Dalam literatur berbahasa Inggris kerap kali di kemukakan bahwa hak berdasarkan hukum (legal right) dibe dakan dari hak yang timbul dari norma lain.1 Menurut Paton, hak berdasarkan hukum biasanya diartikan se bagai hak yang diakui dan dilindungi oleh hukum.2 Hal senada dikemukakan oleh Sarah Worthington yang me nyatakan bahwa legal rights sering dilawankan dengan moral rights.3 Ia memberi con- toh bahwa seseorang dapat mengharapkan dibayar oleh majikannya, dicintai oleh ibunya, atau diberi hadiah pada hari ulang tahunnya.4 Selanjutnya, ia menyatakan bahwa di antara harapan itu terdapat hak berdasarkan hukum, yaitu hak se orang karyawan untuk mendapatkan bayaran dari ma ji kannya; apabila ia tidak dibayar, karyawan tersebut da pat menggunakan lembaga formal untuk membantu kar yawan itu memperoleh haknya atas bayaran itu dari majikannya.5 Berlainan halnya dengan harapan untuk dicintai ibu atau hadiah ulang tahun;
apa bila harapan itu tidak dipenuhi, tidak ada satu lembaga pun yang dapat memaksa terpenuhinya ha rapan itu. Namun, seseorang tersebut mempunyai hak moral untuk dicintai ibunya. Adapun harapan un tuk mendapat hadiah ulang tahun, harapan itu tinggal harapan karena harapan demikian tidak diatur oleh hu kum maupun moral.
1 Lihat G.W. Paton.
2 Ibid.
3 Sarah Worthington, Equity, Oxford: Oxford University Press, 2003, hlm. 21.
4 Ibid.
5 Ibid.
pustaka-indo.blogspot.com
Sebagaimana Paton, Worthington juga menyatakan bahwa hak berdasarkan hukum ditetapkan oleh aturan hukum. Ia menambahkan bahwa di negara-negara dengan sistem civil law, hak berdasarkan hu- kum ditetapkan dalam kitab undang-undang. Sebaliknya, di negara- ne gara dengan sistem common law, hak berdasarkan hu kum dapat di- identiikasi dari sanksi yang dijatuhkan oleh pengadilan atas pelang- garan yang di la kukan terhadap hak itu. Ia menegaskan bahwa apa bila pengadilan menjatuhkan sanksi, hal itu berarti ber kaitan dengan hak dan kewajiban secara hukum.6
Pandangan semacam itu merupakan pandangan yang dikembang- kan di Inggris sejak Jeremy Bentham.7 Me nurut Bentham, hak tidak mempunyai arti apa-apa jika tidak ditunjang oleh undang-undang.8 Dengan merujuk kepada pandangan Bentham ini, J.G. Riddall mem- berikan ilustrasi bahwa apabila seseorang duduk di tanah dengan ke- laparan, untuk mengatakan bahwa ia mempunyai hak untuk makan tetapi tidak memperoleh apa-apa, ber ar ti hak tidak mempunyai makna apa-apa.9 Untuk me nya takan bahwa masyarakat seharusnya mempu- nyai hak ini atau hak itu sebenarnya hal itu merupakan angan-angan yang tak kesampaian (windows-dressing), karena pada kenyataannya mereka tidak memperoleh apa yang ditawarkan itu.
Menurut Bentham, hak adalah anak dari hukum. Dari hukum yang nyata timbul hak yang nyata. Sebaliknya, dari hukum yang imajiner, yaitu hukum alam, timbul hak yang bersifat imajiner. Hak-hak alami- ah benar-benar tidak masuk akal.10 Sebelum Bentham, David Hume juga berpendapat bahwa hukum alam dan hak-hak ala miah bersifat meta-isis dan tidak nyata.11 Oleh karena itu, Bentham berpendapat bahwa hukum yang nyata bukanlah hukum alam, melainkan hukum
6 Ibid.
7 Jeremy Bentham sendiri dikenal sebagai pendiri pandangan utili tiarianisme. Akan tetapi, Jeremy Bentham sebenarnya yang meletakkan dasar-dasar legal positivism atau disebut juga analytical jurisprudence yang didirikan oleh John Austin.
8 J.G. Riddall, Jurisprudence, Oxford: Oxford University Press, 2005, hlm. 170.
9 Ibid.
10 Ibid., hlm. 171.
11 Ibid.
pustaka-indo.blogspot.com
BAB 4 • H a k
yang dibuat oleh lembaga legislatif. Menurutnya, hukum merupakan pro duk kehendak legislator.12 Mengingat Bentham me nempatkan hu- kum sebagai instrumen reformasi uti li ta rian, ia berpendapat bahwa hak untuk dapat di laksanakan harus dituangkan ke dalam undang-un- dang. Dari pandangan inilah terbentuk pandangan yang me nyatakan bahwa hak merupakan bentukan hu kum.
