tentang Sistem Pendidikan Nasional, diselenggarakan dengan mengacu pada PP.No. 19 Th. 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang mencakup 1) standar isi, 2) standar proses, 3) standar kompetensi lulusan, 4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, 5) standar sarana dan prsarana, 6) standar pengelolaan, 7) standar pembiayaan, dan 8) standar penilaian. Kedelapan standar yang dimaksud berlaku untuk jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi (BSNP, 2010).
Pesatnya perkembangan IPTEKS dewasa ini telah menyebabkan terjadinya akselerasi perubahan nilai-nilai sosial, yang membawa dampak positif dan negatif terhadap pertumbuhan bangsa kita, termasuk sistem pendidikan kita. Dampak positifnya adalah terjadinya percepatan dan peningkatan pola berpikir dalam berbagai bidang dan perubahan pola hidup yang lebih efisien dan pragmatis. Sedangkan pengaruh negatif perkembangan IPTEKS dan globalisasi dewasa ini tampaknya cukup signifikan di seantero dunia, termasuk di Indonesia. Thomas Lickona (1996) mengidentifikasi sepuluh butir kecenderungan remaja yang tampak dalam perilakunya sehari-hari yaitu: 1) meningkatnya pemberontakan remaja, 2) meningkatnya ketidakjujuran, 3) berkurangnya rasa hormat terhadap orang tua, guru, dan pemimpin, 4) meningkatnya kelompok teman sebaya yang kejam dan bengis, 5) munculnya kejahatan dan perampokan, 6) berbahasa tidak sopan, 7) merosotnya etika dan etos kerja, 8) meningkatnya sifat-sifat mementingkan diri sendiri dan kurangnya rasa tanggung jawab, 9) timbulnya gelombang perilaku yang menyimpang, seperti perilaku seksual prematur, penyalahgunaan obat terlarang dan perilaku bunuh diri, dan 10) tumbuhnya ketidaktahuan sopan-santun, termasuk mengabaikan moral sebagai dasar hidup, seperti suka memeras, tidak menghormati peraturan-peraturan, dan perilaku membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Kondisi di atas telah mendorong berbagai pihak di berbagai negara untuk melaksanakan pendidikan karakter, dan bahkan telah terorganisasi melalaui organisasi seperti, “The Character Education Partnership”, The Character Counts Coalition, and the Communication Network” (Lickona, 1996). Pelaksanaan pendidikan karakter didasarkan atas tiga
alasan penting yaitu: 1) Perlunya karakter yang baik untuk menjadi bagian yang utuh dalam diri manusia. Setiap manusia harus memiliki pikiran yang kuat, hati nurani, dan kemauan untuk berkualitas seperti memiliki kejujuran, empati, perhatian, disiplin diri, ketekunan dan dorongan moral; 2) Sekolah merupakan tempat yang baik dan kondusif untuk melaksanakan proses pembelajaran dan pendidikan nilai-nilai; dan 3) Pendidikan karakter sangat esensial untuk membangun masyarakat bermoral.
Pendidikan Sains merupakan salah satu aspek pendidikan dengan menggunakan sains sebagai alatnya untuk mencapai tujuan pendidikan pada umumnya dan pendidikan sains pada khususnya. Salah satu sasaran yang dapat dicapai melalui pendidikan sains adalah “pengertian sains”
itu sendiri (Amien, 1987). Tujuan utama pendidikan sains adalah mengembangkan individu-individu yang literasi sains. Literasi sains ini meliputi pengetahuan tentang usaha ilmiah dan aspek-aspek fundamental tentang sains yaitu konsep dan prinsip ilmiah, hukum-hukum dan teori ilmiah, serta ketrampilam inkuri. Memiliki pengetahuan yang fundamental tentang sains adalah sangat esensial untuk membentuk manusia yang literasi sains. Individu yang literasi sains memiliki kemampuan untuk menggunakan aspek-aspek fundamental sains dalam memecahkan masalah- masalah dalam hidupnya sehari-hari, dan dalam pengambilan keputusan bagi kepentingan umum maupun personal.
