• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perpustakaan Universitas Gunadarma BARCODE SURAT KETERANGAN. Nomor: 545/PERPUS/UG/2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Perpustakaan Universitas Gunadarma BARCODE SURAT KETERANGAN. Nomor: 545/PERPUS/UG/2021"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Perpustakaan Universitas Gunadarma BARCODE

BUKTI UNGGAH DOKUMEN PENELITIAN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS GUNADARMA

Nomor Pengunggahan

SURAT KETERANGAN

Nomor: 545/PERPUS/UG/2021

Surat ini menerangkan bahwa:

Nama Penulis : Suharni

Nomor Penulis : 870069

Email Penulis : [email protected]

Alamat Penulis : DEPOK

dengan penulis lainnya sebagai berikut:

Penulis ke-2/Nomor/Email : Suharni / 870069 / [email protected]

Telah menyerahkan hasil penelitian/ penulisan untuk disimpan dan dimanfaatkan di Perpustakaan Universitas Gunadarma, dengan rincian sebagai berikut :

Nomor Induk : FILKOM/KA/PENELITIAN/545/2021

Judul Penelitian : OTOMATISASI SERVER MENGGUNAKAN ANSIBLE SEMAPHORE DENGAN LINUX DEBIAN BUSTER PADA DOCKER CONTAINER

Tanggal Penyerahan : 22 / 02 / 2021

Demikian surat ini dibuat untuk dipergunakan seperlunya dilingkungan Universitas Gunadarma dan Kopertis Wilayah III.

(2)

1

OTOMATISASI SERVER MENGGUNAKAN ANSIBLE SEMAPHORE DENGAN LINUX DEBIAN BUSTER PADA DOCKER CONTAINER

1

Melky Firmansyah Kurniawan, NPM: 54416370 2

Dr. Suharni, SKom., MMSI, NIP: 870069

1

Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Gunadarma,

2

Jurusan Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi, Universitas Gunadarma

1

[email protected], [email protected]

ABSTRAK

Penggunaan server saat ini sudah menjadi bagian penting dari komunikasi data dalam suatu instansi karena kemampuan dan fleksibilitasnya. Keberadaan server tentunya tidak lepas dari adanya pemeliharaan dan pengelolaannya. Permasalahan yang dihadapi dalam pemeliharaan dan pengelolaan server secara manual pada jaringan komputer yaitu harus dilakukan secara bergantian satu per satu. Ansible menjadi pilihan yang tepat untuk penerapan otomatisasi server karena sifatnya yang

open source dan agentless, dan Semaphore memungkinkan Ansible memiliki

interaksi graphical user interface (GUI). Metode dalam penelitian ini yaitu NDLC (Network Development Life Cycle), yang digunakan untuk mengembangkan suatu jaringan komputer dengan membangun sebuah server lalu mengkonfigurasikan otomatisasi server menggunakan Ansible dan Semaphore. Server diterapkan pada jaringan lokal yang berjalan secara virtual menggunakan Docker Container. Tahapan penelitian yang dilakukan antara lain analisis, desain, simulasi prototipe, implementasi, monitoring dan manajemen. Penelitian diawali dengan menganalisis keperluan bagi system administrator baik itu dalam perangkat keras maupun perangkat lunak sampai dengan melakukan manajemen jaringan server agar sistem yang telah dibangun dapat berjalan dengan baik. Hasil dari penelitian ini berupa Ansible Semaphore yang berjalan pada virtualisasi Docker container, diharapkan dapat mengotomatisasikan pemeliharaan dan pengelolaan server dengan interaksi

graphical user interface (GUI) pada web browser.

(3)

2

ABSTRACT

The use of servers has now become an important part of data communication in an agency because of its capabilities and flexibility. The existence of servers is of course inseparable from their maintenance and management. The problems faced in maintaining and managing server on a computer network is the server need to be configured manually one by one. Ansible is the right choice for server automation applications because it is open source and agentless, and Semaphore allows Ansible to have graphical user interface (GUI) interactions. The method in this research is NDLC (Network Development Life Cycle), which is used to develop a computer network by building a server and then configuring server automation using Ansible and Semaphore. Servers are deployed on a local network running virtually using the Docker Container. The research stages include analysis, design, prototype simulation, implementation, monitoring and management. The research begins with analyzing the needs of the system administrator, both in hardware and software, and to perform server network management so the system that has been built can run well. The result of this research is an ansible semaphore running on docker container virtualization. It is hoped that it can automate server maintenance and management by interacting with the graphical user interface (GUI) on a web browser.

