PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN PENDIDIKAN
I. Pendahuluan
Sejalan dengan perubahan paradigma pembelajaran IPS, yang dimulai pada era 1980an, yaitu dari paradigma
“mainstream academic knowledge” ke paradigma “transformative academic knowledge” (Banks, 1995), para pakar dan pengembangpembelajaran IPS sepakat untuk merekonstruksi dasar-dasar pemikiran kurikulum IPS sejalan dengan perkembangan paradigma pendidikan mutakhir, yakni teori rekonstruksi sosial ala Vygotsky (NCSS, 2001). Teori rekonstruksi sosial Vygotsky juga diprediksi akan menjadi salah satu pilar pembelajaran IPS abad 21, dan menggeser “kebiasaan” behaviorisme (Winataputra (2001).
Namun demikian, komitmen untuk menjadikan teori rekonstruksi sosial sebagai paradigma baru IPS di Indonesia belum banyak didukung oleh hasil-hasil penelitian kontekstual. Beberapa penelitian yang telah dilakukan belummenjangkau dimensi- dimensi lain dari kurikulum IPS.
Berangkat dari preposisi tersebut,tujuan, isi, dan pembelajaran IPS seperti apakah yang harus dikembangkan berdasarkan paradigma teori rekonstruksi sosial?. Standar kompetensi IPS yang bagaimanakah yang harus dikembangkan?
Pola pengorganisasian dan struktur isi kurikulum IPS yang seperti apa yang harus dikembangkan?, dan lingkungan kelas yang bagaimana harus dikembangkan agar pembelajaran IPS mengacu pada aplikasi teori rekonstruksi sosial?.
Untuk pengujian empiris terhadap model kurikulum IPS berspektif teori rekonstruksi sosial, maka penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Buleleng Provinsi Bali, dengan menjadikan sekolah
dasar yang tersebar di 9 kecamatan sebagai latar alamiah pengembangan dan pengujiannya.
II. Metode yang diterapkan
Fokus utama dari penelitian ini adalah melakukan rekonstruksi terhadap pendidikan IPS, baik secara ontologis, aksiologis, dan epistemologis sehingga dilahirkan spektrum baru pendidikan IPS berdasarkan perspektif teori rekonstruksi sosial. Berdasarkan rasional tersebut, maka penelitian ini menggunakan desain penelitian pengembangan tipe
“PrototipycalStudies” sebagaimana yang dikedepankan oleh Akker (1999) dan Plomp (2001). Hal penting yang perlu diperhatikan dalam penelitian pengembangan adalah kualitas perangkat pembelajaran (produk) yang dihasilkan. Plomp (2001), memberikan kriteria kualitas produk yaitu: valid (merefleksikan pengetahuan state-of-the-art dan konsistensi internal), mempunyai nilai tambah (added value), praktis,dan efektif.
Secara umum, Plomp (2001), menyatakan bahwa pelaksanaan penelitian pengembangan meliputi tiga fase yaitu: fase analisis hulu-hilir (front-end analysis), fase
pengembangan prototipe
(prototypingphase), dan fase penilaian (assessment phase) atau evaluasi sumatif.
Bertalian dengan fokus masalah penelitian ini yaitu melakukan rekonstruksi ontologi, epistemologi, dan aksiologi pendidikan IPS berdasarkan teori rekonstruksi sosial ala Vygotsky, sampai dihasilkannya spektrum baru pendidikan IPS dengan segala perangkatnya, dapat dijelaskan dalam tabel berikut:
TAHUN KEGIATAN TUJUAN METODE HASIL/LUARAN
I (2014)
Front-end
Analysis: 1. Mengidentifikasi
Studi
Pustaka 1. Kompetensi dasar, hasil Studi Pustaka kompetensi IPS SD
belajar, dan indicator hasil
menurut kurikulum
belajar IPS SD yang akan
2006 Dikembangkan
2. Mengidentifikasi 2. Rancangan kompetensi sumber belajar,
model
personal, kompetensi sosial,
pembelajaran, model
dan alat penilaian, dan
tindak lanjut
dan kompetensi intelektual
siswa dalam pendidikan IPS.
pembelajaran IPS
SD. 3. Prototyfe spectrum
3. Menganalisis dan pendidikan IPS berbasis
mendeskrifsikan teori rekonstruksi social ontologi, epistemo-
logi, dan aksiologi pendidikan IPS
Studi Lapangan Mengidentifikasi: 1. Angket 1. Masalah sosial actual 1.
Karakteristik
siswa 2. Wawan- 2. Karakteristik siswa 2.
Fenomena
didaktik cara 3. Karakteristik guru 3. Karakteristik Guru 4.
Kebutuhan dan
lingkungan 4. Kebutuhan belajar belajar siswa
siswa
5. Lingkungan sosial siswa/sekolah Expert Judgment
Analisis data hasil
studi Panel Group Blueprint tentang spectrum pustaka dan studi Discussion
pendidikan IPS, kompetensi
lapangan
personal, kompetensi sosial,
dan kompetensi intelektual siswa dalam pembelajaran IPS
berdasarkan teori rekonstruksi
sosial Vygotsky.
Verifikasi Melakukan verifikasi Seminar Draft model dan perangkat blueprint
pendidikan IPS berbasis teori
rekonstruksi sosial Vygotsky.
III. Pembahasan hasil
Pembelajaran IPS merupakan wahana pedagogis, sosiokultural, dan psikologis yang bertujuan untuk memfasilitasi dan memediasi setiap ikhtiar siswa untuk membentuk jati dirinya;
memperkokoh, memperluas, dan merekonstruksi “konstruksialamiah” dan
“sosio-kultural” yang dibangun dari pengalaman kesehariannya, dandigunakan di dalam relasi-relasi interpersonal-nya dalam bermasyarakat. Bertalian dengan konsep tersebut, kompetensi dasar IPS lebih relevan, bermakna, dan memiliki signifikansi personal bagi siswa, jika diarahkan pada pembentukan dan pengembangan: konsep dan pengertian diri; sikap obyektif terhadap diri-sendiri; aktualisasi diri; kreativitas diri;
dan penghayatan terhadap nilai dan sikap keberagamaan dalam kehidupan pribadi dan sosial siswa (Lasmawan, 2007).
Dilihat dari perspektif akademis, kompetensi-kompetensi siswa yang dikembangkan di dalam IPS, secara ontologis merupakan perwujudan dari karakter dan kapasitas alamiah dan sosiokultural siswa sebagai makhluk personal, sosial dan intelektual; secara
epistemologis, dibangun dan dikembangkan di dalam berbagai latar kebidupan keseharian personal dan sosiokultural sebagai konteks pembentukannnya; dan secara aksiologis digunakan di dalam membangun kesadaran personal dan sosiokultural siswa, dan dalam membangun pengertian, nilai, sikap, dan tindakannya di dalam masyarakat, yang berlatar kehidupan personal dan sosiokulturalnya. Mengacu pada konsepsi tersebut, NCSS (2007) menyatakan bahwa: secara paradigmatik IPS merupakan program pendidikan yang bersifat pedagogis, sosiokultural, dan psikologis yang bertujuan memfasilitasi siswa mengembangkan kompetensi- kompetensi dasar personal, sosial dan intelektualnya yang dibutuhkan untuk meng- konstruksi dan me-rekonstruksi sendiri secara berkesinambungan struktur pengetahuan, nilai, sikap, dan tindakannya dalam berbagai latar kehidupan pribadi, sosial dan kultural.
Berdasarkan analisis pada berbagai pandangan siswa, guru, dan pakar yang terungkap dari beberapa studi yang telah dilakukan, baik oleh peneliti maupun orang lain, dapat diformulasikan sejumlah gagasan dasar yang dapat dijadikan sebagai prinsip
pokok rekonstruksi pola pengorganisasian materi ke-IPS-an, diantaranya adalah: (1) berkaitan dengan dan ada manfaatnya bagi kehidupan keseharian, (2) memberikan pemahaman terhadap alam atau lingkungan; (3) mudah, gampang dipahami, dan terfokus; (4) meningkatkan hasrat untuk memperluas atau menambah pengetahuan dan pengalaman; (5) menarik dan menyenangkan; dan (6) disertai banyak contoh yang mudah dipahami dan sejauh mungkin diambil dari lingkungan sekitar yang sudah akrab dengan siswa.
Berdasarkan gagasan dasar ini, maka yang perlu dipikirkan adalah bagaimana memudahkan “pemahaman atau pengertian”
IPS kepada siswa, juga guru.
Berdasarkan beberapa kajian dan hasil studi pendahuluan, serta hasil-hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa rekonstruksi pola pengorganisasian dan struktur materi ke-IPS-an logikanya berpijak pada hal-hal berikut:
Konteks personal, meliputi: (a) konstruksi pengetahuan lama siswa; (b) domainpengalaman siswa; (c) jaringan struktur pengetahuan atau juga disebut
“ekologikonseptual”; (d) identitas kultural personal siswa; dan (e)domain psikologi siswa.Konteks ini memberikan prinsip bahwa pola organisasi isi kurikulum IPS harus assimilatif, akomodatif, dan adaptif dengan mekanisme-mekanisme dan fungsi- fungsiinternal siswa (individually defined).
Konteks inter-personal/sosiokultural siswa, adalah kondisi atau lingkungansosiokultural berupa “alat-alat psikologis” (psychological tools) yang diciptakan dan digunakan oleh guru untuk memediasi dan memfasilitasi antara fungsi- fungsi internal siswa (kognitif, afektif, dan motorik) dengan prasyarat-prasyarat tindakan siswa, di dalam hubungan- hubungan dialektisnya dengan sesama siswa selama pembelajaran berlangsung.
Konteks ini menyediakan prinsip bahwa pola pengorganisasian dan struktur isi kurikulum IPS “must become a natural psychological functions as perception,memory, and attention transformed for generating new cultural forms of psychological functions”, dan bahwa “their nature becoming culturally and socially informed and organized”
(NCSS, 2007).
Konteks sosial, kultural, dan historikal masyarakat”, adalah aspek-aspek sosial,budaya dan historikal yang menjadi latar keseharian hidup siswa. Konteks ini menyediakan prinsip bahwa pola pengorganisasian dan struktur isi kurikulum
IPS harus mengacu pada prinsip “a socially, culturally, and historically relevant excellence. Berlandaskan pada preposisi di atas, rekonstruksi pola pengorganisasian dan struktur materi ke-IPS-an di sekolah hendaknya mengacu pada penerapan prinsip-prinsip “acompetency-based student’s psychological, socio-cultural, and intellectual horizons reconstructions”(NCSS, 2007).
Di sisi lain, pengorganisasian dan struktur materi IPS harus: (1) dapat dimengerti, dijelaskan, dan dimaknai secara personal (individually defined), dalam artian assimilatif,akomodatif, dan adaptif dengan mekanisme-mekanisme dan fungsi-fungsi internal siswa; (2) merupakan “alat-alat psikologis” yang bersifat sosiokultural yang dapat dijadikan mediasi dan jembatan bagi siswa untuk melakukan modifikasi dan tranformasi struktur dan fungsi-fungsi internalnya (kognitif, afektif, dan motorik) ketika interaksi dan komunikasi pembelajaran terjadi (a sociocultural learning mediated); (3) memiliki relevansi dan singnifikansi tinggi secara sosial, kultural, dan historikal (a socially,culturally, and historically relevant excellence); (4) merupakan suatu jalinan atau relasiyang saling berkaitan penuh makna di antara satu bagian materi dengan bagian materi yang lain, menjadi sebuah totalitas atau kesatuan materi; (5) mengikuti pola “sirkular”, “spiral”, atau “siklus-berjenjang” dengan cakupan materi yang semakin luas, kaya, variatif, dan berlapis; (6) memungkinkan siswa mampu
melakukan rekonstruksi-
rekonstruksiterhadap konstruksi pengetahuan, domain pengalaman, dan jaringan strukturpengetahuan (faktual, deklaratif/konseptual, prosedural, metakognitif, dan normatif/afektif) yang ada, menjadi sesuatu yang baru, dan lebih baik.
Agar rekonstruksi terjadi, isi kurikulum harus menantang dan sarat masalah yang dapat menstimulasi dan menuntut siswa terlibat secara aktif, kritis, dan reflektif untuk menemukan pemecahannya; (7) berpijak pada dan bertujuan mengembangkan kompetensi-kompetensi personal, sosial, dan intelektual, sebagai dasar bagi siswa untuk melakukan rekonstruksi-rekonstruksi pengetahuan, nilai, sikap, dan tindakan secara mandiri di dalam konteks kehidupan personal dan sosial; dan (8) mampu menyinambungkan, memperkuat, dan memperluas struktur alamiah dan sosiokultural siswa yang sudah ada dan terbentuk di dalam kehidupan kesehariannya di masyarakat.
IV. Penutup
Dalam perspektif konstruktivisme personal, sosiokultural, dan sosiologis sebagaimana konstruk teori rekonstruksi sosial Vygotsky, kompetensi-kompetensi siswa yang dikembangkan di dalam IPS Sekolah Dasar, secara ontologis merupakan perwujudan dari karakter dan kapasitas alamiah dan sosiokultural siswa sebagai makhluk personal, sosial dan intelektual;
secara epistemologis, dibangun dan dikembangkan di dalam berbagai latar kebidupan keseharian personal dan sosiokultural sebagai konteks pembentukannnya; dan secara aksiologis digunakan di dalam membangun kesadaran personal dan sosiokultural siswa, dan dalam membangun pengertian, nilai, sikap, dan tindakannya di dalam latar kehidupan personal dan sosiokulturalnya.
Kompetensi-kompetensi siswa dalam konteks IPS Sekolah Dasar yang secara kontekstual, konseptual, dan filosofis dapat dirumuskan meliputi: (1) kompetensi personal: konsep dan pengertian diri, sikap obyektif terhadap diri sendiri, aktualisasi diri, kreativitas diri, dan penghayatan terhadap nilai dan sikap keberagamaan dalam kehidupan pribadi dan sosial; (2) kompetensisosial: pemahaman dan kesadaran atas hakikat diri sebagai anggota atau bagian dari masyarakat, pemahaman dan kesadaran atas tata krama/sopan santun dalam kehidupan bermasyarakat, kemampuan berkomunikasi, kemampuan interaksi sosial, kemampuan bekerjasama dengan sesama, sikap prososial atau altruisme, kemampuan partisipasi sosial, dan kemampuan pemahaman dan kesadaran terhadap keberbedaan dan kesederajatan (gender, etnis, dan budaya);
dan (3) kompetensi intelektual: berpikir kritis reflektif, berpikir kontekstual, berpikir pragmatis, kemampuan keruangan/spasial (keterampilan geografis), pemahaman dan kesadaran tentang waktu, kemampuan logika-matematika, dan pemahaman dan kesadaran kesejarahan.
Daftar Pustaka
Abijhani, P.V. (2006). The Social Studies Breaking Concepts. tersedia di:
www.spartan.ac.brocku.
ca/~lward/dewey/dewey1910.html [diakses tanggal10 Januari 2006].
Banks, J.A. (1995). Transformative Challenges to the Social Sciences Disciplines:Implications for Social Studies Teaching and Learning..
Theory and Researchin Social Education, XXIII(1), 2-20.
Buchori, M. (2001). Pendidikan Antisipatoris. Yogyakarta:
Kanisius.
Depdiknas. (2003). Kurikulum Berbasis Kompetensi Matapelajaran Pengetahuan Sosial dan Kewarganegaraan Sekolah
Dasar. Jakarta:
Pusbangkurrandik.
Ellis, A.K. (1998). Teaching and Learning Elementary Social Studies. (6th ed).
Boston: Allyn & Bacon.
Farisi, M.I. (2006). Rekonstruksi pendidikan IPS- SD Berdasarkan Perspektif Kepentingan Belajar Siswa (Laporan Penelitian). Universitas Terbuka.
Lasmawan, Wayan (2007). Studi Evaluative
Kesiapan Guru IPS
Memberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan di Kota Singaraja (laporan penelitian).
Singaraja: Lembaga Penelitian Undiksha.
Lasmawan, Wayan (2008). Pengembangan Model Buku Ajar Berwawasan
Sosial-Budaya dalam
Pembelajaran IPS Sekolah Dasar (Laporan Penelitian). Singaraja:
Lembaga Penelitian Undiksha.
NCSS. (2004). Expectations of Excellence:
Curriculum Standards for Social Studies. Washington: NCSS.
NCSS. (2007). Science-Technology-Society (STS) in Social Studies: Position Paper. Washington DC: NCSS.
Somantri, (2001). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Dedi Supriadi &
Rohmat Mulyana (ed). Bandung:
PPS-FPIPS UPI dan PT. Remadja Rosda Karya.
Winataputra, U.S. (2001). Jatidiri Pendidikan Kèwarganegaraan sebagai WahanaSistemik Pendidikan Demokrasi (Suatu kàjian kònseptual dalam kònteks Pendidikan IPS). Disertasi, Bandung: PPS-UPI.
…………. Reorientasi Pendidikan Ilmu Pengetahuan SosialMengantisipasi Perubahan Sosial di Era Global.
Makalah Seminar Nasionaldan Kongres Forum Komunikasi X Pimpinan FPIPS/FIS/FKIP Universitas/IKIP se Indonesia serta Kongres HISPIPSI, 22-24 Oktober.
Wiriaatmadja, R. (2003). Pembelajaran IPS di Tingkat Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial. No.20 Tahun XI, Januari – Juni 2003. 22- 27