Pandangan demikian kurang tepat. Dalam bahasa Eropa Konti- nental, hak dan hukum dinyatakan dalam istilah yang sama, yaitu ius dalam bahasa Latin, droit dalam bahasa Perancis, Recht dalam bahasa Jerman, dan recht dalam bahasa Belanda. Oleh karena itu, dalam lite- ratur berbahasa Belanda guna membedakan antara hak dan hukum digunakan istilah subjectief recht untuk hak dan objectief recht untuk hukum.13 Dengan de mikian, jika ditinjau dari segi etimologis, antara hu kum dan hak adalah sama. Ibaratnya, hak dan hukum adalah mata uang logam yang satu sisinya merupakan hak dan sisi lain merupakan hukum.
Terhadap perumpamaan ini pun dapat dipertanyakan hak atau hu- kum yang berada di bagian kepala uang logam itu. Pertanyaan demiki- an berkaitan dengan per tanyaan apakah eksistensi hak ditentukan oleh hukum atau sebaliknya. Pada Bab 2 telah dikemukakan bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang berbudaya ka rena manusia mempu- nyai dua aspek, yaitu aspek i sik dan aspek eksistensial. Secara kodrati kehidupan ber ma syarakat merupakan modus survival bagi manusia.
Ber dasarkan pemikiran ini tidak berkelebihan kalau di ka ta kan bahwa hak merupakan sesuatu yang melekat pada manusia secara kodrati dan karena adanya hak inilah di perlukan hukum untuk menjaga kelang- sungan eksistensi hak dalam pola kehidupan bermasyarakat. Hukum se bagai produk budaya mengemas, memberi bentuk, dan menghalus- kan apa yang melekat pada manusia yang se cara substansial terdapat dalam hidup bermasyarakat. Apabila dikaitkan dengan pertanyaan
12 Wayne Morrison, Op. cit., hlm. 189.
13 Dalam literatur berbahasa Indonesia baik yang mengadaptasi atau terjemahan literatur berbahasa Belanda sering terjadi kesalahan terjemahan, yaitu objectief recht diterjemahkan hukum objektif dan subjectief recht diterjemahkan hukum subjektif.
pustaka-indo.blogspot.com
mengenai di sisi ma nakah hak itu pada mata uang logam, jawabnya jelas bahwa hak berada pada sisi kepala sedangkan hukum pada sisi ekor. Penjelasan ini membantah pandangan yang menyatakan bahwa hak diciptakan oleh hukum. Se baliknya, penjelasan ini menegaskan bahwa hukum di ciptakan karena adanya hak.
Adanya penggunaan istilah yang sama untuk hak dan hukum, yaitu ius, menunjukkan bahwa pengertian hak dalam hukum Romawi me- mang sudah dikenal. Ke nya taan semacam itu masih terasa di wilayah- wilayah yang dipengaruhi oleh hukum Romawi. Skotlandia, mi salnya, walaupun merupakan bagian dari Kerajaan Ing gris (United Kingdom), sangat dipengaruhi oleh hu kum Romawi.14 Hukum Inggris tidak selalu mudah menggunakan kata right.15 Di dalam Harassment Act 1977, Sec- tion 2, yang berlaku untuk England dan Wales, me netapkan: “It shall be an ofence to harass another per son.”16 Adapun Section 8 yang berlaku di Skotlandia menetapkan: “Every individual has a right to be free from harassment.”17 Meskipun makna yang dikandung oleh kedua ketentuan itu sama, yaitu larangan terhadap ha rassment,18 perumusan yang di- gunakan berbeda, yaitu dihindarinya kata right untuk yang berlaku di England dan Wales dan sebaliknya, dikedepankannya kata right un tuk yang berlaku di Skotlandia.
Namun demikian, kata ius (hak) yang telah dikenal da lam hu- kum Romawi memang tidak memiliki arti penting dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat pada masa sebelum abad XVI. Sejarah membuktikan bahwa hingga abad XVII perbincangan me ngenai hak tidak dilakukan secara sepenuhnya. Hal ini menunjukkan bahwa sam- pai pada masa itu, hak bukan merupakan tema sentral dalam perbin- cangan hukum.19 Perbincangan-perbincangan yang berkembang pada
14 Sebenarnya Skotlandia merupakan suatu negara yang lama bersekutu (auld alliance) dengan Perancis.
15 J.G. Riddall, Jurisprudence, Oxford: Oxford University Press, 2005, hlm. 184.
16 Ibid.
17 Ibid.
18 Menurut Black’s Law Dictionary, harassment artinya words, gestures, and actions which annoy, alarm, and abuse (verbally) another person.