Keywords : Ansible, Automation, Docker, Linux , Semaphore.

PENDAHULUAN

Server adalah suatu sistem yang menyediakan layanan untuk pengguna dalam suatu jaringan komputer. Server dilengkapi dengan sistem operasi untuk mengontrol dan menjalankan fungsi yang berbeda untuk menyediakan layanan yang diperlukan, contohnya seperti web

server untuk menyediakan layanan

website, dhcp server untuk

pembagian alamat IP pada jaringan secara dinamis, server backup untuk melakukan salinan cadangan suatu

server, dan mail server untuk

pengelolaan surel sebuah instansi. Penggunaan sistem dengan arsitektur client-server dalam suatu instansi tidak lepas dari banyaknya

server yang terintegrasi. Terkadang beberapa server perlu dirawat, dipantau agar selalu up-to-date, instalasi suatu layanan aplikasi hingga mempersiapkan server baru.

Hal tersebut tidaklah efisien jika manajemen server dilakukan satu per satu secara manual, sehingga dibutuhkan suatu sistem yang mengotomatisasikan setiap server. Ansible adalah tool yang tepat untuk mengelola otomatisasi server dan sifatnya open source dan agentless (Michael Heap, 2016). Pada dasarnya perintah Ansible berjalan pada interface command line (CLI), pada penelitian ini Ansible dikolaborasikan dengan Semaphore, dimana aplikasi tersebut dapat memudahkan pengguna untuk berinteraksi dengan Ansible melalui

web browser dengan graphical user

interface, Semaphore juga

menyediakan fitur report ekseskusi

playbook.

Teknologi virtualisasi juga semakin berkembang mengikuti kebutuhan efisiensi proses komputasi. Teknik virtualisasi

(4)

2

hypervisor dirasa terlalu memakan

banyak sumber daya perangkat keras untuk diimplementasikan, sehingga dibutuhkan spesifikasi server yang

lebih tinggi untuk menjalankan kernel pada sistem operasi server induk atau host dan mesin virtual didalamnya.

Arsitektur virtualisasi berbasis

container menjadi pilihan yang tepat

karena untuk menjalankan virtualisasi tidak membutuhkan kernel pada sistem operasi mesin virtual. Perusahaan besar seperti Google dan Amazon menggunakan virtualisasi container untuk menjalankan dan mengelola server. Berdasarkan permasalahan tersebut maka peneliti ingin membuat penelitian mengenai otomatisasi

server dengan judul OTOMATISASI

SERVER MENGGUNAKAN

ANSIBLE SEMAPHORE DENGAN LINUX DEBIAN BUSTER PADA DOCKER CONTAINER.

1.1 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalah yang didapatkan sebagai berikut :

1. Bagaimana membangun konfigurasi otomatisasi

server yang dapat berjalan

pada sistem operasi berbasis Linux ?.

2. Bagaimana mengakses konfigurasi otomatisasi

server melalui web

browser menggunakan

Ansible Semaphore?. 3. Bagaimana otomatisasi

server dapat berjalan

secara virtual

menggunakan Docker

container?

1.2 Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, adapun beberapa batasan

masalah dalam penulisan ini antara lain :

1. Instalasi serta konfigurasi Ansible dan Semaphore dilakukan pada server

Ansible.

2. File otomatisasi dalam bentuk playbook dan disimpan pada repository github.

3. Menggunakan sistem operasi Linux sebagai

server dan client.

4. Menggunakan Docker

container sebagai media

dalam implementasi. 5. Menggunakan Kernel

Debian 4.19 sebagai kernel

host

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah membuat otomatisasi server

menggunakan Ansible Semaphore dengan linux Debian Buster pada Docker container yang diharapkan dapat mendukung graphical user

interface (GUI) pada web browser,

dan meminimalkan konfigurasi yang dilakukan secara satu per satu dalam proses pengelolaan server serta memberikan kemudahan ketika dilakukan maintenance server dan

implementasinya hanya

membutuhkan kernel pada sistem operasi host.