Pendidikan Sains pada hakekatnya dapat digunakan untuk membekali subyek didik dengan pengetahuan dan keterampilan proses, tetapi juga dapat digunakan untuk membangun karakter (sikap dan nilai). Jadi, pendidikan Sains dapat digunakan sebagai wahana untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik, dan juga dapat digunakan untuk membangun karakter siswa. Oleh karena itu, pendidikan karakter perlu ditingkatkan intensitas dan kualitasnya pada semua jalur dan jenjang pendidikan, melalui pengintegrasian ke dalam seluruh mata pelajaran di sekolah pada umumnya, khususnya ke dalam pembelajaran Sains.Pelaksanaan pendidikan karakter melalui pilar sekolah didasarkan atas tiga alasan penting yaitu:
1) Perlunya karakter yang baik untuk menjadi bagian yang utuh dalam diri manusia; 2) Sekolah merupakan tempat yang baik dan kondusif untuk
melaksanakan proses pembelajaran dan pendidikan nilai-nilai; dan 3) Pendidikan karakter sangat esensial untuk membangun masyarakat bermoral.
Pendidikan karakter memiliki dua tujuan utama yaitu kebijakan dan kebaikan.
Pendidikan tentang kebaikan merupakan dasar demokrasi, karena itu dua nilai moral penting yang harus diajarkan dalam pendidikan karakter adalah rasa hormat dan tanggung jawab (respect and responsibility). Di samping itu ada sejumlah nilai yang perlu diajarkan melalui pendidikan karakter (Licona, 1991) yaitu: 1 ) kejujuran (honesty), 2) keterbukaan (fairness), 3) toleransi (tolerance), 4) kehati- hatian (prudence), 5) disiplin-diri (self- dicipline), 6) membantu dengan tulus (helpfulness), 7) rasa haru (compassion), 8) bekerjasama (cooperation), 9) keteguhan hati (courage), dan 10) nilai-nilai demokrasi (democratic values). Nilai-nilai karakter tersebut perlu dibangun dan ditumbuhkembangkan melalui proses pembelajarandi sekolah.
Karakter berkaitan dengan pengetahuan moral (moral knowing), perasaan moral (moral feeling), dan perilaku moral (moral action). Karakter yang baik terdiri atas pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan berbuat kebaikan.
Ketiga hal inilah yang menentukan kehidupan bermoral. Dalam komponen pengetahuan moral (moral knowing) terdapat enam aspek yaitu: (1) Kesadaran moral atau kesadaran hati nurani ; (2) Pengetahuan nilai-nilai moral (knowing moral values); (3) Kemampuan untuk memberi pandangan (perspective-taking) kepada orang lain, dan melihat situasi secara objektif; (4) Pertimbangan dan penalaran moral (moral reasoning) adalah pemahaman tentang apa yang dimaksud bermoral dan mengapa kita harus bermoral;
(5) Pengambilan keputusan (decision- making); dan (6) Kemampuan untuk mengenal dan memahami diri sendiri (self- knowledge). Dalam komponen “moral feeling” terdapat enam aspek yaitu: (1) Kata hati atau hati nurani (conscience)); (2) Harga-diri (self-esteem); (3) Empati (empathy); (4) Cinta pada kebaikan (loving the good); (5) Kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri (self-control);
dan (6) Kerendahan hati (humility). Dalam komponen “moral action”terdapat tiga aspek penting yaitu: (1) Kompetensi moral
(competence) yakni merupakan kemampuan untuk menggunakan pertimbangan-pertimbangan moral dalam berperilaku moral yang baik dan efektif.; (2) Kemauan (will), yakni pilihan yang benar dalam situasi moral tertentu.; dan (3) Kebiasaan (habit) yakni kebiasaan untuk bertindak secara baik dan benar (Licona, 1991)
Salah satu model pembelajaran yang dipandang berkontribusi secara signifikan dalam mengembangkan karakter siswa adalah model pembelajaran inkuiri. Model pembelajaran inkuiri memiliki enam langkah yaitu: 1) merumuskan masalah, 2) merumuskan hipotesis, 3) merancang dan melakukan percobaan atau eksperimen, 4) mengumpulkan dan mengolah data, 5) Interpretasi hasil analisis data dan pembahasan, 6) Menarik kesimpulan (Sund, 1973). Pada setiap langkah pembelajaran dapat terbentuk karakter siswa. Pada tahap perumusan masalah dapat dibangun karakter demokrasi, dan kerjasama, pada langkah perumusan hipotesis dapat dibangun karakter disiplin, ingin tahu, kerjasama, dan sikap kritis.
