DAMPAK PEMBANGUNAN STKIP PGRI SUMATERA BARAT TERHADAP SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT KELURAHAN
KAMPUNG OLO KECAMATAN NANGGALO KOTA PADANG
ARTIKEL
EKA PUTRI HARDIYANTI NPM.11070059
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
2016
The Impacts of Construction STKIP PGRI Sumatera Barat toword Economic Society Kampung Olo, Nanggalo District Padang City.
Eka Putri Hardiyanti1Firdaus, M.Si2Isnaini, M.Si3 Department of Sociology Education
(STKIP) PGRI West Sumatra
ABSTRACT
Construction is a process of change that is based on planned and deliberated, and
demanded eiter the goverment or the society in improving the lives of more prosperous. Indonesia national construction is a construction paradigm that is built on the practice of pancasila that Indonesia fully human construction and the counstruction of Indonesia society. The construction carried out by the Indonesia goverment is essentially to improve thair living standard society. The construction impacts include the social dimension as the waning of cultural values, social norms causing forms of deviant behavior and dependence of society on the other side as a result of the intervention system construction has an impact on socioe economic conditions. So is the case with the construction of the college located in, Kampung Olo is STKIP PGRI Sumatera Barat that occurred in their socio economic society. The researchar aims to know and desribe the impacts of constructins STKIP PGRI Sumatera Barat toward economic social society Kampung Olo, Nanggalo district Padang city.In this research using Structural Functional Theory form Robert. K. Merton. Beside, the research that used is qualitative research with Descriptive type. As for the information that is taken by using purposive sampling. The number of participants is 21 participants consisting of 15 participants who trade, 3 participants from staff officer Kelurahan and Leader of RW 01 and RW 02. The type of data used primary and secondary data. Method of data colletion is done by 3 ways: 1) observations (non participant), 2) interview, 3) document analysis. To achieve the validity of the reseacrh, the researcher using triagulasi technique. The unit of analysis used is group with data analysis Milles and Huberman consist from steps are reduction, data presentation, and conclucion.Based on the result of the research found the impacts of construction STKIP PGRI Sumatera Barat in Kampung Olo, Nanggalo disrtrict Padang city. 1) Social impact which consist : a. Increasing social network the traders ang migrant society, b. Increasing social norm or more increase the regulations around Kampung Olo especially college area, c. An increase in social problems, d. Demography, the populations density of the society in Kampung Olo. 2) Economic impact: a. Change in the society’s livelihood, b. Increasing society asset after the constructions of the college, c. Increasing society’s income.Keywords: Impact of construction, Socio, Economic
1. Mahasiswa sosiologi (STKIP) PGRI Sumatera Barat tahun ajaran 2011.
2. Pembimbing I dosen (STKIP) PGRI Sumatera Barat.
3. Pembimbing II dosen (STKIP) PGRI Sumatera Barat.
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang berkembang oleh pembangunan. Pembangunan yaitu suatu proses usaha untuk memajukan kehidupan masyarakat dan warganya. Namun kemajuan yang dimaksud terutama adalah kemajuan material. Maka, pembangunan seringkali diartikan sebagai kemajuan yang dicapai sebuah masyarakat dibidang ekonomi. Pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia pada dasarnya adalah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakatnya (Budiman, 2000:12).
Setiap pembangunan memberikan dampak terhadap masyarakat baik fisik maupun dimensi sosial lainya. Dampak tersebut yaitu dampak dari proses pembangunan antara lain berupa masalah yang berkaitan dengan pencemaran dan kelestarian lingkungan. Hal ini menjadi masalah karena dalam jangka pendek akan membawa pengaruh pada keindahan, kerapian, kebersihan, terutama, pada kesehatan masyarakat, dan sedangkan dalam jangka panjang akan berpengaruh pada kelangsungan proses pembangunan itu sendiri, perubahan yang terjadi melalui proses pembangunan seringkali merupakan perubahan yang dipercaya dalam mengatasi keterbelakangan dan kemiskinan.
Sedangkan dimensi sosial lainya berupa memudarnya nilai-nilai budaya, norma-norma sosial sehingga menimbulkan bentuk perilaku menyimpang serta ketergantungan masyarakat terhadap pihak lain sebagai akibat sistem intervensi pembangunan memberikan dampak terhadap sosial ekonomi masyarakat (Soetomo, 2011:165-167.
