BAB 2 • Hukum sebagai Norma Sosial
pe langgaran, sesuai dengan perintah pengadilan, negara mengenakan denda dalam bentuk pengurangan terhadap deposit para pedagang tersebut.88 Menurut Lon L. Fuller, dalam ilustrasi tersebut tidak ada paksaan, melainkan pemindahbukuan. Saya berpendapat bahwa pak- saan itu tetap ada, yaitu berupa perintah pengadilan. Hanya saja dalam hal ini paksaan itu tidak ditetapkan sebagaimana tertuang di dalam ketentuan-ketentuan kitab undang-undang hukum pidana. Adanya penalty tersebut sebenarnya timbul dari kesepakatan antara ne gara dan para pedagang itu.
an tersebut di bangun atas dasar pengabdian dan ketaatan yang ketat kepada pemimpin, organisasi tersebut merupakan suatu organisasi
“struktur kekuasaan.” Organisasi demikian da pat saja dipimpin oleh suatu pimpinan kolektif.
Sulit dibantah bahwa keinginan untuk berkuasa sering kali me- nguasai kehidupan individu atau kelompok. Pada kehidupan individu, dorongan akan kekuasaan menjelma dalam berbagai bentuk bergan- tung kepada kualitas dan ka pasitas individu tersebut. Dorongan itu dapat saja be rupa keinginan untuk mempunyai kekuasaan politis, ke - kuasaan inansial, atau kekuasaan intelektual. Dalam kehidupan sosial telah banyak contoh, yaitu ambisi su atu partai untuk menjadi partai pemerintah di suatu negara, kekuasaan inansial suatu grup perusaha- an yang menentukan kebijakan politik suatu negara, kekuasaan inte- lektual kaum teknokrat yang menentukan kehidupan ber negara.
Akar kekuasaan adalah hasrat untuk mendominasi pihak lain dan menundukkan mereka di bawah pengaruh dan kontrolnya. Kekuasaan dalam bentuknya yang asli berupa tindakan kesewenangan dalam kehidupan sosial. Motif yang melandasi kekuasaan ini dapat berupa mo tif politik, sosial, maupun ekonomi. Kekuasaan yang me nindas cenderung menghasilkan keinginan dari yang di tindas untuk mendo- brak kekuasaan tersebut. Apabila ke kuatan pihak yang ditindas ter- kristalisasi, mereka akan mendesak untuk dilakukannya perubahan baik se ca ra damai atau mungkin revolusi atau reformasi atau apa pun namanya.
Di Amerika, rakyat Amerika merasa tertindas oleh kekuasaan Ing- gris sebagai kaum penjajah. Kekuatan ka um tertindas ini kemudian terkristalisasi dan men ca pai puncaknya ketika pemerintah kolonial Inggris me nolak rakyat Amerika untuk duduk di dalam lembaga per- wakilan. Lahirlah kemudian semboyan no taxation wit hout representa- tion (tiada pajak tanpa perwakilan). Revo lusi Amerika dimulai dari semboyan itu. Revolusi Amerika merupakan suatu revolusi kemerde- kaan, yaitu hasrat kaum terjajah untuk membebaskan diri dari pen- jajah. Jelas sekali, yang menyulut Revolusi Amerika adalah masalah ekonomi yang bermuara pada politik. Aki bat dari revolusi ini timbul-
pustaka-indo.blogspot.com
BAB 2 • Hukum sebagai Norma Sosial
lah suatu negara baru ber bentuk republik. Akan tetapi, kecuali hukum tata ne gara, dalam bidang kegiatan ekonomi dan sosial masih ber laku hukum yang dibuat oleh pemerintah Inggris dan juga sistem com- mon law yang telah dikembangkan oleh Inggris. Hal itu disebabkan oleh dapat diterimanya ilsafat yang melandasi hukum itu oleh rakyat Amerika.
Berbeda halnya dengan di Perancis, di mana ka um borjuis yang kaya raya mempunyai kecemburuan so sial terhadap kaum bangsa- wan yang memiliki privilege. Pa da saat itu, di Perancis terdapat tiga golongan, yaitu ka um bangsawan, kaum borjuis, dan kaum proletar.
Ka um proletar memang tertindas tetapi yang merasakan pe nindasan adalah kaum borjuis. Diilhami oleh Revolusi Amerika, kaum borjuis bersama-sama dengan rakyat tertindas kemudian melancarkan revo- lusi yang mengubah sifat pemerintahan dari otoriter absolut men jadi demokratis. Jika Revolusi Amerika disulut oleh sem boyan no taxa- tion without representation (tiada pajak tanpa perwakilan), di Perancis dikembangkan semboyan liberté, fraternité, dan egalité (kemerdekaan, pe rsaudaraan, dan persamaan). Aturan perundang-un da ng annya pun juga disesuaikan dengan pandangan demokratis. Mengingat Corpus Iuris Civilis yang di susun oleh Kaisar Yustinianus mengandung nilai- nilai de mokratis, tidak salah kalau Kode Yustinanus itu ke mudian menjadi rujukan yang kuat bagi penyusunan sa lah satu Kode Napole- on, yaitu Code Civil.