Pada tahap merancang dan melakukan percobaan dapat dibangun karakter kejujuran, tanggungjawab, disiplin, kerjasama, rasa percaya diri, dan sikap hati-hati dan teliti, sedangkan pada tahap mengumpulkan dan mengolah data dapat dibangun karakter kejujuran, tanggungjawab, dan kerjasama. Pada tahap interpretasi hasil analisis data dapat dibangun karakter kejujuran, berpikir kritis, dan tanggungjawab, sedangkan pada tahap penarikan simpulan dapat dibangun karakter kejujuran, kerjasama, dan percaya diri.
2. Metode
Dalam upaya pembentukan dan pengembangan karakter siswa SMP telah dirancang dan dikembangkan perangkat pembelajaran IPA bermuatan pendidikan karakter dengan seting pembelajaran inkuiri. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan meliputi silabus, buku petunjuk guru, buku siswa, RPP, LKS, dan instrument evaluasi hasil belajar. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan ditujukan untuk pencapaian kompetensi siswa dan pengembangan karakter siswa.
Untuk menguji validitas perangkat pembelajaran IPA bermuatan pendidikan
karakter dengan seting pembelajaran inkuiri, telah dilakukan uji-pakar terhadap draft perangkat pembelajaran melalui focus group discussion (FGD) dengan melibatkan pakar dan praktisi pembelajaran sains.
Masukan, kritik dan saran yang dalam FGD digunakan untuk penyempurnaan draft perangkat pembelajaran.
Perangkat pembelajaran sains bermuatan pendidikan karakter untuk SMP, yang mencakup buku siswa, buku pedoman guru, silabus, RPP, dan LKS divalidasi oleh pakar pendidikan sains yang terdiri atas 4 orang dosen dan 4 orang guru IPA senior melalui focus group discussion. Perangkat pembelajaran sains yang telah diperbaiki berdasarkan masukan pakar dan praktisi, selanjutnya dievaluasi melalui desk- evaluation dengan melibatkan guru IPA SMP. Revisi perangkat pembelajaran dilakukan dengan mempertimbangkan hasil evaluasi beserta saran-saran perbaikan oleh praktisi pada tahap desk-evaluation.
Untuk menguji kepraktisan dan efektivitas perangkat pembelajaran sains SMP, dilakukan melalui uji-empiris dengan menggunakan rancangan one-shot case study.
Data tentang validitas instrumen perangkat pembelajaran yang meliputi silabus, RPP, LKS, buku pedoman guru, dan buku siswa dijaring melalui cek list yang diisi oleh guru-guru IPA SMP yang dilibatkan sebagai sampel. Sedangkan data mengenai perubahan karakter siswa setelah mengikuti proses pembelajaran diukur dengan mengunakan pedoman observasi. Data tentang validitas perangkat pembelajaran dianalisis secara deskriptif dan diberi makna kualitatif dengan menggunakan pedoman konversi kulaifikasi seperti pada Tabel 01 berikut.
Tabel 01 Pedoman Konversi Kualifikasi Validitas Perangkat Pembelajaran
No. Skor (X) Validitas Perangkat Pembelajaran 1 4,00 ≥ X ≥ 3,50 Sangat valid 2 3,50 > X ≥ 2,50 Valid 3 2,50 > X ≥ 1,50 Tidak valid 4 1,50 > X ≥ 1,00 Sangat tidak valid
(Diadaptasi dari Sadra, 2007)
Data tentang pembentukan dan perkembangan karakter siswa dikumpulkan dengan metode observasi dengan rubrik penskoran sebagai berikut.
Skor = 1 (belum tampak): Jika peserta didik belum memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku karakter yang dinyatakan dalam indicator; Skor = 2 (mulai tampak):
Jika peserta didik sudah memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku karakter yang dinyatakan dalam indikator tetapi masih sedikit dan belum ajeg atau konsisten); Skor = 3 (mulai berkembang):
Jika peserta didik memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku karakter yang dinyatakan dalam indikator yang cukup sering dan mulai ajeg atau konsisten); dan Skor = 4 (membudaya): Jika peserta didik memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku karakter yang dinyatakan dalam indikator yang secara terus menerus dan mulai ajeg atau konsisten.
Data tentang perkembangan karakter siswa yang diperoleh melalu teknik observasi dianalisis secara deskriptif dan diberi makna kualitatif dengan menggunakan pedoman konversi kualifikasi seperti pada Tabel 02 berikut.