19 J.G. Riddall, Op. cit., hlm. 168.
pustaka-indo.blogspot.com
BAB 4 • H a k
ma sa itu justru berkisar pada kewajiban un tuk bertingkah laku baik, bukan mengedepankan hak. Hal itu disebabkan sampai pada masa itu penghambaan dan perbudakan masih dianggap sah.20
Hak mulai menjadi tema sentral perbincangan se iring dengan timbulnya negara-negara nasional yang mem persoalkan hubungan antara negara dan warga ne gara dan yang mengenai masalah hak-hak apa kah yang dimiliki oleh individu, bilamana ada, atau harus dimiliki oleh individu terhadap negara terutama terhadap pemerintah yang memerintah warga negaranya secara tirani.21 Sejarah mencatat bahwa pada masa itu kekuasaan raja di semua negara Eropa bersifat abso- lut. Absolutisme ini didasarkan atas dua alasan pembenar. Pertama, adanya kekuasaan absolut diperlukan untuk menghindari kekacauan sebagaimana pernah terjadi di Inggris pada masa kehidupan homas Hobbes.22 Ke ku asaan absolut dalam hal ini dimaksudkan untuk men- ciptakan ketertiban dalam kehidupan bermasyarakat. Kedua, kaum bangsawan berpegang kepada bunyi ayat-ayat Alkitab yang terdapat dalam Roma 13: 1-7 yang pada intinya menyatakan bahwa pemerintah ditetapkan (lebih tepat “ditahbiskan”) oleh Allah dan menjadi hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat ja- hat dan kewajiban bagi warga negara untuk tunduk sepenuhnya pe- merintah.23
Sebenarnya, secara ilosois, kekuasaan absolut raja yang didasar- kan pada hukum alam merupakan suatu kewajiban untuk memerintah secara adil. Ketertiban ha nya sarana untuk mendatangkan keadilan bagi warga ne garanya. Apabila ternyata raja tidak memerintah secara adil, ia menentang hukum alam. Oleh karena itulah dilihat dari sudut hukum alam, raja demikian tidak layak lagi untuk memerintah. Begitu juga jika didasarkan pada Roma 13: 1-7, secara teologis, karena raja
20 Bahkan sampai sebelum Perang Saudara Amerika, perbudakan masih diakui sebagai sesuatu yang secara alamiah sah.
21 J.G. Riddall, Loc. cit.
22 Lihat Bab III.
23 Ayat-ayat ini sering dimaknai secara salah sehingga melalui pemuka agama Kristen penguasa memanipulasi untuk mempertahankan status quo. Oleh karena itulah, para teolog Kristen perlu memahami latar belakang historis terjadinya ayat ini.
pustaka-indo.blogspot.com
merupakan wakil Allah, ia harus memiliki karakter sebagai Allah yang rahman, rahim, adil, dan penuh rahmat; konsekuensinya, ia berkewa- jiban memerintah warganya dengan bijaksana, berhikmat, dan bersifat melindungi warganya. Dengan demikian, kekuasaan bukan merupa- kan hak melainkan ke wajiban untuk melaksanakan kehendak Allah di dunia, dan apabila kewajiban itu telah dilaksanakan ia berhak atas kekayaan yang diperoleh dari kewajiban rakyatnya membayar pajak, upeti, dan lain-lain.
Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Pem be la absolutisme justru menggunakan kedua alasan pem benar itu untuk memaknai kekuasaan sebagai su atu yang diberikan oleh Allah untuk meletakkan ke wa ji b- an-kewajiban kepada rakyatnya agar kehidupan ber m a sya rakat tetap tertib. Hal inilah yang digugat oleh John Locke. Untuk menggugat ab- solutisme tersebut, John Loc ke menggunakan pandangan hukum alam menentang hak-hak raja yang absolut. Ia berpendapat bahwa war ga negara mempunyai hak yang secara moral dapat di benarkan untuk berhadapan dengan negara.24 Hak-hak itu bersifat alamiah yang di- bawa sejak lahir karena hak-hak itu diberi oleh Allah. Hak-hak terse- but adalah hak hi dup, hak atas kebebasan, dan hak milik.
Pandangan John Locke ini sangat memengaruhi perumusan he Declaration of Independence Amerika. Untuk jelasnya, kutipan he Declaration of Independence Amerika tersebut diilustrasikan pada hal- aman berikut ini.
