentukan. Berkaitan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan
sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam
perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujaun yang
telah digariskan (Hardini dan Puspita, 2012:11).
Strategi dalam penelitian ini adalah suatu rencana yang disusun
secara tepat agar mencapai tujuan yang diinginkan dalam proses
pembelajaran.
b. Sejarah Istilah Strategi
Istilah strategi pada awalnya digunakan dalam dunia militer yang
diartikan sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk
memenangkan suatu peperangan. Sekarang, istilah strategi banyak
digunakan dalam berbagai bidang kegiatan yang bertujuan memperoleh
kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan tercapai (Majid,
2014a:3).
Sebuah peperangan atau pertempuran, terdapat seseorang
(komandan) yang bertugas mengatur strategi untuk memenangkan
pasukan perang), semakin besar kemungkinan untuk menang. Sebuah
perang disusun dengan mempertimbangkan medan perang, kekuatan
pasukan, perlengkapan perang dan sebagainya. Seiring berjalannya waktu,
istilah “strategi” di dunia militer tersebut diadopsi ke dalam dunia
pendidikan. Konteks pendidikan, strategi digunakan untuk mengatur siasat
agar dapat mencapai tujuan dengan baik. Dengan kata lain, strategi dalam
konteks pendidikan dapat dimaknai sebagai perencanaan yang berisi
serangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan
(Suyadi, 2013: 13).
2. Strategi Guru Pendidikan Agama Islam (PAI)
a. Strategi Kompetensi Pedagogi
Upaya peningkatan kompetensi guru khususnya kompetensi
pedagogi harus dilakukan oleh semua pihak, baik dari guru maupun kepala
sekolah/lembaga pendidikan. Maka, ada dua upaya peningkatan
kompetensi pedagogi guru yang sangat mempengaruhi satu sama lain,
yaitu upaya yang dilakukan guru dan upaya yang dilakukan oleh kepala
sekolah/lembaga pendidikan yang bersangkutan.
Upaya peningkatan kompetensi pedagogi guru di sekolah dalam
proses belajar mengajar antara lain:
1) Guru mengikuti organisasi-organisasi keguruan.
2) Mengikuti kursus kependidikan
Upaya Lembaga Pendidikan/ Kepala Sekolah dalam
meningkatkan kompetensi pedagogi guru:
(b) Mengadakan Penataran Guru.
(c) Memotivasi Guru untuk Membuat Karya Tulis Ilmiah
(d) Memberikan Penghargaan (rewards)
(e) Mengadakan Supervisi
(f) Mengadakan Rapat Sekolah (Anisa, Jurnal Administrasi
Pendidikan: 2014)
Menurut Hendyat dalam skripsi Afifah (2010:14-16) untuk
mengembangkan profesi guru, ada dua jalan yang dapat ditempuh, yaitu
melalui pengembangan diri guru itu sendiri dan melalui pengembangan
secara lembaga.
1) Pengembangan Diri
Ada beberapa cara dan usaha yang dapat dilakukan oleh guru
dalam mengembangkan profesinya, antara lain: berusaha memahami
tujuan pendidikan dan pengajaran secara jelas dan konkrit, berusaha
memahami dan memilih bahan pengajaran sesuai tujuan. Agar profesi
guru dapat dikembangkan maka harus berusaha memahami problem
minat, dan kebutuhan dalam proses belajar subyek didik,
mengorganisasi bahan dan pengalaman belajar, berusaha memahami,
menyeleksi, dan menerapkan metode pembelajaran, berusaha
memahami dan sanggup membuat, mendayagunakan berbagai alat
pelajaran.
Dimana guru harus berusaha membimbing dan mendorong
kemajuan pertumbuhan dan perkembangan belajar subyek didik, mampu
Guru sebaiknya mengadakan penilaian diri sendiri (self evaluation)
untuk melihat kekurangan dan keberhasilan pelaksanaan tugasnya,
berusaha membaca-baca buku-buku yang relevan dengan tugas
profesinya (professional reading), berusaha mengembangkan diri dengan
menulis karya ilmiah di berbagai media (professional writing).
