BAB 3 • Tujuan Hukum
so sial la in nya, mengabaikan aspek eksistensial manusia. Pen de ka tan tersebut hanya memandang ma nusia dari aspek isik semata-mata.
Oleh karena itulah, dalam perspektif ilmu sosial hukum hanya dituju- kan dalam pemenuhan kebutuhan aspek isik manusia saja. Tujuan hukum bukan sekadar berkaitan dengan aspek isik, me lainkan dan lebih-lebih harus mempertimbangkan as pek eksistensial manusia.
tujuan tertentu. Tujuan manusia ada lah mendapatkan kebahagiaan.
Oleh Aristoteles di ke mukakan bahwa kebahagiaan dapat dicapai oleh manu sia dengan memenuhi kodratnya sebagai manusia. Dalam hal demikian inilah Aristoteles mengemukakan adanya moralitas alami- ah. Berpegang kepada pandangan Aristoteles inilah homas Aquinas menyatakan bahwa manusia tidak dapat mengingkari keberadaan tu- buhnya. Tubuh inilah yang memicu adanya tindakan, keinginan, dan hawa nafsu. Melalui pancaindranya, manusia dapat melihat, meraba, mendengar, mencium, dan merasa se hingga manusia tertarik kepada keinginan-keinginan yang menyenangkan dan membenci keinginan- keinginan yang tidak menyenangkan.
Menurut homas Aquinas, binatang berada dalam kendali kedua keinginan itu; sedangkan manusia, me lalui kekuatan kemauan dan pikiran yang dimilikinya, dapat melepaskan diri dari kendali-kendali tersebut. Daya in tele ktual manusia dapat memberikan peringkat ter- ha dap makna mengenai apa yang dimiliki oleh manusia. Ke kayaan, kesenangan, kekuasaan, dan pengetahuan me rupakan objek keinginan yang dapat dimiliki oleh manu sia. Tetapi, semua itu tidak dapat meng- hasilkan ke bahagiaan manusia yang terdalam. Hal itu tidak memiliki karakter kebaikan yang bersifat universal yang dicari oleh manusia.
Aquinas percaya bahwa kebaikan yang universal itu tidak dapat dike- temukan pada ciptaan, me lainkan pada Allah, sang Pencipta.73
Manusia memiliki hawa nafsu, selera, keinginan, dan pikiran yang berpadu sedemikian rupa sehingga ia dapat melakukan pilihan moral dalam membangun perj alanan hidupnya. Manusia membangun ke- hidupan nya ber dasarkan tindakannya yang bebas. Jika de ter minis me secara isik menguasai manusia, manusia tidak akan bertindak bebas.
Konsekuensinya, moralitas juga ti dak ada. Kebebasan merupakan suatu syarat yang mutlak bagi suatu tindakan yang dianggap bermoral.
Aquinas menyatakan bahwa suatu tindakan adalah suatu tindakan manusiawi kalau tindakan itu merupakan tindakan yang didasarkan
73 Wayne Morrison, Op. cit., hlm. 67.
pustaka-indo.blogspot.com
BAB 3 • Tujuan Hukum
atas kebebasan.74 Kebebasan membawa ser ta pengetahuan mengenai berbagai alternatif dan kemam puan untuk memilih di antara alter- natif itu. Tin dakan untuk menjatuhkan pilihan yang tepat dari al ter- natif-alternatif itu mencerminkan keluhuran moral. Pilihan dikatakan merupakan pilihan yang tepat apabila alternatif yang dipilih itu bu- kan merupakan sesuatu yang eks trem. Moral yang luhur dapat terjadi karena adanya ken dali terhadap hawa nafsu melalui pendayagunaan ke hen dak dan pikiran. Secara alamiah terdapat beberapa mo ral yang luhur, yaitu keberanian, pengekangan diri, ke adilan dan kehati-hatian ditambah dengan pengetahuan ma nusia tentang hukum alam dan hu- kum moral.