Setelah menempuh perjalanan kemerdekaan se la ma seabad lebih, di Amerika Serikat, pada abad XIX, ter dapat kesewenangan dalam bi- dang ekonomi. Ada nya kesewenangan itu telah menimbulkan perlunya di adakan kontrol terhadap kegiatan bisnis yang bersifat mo nopolistis dalam bentuk trust maupun per janjian yang bersifat kolusif. Oleh ka- rena itu, ke mu dian diundangkan Sherman Act, yaitu undang-un da ng Antitrust pertama di dunia. Undang-undang ini te lah membatasi ke- sewenangan pelaku bisnis dalam kehidupan rakyat Amerika. Dengan belajar dari Amerika Serikat, negara-negara Eropa mengundangkan juga Un dang-Undang Persaingan Usaha atau menciptakan iklim per- saingan dalam kegiatan usaha melalui aturan-aturan hukum. Bahkan,
pustaka-indo.blogspot.com
Masyarakat Ekonomi Eropa juga mem buat treaty tentang persaingan usaha.
Dilihat dari fakta historis tersebut, Konstitusi Perancis dan Kode Napoleon, Sherman Act, serta Undang-Undang Persaingan Usaha ne- gara-negara Eropa dibuat dalam rang ka mencegah terjadinya barbar- ian dalam segi politik, so sial, maupun ekonomi. Hal ini menunjukkan, bahwa hu kum dipercaya sebagai suatu lembaga penyeimbang yang kuat terhadap ancaman disintegrasi dalam hidup bermasyarakat aki- bat benturan kekuatan yang sama-sama ingin berkuasa dan sekaligus membatasi kesewenangan yang sedang berkuasa.
Memang, hukum dalam bentuknya yang asli bersifat membatasi kekuasaan dan berusaha untuk memungkinkan terjadinya keseim- bangan dalam hidup bermasyarakat. Berbeda dengan kekuasaan yang agresif dan ekspansionis, hukum cenderung bersifat kompromistis, damai, dan pe nuh dengan kesepakatan dalam kehidup an sosial dan politik. Di dalam suatu sistem politik yang kon trol sosialnya dilakukan melalui hukum, setiap ak tivitas akan diupayakan sesuai dengan hubu- ngan ke ma nusia an melalui sarana yang spesiik dengan menghindari pertentangan yang tidak perlu. Apabila pemerintahan di dasarkan atas kekuasaan, pemerintahan demikian akan cen derung meningkatkan ketegangan dalam bi dang po litik dan secara sosial menimbulkan suatu keadaan yang represif. Sedangkan apabila pemerintahan didasarkan atas hukum, pemerintahan semacam itu justru cen de rung meredakan ketegangan. Oleh karena itulah, un tuk mencegah terjadinya struktur kekuasaan yang ber sifat menindas dikembangkanlah sistem hukum yang me nyeimbangkan kekuasaan dengan cara distribusi hak dan pri- vilese di antara individu dan kelompok.
Apabila suatu masyarakat dalam keadaan damai, hu kum harus mempertahankan kehidupan tersebut. Da lam hal demikian, hukum berusaha untuk melindungi ke hi dupan masyarakat yang damai ter- sebut dari gang guan yang serius. Di sinilah letak fungsi hukum yang esensial, yaitu mencegah terjadinya disintegrasi sosial. Perlu dikemuka- kan di sini bahwa damai tidak berarti hanya tertib semata-mata. Suatu ketertiban dapat ter cip ta karena adanya suatu kekuasaan yang bersifat
pustaka-indo.blogspot.com
BAB 2 • Hukum sebagai Norma Sosial
rep resif. Akan tetapi, dalam situasi demikian tidak terdapat adanya da- mai sejahtera. Di dalam situasi yang tertib tetapi karena adanya kekua- saan represif, cepat atau lam bat terdapat rasa ketidakpuasan dari me- reka yang ter tindas yang selanjutnya menjadi suatu kekuatan an titesis.
Kekuatan ini mungkin tidak monolitik, akan te tapi mereka menjadi solid untuk menumbangkan status quo. Apabila kemudian terjadi benturan antara kekuatan status quo dan kekuatan antitesis dan keme- nangan ada di pihak antitesis, akan terjadi suatu disintegrasi so sial.
Penyebabnya adalah mereka hanya solid dalam meng hadapi common opponent atau musuh bersama, yaitu kaum status quo, namun mereka tidak memiliki common interests atau kepentingan bersama.
Di alam realita tidak akan terdapat common interest dalam arti yang sebenarnya. Betapa pun homogennya suatu bentuk kehidupan sosial, di dalamnya selalu terdapat kepentingan-kepentingan yang potensial menimbulkan kon lik di antara anggota masyarakat. Di sinilah di bu- tuhkan suatu sarana yang mencegah jangan sampai kon lik tersebut menyebabkan terjadinya disintegrasi so sial. Sarana itulah yang disebut hukum. Persoalan yang sering diajukan adalah bahwa hukum tidak akan mam pu bekerja tanpa disokong oleh suatu kekuatan dan bahkan oleh kekuatan isik. Apabila pandangan ini diikuti, harus diikuti juga suatu pandangan bahwa se makin kuat kekuatan isik yang mendukung hukum, semakin efektif fungsi hukum yang dengan demikian se makin amanlah kehidupan masyarakat dari ancaman disintegrasi sosial. Jika demikian halnya, kekuasaan yang represif dengan kekuatan isik yang kuat merupakan se suatu yang diperlukan dalam hidup bermasyarakat.
La lu, apakah dengan situasi seperti itu rasa damai se jah tera yang di- harapkan masyarakat dapat tercipta? Tidakkah hal seperti itu akan menimbulkan kekuatan-kekuatan antitesis? Oleh karena itu, dalam tu- lisan ini tidak dapat diterima bahwa hukum akan efektif hanya meng- andalkan dukungan kekuatan isik.