1.4 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode siklus hidup pengembangan jaringan atau

NDLC (Network Development Life

(5)

2

menurut Goldman, (2004) terdapat enam tahapan yaitu:

1. Analisis, pada tahap awal ini

dilakukan analisis

permasalahan yang muncul dan analisis kebutuhan pengguna. 2. Desain, dari data-data yang

didapatkan sebelumnya, tahap perancangan ini akan membuat gambar desain topologi jaringan interkoneksi yang akan dibangun, diharapkan dengan gambar ini akan memberikan gambaran seutuhnya dari kebutuhan yang ada.

3. Simulasi Prototipe, pada tahap ini akan dibuat dalam bentuk simulasi dengan bantuan tools khusus di bidang

network seperti cisco packet tracer.

4. Implementasi, tahapan ini akan menerapkan semua yang telah direncanakan dan dirancang sebelumnya pada

virtual machine.

5. Monitoring, setelah

implementasi tahapan

monitoring merupakan tahapan

yang penting, agar jaringan komputer dan komunikasi dapat berjalan sesuai dengan keinginan dan tujuan awal dari

user pada tahap awal analisis,

maka perlu dilakukan kegiatan

monitoring.

6. Manajemen, tahapan terakhir ini salah satu yang menjadi perhatian khusus adalah masalah policy, kebijakan perlu

dibuat untuk

membuat/mengatur agar sistem yang telah dibangun dan berjalan dengan baik dapat

berlangsung lama dan unsur

reliability terjaga.

1.5 Sistematika Penulisan

Pada sistematika penulisan ini, menyajikan gambaran umum mengenai permasalahan tentang materi yang akan dibahas dan terdiri dari lima bab yaitu sebagai berikut:

1. BAB I PENDAHULUAN. Pada bab ini diuraikan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, metode penelitian dan sistematika dari penulisan. 2. BAB II LANDASAN TEORI.

Pada bab ini berisikan mengenai landasan teori yang digunakan untuk mendukung penulisan ini. Dasar - dasar teori tersebut antara lain menjelaskan tentang Sistem Operasi, Virtualisasi,

Hypervisor, Container,

Docker, Topologi Jaringan,

Automation Tool, Ansible,

Semaphore, SSH, Struktur Navigasi, Flowchart, dan Cisco Packet Tracer.

3. BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN. Pada bab ini berisi uraian tentang tahapan analisis masalah, analisis kebutuhan perangkat keras, analisis kebutuhan perangkat lunak dan analisis kebutuhan aplikasi. Pada perancangan terdapat tahapan perancangan otomatisasi

server, perancangan IP

address, perancangan file

inventory dan rancangan kerja ansible, kemudian tahapan simulasi prototipe, struktur navigasi Semaphore dan

(6)

3

flowchart dari otomatisasi

server penelitian yang dibuat.

4. BAB IV IMPLEMENTASI DAN UJI COBA. Pada bab ini akan diuraikan implementasi dari instalasi serta konfigurasi Docker, Ansible, dan Semaphore, untuk dapat menjalankan playbooks ke beberapa client dan memantau proses otomatisasi server

secara graphical user interface melalui web browser,

pembuatan Ansible playbooks dan diunggah pada github, pemeliharaan dan pemantauan dari hasil pengujian.

5. BAB V PENUTUP. Pada bab ini berisi kesimpulan dan saran berdasarkan hasil dari penulisan yang telah dibuat.

LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Operasi

Sistem

operasi adalah perangkat lunak sistem yang mengatur sumber daya dari perangkat keras dan perangkat

lunak, serta

sebagai daemon untuk program komputer. Sistem operasi merupakan penghubung antara pengguna komputer dengan perangkat keras komputer. Pengertian sistem operasi secara umum adalah suatu pengelola seluruh sumber daya yang terdapat pada sistem komputer dan menyediakan sekumpulan layanan untuk memudahkan dan memberi kenyamanan dalam penggunaan dan pemanfaatan sumber daya sistem komputer. Tanpa sistem operasi, pengguna tidak dapat menjalankan

program aplikasi pada komputer mereka, kecuali program booting.