Guru yang ingin menambah wawasannya maka guru mengadakan
pertemuan antar sejawat dan dengan ahli lain dalam mengembangkan
wawasan keilmuan dan wawasan proses dan strategi pembelajaran
(individual conference), berusaha melakukan percobaan-percobaan atau
inovasi yang ditemukan atau strategi pembelajaran baru.
2) Pengembangan Kelembagaan
Pengembangan kelembagaan dalam hal ini dimana guru itu harus
berusaha mengembangkan profesinya agar dapat bekerja secara profesional
dengan cara yaitu penugasan guru-guru dalam bidang tugasnya dan dalam
mengikuti pertemuan-pertemuan pertumbuhan jabatan (assigment of
teacher), kegiatan dan pertemuan dalam organisasi profesional (professional
organization).
Apabila guru mengikuti pertemuan-pertemuan, guru akan bertambah
pengalamannya dan bisa terlibat secara langsung dalam suatu lembaga atau
intervisitation (perlibatan dalam kepanitiaan-kepanitiaan), mengajar yang
didemonstrasikan (demonstration teaching), kunjungan kelembagaan atau
instansi/ tempat yang dapat dijadikan medan studi bagi para guru dan
Adanya kunjungan tersebut menjadikan guru lebih paham untuk
mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya sesuai dengan
kemampuannya dengan cara mengembangkan curriculum laboratory
(laboratorium yang dirancang untuk mengembangkan pengetahuan dan
kemampuan dalam rangka aplikasi kurikulum dalam proses pembelajaran) dan
professional library (disediakan perpustakaan agar didayagunakan oleh guru
untuk mengembangkan profesinya).
Demikian juga dengan sharing of experiences (tukar menukar
pengalaman antar guru yang penyelenggaraannya dirancang oleh lembaga
atau atas inisiatif guru-guru sendiri), workshop (lokakarya yang
diselenggarakan dengan maksud meningkatkan profesi guru), panel discussion
guru mengikuti diskusi panel diberbagai kesempatan), symposium
(guru-guru mengikuti symposium diberbagai kesempatan).
Salah satu lembaga yang biasa diikuti oleh guru PAI adalah
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). MGMP adalah “wadah kegiatan
professional untuk membina hubungan kerjasama secara koordinatif dan
fungsional antara sesama guru yang bertugas di SMP, SMA, MTs maupun MA”
sesuai dengan instansi pendidikan masing-masing. Pengertian yang lain MGMP
adalah wadah tempat kegiatan para anggota MGMP untuk melaksanakan
musyawarah dalam upaya peningkatan kemampuan dan keterampilan
mengajar. Pada MGMP ini guru dapat berdiskusi untuk mencari solusi dalam
memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam pengelolaan kegiatan
belajar. (MGMP PAI KOTA KEDIRI, http//:mgmpkediri.wordpress.com download
MGMP intinya adalah musyawarah sebagai proses interaksi edukatif.
Prinsip musyawarah ini sangat ditekankan dalam islam sehingga harus
senantiasa di tegakkan, karena dengan musyawarah itulah, manusia saling
memberi kesempatan dan saling menerima pendapat, sekaligus sebagai
pemenuhan hak-hak sesama manusia. Untuk itu, Allah berfirman dalam QS:3
(Ali imran);159 :
Artinya:…, “dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan
itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawak kallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.(Q.S. Ali Imran :159)
Ayat tersebut menekankan pentingnya musyawarah dalam segala
urusan, termasuk MGMP sebagai suatu wadah bagi para guru untuk saling
bertukar pikiran, pengalaman dan dapat digunakan untuk berdiskusi dalam
rangka memecahkan berbagai persoalan yang berkaitan dengan tugas guru
khususnya permasalahan didalam kelas, dan disinilah guru bisa dengan mudah
dapat menemukan pengetahuan yang dapat membantu dalam pelaksanaan
tugas secara lebih efektif.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
MGMP adalah suatu lembaga yang anggotanya adalah semua guru mata
pelajaran di suatu daerah berdasarkan instansi pendidikan yang diampunya,
juga sebagai wadah untuk bersaling tukar pikiran dan memecahan masalah
yang ada sehingga lebih mudah dapat menemukan solusinya yang dapat
membantu dalam pelaksanaan tugas secara lebih efektif.