Tabel 02 Pedoman Konversi Kualifikasi Skor Karakter Siswa
No. Skor (X) Kualifikasi Karakter 1 X < 1,5 Belum tampak 2 2,5 > X ≥ 1,5 Mulai tampak 3 3,5 > X ≥ 2,5 Mulai berkembang
4 X ≥ 3,5 Membudaya
(Diadaptasi dari: Pendidikan Karakter Terintegrasi dalam Pembelajaran IPA di SMP, Kemendikbud Direktorat Jenderal Managemen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pembinaan SMP, 2010)
3. Hasil dan Pembahasan
Hasil analisis data validitas perangkat pembelajaran yang dijaring melalui desk- evaluation oleh 30 orang guru SMPmenunjukkan bahwa enam dari tujuh komponen perangkat pembelajaran memenuhi syarat sangat valid dan hanya satu komponen yang berkatagori valid. Ini berarti bahwa semua komponen perangkat pembelajaran IPA SMP (Fisika) yang dikembangkan dalam penelitian ini layak untuk diimplementasikan dalam proses pembelajaran di kelas. Secara rinci, hasil validasi oleh praktisi (guru) IPA SMP untuk masing-masing komponen disajikan pada Tabel 03 berikut.
Tabel 03. Validitas Masing-masing Komponen Perangkat Pembelajaran IPA
SMP (Fisika) N = 30
No. Komponen Skor Katagori
Perangkat Pembelajaran
rerata
1 Silabus 3,58 Sangat
valid 2 Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
3,52 Sangat valid 3 Lebar Kerja Siswa 3,44 Valid
4 Bahan Ajar 3,57 Sangat
valid 5 Alat Evaluasi 3,50 Sangat
valid 6 Keterlaksanaan
Pembelajaran
3,55 Sangat valid
7 Respon Guru
terhadap Perangkat Pembelajaran Sains
3,61 Sangat valid
Berdasarkan penilaian guru-guru IPA SMP seperti yang tersaji pada Tabel 03, silabus yang dirancang dan dikembangkan dalam penelitian ini dengan mengintegrasikan pendidikan karakter ternyata sangat layak untuk diterapkan dalam proses pembelajaran. Komponen silabus yang mencakup keterkaitan SK dan KD dengan keluasan dan kedalaman materi ajar, pengorgasisasian materi ajar, indikator capaian, pemilihan strategi pembelajaran, karakter yang dikembangkan, sumber belajar dan kesesuaian alat penilaian ternyata sangat valid dengan skor rerata 3,58. Dengan demikian silabus tersebut dapat digunakan sebagai pedoman dalam merancang RPP. Penilaian guru IPA SMP terhadap RPP yang dikembangkan dalam penelitian ini, yang meliputi aspek perumusan indikator capaian, perumusan tujuan pembelajaran, sistematika dan pengorganisasian materi ajar, strategi pembelajaran, skenario pembelajaran, aspek bahasa, karakter yang dikembangkan, dan alokasi waktu, semuanya termasuk dalam katagori sangat baik dengan rerata skor 3,52. Ini berarti bahwa RPP yang dirancang dan dikembangkan dalam penelitian ini sangat layak untuk diterapkan.
Hasil desk-evaluation terhadap LKS oleh guru-guru IPA SMP , baik yang menyangkut sistematika, materi tugas, tujuan, pembangkitan rasa ingintahu, gambar ilustrasi, maupun aspek bahasanya menunjukkan bahwa rancangan LKS sangat layak untuk digunakan. Untuk bahan ajar, dengan aspek-aspek keterkaitan materi ajar dengan KD, tampilan umum, organisasi penyajian, kedalaman dan keluasan materi, penyajian gambar dan tabel, kesesuaian dengan tuntutan kurikulum, sajian kegiatan siswa yang
memungkinkan terjadinya proses inkuiri dan pengembangan karakter, secara umum termasuk dalam katagori sangat valid dengan rerata skor 3,57. Jadi, bahan ajar yang dituangkan dalam buku pegangan guru maupun buku siswa sebagai salah satu komponen perangkat pembelajar IPA bermuatan pendidikan karakter sangat layak untuk diimplementasikan dalam proses pembelajaran. Pada bagian lain, yakni pada komponen alat evaluasi dalam pembelajaran sains, yang meliputi aspek kesesuain dengan tujuan pembelajaran, kesesuaian dengan tingkatan kelas, jenjang kognitif yang diukur, dan karakter yang dikembangkan, kejelasan rumusan soal, kejelasan gambar, grafik, dan tabel pada soal, serta rubrik penilaian, secara keseluruhan termasuk katagori sangat valid dengan skor rerata 3,50.Berkaitan dengan komponen keterlaksanaan pembelajaran, hasil desk-evaluation menunjukkan bahwa para guru IPA SMP menilai perangkat pembelajarn sains bermuatan pendidikan karakter sangat baik untuk dilaksanakan secara riil di kelas. Hampir semua aspek yang diperlukan dalam pelaksanaan suatu program pembelajarn telah terpenuhi dengan baik. Rerata skor penilaian guru adalah 3,55 dengan katagori sangat valid.