Dalam struktur sistem komputer, sistem operasi merupakan lapisan kedua setelah hardware, yang diletakkan pada media penyimpan (harddisk) di komputer. Sistem operasi akan melakukan layanan inti umum untuk perangkat lunak aplikasi. Sistem operasi akan mengelola semua aktifitas komputer yang berkaitan dengan pengaksesan perangkat keras, pengelolaan proses seperti penjadwalan proses, dan pengelolaan aplikasi. Jenis sistem operasi diantaranya adalah Microsoft Windows, Macintosh, Linux, Unix dan lain sebagainya. (Siyamta, 2013)

2.2 Virtualisasi

Virtualisasi adalah sebuah teknik yang saat ini banyak diterapkan untuk memenuhi kebutuhan TI yang semakin tinggi namun diikuti dengan tuntutan untuk mengefisiensikan biaya yang digunakan semaksimal mungkin. Virtualisasi adalah teknologi yang telah diterapkan secara luas saat ini dengan dampak peningkatan operasional dan finansial yang positif. Virtualisasi adalah konsep dimana akses ke sebuah hardware seperti server diatur sehingga beberapa operating system (guest operation system) dapat berbagi sebuah hardware. Tujuan dari virtualisasi adalah kinerja tingkat tinggi, ketersediaan, keandalan, ketangkasan, atau untuk membuat dasar keamanan dan manajemen yang terpadu.

Virtualisasi memungkinkan pengguna untuk berbagi hardware untuk digunakan beberapa sistem

(7)

4

operasi. Virtualisasi dapat membuat sebuah tempat penyimpanan tunggal yang besar terlihat menjadi beberapa tempat penyimpanan dengan ukuran yang lebih kecil. (Richard Scroggins, 2017)

Setiap perusahaan memiliki tujuan yang berbeda mengapa menerapkan virtualisasi, salah satu tujuan yang ingin dicapai perusahaan dapat merupakan salah satu dari hal berikut :

 Memungkinkan semua device yang terhubung dengan jaringan untuk mengakses aplikasi melalui jaringan, bahkan jika aplikasi tidak pernah dirancangan untuk dapat bekerja di device tersebut.  Isolasi beban perkerjaan atau aplikasi yang satu dengan yang lainnya untuk meningkatkan

keamanan dan

kemudahan pengelolaan lingkungan.

 Isolasi aplikasi dari

sistem operasi,

memungkinkan aplikas untuk tetap berfungsi meskipun dirancang untuk sistem operasi dengan tipe yang berbeda.  Isolasi aplikasi dari

sistem operasi,

memungkinkan sebuah aplikasi untuk bekerja di sistem operasi yang asing.  Meningkatkan jumlah orang yang dapat didukung oleh aplikasi, dengan mengijinkan untuk menjalan aplikasi dari mesin-mesin yang

berbeda secara

bersamaan.

 Mengurangi waktu yang diperkukan untuk menjalankan apliksi, dengan memisahkan data atau aplikasi itu sendiri dan menyebar pekerjaan di beberapa sistem.

 Mengoptimalkan

penggunaan sistem tunggal.

 Meningkatkan keandalan atau ketersediaan dari aplikasi atau beban kerja dengan pengulangan.

2.3 Hypervisor

Hypervisor (atau monitor

mesin virtual, VMM, virtualizer) adalah perangkat lunak komputer, firmware, atau perangkat keras yang membuat dan menjalankan mesin virtual. Komputer tempat hypervisor menjalankan satu atau lebih mesin virtual disebut mesin host, dan setiap mesin virtual disebut mesin guest.

Hypervisor menyajikan sistem

operasi guest dengan platform

operasi virtual dan mengelola eksekusi sistem operasi guest.

Beberapa instans dari berbagai sistem operasi dapat berbagi sumber daya perangkat keras tervirtualisasi: misalnya, instans Linux, Windows, dan macOS semuanya dapat berjalan di satu mesin fisik x86. Ini berbeda dengan virtualisasi tingkat sistem operasi, di mana semua instance (biasanya disebut kontainer) harus berbagi satu kernel, meskipun sistem operasi guest dapat berbeda dalam ruang pengguna, seperti distribusi Linux yang berbeda dengan kernel yang sama. (Waldemar, 2016)

(8)

5

Container (Kontainer)

merupakan teknik virtualisasi yang berjalan pada server fisik dan OS

Host yaitu Linux atau Windows.

Setiap kontainer berbagi kernel OS

host, binary dan library. Container

sangat ringan, biasanya hanya berukuran megabyte dan hanya membutuhkan beberapa detik untuk memulai sistem operasi, dibandingkan dengan Virtual Mesin yang membutuhkan ukuran file hingga gigabyte dan beberapa menit untuk booting.

