• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUJUAN HUKUM DARI PERSPEKTIF ILMU SOSIAL

Dalam dokumen Sanksi Pelanggaran Hak Cipta (Halaman 127-134)

kan kehendak manusia secara individual dengan kehendak manusia sesamanya. Cara berpikir semacam ini muncul pada abad XIX setelah teori hukum alam yang telah dianut selama dua abad ditinggalkan orang dan ilsafat dikedepankan guna memberikan suatu kri tik yang sistematis bagi pengembangan hukum secara mendetail.

Kesebelas, hukum dipandang sebagai seperangkat atau suatu sistem aturan yang dipaksakan kepada ma nusia dalam masyarakat oleh seke- lompok kelas yang berkuasa baik secara sengaja atau tidak untuk me - ne guh kan kepentingan kelas yang berkuasa tersebut. Pan dangan ini merupakan suatu pandangan dari segi eko nomi. Pandangan ini kemu- dian mengemuka dalam be n t uk positivis-analitis yang menempatkan hukum seba gai perintah penguasa. Dasar perintah tersebut pada haki- katnya adalah kepentingan ekonomi dari kelas yang ber kuasa.

Kedua belas, hukum dipandang sebagai suatu gagasan yang ditim- bulkan dari prinsip-prinsip ekonomi dan sosial tentang tingkah laku manusia dalam masyarakat, ditemukan berdasarkan observasi, dinya- takan dalam pe tunjuk-petunjuk yang bekerja melalui pengalaman ma- nusia mengenai apa yang dapat dilakukan dan tidak dapat dilakukan dalam pelaksanaan keadilan. Pandangan ini merupakan suatu pan- dangan akhir abad XIX ketika mulai dikemukakannya pandangan em- piris yang didasarkan pada observasi sebagai ganti pandangan yang bersifat metaisis.

BAB 3 • Tujuan Hukum

oleh pandangan utilitarinisme. Akibatnya, pan dangan-pandangan semacam itu meremehkan aspek ek sistensial manusia dalam hidup bermasyarakat.

Salah satu aspek eksistensial manusia adalah ter wujudnya rasa keadilan dalam hidup bermasyarakat. Da lam perspektif ilmu sosial, konsep keadilan masuk ke dalam bilangan ilsafat. Berkenaan dengan hukum, da ri sudut pandang ilmu sosial, menurut Lawrence Fried- man, keadilan diartikan sebagai bagaimana hukum mem perlakukan masyarakat dan bagaimana hukum men dis tribusikan keuntungan dan biaya.53 Selanjutnya Fried man, menyatakan bahwa setiap fungsi hu- kum baik secara umum atau spesiik bersifat alokatif.54

Menurut Lawrence Friedman, hukum merupakan su atu produk tuntutan sosial. Dikemukakan olehnya bah wa individu atau kelompok yang mempunyai ke pen tingan tidaklah serta-merta berpaling kepada pra nata hukum untuk mendesakkan tuntutan mereka.55 Se baliknya, me reka merumuskan kepentingan mereka dalam bentuk tun tutan.

Suatu tuntutan datang dari suatu keyakinan atau keinginan mengenai sesuatu yang harus terjadi un tuk mewujudkan kepentingan itu. Tuntu- tan-tuntutan se macam itulah yang menentukan isi hukum.

Sebenarnya, tuntutan-tuntutan semacam itu tidak bebas nilai.

Menurut Erhard Blakenburg, nilai-nilai sosial ditentukan oleh moda produksi yang digunakan oleh or ganisasi sosioekonomis suatu masya- rakat. Berburu dan mengumpulkan makanan termasuk menangkap ikan ada lah moda, produksi yang paling awal dalam ke hi dup an ber- masyarakat. Dalam masyarakat semacam itu, nilai per samaan meru- pakan sesuatu yang menonjol ka rena nilai tersebut merupakan suatu hasil dari perjuang an mereka sehingga dapat bertahan hidup. Untuk ma sya ra kat dengan pola hidup berburu dan menangkap ikan, keber- samaan merupakan suatu kebutuhan sehingga nilai persamaan mem- punyai arti penting untuk men dapat kan kebersamaan tersebut. De-

53 Lawrence Friedman, he Legal System, New York: Russel Sage Foundation, 1975 (Lawrence Friedman II), hlm. 20.

54 Ibid.

55 Ibid.

pustaka-indo.blogspot.com

ngan membawa nilai per sa maan, hukum dirancang untuk memberi alasan da lam mendistribusikan makanan dan mempertahankan ke be- basan dalam mereka memperoleh akses ke padang bu ru an dan area penangkapan ikan.56