Guru yang sudah mengikuti banyak kelembagaan maka bisa
majalah atau surat kabar, penyelenggaraan kursus-kursus, pemyelenggaraan
penataran-penataran, konseling yang diberikan kepada guru baik secara
individual maupun secara kelompok, pertemuan umpan balik bergelombang
berdasarkan pada masalah dan tema yang telah diberikan sebelumnya,
pengembangan progaram testing dan pola-pola baru secara bersama,
penyenggaraan penelitian-penelitian yang diikuti oleh para guru.
b. Definisi Guru
1) Pengertian Guru
Guru merupakan komponen yang paling menentukan dalam
system pendidikan secara keseluruhan, yang harus mendapat
perhatian sentral, pertama dan utama. Guru mempunyai peranan
penting di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Masyarakat akan
mengalami kemajuan dan pembaharuan dari masa ke masa, karena
masyarakat akan bersaing untuk menggapai taraf kehidupan yang
lebih baik. Sehingga guru sangat dibutuhkan dalam kehidupan
masyarakat karena guru dapat memberikan pencerahan, kemajuan
pola pikir masyarakat menjadi lebih maju.
Bahri (2005:31) mengemukakan guru dalam pandangan
masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di
tempat-tempat tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan formal, tetapi
bisa di masjid, di surau/mushola, di rumah, dan lain sebagainya.
Guru menempati kedudukan terhormat di masyarakat.
Kewibawaanlah yang menyebabkan guru dihormati, sehingga
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:330), guru
adalah orang yang pekerjaan, mata pencaharian atau profesinya
mengajar.
Usman (1998:5) mengungkapkan guru adalah jabatan atau
profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Pekerjaan
ini bisa dilakukan oleh orang yang tidak memiliki keahlian untuk
melakukan kegiatan atau pekerjaan sebagai guru. Untuk menjadi
guru diperlukan syarat-syarat tertentu, apalagi sebagai guru yang
professional harus menguasai betul seluk-beluk pendidikan dan
pengajaran dengan berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang perlu
dibina dan dikembangkan melalui masa pendidikan tertentu atau
pendidikan pra-jabatan. Oleh karena itu, guru menempati
komponen paling utama dalam kegiatan profesi di sekolah formal
maupun non formal.
Guru (dalam bahasa jawa) adalah seseorang yang harus
digugu dan harus ditiru oleh semua muridnya. Harus digugu artinya
segala sesuatu yang disampaikan olehnya senantiasa dipercaya dan
diyakini sebagai kebenaran oleh semua muridnya. Segala ilmu
pengetahuan yang datangnya dari sang guru dijadikan sebagai
sebuah kebenaran yang tidak perlu dibuktikan atau diteliti lagi.
Seorang guru juga harus ditiru, artinya seorang guru menjadi suri
tauladan bagi semua muridnya. Mulai dari cara berpikir, cara
Dalam proses pembelajaran di kelas guru adalah sentral
yang menentukan, merancang, melaksanakan sera mengevaluasi
kegiatan belajar mengajar sehingga dapat mencapai tujuan
pembelajaran karena guru langsung berhadapan dengan pesera
didik.
2) Tugas Guru
Guru dalam Islam adalah orang yang bertanggung jawab
terhadap perkembangan anak didik dengan mengupayakan seluruh
potensinya, baik potensi afektif, potensi kognitif, maupun
psikomotorik. Guru berarti bertanggung jawab dalam
perkembangan jasmani dan ruhanianya agar mencapai tingkat
kedewasaan, serta mampu berdiri sendiri dalam memenuhi
tugasnya sebagai hamba Allah.