Gambar 2.1 Perbandingan

Hypervisor dengan Container

Container juga dapat

mengurangi biaya pengoperasian. Karena Container berbagi sistem operasi yang sama, hanya satu sistem operasi yang perlu perawatan dan untuk perbaikan bug, update patch, dan sebagainya. Singkatnya, teknologi Container lebih ringan dan lebih portabel daripada VM. (Adiputra, 2015)

2.5 Docker

Docker pertama kali dikembangkan oleh Solomon Hykes sebagai project internal di dotCloud bersama dengan beberapa koleganya seperti Andrea Luzzardi dan Francois-Xavier Bourlet. Docker adalah salah satu platform yang dibangun berdasarkan teknologi

container. Docker merupakan sebuah

project open-source yang

menyediakan platform terbuka untuk

developer maupun sysadmin untuk

dapat membangun, mengemas, dan menjalankan aplikasi dimanapun sebagai sebuah wadah (container) yang ringan.

Docker menyediakan beberapa fasilitas yang berguna bagi para pengembang dan administrator. Ini adalah platform terbuka yang dapat digunakan untuk membangun, mendistribusikan, dan menjalankan aplikasi secara portabel, ringan runtime dan alat pengemasan, yang dikenal sebagai Docker Engine. Juga menyediakan Docker Hub, yang merupakan layanan cloud untuk berbagi aplikasi. Biaya dapat dikurangi dengan mengganti virtual tradisional mesin dengan kontainer buruh pelabuhan. Ini sangat mengurangi biaya membangun kembali platform pengembangan cloud. (Bashari et. al., 2017)

2.6 Ansible

Ansible adalah sebuah perangkat lunak komputer atau

software yang dapat membantu

seorang system administrator untuk melakukan otomatisasi pada server. Ansible dapat membantu melakukan instalasi, deployment, dan memperbaharui sistem server.

Ansible pada umumnya bekerja seperti tools otomatisasi lain , semacam Chef, Puppet, hanya saja Ansible tidak membutuhkan agent. Ansible hanya bekerja cukup dengan koneksi SSH.

Ansible bekerja di koneksi SSH remote ke client yang ingin di deploy atau dilakukan otomatisasi tersebut. Ansible juga membutuhkan

(9)

6

data inventory atau data server tujuan. Pada pemakaian lebih ke tingkat berikutnya, Ansible juga dapat memainkan peranan seperti

playbook dan roles. Konfigurasi

ditulis dalam format markup YAML dan environment variable dapat ditulis pada format JSON. Mengapa YAML, mungkin karena markup YAML sangat mudah dibaca oleh manusia. Sehingga Ansible dapat menjadi sebuah dokumentasi tersendiri nantinya. (Keating, 2017)

2.7 Semaphore

Ansible Semaphore adalah

Open Source UI untuk Ansible,

sebuah alternatif untuk Ansible Tower. Perangkat lunak ini bebas digunakan dan sepenuhnya open source, dirilis di bawah lisensi MIT. Backend Semaphore dibuat dalam bahasa Go sedangkan frontend

dibuat dalam Angular.

Semaphore memungkinkan untuk menjalankan Ansible Playbook dari antarmuka web browser.

Semaphore juga memiliki fitur untuk otentikasi LDAP, menyediakan RESTful API dan notifikasi melalui

email dan Telegram. (Pier Luigi,

2016) ANALISIS DAN PERANCANGAN 3.1 Perancangan Otomatisasi Server Perancangan otomatisasi

server menggunakan Ansible,

terdapat empat container yang terdiri dari server dan client. Pada server dimana Ansible terinstal diberikan istilah master dan host sebagai client.

Pada container server diberikan IP

address 172.17.0.2 dan 3 container

lainnya sebagai client diberikan IP

address 172.17.0.3, 172.17.0.4 dan

172.17.0.5.

Gambar 3.1 Tampilan Perancangan

Otomatisasi Server

3.2 Perancangan IP Address Untuk Server dan Clients

Perancangan IP address adalah pemberian alamat pada server yang digunakan untuk

mengidentifikasi server pada jaringan internet protocol dengan tujuan agar dapat terhubung dengan

server atau client yang lain dalam

suatu jaringan komputer.

3.3 Perancangan IP Address Server Debian

Pada tahap perancangan IP

address server, diberikan konfigurasi

secara dynamic pada interface eth0. Tampilan konfigurasi IP address

(10)

7

server dapat dilihat pada Gambar 3.3

yang merupakan IP address server dengan sistem operasi Linux Debian 10 Buster.