Salah satu yang dilakukan oleh masyarakat adalah STKIP PGRI Sumatera Barat. STKIP PGRI Sumatera Barat berada dibawah kaki Gunung Pangilun, dikawasan Kelurahan Kampung Olo Kecamatan Nanggalo Padang. STKIP PGRI Sumatera Barat merupakan pembangunan dari segi pendidikan yang dipelopori oleh Bapak Drs. Ir Mizwar pada tahun 1984 dengan misi yayasan pendidikan PGRI Sumatera Barat. Beliau selaku yang menjabat sebagai YPLP PGRI Sumatera Barat, yang bergerak dibidang pendidikan (Marini, 2004:28). Tujuan dari pembangunan STKIP PGRI Sumatera Barat karena melihat kurangnya tenaga guru di Sumatera Barat dengan sarana yang ada pada tahun 80’an. Maka dari itu berdirilah kampus yang berspesifik pendidikan pada tanggal 22 Mei 1984 No.115/SK/KOP/1994. Awal perkuliahan mahasiswa STKIP PGRI Sumatera Barat berada digedung SMA PGRI 1 Jl. Jendral Sudirman karena mahasiswa pada masa itu masih sedikit hanya 215 orang. Pada akhirnya hingga tahun 1990 STKIP PGRI Sumatera Barat memiliki gedung sendiri.
Semakin bertambahnya tahun perkembangan STKIP PGRI Sumatera Barat
meningkat dan kualitas maupun kuantitas pembangunan STKIP PGRI Sumatera Barat lebih baik, karena peminat untuk masuk keperguruan tinggi meningkat. Penduduk dikawasan Kelurahan Kampung Olo Kecamatan Nanggalo Padang ikut merasa perkembangan yang terjadi pada pembangunan STKIP PGRI Sumatera Barat.
Dengan melihat keadaan dan realitanya penduduk sekitar memanfaatkan dan mengikut sertakan kegiatan dalam mengiringi pertumbuhan Pembangunan STKIP PGRI Sumatera Barat dengan menyediakan tempat penginapan atau kos- kosan untuk para mahasiswa yang berkuliah di STKIP PGRI Sumatera Barat yang berbagai daerah, kantin atau rumah makan serta tempat hiburan untuk masyarakat seperti G-Sprot dan Futsal.
Salah seorang masyarakat asli tinggal di Kelurahan Kampung Olo Kecamatan Nanggalo Padang mengatakan; bahwa dengan adanya Pembangunan STKIP PGRI Sumatera Barat sangat menunjang perekonomian masyarakat. Karena sebelum pada tahun 80’an mata pencarian utama masyarakat sekitar hanya sebagai petani dan kuli bangunan. Namun dengan berdirinya STKIP PGRI Sumatera Barat pada tahun 2000 pendapatan masyarakat meningkat. Karena di Kawasan Kelurahan Kampung Olo Sumber mata pencarian masyarakat, dengan berbagai macam sekolah serta kantor, dan Kepadatan penduduk dikawasan Kelurahan Kampung Olo Kecamatan Nanggalo Padang pun meningkat (Sumber: Observasi awal.
Berdasarkan latar belakang masalah penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan berjudul Dampak Pembangunan STKIP PGRI Terhadap Sosial Ekonomi Mayarakat Kelurahan Kampung Olo Kecamatan Nanggalo Padang.
Dengan tujuan mendeskripsikan dari dampak sosial ekonomi masyarakat Kelurahan Kampung Olo Kecamatan Nanggalo.
Berdasarkan tujuan penelitian diatas, adapun kegunaan penelitian ini adalah secara akademis Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian keilmuan terutama sosiologi pembangunan serta bermanfaat untuk peneliti selanjutnya yang ingi meneliti mengenai masalah pembangunan.
Teori yang dipakai dalam penelitian ini adalah teori struktural fungsional. salah satu tokoh dari teori struktural fungsional adalah Robert K.
Merton. Menurut teori ini masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang terdiri dari bagian-bagian atau elemen-elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Perubahan yang terjadi satu bagian akan membawa perubahan pula terhadap bagian yang lain. Asumsi dasarnya adalah bahwa setiap struktur dalam sistem sosial,
fungsional terhadap yang lainnya.