Allah berfirman dalam Q.S, Ali Imran 3;164:
Sesunguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa mereka, dan mengajarkan mereka al-kitab dan al-hikmah. Dan sesungguhnya sebelum kedatangan Nabi itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Berdasarkan ayat di atas, dapat ditarik kesimpulan tugas
utama menurut ayat tersebut antara lain:
a) Penyucian, yakni pengembangan, pembersihan dan pengangkatan
jia kepada pencipta-Nya, menjauhkan diri dari kejahatan dan
b) Pengajaran, yakni pengalihan berbagai pengetahuan dan akidah
kepada akal dan hati kaum Muslim agar mereka merealisasikan
dalam tingkah laku kehidupan (Nurdin,2010:128).
Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa tugas guru dalam
Islam tidak hanya mengajar dalam kelas, tetapi juga sebagai norm
dragger (pembawa norma) agama di tengah-tengah masyarakat.
Guru mempunyai kekuasaan untuk membentuk dan membangun
kepribadian anak didik menjadi seseorang yang berguna bagi
agama, nusa, dan bangsa.
Tugas guru tidak hanya sebagai suatu profesi akan tetapi
juga mempunyai tugas dalam pengabdian antara lain (Bahri,
2005:37):
a) Tugas guru sebagai suatu profesi antara lain mendidik, mengajar,
dan melatih anak didik. Mendidik berarti meneruskan dan
mengembangkan nilai-nilai hidup kepada anak didik. Tugas guru
sebagai pengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu
pengetahuan dan teknologi kepada anak didik. Sedangkan tugas
guru sebagai pelatih berarti mengembangkan ketrampilan dan
menerapkannya dalam kehidupan demi masa depan anak didik.
b) Tugas guru dalam kemanusiaan, guru harus terlibat dalam
kehidupan di masyarakat dengan interaksi social. Guu harus
menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada anak didik. Dengan
begitu anak didik dididik agar mempunyai sifat kesetiakawanan
c) Tugas guru dalam kemasyarakatan, guru mempunyai tugas
mendidik dan mengajar masyarakat untuk menjadi warga negara
Indonesia yang bermoral Pancasila.
Oleh karena itu, tugas guru tidak hanya bertanggung jawab
di lingkungan sekolah saja, tetapi guru juga mempunyai tugas
dalam pengabdian kemanusiaan, kemasyarakatan.Sehingga guru
sebagai konjungsi (penghubung) antara sekolah dan masyarakat.
c. Pendidikan Agama Islam
1) Pengertian Pendikan Agama Islam
Islam adalah ketetapan Allah yang diturunkan melalui nabi
Muhammad SAW untuk disampaikan kepada umatnya di muka bumi
agar mereka beribadah kepada-Nya. Penanaman kepada Tuhan hanya
bisa dilakukan melalui proses pendidikan di rumah, di sekolah, maupun
di lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, Pendidikan Agama Islam
berperan penting dalam mendukung kebutuhan manusia sehingga
mampu melahirkan manusia yang menjadi khalifah di bumi ini.
Menurut Baharuddin Pendidikan Agama Islam adalah usaha
sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal,
memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran Islam, dibarengi
dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam
hubungannya dengan kerukunan antar-umat beragama hingga terwujud
kesatuan dan persatuan bangsa (Baharuddin, 2010:192)
Menurut Majid Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan
menghayati, hingga mengimani, bertakwa, dan berakhlak mulia dalam
mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci
Al-Qur’an dan Al-Hadis, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan,
serta penggunaan pengalaman (Majid, 2014b:11).
Daradjat mengemukakan dalam Madjid (2014b:12) Pendidikan
Agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta
didik agar senantiasa dapat memahami kandungan ajaran Islam secara
menyeluruh, menghayati makna tujuan, yang pada akhirnya dapat
mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup (way of
life).
Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa
Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha yang dilakukan untuk
membentuk manusia sesuai kodratnya sebagaimana yang terkandung
dalam Al-Qur’an yaitu sebagai khalifah di muka bumi sesuai dengan
ajaran Agama Islam.
