• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUKUM DAN KEBIASAAN

Dalam dokumen Sanksi Pelanggaran Hak Cipta (Halaman 64-69)

BAB 2 • Hukum sebagai Norma Sosial

ber akhirnya abad XIX antropologi menjadi suatu studi la pangan dan memungkinkan pemahaman yang lebih da lam terhadap masyarakat primitif. Sejak saat itulah da pat dilakukan secara cermat pembedaan antara hukum dan kebiasaan.

Kebiasaan merupakan tindakan yang selalu dilaku kan dan dipeli- hara oleh sekelompok orang. Tin dak an itu dapat berupa ritual dalam rang ka peristiwa penting dalam kehidupan ma nusia, seperti kelahir- an, perkawinan, dan kematian, dan da pat juga berupa sekadar norma pergaulan seperti ca ra ber pa kaian, perlunya memberi hadiah pada saat se orang te man melangsungkan perkawinan, dan lain-lain. Pe lang- garan terhadap suatu peristiwa penting menim bulkan reaksi masya- rakat terhadap si pelanggar. Pada masyarakat primitif, pelanggar terse- but dapat diasingkan dari masyarakatnya. Norma demikan merupakan norma kebiasaan. Norma kebiasaan dapat juga berupa aturan untuk harta perkawinan, mengasuh anak, dan mengalih kan hak milik karena kematian.

Suatu studi yang menarik adalah studi masyarakat In dian Chey- enne yang dilakukan oleh Llewellyn dan Hoe bel.23 Mereka mempunyai postulat bahwa dalam setiap masyarakat terdapat tiga unsur, yaitu ke- lompok, adanya keinginan yang berbeda di dalam kelompok itu, dan gu gat an-gugatan yang dilakukan oleh anggota-anggota ke lompok ter- hadap anggota-anggota kelompok lainnya dan terhadap kelompok itu sendiri. Apabila kelompok itu ingin tetap menjadi suatu masyarakat, masalah-ma salah itu harus diselesaikan. Llewellyn dan Hoebel se cara tepat menyatakan bahwa untuk menyelesaikan masalah-masalah itu tidak akurat digunakan kebiasaan dan mores. Hal itu disebabkan oleh tiga hal. Pertama, pa da masyarakat primitif terdapat perbedaan me- ngenai apa yang dilakukan dan apa yang harus dilakukan. Ke dua, ka- dang kala terdapat konlik di antara keluarga, ke lompok kecil, kaum militer, dan suku. Masing-ma sing memiliki normanya sendiri yang harus dapat diper damaikan dengan norma-norma kelompok. Dalam hal ini, konlik bukan semata-mata terjadi antara individu dan ke-

23 G.W. Paton, Op. cit., hlm. 191.

pustaka-indo.blogspot.com

BAB 2 • Hukum sebagai Norma Sosial

lompoknya. Ketiga, kata kebiasaan kadang-kadang merujuk kepada praktik-praktik yang sedang terbentuk. Llewellyn dan Hoebel melihat adanya dua faktor utama dalam dinamika hukum, yaitu perkembang- an yang tidak disadari dan tuntutan individual yang dilakukan secara sadar. Menurut para penulis itu, tuntutan individual se cara sadar itu- lah yang merupakan hukum.24 Kesadaran akan perlunya aturan itulah yang biasanya disebut se ba gai opinio necessitatis. Inilah yang mem- bedakan an ta ra kebiasaan dan hukum kebiasaan. Di dalam opinio ne- cessitatis terdapat suatu pengakuan mengenai adanya ke wenangan di belakang pranata itu.

Sehubungan dengan hal itu, Malinowski mengemuka kan adanya karakter aturan hukum dalam masyarakat pri mitif. Melalui studinya yang lebih cermat, ia me ne mukan sistem pembagian fungsi yang pasti dan suatu sistem kewajiban timbal balik yang ketat.25 Sistem ter sebut memungkinkan perasaan memiliki kewajiban dan pengakuan akan kebutuhan bekerja sama, bekerja seiring sejalan dengan perwujudan kepentingan sendiri, hak-hak perorangan, dan kemaslahatan individu.

Selanjutnya, Malinowski menyatakan bahwa bukanlah sherif yang siap untuk melakukan eksekusi hak dan kewajiban da lam masyarakat primitif. Norma itu bersifat selfen for cing karena anggota masyarakat membutuhkan jasa dan kemampuan orang lain.26 Seseorang, misalnya, mem butuhkan perahu untuk menangkap ikan tetapi ia tidak mungkin memperoleh perahu tanpa ia berjanji mem berikan bagian dari yang ditangkap kepada pemilik pe rahu.27 Menurut Malinowski, seorang yang melalaikan kewajibannya, ia akan menderita karena kelalaian itu pada masa mendatang.28 Jelaslah, apa yang dijumpai oleh Malinowski tersebut bukan sekadar kebiasaan, melainkan hukum karena sudah adanya pengakuan hak milik pribadi. Transaksi antara pemilik pe- rahu dan penangkap ikan dalam contoh yang dikemukakan oleh Mali-

24 Ibid.

25 Edgar Bodenheimer, Op. cit., hlm. 252.

26 Ibid.

27 Ibid.

28 Ibid.

pustaka-indo.blogspot.com

nowski tersebut merupakan transaksi dalam ra nah hukum dan bukan dalam ranah kebiasaan, karena da lam transaksi itu tersangkut hak dan kewajiban timbal balik secara ekonomis antara sesama individu dalam masyarakat. Sudah barang tentu hukum dalam hal ini ada lah hukum kebiasaan.

Dari dua studi tersebut dapat ditemukan dua hal, yaitu bahwa antara kebiasaan dan hukum kebiasaan memang berbeda, dan hukum kebiasaan itu timbul karena kebutuhan masyarakat. Menurut pandang- an yang di te rima banyak orang, hukum kebiasaan timbul begitu ke - biasaan-kebiasaan tertentu yang dirasakan sebagai ke wajiban hukum secara terus-menerus dilakukan dan di hormati oleh anggota-anggota keluarga, kelompok, dan suku. Hukum kebiasaan terjadi tanpa perlu adanya for malitas atau tanpa perlu ditetapkan oleh mereka yang mem - punyai kedudukan politis lebih tinggi. Menurut pan dangan ini, hukum pada masyarakat primitif timbul dari kebiasaan-kebiasaan yang tidak bersifat sengketa, melainkan merupakan praktik-praktik sehari-hari yang didasarkan atas pertimbangan rasional memberi dan me nerima dalam suatu pergaulan sosial.29 Pandangan de mikian mengasumsikan bahwa pada masyarakat primitif, hukum tidak dipaksakan dari atas tetapi tumbuh dari bawah sebagai hasil dari hubungan kerja sama di antara anggota-anggota masyarakat.

Jelaslah bahwa pandangan tersebut berangkat da ri suatu asumsi bahwa masyarakat primitif bersifat demok ratis. Ternyata asumsi de- mikian tidak benar karena be berapa penelitian modern terhadap ma- syarakat pri mi tif mengungkapkan bahwa masyarakat ter se but bersifat patriarkat dan tidak bersifat demokratis. Oleh karena itulah, sangat mungkin kalau ma sya rakat tersebut diperintah oleh penguasa yang ber sifat otoriter yang kadang-kadang bahkan mempunyai ke kuasaan mengenai hidup dan mati anggota-anggota ma sya rakat.30 Berdasar- kan temuan-temuan semacam itu dapat diasumsikan bahwa aturan tingkah laku dalam ma syarakat primitif dalam banyak hal ditentukan

29 Ibid., hlm. 253.

30 Ibid.

pustaka-indo.blogspot.com

BAB 2 • Hukum sebagai Norma Sosial

oleh ke pala suku yang otoriter dan hanya kebiasaan-kebiasaan yang mendapat persetujuannya dapat menjadi hukum ke biasaan.31

Dalam beberapa studi diketemukan bahwa sistem mo narki yang mula-mula secara perlahan-lahan memberi jalan ke arah pemerin- tahan suatu kelompok elite atau aris tokrasi. Dalam pemerintahan semacam itu terbentuk dewan ketua-ketua suku atau majelis orang- orang tua atau juga dewan pemuka-pemuka agama. Aristokrasi ini sebegitu jauh bertindak sebagai penyelenggara hukum ke biasaan. Se- kelompok elite aristokrat ini cenderung un tuk memonopoli pengeta- huan mengenai hukum. Oleh karena belum dikenal adanya tulisan, perlu kiranya diadakan sarana yang efektif untuk memelihara hukum kebiasaan itu. Dengan memercayakan tata cara bertingkah laku ke pa- da ingatan sekelompok kecil orang yang meneruskan pe ngalamannya dari generasi ke generasi, dapat dijamin st a bilitas dan kelangsungan perkembangan hukum ke bia sa an.32

Ternyata, kebiasaan-kebiasaan yang sesuai dengan cara hidup yang umum pada masyarakat primitif dan yang memenuhi kebutu- han sistem ekonomi mereka yang dapat diadopsi oleh para aristokrat menjadi hukum kebiasaan. Me reka yang mempunyai kewenangan tidak mungkin da pat membuat aturan-aturan yang bertentangan de- ngan kebutuhan sosial menurut tempat dan waktu. Hal itu disebabkan kalau dibuat aturan demikian, sangat mung kin aturan itu tidak dapat dilaksanakan kalau ti dak mendapat dukungan dari masyarakat. Be- tapa pun otoriter suatu kekuasaan dalam suatu masyarakat pri mitif, penguasa tersebut tidak akan mampu melak sa na kan aturan yang sama sekali tidak mendapat du kung an masyarakat dan sesama aristokrat.

Hukum yang ber tentangan dengan apa yang oleh masyarakat dipan - dang benar atau bertentangan dengan tujuan praktisnya akan menda- pat penolakan warga masyarakat meskipun pe nolakan tersebut hanya bersifat pasif. Oleh karena itu, dengan menggunakan penalaran yang baik dapat diasumsikan adanya interaksi yang terus-menerus antara

31 Ibid.

32 Ibid., hlm. 254.

pustaka-indo.blogspot.com

perasaan masyarakat dan praktik di satu pihak dengan aktivitas para penafsir yang mempunyai kewenangan di lain pihak dalam melaksa- nakan hukum kebiasaan.

Studi antropologis mengungkapkan bahwa pada awal perkemba- ngannya, masyarakat primitif telah mem be dakan suatu pembayaran yang bersifat kewajiban dan pembayaran yang merupakan hasil ke- baikan hati.33 Di samping itu, terdapat beberapa aturan mengenai hak mi lik dan warisan.34 Ada juga aturan mengenai kesalahan yang dibuat oleh seseorang dilakukan pembalasan oleh kor ban, tetapi adakalanya cukup dengan pembayaran kom pen sasi. Hal-hal itu jelas menunjukkan bahwa hukum ti dak sama dengan kebiasaan. Bahkan kebiasaan dapat menjadi hukum apabila kebiasaan itu dilakukan secara te rus-menerus dan masyarakat menerimanya sebagai atur an (opinio necessitatis).

ARTI PENTING HUKUM DALAM ASPEK FISIK

Dalam dokumen Sanksi Pelanggaran Hak Cipta (Halaman 64-69)