• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN MAKNA HUKUM DALAM HIDUP BERMASYARAKAT

Dalam dokumen Sanksi Pelanggaran Hak Cipta (Halaman 122-127)

Menurut Roscoe Pound, gagasan mengenai untuk apa hukum itu diadakan tidak dapat dilepaskan dari gagasan mengenai apa sebenar- nya hukum itu.37 Untuk mengetahui tu juan hukum tersebut, Roscoe Pound mengelaborasi se cara kronologis gagasan mengenai apa sebe- narnya hu kum itu. Dalam hal ini Roscoe Pound mengemukakan ti dak kurang dari dua belas gagasan mengenai apa yang di maksud dengan hukum. Kiranya kedua belas gagasan tent ang hukum itu perlu dike- mukakan untuk mengetahui ga gasan mengenai untuk apa hukum itu diadakan. De ngan memahami kedua belas gagasan itu dapat dipa hami perkembangan makna hukum dalam hidup bermasya rakat.

Pertama, hukum dipandang sebagai aturan atau seperangkat aturan tentang tingkah laku manusia yang ditetapkan oleh kekuasaan

37 Roscoe Pound, An Introduction to the Philosophy of Law, New Haven: Yale University Press, 1975 (Roscoe Pound III), hlm. 25.

pustaka-indo.blogspot.com

yang bersifat Ilahi. Sebagai contoh adalah Kode Hammurabi yang di- percaya sebagai diwahyukan oleh Dewa Manu dan hukum Musa yang diwahyu kan Allah di Gunung Sinai. Di sini hukum dimaknai sebagai wujud campur tangan langsung kekuasaan yang bersifat Ilahi terhadap kehidupan bermasyarakat. Adanya pemaknaan demikian menunjuk- kan bahwa sta tus naturalis yang menggambarkan keadaan atomistis ma nusia yang digambarkan baik oleh homas Hobbes mau pun John Locke38 tidak pernah ada.

Kedua, hukum dimaknai sebagai suatu tradisi masa lalu yang ter- bukti berkenan bagi para dewa sehingga me nuntun manusia untuk me- ngarungi kehidupan dengan selamat.39 Bagi masyarakat primitif yang dikelilingi oleh kekuatan yang menyeramkan dan dapat mengamuk se- waktu-waktu, manusia selalu dibayangi ketakutan yang terus-menerus sehingga tidak berani melanggar kekuatan itu. Secara individual mau- pun berkelompok, orang-orang ini berusaha meredakan jangan sam- pai kekuatan yang dahsyat itu murka. Caranya adalah menetapkan apa saja yang boleh dilakukan oleh mereka dengan mengacu kepada ke- biasaan masa lalu mengenai segala sesuatu yang tidak diperkenankan para dewa. Hukum dengan demikian, dipandang sebagai seperangkat aturan moral (precept)40 yang dicatat dan dipelihara. Bilamana pun di- jumpai seperangkat hukum primitif yang dikuasai oleh sekelompok orang yang menunjukkan bahwa kelompok itu mempunyai kelas da- lam oligarki politik, hukum itu dipandang seperti layaknya Firman Al- lah dalam tradisi imamah orang Yahudi, tetapi bukan dipandang seba- gai wahyu Ilahi seperti pada gagasan sebelumnya. Namun demikian, pandangan transendental tetap menguasai ma syarakat primitif dalam memaknai hukum karena hu kum dikaitkan dengan kedahsyatan alam yang me nakutkan yang dianggap sebagai perbuatan para dewa.

Ketiga, hukum dimaknai sebagai catatan kearifan pa ra orang tua yang telah banyak makan garam atau pe doman tingkah laku manusia yang telah ditetapkan secara Ilahi. Kearifan dan pedoman tingkah laku

38 Meskipun gambaran yang dilukiskan oleh keduanya saling bertentangan.

39 Roscoe Pound III, Loc. cit.

40 Juga disebut maxim.

pustaka-indo.blogspot.com

BAB 3 • Tujuan Hukum

itu lalu dituangkan ke dalam kitab undang-undang primitif.41 Dalam hal ini pun hubungan yang bersifat transendental masih terasa sehing- ga bisa dipikirkan bahwa kearifan para orang tua tersebut merupakan sesuatu yang didapat dari suatu kuasa yang mereka anggap Ilahi.