2) Tujuan dan Fungsi Pendidikan Agama Islam
Tujuan pendidikan agama Islam pada hakikatnya sama dan
sesuai dengan tujuan diturunkannya agama Islam yaitu untuk
membentuk manusia yang muttaqin yang rentangnya berdimensi
infinitium (tidak terbatas menurut jangkauan manusia), baik secara
lincar maupun secara algoritmik (berurutan secara logis). Adapun tujuan
pendidikan agama Islam antara lain:
a) Membentuk manusia Muslim yang dapat melaksanakan ibadah
b) Membentuk manusia Muslim yang, disamping dapat melaksanakan
ibadah mahdah, juga dapat melaksanakan ibadah muamalah dalam
kedudukannya sebagai anggota masyarakat.
c) Membentuk warga negara yang bertanggung jawab kepada Allah,
penciptanya.
d) Membentuk dan mengembangkan tenaga professional yang siap dan
terampil atau setengah terampil untuk memungkinkan memasuki
teknostruktur masyarakat.
e) Mengembangkan tenaga ahli di bidang ilmu (agama dan ilmu-ilmu
Islami lainnya (Bahruddin,2010: 192-193)
Menurut kurikulum PAI fungsi Pendidikan Agama Islam di
sekolah/madrasah bertujuan menumbuhkan dan meningkatkan
keimanan melalui pemberian dan memupukkan pengetahuan,
penghayatan, pengalaman peserta didik tentang Agama Islam sehingga
menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan,
ketakwaan, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan
pada jenjang yang lebih tinggi (Majid,2014b:16).
Pendidikan Agama Islam untuk sekolah/ madrasah berfungsi
sebagai berikut:
(a) Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan
peserta didik kepada Allah Swt. Yang telah ditanamkan dalam
lingkungan keluarga. Pada dasarnya dan pertama-tama kewajiban
menanamkan keimanan dan ketakwaan dilakukan oleh setiap orang
kembangkan lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan,
pengajaran, dan pelatihan agar keimanan dan ketakwaan tersebut
dapat berkembang secara optimal sesuai dengan berkembang secara
optimal sesuai dengan tingkat perkembangan.
(b) Penanaman niali, sebagai pedoman hidup mencari kebahagiaan
hidup dunia dan akhirat.
(c) Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dapat
mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam.
(d) Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan,
kekurangan-kekurangan, dan kelemahan-kelemahan peserta didik
dalam keyakinan, pemahaman, dan pengalaman ajaran dalam
kehidupan sehari-hari.
(e) Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari
lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan
dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia
Indonesia seutuhnya.
(f) Pengajaran tentang ilmu pengetahuan kegamaan yang secara umum
(alam nyata dan nirmyata), sistem dan fungsionalnya.
(g) Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat
khusus di bidang Agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang
secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri
Oleh karena itu, Pendidikan Agama Islam sangat penting
keberadaannya karena Pendidikan Agama Islam merupakan suatu upaya
atau proses, pencarian, pembentukan, dan pengembangan sikap dan
perilaku untuk mencari, mengembangkan, memelihara, serta
menggunakan ilmu dan perangkat teknologi atau keterampilan demi
kepentingan manusia sesuai ajaran Islam.
H. Kompetensi Pedagogi
1. Pengertian Kompetesi pedagogi
Kompetensi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan) sesuatu
(KBHI, 1989: 453). Kompetensi utama yang harus dimiliki guru agar
pembelajaran yang dilakukan efektif dan dinamis adalah kompetensi
pedagogi. Guru harus belajar secara maksimal untuk menguasai
kompetensi pedagogi secara teori dan praktik (Ma‟mur, 2009:59).
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005
tentang Guru dan Dosen, pasal 10 dijelaskan bahwa: “ yang dimaksud
kompetensi pedagogi adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta
didik (Redaksi, 2006:44). Sedangkan Kompetensi pedagogi yang
dijelaskan dalam standar nasional pendidikan pasal 28 ayat (3) butir a
bahwa Kompetensi pedagogi adalah kemampuan mengelola pembelajaran
peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik,
perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan
pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi
Kompetensi pedagogi juga dapat diartikan tentang pemahaman guru
terhadap anak didik, perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi
hasil belajar, dan pengembangan anak didik untuk mengaktualisasikan
sebagai potensi yang dimilikinya (Wibowo dan Hamrin, 2012:110).