Setelah pola berburu dan mengumpulkan makanan, pola selan- jutnya adalah agraris. Pada suatu masyarakat agraris, modal produksi masyarakat bergantung kepada tanah dan tanaman. Masyarakat tidak lagi nomad, me lain kan menghuni suatu area yang ditentukan. Di sam - ping itu, tanaman harus diatur sedemikian rupa sehing ga mendatang- kan keuntungan bagi setiap anggota masya rakat. Dalam situasi seperti itu, hukum ditujukan untuk menetapkan hak milik, mengamankan apa yang penting untuk tanaman pada masa depan, dan men cip takan sistem penyimpanan yang diperlukan guna me ng amankan makanan sampai musim panen selanjut nya.57

Blakenburg menyatakan bahwa berdasarkan catatan sejarah, modal produksi yang digunakan oleh masyarakat yang lebih dahulu masih digunakan dan digunakan se cara bersama-sama dengan mo- dal produksi yang baru. Lebih jauh ia mengemukakan bahwa melalui penelusuran korelasi antara modal produksi dan bentuk hukum dapat ditemukan bahwa bentuk hukum yang baru acap kali menambah ben- tuk hukum yang sudah ada tanpa perlu mengganti hukum yang lama itu.58 Apa yang dikemukakan oleh Blakenburg tersebut ada benarnya.

Tidak dapat disangkal, bahwa nilai sosial yang timbul dari masyarakat dengan pola hidup berburu dan menangkap ikan dapat diterima da- lam suatu masyarakat agraris. Konsekuensinya, hukum yang meng- usung nilai sosial yang lama dapat diterima oleh masyarakat dengan pola hidup yang lebih baru. Hal itu memang dapat ter jadi apabila nilai sosial itu bukan merupakan sesuatu yang esensial dalam pola masyarakat yang baru. Apabila nilai sosial itu esensial dan terpisah dari modal produksi tersebut, nilai sosial itu tidak akan dapat diterima

56 Erhard Blakenburg, “he Poverty of Evolutionism”, Law & Society Review, Volume 18, Number 2, 1984, hlm. 282-283.

57 Ibid.

58 Ibid.

pustaka-indo.blogspot.com

BAB 3 • Tujuan Hukum

oleh masyarakat dengan pola kehidupan yang baru mana-kala modal produksi berubah. Oleh karena itulah, aturan hukum yang berisi nilai lama diganti dengan aturan hukum baru yang mencerminkan modal produksi baru. Di samping itu, bukan tidak mungkin terdapat beberapa aturan hukum yang berlaku bagi masyarakat dengan modal produksi sebelumnya masih dipertahankan oleh masyarakat dengan modal produksi yang baru, tetapi ke dalam aturan-aturan hukum seperti itu dimasukkan nilai-nilai sosial baru yang dikembangkan berdasarkan modal produksi yang baru. Oleh karena itulah, tujuan hukum yang hendak dicapai berbeda dengan tujuan hukum ketika masih diisi oleh nilai-nilai lama.

Sejak dilancarkannya revolusi industri, modal produksi berganti ke industri. Dalam studi ilmu sosial, ma sya rakat industri disebut juga masyarakat modern. Me nurut Max Weber, masyarakat modern me- rupakan su atu masyarakat yang rasional. Pada masyarakat demi kian, eisiensi dan produktivitas mempunyai nilai yang tinggi.59 Pandangan yang tepat untuk masyarakat seperti itu adalah pandangan utility yang dikemukakan oleh Jeremy Bentham. Ia mengemukakan bahwa, “the pub lic good ought to be the object of legislator; general utility should be the foundation of reasoning.” Ia me ngemukakan lebih lanjut bahwa hu- kum harus ditujuk an untuk menciptakan kebahagiaan terbesar bagi se ba nyak mungkin orang.60 Utility yang ia maksudkan dalam hal ini adalah utility yang bersifat umum.61 Ia membangun prinsip utility ter- sebut untuk menjawab tuntutan sosial yang timbul dari revolusi in- dustri.62

Memang benar, industri dan bisnis memerlukan ting kat rasionali- tas yang tinggi. Konsekuensinya, hukum ha rus didasarkan atas prinsip rasional. Mengingat pan dang an utility merupakan anak revolusi in- dustri, ti dak dapat disangkal bahwa pandangan utility me man car kan semangat kapitalisme. Pada periode awal kapital i s me, hukum secara

59 Lawrence Friedman II, Op. cit., hlm. 205.

60 Ibid.

61 Ibid.

62 Ibid.

pustaka-indo.blogspot.com

esensial bersifat formalistis. Atur an hu kum yang dibuat oleh penguasa menetapkan tingkah laku individu dalam mengejar kepentingannya.

Ke rang ka hukum harus dibuat yang di dalamnya berisi nilai-nilai substantif yang ditetapkan oleh mereka yang ber ke pentingan. Aturan hukum menetapkan batas-ba tas tin dakan individu dalam hidup ber- masyarakat. Hu kum da lam hal ini ditujukan untuk memobilisasi dan meng alo kasikan sumber-sumber daya alam yang diperlu kan da lam ekonomi pasar.

Selanjutnya datanglah periode negara kesejah tera an.63 Pada peri- ode ini, pandangan utility tidak lagi da pat diterapkan. Hukum dalam tahap perkembangan eko nomi saat itu digunakan sebagai suatu instru- men in ter vensi pemerintah dalam mencapai tujuannya. Hal ini meru- pakan jawaban terhadap kebutuhan regulasi eko nomi dan akti vitas so- sial karena adanya ketimpangan da lam hidup ber masyarakat. Dengan menetapkan pre s kripsi-preskripsi yang bersifat substantif, hukum se - cara langsung mengatur tingkah laku dalam hidup ber masyarakat dan bukan memberikan kebebasan ke pa da individu. Seiring dengan pe- rubahan bentuk kehi du pan bernegara tersebut, tujuan hukum bukan lagi me mobilisasi dan mengalokasikan sumber-sumber daya alam, melainkan diserahkan kepada pemerintah untuk apa hukum itu dalam kerangka negara kesejahteraan. Hu kum menjadi semakin penting bagi ne gara untuk me modiikasi struktur tingkah laku yang ditentukan oleh pola ekonomi pasar. Melalui hukum, pe me rintah da pat menetap- kan tujuan, menentukan tingkah laku kon kret yang boleh dilakukan oleh individu, dan me ngim plementasikan program-programnya. Da- lam pe ri ode perkembangan ekonomi semacam ini, kiranya pan dang - an Roscoe Pound bahwa law as a tool of social engi ne ering mungkin relevan.

Pada saat ini kebijakan deregulasi diambil oleh setiap negara de-

63 Negara kesejahteraan lahir akibat adanya the great depression pada 1929 yang melan- da negara-negara Barat yang menganut laissez faire. Pada 1930-an John Maynard Keynes, ekonom dari Inggris, menganjurkan bahwa pemerintah dapat mencampuri kegiatan ekono- mi apabila diperlukan dengan tujuan menyejahterakan rakyat. Dari pandangan Keynes inilah kemudian muncul konsep negara kesejahteraan.

pustaka-indo.blogspot.com

BAB 3 • Tujuan Hukum

ngan berbagai tingkat perkembangan eko nomi.64 Oleh karena itulah, hukum bukan lagi me rupa kan instrumen untuk mempertahankan konsep ne gara kesejahteraan. Akan tetapi, dengan merujuk kem bali ke- pada pandangan Blakenburg, beberapa atur an hukum yang dibuat da- lam semangat kapitalisme mu la-mula dan aturan-aturan hukum yang dihasilkan pada era negara kesejahteraan bukan tidak mungkin ma sih dapat diberlakukan pada tahap perkembangan ekonomi saat ini. Perlu dikemukakan di sini bahwa pa da tahap perkembangan ekonomi saat ini, modal pro duksi yang digunakan oleh masyarakat adalah modal pro duksi yang digunakan sejak revolusi industri. Oleh ka rena itu , nilai esensialnya tetap sama. Lalu, yang berbeda ada lah pengelolaan modal produksi tersebut. Perubahan pengelolaan modal produksi mengubah orientasi organi sasi sosial ekonomi yang selanjutnya menghasilkan trans formasi karakteristik hukum.