Keempat, hukum dipandang sebagai sistem prinsip yang ditemu- kan secara ilosois dan prinsip-prinsip itu mengungkapkan hakikat hal-hal yang merupakan pedoman bagi tingkah laku manusia.42 Da- lam gagasan ini pandangan yang bersifat transendental mulai dilepas- kan digantikan oleh pandangan yang bersifat metaisis. Akan tetapi sebenarnya menurut Roscoe Pound, gagas an ke empat ini merupakan penggabungan gagasan ke dua dan ketiga yang dilakukan oleh para yuriskonsul Ro mawi.43 Karya para yuriskonsul adalah pendapat hu kum yang ditujukan kepada para hakim Kekaisaran Romawi Barat. Pada masa itu, yaitu dari abad II sam pai abad IV, nasihat-nasihat hukum tersebut dikom pilasi dalam buku-buku teks. Oleh karena itulah, dapat dikemukakan bahwa buku-buku teks tersebut merupakan sesuatu sep- erti kompilasi adjudikasi yang dikembangkan berdasarkan penalaran.

Dalam buku-buku teks semacam ini dapat ditemukan prinsip-prinsip keadilan dan hak da lam memberikan bentuk untuk dinyatakan dalam pe ngalam an melalui penalaran.

Kelima adalah kelanjutan gagasan keempat. Di ta ngan para ilsuf, prinsip-prinsip itu ditelaah secara cer mat, diinterpretasi, dan kemu- dian digunakan. Oleh ka rena itulah, dalam gagasan kelima ini hukum diartikan se bagai seperangkat aturan dan pernyataan kode moral yang abadi dan tidak dapat berubah.

Keenam, hukum dipandang sebagai seperangkat per janjian yang dibuat oleh orang-orang dalam suatu masyarakat yang diorganisasi secara politis. Perlu di ke mu kakan di sini bahwa pandangan ini bukan merujuk ke pada teori-teori spekulatif yang dikemukakan oleh homas

41 Roscoe Pound III, Loc. cit.

42 Ibid.

43 Yuriskonsul adalah seorang penasihat hukum profesional pada masa Kekaisaran Ro- mawi abad kedua sampai abad keempat. Kode Yustinianus yang ditulis pada masa Byzantium (Kekaisaran Romawi Timur) sebenarnya merupakan kompilasi dari karya para yuriskonsul.

pustaka-indo.blogspot.com

Hobbes dan John Locke, melainkan merujuk kepada karya Plato yang berjudul Minos.44 Pandangan ini menurut Roscoe Pound merupakan suatu pandangan yang bersifat demokratis. Dalam hal ini hukum di- identiikasi se bagai undang-undang dan dekrit yang diundangkan da lam negara kota yang ada pada zaman Yunani kuno. De mos thenes menyarankan pandangan demikian kepada jury Athena.45 Dalam teori semacam itu, sangat mungkin gagasan yang bersifat ilosois mendu- kung gagasan politis dan menjadikan dasar kewajiban moral yang me- lekat di dalamnya mengenai alasan mengapa perjanjian yang di buat di dalam dewan rakyat harus ditaati.

Ketujuh, hukum dipandang sebagai suatu releksi pikiran Ilahi yang menguasai alam semesta. Pandangan demikian dikemukakan oleh homas Aquinas.46 Tidak pe lak lagi, sejak saat itu pandangan ini telah sangat ber pengaruh. Bahkan kemudian terjadi berbagai variasi atas pandangan hukum alam ini.

Kedelapan, hukum dipandang sebagai serangkaian perintah pe- nguasa dalam suatu masyarakat yang dior ganisasi secara politis. Ber- dasarkan perintah itulah manusia bertingkah laku tanpa perlu mem- pertanyakan atas dasar apakah perintah itu diberikan.47 Pandangan demikian di kemukakan oleh yuris Romawi dan masa klasik. Tidak dapat disangkal bahwa pandangan itu hanya mengakui hukum positif, yaitu hukum yang dibuat oleh penguasa, sebagai hukum. Sebagaimana telah dikemukakan pada Bab I bahwa hukum Romawi yang menjadi acuan hukum Barat sebenarnya bersumber pada Corpus Iuris Civilis ha sil kodiikasi Kaisar Yustinianus. Sebagai seorang kai sar, ia dapat menuangkan kehendaknya menjadi ber kekuatan hukum. Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh Yustinianus sebenarnya adalah melakukan kompilasi karya para yuriskonsul pada masa Kekaisaran Romawi Ba- rat masih jaya. Ternyata, pandangan bahwa hukum merupakan perin-

44 Lihat Roscoe Pound III, Op. cit., hlm. 27.

45 Ibid.

46 Lihat bahasan tentang “Relevansi Perbincangan Tujuan Hukum dalam Ilmu Hukum”

pada bab ini.

