• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPASTIAN HUKUM

Dalam dokumen Sanksi Pelanggaran Hak Cipta (Halaman 149-152)

itulah, keadilan harus diwujudkan da lam situasi yang konkret yaitu dalam alokasi kepen tingan warga masyarakat sedemikian rupa mela- lui kepatutan, sehingga kehidupan masyarakat yang harmonis tetap dapat dipertahankan.

BAB 3 • Tujuan Hukum

hidup bermasyarakat, baik dalam hubungan dengan sesama individu maupun da lam hubungannya dengan masyarakat. Aturan-aturan itu menjadi batasan bagi masyarakat dalam membebani atau melakukan tindakan terhadap individu. Adanya atur an semacam itu dan pelak- sanaan aturan tersebut me nimbulkan kepastian hukum. Dengan de- mikian, kepa s tian hukum mengandung dua pengertian, yaitu pertama, adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan; dan kedua, be- rupa keamanan hukum bagi in d ividu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau di la kukan oleh ne- gara terhadap individu. Kepastian hukum bukan hanya berupa pasal- pasal dalam undang-undang, melainkan juga adanya konsistensi da- lam putusan hakim antara putusan hakim yang satu dan putusan ha- kim lainnya untuk kasus serupa yang telah diputuskan.

Oleh Roscoe Pound dikatakan bahwa adanya kepastian hukum memungkinkan adanya predictability. Apa yang dikemukakan oleh Pound ini oleh Van Apeldoorn dianggap sejalan dengan apa yang diketengahkan oleh Oli ver Wendell Holmes dengan pandangan realis- menya. Holmes mengatakan, “he prophecies of what the Courts will do in fact and nothing more pretentious are what I mean by law.” Oleh Van Apeldoorn dikatakan bahwa pandangan tersebut kurang tepat karena pada ke nya taannya hakim juga dapat memberi putusan yang lain dari apa yang diduga oleh pencari hukum.95

Tetapi, pendapat Van Apeldoorn atas pandangan yang dikemuka- kan oleh Holmes juga mempunyai ke le mahan. Memang benar hakim mempunyai kebebasan un tuk menafsirkan peraturan hukum, memi- liki diskresi bahkan bilamana perlu membuat hukum. Namun demiki - an, adanyaperaturan untuk masalah yang kon kret dapatlah dijadikan acuan dalam menyelesaikan per kara yang dihadapkan kepadanya.

Bahkan putusan hakim yang dibuat bukan atas dasar peraturan, me- lainkan atas dasar nilai hukum yang hidup dalam masyarakat dapat

95 Ibid., hlm. 110.

pustaka-indo.blogspot.com

dijadikan landasan bagi hakim berikutnya dalam menghadapi kasus serupa.

Di negara-negara penganut common law system, di kenal doktrin stare decisis atau biasanya disebut asas pre seden. Menurut doktrin ini, hakim yang kemudian wa jib mengikuti putusan hakim terdahulu dalam per ka ra serupa. Kewajiban semacam itu tidak dikenal di ne ga r a-negara penganut civil law system. Dengan per kata an lain, negara-negara civil law tidak menganut dok trin stare decisis. Namun demikian, bukan berarti bah wa di negara-negara civil law tersebut tidak dikenal ada nya pre seden.

Sebaliknya, di negara-negara tersebut tidak ter tutup kemungkinan bagi para hakim untuk meng guna kan preseden. Hanya saja digunakannya pre seden tersebut bu kan merupakan kewajiban.

Dalam menjaga kepastian hukum, peran pemerintah dan peng- adilan sangat penting. Pemerintah tidak boleh menerbitkan aturan pelaksanaan yang tidak diatur oleh undang-undang atau bertentangan dengan undang-un dang. Apabila hal itu terjadi, pengadilan harus me- nya takan bahwa peraturan demikian batal demi hukum, ar ti nya di- anggap tidak pernah ada sehingga akibat yang ter jadi karena adanya peraturan itu harus dipulihkan se perti sediakala. Akan tetapi, apabila pemerintah tetap ti dak mau mencabut aturan yang telah dinyatakan batal itu, hal itu akan berubah menjadi masalah politik antara pe - merintah dan pembentuk undang-undang. Lebih pa rah lagi apabila lembaga perwakilan rakyat sebagai pem bentuk undang-undang tidak mempersoalkan keengganan pemerintah mencabut aturan yang dinya- takan batal oleh pengadilan tersebut. Sudah barang tentu hal semacam itu tidak memberikan kepastian hukum dan akibatnya hukum tidak mempunyai daya prediktibilitas.

Hal yang sama dapat juga terjadi pada pengadilan. Meskipun suatu negara bukan penganut doktrin stare decisis, dalam mengadili kasus serupa dengan kasus yang telah diputus oleh pengadilan sebelumnya, pengadilan perlu meneladani putusan hakim terdahulu. Apabila untuk kasus serupa terjadi perbedaan yang besar antara putusan pengadil- an di kota tertentu dan putusan pengadilan di kota lainnya dalam ku- run waktu yang tidak terlalu ber beda tetapi yang satu telah memiliki

pustaka-indo.blogspot.com

BAB 3 • Tujuan Hukum

kekuatan yang te tap, hal itu akan menimbulkan ketidakpastian hukum se bab masyarakat tidak tahu mana yang harus dirujuk ma nakala me- reka berurusan dengan pengadilan. Apalagi kalau beberapa putusan Mahkamah Agung suatu negara ber beda satu terhadap lainnya secara antagonistis, baik da lam pertimbangan dan diktumnya untuk perkara serupa, hal itu membuat hukum tidak mempunyai kepastian dan daya prediktibilitas dan lebih jauh lagi masyarakat ti dak memercayai lem- baga pengadilan sebagai penerap hukum.

Akan tetapi baik di negara-negara common law mau pun civil law, apabila hukum lebih mengarah ke pada ke pastian hukum, artinya itu semakin tegar dan ta jam pe r aturan hukum, semakin terdesaklah kea- dilan. Akhir nya, bukan tidak mungkin terjadi summum ius summa ini- ura yang kalau diterjemahkan secara bebas berarti ke adilan tertinggi adalah ketidakadilan tertinggi. Dengan de mikian, terdapat antinomi antara tuntutan keadilan dan tuntutan kepastian hukum.

Dalam dokumen Sanksi Pelanggaran Hak Cipta (Halaman 149-152)