• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUKUM PUBLIK DAN HUKUM PRIVAT

Dalam dokumen Sanksi Pelanggaran Hak Cipta (Halaman 194-200)

Dilihat dari kepentingan yang diaturnya, ada dua ma cam hukum, yaitu hukum publik dan hukum privat. Yang pertama kali melakukan pembagian tersebut ada lah Ulpianus. Menurut Ulpianus, “Huius studii duae sunt positiones, publicum et privatum. Publicum ius est quod ad statum rei Romanæ spectat, privatum quod ad si ngu lorum utilitatem:

sunt enim quædam publice utilia, qu ædam privatim.”1 Dari ungkapan ini dapat ditafsirkan bah wa ius publicum atau hukum publik berkaitan dengan fung si negara sedangkan hukum privat berkaitan dengan ke- pentingan individu.

Ada dua alasan mengapa diadakan pembedaan itu. Alasan per- tama, negara berfungsi untuk melaksanakan ke hendak rakyatnya.

Negara dibentuk untuk menjaga ter peliharanya kehidupan berbangsa, melindungi warganya dari serangan musuh dari luar, meningkatkan ke se jah te raan sosial, dan memberdayakan warganya. Di sini ne gara bertindak sebagai fasilitator dalam ke hidup an berbangsa. Dalam me- laksanakan fungsi ter sebut, di perlukan aturan-aturan hukum. Aturan- aturan hu kum itu mungkin saja diadopsi dari praktik-praktik da lam per gaulan hidup bermasyarakat. Akan tetapi de ngan se makin besarnya

1 P. van Dijk et al., Op. cit., hlm. 36. Terjemahan bebasnya adalah studi hukum meliputi dua bidang, yaitu hukum publik dan hukum privat. Hukum publik adalah hukum yang berkaitan dengan pengaturan negara Romawi, hukum privat berkaitan dengan kepentingan orang se- cara individual: sebenarnya, yang satu melayani kepentingan masyarakat dan yang lain me- layani kepentingan individu.

pustaka-indo.blogspot.com

organisasi yang terdiri dari ke bhi ne ka an suku, budaya, dan adat-istia- dat, harus ada atur an-aturan yang lain daripada yang ditetapkan oleh ma sya rakat. Aturan-aturan itulah yang diciptakan oleh or ganisasi ne- gara dalam rangka melaksanakan fung sinya. Hal ini merupakan ala- san ontologis eksistensi hu kum publik. Alasan kedua adalah mengenai hubungan yang diaturnya. Hukum melayani bermacam-macam ke- pen tingan. Kepentingan-kepentingan yang diatur oleh hu kum dapat dibedakan antara kepentingan umum dan ke pentingan khusus. Ke- pentingan umum berkaitan de ngan ke bersamaan dalam hidup ber- masyarakat. Pe ngu asa me la lui hukum publik harus memelihara ke- pentingan umum. Sebaliknya, dalam suatu kehidupan ber ma syarakat, war ga masyarakat mempunyai kebebasan un tuk me ng ada kan hubung- an di antara sesamanya. Da lam hu bu ngan yang demikian, yang terlibat adalah ke pentingan me reka yang mengadakan hubungan yang da lam hal ini di sebut kepentingan khusus. Kepentingan d e mikian di atur oleh hukum privat.

Persoalan yang timbul dari digunakannya ukuran ke pentingan untuk membedakan hukum publik dari hukum privat adalah apa- kah yang disebut kepentingan umum dan manakah yang merupakan kepentingan khusus? Ke pentingan politik karena berkaitan dengan negara je las dapat dikualiikasi sebagai kepentingan umum. Be gitu juga keamanan merupakan kepentingan bersama war ga masyarakat sehingga dapat dikategorikan sebagai ke pentingan umum. Oleh ka- rena itulah, hukum tata ne ga ra dan hukum administrasi negara yang berkaitan dengan negara dan hukum pidana bersama-sama dengan hukum acara pidana karena berkaitan dengan ke pentingan ber sama diklasiikasikan sebagai hukum pub lik. Se balik nya, kepentingan yang bersifat pribadi, mi salnya ber do misili, perkawinan, kepemilikan harta ke kayaan, dan pe warisan merupakan kepentingan khusus se hingga yang m e ngaturnya adalah hukum privat.