Menurut Permendiknas nomor 17 tahun 2007, kompetensi pedagogi
guru mata pelajaran terdiri atas 37 buah kompetensi yang dirangkum
dalam 10 kompetensi antara lain:
a. Menguasai karakteristik peserta ddidik dari aspek fisik, moral, spiritual,
sosial, kultural, emosional, dan intelektual;
b. Menguasai teori balajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik
c. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajran yang
diampu;
d. Menyelenggarkan kurikulum pembelajaran yang mendidik;
e. Memanfaatkan tekhnologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan
pembelajaran ;
f. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki;
g. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik;
h. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar;
i. Memanfaatkan hasil penelitian dan evaluasi untuk kepentingan
pembelajaran;
j. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas
Kompetensi pedagogi berarti kemampuan guru dalam mengelola
kelas agar sesuai dengan tujuan pendidikan dengan mengaktualisasikan
semua kemampuan yang dimiliknya. Sehingga, guru harus mempunyai
kualitas diatas rata-rata kerena guru secara langsung dituntut untuk
berwawasan luas, mengelola kelas sebaik mungkin serta mengetahui
kondisi psikologi siswa. Kunci keberhasilan pendidikan tidak hanya
terletak pada guru saja akan tetapi menjadi tanggung jawab bersama-sama
dengan peserta didik.
2. Indikator Kompetensi Pedagogi
Menurut Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 dalam Ma‟mur
(2009:65), kompetensi pedagogi guru terdiri atas 37 buah kompetensi, yang
dirangkum dalam 10 kompetensi inti, yaitu:
a. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, spiritual,
sosial, kultural, emosional,dan intelektual
b. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang
mendidik
c. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang
diampu
d. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik
e. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan
pembelajaran
f. Menfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk
g. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik
h. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar
i. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan
pembelajaran
j. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran
Komponen pedagogi sebagaimana keterangan diatas adalah
kompetensi pertama yang harus dikuasai dan dipraktikkan guru dalam
proses belajar mengajar. Lebih lanjut, dalam RPP tentang guru (Mulyasa,
2008:75) dikemukakan bahwa kompetensi pedagogi guru merupakan
kemampuan guru dalam mengolah pembelajaran peserta didik yang
sekurang-kurangnya meliputi :
1. Pemahaman Wawasan atau Landasan Kependidikan
Pemahaman terhadap peserta didik merupakan salah satu
kompetensi pedagogik yang harus dimilki guru. Guru merupakan
manajer dalam pembelajaran, yang bertanggung jawab terhadap
perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian perubahan atau perbaikan
program pembelajaran. Guru diharapkan membimbing dan
mengarahkan pengembangan kurikulum dan pembelajaran secara
efektif, serta melakukan pengawasan dalam pelaksanaannya.
2. Pemahaman terhadap peserta didik
Pemahaman terhadap peserta didik merupakan salah satu
kompetensi pedagogik yang harus dimilki guru. Sedikitnya terdapat
kecerdasan, kreativitas, cacat fisik, dan perkembangan kognitif
(Mulyasa, 2008:79).
Selain itu guru juga harus mengetahui karakteristik setiap
individu peserta didik sehingga dapat dengan mudah melakukan
pendekatan dengan peserta didik agar dapat melaksanakan
pembelajaran secara efektif. Hal ini, pembelajaran dapat
diverisifikasikan atau diperluas, diperdalam, dan disesuaikan dengan
keberagamaan kondisi dan kebutuhan, baik yang menyangkut
kemampuan peserta didik maupun potensi lingkungan.
Pemahaman terhadap peserta didik merupakan salah satu
kompetensi pedagogi yang harus dimiliki guru. Sedikitnya terdapat
empat hal yang harus dipahami guru dari peserta didiknya, yaitu :
a. Tingkat Kecerdasan
Ada 3 tingkatan kecerdasan bagi peserta didik, antara lain:
1) Tingkat terendah adalah mereka yang memiliki IQ antara 0-50,
mereka tergolong tak dapat dididik atau dilatih.