Pada saat ini hampir setiap buku tentang juris pru dence memuat pandangan Richard A. Posner yang secara tegas memperkenalkan pendekatan ekonomi ter hadap hukum. Namun, Posner sendiri meng- akui bah wa Coase heorem yang dikemukakan oleh Ronald Coase pada 1960-an telah membuka lahan yang luas dalam wilayah doktrin hukum untuk analisis ekonomi terhadap hukum. Pada saat itu Coase mengemukakan ke rangka pemikiran dalam menganalisis secara ekon- omis pemberian hak dan kewajiban atas harta kekayaan. Dalam hal ini Coase menyarankan bahwa hukum Inggris mengenai penggunaan hak atas harta kekayaan yang merugikan orang lain (law of nuisance) secara implisit me ngandung logika ekonomi.65 Para penulis yang le bih kemudian menggeneralisasi pandangan ini dan ber ar gumentasi bahwa beberapa doktrin dan lembaga da lam suatu sistem hukum paling tepat dipahami dan di jelas kan sebagai usaha untuk meningkatkan alokasi sumber daya secara eisien. Gagasan inilah yang men jadi tema sentral

64 Republik Rakyat Tiongkok sejak 10 November 2001 telah menjadi anggota World Trade Organization. Salah satu persyaratan untuk dapat diterima menjadi anggota WTO adalah melakukan deregulasi terhadap beberapa sektor industri yang memungkinkan modal asing masuk ke negeri itu.

65 Richard A. Posner, Economic Analysis of Law, Boston: Little Brown and Company, 1992, hlm. 22.

pustaka-indo.blogspot.com

Posner dalam menulis bukunya yang berjudul Economic Analysis of Law.66

Posner sendiri mengakui bahwa pendekatan yang dikemukakan- nya menuai kritik, yaitu mengabaikan ke adilan.67 Ia mencoba untuk menangkal kritik ini de ngan mengemukakan dua pengertian keadilan, yaitu ke adilan distributif dan eisiensi. Sebenarnya, kalau ke adilan dili- hat dari sudut pandang ekonomi, keadilan memang dikaitkan dengan keadilan distributif, yaitu ada nya ketidaksamaan pendapatan manusia didasarkan atas prinsip proporsionalitas.68 Adapun mengenai ei siensi, ia mengemukakan bahwa dalam dunia yang langka sum ber daya, pem- borosan merupakan suatu perbuatan tidak bermoral.69

Selanjutnya, ia juga mengakui bahwa pengertian keadilan lebih dari sekadar berkaitan dengan eisiensi. Ia memberikan contoh bebe- rapa perbuatan yang eisien te tapi bertentangan dengan keadilan, mi- salnya mem bolehkan adanya diskriminasi rasial, agama, atau gen der, memaksa orang untuk memberikan kesaksian yang menyebabkan ia sendiri menjadi tersangka per buat an pidana, menjual bayi untuk dia- dopsi, memberi ke sempatan kepada narapidana untuk memilih apakah di penjara atau mengikuti eksperimen medis yang ber bahaya, dan lain- lain. Di dalam bukunya Economic Analysis of Law, ia berusaha untuk menerangkan di larangnya per buatan-perbuatan semacam itu dari segi ekonomi tetapi ia mengakui sebagian besar tidak dapat dilakukan. Na - mun demikian, ia menambahkan bahwa sudut pan dang ekonomi da- pat memberikan klariikasi nilai de ngan menunjukkan apa yang harus dikorbankan untuk mencapai suatu cita keadilan yang tidak bersifat ekonomis. Akhirnya, ia berpendapat bahwa tuntutan akan keadilan ti- dak bebas dari biaya.70

Pendekatan ekonomi terhadap hukum yang dike mukakan oleh Richard A. Posner ini, sebagaimana pen dekatan dari perspektif ilmu

66 Ibid.

67 Ibid., hlm. 27.

68 Ibid., hlm. 461-462.

69 Ibid., hlm. 27.

70 Ibid.

pustaka-indo.blogspot.com

BAB 3 • Tujuan Hukum

so sial la in nya, mengabaikan aspek eksistensial manusia. Pen de ka tan tersebut hanya memandang ma nusia dari aspek isik semata-mata.

Oleh karena itulah, dalam perspektif ilmu sosial hukum hanya dituju- kan dalam pemenuhan kebutuhan aspek isik manusia saja. Tujuan hukum bukan sekadar berkaitan dengan aspek isik, me lainkan dan lebih-lebih harus mempertimbangkan as pek eksistensial manusia.

Dalam dokumen Sanksi Pelanggaran Hak Cipta (Halaman 127-134)