Sebaliknya kalau tidak fungsional maka struktur itu tidak akan ada atau akan hilang dengan sendirinya. Tingkat analisis Merton lebih kepada institusi, kelompok, masyarakat dan kultur. Merton melihat suatu institusi atau pranata tertentu dapat fungsional bagi unit sosial tertentu dan sebaliknya dis-fungsi bagi unit sosial lainnya(Ritzer, 2004:
138).
Menurut Merton fungsional dibagi dua yaitu fungsi nyata (manifest function) dan fungsi sembunyi (latent function). Fungsi disebut nyata apabila konsekuensi tersebut disengaja, dimaksudkan atau setidaknya diketahui. Adapun fungsi disebut sembunyi, apabila konsekuensi tersebut secara objektif ada tetapi tidak (belum) diketahui. Adapun menurut Merton (Ritzer dan Goodman, 2010: 139-140) struktur fungsional mestinya lebih dipusatkan pada fungsi sosial ketimbang pada motif individual. Bahwa Merton menganggap fungsi didefenisikan sebagai
“konsekuensi-konsekuensi yang dapat diamati yang menimbulkan adaptasi atau penyesuaian dari sistem tertentu” tetapi, jelas ada bias ideologis bila orang hanya memusatkan perhatian pada adaptasi atau penyesuaian diri, karena adaptasi dan penyesuaian diri selalu mempunyai akibat positif. Perlu diperhatikan bahwa satu faktor sosial dapat mempunyai akibat negatif terhadap fakta sosial lain.
METODE PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan tipe deskriptif. Alasan penulis menggunakan pendekatan dan tipe tersebut adalah untuk mengetahui, mengungkapkan dan mendeskripsikan tentang dampak pembangunan STKIP PGRI Sumatera Barat terhadap sosial ekonomi masyarakat Kelurahan Kampung Olo Kecamatan Nanggalo Kota Padang.
Informan penelitian adalah orang yang memberikan informasi baik tentang dirinya maupun tentang orang lain atau suatu kejadian kepada peneliti mereka tidak dipahami sebagai objek, sebagai seorang yang memberikan respon terhadap (hal-hal yang diluar diri mereka) melainkan sebagai subjek penelitan (Afrizal, 2008.
100). Informan penelitian ini diambil secara purposive sampling yaitu berdasarkan tujuan atau pertimbangan-pertimbangan tertentu terlebih dahulu dengan demikian pengambilan informan didasarkan pada maksud, tujuan atau kegunaan (Yusuf, 2005:205).
Adapun kriteria informan dalam penulisan proposal ini adalah:
1. Tokoh masyarakat di Kelurahan Kampung Olo Nanggalo
2. Masyarakat yang memiliki usaha di sekitar kampus STKIP PGRI Sumatera Barat.
3. Masyarakat yang ikut merasakan dampak pembangunan STKIP PGRI Sumatera Barat.
Berdasarkan kriteria informan, maka jumlah informan dalam penelitian adalah berjumlah 21 orang yang terdiri dari 15 orang yang memiliki usaha dan pedagang, orang tokoh masyarakat terutama Ketua RW dan RT berjumlah 3 orang, staf pekerja diKelurahan 3 orang.
Jenis data yang penulis lakukan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.
Metode pengumpulan yaitu observasi non partisipan, wawancara mendalam dan studi dokumen. Peneliti mulai melakukan observasi pada bula desember 2015 dan penelitian pada bulan Februar 2016 hingga selesai maret.
Unit analisis dalam penelitian ini adalah kelompok yaitu masyarakat Kelurahan Kampung Olo Kecamatan Nanggalo Kota Padang. Unit analisis dalam penelitian ini, berguna untuk memfokuskan kajian yang telah dilakukan sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian.
Menurut Brannen (dalam Sagadji, 2010:198), Analisis data merupakan rangkaian kegiatan penelaahan, pengelompokkan, sistematisasi, penafsiran dan verifikasi adat agar sebuah fenomena memiliki nilai sosial, akademis dan ilmiah. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan model analisis interaktif yang dikemukakan oleh Milles & Huberman. Menurut Milles dan Huberman bahwa analisis terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu: reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi (Milles dan Huberman, 1992:16). Analisis data ini juga digunakan dalam melihat Dampak Pembangunan STKIP PGRI Sumatera Barat terhadap Sosial Ekonomi masyarakat Kelurahan Kampung Olo Kecamatan Nanggalo Kota Padang.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Deskriptif Tentang STKIP PGRI Sumatera
Barat
STKIP PGRI Sumatera Barat terletak di kawasan Kelurahan Kampung Olo Kecamatan Nanggalo Kota Padang. Berdirinya STKIP PGRI Sumatera Barat pada tahun 1984 berawal dari ide pengurus yayasan pendidikan PGRI Sumatera Barat yang dipimpin oleh Drs. Ir. Mizwar untuk mendirikan Sekolah tinggi Keguruan sesuai dengan misi yayasan pendidikan PGRI Sumatera Barat yaitu berperan serta dalam mencerdaskan kehidupan anak bangsa dan meningkatnya kebutuhan tenaga guru juga merupakan salah satu pendorong berdirinya STKIP PGRI Sumatera Barat. Pada awal mulanya yayasan Pendidikan PGRI Sumatera Barat yang didirikan dengan Akte Notaris Asmawel, SH dengan No. 104 ditanggal 17
Januari 1978. Yayasan tersebut berazaskan idiologi bangsa dan negara Republik Indonesia, yaitu Pancasila. Maksud dan tujuan Yayasan tersebut antara lain:
1. Meningkatkan dan membina pendidikan masyarakat serta membangun sarana-sarana pendidikan.
2. Mengadakan penerbitan-penerbitan.
3. Mengadakan kerjasama dengan badan-badan organisasi dan yayasan lain yang bergerak dan berusaha dibidang pendidikan.
4. Mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam meningkatkan pendidikan.
5. Usaha-usaha lain yang tidak bertentangan dengan anggaran dasar.
Sehubung dengan diberlakunya Undangan- undangan Yayasan No. 28 tahun 2010 bahwa setiap yayasan harus didaftarkan di Departemen Hukum dan HAM, maka pada tahun 2010 Yayasan Pendidikan PGRI Sumatera Barat telah didaftarkan di Departemen Hukum dan HAM dan merubah nama menjadi Yayasan Pendidikan PGRI Padang Sumatera Barat dengan SK Pengesahan Nomor:AHU-1885.AH.01.04 tahun 2011 pada tanggal 31 Maret 2011.
Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Sumatera Barat dibuka berdasarkan surat izin Koordinator Perguruan Tinggi Swasta wilayah 1 pada tanggal 22 Mei 1984 dengan No. 115/SK/KOP/I/1984 dengan empat Program Studi antara lain: Bimbingan Konseling, Pendidikan Biologi, Pendidkan Sejarah, dan Pendidikan Geografi. Keempat program studi tersebut dibuka dengan jenjang program Sl/Akta IV yang menyiapkan guru yang berwenang penuh mengajar ditingkat SLTP dan SLTA dengan satu bidang Studi. Pelaksanaan Kegiatan pengajaran pada mula berada di Kawasan Jl. Jendral Sudirman.
Berada di Gedung SMA PGRI 1, Mahasiswa/Mahasiswi yang terdaftar masa itu sebanyak 215 orang dan terdapat 8 ruangan didalam perkuliahan tersebut.
Di tahun 1990 STKIP PGRI Sumatera Barat memiliki gedung sendiri di Jalan Gajah Mada, Gunung Pangilun Padang bertepatan di kawasan Kelurahan Kampung Olo Kota Padang. Dengan memiliki tenaga pekerja bangunan (tukang) berasal dari daerah jawa dan dari Padang terutama Kelurahan Kampung Olo pun ikut berpartisipasi dalam menjalankan pembangunan tersebut. Dimasa itu pada tahun 1990 STKIP PGRI Sumatera Barat memiliki satu Gedung yaitu Gedung A, yang berkapasitas mahasiswa sebanyak 370 yang terdaftar. Pada Tahun 2006 hingga Tahun 2009 STKIP PGRI Sumatera Barat memiliki dua gedung yaitu Gedung B dan Gedung C. Pada Tahun 2011 Dengan peminat untuk masuk Perguruan Tinggi hingga mencapai sebanyak 1334 mahasiswa dan
mahsiswi yang terdaftar, STKIP PGRI Sumatera Barat membangun bangunan baru untuk menampung peminat STKIP PGRI Sumatera Barat yaitu Gedung E. Dengan Visi dan Misi serta Tekad yang Kuat STKIP PGRI Sumatera Barat Memiliki bangunan baru yaitu Kampus Kedua STKIP PGRI Sumatera Barat pada tahun 2013. Salah satu Visi STKIP PGRI Sumatera Barat yaitu Menjadi Perguruan Tinggi Unggul Di Bidang Kerguruan dan Ilmu Pendidikan yang Kompetitif di wilayah Sumatera Tahun 2026. Dengan mencapaikanya Visi tersebut STKIP PGRI Sumatera Barat merencanakan pembagunan baru yaitu STKIP PGRI Convention Center. Setiap tahunnya peminat mahasiswa maupun mahasiswi STKIP PGRI Sumatera Barat ada kemajuan dan kemunduran.
Pada tahun akedemik 2010/2011 terdapat 9.080, dan naik di tahun akedemik 2011/2012 terdapat 10,848 pada semester ganjil naik 25%. Di tahun 2012/2013 terdapat 8,313 dibandingkan dengan tahun 2011/2012 sangat menurun sekitar 27%.
Pada tahun 2013/2014 terdapat 10,967dilihat dari tahun 2012/2013 terjadi peningkatan berkisar 30%.
Ditahun 2014/2015 terdapat 10,192 dan ditahun 2015/2016 terdapat 8,206 mahasiswa. Ditahun 2015/2016 sedikit jauh turunya perkembangan, dikarena masuk kampus STKIP PGRI Sumatera Barat meluluskan siswa pelajar melalui tes dan hanya menerima 8,206 mahasiswa yang lulus.
Dari penjelaskan yang telah disampaikan di atas, terlihat jelas bahwa masyarakat terutama warga Kelurahan Kampung Olo, sangat merasakan perubahan yang didapat dari usaha yang dimilikinya. Maka dari itu kebanyakan dari warga asli Kelurahan Kampung Olo lebih banyak membuka usaha kos-kosan atau ruko. Karena jelas hasil yang didapat lebih besar, mahasiswa pun selalu berdatangan dan bertambah. Tidak hanya menyediakan tempat tinggal mahasiswi dan mahasiswa saja. Namun sebahagian warga berdagang disetiap sudut tempat, dan warga yang bukan dari Kelurahan Kampung Olo pun ikut berdagang disekitar Kampus STKIP PGRI Sumatera Barat. Dari 50% masyarakat yang berdagang disekitar kampus STKIP PGRI Sumatera Barat tersebut sangat menguntungkan untuk kelangsungan perekonomian masyarakat sekitar dikawasan Kelurahan Kampung Olo dan dari 50% masyarakat Kelurahan Kampung Olo bekerja sebagai tenaga pekerja (PNS) menitik usaha pula, dengan memanfaatkan kesempatan yang ada dengan memiliki rumah Kos-kosan dan lain sebagainya.
2. Dampak Sosial Ekonomi Terhadap Pembangunan Kampus STKIP PGRI Sumatera Barat di Kawasan Kelurahan Kampung Olo Kecamatan Nanggalo Kota Padang
A. Dampak Sosial
1. Munculnya Sifat Individual
Hubungan sosial bisa dipandang sebagai sesuatu yang seolah-olah merupakan sebuah jalur atau saluran yang menghubungkan antara satu orang (titik) dengan orang-orang lain dimana melalui jalur atau saluran tersebut bisa dialirkan sesuatu, misalnya barang, jasa, dan informasi. Hubungan sosial antara dua orang mencerminkan adanya pengharapan peran dari masing-masing lawan interaksinya. Tingkah laku yang diwujudkan dalam suatu interaksi sosial itu sistematik. Hubungan sosial tersebut menghasil relasi sosial (Jaringan sosial) dimana setiap masyarakat saling membantu dan berbagi terhadap masyarakat lainya.
Dengan adanya hubungan sosial yang baik bertambah pula jaringan masyarakat oleh sektor infomal masyarakat. Terutama pada masyarakat Kelurahan Kampung Olo Kecamatan Nanggalo, karena telah menyediakan tempat maupun fasilitas yang dibutuhkan. Tidak hanya berasal dari Kelurahan itu saja, melainkan berbagai luar daerah pun yang berdagang ikut campur dalam pembangunan tersebut. Sebelum adanya pembangunan kampus STKIP PGRI Sumatera Barat kekerabatan masyarakat Kelurahan Kampung Olo tidak hanya sesolid (akrab) sekarang, melainkan rasa persaudaraan masyarakat lebih tinggi. Walaupun jarak yang tempuh rumah maupun tempat tinggal masyarakat cukup jauh untuk saling bertegur sapa dengan sesama tentangga. Namun sekarang dengan adanya kampus STKIP PGRI Sumatera Barat yang berada di Gunung Pangilun terletak di Kawasan Kelurahan Kampung Olo, membuat kekerabatan masyarakat sedikit memudar. Karena Semenjak berdirinya Kampus STKIP PGRI Sumatera Barat, masyarakat Kelurahan cukup ramai oleh penduduk baru yang tinggal berada di Kelurahan Kampung Olo serta persaingan antar pedagang pun sangat tinggi. Maka dari itu penduduk dari daerah lain yang merasakan perubahan dan berpartisipasi dalam pembangunan tersebut menghimbau atau mengajak tentangga di kampung daerahnya masing-masing ikut berpartisipasi dalam pembangunan tersebut, dengan cara berdagang dan menjadi warga Kelurahan Kampung Olo.
2. Munculnya Aturan-Aturan untuk Anak Kos
Norma merupakan seluruh kaidah dan peraturan yang diterapkan melalui lingkungan sosialnya. Sebelum adanya keberadaan kampus STKIP PGRI Sumatera Barat, peraturan yang ketat yang berada dikawasan Kelurahan Kampung Olo belum ada di berlakukan. Sebab setiap warga Kelurahan harus memantau anaknya masing- masing dan juga dari Kelurahan tersebut tidak memperbolehkan anak perempuanya keluar hingga larut malam. Jika hal itu terjadi maka akan dikucilkan oleh warga yang melihat. Namun sekarang di sekitar kampus banyak tempat kost- kosan atau penginapan mahasiswi, pihak RT maupun RW serta para pemuda lebih banyak bekerja keras untuk menghadapi keamanan warganya.
Untuk keamanan dan kenyamanan warga sekitar maka dari itu beberapa pemuda yang melakukan ronda atas dasar kewajibanya sebagai warga Kelurahan Kampung Olo. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan dan keluar dari norma atau peraturan yang ada.
Jenis peraturan untuk anak kost yang berada di Kelurahan Kampung Olo yaitu yang pertama, bertemu sampai jam 18.00 WIB dan bertemu harus di luar pagar. Kedua, tidak bertemu padaa jam-jam sholat. Ketiga,tidak dibenarkan berpacaran dijalan-jalan perumahan atau diatas kendaraan yang diparkir dijalan-jalan perumahan. Keempat, mengantarkan teman yang berlawan jenis batasnya sampai jam 21.00 WIB dan diantar sampai diluar pagar.
Itulah jenis peraturan yang disepakati oleh setiap masyarakat yang memiliki tempat penginapan ataupun kos-kosan untuk para mahasiswa ataupun mahasiswi yang berada di Kelurahan Kampung Olo. Jika terjdadi pelanggaran atau ketahuan oleh pemuda yang memantau tempat tersebut akan diberikan sanksi antara lain : Pertama, Teguran. Kedua, Peringatan Keras.
Ketiga, diperoses olehpemuda bersama Ketua RT dan Ketua RW.
Keempat, diberitahukan kepada orang tua.
Kelima, diusir dari selingkupan Kelurahan
Kampung Olo.
3. Tingginya Tingkat Kriminalitas Permasalahan sosial merupakan suatu kondisi yang terlahir dari sebuah keadaan masyarakat yang tidak ideal dan ketidak kesesuaian unsur-unsur masyarakat yang dapat membahayakan kehidupan kelompok sosial. Permasalahan yang marak terjadi dikawasan Kelurahan Kampung Olo yaitu
pencurian, percopetan, pemuda yang berpacaran di
malam hari dan juga hipersex. Sebelum adanya keberadaan kampus STKIP PGRI Sumatera Barat.
Kehidupan masyarakat disini rukun aman dan tentram, sebab penduduk masyarakat tidak ramai dan saling menjaga.
4. Bertambahnya Jumlah Penduduk
Penduduk merupakan negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia. Penduduk asli warga Kelurahan Kampung Olo berkisar antara 6.637 jiwa.
Namun dari sebelum tahun 2012 penduduk mencapai 4.557 jiwa. dengan adanya Kampus yang terletak di Kelurahan Kampung Olo terutama STKIP PGRI Sumatera Barat, membuat penduduk semakin meningkat dan padat. Namun sebelum adanya pembangunan kampus STKIP PGRI Sumatera Barat, jalan maupun penduduk disekitar tidak begitu padat dari yang sekarang masyarakat rasakan.
Dilihat dari hasil wawancara terhadap pembangunan kampus yang dirasakan oleh masyarakat meningkatnya norma sosial terjadi adanya peningkatan kos-kosan untuk mahasiswa STKIP PGRI Sumatera Barat, meningkatnya masalah sosial terjadi karena penduduk Kelurahan Kampung Olo padat dengan adanya mahasiswa dan mahasiswi, serta peningkatan demografi.
B. Dampak Ekonomi
1. Perubahan Mata Pencarian
Mata pencarian merupakan pekerjaan atau pencarian utama untuk membiayai kebutuhan sehari- hari masyarakat. Terutama masyarakat Kelurahan Kampung Olo Kecamatan Nanggalo sebelum dibangunnya kampus STKIP PGRI Sumatera Barat, mata pencarian masyarakat tersebut lebih kepada hasil perkebunan dan pertenakan yangada.Sebelum adanya pembangunan STKIP PGRI Sumatera Barat mata pencarian penduduk Kelurahan Kampung Olo 50%
Perkebunan dan selebihnya banyak yang nelayan dan perdagangan.Namun dengan adanya pembangunan Kampus STKIP PGRI Sumatera Barat aktivitas yang ditekuni oleh masyarakat sejak dulunya, kini telah menekuni aktivitas barunya. 1, Pedagang ikan menjadi pedagang makanan. 2, Petani jadi jasa Ojek. 3, Pegawai menjadi Pedagang. 4, Ibu rumah tangga menjadi pedagang Dengan adanya kampus STKIP PGRI Sumatera Barat membuka mata pencarian masyarakat Kelurahan Kampung Olo. Hal ini sama dengan
tujuan pembangunan yaitu mensejahterakan masyarakat.
2. Meningkatkan Aset Kepemilikan
Kepemilikan aset merupakan sebagai kepemilikan alat-alat yang produktif oleh suatu rumah tangga yang pada akhirnya dapat mempengaruhi pendapatan yang akan diterima oleh rumah tangga dari kepemilikan aset tersebut. Pendapatan seseorang individu tergantung kepada kepemilikan aset, semakin tinggi tingkat kepemilikan aset maka akan semakin tinggi pulalah pendapatanya.
Sebaliknya, jika kepemilikan asetnya rendah maka memiliki keterbatasan modal dan kekurangan kerja untuk mandiri. Semenjak pembangunan kampus STKIP PGRI Sumatera Barat tingkat kepemilikan aset lebih tinggi.
Dilihat dari Kelurahan Kampung Olo yang memiliki banyaknya kepemilikan Aset seperti kepemilikan Aset Perabot rumah tangga, Kepemilikan Aset tanah atau lahan bagi masyarakat dan juga kepemilikan Aset kepemilikan rumah bagi masyarakat.
3. Pendapatan Masyarakat
Pendapatan merupakan jumlah penghasilan yang diterima oleh masyarakat atas prestasinya, yang didapat dengan kerja keras. Adapun sebelum adanya pembangunan kampus STKIP PGRI Sumatera Barat mata pencarian sebelumnya hanya memanfaat perkebunan yang ada dan sebahagian masyarakat sekarang sudah berpindah pekerjaan dengan penghasilan yang cukup memadai dari 30%
hingga 50% meningkatnya dari pendapatan sebelumnya. Dengan bertambahnya pendapatan tersebut membuat kebutuhan minimum masyarakat dapat terpenuhi, seperti kebutuhan pangan, sadang dan papan. Dengan adanya STKIP PGRI Sumatera Barat pendapatan yang diperoleh oleh masyarakat sangat memadai dari 30% hingga 50%
meningkatnya dari pendapatan sebelumnya dan cukup untuk menutupi kekurangan ekonomi pada masyarakat. Bertambahnya pendapatan masyarakat dikarenakan penduduk masyarakat yang berada dikawasan Kelurahan Kampung Olo sebagian besar adalah mahasiswa dan mahasiswi dari STKIP PGRI Sumatera Barat. Seandainya pada saat mahasiswa libur atau pun kampus tersebut libur maka, pendapatan yang diperoleh masyarakat berdagang pun menurun dari yang didapatkan atau yang ditargetkan. Maka dari itu bertambahnya pendapatan masyarakat berpengaruh dan dorongan dari banyaknya mahasiswa dan mahasiswi sekitar kampus tersebut.
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan dan hasil penelitian yang telah dikemukakan pada bab-bab sebelumnya, dapat memperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Dampak Sosial Ekonomi Masyarakat Terhadap Pembangunan Kampus STKIP PGRI Sumatera Barat di Kawasan Kelurahan Kampung Olo Kecamatan Nanggalo Kota Padang Adalah Dampak Sosialnya : Dengan ada kampus STKIP PGRI Sumatera Barat terjadi Munculnya individual Masyarakat pedagang maupun masyarakat pendatang khususnya. Karena perkembangan kampus STKIP PGRI Sumatera Barat meningkat maka terjadilah Munculnya Peraturan baru untuk Anak kost dikarenakan Tingginya Tingkat Kriminalitas yang terjadi dimayarakat. Penduduk masyarakat Kelurahan Kampung Olo terutama didaerah sekitar kampus semakit padat, karena 50% dari penduduk Kelurahan Kampung Olo kebanyakan masyarat pendatang dan mahasiswa yang tinggal didaerah tersbut. Dampak Ekonomi yaitu terjadi perubahan mata pencarian masyarakat. Sebelum adanya pembangunan kampus STKIP PGRI Sumatera Barat, mata pencarian masyarakat masih ada yang menekunin hasil perkebunan saja.
Meningkatnya kepemilikan Aset masyarakat dan meningkatnya pendapatan masyarakat.
Dengan adanya pembangunan kampus STKIP PGRI Sumatera Barat terjadi peningkatan pendapatan masyarakat yang dulu sehari hanya mendapatkan 200.000 dengan adanya kampus naik menjadi 700.000 perhari dari pagi hingga disore hari. Namun semakin banyaknya masyarakat beralih menjadi seorang pedagang maka penduduk masyarakat Kelurahan Kampung Olo semakin meningkat dan padat.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan diatas, penelitian menyarankan sebagai berikut : 1. Masyarakat
a. Diharapkan pada masyarakat untuk bisa peran aktif dalam pemanfaatan Pembangunan lebih baik, dan juga pada masyarakat agar bisa dan mampu menjaga hubungan sosial antar masyarakat yang baik dilingkungan tempat tinggal.
b. Diharapkan kepada pihak pemerintahan, khususnya Kelurahan beserta jajaran baik itu RW, RT dan kepala Keluarga mampu bekerja sama dengan instansi dan pihak- pihak lainya yang berpengaruh dengan pembangunan yang ada di Kelurahan Kampung Olo karena menyangkut kesejahteraan masyarakat.
2. Mahasiswa
Diharapkan kepada peneliti selanjutnya agar dapat menindaklanjuti penelitian ini sehingga penelitian ini lebih baik lagi dimasa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA A. Buku
Afrizal, 2008. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif (Dari Penelitian Sampai Penulisan Laporan). UNAND:
Laboratorium Sosiologi FISID UNAND Moleong, Lexy J. 2012. Metodologi Penelitian
kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Ritzer dan Goodman. 2010. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana
Soekanto, Soerjono. 1989. Analisis Fungsional.
Jakarta: Rajawali Pers
Sugiyono. 2012. Memahami Penelitian Kualitatif.
Bandung: Alfabeta