Memang, secara tradisional yang termasuk ke dalam bilangan hu- kum publik adalah hukum tata negara, hukum administrasi, hukum pidana dan hukum acara pidana. Dalam perkembangan selanjutnya, terdapat bidang-bi dang hukum yang penegakannya harus dilakukan

pustaka-indo.blogspot.com

BAB 5 • Pengertian-pengertian Elementer dalam Hukum

oleh negara karena dipandang berkaitan dengan kepentingan umum sehingga masuk ke dalam pengaturan hukum pub lik, misalnya hukum lingkungan. Penentuan mana yang me rupakan kepentingan umum sehingga masuk ke wi la yah hukum publik dan yang mana yang meru- pakan ke pentingan khusus sehingga masuk ke dalam wilayah hu kum privat bergantung kepada pembuat undang-undang. Namun pem- buat undang-undang juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi, sosial, politik, dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Namun mere- ka bebas mem buat pilihan mengenai faktor apakah yang paling di- pertimbangkan dalam membuat putusan sesuai dengan pan dangan partai yang menguasai lembaga pembuat un dang-undang itu.2

Di dalam wilayah hukum publik, hukum tata negara merupakan suatu esensialitas dalam hidup bernegara. Oleh karena itu, tidak salah jika dalam literatur hukum tata negara disebut sebagai basic law, yaitu hukum yang mendasari eksistensi hukum-hukum lainnya. Hal itu ber arti tanpa hukum tata negara tidak ada hukum-hu kum yang lain.

Namun demikian, tidak selalu hukum ta ta ne gara itu bersifat tertu- lis. Dalam suatu masyarakat ke cil yang di dalamnya terdapat beberapa orang yang me nge ndalikan persekutuan itu, tentu saja kepada mereka di berikan kewenangan-kewenangan tertentu meskipun ti dak tertulis.

Hal ini merupakan embrio hukum tata ne gara.

Hukum tata negara adalah hukum yang berkaitan dengan organi- sasi negara. Hal yang menjadi objek pe nga tur an hukum tata negara adalah kewenangan organ-or gan negara, hubungan antar-organ nega- ra, hak asasi manusia, ke warganegaraan, keabsahan undang-undang dan per atur an-peraturan, partai politik, dan pemilihan umum. Apa - bila ditelaah, hukum tata negara kewenangan dan tu gas organ negara, hak dan kewajiban warga negara dan hak asasi manusia dalam pe nye- lenggaraan kehidupan bernegara.

Berbeda halnya dengan hukum administrasi. Jika hu kum tata ne-

2 Pembentuk undang-undang di negara-negara dengan sistem parlementer adalah par- lemen, yaitu Dewan Perwakilan Rakyat. Di Amerika Serikat, pembentuk undang-undang adalah Congress, yang terdiri dari dua lembaga, yaitu he House of Representatives (Dewan Perwakilan Rakyat) dan Senates (Wakil Negara Bagian).

pustaka-indo.blogspot.com

gara berkaitan dengan semua organ negara, hukum administrasi hanya berkaitan dengan organ ad ministrasi saja dalam kerangka bekerjanya kekuasaan ek sekutif. Secara umum hukum administrasi diartikan se- bagai hukum yang mengatur hubungan antara organ ad ministrasi dengan warga masyarakat. Ciri khas hukum administrasi adalah se- lalu berbentuk tertulis. Jika dalam hukum tata negara dimungkinkan adanya konvensi,3 ya itu kebiasaan-kebiasaan dalam penyelenggaraan kehidupan bernegara yang dianggap mengikat meskipun tidak tertulis, dalam hukum administrasi tidak ada tempat bagi hukum kebiasaan.