Dasar kewajiban moral yang terutama ditemukan dalam hakikat manusia yang mendasar. Pada diri manusia terdapat berbagai hal yang harus dilakukan, seperti ke butuhan untuk mempertahankan hidupnya dan untuk melanjutkan keturunan. Di samping itu, mengi ngat ma- nusia bersifat rasional, kebutuhan itu juga ditujukan un tuk mencari kebenaran. Kebenaran secara mo ral yang mendasar adalah perintah kepada diri sendiri ten tang “perbuatlah apa yang baik dan hindari apa yang ja hat”. Lalu, perlu dipersoalkan “apa yang baik dan apa yang ja- hat” itu. Apakah ukuran untuk menentukan baik atau jahat itu? Untuk menjawab masalah ini homas Aqui nas merujuk kepada hukum alam.
Apabila keadaan ma nusia dianalisis, beberapa hal ternyata bersesuaian de ngan nalar manusia. Pertama, manusia mempunyai ke wajiban ala- miah untuk mempertahankan hidup dan ke sehatannya. Oleh karena itu, bunuh diri dan hidup sem brono tanpa memedulikan kesehatan bertentangan dengan kewajiban alamiah manusia. Dengan demikian, bu nuh diri dan hidup sembrono merupakan hal-hal yang jahat yang harus dihindari. Kedua, kebutuhan ala mi ah manusia untuk melanjut- kan keturunan yaitu mem besarkan dan mendidik anak merupakan ke ha rusan yang fundamental bagi kesatuan suami istri. Oleh karena itu, apabila manusia hanya melakukan hubungan seksual tanpa ha- rus menjadi suami istri hal itu bertentangan dengan keadaan alamiah
74 Ibid.
pustaka-indo.blogspot.com
manusia. Ketiga, manusia yang berusaha mencari kebenaran, ia akan menemukannya dalam suatu keharmonisan sosial dengan sesamanya.
Oleh karena itulah, diperlukan adanya aturan hukum yang meng- atur tingkah laku manusia agar tercipta keharmonisan sosial. Tidak dapat disangkal, bahwa ketiga hal tersebut bertalian dengan keadaan alamiah manusia. Hukum, dengan demikian, dibangun berdasarkan ke mam puan nalar manusia mengidentiikasi tingkah laku yang benar dilihat dari keadaan alamiah manusia, yaitu se telah mempertimbang- kan kecenderungan alamiah ma nu sia terhadap pola tingkah laku yang spesiik.
Menurut homas Aquinas, hukum terutama ber kaitan dengan ke- wajiban yang diletakkan oleh nalar. Hu kum meliputi kekuasaan dan kekuasaan inilah yang memberikan kewajiban. Akan tetapi, di bela- kang ke kuasaan ini berdiri nalar. Dalam hal demikian bukan apa pun yang menyenangkan penguasa mempunyai kekuatan hukum. Hukum harus berisi aturan yang menggerakkan manusia untuk bertindak be- nar. Penguasa melalui hukum positif dapat memberi perintah yang bukan-bukan atau memaksa orang melakukan perbuatan yang tidak benar, tetapi hukum positif bekerja tidak sesuai dengan hakikat ala- miah hukum. Hukum alam ditentukan oleh nalar manusia. Mengingat Allah menciptakan segala se suatu, hakikat alamiah manusia dan hu- kum alam pa ling tepat dipahami sebagai produk kebijaksanaan atau pikiran Allah.75
Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh homas Aquinas ada- lah pandangan Lon L. Fuller. Oleh Fuller dikatakan bahwa masalah moralitas merupakan bagian dari hukum alam.76 Hanya saja aturan- aturan itu tetap membumi. Memang, kata “moral” sering dikaitkan dengan keadaan batin seseorang, seperti budi pekerti luhur, ke ramah- tamahan, atau ketaatan dalam menjalankan ke wajiban agama dan se- mua sikap yang mempunyai ke maslahatan untuk masyarakat dan diri sendiri. Tidak ber zinah, tidak suka memitnah, tidak berkata dusta,