Gambar 3.2 Tampilan Perancangan

IP Address Server Debian

3.4 Perancangan File Inventory Ansible

Pada perancangan file

inventory ansible, diberikan

konfigurasi dengan cara pengelompokan IP address client dengan nama Servers. Tampilan file

hosts inventory ansible dapat dilihat

pada Gambar 3.7. Host inventory

adalah pengalamatan IP address

client sebagai pengenal dengan cara

mendaftarkan alamat IP address yang akan diberikan perintah oleh

server master.

Gambar 3.3 Perancangan File

Inventory Ansible

3.5 Rancangan Kerja Ansible

Cara kerja ansible dari otomatisasi server yang dilakukan pada server debian dapat dilihat pada Gambar 3.8. Server dapat mengenali

client berdasarkan host inventory,

yaitu IP address client yang terdaftar pada ’servers’. Kemudian playbook pada Ansible sebagai file perintah yang akan dieksekusi pada client diletakan pada repository github,

dengan playbook yang menggunakan format serialisasi data YAML yang ada pada file update.yml.

Selanjutnya sebelum perintah dieksekusi pada client, dilakukan instalasi python pada semua

container.

Gambar 3.4 Rancangan Kerja

Ansible

3.6 Struktur Navigasi Semaphore

Struktur Navigasi campuran adalah suatu alur proses program yang menggambarkan secara garis besar tentang penunjuk atau bagian-bagian apa saja yang terdapat pada sebuah aplikasi Semaphore.

Gambar 3.5 Struktur Navigasi

Semaphore

3.7 Flowchart Implementasi Otomatisasi Server

Dalam implementasi

otomatisasi server menerapkan semua yang telah direncanakan pada tahap sebelumnya yaitu tahap

(11)

8

perancangan. Adapun flowchart sistem implementasi otomatisasi

server dapat dilihat pada Gambar

3.11.

Gambar 3.6 Flowchart Proses

Implementasi Otomatisasi Server

IMPLEMENTASI DAN UJI COBA

4.1 Uji Coba Playbook Maintenance Server

Pada tahap uji coba berikut

playbook pada task tamplate akan

dieksekusi dengan mengklik tombol

run. Playbook dapat dieksekusi

kapan saja dan digunakan sesuai keperluan, terdapat playbook ping untuk mengetes availability client,

backup untuk menyalin file dari client, update untuk memperbarui

sistem dan status bertujuan untuk melihat service yang berjalan pada

client seperti pada Gambar 4.58

Gambar 4.1 Tampilan Playbook

yang Siap Dijalankan

Berikut adalah tampilan hasil dari eksekusi playbook ping, dengan

feedback status ok pada play recap

terhadap client debian, mint, dan Ubuntu. Gambar 4.60

Gambar 4.2 Tampilan Uji Coba

Ping Client

Berikut adalah tampilan hasil dari uji coba update client, dengan feedback status ok pada play recap terhadap

client debian, mint dan Ubuntu.

(12)

9

Gambar 4.3 Tampilan Uji Coba

Update Client

Berikut adalah tampilan hasil dari uji coba playbook status yaitu melihat

service running pada client, dengan feedback service name ssh pada task debug menandakan client debian

menjalankan service ssh seperti pada Gambar 4.62

Gambar 4.4 Tampilan Uji Coba

Melihat Service yang Berjalan Pada

Client

Proses monitoring yang dilakukan adalah melihat host yang sedang aktif sebanyak lima hosts dan dapat di pantau service yang sedang berjalan yaitu http atau apache dan ssh. Jika host tidak merespon maka bagian topology tidak dapat

menampilkan ip address host tersebut seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.63

Gambar 4.5 Tampilan Monitoring

availability dan service pada Server

maupun Client

4.1 Perancangan Otomatisasi Server

Setelah rincian untuk implementasi sistem ini terpenuhi, maka selanjutnya adalah tahap akhir yang perlu menjadi perhatian adalah masalah policy, kebijakan dibuat untuk mengatur agar sistem yang

telah dibangun dan

diimplementasikan berjalan dengan baik dan unsur reliability terjaga yaitu dengan melakukan tahapan-tahapan sebagai berikut :

1. Pastikan hosts selalu dalam kondisi updated dan IP address tidak berubah-ubah. Jika merubah port ssh maka pastikan pada file konfigurasi Ansible sesuai dengan perubahan.