Respon guru IPA SMP terhadap perangkat pembelajaran sains bermuatan pendidikan karakter ternyata sangat positif, dengan skor rerata 3,61.
Bertolak dari hasil validasi dan respon guru terhadap perangkat pembelajaran IPA SMP, maka perangkat pembelajaran yang telah dirancang dan dikembangkan dalam penelitian ini, di uji-empirik dengan menggunakan rancangan one-shot case study guna memperoleh informasi tentang efektivitasnya dalam proses pembelajaran.
Uji-empirik dilakukan dalam kurun waktu tiga bulan dengan melibatkan 32 orang siswa SMP kelas IX dengan menerapkan model pembelajaran berbasis inkuiri.
Efektivitasnya diukur melalui capaian hasil belajar dan perkembangan karakter siswa.
Hasil belajar siswa pada aspek kognitif telah terjadi peningkatan hasil belajar yang ditunjukkan oleh terjadinya peningkatan persentase siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM).
Untuk aspek karakter ada empat kriteria yang digunakan dalam mengukur perkembangan karakter siswa yaitu: 1) belum tampak (BT) dengan katagori kurang;2) mulai tampak (MT) dengan
katagori cukup; 3) mulai berkembang (MB) dengan katagori baik; dan 4) sudah membudaya (MK) dengan katagori sangat baik. Hasil uji-empirik perangkat pembelajaran sains bermuatan pendidkan karakter dalam menumbuhkembangkan karakter siswa dengan melibatkan 32 orang siswa dengan materi ajar 1) sistem ekskresi pada manusia, 2) sistem reproduksi pada manusia, dan 3) sistem koordinasi pada manusia. disajikan pada Tabel 04 berikut.
Tabel 04. Perkembangan Karakter Siswa untuk Enam Aspek Karakter (N = 32)
Aspek Karakt er
Rerata skor dan Katagori Siklus 1
(Sistem ekskresi)
Siklus 2 (Sistem reproduksi)
Siklus 3 (Sistem koordinasi) Rer
ata Kata gori
Rer ata
Kata gori
Rer ata
Kata gori Kejujur
an
1,3 8
BT 2,1 8
MT 2,9 8
MB Tangg
ung jawab
1,6 3
MT 2,3 1
MT 3,2 1
MB
Disiplin 1,8 8
MT 2,5 4
MB 3,1 2
MB Kerjas
ama 1,9 8
MT 2,8 8
MB 3,4 0
MB Rasa
ingin tahu
1,6 7
MT 2,6 1
MB 3,0 2
MB
Keped ulian
1,7 8
MT 3,0 2
MB 3,5 2
MK
Berdasarkan hasil analisis data seperti yang tertuang pada Tabel 04, secara umum model pembelajaran inkuiri bermuatan pendidikan karakter cukup efektif dalam mengembangkan karakter siswa, baik untuk aspek kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kerjasama, rasa ingin tahu, maupun kepedulian. Untuk aspek kejujuran ternyata karakter siswa pada siklus 1 berkatagori belum tampak (BT) telah meningkat menjadi mulai tampak (MT) pada siklus 2 dan siklus 3 sudah mencapai katagori mulai berkembang (MB).
Aspek tanggungjawab siswa juga telah berkembang dari katagori mulai tampak (MT) pada siklus 1 dan pada siklus 2, namun pada siklus 3 sudah meningkat menjadi mulai berkembang (MB)
Untuk aspek disiplin, karakter siswa berkembang dari mulai tampak (MT) menjadi mulai berkembang (MB) pada siklus 2, dan pada siklus 3.Aspek kerjasama pada siklus 1 berkatagori mulai tampak (MT) meningkat menjadi mulai berkembang pada siklus 2 dan pada siklus 3. Rasa ingin tahu siswa berkembang dari mulai tampak (MT) pada siklus 1 berubah pada siklus 2 dan dan juga pada siklus 3
meningkat menjadi mulai berkembang.