Bidang-bidang yang menjadi objek pengaturan hukum administrasi adalah perizinan, pegawai negeri, pajak, pendataran yang mencipta- kan hak, dan tindakan organ administrasi.

Bidang hukum selanjutnya yang secara tradisional masuk ke dalam bilangan hukum publik adalah hukum pidana. Hukum pidana adalah hukum yang menetapkan perbuatan-perbuatan apa saja yang dilarang dan mene tapkan sanksi bagi yang melakukan perbuatan-perbuatan itu. Perbuatan-perbuatan itu mungkin merupakan suatu tindakan atau suatu pembiaran artinya harus berbuat sesuatu tetapi tidak berbuat apa-apa. Gagasan dasar di adakannya hukum pidana adalah untuk mencegah ter jadinya perbuatan-perbuatan yang merugikan masya ra- kat. Akan tetapi, tidak semua perbuatan yang meru gi kan masyarakat merupakan perbuatan pidana. Jadi, yang me netapkan perbuatan apa saja yang merupakan perbuatan yang diancam dengan pidana bagi yang melakukannya adalah pembuat undang-undang. Dengan de- mikian, tidak se mua perbuatan yang merugikan masyarakat dapat di- kenai sanksi pidana. Dalam hukum pidana berlaku asas legalitas.

Asas legalitas tersebut tertuang dalam bahasa Nul lum delictum,

3 Konvensi dalam hal ini berasal dari kata convention dalam bahasa Inggris British yang artinya kebiasaan-kebiasaan dalam kenegaraan. Dalam bahasa Inggris Amerika, istilah itu merujuk kepada pertemuan-pertemuan atau konferensi partai politik dalam rangka penca- lonan presiden atau anggota senat di samping juga konferensi untuk amandemen UUD. Dan- lam hukum internasional istilah convention merupakan perjanjian internasional. Di sam- ping itu, istilah convention secara umum juga digunakan untuk menyebut pertemuan atau konferensi.

pustaka-indo.blogspot.com

BAB 5 • Pengertian-pengertian Elementer dalam Hukum

nulla poena sine prævea lege poenali,4 yang artinya, “tiada seorang pun dapat dipidana karena me lakukan sesuatu perbuatan jika tidak ada aturan un dang-undang yang mengatur sebelum perbuatan itu di- lakukan.” Proposisi itu pertama kali dikemukakan oleh Anselm von Feuerbach, seorang yuris bangsa Jerman dalam karyanya Lehrbuch des peinlichen Recht. Akan tetapi, ungkapan demikian tidak dapat di- jumpai dalam hukum Romawi purba yang ditulis dalam bahasa Latin.

Moeljatno, yang mencari asal mula ungkapan itu menemukan bahwa dalam suatu artikel yang berjudul Tijdschrit v Strafrecht disebutkan bahwa pada masa Ro mawi terdapat perbuatan-perbuatan pidana yang dis ebut crimina extra ordinaria, yaitu perbuatan-per buatan pidana yang tidak diatur oleh undang-undang.5 Salah satu crimina extra ordi- naria disebut crimina stellionatus, yang secara hariah diterjemahkan sebagai perbuatan jahat. Perbuatan pidana semacam itu tidak diatur dalam undang-undang pada masa Romawi. Ketika hukum Romawi diterima di Eropa Barat pada abad Pertengahan, pengertian crimina extra ordinaria juga diterima oleh raja yang memerintah. Penerimaan itu memungkinkan raja melaksanakan kekuasaan absolutnya untuk menjatuhkan pidana terhadap orang-orang yang berbuat salah dalam rangka mengamankan posisinya.6

Begitu absolutisme tumbuh pesat pada Ancient Re gime, terdapat tuntutan mengenai perlindungan hukum bagi warga negara dari ke- kuasaan raja yang bersifat ab solut. Dalam bukunya yang terkenal, L’Esprit des Lois, Montesquieu memperkenalkan doktrin pemisahan ke kuasaan yang oleh Immanuel Kant disebut Trias Politica. Me nurut doktrin tersebut, tugas hakim terbatas pada penerapan hukum yang dibuat oleh kekuasaan legislatif.7 Per nyataannya yang terkenal adalah:

4 Terjemahan hariahnya adalah “tidak ada perbuatan pidana, tidak ada pemidanaan tanpa aturan undang-undang yang telah ada sebelumnya yang memidananya.” Jelaslah bahwa asas legalitas merujuk kepada adanya undang-undang terlebih dahulu. Kata lege dalam asas terse- but merupakan deklensi dari lex yang artinya undang-undang. Hukum dalam bahasa Latin disebut ius. Lihat Bab 1.

5 Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Jakarta: Rineka Cipta, 2002, hlm. 24.

6 Ibid.

7 Paul Scholten, Op. cit., hlm. 2.

pustaka-indo.blogspot.com

“Les juges de la na tion ne sont que les bouches qui prononcent les pa- roles de la loi: des êtres inanimés qui n’en peuvent modérer ni la force ni la rigueur.”8 Di samping itu, ia menyatakan, “Plus le gouvernement approche de la république plus la manière de juger devient ixe.”9 Mon- tesquieu mengemukakan tiga tipe negara: l’etat despotique (negara des- potisme), l’etat monarchique (negara monarki), dan l’etat republicain (ne gara republik). Menurut Montesquieu, negara republik adalah tipe negara yang ideal. Pada masa Montesquieu hi dup, Perancis merupa- kan negara monarki. Dalam peng lihatan Montesquieu, “Dans les etats monarchiques il y a une loi; là où elle est précise le juge la suit; là où elle ne l’est pas, il en cherche l’esprit.”10 Sebaliknya, dalam negara despotisme

“il n’y a pas de lois; le juge est lui-même sa règle.”11 Ia merindukan negara republik yang untuk hal itu ia menyatakan, “Dans l’état républicain il est de la nature de la constitution que les juges suivent la lettre de la loi.”12 Pernyataan tersebut secara implisit menyuarakan adanya asas legalitas.

Karya Montesquieu dan penulis-penulis lain se ma sa nya, yaitu Rousseau dan Voltaire, telah memberi ins pi rasi terhadap Revolusi Pe- rancis 14 Juli 1789. Revolusi itu telah menghasilkan La Declaration des droit de l’homme et du citoyen (Deklarasi Hak-hak Manusia dan Warga Negara), yang di dalamnya tertuang asas le ga litas. Pada abad XX, asas tersebut tertuang di dalam Pasal 11 (2) the Universal Declaration of Hu- man Rights Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Pasal 7 Treaty of Rome on the Protection of Human Rights and Fundamental Freedoms.

Akhirnya, yang secara tradisional termasuk ke da lam wilayah hu-

8 Terjemahan bebasnya adalah: Hakim bangsa ini bukanlah mulut yang mengucapkan kata-kata undang-undang: ada suatu kesadaran untuk tidak melunakkan kekuatan maupun ketegarannya. Montesquieu, De l’esprit des lois, Paris: Gallimard, 1995, Livre XI, Chapitre VI, hlm. 337.

9 Terjemahannya: Semakin pemerintahan mendekati bentuk republik, semakin kaku cara kerja hakim. Ibid. Livre VI, Chapitre III, hlm. 200.

10 Di negara-negara monarki, ada satu hukum; apabila ditemukan hukum yang tepat, ha- kim mengikuti huruf-huruf itu secara tepat; apabila tidak ditemukan secara tepat, ia mencari semangat hukum itu. Ibid.

11 Tidak ada hukum; hakim sendiri yang menjadi hukum. Ibid.

12 Dalam suatu negara republik, merupakan suatu hakikat konstitusi bahwa hakim meng- ikuti huruf-huruf undang-undang. Ibid.

pustaka-indo.blogspot.com

Dalam dokumen Sanksi Pelanggaran Hak Cipta (Halaman 194-200)