Sebelum Perang Kemerdekaan usai, ketiga belas ko loni itu telah mempertimbangkan bentuk pemerintahan yang harus diadakan apa- bila mereka memenangi pe pe rangan itu.25 Pada 1787, diadakan suatu kon vensi yang menetapkan Konstitusi Amerika Serikat. Di dalam konstitusi itu dibentuk suatu negara yang ber sifat federasi dan ditetap- kan bahwa ketiga belas koloni itu men jadi negara-negara bagian yang mengelola se mua urus an pemerintahan, kecuali beberapa urusan yang se cara politis dan berdasarkan pertimbangan ke amanan me mang
24 J.G. Riddall, Loc. cit.
25 J.G. Riddall, Op. cit., hlm. 187.
pustaka-indo.blogspot.com
BAB 4 • H a k
IN CONGRESS, July 4, 1776 THE UNANIMOUS DECLARATION of THE THIRTEEN UNITED STATES OF AMERICA1
W
hen, in the course of human events, it becomes necessary for one people to dissolve the political bands which have connected them with another, and to as- sume, among the powers of the earth, the separate and equal station to which the laws of nature and the nature’s God entitle them, a decent respect to the opinion of man- kind requires that they should declare the causes which impel them to separation.We should hold these truths to be self-evident, that all men are created equal; that they are endowed by their Creator with certain unalienable rights; that among these are life, liberty, and pursuit of happiness.
That to secure these rights, governments are instituted among men, deriving their just powers from the consent of the governed; that, whenever any form of govern- ment becomes destructive of these ends, it is the right of the people to alter or abolish it, and to institute a new government, laying its foundation on such principles, and organising its power in such form, as to them shall seem most likely to effect their safety and happiness.
Prudence, indeed, will dictate that governments long es tabli shed should not be chal- lenged for light and transient causes; and accordingly, all experience hath shown, that mankind are more disposed to suffer, while evils are sufferable, than to right themselves by abolishing the forms to which they are accustomed.
But, when a long train of abuses and usurpations, pursuing invariably the same ob- ject, evinces a design to reduce them under absolute despotism, it is their right, it is their duty, to throw off such government, and to provide new guards for their future security.
Such has been the patient sufferance of these colonies, and such is now the necessity which constrain them to alter their former systems of government. The history of the present King of Great Britain is a history of repeated injuries and usurpation, all hav- ing in direct object, the establishment of an absolute tyranny over these States.
To prove this, let facts be submitted to a candid world:
He has refused his assent to laws the most wholesome and necessary for the public good.
He has forbidden his governors to pass laws of immediate and pressing importance, unless suspended in their operation till his assent should be attained; and when so suspended, he has utterly neglected to attend to them.
He has refused to pass other laws for the accommodation of large districts of people, unless those people would relinquish the right of representation in the legislature: a right inestimable to them, and formidable to tyrants only...”
1 Istilah United di sini hanya menunjukkan bahwa pertama kali, hanya merupakan kata sifat yang berarti bahwa ketiga belas negara-negara Amerika (States of America) itu bersatu untuk mengeluarkan deklarasi tersebut.
pustaka-indo.blogspot.com
menjadi kompetensi pemerintahan fe deral. Tetapi, di dalam konsti- tusi tersebut tidak di muat ke tentuan-ketentuan mengenai hak warga ne gara. Ti dak dimuatnya ketentuan-ketentuan mengenai hak warga negara tidak berarti negara Amerika yang ber ben tuk federasi itu tidak melindungi hak-hak war ganya. Se baliknya, hak-hak itu telah tertuang di dalam he Unani mous Declaration tersebut.
Dengan memodiikasi pandangan John Locke, di dalam alinea kedua dari deklarasi itu berbunyi: “We sho uld hold these truths to be self-evident, that all men are created equal; that they are endowed by their Creator with certain unalienable rights; that among these are life, liberty and pursuit of happiness.” Perbedaan yang signiikan dengan yang dikemukakan oleh John Locke adalah pada deklarasi ini dikemu- kakan “... and pursuit of happiness” bukan “property” seperti dikemu- kakan John Lo cke. Akan tetapi, hal ini menunjukkan bahwa perancang konstitusi itu lebih mengandalkan hukum alam daripada positivisme.
Bahkan dalam perjalanan pengelolaan hak, sampai saat ini Mahkamah Agung Amerika Serikat lebih banyak didominasi oleh pandangan hu- kum alam daripada pandangan positivisme.26 Oleh karena itu, tidak dapat dipungkiri, kenyataan-kenyataan itu membenarkan pandangan yang dikemukakan dalam tulisan ini, yaitu bukan hak diciptakan oleh hukum, melainkan hak yang memaksa adanya hukum.