Untuk aspek kepedulian, terjadi peningkatan secara signifikan mulai dari siklus 1 dengan katagori cukup atau mulai tampak (MT) menjadi mulai berkembang (MB) atau baik pada siklus 2 dan meningkat lagi menjadi membudaya (MK) atau sangat baik pada siklus 3.
Terjadinya peningkatan atau perkembangan karakter siswa untuk enam aspek karakter yang diukur melalui pedoman observasi disebabkan oleh adanya kondisi yang memungkinkan terjadinya peningkatan karakter siswa melalui penerapan model pembelajarn berbasis inkuri dalam pembelajaran IPA.
Tahapan pembelajaran inkuiri mulai dari 1) merumuskan masalah, 2) merumuskan hipotesis, 3) merancang dan melakukan percobaan, 4) mengumpulkan dan mengolah data, 5) interpretasi hasil analisis data dan pembahasan, dan 6) Menarik kesimpulan perumusan masalah, memberikan iklim yang kondusif bagi berkembangnya karakter siswa.
4. Simpulan dan Saran
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat diambil simpulan sebagai berikut.
1) Perangkat pembelajaran IPA SMP bermuatan pendidikan karakter dengan seting model pembelajaran inkuiri, yang terdiri atas silabus, RPP, LKS, buku pedoman guru, buku siswa, dan alat evaluasi telah memenuhi syarat validitas sehingga layak untuk diimplementasikan dalam proses pembelajaran.
2) Perangkat pembelajaran IPA SMP bermuatan pendidikan karakter dengan seting model pembelajaran inkuiri cukup efektif dalam mengembangkan karakter siswa.
Berdasarkan temuan dan pembahasan yang telah diuraikan, maka diajukan saran-saran berikut.
1) Dalam upaya mengembangkan pendidikan karakter melalui jalur sekolah, perlu dikembangkan suatu model pendidikan karakter beserta perangkatnya yang diintegrasikan ke dalam pembelajaran sains. Model tersebut dapat digunakan sebagai rujukan bagi guru IPA dalam upaya meningkatkan karakter siswa
2) Dalam proses pembelajaran sains di kelas, guru perlu menyelipkan karakter para tokoh atau ilmuan dalam bidang IPA agar dapat dijadikan sebagai contoh dalam perilaku siswa.
3) Kepada para guru sains disarankan agar mengurangi tingkat dominasinya dalam proses pembelajaran dan meningkatkan intensitas aktivitas siswa. Perlu dikembangkan pola interaksi pembelajaran yang multi arahuntuk
memberi peluang bagi
terakomodasinya pendidikan karakter.
Rujukan
Amien, Moh. (1987). Mengajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan Metode Discovery dan Inquiry.Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia (2005). Peraturan
PemerintahRepublik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. 2003. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
Direktorat Pembinaan SMP, Dirjen Managemen Pendidikan Dasar dan Menengah (2010), Pendidikan Karakter
Terintegrasi dalam Pembelajaran IPA di SMP
Hilda Sabri Sulistyo. 2010. Membangun Karakter dan Budaya di Sekolah. Artikel.
www.bisnis.com. Diakses pada tgl. 27 April 2011.
Lickona, T. 1991. Educating for Character. New York: Bantams Books
Lickona, T. 1996. Eleven Principles of Effective Character Education. Journal of Moral Education.
Meyers, Chet. (1986).TeachingStudents to Think Critically.California:Jossey-Bass Inc Publishers Sadia, I Wayan. (2011). Pendidikan Karakter
Menuju Bangsa yang Cerdas, Berdaya Saing, dan Berbudaya. Makalah Seminar dalam Rangka Hari
Pendidikan dan Kebangkitan Nasional di STIKES Majapahit Singaraja.
Sund, R.B., Trowbridge & Leslie, W. 1973.
Teaching Science by Inquiry in the Secondary School. Second Edition.
Columbus: Charles E. Merill Publishing.
Umar Tirtarahardja dan La Sulo.S.L. (2005).
Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta