GURU FISIKA
4. Simpulan dan Saran 1 Simpulan
Berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, dapat dibuat kesimpulan sebagai berikut. (1) PP-BKGS dapat meningkatkan keterampilan laboratorium mahasiswa calon guru fisika pada bidang IPBA dengan kategori baik (2) Capaian keterampilan merancang praktikum IPBA sebesar 81,4 dengan kategori baik, Kebumian 84,1 (baik), Astronomi 78,7 (baik);
Capaian keterampilan melaksanakan praktikum bidang IPBA sebesar 83,2 (baik), Kebumian 84,5 (baik), Astronomi 81,8 (baik);
Capaian keterampilan melaporkan praktikum IPBA sebesar 84,8 (baik), Kebumian 87,5 (sangat baik), Astronomi 82,1 (baik); (3) Respon mahasiswa terhadap penerapan PP- BKGS, adalah positif.
4.2 Saran
Beberapa saran yang dapat diajukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan pada PP-BKGS adalah sebagai berikut. Pelaksanaan PP-BKGS ini memerlukan waktu lebih lama terutama dalam merancang percobaan. Hendaknya tugas mengeksplorasi dan menyusun rancangan dijadikan sebagai tugas terstruktur.
Program Pembelajaran Keterampilan Laboratorium yang dilakukan dalam penelitian ini disarankan untuk dapat diteliti dan dikembangkan pada mata kuliah praktikum fisika lainnya yang membutuhkan penguasaan keterampilan laboratorium.
DAFTAR RUJUKAN
Brotosiswoyo, B.S. 2000. Hakekat Pembelajaran Fisika di Perguruan Tinggi. Dalam Tim Penulis Pekerti Bidang MIPA (Eds),Hakekat Pembelajaran MIPA & Kiat
Pembelajaran Fisika di Perguruan Tinggi Jakarta: Proyek Pengembangan Universitas Terbuka. Depdiknas.
Cheng, K.K., Thacker, B.A., dan Cardenas, R.L.
2004. Using Online Homework System Enhances Students’Learning of Physics Concepts in an Introductory Physics Course. American Journal of Physics. 72 (11): 1447 – 1453.
Creswell., J. W. 2009. Research Design, Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (3ndEdition).
California: Sage Publication.
Depdiknas. 2002. Pengembangan Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan Abad ke- 21 (SPTK-21). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Gall, M.D., Gall, J.P., dan Borg, W.R. 2003.
Educational Research an Introduction (7th Edtion). Boston: Pearson Education.
Gibb, J. 2002. The Collection of Research Reading on Generics Skill in VET. [Online].
Tersedia: http://www.ncvr.edu.au.hotm. [ 2 Februari 2008]
Martin, D. J. 1997. Elementary Science Methods:
A Constructivist Approach. Albany: Delmar Publisher.
McDermott. 1990. A Perspective on Teacher Preparation in Physics and Other Sciences.
American Journal of Physics. 58(8).
Neuman, D. B. 1993. Experiencing Elementary Science. California: Wadsworth Inc.
Pabellon J.L. & Mendoza, A.B. 2000. Sourcebook on Practical Work for Teacher Trainers:
High School Physics Volume 1. Quezon City: Science and Math Education Manpower Development Project (SMEMDP) University of The Phillipine.
Pedoman Studi Undiksha. 2009. Singaraja:
Universitas Pendidikan Ganesha.
Rustaman, N.Y., Dirdjosoemarto, S., Yudianto, S.
A., Achmad, Y., Subekti, R., Rochintaniawati, D., dan Nurjhani K., M.
2005. Strategi Belajar Mengajar Biologi.
Malang: Universitas Negeri Malang (UM Press).
Subagia, I W. 2006. Keterampilan Sains Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Bali. Orasi Ilmiah Pengenalan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Bidang Pendidikan Ipa pada Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Negeri Singaraja.
Utomo, T. dan Ruijter, K. 1990. Peningkatan dan Pengembangan Pendidikan. Jakarta:
Grame
GAMBARAN GAYA BELAJAR SISWA KELAS AKSELERASI
Herdina Indrijati 1*, Hilman Luqmanul Hakim 2
Pusat Terapan Psikologi Pendidikan (PTPP) Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga, Surabaya1*
Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia2
[email protected] Abstrak
Potensi yang dimiliki oleh siswa peserta kelas akselerasi idealnya akan berpengaruh terhadap pencapaian prestasi. Namun adakalanya ketidaktepatan dalam penyajian pelajaran oleh guru turut memberikan dampak terhadap prestasi siswa. Akomodasi terhadap preferensi gaya belajar turut mengoptimalkan potensi yang dimiliki siswa.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran preferensi gaya belajar siswa akselerasi. Sebanyak 124 siswa akselerasi terlibat dalam penelitian ini, dengan mengisi kuisioner Learning Style Analysis (LSA) milik Prashnig dalam bentuk skala Thrustone yang telah ditranslasi dan digunakan untuk penelitian oleh Oktaviani (2013). Kuisioner tersebut terdiri dari enam dimensi. Reliabilitas kuisioner tersebut adalah 0,69 dan pengujian validitasnya menggunakan profesional judgement. Hasil yang didapatkan berupa rata-rata (mean) tertinggi dari preferensi subjek penelitian terhadap indikator-indikator gaya belajar dari enam dimensi. Gaya belajar subjek penelitian cenderung menggunakan dominasi otak kanan (simultan dan holistik); memerlukan kebutuhan fisik untuk belajar di pagi hari, butuh bergerak, dan tidak memerlukan asupan; modalitas inderawi dengan cara self-talk, observasi, memegang, dan kinestetik internal; pengelompokkan sosial dengan bekerja secara berpasangan dan memerlukan otoritas orangtua; sikap dengan motivasi internal, kegigihan tinggi, cenderung patuh aturan, tanggung jawab tinggi, masih perlu bimbingan dari orang lain, dan memiliki orientasi pada perubahan; sedangkan lingkungan yang diperlukan dengan suasana sunyi, pencahayaan terang, suhu sejuk, dan wilayah belajar informal.
Kata kunci: Gaya belajar, Siswa kelas akselerasi Abstract
This research aimed to gain the description of the learning style preferences of the students in acceleration program. Data on learning style were collected from 124 students in acceleration program. Learning style was assessed using Learning Style Analysis (LSA) owned by Prashing in form of Thrustonescale. It was translated and used in prior research by Oktaviani (2013). The questioner consists of six dimension of learning style. Reliability coefficient was 0.69 and validity tested using professional judgment. The results obtained in the form of the highest average (mean) of the preference the subject on learning style indicators. The subjects of study tend to use right brain domination (simultaneous and holistic); requiring physical needs to study in the early morning, need move, and do not need intake; sense modalities by means of self-talk, observation, handling/touching, and a kinesthetic internal; social grouping by working in pairs and required parental authority;
dimension of attitude shows that they does with self-motivation, high persistence, obedient with the rules, high responsibility, still need a guidance from other people, and having an orientation in the changes;while the environment required to be quiet, bright lighthing, cool temperature, and the informal learning space.
Keywords: learning style, students in acceleration program
1. Pendahuluan
Siswa gifted memiliki potensi kecerdasan di atas rata-rata, mereka memiliki kemampuan yang menonjol di antara teman-teman seusianya. Renzulli (2005) yang dikenal dengan teori Three-Rings Conception berpendapat bahwa terdapat tiga ciri pokok gifted yaitu memiliki kecerdasan IQ,
kreativitas, dan task-commitment di atas rata- rata. Maka diperlukan penanganan khusus dalam mengembangkan potensinya. Sistem pendidikan di Indonesia telah mengatur hal tersebut. Diantaranya tercermin melalui Undang-Undang nomor 20 tahun 2005, pasal 5 ayat (4). “Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa
berhak memperoleh pendidikan khusus.”
Layanan yang diperuntukkan untuk mengakomodasi hal terebut diantaranya yaitu kelas akselerasi.
Potensi yang dimiliki oleh siswa tersebut dapat menjadi modal yang secara ideal dapat berkontribusi terhadap capaian prestasinya.
Akan tetapi masih adanya topik tentang underachievement yang terjadi pada siswa gifted khususnya yang berada di kelas akselerasi menjadi kasus yang patut diinvestigasi (Matthews dan McBee, 2007).
Kepiawaian guru dalam menyajikan pelajaran kepada siswa menjadi faktor yang turut berperan terhadap keberhasilan tersebut.
Sangat penting bagi pengajar untuk memiliki pengetahuan tentang cara mengajar yang sesuai dengan preferensi muridnya. Karena siswa yang terakomodasi kebutuhan dan preferensi dalam belajarnya akan menunjukkan respon yang positif dan prestasi yang lebih baik (Naimie, dkk. 2010). Selain gaya mengajar guru, hal yang patut diperhatikan pula adalah preferensi cara belajar siswa. Ketidakcocokkan antara gaya mengajar guru dengan preferensi belajar siswa akan berdampak pada kualitas belajar siswa dan sikap mereka terhadap kelas dan matapelajaran (Felder, 1995).
Preferensi belajar siswa inilah yang disebut dengan gaya belajar (learning style). Gaya belajar menggambarkan kebiasaan yang dilakukan atau cara yang disukai saat belajar.
Gaya belajar merepresentasikan setiap orang secara biologis dan karakteristik pengalaman yang diinduksi baik yang mendorong atau menghambat pencapaian (Dunn, 1984). Gaya belajar terbukti memberikan dampak terhadap performa yang dihasilkan oleh siswa di dalam belajar. (Rayneri, L.J., dkk., 2006).Prashnig (1998) menyatakan bahwa sejak tahun 1979 suatu penelitian telah dilakukan, sehingga mengungkapkan bahwa tiga perlima gaya belajar bersifat genetis, sisanya, di luar ketekunan, gaya belajar bisa dikembangkan melalui pengalaman.
Berbagai penelitian menghasilkan teori-teori tentang gaya belajar. Seperti toeri model Visual, Auditori, dan Kinestetik (VAK) yang diciptakan oleh Bandler-Grinder tahun 1970, atau teori yang dikemukakan oleh Dunn dan Dunn yang mengahasilkan Learning Style Inventory (LSI) dan PEPS (Productivity Environmental Preference Survey). Bisa dikatakan model gaya belajar yang dikemukakan oleh Dunn dan Dunn ini merupakan yang paling cermat dan komprehensif (Prashnig, 2007).
Pada tahun 1996 Prashnig (2007) menciptakan Working Style Analysis yang
bersumber dari model gaya belajar Dunn dan Dunn yang asli. Ia menciptakan alat tersebut untuk memungkinkan dalam menggali kondisi belajar dan bekerja yang disukai. Setelahnya, Prashnig berkolaborasi dengan Dunn menciptakan istrumen baru yang dikenal dengan Learning Style Analysis (LSA). LSA ini melakukan penilaian terhadap 49 unsur individual dalam enam area mendasar.
Keenam area tersebut adalah:
1. Dominasi otak kanan kiri 2. Modalitas inderawi 3. Kebutuhan fisik 4. Lingkungan
5. Pengelompokkan sosial 6. Sikap
Adanya kasus underachivement pada siswa akselerasi tersebut dan keterkainnya dengan gaya belajar menarik untuk diidentifikasi.
Sehingga menimbulkan suatu pertanyaan tentang bagaimana gambaran gaya belajar siswa yang mengikuti kelas akselerasi?.
Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan gambaran siswa kelas akselerasi. Hal ini menjadikan salah satu upaya dalam membantu para guru dalam mengoptimalkan potensi siswa sehingga dapat meningkatkan capaian prestasi mereka dengan memperhatikan gaya belajar mereka.