47 Roscoe Pound III, Loc. cit.

pustaka-indo.blogspot.com

BAB 3 • Tujuan Hukum

tah penguasa sesuai dengan pandangan hukum para ahli hukum yang aktif mendukung kekuasaan raja di Kerajaan Perancis yang tersentra- lisasi pada abad XVI dan XVII.48 Para ahli hukum ini lalu mengun- dangkannya menjadi undang-undang. Hal itu ternyata juga sesuai dengan pandangan supremasi parlemen di Inggris setelah tahun 1688 dan kemudian menjadi teori yuristik Inggris ortodoks.49 Bahkan juga pandangan itu sesuai dengan teori kedaulatan rakyat yang dianggap sebagai pengganti teori supremasi parlemen pada Revolusi Amerika atau pengganti teori kedaulatan raja pada Revolusi Perancis.

Kesembilan, hukum dipandang sebagai sistem pe do man yang ditemukan berdasarkan pengalaman ma nusia dan dengan pedoman tersebut manusia secara individual akan merealisasikan kebebasannya sebanyak mungkin se iring dengan kebebasan yang sama yang dimiliki orang lain. Gagasan semacam ini dengan berbagai bentuknya dike- mukakan oleh mazhab historis.50 Menurut pandangan ini, Menurut F.C. von Savigny, hukum bukanlah dibuat se cara sengaja, melainkan ditemukan melalui pengalaman manusia.51 Dengan demikian, per- tumbuhannya benar-be nar merupakan suatu proses organis dan tidak disadari. Proses itu ditentukan oleh gagasan mengenai hak dan keadil- an atau gagasan mengenai kebebasan yang terwujud dalam pengelo- laan keadilan oleh manusia atau dalam bekerjanya hukum-hukum biologis dan psikologis atau dalam karakter ras yang mau tidak mau menghasilkan sistem hukum yang berlaku pada suatu waktu tertentu bagi masyarakat yang bersangkutan.52

Kesepuluh, sekali lagi, hukum dipandang sebagai sistem prinsip yang ditemukan secara ilosois dan dikem bangkan secara perinci melalui tulisan yuristik dan putusan pengadilan. Sistem prinsip terse- but digunakan untuk mengukur kehidupan lahiriah manusia melalui nalar atau dalam suatu fase yang lain digunakan untuk menyelaras-

48 Ibid., hlm. 28.

49 Ibid.

50 Penganjur mazhab historis adalah Frederich Carl von Savigny.

51 Surya Prakash Sinha, Op. cit., hlm. 206.

52 Roscoe Pound III, Loc. cit.

pustaka-indo.blogspot.com

kan kehendak manusia secara individual dengan kehendak manusia sesamanya. Cara berpikir semacam ini muncul pada abad XIX setelah teori hukum alam yang telah dianut selama dua abad ditinggalkan orang dan ilsafat dikedepankan guna memberikan suatu kri tik yang sistematis bagi pengembangan hukum secara mendetail.

Kesebelas, hukum dipandang sebagai seperangkat atau suatu sistem aturan yang dipaksakan kepada ma nusia dalam masyarakat oleh seke- lompok kelas yang berkuasa baik secara sengaja atau tidak untuk me - ne guh kan kepentingan kelas yang berkuasa tersebut. Pan dangan ini merupakan suatu pandangan dari segi eko nomi. Pandangan ini kemu- dian mengemuka dalam be n t uk positivis-analitis yang menempatkan hukum seba gai perintah penguasa. Dasar perintah tersebut pada haki- katnya adalah kepentingan ekonomi dari kelas yang ber kuasa.

Kedua belas, hukum dipandang sebagai suatu gagasan yang ditim- bulkan dari prinsip-prinsip ekonomi dan sosial tentang tingkah laku manusia dalam masyarakat, ditemukan berdasarkan observasi, dinya- takan dalam pe tunjuk-petunjuk yang bekerja melalui pengalaman ma- nusia mengenai apa yang dapat dilakukan dan tidak dapat dilakukan dalam pelaksanaan keadilan. Pandangan ini merupakan suatu pan- dangan akhir abad XIX ketika mulai dikemukakannya pandangan em- piris yang didasarkan pada observasi sebagai ganti pandangan yang bersifat metaisis.

Dalam dokumen Sanksi Pelanggaran Hak Cipta (Halaman 122-127)