75 Wayne Morrison, Op. cit., hlm. 68.
76 Lon L. Fuller, Op. cit., hlm. 96.
pustaka-indo.blogspot.com
BAB 3 • Tujuan Hukum
suka memberi, bermurah hati, dan suka me nolong da lam kesesakan adalah tindakan-tindakan mo ral. Namun, sikap semacam itu adalah ideal. Hu kum ti dak mampu menjangkau hal-hal semacam itu. Hukum bu kan suatu lembaga untuk membuat seseorang men ja di bersifat se- perti malaikat. Namun hukum da pat men jaga kehidupan masyarakat dari gangguan tin dakan ma nusia yang berhati setan. Setan memang da tang untuk membunuh dan membinasakan. Hukum di cip takan un- tuk menjaga fungsi eksistensial kehidupan bermasyarakat da ri tindak- an manusia atau sekelompok manusia lain yang berusaha merusak eksistensi itu. Oleh karena itu, mo ral dalam hal ini merupakan sesuatu yang bersifat opera sional.
Dalam perbincangan mengenai tujuan hukum yang harus didasar- kan atas moral ini, Fuller memberikan contoh kasus Dr. Bonham. Ka- sus itu bermula dari diberinya Royal College of Physician kekuasaan yang besar oleh Ra ja Henry VIII untuk menerbitkan izin dan meng- atur prak tik kedokteran di London. College tersebut diberi hak untuk mengadili pelanggaran terhadap aturan yang ditetapkannya dan men- jatuhkan denda atau pemenjaraan. Apabila ada yang dikenai denda, separuh dari denda itu disetor kepada raja dan separuhnya diambil oleh College itu sendiri. homas Bonham, seorang dokter dari Univer- sitas Cambridge berpraktik di London tanpa surat izin dari College. Ia didenda dan dipenjara. Ia lalu mengajukan gugatan. Dalam putusan- nya, Hakim Coke mengemukakan argumentasi sebagai berikut:77
he censors [of the Royal College] cannot be judges, ministers and par- ties; judges to give sentence or judgment; minister to make summons;
and parties to have the moiety of the forfeiture, quia aliquis non de- bet esse Judes in propria causa, imo iniquum est aliquem suæ rai esse judicem;78 and one cannot be Judge and attorney for any of the parties.
... And it appears in our books, that in many cases, the common law will countroul (sic) Acts of Parliament, and sometimes adjudge them to
77 Ibid., hlm. 100.
78 Terjemahannya kira-kira: “sebab orang seharusnya tidak boleh menjadi hakim untuk kepentingan dirinya sendiri, bahkan merupakan suatu hal yang merugikan kalau ada orang yang membuat tuduhan untuk kepentingannya sendiri.
pustaka-indo.blogspot.com
be utterly void: for when an Act of Parliament is against common right and reason, or repugnant, or impossible to be performed, the common law will controul (sic) it, and adjudge such Act to be void.
Lon Fuller menyatakan bahwa pada saat ini ar gumen tasi yang di- kemukakan oleh Hakim Coke ini dipandang sebagai pandangan yang benar-benar murni hukum alam.79 Pernyataan Lon Fuller ini dapat di- pahami karena ketika argumentasi itu dikemukakan oleh Hakim Coke, di Inggris masih kuat pandangan mengenai supre masi par lemen, se- hingga ada ungkapan bahwa par lemen dapat ber buat apa saja kecuali mengubah matahari untuk ter bit dari barat dan terbenam di sebelah timur. Dengan berargumentasi semacam itu, Coke dan rekannya yang mengadili perkara itu berjuang untuk menciptakan ik lim imparsialitas dalam dunia peradilan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa argumentasi yang di kemukakan oleh Coke ini inspirasi adanya judicial re view di Amerika Serikat.
Hanya saja judicial review me rupakan tindakan setiap pengadilan un- tuk menyatakan tidak sah ketentuan undang-undang yang dianggap ber tentangan dengan Konstitusi Amerika Serikat. Akan te tapi, Lon L.
