• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 7 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 7 Universitas Kristen Petra"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

7

Universitas Kristen Petra

2. LANDASAN TEORI

2.1 Theory of Reasoned Action (TRA)

Theory of Reasoned Action merupakan teori yang pertama kali dikembangkan oleh Ajzen dan Fishbein pada tahun 1975 yang dapat memprediksi niat dari individu untuk melakukan suatu perilaku di dalam waktu dan tempat yang jelas. Theory of Reasoned Action merupakan teori yang menjelaskan hubungan antara attitude dengan behavior pada tindakan seorang individu. Teori ini digunakan untuk memahami dan memprediksi bagaimana seorang individu berperilaku berdasarkan sikap dan niat perilaku mereka (Ajzen & Fishbein, 1980).

Theory of Reasoned Action bertujuan untuk memahami perilaku sukarela yang dilakukan oleh seorang individu dengan berdasar pada motivasi dasar untuk melakukan sebuah tindakan. Lee dan Kotler (2011) menyatakan bahwa perilaku seorang individu dipengaruhi oleh minat individu tersebut. Minat individu tersebut didasari oleh dua hal yaitu, kepercayaan individu atas hasil dari perilaku yang dilakukan dan persepsi individu atas pandangan orang-orang terdekat individu terhadap perilaku yang dilakukan.

Ajzen dan Fishbein (1980) menyatakan ada beberapa komponen penting dari Theory of Reasoned Action, yaitu belief, attitude, subjective norm, behavioral intention, dan behavior. Namun, beberapa penelitian terdahulu menyatakan bahwa attitude towards behavior merupakan prediktor utama dari seorang individu dalam melakukan sesuatu perilaku (behavior). Selain itu juga dinyatakan bahwa sikap individu dan persepsi dari individu berpengaruh besar terhadap bagaimana seorang individu akan berperilaku (Leonard, Cronan & Kreie, 2004).

Theory of Reasoned Action (TRA) menyatakan bahwa ketika seseorang

memperoleh sebuah informasi brand yang didapatkan melalui media sosial maka

akan terbentuk sebuah persepsi dari masing-masing individu terhadap kualitas dari

informasi brand yang diterimanya. Persepsi individu atas informasi brand yang

diterimanya akan memunculkan sikap bagi seorang individu untuk melakukan

verifikasi atau tidak melakukan verifikasi atas kualitas dari informasi brand yang

diterimanya (Koohikamali & Sidorova, 2017). Leonard et al. (2004) menyatakan

bahwa adanya persepsi dan sikap atas kualitas informasi brand yang diterimanya

(2)

8

Universitas Kristen Petra

melalui media sosial akan memiliki pengaruh pada perilaku dari seorang individu dalam menyebarkan informasi yang belum terverifikasi melalui media sosial. Kahn dan Idris (2019) menyatakan bahwa ketika seseorang memiliki persepsi dan sikap yang positif terhadap kualitas informasi brand yang didapatkannya melalui media sosial maka seorang individu akan cenderung untuk melakukan penyebaran informasi brand yang belum terverifikasi kebenarannya melalui Twitter.

2.2 Perceived Brand Information Quality

2.2.1 Konsep Perceived Brand Information Quality

Al Rafee dan Cronan (2006) menggambarkan persepsi sebagai opini dari seorang individu mengenai suatu objek (karakteristik dan kualitas dari objek tersebut) dan suatu perilaku. Kotler (2009) mendefinisikan persepsi dalam informasi sebagai proses yang digunakan oleh seorang individu dalam memilih, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan masukan informasi guna menciptakan gambaran yang memiliki arti.

Lin, Ming dan Bin (2011) menggambarkan brand information sebagai informasi yang berkaitan dengan suatu brand, seperti pengalaman dari konsumen lain dalam menggunakan suatu brand, kritik dan saran mengenai suatu brand, dan informasi iklan dan promosi mengenai suatu brand. Park dan Stoel (2005) menyatakan bahwa brand information merupakan informasi mengenai suatu brand yang berkaitan dengan pengalaman konsumen mengenai suatu brand, iklan dan promosi yang dilakukan oleh suatu brand, dan berita-berita mengenai suatu brand.

Di dalam penelitian ini, brand information yang digunakan adalah berita mengenai suatu brand, informasi yang berkaitan dengan pengalaman konsumen dalam menggunakan suatu brand, dan informasi yang berkaitan dengan iklan dan promosi dari suatu brand.

Nicolaou dan McKnight (2006) mendefinisikan perceived brand

information quality sebagai persepsi dari informasi yang dibagikan di dalam media

sosial berkaitan dengan informasi mengenai suatu brand. Persepsi ini berupa

apakah informasi yang dibagikan merupakan informasi yang terbaru, akurat,

relevan, bermanfaat dan komprehensif. Koohikamali dan Sidorova (2017)

menyatakan bahwa perceived brand information quality merupakan persepsi dari

(3)

9

Universitas Kristen Petra

pengguna media sosial berkaitan dengan kualitas informasi mengenai brand yang dibagikan oleh pengguna lain, seperti kerelevanan informasi tersebut, keandalan informasi tersebut, dan kesenangan yang didapatkan dari informasi tersebut. Li dan Lin (2004) menggambarkan perceived brand information quality merupakan persepsi dari kualitas informasi yang berkenaan dengan ketepatan, keaktualitas, kecukupan, dan kredibilitas dari informasi yang dibagikan di dalam media sosial.

Kim dan Johnson (2016) mendefinisikan perceived brand information quality sebagai persepsi dari seorang individu yang berkaitan dengan informasi mengenai suatu brand yang dibagikan di media sosial, seperti kerelevanan informasi tersebut, informasi yang selalu diperbarui, dan manfaat dari informasi tersebut.

2.2.2 Dimensi dan Indikator Perceived Brand Information Quality

Di dalam penelitian ini, digunakan teori dari Nicolaou dan McKnight (2006) dan Li dan Lin (2004) yang menyatakan perceived brand information quality merupakan persepsi dari seorang individu terhadap kualitas informasi mengenai brand. Suatu informasi mengenai suatu brand di dalam media sosial dikatakan berkualitas ketika informasi tersebut relevan, kredibel, tepat sesuai waktunya, akurat, dan komprehensif. Oleh karena itu dimensi dari perceived brand information quality dalam penelitian ini adalah relevance, credibility, timeliness, accurate, dan comprehensiveness.

Dari definisi yang telah dipaparkan di atas, menurut Nicolaou dan McKnight (2006) dan Li dan Lin (2004) indikator yang digunakan di dalam penelitian ini untuk mengukur perceived brand information quality adalah:

1. Relevance

Indikator dari dimensi relevance adalah persepsi dari seorang individu apakah informasi yang dibagikan di media sosial adalah sesuai dengan minat individu (Koohikamali & Sidorova, 2017) dan persepsi dari seorang individu apakah informasi yang dibagikan di media sosial adalah berguna secara langsung terhadap kebutuhan dari seorang individu (Nicolaou & McKnight, 2006;

Koohikamali & Sidorova, 2017; Kim & Johnson, 2016).

2. Credibility

Indikator dari dimensi credibility adalah persepsi dari seorang individu apakah

informasi yang dibagikan di media sosial adalah tidak bias dan dapat dipercaya

(4)

10

Universitas Kristen Petra

(Ma et al., 2014) dan persepsi dari seorang individu apakah informasi yang dibagikan di media sosial adalah berasal dari sumber yang dapat dipercaya atau kredibel (Li & Lin, 2004; Westerman, Spence, & Brandon Heide, 2014; Wu &

Wang, 2011).

3. Timeliness

Indikator dari dimensi timeliness adalah persepsi dari seorang individu apakah informasi yang dibagikan di media sosial adalah memiliki kesesuaian waktu dengan kondisi yang terjadi (Li & Lin, 2004) dan persepsi dari seorang individu apakah informasi yang dibagikan di media sosial adalah informasi yang terbaru dan terkini (Nicolau & McKnight, 2006; Kim & Johnson, 2016).

4. Accurate

Indikator dari dimensi accurate adalah persepsi dari seorang individu apakah informasi yang dibagikan di media sosial adalah tepat sesuai dengan fakta sesungguhnya (Nicolau & McKnight, 2006; Li & Lin, 2004; Lucassen &

Schraagen, 2011).

5. Comprehensiveness

Indikator dari dimensi comprehensiveness adalah persepsi dari seorang individu apakah informasi yang dibagikan di media sosial adalah lengkap isinya (Nicolau & McKnight, 2006, Cheung, 2014) dan persepsi dari seorang individu apakah informasi yang dibagikan di media sosial adalah menyeluruh dari segala aspeknya (Li & Lin, 2004).

2.3 Attitude Towards Verifying Information

2.3.1 Konsep Attitude Towards Verifying Information

Attitude towards behavior didefinisikan sebagai perasaan umum dari seorang individu terhadap kebaikan atau keburukan untuk perilaku tersebut (Ajzen

& Fishbein, 1980). Kim, Ferrin, dan Rao (2009) menggambarkan attitude towards behavior sebagai evaluasi seorang individu terhadap perilaku ketika mereka memutuskan untuk melakukan suatu perilaku. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik suatu sikap dari individu, maka semakin besar kemungkinannya bagi suatu individu untuk melakukan sebuah perilaku (behavior) (Ajzen & Fishbein, 2010).

Al-Rafee dan Cronan (2006) mengatakan bahwa sikap merupakan hal yang penting

(5)

11

Universitas Kristen Petra

bagi individu dalam melakukan sebuah perilaku dikarenakan bahwa sikap dari seorang individu dapat diubah melalui persuasi dan cara lain.

Tohidinia dan Mosakhani (2011) mengatakan bahwa attitude towards verifying information dapat diprediksi melalui persepsi dan kepercayaan dari seorang individu mengenai informasi yang dibagikan di dalam media sosial.

Abzari, Barzaki, dan Abbasi (2011) menyatakan attitude towards verifying information sebagai evaluasi positif atau negatif dari seorang individu dalam melakukan verifikasi terhadap informasi yang dibagikan di dalam media sosial.

Seorang individu akan cenderung untuk melakukan proses verifikasi terhadap informasi yang dibagikan di dalam media sosial ketika mereka memiliki evaluasi yang positif terhadap informasi tersebut.

2.3.2 Dimensi dan Indikator Attitude Towards Verifying Information

Penelitian ini menggunakan teori dari Abzari et al. (2011) yang menyatakan attitude towards verifying information sebagai evaluasi positif atau negatif dari seorang individu mengenai pentingnya dalam melakukan verifikasi informasi di media sosial yang berkaitan dengan informasi mengenai brand. Oleh karena itu, dimensi dari attitude towards verifying information dalam penelitian ini adalah evaluasi nilai dari suatu perilaku. Evaluasi terhadap suatu perilaku dapat berupa evaluasi positif atau negatif terhadap pentingnya melakukan suatu perilaku, dalam hal ini adalah melakukan verifikasi terhadap informasi yang dibagikan di dalam media sosial.

Penelitian ini menggunakan indikator yang dinyatakan oleh Wardle (2014) untuk mengukur attitude towards verifying information, yaitu:

1. Kejelasan dari informasi brand yang dibagikan 2. Keaslian dari informasi brand yang dibagikan

3. Kesesuaian waktu dari informasi brand yang dibagikan 4. Kebaruan dari informasi brand yang dibagikan

5. Kebenaran dari informasi brand yang dibagikan

6. Kelengkapan dari informasi brand yang dibagikan

7. Keseluruhan aspek dari informasi brand yang dibagikan

(6)

12

Universitas Kristen Petra

2.4 Unverified Information Sharing Behavior

2.4.1 Konsep Unverified Information Sharing Behavior

Kim et al. (2015) menggambarkan information sharing behavior di dalam media sosial sebagai perilaku yang dilakukan oleh individu untuk menyebarkan informasi berupa ide, opini, reaksi, minat, kegiatan, dan bentuk lain dari sebuah konten untuk dikonsumsi pengguna lain di dalam platform media sosial. Liou, Chih, Hsu, dan Huang (2015) mendefinisikan information sharing behavior sebagai penyebaran pengetahuan atau informasi kepada pengguna lain di dalam media sosial. Bao dan Bouthillier (2013) menggambarkan information sharing behavior sebagai perilaku yang dilakukan oleh seorang individu dalam berbagi dan bertukar informasi-informasi di media sosial untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pribadinya.

Platform media sosial menyediakan fitur-fitur yang mendukung bagi penggunanya untuk membuat konten dan membagikannya kepada orang lain.

(Koohikamali & Sidorova, 2017). Maka dari itu, information sharing di dalam media sosial menjadi lebih mudah karena pengguna dapat berinteraksi dengan komunitasnya baik melalui grup atau secara personal dengan lebih cepat dan sederhana walaupun komunikasi tersebut dilakukan di dalam bentuk tulisan, seperti berbagi cerita, meninggalkan komentar dan berpartisipasi di dalam diskusi (Ma et al., 2014). Alhabash dan McAlister (2014) juga menyatakan bahwa media sosial juga menjadi salah satu media bagi sebagian besar masyarakat dalam mengkomunikasikan dan berinteraksi dengan produk-produk, merek-merek, dan masalah sosial dan politik melalui information sharing.

Hsu, Ju, Yen, dan Cheng (2007) menyatakan bahwa aktivitas di dalam brand information sharing melalui media sosial di antaranya adalah melakukan post dan re-post atau share dan re-share mengenai berita dari suatu brand, melakukan review di dalam media sosial terhadap pengalaman dalam menggunakan produk dan jasa dari sebuah brand, dan melakukan post dan re-post mengenai informasi-informasi dari suatu brand, seperti informasi iklan dan promosi di dalam media sosial.

Zubiaga, Aker, Bontcheva, Liakata, dan Procter (2018) menyatakan bahwa

unverified information merupakan informasi dimana tidak ada bukti yang

(7)

13

Universitas Kristen Petra

mendukungnya atau tidak ada konfirmasi resmi dari sumber otoritatif, seperti sumber-sumber tertentu yang memiliki reputasi untuk dapat dipercaya atau sumber yang memiliki kredibilitas dalam konteks tertentu, seperti contohnya ada saksi mata. Unverified information juga dapat berupa informasi yang benar, bisa benar sebagian saja atau bahkan salah secara keseluruhan. Selain itu, informasi ini juga dapat merupakan informasi yang tidak bisa dilacak kebenaran beritanya. Sedangkan verified information, menurut Fallis (2004) merupakan informasi dimana terdapat sumber (authority) yang kredibel atau sudah berpengalaman di bidangnya, terdapat penalaran yang masuk akal, tidak bias dan beralasan mengenai informasi yang disajikan (plausibility & support), dan terdapat beberapa sumber-sumber lain yang juga menyampaikan informasi yang serupa (independent corroboration).

2.4.2 Dimensi dan Indikator Unverified Information Sharing Behavior Di dalam penelitian ini, digunakan teori dari Hsu et al. (2007) dan Bao dan Bouthillier (2013) untuk menggambarkan definisi dari unverified information sharing behavior. Unverified information sharing behavior didefinisikan sebagai penyebaran dan pembagian informasi yang belum diverifikasi kebenarannya kepada orang lain di dalam platform media sosial. Di dalam penelitian ini istilah penyebaran dan pembagian informasi digambarkan sebagai perilaku melakukan re- tweet informasi yang berkaitan dengan brand yang didapatkan melalui media sosial Twitter. Informasi yang dibagikan merupakan informasi yang berkaitan dengan brand, seperti berita mengenai suatu brand, informasi iklan dan promosi dari suatu brand, dan review yang berisi tentang pengalaman dari seorang individu dalam menggunakan produk dan jasa dari brand tertentu. Oleh karena itu, dimensi dari unverified information sharing behavior dalam penelitian ini adalah perilaku penyebaran. Perilaku penyebaran dalam penelitian ini meliputi frekuensi penyebaran informasi di media sosial berdasarkan periode waktu tertentu, dan jumlah informasi yang dibagikan di media sosial berdasarkan periode waktu tertentu.

Penelitian ini menggunakan indikator yang dinyatakan oleh Kahn dan Idris

(2019) dan Bao dan Bouthillier (2013) untuk mengukur unverified information

sharing behavior, yaitu:

(8)

14

Universitas Kristen Petra

1. Frekuensi penyebaran informasi yang belum terverifikasi dalam periode waktu tertentu

2. Jumlah informasi yang belum terverifikasi yang dibagikan dalam periode waktu tertentu

2.5 Hubungan Antar Konsep dan Hipotesis Penelitian

2.5.1 Perceived Brand Information Quality dengan Attitude Towards Verifying Brand Information

Kolekofski dan Heminger (2003) menyatakan bahwa persepsi dan kepercayaan terhadap sebuah objek, dalam hal ini merupakan informasi mengenai suatu brand merupakan penentu dari sikap dari seorang individu dalam menyebarkan informasi atau berita tersebut. Koohikamali dan Sidorova (2017) menyatakan bahwa seorang individu yang memiliki persepsi bahwa informasi yang diperoleh dari suatu brand adalah dapat diandalkan akan memiliki pengaruh positif terhadap sikap dari seorang individu dalam melakukan verifikasi terhadap informasi yang didapatkan dari media sosial. Talwar et al. (2019) juga menyatakan bahwa seorang individu yang memiliki tingkat kepercayaan terhadap suatu informasi akan memiliki pengaruh yang positif terhadap sikap dari seorang individu dalam melakukan verifikasi terhadap informasi yang beredar di media sosial.

Grosser et al. (2010) menyatakan bahwa seorang individu memiliki persepsi yang positif mengenai informasi yang dibagikan di dalam media sosial maka akan berpengaruh positif terhadap sikap dari seseorang individu dalam melakukan verifikasi terhadap informasi yang diperoleh melalui media sosial.

H1: Perceived Brand Information Quality berpengaruh positif dan signifikan terhadap Attitude Towards Verifying Brand Information

2.5.2 Attitude Towards Verifying Brand Information dengan Unverified Information Sharing Behavior

Peneliti terdahulu Khan & Idris (2019) menyatakan bahwa sikap seorang

individu terhadap verifikasi sebuah informasi yang beredar di media sosial

berpengaruh dengan perilaku seorang individu dalam menyebarkan informasi yang

belum terverifikasi. Hal ini menunjukkan bahwa ketika seorang individu memiliki

sikap yang positif dalam melakukan verifikasi (tidak percaya) pada sebuah

(9)

15

Universitas Kristen Petra

informasi maka mereka akan cenderung untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dalam media sosial. Ajzen dan Fishbein (2010) menggambarkan bahwa seorang individu yang memiliki sikap positif terhadap brand information akan memiliki hubungan yang positif dalam melakukan penyebaran informasi yang belum terverifikasi. Koohikamali dan Sidorova (2017) menyatakan bahwa adanya sikap percaya (tidak melakukan verifikasi) terhadap suatu informasi yang dibagikan di dalam media sosial berpengaruh positif terhadap perilaku menyebarkan informasi yang belum terverifikasi di dalam media sosial.

H2: Attitude Towards Verifying Brand Information berpengaruh positif terhadap Unverified Information Sharing Behavior.

2.6 Kerangka Penelitian

Pada penelitian ini akan menggunakan kerangka penelitian dengan model mediasi penuh dengan attitude towards verifying information sebagai variabel mediasi. Hal ini didasarkan oleh konsep Theory of Reasoned Action (TRA) dan penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa perceived brand information quality akan berpengaruh terhadap attitude towards verifying information dari seorang individu sebelum berpengaruh terhadap unverified information sharing behavior.

Oleh karena itu kerangka penelitian ini dapat digambarkan menjadi model struktural sebagai berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Penelitian

Unverified Information Sharing Behavior Perceived Brand

Information Quality

Attitude Towards Verifying Information

H1 H2

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Loyalitas pelanggan dapat diwujudkan pada saat pelanggan merasa puas dengan produk atau jasa yang telah dibelinya dengan memiliki kelebihan tertentu dan dengan

2. Beberapa negara mungkin memiliki peraturan domestik untuk mengatasi permasalahan treaty shopping, menyebabkan beberapa dari ketentuan yang diberikan oleh OECD

Adanya persepsi masyarakat secara umum menganggap penyandang cacat tidak produktif, tidak memiliki ketrampilan dan kemampuan yang setara dengan tenaga kerja normal dalam

Berdasarkan studi yang dilakukan menyatakan bahwa value relevance informasi akuntansi yang tinggi dapat diindikasikan dengan adanya hubungan yang erat antara EPS dan BVPS

Dari kutipan dari majalah Mix diatas, dapat disimpulkan bahwa ide Brand Activation ini muncul karena saat ini konsumen menilai sebuah brand bukan saja melalui apa yang mereka

Dalam memberikan suatu experience pada konsumen dalam sebuah brand, ada tahapan yang ada yaitu pertama kali adalah brand essence dimana sebuah brand melakukan komunikasi

Dalam memberikan suatu experience pada konsumen dalam sebuah brand, ada tahapan yang ada yaitu pertama kali adalah brand essence dimana sebuah brand melakukan komunikasi kepada

Teori sinyal merupakan teori yang menjelaskan bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada para pengguna laporan keuangan, informasi mengenai apa saja