• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYALAHGUNAAN HAK (MISBRUIK VAN RECHT) 42

Dalam dokumen Sanksi Pelanggaran Hak Cipta (Halaman 168-171)

BAB 4 • H a k

Dari pandangan-pandangan yang dikemukakan, ki ranya pandang- an Dworkin yang sesuai dengan hakikat hak itu sendiri. Oleh karena itu, semakin kuatlah argumentasi yang mendasari pernyataan yang dikemukakan dalam tulisan ini bahwa bukan hak diciptakan oleh hu- kum, melainkan hak yang memaksa adanya hukum. Meskipun Dwor- kin menyatakan bahwa hak bukan karunia Allah, tidak dapat disang- kal bahwa keberadaan hak tidak dapat dilepaskan dari hakikat kema- nusiaan itu sendiri yang adalah ciptaan Allah. Hak, dengan demikian, merupakan satu paket dalam penciptaan manusia sebagai makhluk yang mempunyai aspek isik dan aspek eksistensial. Diakui atau tidak oleh hukum, hak itu tetap saja ada sebagai bagian dari keberadaan ma- nusia itu sendiri.

nya “memang, kita tidak boleh menggunakan hak kita untuk tujuan tidak baik.” Hal itu berarti bahwa penggunaan suatu hak dalam arti kewenangan semata-mata dengan tujuan untuk merugikan orang lain merupakan sesuatu yang tidak dapat diterima.

Sebagai contoh klasik dalam perbincangan pe nya lah gunaan hak yang selalu dikemukakan adalah putusan pengadilan di Colmar pada 2 Mei 1855. Putusan itu me ngenai perkara pembangunan cerobong asap palsu. Per kara itu berawal dari A dan B yang bertetangga dalam su atu rumah susun. A bertempat tinggal di lantai yang lebih tinggi dari B dan mempunyai jendela yang memungkinkan A menikmati peman- dangan lewat jendela itu. B yang iri ter hadap A lalu membangun cero- bong asap palsu hanya untuk menghalangi pemandangan A. Pengadil- an di Col mar yang memeriksa cerobong asap itu mendapati bah wa ce- robong asap itu palsu. Oleh karena itulah, atas da sar penyalahgunaan hak, pengadilan memerintahkan agar cerobong asap itu dibongkar.46

Berbagai pandangan yang ada mengenai pengertian hak dipenga- ruhi oleh ajaran penyalahgunaan hak. Me nurut Hammerstein, peng- hargaan terhadap kebebasan in dividu makin berkurang dan lebih me- nekankan pada peng gunaan hak yang sesuai dengan tujuan sosial.47 Ia se lanjutnya mengemukakan bahwa dalam perjalanan abad XX, melalui pengadilan dan undang-un da ng modern, ajaran semacam itu dikembangkan.48 Akan te tapi, ia tidak menyitir putusan penga- dilan mana pada abad XX yang mengembangkan ajaran itu. Na mun demikian, mengenai undang-undang, ia memberi contoh Pasal 2 ayat 2 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Swiss yang berbunyi: “Der

46 Ibid.

47 Ibid., hlm. 49. Catatan: ketika Hammerstein menulis bagian ini dari revisi atas buku L.J. van Apeldoorn tahun 1985, pada saat itu masih gencar-gencarnya serangan kaum Letist terhadap hukum yang ada. Tulisan-tulisan Donald Black, Selznick dan Nonet, Chambliss dan Seidman, dan penganjur Critical Legal Studies semua menempatkan hukum sebagai alat kaum mapan yang harus dirombak. Alternatifnya adalah hukum harus lebih melayani ke- pentingan sosial daripada kepentingan individu. Pada 1994 dibentuklah World Trade Or- ganization yang di dalamnya mengandung perlindungan hukum terhadap negara-negara terbelakang—sudah barang tentu juga termasuk rakyatnya.

48 P. van Dijk, et al., Loc. cit.

pustaka-indo.blogspot.com

BAB 4 • H a k

ofenbare Mißbrauch eines Rechts keinen Rechtsschutz.”49 Di samping itu, ia membandingkan dengan Pasal 1 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Uni Soviet kala itu yang diterjemahkan oleh Pataouillet dan Dafour dalam bahasa Perancis: “Les droit civils sont protégé par la loi, sauf dans les cas où ils sont exercé dans un sens contraire à leur destina- tion économique et sociale.50

Hammerstein mengemukakan bahwa menurut be berapa sarjana, ajaran penyalahgunaan hak merupakan sesuatu yang berlebihan.51 Bagi mereka, masalah-masalah tersebut dapat diselesaikan dalam kerangka ajaran per buatan melanggar hukum.52

Akan tetapi, pada akhirnya Hammerstein me nge mu ka kan bahwa pada saat ini istilah penyalahgunaan hak telah diterima dan memper- oleh pengertian yang je las ba gi setiap orang.53 Sejalan dengan penger- tian penya la h gunaan dalam alam pemikiran Kontinental, dalam alam pikir Anglo-American, dikembangkan Law of Nui sance. Nuisance artinya aktivitas yang timbul dari peng gunaan hak milik yang tidak beralasan, tanpa maksud tertentu atau tanpa alas hak yang merugi- kan orang lain atau pu b lik dengan menimbulkan ketidaknyamanan atau ter gang gunya orang lain atau publik tersebut. Di negara-ne gara dengan sistem common law, perbuatan semacam itu dilarang oleh undang-undang. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang dikemukakan oleh Hammerstein pada 1985 itu tidak tepat. Amerika Serikat, Inggris, Aus tralia, dan negara-negara lain yang nonsosialis me nerapkan Law of Nuisance.

Sebenarnya, sejak diundangkannya Sherman Act pa da akhir abad XIX yang kemudian dikenal de ngan Antitrust Law, Amerika Serikat tanpa perlu men jadi negara sosialis telah melakukan pembatasan hak

49 Terjemahannya adalah: “Penyalahgunaan hak secara terang-terangan tidak mempunyai dasar hukum”.

50 Terjemahannya: “Hak-hak keperdataan dilindungi oleh hukum, kecuali dalam beberapa hal hak-hak itu digunakan secara bertentangan dengan tujuan ekonomi dan sosial.

51 P. van Dijk, et al., Loc. cit.

52 Ibid.

53 Ibid.

pustaka-indo.blogspot.com

para pebisnis untuk melindungi pesaingnya dan kon sumen. Dalam un- dang-undang yang kemudian disusul de ngan undang-undang lainnya, para pebisnis pada da sarnya dilarang menggunakan posisinya yang kuat atau dominan untuk mempertahankan posisi itu dengan men jadi predator terhadap pesaingnya atau membuat pe saing nya bangkrut se- hingga ia akan mempunyai posisi yang monopolitis dan pada akhirnya dapat menetapkan har ga seenaknya yang menyengsarakan konsumen.

Jika dilihat dari segi hak itu sendiri, apa yang dilakukan oleh para pe- bisnis yang monopolistis itu bukan merupakan pelanggaran terhadap orang lain. Posisi dominan dan kompetitif diperoleh para pebisnis tersebut melalui studi yang sungguh-sungguh dan eksperimen yang cukup lama dan mahal. Begitu juga tindakan untuk mengadakan per- janjian dengan sesamanya merupakan hak mereka.

Akan tetapi, para pendukung diundangkannya Sher man Act me- nemukan nilai yang lebih tinggi dari nilai individualistis yang berkem- bang pada masa laissez faire, yaitu fairness. Atas dasar fairness itulah penggunaan kemampuan meskipun diperoleh melalui studi dan eks- pe rimen yang mahal yang menghalangi persaingan me rupakan suatu perbuatan yang dilarang. Berdasarkan pan dangan inilah D.C. Circuit Court of Appeals me ne guhkan fakta yang diungkap oleh Hakim Jack- son pada pe meriksaan tingkat pertama di Pengadilan District of Co - lumbia. Pengadilan itu mengungkapkan fakta pada 5 November 1999 yang menyatakan bahwa po sisi dominan pemasaran operating system personal com puter Microsot telah menyebabkan suatu monopoli dan bahwa Microsot telah melakukan perbuatan-per bu atan menekan me- reka yang mengancam monopoli itu termasuk Apple, Java, Netscape, Lotus Notes, Real Net works, dan Linux.

Dalam dokumen Sanksi Pelanggaran Hak Cipta (Halaman 168-171)