Fuller mengkualiikasi beberapa ketentuan Kon stitusi Amerika Ser- ikat bersifat tidak menggigit dan tidak lengkap. Hal ini menurutnya, perlu adanya inter pr etasi untuk mengisi kekosongan makna ketentuan itu. 80 Ia menganjurkan bahwa gagasan ini paling tepat di tempatkan di dalam jangkauan hukum yang berkaitan de ngan konstitusi. Di dalam area ini, interpretasi dapat beranjak secara bebas dari kata-kata yang secara eksplisit tertuang di dalam konstitusi namun diyakini benar-be- nar bahwa kata-kata itu memang secara implisit dimaksudkan untuk penyelenggaraan pemerintahan secara keseluruhan. Se bagai contoh, menurut Fuller, di dalam konstitusi, ti da k ada larangan untuk mem- buat undang-undang yang ka bur dan tidak jelas. Akan tetapi, Fuller meragukan apa bila ada orang yang memandang bahwa pengadilan telah melampaui kewenangannya dalam hal pengadilan itu berpenda-
79 Lon L. Fuller, Loc. cit.
80 Ibid., hlm. 102.
pustaka-indo.blogspot.com
BAB 3 • Tujuan Hukum
pat adanya suatu ketentuan pidana yang melanggar due process of law.
Menurut Fuller seharusnya ketentuan itu memberi alasan yang masuk akal dan jelas mengapa adanya larangan itu.81 Apa yang dikemukakan oleh Fuller tersebut sebenarnya lebih dari sekadar judicial review ka- rena bukan menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar, melainkan menguji ketentuan undang-undang terhadap moral.
Ronald M. Dworkin melakukan hal yang serupa de ngan Lon L.
Fuller. Karya Dworkin adalah untuk mem pertahankan cita fairness, due process of law, dan hak individual sebagai dasar untuk legalitas.82 Me nurut Dworkin, hakim terikat oleh prinsip moral dan harus memu- tuskan sengketa dengan mengakui hak institusional seseorang, tetapi legislator melakukan tu gasnya secara tepat ketika mereka mengimple- mentasikan kebijakan dari berbagai jenis.83 Dworkin kemudian me- ngembangkan metode interpretasi atau hermeneutik.
Baik yang dikemukakan oleh Fuller maupun Dworkin dapat dipa- hami karena mereka berangkat dari alam pikiran common law system yang mengandalkan case law atau yurisprudensi. Berbeda halnya de- ngan alam pikiran civil law system yang menempatkan undang-undang sebagai sumber hukum yang pertama. Saya tidak sependapat de ngan Dworkin yang membedakan dasar ilosois yang me landasi tugas hakim dan legislator. Apabila dicermati, menurut Dworkin dasar pemikiran yang melandasi legis lator adalah pragmatisme. Hal itu terungkap dari ucap annya bahwa, “tetapi legislator melakukan tugasnya se cara tepat ketika mereka mengimplementasikan ke bijak an dari berbagai jenis.”
Dalam hal ini prinsip moral ti dak disinggung. Prinsip moral baru untuk hakim. Saya ber pendapat bahwa prinsip moral sudah harus di- adopsi pa da saat pembuatan undang-undang. Filosoi yang me lan dasi undang-undang bukan pragmatisme maupun uti li tarianisme.
Undang-undang harus dapat mencerminkan prinsip moral dalam kerangka fungsi eksistensial manusia. Da lam hal demikian, undang-
81 Ibid.
82 Wayne Morrison, Op. cit., hlm. 415.
83 homas Morawetz, Op. cit., hlm. 123.
pustaka-indo.blogspot.com
undang atau hukum secara ke seluruhan tidak mungkin dibuat ber- tentangan dengan ha kikat kemanusiaan. Ini berarti hukum juga tidak da pat memaksa manusia untuk berbuat baik melebihi ka pasitasnya sebagai manusia, misalnya menetapkan bahwa setiap orang yang me- menuhi syarat wajib memberikan do nor matanya kepada pemimpin yang terpilih, tetapi da lam keadaan buta atau didiagnosis akan menga- lami kebutaan. Ketentuan hukum demikian jelas bertentangan dengan moral manusia secara normal sehingga tidak mem punyai kekuatan.