• Tidak ada hasil yang ditemukan

ETNOMATEMATIKA SISTEM KALENDER BALI

4. KESIMPULAN

Pada hakikatnya Sistem Kalender Bali menggunakan konsep pengulangan.

Hari baik (dewasa ayu) mempunyai makna penting bagi umat Hindu. Perhitungan hari baik tersebut menggunakan wewaran.

Dengan konsep pengulangan dan pertemuan maka hari baik atau dewasa ayu saat ini dan masa depan dapat ditentukan.

Misalnya, untuk Dewa Yadnya, dewasanya secara umum mencari hari rerahinan, seperti: anggarkasih adalah anggara kliwon, tumpek: saniscara kliwon. Jadi merupakan kelipatan 35. Manusa Yadnya, misalnya otonan (hari lahir)berdasarkan pada hari dan pawukon.

Dengan demikian, etnomatematika Kalender Bali berupa pengulangan dan pertemuan dua atau lebih wewaran. Dalam matematika formal etnomatematika pengulangan dan pertemuan tersebut merupakan penjumlahan berulang atau kelipatan , dan kelipatan persekutuan.

5.2 Saran-saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, kepada para guru disarankan dalam mengajarkan konsep penjumlahan berulang atau kelipatan persekutuan dapat menggunakan sistem Kalender Bali. Kalender Bali dapat dijadikan sebagai sumber belajar atau digunakan sebagai media pembelajaran, sehingga siswa belajar dengan pengertian. Di sisi lain, siswa dapat mengenal, memahami, dan melestarikan aspek budaya lokal yang sangat penting dalam melakukan kegiatan. Kepada peneliti lainnya disarankan untuk meneliti pembelajaran dengan menggunakan etnomatematika sebagai starting point pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Kadir,M. (2011). Filosofi dan Penelitian Sosial. (Online).http://lem- lit.unila.ac.id/file/data%20lama/makalah%20 pdf/ABDUL%20KADIR%20MUHAMMAD.pd f.

Balitbang Puskur. (2010). Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa.

Jakarta: Kemdiknas

Black,J dan Champion. Metode dan Masalah Penelitian Sosial. Bandung: Refika Aditama D’ Ambrosio,Ubiratan. (1985).

Ethnomathematics & its Place in the History

& Pedagogy of Mathematics. For the Learning of Mathematics 5 (2): 44-48 François, Karen. (2010). The role of

Ethnomathematics Within Mathematics Education.Proceedings of CERME 6, January 28th-February 1st 2009, Lyon France

Gravemeijer, K.P.E. (1997). Commentary Solving Word Problems: A Case of Modelling ?. Learning and Instruction. 17(5):

389 – 397

Javier Díez,-PalomarKsenija Simic, Maura Varley. (2006). “Math is Everywhere”:

Connecting Mathematics to Students’ Lives.

The Journal of Mathematics and Culture . December 2006, V1 (2) ISSN – 1558-5336 21

Jennings, Sue and R, Dunne. (1999). Math Stories,Real Stories, Real-life Stories.

(Online).(www.ex.ac.uk/telematics/T3/maths /mathfram.htm)

Jro Mangku Pulasari. (2006). Ngulati Dewasa Lan Wariga. Surabaya: Paramita.

Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan

Oka Yadnya, I Gusti Agung. (2011). Muatan Matematis Kalender Bali dan Aplikasinya dalam Pembelajaran Matematika. Makalah.

Undiksha. Singaraja

Sardjiyo dan Paulina Pannen. (2005).

Pembelajaran Berbasis Budaya: Model Inovasi Pembelajaran dan Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jurnal Pendidikan.6(2): 83-98

Soejadi. (2000). Nuansa Kurikulum Matematika Sekolah Di Indonesia. Disajikan dalam Konperensi Nasional Matematika X ITB.

Bandung. 17-20 Juli.

Suharta, Sadra, dan Gita. (2008). Penerapan Pembelajaran Matematika Berwawasan Lingkungan Budaya Sebagai Upaya

Meningkatkan Kompetensi Dasar Bagi Siswa Sekolah Dasar. Laporan penelitian tidak dipublikasikan. Singaraja: Undiksha Van den Heuvel-Panhuizen. (2000).

Mathematics Education in the Netherlands a

Guided Tour.

(Online).(http://www.fi.uu.nl/en/indexpulicati es.html)

Waziri Yusuf M,Ibrahim Saidu, dan Aisha Halliru.

(2010). Ethnomathematics (A Mathematical Game in Hausa Culture). International Journal of Mathematical Science Education.

3(1): 36 – 42

KARAKTERISTIK TEKS-TEKS SANGKALAN (REFUTATION TEXT) HUKUM-HUKUM NEWTON TENTANG GERAK

Ketut Suma, Nyoman Subratha

Jurusan Pendidikan Fisika, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja Email: [email protected]

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan teks-teks sangkalan untuk menanggulangi miskosepsi fisika siswa. Permasalahan yang dijawab dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana indek keterbacaan (readibility index) teks-teks sangkalan yang dikembangkan, (2) bagaimana respon guru-guru fisika terhadap teks-teks sangkalan yang telah dikembangkan?. Tahapan-tahapan penelitian ini meliputi (1) Pengembangan teks-teks sangkalan; (2) validasi pakar, (3) validasi praktrisi, (4) revisi produk, (5) analisis keterbacaan teks. Indek keterbacaan text sangkalan dihitung dengan formula Automatic Readability Index (ARI). Response guru-guru fisika terhadap teks sangkalan dikumpulkan dengan kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indek keterbacaan teks sangkalan tentang, Hukum I Newton adalah 11,8; hukum Newton II adalah 12,6; massa dan berat adalah 10,2; hukum III Newton adalah 11,7; gaya normal adalah 7,0; dan gaya gesekan adalah 7,8. Nilai-nilai ini sangat dekat dengan skor 12 yang bersesuaian dengan siswa umur 17 tahun. Secara umum guru-guru fisika memberi respons positif terhadap teks sangkalan ini.

Bertolak indek keterbacaan teks dan respon guru-guru fisika dapat disimpulkan bahwa teks-teks sangkalan yang dikembangkan layak digunakan untuk menanggulangi miskonsepsi siswa dengan tingkat keterbacaan yang susuai untuk siswa dengan rentang umur dari 14 - 17 tahun.

Kata Kunci: teks sangkalan, indek keterbacaan, response guru-guru fisika.

Abstract

The objective of this research was to develop refutation texts in order to overcome students’ misconception of Newton laws of motion. The research questions were: (1) what was the readability index of refutation texts that were developed? (2) How do the physics teachers respond to the refutation texts that were developed? This research involved five steps of activities, there were: (1) developing refutation text draft, (2) expert validation, (3) empirical validation, (4) product revision, and (5) the readability index analysis.

Readability index was found by Automatic Readability Index (ARI) formula and the physics teachers’

response was collected by using questionnaires. The result of research indicated that the readability index of refutation text of Newton’s first law was 11.8; the readability index of refutation text of Newton’s second law was 12.6;the readability index of refutation text of Newton’s third law was 11.7; the readability index of refutation text of normal force was 7.0; and readability index of refutation text of friction force was 7.8.

These values reached 12 which were in agreement with the students of 14 until 17 years o age. In general, the physics teachers gave a positive response toward the refutation texts. Based on the above findings, it can be concluded that refutation texts can be used to overcome students’ misconception with readability index which is suitable with the students’age.

Key Word: refutation text, readability index, physics teachers’ response.

Dalam dokumen SENARI 2014 Seminar Nasional Riset Inovatif (Halaman 187-190)