2. Pendistribusian memory

terhadap tiap hosts dibagi secara merata dan tepat.

3. Untuk mengakses hosts dengan koneksi ssh digunakan user selain superuser atau root. Untuk mengeksekusi file YAML cek format penulisan pada aplikasi editor Visual Studio Code.

(13)

10

Berdasarkan hasil

implementasi dan uji coba yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, dapat disimpulan sebagai berikut :

1. Otomatisasi server pada

Docker container

menggunakan ansible dan Semaphore berhasil dilakukan. 2. Adanya otomatisasi ini, proses

pengelolaan dan manajemen beberapa server pada sistem operasi yang sama maupun berbeda dapat dilakukan secara otomatis dalam waktu yang bersamaan (paralel), sehingga dapat menghemat waktu pengelolaan server, dan dapat meringankan tenaga kerja

system administrator.

SARAN

Otomatisasi server pada Docker container yang telah berhasil dilakukan perlu adanya pengembengan antara lain :

1. Penambahan notifikasi baik melalui email, ataupun telegram jika terjadi

permasalahan dalam

melakukan maintenance. 2. Dapat berjalan pada windows

server.

DAFTAR PUSTAKA

Keating, J, 2017, Mastering Ansible

Second Edition, Birmingham,

Packt Publishing Ltd. Ventre , Pier Luigi, 2016,

D-STREAMON- a

NFV-capable distributed framework for network

monitoring, Tor Vergata,

Italy

Bashari, Babak, John, Harrison, dan Mohammad Ahmadi, 2017,

An Introduction to Docker and Analysis of its

Performance, IJCSNS.

Adiputra Firmansyah, 2015,

Container Dan Docker:

Teknik Virtualisasi, vol.4 no. 3, Bangkalan, Jurnal

SimanteC.

Graniszewski, Waldemar, dan Archiszewski, Adam, 2016,

Performance analysis of selected hypervisors, vol. 62,

no.3, Journal Of Electronics And Telecommunications. Scroggins, Richard, 2017, Emerging

Virtualization Technology,

vol. 17, no. 3, Global Journals Inc.

Heap, Michael, 2016, Ansible From

Beginner to Pro, California: Apress.

Siyamta, 2013, Sistem Operasi, Kementerian Pendidikan & Kebudayaan, Jakarta, edisi kedua.

Gambar

Gambar 2.1 Perbandingan  Hypervisor dengan Container
Gambar 3.1 Tampilan Perancangan  Otomatisasi Server
Gambar 3.2 Tampilan Perancangan  IP Address Server Debian  3.4   Perancangan  File  Inventory  Ansible
Gambar 4.2 Tampilan Uji Coba  Ping Client
+2

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku perencanaan dan pengelolaan keuangan (anggaran) ibu rumah tangga dalam mengatasi konsumerisme keluarga saat terjadi

Konsep smart home ini adalah sistem yang telah deprogram dan dapat digunakan dengan bantuan komputer berupa smartphone untuk mengendalikan perangkat atau peralatan rumah

Pada peulisan iniakan dibahas cara pembuatan Aplikasi Mengenal Hewan Untuk Anak yang dibuat dengan menggunakan Android Studio dengan bahasa pemrograman java dan

Konsep pelapisan untuk pengawetan fungsi komponen yang tahan lama.Lapisan zinc alloy original dengan pasif kromat kuning atau hitam (Zinc-Iron Coating C dan Zinc-Iron

Hal yang dapat dipahami dari teori Rene Descrates yaitu bahwa kesadaran dalam menjalani hidup, dan mencintai kebenaran yang selalu dicari oleh Rene Descrates. Pemikiran ini

Sumber-sumber penerimaan daerah menurut sabil (2017) menyebutkan sumber pendapatan meliputi tidak saja pendapatan asli daerah (PAD), akan tetapi termasuk pula sumber

Faktor yang dapat menyebabkan terjadinya keluhan MSDs pada pekerja diakibatkan karena posisi kerja yang tidak ergonomis, tidak nyaman, sering melakukan Gerakan berulang

Kalimat di atas yang terdiri dari nama diri nina, kopula adalah, kata ganti saya, dan nomina profesi guru yang membentuk sebuah kalimat seperti contoh 1.a dan 1b, memungkinkan