2) Tingkat menengah adalah mereka yang memiliki IQ antara
50-70 dan dikenal dengan golongan moron, yaitu keterbatasan atau
keterlambatan mental.
3) Tingkat atas adalah mereka yang memiliki IQ antara 90-110,
mereka biasa belajar secara normal, cepat mengerti, dan
superior.
Kreatifitas dikembangkan dengan penciptaan proses
pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mengembangkan
kreativitasnya. Secara umum guru diharapkan menciptakan kondisi
yang baik, yang memungkinkan setiap peserta didik dapat
mengembangkan kreativitasnya, antara lain dengan teknik kerja
kelompok kecil, penugasan dan mensponsori pelaksanaan proyek.
Kreativitas dapat dikembangkan dengan memberi kepercayaan,
komunikasi yang bebas, pengarahan diri dan pengawasan yang
tidak terlalu ketat.
c. Kondisi Fisik
Kondisi fisik berkaitan dengan penglihatan, pendengaran,
kemampuan berbicara, pincang (kaki), dan lumpuh karena
karusakan otak. Terhadap peserta didik yang memiliki kelainan
fisik diperlukan sikap dan layanan yang berbeda dalam rangka
membantu perkembangan pribadi mereka.
3. Pengembangan kurikulum/silabus
Guru memiliki kemampuan mengembangkan kurikulum
pendidikan nasional yang disesuaikan dengan kondisi spesifik
lingkungan sekolah. Pendidikan yang terjadi dalam lingkungan
sekolah sering disebut pendidikan formal, sebab sudah memiliki
rancangan pendidikan berupa kurikulum tertulis yang tersusun secara
sistematis, jelas, dan rinci. Pelaksanaannya, dilakukan pengawasan
tersebut. Peranan kurikulum dalampendidikan formal di sekolah
sangatlah strategis dan menentukan bagi tercapainya tujuan
pendidikan. Kurikulum juga memiliki kedudukan danposisi yang
sangat sentral dalam keseluruhan proses pendidikan, bahkankurikulum
merupakan syarat mutlak dan bagian yang tak terpisahkan dari
pendidikan itu sendiri.
Sebagai program pendidikan yang telah direncanakan secara
sistematis, kurikulum mengemban peranan yang sangat penting bagi
pendidikan siswa. Dalam kegiatan pengembangan kurikulum
membutuhkan perencanaan dan sosialisasi, agar pihak-pihak terkait
memiliki persepsi dan tindakan yang sama. Sedangkan dalam
pendidikan itu sendiri identik interaksi antara guru dan peserta didik
untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan.
Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan
berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh
BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah.
Penyusunan KTSP untuk pendidikan khusus dikoordinasi dan
disupervisi oleh dinas pendidikan provinsi, dan berpedoman pada SI
dan SKL serta panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh
BSNP.
Prinsip-prinsip yang harus ada dalam pengembangan KTSP
berdasarkan BSNP adalah pertama, berpusat pada potensi,
lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa
peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan
kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan
tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan
potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik
serta tuntutan lingkungan. Memiliki posisi sentral berarti kegiatan
pembelajaran berpusat pada peserta didik.
Kedua, beragam dan terpadu. Kurikulum dikembangkan
dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi
daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak
diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat,
status social ekonomi, dan gender. Kurikulum meliputi substansi
komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan
diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan
kesinambungan yang bermakna dan tepat antar substansi.
Ketiga, tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran
bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang berkembang secara
pengalaman belajar peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Keempat, relevan dengan kebutuhan kehidupan.
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan
stakeholdersuntuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan
kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia
usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan
pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan
akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
Kelima, menyeluruh dan berkesinambungan. Substansi
kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian
keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara
berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan.
Keenam, belajar sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada
proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik
yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan
keterkaitan antar unsur-unsur pendidikan formal, nonformal, dan
informal dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan
yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
Ketujuh, seimbang antara kepentingan nasional dan
kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan
memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk